
Pagi ini kota Jogjakarta tak terlalu cerah, beberapa awan mendung menggantung di atas cakrawala menghalangi sinar mentari yang hendak menyapa tanah keraton jawa tersebut. Wanita muda yang selalu tampil dengan pakaian yang sexy itu sedang melangkah santai menyusuri koridor kantornya.
Kali ini ada yang berbeda dengan tampilannya. Tak ada high heels yang membalut kakinya, hanya sebuah flat**shoes biasa. Rok span dengan potongan diatas lutut, kini potongannya berubah persis sebatas lutut.
"Pagi, La." Sapa Sora pada Laura ketika sampai di meja kerjanya.
"Pagi, Ra." Jawab Laura, perhatiannya langsung tertuju pada kaki Sora, "Pantas aja gak kedengeran ketukan heels kamu, ternyata ganti sepatu?"
"Kakiku lagi lecet-lecet nih, makanya pakai yang nyaman aja dulu." Jawab Sora sambil duduk di kursinya.
"Lancar kemarin sore?"
Sora mengangguk, "Alhamdullillah, walau masih kurang puas." Jawab Sora. "Kapan rencana kita ketemuan sama Yuruyuru?"
"Sabar..., ini masih ngetik kontraknya." Laura menunjuk layar komputernya.
Sora tersenyum senang dan gemas.
"Ra, tolong kamu bikinin kopi pak Prany, ya." Pinta Laura, "Masih inget kan takaran yang ku ajarin kemarin?"
"Iya, udah hafal diluar kepala." Sora menjentikkan jarinya, ia langsung berdiri dan pergi ke bagian dapur lantai tiga.
Keadaan dapur kantor ketika pagi memang sedikit ramai. Karyawan bergantian mengisi air minum, membuat kopi atau teh untuk menemani waktu kerja mereka.
Kehadiran Sora tentu menarik perhatian beberapa orang disana. Karena mood-nya yang sangat baik pagi ini, ia mengembangkan senyumnya pada orang-orang yang menatapnya.
Sora mengambil cangkir dan meletakkannya diatas meja kemudian ia mengambil kopi dan gula, menakar sesuai dengan yang di ajarkan Laura kemarin.
"Kamu sekretaris barunya pak Prany?" tanya seorang cewek yang sedang menyeduh kopi disamping Sora.
"Iya." Jawab Sora singkat.
"Hati-hati aja, dia genit." Sahut seorang cewek lainnya.
"Iya sih, kelihatan banget." Jawab Sora.
"Tapi sepertinya dia malah doyan tuh sama yang genit-genit." Suara yang terdengar sangat tajam menusuk tepat ditelinga Sora.
Sora menatap pemilik suara yang sedang duduk di salah satu meja yang ada ada didapur. Ia mendengus kesal ketika mengingat jika wanita itu adalah orang yang menabraknya kemarin sore.
"Siapa sih dia?" tanya Sora ke salah satu cewek disampingnya.
"Mbak Nadia, dia orang lama, asisten ketua tim produksi."
"Ooh...," Sora hanya mengangguk sambil menyeduh kopi didepannya.
"Gak kepanjangan rok kamu itu?" tanya Nadia sambil melirik rok span Sora.
"Kependekan dikomentarin, kepanjangan dijulitin. Maunya apa coba?" gumam Sora.
"Ngomong apa kamu?" Nadia berdiri dari duduknya.
Sora menggeleng, ia membawa kopi hasil seduhannya dan beranjak pergi. Namun langkahnya segera terhadang Nadia.
"Nad, udahlah ..., anak baru tuh. Kasihan, jangan dikerasin." Ujar salah seorang pria yang sebelumnya duduk disamping Nadia.
"Justru karena anak baru, Zan. Harus di didik, biar gak kurang ajar." Jawab Nadia. Matanya memicing tajam pada Sora.
"Aduh, Kak. Gak perlulah repot-repot mendidik aku. Biaya pendidikanku gak murah loh. Kakak mau bantu aku nerusin s3 ku di London?" tanya Sora.
