
Sejak subuh rumah Langit sudah terlihat ramai dan sibuk. Taman belakang rumah menjadi tempat digelarnya akad nikah Genta dan Erni. Sesuai hasil kesepakatan semalam, Genta memutuskan untuk mengundang beberapa teman-teman dekat yang ada di dunia entertainment dulu. Tidak ada resepsi di gedung mewah meskipun Hiko dan Langit memberikan tawaran secara gratis. Malu dengan umur. Jadilah akad nikah dan resepsi dilakukan sekaligus dirumah Langit.
Santiago, Make up artis langganan keluarga Langit baru saja selesai merias Erni. "Cantik deh kalau udeh kena sentuhan jemari lembut Santi," ujarnya membanggakan diri.
"Makasih ya, Santi," ucap Erni.
"Sama-sama, Bu Erni ...."
"Sudah siap pengantinnya, San?" tanya Senja yang baru datang di ruang tengah bersama Langit.
"Sudah, dooong ... udah cantik, seperti remaja yang nikah muda."
Senja tersenyum melihat Erni yang memang terlihat jauh lebih muda dari usianya.
"Bu Senja duduk dulu, ya. Habis ini ganti Saya poles." Santiago menatap asistennya yang sedang memberikan sedikit polesan make up pada wajah Genta. "Bung, Bubung!"
"Ya, Bos?" sahut wanita bernama panggilan Bubung itu.
Santiago menghampiri asistennya, "siapin setelan jas punya pak Langit dan besannya dong, Pak Genta biar aku yang urus. Matahari udah muncul tuh,"
"Siap!"
Tak lama berselang, Hiko dan Ruby juga datang. Bubung memberikan masing-masing setelan jas berlabel nama Langit dan Hiko pada kedua pria gagah dan tampan meskipun mulai terlihat kerutan di wajah mereka.
Langit dan Hiko pergi keluar ruangan lagi untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian mereka kembali.
"MasyaAllah, Bos. Apa ini yang disebut manusia titisan Surga? Gantengnya gak manusiawi," bisik Bubung pada Santiago.
"Makanya, aku betah kalo jadi MUA keluarga ini. Adeeem bener nih hati kalo lihat bapak sama anak itu. Apalagi besaannya itu, uuuuh ... pengen cubit gemes deh!"
"Ho'oh, Bos! Noel dikit boleh gak ya?"
"Aku dengar, loooh ...," goda Genta.
Santiago dan Bubung terkekeh malu.
"Anak-anak yang lain udah pada beres belum itu ngerias orang-orang?" tanya Santiago.
"Ya kan aku disini sama kamu, Bos. Mana ku tahu," jawab Bubung.
"Panggil dooong, Buung ... kalau sudah biar bantu kita disini untuk rias bu Senja dan besannya."
"Oke oke!" Bubung pergi meninggalkan ruangan.
"Asistenmu itu bener, San. Memang aku ini manusia titisan Surga ... kegantenganku gak bisa ditakar dengan alat apapun di dunia ini," ujar Langit sambil menatap pantulan dirinya dicermin. "Bahkan bayanganku sendiri minder menatapku."
"Mas! Tidurmu semalam gak nyenyak?" tanya Senja.
"Nyenyang, kok. Kenapa, Sayang?"
"Bicaramu kok gak inget usiamu itu sudah berapa? Sudah mau punya cucu loh, kamu."
"Mungkin pak Langit kurang mendapat pengakuan, Bu Senja. Jadi ya ...," Hiko menatapi Langit dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lagi, "begini."
"Mas Hiko ... ini masih pagi looh," Ruby menarik suaminya. "Maaf ya, Pak Langit. Suami saya memang seperti ini. Jangan diambil hati,"
Langit menatap Hiko kesal, apalagi ketika pria itu menunjukkan senyum remehnya.
"Udah! Nunggu diluar saja, Mas." Ruby menarik suaminya keluar ruangan sambil memukul lengan suaminya.
"Tuh orang nyebelin banget, ya? Betah banget orang-orang disekitarnya," gumam Langit.
"Ya memang begitu dari dulu, Pak," sahut Genta, "Santunnya sama orang-orang tertentu aja. Mungkin udah anggap Pak Langit teman kali, jadi gesrek gitu."
"Untung, Besan. Kalau bukan, udah ku bikin hilang dia,"
"Hush! Gak usah macam-macam," ujar senja seraya menepuk dada suaminya.
