
bruukk!
Keributan pun terjadi, orang-orang yang berlalu lalang pun seketika berhenti.
Mereka berlari menuju tempat Kejadian Dan segera membawa korban Ke rumah sakit,sementara Sang sopir Dibawa ke kantor polisi.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"Tanya Hans.
"Semua Karna Aku om"Jawab Dika.
"Apa maksudmu?"lanjut Dara.
"Rangga menolongku"Lirih Dika.
Kemudian menceritakan kejadian itu dari Awal,Dimana saat itu Dika hendak kembali ke mobilnya setelah Membantu seseorang Wanita tua Menyebrang.Namun sayangnya Saat kembali Ia tak melihat Keadaan Karna Ia sedang menerima Telepon dari salah satu bawahannya,hingga pada akhirnya hal ini terjadi.
Hati Dara semakin hancur,Saat melihat Rangga yang tak sadarkan Diri dengan beberapa Alat bantu pernafasan.
Dara pun melirik Ruangan yang berhadapan dengan ruang rawat Rangga,Dimana tempat Mona berbaring hampir sama seperti Rangga.
Bagaimana pun juga Rangga adalah Anaknya,Belum selesai masalah Mona dan kini bertambah dengan kondisi Rangga.
"Apa salah Kita,Pa? mengapa harus terjadi pada Kedua Anak kita? Mengapa bukan Aku saja?"Tangis Dara pecah,Ia tak mampu menopang berat badannya sehingga ia terduduk di lantai Rumah sakit.
__ADS_1
Melihat sang istri,Hans pun segera Mendudukkan Dara pada kursi dan dengan sergap Memeluk erat sang istri,Tanpa berkata-kata,Hans hanya bisa memeluk Dara.
crek
Spontan Semua menatap Seorang suster yang membuka pintu.
"Pasien telah sadar,Ia Ingin berbicara Dengan Pak Hans dan Bu Dara."Ujar Suster.
Hans dan Dara berpandangan,Dari sorot Mata Mungkin mereka memikirkan Hal yang Sama.
"Mari Pak Buk."Ajak sang suster.
"Om Tante.."Panggil Nella Karna Hans dan Dara Tak bangkit.
Rangga menatap Mereka Dengan Senyuman,Walau tak terlalu jelas Karna tertutup Alat Medis Namun garis Matanya menyiratkan senyuman.
Dara yang tak Bisa menahan diri pun segera menghampiri Rangga dan memeluk tubuh sang Anak sama seperti dulu saat Rangga Sedang Sakit.
"Pak Buk Kami tinggal Dulu,Jika terjadi apa-apa Segera Panggil Kami."Pamit Dokter,lalu semua Perangkat medis keluar.
"Kau baik-baik saja,nga?"Rangga tersenyum,Entah apa arti dari senyuman itu.
"Ma Pa.."Rangga menatap wajah Hans dan Dara bergantian."Maafin Rangga,Rangga gagal menjadi Anak yang baik buat kalian,Rangga telah mengecewakan Kalian.Maafin Rangga."Lanjut Rangga.
__ADS_1
Tak Ada Satu Kata pun yang keluar dari Mulut Mereka.
"Mungkin Ini terakhir kalinya Rangga bisa menatap Kalian.."Dara menggeleng-gelengkan kepala,memberi isyarat agar Rangga tak mengatakan itu.
"Kau tak boleh berkata begitu,Ngga.Mana Jagoan Papa yang Dulu?"Pada Akhirnya Hans membuka suaranya.
Rangga tersenyum Haru,Setelah sekian Lama Pada akhirnya Hans mengakuinya sebagai anak kembali.
"Dia telah Gagal menjadi seorang Jagoan,Ia sebentar lagi Akan pergi.."Ujar Rangga seolah sudah mengetahui Jika hidupnya tak kan Lama Lagi.
Diluar Ruangan,Dika,Vero dan Nella pun terharu melihat pemandangan itu.Tak heran jika Air mata mereka menetes.
"Ma Pa Rangga ingin memberikan Jantung Rangga untuk Mona,Walau Rangga gagal menjadi seorang suami tapi Rangga Tak Mau gagal untuk seorang Kakak."Lirih Rangga.
"Jangan pernah menyalahkan Dika Atas kepergian Rangga,Karna semua ini telah menjadi takdir."
semua orang tak Ada yang menjawab Rangga,mereka hanya mendengarkan Saja.Karna jika membuka suara,Air Mata akan semakin menetes.
"Berikan Jantung Rangga Karna Rangga ingin selalu bersamanya."
Itu lah Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Rangga,Sebelum ia meninggalkan Dunia untuk selamanya.
Tangis Dara menjadi begitu Kuat dengan bergetar Ia memanggil Dokter untuk menyelamatkan Rangga.
__ADS_1
Setelah Dokter tiba Mereka Hanya bisa menatap Dari Luar dengan cucuran Air Mata,Sampai titik terakhir Dokter berusaha untuk membantu Rangga Namun Nihil Rangga telah tiada.