"Tuh kan, dia gak ada sopan-sopannya sama senior." Nadia mendapat satu alasan untuk membenarkan tindakannya.
"Bagian mananya yang enggak sopan, Kak? please lah, Kak. Jangan cari-cari alasan deh buat menindasku. Kalau emang gak suka sama aku, iri sama aku, bilang aja. Aku orangnya gak pendendam kok." Ucap Sora dengan senyum tulusnya yang siap menerima jika Nadia memang membencinya.
Melihat Nadia tak merespon dan hanya menatap kesal, Sora pun meninggalakan dapur dan kembali ke tempat kerjanya. Tak lupa ia meletakkan kopi yang sudah ia seduh di atas meja kerja Prany.
"La, kamu kenal asisten ketua tim produksi?" tanya Sora ketika ia sudah duduk di kursi kerjanya.
"Ooh, Mbak Nadia? Kenapa emang, Ra?" Laura balik tanya, matanya masih fokus ke layar komputer.
"Jutek banget orangnya. Kayaknya dia gak suka sama aku deh, La."
Laura menghentikan aktifitas mengrtiknya dan menatap Sora, "Iya wajar sih, Ra. Sebenarnya dia yang gantiin posisiku ini, Ra. Tapi ya gini keadaannya. Tiba-tiba personalia bilang kalau yang gantiin aku orang lain. Pasti dia kecewa."
Sora mengangguk, "Kasian juga, ya?"
"Aku tuh masih penasaran loh sama kamu."
"Jangan penasaran, ntar cepet mati." Sora cekikikan.
"Jahat kamu." keluh Laura, "Nih, bantu rapiin ini." Laura memberikan beberapa odner pada Sora.
Sora masih cekikikan, namun kemudian ia mengerjakan apa yang sudah disuruh Laura.
***
Langit biru kota Jogja perlahan menarik ongokan awan jingga. Suara bising kendaraan yang menumpuk di jalan menjadi tanda kesibukan penduduknya akan segera berakhir. Sora masih berada di dalam mobilnya, menikmati kemacetan yang tak akan berangsur lama itu. Kuku jari telunjuknnya mengetuk-ngetuk layar ponselnya yang sedang terdiam manis diatas pangkuannya. Keningnya mengernyit seolah memikirkan sesuatu.
Trrt trrrt trttt.
"Astaga!" Pekik Sora terkejut ketika ponselnya bergetar. Ada panggilang masuk dari Aga.
"Hmm?" Sapanya setelah mengusap tombol hijau diponselnya.
__ADS_1
"Apa yang mau anda bicarakan?" tanya Aga.
Sora diam dan memikirkan sesuatu, "Aku punya satu permintaan, tapi aku ragu mau bilang."
"Anda bisa katakan seperti biasanya, Nona. Bersikap ragu-ragu dengan keinginan anda terlihat bukan seperti anda."
"Sial!" Umpat Sora, "Apa aku bisa memberikan pekerjaanku pada orang lain?"
"Anda sudah bosan dengan pekerjaan anda?"
"Bukan, tapi aku merasa ada orang lain yang lebih berhak mendapatkan pekerjaan ini."
"Anda tidak perlu memikirkan itu."
"Aku gak mau orang lain mengira aku masuk kesana karena orang dalem, mereka akan meremehkanku."
"Bukannya kenyataannya seperti itu, Nona?"
"Ga—"
"Kalau memang tidak mau dianggap seperti itu, lebih baik nona bekerja lebih keras dan sungguh-sungguh." Pangkas Aga.
Sora diam, ia kesal tapi tetap saja ia tak bisa membalas Aga.
"Jika memang tidak ada yang di bicarakan lagi, saya akan tu—"
Belum Aga menyelesaikan kalimatnya, Sora sudah memutus sambungan teleponnya. Pantang baginya jika orang lain yang ia ajak bicara menyudahi pembicaraan lebih dulu.
