
"Hoek!"
Sora terkejut ketika pagi-pagi mendengar suara Almeer yang sedang muntah di kamar mandi atas. Ia berjalan cepat menghampiri suaminya.
"Bie ... kenapa kamu, Bie?" tanya Sora dengan ketukan khawatir di pintu kamar.
"Bentar ... Sayang ... Hoek!"
Sora diam dan menunggu suaminya dengan khawatir di depan pintu kamar mandi.
Ceklek!
Almeer keluar dari kamar mandi dengan mulut dan hidung yang ditutup handuk.
"Kenapa, Bie? Gak enak badan lagi?" tanya Sora.
"Enggak sih, Sayang ... selalu saja kalau bau masakan jadi gini," jawab Almeer sambil bergidik.
"Kami masak ayam bakar kesukaan kamu loh, Bie. Kamu gak suka?"
"Iyakah? Kalau gitu, kita sarapan yuk, Sayang!" ajak Almeer, ia menggantung handuknya di jemuran handuk kemudian merangkul istrinya untuk pergi ke dapur.
"Pakai nasi gurih, Bie. Aku yang bikin nasinya ...," ujar Sora ketika sampai di meja makan.
"Oya? Bukan Bu Siti?" tanya Almeer.
"Bener, Mas. Mbak Sora yang masak nasinya. Enak banget, Mas." Siti menyahut dari dapur.
"Tuh, kan ... aku udah cocok nih jadi chef, Bie." Sora membawa piring saji berisi ayam bakar ke meja makan.
"Hoek!" Almeer kembali mual dan menutup mulutnya, "maaf, Sayang!" ia berlari pergi ke kamar mandi.
Sora meletakkan piring yang dibawanya kemudian menyusul suaminya. Ia memijat tengkuk suaminya, "hampir tiap pagi loh kamu begini, Bie ...."
Almeer mengangguk, "iya, Sayang." Ia mengambil tisu dan mengelap bibirnya.
Sora menggandeng suaminya kembali ke dapur, "aku yang hamil muda aja gak pernah mual-mual, loh."
"Mungkin mualnya pindah ke Mas Almeer, Mbak. Kadang bisa gitu," sahut Siti, ia memberikan teh hangat untuk Almeer.
"Makasih ya, Bu." Almeer membawa teh itu ke meja makan, kemudian duduk dan meneguknya.
"Kan saya yang hamil, Bu? Kenapa yang mual malah suami Sora?"
"Bu Siti juga gak tau, Mbak. Tapi Bu Siti juga gak sekali dua kali aja lihat seperti ini. Sering, Mbak. Apalagi sampai suaminya yang ngidam, pengen macem-macem."
Sora terkekeh mendengar penjelasan Siti kemudian ganti menatap suaminya, "gak apa ya, Bie. Kamu aja yang mual-mual, biar aku dan dedek bayi biasa puas nikmatin makanan." Bibirnya terus mengulas senyum jahil.
"Pantesan surga itu ada di telapak kaki ibu, sejak hamil perjuangannya udah susah. Aku baru sebulan aja ngerasain seperti ini udah ngeluh ...," ujar Almeer.
"Harusnya yang seperti ini tuh laki-laki yang gak bisa menghargai wanita ya, Bie. Biar mereka ngerasain gimana beratnya jadi wanita dan gak ngeremehin." Sora mengusap pipi suaminya dan menatapnya kasihan, "kalau suamiku kan sudah sangat menghargai wanita ... uuuhh, kasiannya ...," ia berusaha menahan senyum jahilnya.
"Senang banget deh lihat suaminya tersiksa,"
"Bukannya senang, Bie. Tapi lucu aja. Hihihihi," ledek Sora dengan mencubit kedua pipi Almeer.
"Ku cium nih biar nular ke kamu mualnya," ancam Almeer, membuat Sora reflek menjauh.
"Gak mau gak mau, aku mau makan puas-puas." Sora lekas duduk di kursi.
"Wah, istriku ternyata kejam,"
"Cocok tuh buat judul novel, Bie. Laku keras sepertinya nanti," canda Sora. "Makan gih, Bie. Aku ambilin ya?"
