
Hari-hari telah berlalu,Tak ada kekacauan yang terjadi Semua berjalan Normal Tanpa perdebatan.
Hingga Hari ini, Hari yang telah dinanti Mona. Hari dimana Ia akan menghadiri sidang pertama perpisahanya dengan Rangga.
Jadwalnya pukul 10 Namun Mona telah bersiap Sejak pagi, Mungkin terlalu semangat Karna akan segera Memutuskan ikatan dengan Rangga.
Tring
Tring
Ponsel Mona berbunyi berkali-kali.
"Pagi Nona Cantik. "Sapa seseorang dari sebrang sana.
"Pagi juga Nona Manis. "Jawab Mona tak Kalah sumringah.
"Gimana Sudah siap Menjadi janda? "Canda Nella dengan nada mengejek.
"Gak ngotak emang, Tapi gak papa Aku siap Kok. "ujar Mona menanggapi Nella dengan Candaan juga.
"Hhh Sorry,bestie.Dah dulu, ya Aku Mau siap-siap buat nemenin Kamu. Biar gak gugup, "
"Iya,Sono buruan jan Sampai telat. "Jawab Mona sebelum memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
Setelah perbincangan singkat itu, Mona pun kebali sibuk Merias diri.
Dilain tempat, Rangga terus memandang pantulan Dirinya dalam cermin yang berada didalam kamar mandi. Membayangkan Nasibnya yang akan berpisah dengan Mona, Bukan karna Takut berpisah karena cinta Namun Tentunya Karna Harta.
Entah harus dengan apa lagi, Ia mempertahankan Diri untuk tetap hidup. Telah banyak Perabotan Rumah yang Ia jual, hanya untuk keperluan Perutnya sehari-hari.
"Aarrgghh"Teriak Rangga menggema seluruh Kamar Mandi, Tanganya pun melayang kearah Cermin membuatnya Retak.
💧💧💧
"Mon, Kau sudah siap? "Tanya Hans pada Mona yang telah duduk anteng disofa ruang keluarga.
Mona menarih nafas panjang dan mengangguk mantap.
"Iya, Pa. "Jawab Dara yang melangkah kearah Hans dan Mona.
Setelah Dirasa Siap, Mereka pun berangkat.Sepanjang perjalanan, Mona mendapat berbagai Nasihat dari orangtuanya dan tak lupa Mereka menanyakan Kemantapan keputusan Mona.
Tak butuh waktu yang lama,Mereka telah tiba.Mereka pun langsung disambut hangat oleh Nella,Vero dan Dika yang juga ikut menemani Mona.
Sidang pertama Mona dan Rangga pun berjalan dengan Lancar, Rangga Tak mengomentari apa pun. Rangga hanya pasrah dengan yang saat ini tejadi, toh mau bagaimana pun Dia akan tetap salah.
💧💧💧
__ADS_1
"Mama"Panggil Rangga Lirih.
"Rangga minta Maaf, Rangga menyesali semuanya. Rangga menerima ini, Tapi Jangan Bilang jika Rangga bukan anak Mama. "lanjut Rangga dengan Wajah sendu.
Hati Dara mulai tersentuh, Ralat sejujurnya Kasih sayang Dara tak pernah berkurang untuk Rangga Dan sebenarnya Dara ingin membantu Rangga Namun Ia tak bisa apa-apa, Hans suaminya terlalu kecewa pada Rangga dan melarang Dara untuk memberi sepeser uang pun untuk Rangga.
"Mama... "Belum sempat Dara melanjutkan ucapannya, Suara Hans terdengar memanggil namanya.
"Pergilah Rangga, jangan sampai Papa melihatmu! "Ujar Dara cemas.
"Tapi Ma.... "
"Pergilah! Mama tak Mau Papa melihatmu, pergilah! "Ujar Dara lagi ketika suara panggilan Hans Mulai mendekat,Dengan berat hati Rangga pun meninggalkan Dara.
Hans tiba bertepatan dengan Rangga yang hilang dari pandangan karna terhalang dinding, Jika saja Rangga tak cepat melangkah mungkin Hans Masih dapat melihatnya.
"Mama kenapa? "Tanya Hans yang penasaran karna Dara menatap kearah Dinding.
"Tak apa, Mari pulang Pa!Mona pasti telah lama menunggu. "ajak Dara mengalihkan pembicaraan.
"Mama tidak menyembunyikan sesuatu dari Papa? "Tanya Hans Memastikan.
"Mana Mungkin Mama menyembunyikan sesuatu dari Papa. "Jawab Dara tanpa Ragu.
__ADS_1
"Baik lah, Mari pulang. "ajak Hans dan Dara pun mengangguk.