Sora menghela nafas panjang menatap antrian kendaraan yang terhenti di traffic light salah satu persimpangan besar di tengaj kota. Ia melepas kesal karena kemauannya ditolak mentah-mentah oleh Aga. Namun sorot matanya terhenti pada pengendara motor yang berhenti tak jauh dari mobilnya.
"Almeer ...,"
Senyum mengembang dibibir Sora, hari ini ia gagal bertemu dengan pria itu. Namun ia tak menyangka bisa melihat Almeer dijalan.
Baru ia menekan tombol untuk membuka jendela mobilnya, traffic light sudah berubah menjadi hijau. Para pengendara sudah mulai melajukan kendaraannya.
"Pak Khusno, kejar cowok yang pake motor matic itu ya. Yang pakai jaket Hitam, pake tas ransel!" Ujar Sora, jari telunjuknya mengunci target agar sopirnya tak kehilangan jejak.
"Baik, Non."
Khusno melajukan kendaraannya, sebisa mungkin mengejar Almeer agar tak kehilangan jejak. Laju kendaraan Almeer tiba-tiba melambat, ia menepi di salah satu gerobak penjual martabak manis. Otomatis Khusno ikut menepikan kendaraanya, ia mencari tempat yang luas untuk memarkirkan kendaraannya.
Tak terlalu jauh dari tempat Almeer menghentikan motornya, Sora menghampiri Almeer.
"Almeer!" Teriak Sora dari kejauhan.
Mendengar namanya dipanggil, pria yang baru melepas helmnya itu mencari sumber suara yang memanggil namanya. Wanita berwajah imut sedang berlari kecil kearahnya.
Sora tersenyum lebar, titik tujuannya hanya Almeer. Ia tak mempedulikan hal lain.
BRUG!
"Aduh!!" Pekik Sora ketika ia mendapati sesuatu yang dingin mengenai lengan blouse-nya.
"Aduuuh, Mbak gimana sih? jalan gak lihat-lihat."
Sora menatap ujung sebuah ice cone ditangan seorang wanita sudah hilang tertabrak lengannya.
"Maaf, ya. Maaf..., " Ucap Sora menyesal.
Walau kesal, wanita itu tak memperpanjang urusannya. Ia memilih pergi meninggalkan Sora.
"Kenapa gak hati-hati sih kalau jalan?" tanya Almeer yang tiba-tiba saja sudah ada didepan Sora.
"Karena kamu nih jadi kayak gini." Keluh Sora, ia menunjukkan lengan bajunya yang kotor pada Almeer.
"Lah, kok aku?" Almeer kebingungan.
"Pokoknya kamu harus tanggung jawab!"
"Hah!? tanggung jawab gimana?"
"Baju ku kotor, kamu harus ganti yang baru."
"Hah?" Almeer tercengang.
"Jangan hah hah hah aja, tanggung jawab! Ganti rugi!"
Almeer tertawa geli, "Gajiku satu bulan bisa habis buat ganti baju kamu itu, Ra."
"Pokoknya kamu harus ganti rugi."
"Apes deh. Alamat bulan depan banyak-banyak puasa nih." Keluh Almeer.
"Kok gitu?"
"Ya kan uangku harus ku buat beliin kamu baju, dan aku yakin itu harganya gak murah."
"Emang gaji kamu dikit ya, Al?"
"Banyak, tapi gak sebanyak papamu. Yang ngitung uang gaji belum kelar udah gajian lagi." Goda Almeer.
"Iiih..., Kalau gitu cicil aja deh."
__ADS_1
"Alhamdulillah, bisa dicicil."
"Mana hape kamu?"
Almeer merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. "Buat apa?" tanya Almeer sambil memberikan ponselnya pada Sora.
Sora mengambilnya dan menekan beberapa tombol angka disana kemudian melakukan sebuah panggilan hingga terdengar satu bunyi nada sambung, lalu ia akhiri.
