
Dua Minggu berlalu Sejak kejadian Itu, Mona melakukan Aktifitas seperti Biasa dengan Normal Tanpa Ada Yang mengganggu. Baik Rangga atau pun Karin,Bahkan Selama Dua minggu ini Mona pun tak Melihat Dika.
Ada Rasa Nyaman Dalam Hatinya, Namun Rasa Penasaran pun Ada dalam hatinya tentang keberadaan Dika.Pikiran Jika Dika Kembali Pada Karin Terus menghantui Mona,Ada Rasa Tak Rela jika itu terjadi.
"Mon, Kenapa? Dari Tadi Aku Lihat Kau menung Terus, Gak enak Badan? "Tanya Vero yang mengagetkan Mona dan langsung Duduk Dihadapan Mona sembari Meletakan Map Merah yang Ia Bawa Ke atas Meja.
"Gak Papa, Mas. Aku juga Gak Lagi Ngelamun Kok,Aku Dari Tadi Ngerjain Ini. "Jawab Mona,Menunjuk Layar Laptop yang memang sedang Menyala.
"Yakin Gak ngelamun? "Tanya Vero Lagi, Mona pun mengangguk."Jelas-jelas Kau Tadi Kaget Padahal Aku Nanya Biasa Aja, gak Gede-gede Amat. "Lanjut Vero.
"Ah sudah Lah, Ini berkas Yang Harus Kau tanda tangani. Oh Ya,Masalah meeting Besok Klien Minta Meeting Diadakan Di Luar Kantor. "Jelas Vero.
"Baiklah. Turuti saja Kemauannya, lagi pula Aku pun Bosan Di Kantor Mulu."
"Aku Keluar Dulu. "Pamit Vero setelah Mona mentanda-tangani Berkas yang Ia berikan Tadi.
"Dan Satu Lagi, Apa Kau butuh sekretaris Baru? Biar Kau tak terlalu kesusahan Dan Tak terlalu Kesepian. "Tanya Vero Lagi dengan Sedikit Kekehan saat Mengucapkan 'Kesepian'.
"Bukan Butuh Lagi,Mas Malahan Sangat-sangat Butuh, Tapi Ya itu Aku belum percaya Sama Siapa pun."Lirih Mona.
__ADS_1
"Baiklah Biar Aku Yang Mencari Orang yang Cocok Buat Kamu! "Vero Nyelonong Keluar Tanpa mendengar 'kan Kata-kata Mona.
💧💧💧
"Bagaimana Keadaan Lita,Tante?"Tanya Rangga Pada Wanda.Wanda Menghembus Nafas Kasar,Menahan Air Mata Yang Hendak Mengalir.
"Lita Gak Mau Keluar Kamar, Ia juga Gak Mau makan Dan sering Ngelamun. Disuruh Keluar Malah Marah-Marah, teriak Gak jelas. "Jelas Wanda.
Mendengar Kondisi Lita Yang Memprihatinkan,Rangga Merasa Kasihan Pada Wanda Dan Menawarkan Diri untuk Membujuk Lita, Dengan Harapan Lita Mau mendengarkan Rangga,Setidaknya Sampai Satu sendok Nasi Masuk Dalam perutnya.
Dengan Wajah Sumringah Wanda tentu Sangat Berterimakasih,Wanda pun Menaruh Harapan yang besar Pada Rangga.
Sesampainya Didepan Pintu Kamar Lita, Rangga Mengetuk Berulang Kali Tapi Lita tak Membukakan pintu. Terdengar Suara Lita Yang sedang Berbicara,Seakan Ada orang yang menjadi Lawan bicaranya.
Karna Merasa keadaan Lita sudah Tak Benar, Rangga meminta Izin Pada Wanda untuk Mendobrak Pintu Kamar Lita. Wanda Pun Menyetujui Sebab Ia pun Merasa Hal Yang sama Seperti Rangga.
Satu Kali, Dua Kali, Tiga Kali Sampai Kali Ke-Lima Pintu Akhirnya Terbuka.
Pandangan Pertama Yang Mereka Lihat Adalah Lita yang Memakai Gaun coklat Dan Make up,Terlihat seperti Ingin Menghadiri Pernikahan Atau acara Lainnya.
__ADS_1
Wanda Segera Menghampiri Lita,"Sayang, Anak Mama Mau Kemana? udah Cantik Begini? "Tanya Wanda Santai Padahal Hatinya Was-was.
"Eh Mama Lupa Kalo Hari ini, Geri,Suami Aku Ngajakin Keluarga Kita Liburan. Aku dah Siapin semua Keperluan Kita, Itu! "Lita menunjuk Sebuah Koper Yang Berada Disisi Kanan Lemari Baju, Memang terlihat Padat.
"Rangga, Bagaimana ini? Apa Lita Depresi? "Ujar Wanda.
Rangga hanya Diam, Sebenarnya Ia pun Yakin Jika Lita Sudah Depresi.
"Geri Mana, Ngga? "Tanya Lita.
"Heemm"Rangga Bingung Mau Menjawab Apa. "Eh Ada, Aku telpon Geri Dulu Ya Kau duduk saja Dulu. "Lita pun tersenyum dan Duduk Di kursi meja Hiasnya,Menuruti Perkataan Rangga.
"Ngaa, Kau serius ingin menelpon Geri?Apa Dia Akan Kembali Perduli Pada Lita? "Bisik Wanda.
Rangga Menghentikan Aktivitas Pada Layar Ponselnya, menatap Wanda Tak Yakin.
"Tante Benar Juga, Tapi Sebaiknya Kita Mencobanya Dahulu siapa Tahu Dia Simpati. "Ujar Rangga.
"Ada Apa? "Ujar Geri seberang Sana.
__ADS_1
"Lita.. "Baru saja Rangga ingin menjelaskan Geri Menyentak Rangga dengan Kasar.
"Bukan Urusan Ku Lagi! "Ucap Geri Sebelum Mematikan telepon.