
Matahari semakin Tinggi, Para karyawan pun telah beristirahat meninggalkan Pekerjaan mereka.Begitu pun dengan Mona, Ia tengah menyantap Makanan yang telah Ia pesan Via Online.
Makannya terhenti,Saat Seseorang mengetuk Pintu,"Masuk! "Perintah Mona.
"Permisi, Buk. ini ada surat Atas Nama Bu Mona. "Ujar Seorang Karyawan Perempuan sembari menyodorkan Sebuah amplop.
"Surat? "tanya Mona, Karyawan itu pun mengangguk.
"Terimakasih,Kau boleh pergi! "Sambung Mona Lagi.
Setelah kepergian karyawan itu, Mona yang penasaran pun segera membuka Amplop Surat itu. Matanya membulat,memancarkan sinar kebahagian, Saat tahu jika itu adalah surat panggilan dari pengadilan Agama.
"Ini lah yang Ku tunggu. "Lirih Mona sembari menutup surat itu seperti semula.
Dilain tempat, tepatnya dikediaman Rangga.Rangga yang tengah Berpikir tentang Masalah yang Ia alami, tiba-tiba saja Ada seseorang yang mengetuk Pintu.
"Ada apa? "Tanya Rangga ketus,ketika membuka pintu.
"Permisi, Pak.Benar Ini dengan saudara Rangga Wijaya? "Tanya sang pengantar surat.
"Ya, benar. Ada apa? "Jawab Rangga,masih dengan nada ketus sebab baginya itu terlalu bertele-tele.
"Saya hanya ingin mengantarkan Ini."Ujar pengantar surat lalu menyodorkan amplop yang sama seperti yang Mona terima, "Kalau begitu saya permisi."ujar sang pengantar saat Rangga telah menerima amplop tersebut.
__ADS_1
Rangga pun kembali Kedalam Rumah, Duduk disofa Ruang keluarga. Fokusnya saat ini adalah amplop yang kini Masih ditanganya, Ada keraguan untuk membukanya.
"Tidak! ini tidak akan terjadi."Gumamnya,selembar kertas yang Ia pegang Kini telah menjadi kumpalan.
💧💧💧
Lita yang bosan Karna seharian berbaring, akhirnya Ia memutuskan untuk menjelajah dunia Maya. Saat pertama membuka ponsel,Nama Karin terpampang Dilayar utama,Dengan cepat Lita membuka pesan dari Karin tersebut.
"Vidio apa ini? "Lirih Lita,Sembari membuka rekaman vidio berdurasi 5 menit itu.
Mata Lita membulat sempurna seakan tak percaya dengan hal itu, Ya Vidio itu menampilkan kejadian dikantor beberapa saat lalu.
Saat Hans,Rangga,Mona dan Dika sedang berdebat. Dan tentu Karin melakukan itu secara Diam-diam,Yang tak diketahui oleh mereka.
"Sepertinya Aku Memang harus menerima Geri, Daripada Aku harus menderita bersama Rangga. "Monolog Lita Lagi, sembari menatap foto pernikahannya dengan Geri.
"Manfaatkan apa yang kita miliki saat ini. "Ujarnya dengan senyum licik yang mengembang.
"Aku harus bersikap Seolah-olah mencintai Geri dan membuat semua yang ku inginkan Dapat Ku miliki. "
💧💧💧
"Papa Mama"Panggilan Mona memenuhi seisi Rumah.
__ADS_1
"Hey, Ada apa sayang? kenapa teriak teriak gitu?"Tanya Dara Lembut sembari menuruni anak tangga untuk menghampiri Mona.
"Mama"Teriak Mona lagi membuat Dara tekaget
"Ada apa?Katakan!"Ujar Dara mengusap Pucuk kepala Mona.
"Lihat ini, Ma! "Mona mengulurkan amplop berwarna Putih.
"Ini Apa?"Tanya Dara penasaran.
"Buka saja, Ma."Dara pun membuka amplop itu Dan membacanya dengan Teliti.
"Panggilan bersidangan? "tanya Dara memastikan.
"He em"Jawab Mona Sumringah.
"Mama ikut bahagia,Jika Kau benar-benar menginginkannya. "Kata Kata Dara mampu membuat Ekspresi Mona berubah.
"Mama tak suka jika Mona dan Mas Rangga berpisah? "Tanya Mona Lirih.
"Bukan begitu maksud Mama,sayang.Mama mendukung apa pun yang Membuat Kamu Bahagia Dan Nyaman, Jika itu keputusanmu Mama pasti mendukungmu. "
"Terimaksih,Ma."Mona pun Memeluk Dara.
__ADS_1