"Enggak, Sayang. Perutku masih gak enak, aku nanti makan dikantor aja deh."
"Yaah, aku sarapan sendiri lagi ...," keluh Sora.
"Kan aku nemenin disini, Sayang ...,"
Sora memayunkan bibirnya dan mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.
"Nasi gurih, ayam bakar pake urap-urap ini, Bie. Apalagi sambelnya pedeees banget. Ya Allah, Bie. Nikmatnya ...," Sora semakin jahil menggoda suaminya.
"Makan aja, Sayang ... aku lihat aja udah kenyang,"
"Mbak Sora, hapenya getar." Siti datang memberikan ponsel Sora yang sedari tadi ada di dapur.
"Makasih ya, Bu Siti." Ia mengambil ponselnya kemudian menatap Almeer, "Kanaya," ujarnya.
"Tumben?" tanya Almeer.
Sora mengangkat kedua bahunya. "Aku angkat dulu, ya." Sora mengusap layar ponselnya dan menekan tombol loudspeaker.
"Assalamu'alaikum, Nay?"
"Wa'alaikumsalam, Mbak Sora. Maaf ya, Nay pagi-pago ganggu,"
"Gak kok, Nay ... ada apa?" tanya Sora.
"Mbak, Nay bisa minta alamat rumah mas Aga atau alamat kantornya?"
Sora dan Almeer saling menatap kaget, "Nanyain Aga, Bie!" ujar Sora tanpa suara.
Almeer menempelkan jari telunjuknya dibibir dan menyuruh Sora untuk segera menjawab pertanyaan Kanaya.
"Aku kirimin via whatsapp ya, Nay. Aku kirim nomer hapenya juga, soalnya dia gak stay di Malang aja, Nay."
"Makasih ya, Mbak. Maaf merepotkan, Nay ganggu waktu Mbak Sora dan Mas Al."
"Enggak, Nay. Santai aja ...," jawab Sora, "tumbenan nyariin Aga, Nay?" Sora tak bisa membendung rasa penasarannya.
"Ada titipan dari Abi sebagai balas budi sudah membantu Nay beberapa waktu lalu, Mbak."
"Ooh ... Abi kamu suka sama Aga ya, Nay?"
Almeer menepuk punggung tangan istrinya dan menatap gemas atas pertanyaan istrinya, "Sayang ...," bisiknya.
Sora hanya tersenyum menunjukkan gigi-giginya.
"Mbak Sora ini nebaknya jauh banget ...," jawab Kanaya diiringi tawa lembutnya.
"Kali aja suka, Nay. Aga baik kok, walau pemahaman agamanya recehan," ujar Sora dan sekali mendapat tatapan protes suaminya.
__ADS_1
"Mbak Sora nih ada-ada aja,"
"Nanti coba hubungin dulu, Nay. Takutnya dia di Surabaya."
"Iya, Mbak. Terimakasih ... Nay tutup teleponnya ya, Mbak. Assalamu'alaikum ...,"
"Wa'alaikumsalam ...." Sora menekan tombol merah di layar ponselnya.
"Kanaya cocok sama Aga gak, Bie?" tanya Sora sambil melanjutkan makannya. "Kanaya ustadzah muda, Aga manusia serba bisa kalau urusan dunia. Akhiratnya ...." Sora memutar bola matanya.
"Jangan gitu, ah."
"Kenyataanny kan gitu, Bie. kamu juga kenal sama Kanaya lama ... cocok gak?"
"Jodoh siapa yang tahu, Sayang ... Tuh, Oom Genta sama Bu Erni juga, kelihatannya gak cocok. Bu Erni anggun, Oom Genta nyablak gitu. Gak ada yang tau kan kalau mereka bakal nikah dalam hitungan hari ini,"
"Iya ya, Bie. Seperti aku dan kamu juga ya, Bie."
"Menurutku, namanya jodoh saling melengkapi, Sayang."
"Seperti kita?"
"Seperti semua pasangan suami istri yang ada di dunia ini ...," ralat Almeer.
