Aku Tak Tahan Sikapmu Mas

Aku Tak Tahan Sikapmu Mas
Bab27


__ADS_3

"Gimana Kamu suka? "Lita mengangguk. Ia bahkan sangat-sangat menyukainya.


Setelah puas berkeliling Mall dan mencari semua yang diinginkan Lita, Mereka akhirnya Kembali Pulang. Disepanjang perjalanan mereka mengobrol,Sesekali tertawa. Membahas masa-masa indah mereka dan membahas tentang acara pernikahan mereka.


sedangkan di lain tempat Geri semakin sesak, Ia mendengar semua percakapan Mesra Lita dan Rangga. "Pernikahan itu tak akan pernah terjadi! "Ujarnya sembari membating setir mobilnya.


"Tunggu saja apa yang aku lakukan,Lita akan menjadi milikku. harus! "Gumamnya,Dengan senyum smirk miliknya.


💧💧💧


Mona menatap dua sahabatnya secara bergantian, kehadirannya bagaikan Obat nyamuk. Ia memerhatikan Vero yang terus memandang Nella dengan senyum yang tak pernah pudar,sedangkan Nella fokus pada layar ponsel digenggamannya.


Mona menghela Nafasnya, selain menjadi obat nyamuk Ia juga berasa duduk berkumpul bersama patung-patung. Hening tak ada yang terucap dari mereka, Tak tahan lagi Mona pun bangkit.


"Eh eh mau kemana,Mon.Sini aja! "Teriak Nella mampu membuat Mona berhenti melangkah dan vero kaget bukan Main.


"Aku bosen, Nell. Dari tadi diem Mulu, mending aku tidur aja"Balas Mona.


Nella membenarkan ucapan Mona,Ia pun merasa Bosan Dengan dunia maya nya.Nella pun bangkit dan melirik Vero tetap ditempat dan menatapnya.


"Kok ditinggal,"Ucap Vero saat Nella mulai melangkah. "Wahai tuan Vero yang terhormat,Terserah Anda Mau ngapain. Syukur-syukur kalau tuan pulang saja, Tamu tak diundang dan pulang pun tak perlu Diantar. "Ucap Nella lalu menyusul Mona.


Vero tercengang memandang punggung dua wanita yang mulai menjauh, "Nasib, Nasib Di tinggal Mulu. "Vero pun bangkit menuju pintu utama. Ia menutup Pintu sedikit keras lalu masuk kedalam Mobilnya.


💧💧💧


Dara duduk diteras balkon kamarnya, Setelah sibuk dengan pekerjaannya.Kini Ia duduk bersantai sebari menikmati pemandangan dari atas, Ia mengambil Foto dari dalam dompetnya. Foto seorang bayi yang sangat imut, Ia memandang foto itu lama sampai tak terasa Air matanya Luruh. Entah apa yang ada dipikirannya,membuat dirinya hanyut dalam suasana.


25 tahun yang lalu.


ooeekkk


ooeekkk


ooeekkk


Tangis bayi terdengar mengisi semua Ruangan kamar.


Hans yang berada didepan Kamar meneteskan air matanya, Ia sangat bahagia mendengar tangis bayi anak pertamanya.

__ADS_1


Tak lama pintu terbuka dan menampakan seorang perempuan berseragam putih,Dengan tersenyum Ia menatap Hans.


"Bagaimana keadaan Istri dan anak saya, Dok."Tanya Hans panik, Ia takut terjadi apa-apa pada istrinya.


"Alhamdulillah keduanya Selamat,Pak.Istri dan anak Bapak sama-sama sehat, Anak bapak Sangat Cantik.Selamat karna Pak Hans telah menjadi seorang Ayah, "Ujar sang Dokter.Ia ikut bahagia,Penantian Hans telah Tiba.


Hans mengusap wajahnya, Airmatanya kembali luruh. Beribu kata Syukur keluar dari bibirnya.


"Bolehkah saya melihatnya? "


"Tentu silahkan,Pak.Kalau begitu saya permisi,"Dokter itu berlalu,Gegas Hans memasuki Ruangan Istrinya.