"Nyebelin banget loh tuh orang, Sayang."
"Kamunya juga nyebelin, gak mau kalah seinci aja sama orang lain,"
"Ya jelas ... memang aku punya segalanya ...,"
"Ssst!" Senja menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya, "udah, diem!" Ia merapikan kerah baju suaminya.
Langit diam seketika setelah mendapat perintah istrinya.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Erni Kasasih binti almarhum Kosasih dengan mas kawin tersebut dibayar tuuuunaaaai!" Kalimat qobul terucap dari mulut Genta dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana pada saksi? Saaah?"
"Saaaaaaah ...,"
"Alhamdullillah ..."
Doa dilantunkan dari penghulu dan para tamu mengaamiinkannya. Kini Genta dan Erni sudah sah menjadi suami istri.
Prosesi akad nikah sudah dilakukan. keluarga Langit dan Hiko yang memakai pakaian berwarna yang sama dan senada sedang melakukan foto bersama pengantin baru itu.
Beberapa rekan-rekan Hiko dan Genta dari dunia entertainment sudah hadir mengisi kursi-kursi tamu. Gus Iqbal dan Ning Azizah beserta anak-anak mereka pun turut hadir.
Genta dan Erni, sama-sama sudah tak memiliki orang tua. Tak ada keluarga mereka yang hadir dipernikahan mereka. Bagi Genta, Hiko adalah keluarganya dan bagi Erni, Langit adalah keluarganya.
"Terimakasih Tuan, Nyonya ... sudah mau menggelar acara pernikahan kami semeriah ini," ujar Erni pada Langit dan Senja ketika acara ramah tamah sudah di mulai.
"Sama-sama, Erni." Senja memeluk Erni dengan bahagia.
"Saya juga sangat berterimakasih Pak Langit, Bu Senja ...," tambah Genta.
"Iya, Pak Genta. Hanya seperti ini, tidak ada yang spesial," sahut Langit.
"Lo gak terimakasih ke gue, Ta?" tanya Hiko yang baru ikut bergabung.
"Enggak! Emang lo berkontribusi apa sama gue?" Genta balik bertanya.
"Oooh, gitu lo ya. Udah lupain gue. Mentang-mentang lo udah punya temen yang kaya nya tingkat premium, gue yang masih semi-semi kaya langsung lo lupain?" Hiko merajuk.
"Enggak dong, Sayang. Kamu tak akan tergantikan dihatiku. Sini ku peluk dulu, biar gak marah." Genta memeluk Hiko dengan canda.
Tetapi, dua sahabat yang berpelukan dalam canda itu tiba-tiba terdiam dan serius saling menepuk punggung.
"Selamat ya, Ta. Akhirnya lo udah nemuin kebahagian. Thanks udah nemenin gue sampai detik ini, Ta."
"Uuuh, Papa Hiko so sweet ya, Bie," bisik sora pada Almeer yang melihat hal itu.
"Kalau gak so sweet gak mungkin mama Ruby luluh hatinya," sahut Almeer. "Tapi aku juga kan gak kalah so sweet dari Papa, Sayang."
Sora menyebikkan bibirnya, "kamu gak romantis, Bie."
"Kalau aku gak romatis, gimana bisa ada ini, Sayang?" Almeer mengusap perut istrinya dan mendapatkan bonus cubitan dari istrinya.
"Makan yuk, Bie. Lapeerr ...," ajak Sora.
"Aduuuh, kalau aku mual lagi gimana, Sayang?"
"Enggak enggak, udah agak siangan ini. Pasti gak mual." Sora menarik tangan suaminya dan pergi ke meja prasmanan.
Sora ngambil dua piring. Satu diberikannya pada Almeer dan satu lagi untuknya. Almeer mencoba menahan napas agar tidak terpancing untuk mual.
"Kak Almeer masih gak suka makan?" tanya Mina yang baru datang bersama Sky.
"Aku suka makan, Mina. Hanya tubuhku tidak menerimanya dengan baik," jawab Almeer.
"Ribet banget sih, makan tinggal makan aja susah amat!" Sergah Sky.
"Ku sumpahin nanti kalau istrimu hamil, kamu gantiin mualnya. ngidamnya, sakitnya. Biar numpuk di kamu, Sky!" kutuk Sora.
"Sayang ...,"
"Biarin, Bie! Nyebelin banget sih dia!"