Sora menganggukkan kepalanya. "Beli kado apa untuk Oom Genta, Bie?"
"Kita datang juga udah seneng banget orangnya, toh satu-satunya yang dia butuhkan di dunia ini sudah ia dapatkan, kan?"
"Jahat ih sama Oom sendiri,"
"Kenyataan loh, Sayang ...."
"Iya deh, terserah kamu aja." Sora melanjutkan makannya, debat dengan suaminya tak pernah membuatnya menang terhormat.
***
Seorang gadis yang memakai gamis hitam dan berkerudung abu-abu sedang duduk diruang tunggu sebuah perusahaan properti. Ia duduk tertunduk sambil mengadu kedua kuku ibu jarinya yang sedikit panjang.
"Kanaya?"
Ia mendongakkan kepalanya ketika seseorang memanggil namanya. Pria tanpa ekspresi yang mengenakan kemeja biru lengan panjang dengan celana kain hitam berdiri di depannya. Kanaya berdiri dan tersenyum pada pria itu.
"Assalamu'alaikum, Mas Aga," sapa Kanaya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aga, "ada apa, Kan? Naya? Kanaya?" Aga bingung harus memanggil apa gadis berwajah lembut didepannya itu.
"Panggil Nay saja, Mas," jelas Kanaya.
"Ada apa, Nay?" ulang Aga.
Kanaya memberikan sebuah paperbag pada Aga, "ada titipan dari Abi, Mas. Ucapan terimakasih saya dan keluarga saya atas bantuan yang mas berikan pada saya waktu itu."
Aga menerima pemberian Kanaya, "kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini," ujar Aga.
"Sudah seharusnya saya melakukan ini sejak awal, Mas," balas Kanaya. "Di dalam itu ada undangan pengajian dari Abi, Mas. Mungkin jika Mas Aga ada waktu luang dan tidak keberatan, Mas Aga bisa hadir," lanjutnya.
"Iya, Nay ... aku lihat jadwalku dulu, ya."
Kanaya mengangguk, "kalau gitu saya pamit pulang dulu ya, Mas."
"Ojek online, Mas."
"Aku suruh sopir antar kamu, Nay." Aga mengeluarkan ponselnya.
"Gak usah, Mas. Terimakasih ... saya tidak mau merepotkan lagi," cegah Kanaya, "saya pamit, Mas. Assalamu'alaikum ...,"
"Wa'alaikumsalam ...," jawab Aga.
Kanaya beranjak pergi dan Aga segera kembali lagi ke ruangannya.
Pria itu meletakkan paper**bag pemberian Kanaya di atas meja kerjanya. Ia mengambil satu per satu barang dari dalam paperbag. Sebuah sarung, buku bertema islami dan sebuah undangan pengajian.
Aga membuka undangan yang terlihat cukup berkelas, dari situ ia bisa melihat jika acara tersebut bukan acara pengajian umum.
Dengan cepat Aga berlari keluar ruangannya dengan membawa undangan pemberian ustadz Mahmudi. Ia berharap Kanaya masih berada di sekitar gedung kantornya.
"Kanaya!" Aga bersyukur jika gadis itu masih berdiri di depan loby kantornya.
Kanaya sedikit terkejut melihat Aga berlari menghampirinya, "ada apa, Mas Aga?" tanya Kanaya.
Aga memberikan undangan ditangannya pada Kanaya, "maaf aku tidak bisa memenuhi undangan ustadz Mahmudi, Nay."
Kanaya diam menatapi udangan di depannya itu kemudian menganggukkan kepalanya, "nanti aku sampaikan pada Abi, Mas."
Aga mengangguk, "terimakasih, Nay ...," ujar Aga.
Kanaya tersenyum lembut dan mengangguk.
"Ada yang ingin ku sampaikan juga,"
"Apa itu, Mas?"
"Semoga saja ini hanya dugaanku saja," ucap Aga, "sepertinya ustadz Mahmudi memandangku berbeda, mungkin ingin sedang berharap atau bahkan ingin mendapatkan sesuatu yang leboh dariku,"
Kanaya diam menunggu kelanjutan kalimat Aga.