Diusapnya air mata yang sedari tadi menetes, Ia tersenyum bahagia menatap istri dan anaknya berbaring di brankar Rumah sakit. Sejak Lama mereka menunggu kehadiran seorang anak, Akhirnya setelah tiga tahun pernikahan Tuhan mengabulkan keinginan mereka.


"Pa,Anak Kita. "lirih Dara, Ia mengelus lembut kepala bayi itu. Hans mengangguk dan mendekat,Ia kecup kening istrinya. "Terimakasih kau sudah berjuang, "lirih Hans. Dara hanya tersenyum, Ia bahagia dengan kehidupannya saat ini.Suami yang sangat baik dan seorang putri menjadi pelengkap kebahagiannya.


Hans menggendong Anaknya, Mengusap pipi Mulus bayi itu. "Kau sangat Cantik, Sayang.Persis Mama mu, "Ujar Hans. Dara hanya memangdang suami yang menggendong anaknya. Ia sangat tersentuh,telah lama menati pemandangan ini.


Namun kebahagian itu seakan Sirna,Saat Ia mengingat satu Hal. Ia menjadi sangat Khawatir, Jika itu terjadi.


"Pa, "panggil Dara. Raut wajah bahagia itu kini menghilang, Ada kekhawatiran Diwajahnya sekarang. "Anak kita perempuan,"Sambung Dara. Sontak Hans menatap istrinya, Ia hampir saja Lupa.


Hans mengambil ponsel dan memfoto Putri Mungilnya itu sebanyak Mungkin,Untuk menjaga-jaga.


"Ma,putri kita punya tanda lahir! "Ucap Hans, Melihat tanda hitam dileher sebelah kanan Putrinya.Ada Rasa sedikit binar dimatanya.


"Kita beri nama Ia__"Ucapan Hans terpotong oleh suara Pintu yang didorong Cukup keras.


Brakk


Brakk.


"Berikan Bayi itu! "Teriak seorang wanita keras.Dara sangat ketakutan Ia menangis meraung-raung,Hal yang Ia Khawatirkan pun terjadi. Hans Memeluk erat putrinya Tak menghiraukan jerit tangis sang Bayi yang mungkin Terkejut atau susah bernafas karna pelukan erat Hans.


"Berikan Hans! "Wanita itu terus mencoba mengambil Alih bayi itu,


"Kalian jangan diam saja! Ambil Bayi itu! "teriak wanita paruh baya tadi,dengan sigap Dua lelaki berpakaian hitam itu memegangi Hans dan mengambil alih bayi itu.


"Sudah Mama bilang, Hans!bMama mau cucu Laki-laki bukan perempuan! "Teriak Wanita itu, yang tak lain adalah Mama Hans.Ia kekeh dengan pendiriannya, Walau tau memiliki anak laki-laki atau perempuan itu adalah takdir yang tak dapat dipilih.

__ADS_1


"Mama akan buang perempuan ini! "Ujarnya lagi menunjuk Bayi Hans dan Dara.


"Jangan, Ma! itu anak Ku. jangan Ma Ku mohon, "Teriak Hans, sembari melepaskan Pegangan Anak buah Mamanya. Mama Hans tak peduli,Ia terus berjalan Keluar Ruangan itu. Diikuti Satu anak buahnya, Dan anak buah satunya tetap memegang Hans.


"Anak ku! hikss hikkss Pa anak kita,Pa.anak Kita! "Teriak Dara histeris. Ia berusaha bangkit Namun Tak Mampu, Ia masih sangat lemas.Ia meraung mengiringi kepergian sang buah hati,


"Lepaskan! "Ujar Hans pada lelaki yang terus memeganginya. Sampai pada akhirnya,Lelaki itu tak mampu lagi memegang Hans.


Hans langsung mengejar Mamanya, Berlari menuju parkiran. Namun sayangnya Mobil Mama Hans sudah tak ada disana, Ia menjadi tak berdaya Air matanya terus mengalir. Baru saja menjadi Seorang Ayah namun Telah terpisahkan, Ingin sekali Ia mengejar sang ibunda Namun Ia tak mungkin meninggalkan istrinya yang terlihat miris.