"Bukan gitu, Sayang ... cuma, percuma kamu do'ain gitu."
"Kenapa?" tanya Sora heran.
"Keburu kadaluarsa do'anya, Sayang. Sampai sekarang aja belom kelihatan hilal jodohnya,"
"Hahahahaha ...," tawa Sora dan Mina langsung pecah mendengar ledekan Almeer pada Sky.
"Sial!" umpat Sky tak bisa membalas Almeer.
"Sabar ya, Kak." Mina menepuk bahu kakaknya.
__ADS_1
Sky hanya mengomel tak jelas sambil memilih menu makanan yang ia sukai.
"Mirsha! Sini!" Almeer memanggil sepupunya, anak pertama dari Gus Iqbal.
Pria berwajah ramah itu menghampiri Almeer, "kenapa, Mas?" tanya Mirsha.
"Kenalin," Almeer menunjuk Mina, "adik iparku, Mina."
Mina dan Mirsha sama-sama terkejut ketika Almeer mendadak memperkenalkan mereka.
"Ini, Mirsha. Anaknya Oom Iqbal ... dia kakak tingkatmu dulu di pesantren," ujar Almeer.
"Loh, orangtuanya punya pesantren kenapa malah nyantri ditempat lain, Bie?" Sora bingung.
"Ya memang gitu dari dulu, Sayang ...,"
"Kamu mau jodohin adikku sama sepupumu?" tanya Sky.
"Kali aja jodoh, Sky. Gak ada yang tau, kan?" jawab Almeer, "dapat gus loh adikmu, Sky. Bibitnya bagus, kalau anak mereka lahir nangisnya beda."
"Beda gimana, Bie?" tanya Sora.
"Oek Oeknya pake tartil, Sayang,"
"Aneh-aneh aja kamu, Bie."
Mina dan Mirsha hanya saling berbalas senyum dan salam kemudian pandangan mereka berpaling.
"Gak usah iri ... jodohmu masih dijagain orang, Sky." Sora menepuk bahu saudaranya.
"Mulutmu, Ra!" Gerutuan Sky membuat yang lainnya tertawa.
"Ada apa sih? Ketinggalan nih, aku." Ameera yang baru datang jadi penasaran.
Seketika wajah Sky yang tadinya terlihat kesal berubah sok cool.
"Iniloh, Meera ... lagi bahas jodohnya si Pohon Pisang ini. Belom kelihatan hilalnya," jawab Sora.
"Pohon Pisang, Mbak?" tanya ameera tak mengerti.
Sora menunjuk Sky, "tuh ... si Pohon Pisang."
"Ya Allah, nama bagus-bagus diganti pohon pisang, Mbak." Ameera ganti menatap Sky, "sabar ya, Mas Sky."
"Emang kenyataannya gitu Meera, dia mana punya hati."
"Diem kamu!" Sentak Sky tanpa suara.
"Diiih ...,"
***
Almeer dan Sora tidak bisa terlalu lama berada di Jakarta, mereka harus kembali ke Malang karena tuntutan pekerjaan Almeer. Tiga hari sudah cukup baginya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga besar mereka. Toh, tak lama lagi mereka akan berkumpul lagi untuk syukuran kehamilan Sora.
"Alhamdullillah, Bie ... bisa rebahan juga sekarang." Sora meregangkan badannya diatas tempat tidur.
Almeer ikut berbaring disamping istrinya. Ia memandangi Sora dan mengusap perut Sora yang masih rata namun terasa sangat kencang.
"Kenapa. Bie?" tanya Sora. "Tidur yang bener, Bie. Capek loh nanti badannya,"
Pria itu malah semakin mendekat pada istrinya dan ganti menyandarkan kepalanya di paha Sora. "Berat, gak?" tanya Almeer.
"Enggak." Sora bangun dari tidurnya untuk duduk, tangannya membelai rambut suaminya dengan lembut.
Almeer memiringkan badannya dan menatap perut Sora, ia menghujani ciuman pada perut itu hingga membuat Sora tertawa geli.
"Geli, Bie ...,"
Almeer terkekeh melihat istrinya, ia mengusap pipi istrinya dan diakhiri cubitan kecil di hidung. "Anak kita nanti mirip siapa ya, Sayang?"
"Mirip kamu aja lah, Bie. Kamu kan pinter,"
"Kamu juga pinter kok ... walaupun dikit," ujar Almeer diakhiri tawa jahil.
"Jahat, ih!"