"Aku harus tahu nomor hapemu untuk menagih cicilan dan memastikan kamu tidak lari dari tanggung jawab." Kata Sora, ia mengembalikan ponsel Almeer.
"Hahahahaha, tinggal bilang minta nomer hapeku aja kamu bikin serumit ini, Sora."
"Aku gak minta nomormu, aku hanya memastikan kamu untuk membayar hutangmu." Elak Sora.
"Ya ya ya, aku tidak akan kabur darimu." Almeer mengalah, tapi ia tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Jangan ketawa!"
"Enggaaaak....," Tapi bibir Almeer masih tersenyum lebar.
Sora yang menyadari tingkah bodohnya ikut tertawa juga. Ia tak mau menjatuhkan harga dirinya hanya untuk meminta sebuah nomor telepon Almeer. Jadilah ia menggunakan cara tak masuk akal itu dan dia berhasil walau harus menanggung malu. Yang terpenting harga dirinya masih aman diperaduannya.
***
Pertemuan Sora dengan Almeer sore tadi tak berlangsung lama. Kedatangan orangtua Almeer di Jogja membuat Almeer mampir membeli martabak kesukaan mamanya dan harus segera pulang ke rumah.
Sora yang baru saja menerima panggilan telepon dari mamanya memilih untuk keluar kamar menghampiri Mina dikamarnya.
"Dek, Mama barusan telepon kakak." Kata Sora ketika ia memasuki kamar Mina. Adiknya itu sedang merapikan buku-bukunya diatas meja belajar.
"Iya, Kak. Mama minta Mina buat balik ke Jakarta kalau sudah sidang skripsi."
"Kapan sidangnya?"
"In shaa Allah kalau gak ada halangan lagi sidangnya besok pagi, Kak."
"Alhamdullillah, Dek. Biar cepet selesai."
Mina mengangguk, Ia menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kak Sora gak apa sementara tinggal disini sendirian?" tanya Mina.
"Gak apalah, Dek. Emangnya kakak bayi apa harus ditemenin terus?" Sora mengusap bahu Mina.
"Kamu bakal balik kesini lagi?" tanya Sora.
Mina mengangguk, ia mengambil beberapa lembar kertas berisi CV dan fotonya. "Mina mau menyerahkan ini dan nunggu jawabannya, kak."
"Jadi?"
"Iyalah, kak. Do'ain Mina ya, kak. Mina udah nunggu dia dua belas tahun. Dan besok pagi Sora memberanikan diri mengajaknya ta'aruf."
"Dua belas tahun?" Sora memekik.
Mina mengangguk, "Orang yang udah buat Mina lebih mengenal Tuhan Mina. Dia yang membuat Mina terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan berusaha memantaskan diri agar bisa menjadi pendamping hidupnya."
"Uuuuuh, manisnya cinta adek kakak ini." Sora mencubit gemas pipi Mina. "Kakak do'ain keinginan kamu bersanding dengannya terwujud ya, Na."
"Makasih ya, Kak. Mina do'ain juga supaya kali ini perjalanan cinta kakak berakhir di pelaminan."
"Aamiin...," Sahut Sora.
Trrt trrt
Sora melihat ponsel yang bergetar ditangannya, sebuah pesan whatsapp dari nomor yang belum ia simpan.
/Assalamu'alaikum, Sora. Aku tahu kamu akan tersenyum setelah membaca pesan ini./
Sora tertawa kecil membaca pesan masuk itu, ia menatap Mina yang penasaran.
"Kakak ke kamar dulu ya." Pamit Sora.
"Iya, Kak." Jawab Mina.
Sora kembali ke kamarnya dan merebahkan badannya diatas tempat tidur. Baru ia mau menekan tombol telepon di room chat-nya, sebuah pesan baru masuk kembali.
/Aku nunggu renternir nagih hutang, kok belum datang-datang ya?/
/Wa'alaikumsalam, udah punya uang banyak nih ngarepin renternir datang?/
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa sebelum beralik tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan VOTE novel ini ya.
Terimakasih.
__ADS_1