Hans langsung kembali keruangan Dara takut terjadi apa pun padanya,"Pa anak kita, Mana anak kita?"Raung Dara.


Hans langsung memeluk Tubuh istrinya yang lemas, "Tenang lah Sayang Anak kita akan baik-baik saja. "Hans menenangkan Dara, Padahal hatinya telah Yakin jika Mamanya akan menjauhkan putrinya.


"Kenapa Mama begitu, Pa. Apa salahnya jika kita punya Seorang putri?, Kenapa Mama melakukan itu?. Hiks hiks Hiks, Apa salah putri kita, Pa?"Ucap Dara ditengah isak tangisnya. Hans Hanya diam mendengarkan ucapan Istrinya, Sejujurnya Ia pun Sakit menerima ini. Namun Ia mencoba untuk tetap tegar agar Dara tak semakin terpuruk.


Mama Hans yang sangat terobsesi dengan cucu Laki-laki, Ia sudah lelah menunggu kehadiran Cucu Laki-laki sebagai penerus keturunannya. Hans adalah Anak tunggalnya, Harapan satu-satunya.


Ia sangat membenci bayi perempuan, Karna bayi perempuan lah suaminya meninggalkannya. Suaminya Lebih memilih Wanita selingkuhannya yang melahirkan bayi perempuan, Dan meninggalkannya yang tengah mengurus Anak Laki-Lakinya.


Sejak saat itu Ia sangat membenci Bayi perempuan,Melihat bayi perempuan sama halnya melihat sosok Lelaki yang sangat Ia cintai Namun pergi menyakitinya.


Mama Hans Menatap Wajah cucunya yang begitu Cantik, Ia merasa tak tega untuk menjauhkan dari orangtuanya.Namun bayangan Masa lalunya terus menghantuinya, Ia memang Egois melakukan Hal yang tak berprikemanusiaan.


Karena tak tega untuk membuang Bayi itu, Akhirnya Ia menuju Panti Asuhan. Menitipkan Bayi itu disana, Bayi yang Tak berdosa dan Baru beberapa Jam dilahirkan.


Saat hendak melangkah, Ia melihat Anak Laki-laki berumur sekitar dua tahun. Ia jatuh Hati pada anak itu. Ia pun mengadopsi Balita tersebut.


"Sudah! kalian tak usah terlalu bersedih, Ini anak untuk Kalian!"Hans yang duduk disofa Ruangan Dara pun menoleh pada mamanya, Menatap Balita itu. Dara sedang tertidur pulas mungkin karna lelahnya persalinan, dan lelahnya menangis.


"Sayang, Pergilah ketempat Papa mu."Ujar Mama Hans Lembut. Balita itu masih hanya diam Tak tau apa yang harus Ia lakukan, Mama Hans Menggendongnya dan mendudukan Balita itu dipangkuan Hans.


"Jagalah Dia, Mama Mau pulang istirahat. Capek ngurusin Kalian! beritahu pada istrimu itu, tak usah memikirkan bayinya. terima saja balita ini, "Ucap Mama Hans,sembari berlalu.


Hans menatap Balita yang kini berada dipangkuannya, Rasanya Ia ingin membiarkannya saja atau membawanya pergi menjauh darinya. Namun Jiwa seorang Ayah Muncul padanya, Apa bedanya Ia dengan Sang Ibu Jika sampai tega membuang balita itu.


Dengan Setengah Hati,Hans pun Menerima Balita Itu. Ia menidurkan tubuh Mungil itu,pada sofa kosong di sampingnya.Balita itu tertidur mungkin Ia kelelahan akibat perjalanannya, "Semoga Dara bisa menerima Mu,Nak."Gumam Hans.Ia melirik Dara yang pulas tertidur dengan perut yang telah mengempes Namun tak Ada bayi disampingnya.


Air Mata Hans Menetes kembali, merenungi Nasibnya. Gara-gara sang Ibu,Ia kehilangan Anaknya dan Harus melihat kesedihan Istrinya.

__ADS_1


Mama Hans memang tak membenci Dara, Bahkan Ia sangat Menyayangi menantunya.Walau begitu Ia tak bisa Menerima Bayi Perempuan itu.


__ADS_2