"Hihihi ..."
"Cowok apa cewek ya, Bie?" tanya Sora.
"Sama saja, Sayang. Yang penting kamu dan anak kita selamat dan sehat."
"Alhamdullillah kalau dikasih kembar, rame rumah kita. Emang hasil USG kemarin dokter bilang kembar?" tanya Almeer.
"Enggak, sih. Hehehe," Sora tersenyum dengan menunjukkan gigi-giginya.
"Nanti kamu mau lahiran dimana, Sayang? Disini, apa di Jakarta?"
"Disini aja, Bie ... aku mau ditemenin kamu," ujar Sora.
"Gak mau sama mama Senja?" tanya Almeer.
"Mama kan pasti datang kesini, Bie. Toh, ada mama Ruby juga."
Almeer tersenyum,
"Melahirkan itu sakit ya, Bie?"
"Aku kan gak pernah ngerasain, Sayang."
"Kalau lihat di sinetron-sinetron itu kan kalau mau melahirkan teriak-teriak, Bie. Pasti sakit banget, ya?" Sora memainkan rambut suaminya sambil membayangkan sakit yang kelak akan dirasakannya.
"Makanya surganya anak ada di kaki ibunya, Sayang. Karena pengorbanannya besar,"
"Iya tahu, Bie ... tapi aku deg-degan,"
Almeer menatap istrinya, "gak usah takut, nanti aku temenin ...,"
"Kamu berani, Bie?"
"Kan aku bantu suport kamu, Sayang. Bukan bantu dokternya ngeluarin anak kita,"
"Oooh, iya ya ...,"
***
215 Hari kemudian ....
Dalam heningnya dini hari. Seorang wanita sedang menahan rasa sakit yang tak tertahan diatas brankar rumah sakit bersalin. Jilbab pada bagian pelipis dan leher yang dikenakannya sudah basah karena keringat. keningnya mengerut, matanya terpejam rapat, bibirnya menipis merasakan tiap-tiap rasa sakit yang timbul akibat kontraksi. Tak ada teriakan mendramatisir rasa sakit yang keluar dari mulutnya.
Ia meringkuk, terlentang, meringkuk lagi, menghadap ke kanan dan balik lagi ke kiri mencari posisi yang nyaman tapi tak kunjung ia dapatkan. Tangannya mencengkram erat tangan suaminya, bahkan sesekali suaminya mendapat pukulan dan cakaran. Namun pria yang juga sedang panik namun berusaha tetap tenang disampingnya itu hanya bisa sabar dan pasrah menerima perlakuan istrinya.
"Teriak saja gak apa kok, Bu ..., mungkin bisa mengurangi rasa sakitnya," ujar perawat yang baru datang.
"Iya, Sayang. Kayak di sinetron-sinetron itu," bujuk Almeer pada Sora.
"Biiieee!" ucap Sora tertahan sambil mencubit suaminya.
"Saya cek pembukaannya lagi ya, Bu," ijin perawat.
Sora tidur terlentang dan melipat lututnya. Perawat itu mulai sibuk dibagian intim Sora. Ia sudah tak malu lagi seperti di awal-awal pemeriksaan tadi. Rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata itu menutupi segalanya.
"Sudah pembukaan delapan, nih. Dikit lagi, Bu ..."
"Alhamdullillah, dikit lagi Sayang ...,"
Sora hanya mengangguk.
"Boleh sambil dibuat jalan-jalan, Bu. Biar cepat proses pembukaannya," saran perawat
Almeer mengernyit, "istri saya sudah kesakitan seperti ini kenapa malah di suruh jalan-jalan, Mbak?" protes Almeer.
"Biar cepat pembukaannya, Al." Jawab Senja dan Ruby kompak. sampai mereka berdua saling berpandangan dan tertawa.
"Sora mau jalan jalan, Ma."
Senja membantu putrinya untuk duduk dan turun dari tempat tidur,
"Jalannya di ruangan ini saja ya, Bu. Satu jam lagi saya kemari lagi," ujar Perawat kemudian pergi.
Sora mengangguk. Ia menggandeng suaminya erat-erat, dengan membungkuk sambil menahan rasa sakit ia berjalan pelan-pelan mengitari ruangan.
Beberapa putaran cukup membuat wajah Sora lebih pucat dan keringat dingin yang terus menerus keluar meski Almeer sigab menyekanya.
"Sayang, istirahat yuk ... kamu udah pucet banget gitu," Almeer khawatir.
__ADS_1
"Duduk dulu, Nak. Minum dulu," bujuk Ruby, ia membawakan botol air mineral untuk menantuknya.
Sora duduk dan meneguk sedikit air dari dalam botol yang diberikan mama mertuanya.
"Makan lagi, Sayang ... biar kuat ngejannya nanti." Almeer menyodorkan roti bolu kukus srikaya yang dibelinya malam tadi.
Sora menggeleng, "gak napsu makan, Bie ...."
"Makan dikit, Sayang. Kamu butuh tenaga banyak untuk melahirkan anak kalian," bujuk Senja.
Akhirnya sora memaksakan mulutnya untuk mengunyah makanan kesukaannya itu. Hanya setengah potong ia menghabiskan makanannya. Dan kemudian ia melanjutkan langkahnya mengitari ruangan meskipun sakit yang dirasakannya semakin tak tertahan.
"Bie, sakit ...," keluhnya setelah belasan jam diam menahan sakit dari kontraksi perutnya sendiri.
Almeer lekas memeluk istrinya dan dan mengusap punggung bawah istrinya untuk membantu memberi kenyamanan.
"Kamu bisa teriak, Sayang. Mungkin bisa membuatmu lega,"
Sora menggeleng, "aku sedang menikmati rasa sakitnya, Bie."
Almeer mengecup ujung kepala istrinya, "kamu kuat, Sayang ... kamu hebat,"
Sora mengangguk.
Seorang perawat datang kembali setelah Sora menunggu lebih dari satu jam. Ia melakukan pemeriksaan ulang lagi pada bagian intim Sora.
"Alhamdullillah, sudah pembukaan sempurna, Bu."
"Alhamdullillah ...,"
"Kita pindah ke ruang bersalin ya, Bu. Bapak mau ikut masuk atau menunggu di luar?" tanya perawat.
"Ikut!" sahut Almeer.
"Mari ikut saya untuk mensterilkan diri dulu, Pak."
Sora diajak perawat untuk duduk di kursi roda kemudian dibawa keluar ruangan. Langit, Hiko, Sky dan Mina menghampiri untuk memberikan do'a dan semangat.
***
"Eeeeerrgggh!!"
"Bagus, Bu ... tahan sebentar .... tarik napas ... ngejan lagi, Bu ..."
"Eeeeergghhh ...," Sora menegeratkan giginya dan mengejan sekut tenaga. Tangannya mencengkram erat tangan suaminya.
Sedangkan Almeer hanya diam tak mau mengganggu instruksi dokter. Ia membuat lengannya menjadi bantalan kepala untuk istrinya. Tangan kanannya menjadi tumpuan istrinya ketika mengejan.
Almeer berpikir ini akan berlangsung cepat. Tapi ternyata semua tidak semudah pikirannya. Ia harus menyaksikan pengorbanan istrinya yang terlihat sangat tersiksa. Wajah istrinya terkadang merah padam hingga menunjukkan otot dibagian pelipisnya ketika mengejan. Napasnya terasa pendek memburu. Semua hal itu membuat perasaan Almeer berkecamuk. Begitu besar perjuangan istrinya untuk menghadirkan buah hatinya ke dunia ini.
"Sedikit lagi, Bu ... kepalanya sudah terlihat."
Kalimat dokter membuat Almeer semakin tegang, ia menatap dokter wanita paruh baya itu dan menelisik raut wajahnya yang terlihat lebih santai dari sebelumnya.
"Tarik napas, Bu. InsyaAllah, satu kali mengejan ini sudah keluar ... mulai, Bu."
"Eeeeeeeeergghhhhhhhhh!"
"Alhamdullillah ...,"
"Ooeeeeek ooeeeek ...."
"Alhamdullillah, ya Allah!" Teriak Almeer bahagia ketika dokter mengangkat bayi gemuk berkulit merah di kedua tangannya. Air mata haru meleleh di pipi Almeer. Ia menatap istrinya yang kelelahan dan mencium keningnya. "Terimakasih, Sayang ... terimakasih. Kamu wanita hebat, Sayang."
Air mata Sora ikut mengalir mendengar ucapan suaminya. Ia menepuk lengan suaminya.
"Terimakasih, Sayang." Almeer memeluk Sora, menelungkupkan wajahnya di antara bahu dan kepala wanita yang baru saja mendapat gelar Ibu itu. Ia sesenggukan menangisi perjuangan istrinya.
"Anak kita sudah lahir, Bie ...," ujar Sora, matanya mengikuti perawat yang membawa anaknya ke sebuah meja.
Almeer mengangkat wajahnya dan ikut melihat apa yang dilihat istrinya.
"Tenang dulu ya, Bu. Nunggu plasentanya keluar, setelah itu sakitnya perlahan hilang," kata dokter.
Sora dan Almeer tak terlalu mendengarkan ucapan dokter, mereka hanya fokus memperhatikan perawat yang membersihkan bayi mereka.
Tak terlalu lama, perawat membawa bayi mereka yang sudah mengenakan bedong berwarna biru.
"Selamat ya, Pak, Bu. Putra anda lahir sehat dan sempurna. Beratnya 3,8 kilogram dan panjangnya 51 centimeter."
Almeer menerima bayi kecilnya yang matanya sedang terpejam itu, agak canggung dan takut salah menggendong. Ia mempelihatkan pad istrinya.
"Anak kita cowok, Sayang."
Air mata Sora kembali menetes melihat bayi kecilnya. Tangannya yang masih lemah berusaha meraih putranya itu. Almeer dengan sigap mendekatkan putranya pada istrinya.
Sora memberikan kecupan pertama untuk putranya, "terimakasih sudah hadir menemani Abie dan Bubun, Sayang."
"Aku adzanin putra kita dulu ya, Sayang."
Sora mengangguk, membiarkan suaminya melakukan kewajibannya pada putranya.
***
Sora sudah berada diatas tempat tidur ruang perawatannya. Kedua keluarganya berdiri mengitari tempat tidur. Bayi berpipi tembam dengan bibir tipis yang merah disamping Sora menjadi pusat perhatian mereka.
"Aku masih gak percaya kamu mengeluarkan manusia kecil dari tubuhmu, Ra." Mata Sky tak berhanti terpukau menatap keponakannya.
Sora hanya memberikan tatapan sinis.
"Sudah ada nama untuk putramu, Al?" tanya Hiko.
"Gaharu Taraka," jawabnya, "itu nama putra kami, Pa, Ma."
"Gaharu? Nama Jepang, Bie?" tanya Sora.
"Gaharu itu nama pohon, Ra!" jawab Sky.
"Iyakah?" Sora menatap saudara kembarnya tak percaya kemudian ganti menatap suaminya.
Almeer mengangguk, "Nama pohon yang selalu digunakan untuk membuat wewangian, Sayang. Semoga, dimanapun putra kita berdiri nanti, ia akan menjadi orang yang kuat, bermanfaat dan memberi kenyamanan bagi orang lain."
"Aamiin ...,"
"Taraka?" tanya Sora lagi.
"Karena lahir di Jawa, jadi pakai nama Jawa ya sayang. Artinya bermata bintang. Tuh lihat, mata putra kita. Binarnya seperti bintang."
Sora tersenyum menatap putranya membuka matanya, diam sejenak dan kemudian terpejam lagi.
"Makasih ya, Bie." Senyum Sora merekah menatap suaminya.
Almeer mengusap kepala istrinya. "Sama-sama, Sayang ...,"
"Gedenya bakal ganteng nih cucu, Opa." Langit mengangkat cucuknya dan menimangnya.
"Jelas, Bibitnya dari siapa dulu ...," sahut Hiko.
"Iya. tentu banyak dari gen saya,"
"Fisik dari anak itu sebagian besar dari gen ayahnya, kalau kecerdasan anak baru dari dari gen ibunya, Pak Langit," ralat Hiko dan mendapat dengusan kesal dari Langit.
"Waduh! Bahaya nih kalau kecerdasannya dari gen ibunya. Emaknya aja cuma punya otak sebiji sawi!" Ledek Sky pada Sora, "Gaharu Taraka, hidup sama Kakak Sky saja, ya. Biar pintar ...,"
"Kakak?" Protes Almeer dan Sora.
"Iuuuh banget, Sky! Mentang-mentang gak laku, ya gak gitu juga kali ...," Protes Sora.
"Sirik aja!"
"Hahahahahaa ...,"
Kehadiran Gaharu Taraka sebagai anak dan cucu pertama di keluarga itu menyempurnakan kebahagian keluarga besar Sora dan Almeer. Kado terindah dari Allah setelah mereka semua berhasil melewati ujian dariNya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
Terimakasih laflafkuh!