"Sampaikan maafku pada beliau, Nay. Aku tidak bisa menjadi yang beliau mau."
Kanaya masih diam, ia tak berani mengangkat pandangannya.
"Aku punya orang lain dan ragu akan menggantinya, walau itu hanya sebuah niat."
Kini Kanaya berani mengangkat wajahnya dan menatap Aga sejenak dengan mengulas senyum tipis, "maafkan niat Abi saya ya, Mas ...," ujar Kanaya.
"Sampaikan maafku pada beliau,"
Kanaya mengangguk, "terimakasih sudah berterus terang, Mas."
Aga diam memandang gadis berparas lembut dan santun di depannya itu, "Aku juga minta maaf padamu," lanjut Aga ketika ia mendapati sebuah kekecewaan di sorot mata Kanaya.
Senyum Kanaya menghilang seketika saat Aga mengucapkan kalimat itu, ia lekas mengalihkan pandangannya kemanapun asal tak bertemu dengan mata Aga.
"Mas! Atas nama Kanaya, ya?" Kanaya melihat driver ojek online yang baru berhenti tak jauh darinya.
__ADS_1
"Iya, Mbak." Driver membawa motornya mendekati Kanaya.
"Mas, saya pamit dulu, ya. Assalamu'alaikum ...," ucap Kanaya, ia buru-buru naik ke motor driver online dan mengenakan helm hijau berlabel perusahan ojol.
"Wa'alaikumsalam ...," jawab Aga seraya menatap kepergian Kanaya.
Sebenarnya ia tak tega mengatakan hal itu pada Kanaya, tapi ia lebih tak tega lagi membuat orang lain berharap lebih padanya. Terlebih lagi jika perihal hati, lebih baik dipangkas sedini mungkin.
***
Sora beserta Almeer, Hiko dan Ruby baru tiba di teriminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta malam ini. Esok pagi mereka harus mendatangi acara akad nikah Genta dan Erni yang akan dilaksanakan di rumah Langit.
Beberapa mobil yang dikirim Langit untuk menjemput anak dan besannya sudah berjajar rapi dibahu jalan. Tetapi, calon penumpang mereka malah masih berdiri tak jauh dari pintu keluar seolah sedang menunggu seseorang.
"Meera!" teriak Sora dengan lambaian tangan memanggil adik iparnya yang baru melewati pintu keluar terminal kedatangan bersama Haqy dan Genta.
"Mbaaak Soraaa!" Ameera berlari menghampiri kakak iparnya dan memeluknya erat.
"Uuuh, kangen banget, Mbak ...," ucap Ameera usai puas memeluk kakak iparnya.
"Samaaaaaah," jawab Sora seraya mencubit kedua pipi Ameera dengan gemas.
"Debay gimana, Mbak? Sehat?" tanya Ameera.
"Sehat, tapi Abienya yang gak sehat. Hihihi." Sora menatap Almeer jahil.
Ameera melihat kakaknya dan ikut tertawa jahil kemudian berganti menatap kedua orangtuanya dan mencium tangan mereka.
Haqy yang baru datang juga lekas bersalaman dengan keluarga istrinya bergantian. Genta ... ya, hanya begitu saja. Bibirnya tak henti mengulas senyum lebar. Wajahnya berbinar menunjukkan betapa bahagiannya dia.
Sedikit percakapan basa basi terjadi disana, kemudian mereka pun lekas masuk mobil yang sudah siap membawa mereka pergi ke rumah Langit.
Memakan waktu lebih lama dari biasanya untuk mereka tiba dirumah mewah milik keluarga besar Subagio itu, sebab jalanan ibu kota malam ini cukup padat.
Sampai di rumah, tentu saja pemilik rumah menyambut kedatangan tamu mereka. Karena tiba di jam makan malam, mereka semua langsung menuju ke meja makan untuk menikmati makan malam dan membicarakan acara esok pagi.
"Serius ini gak ada acara resepsi? Saya bisa langsung pesankan di hotel mana yang Pak Genta mau." Langit masih ingin memastikan ulang untuk resepsi besok.
"Terimakasih tawarannya, Pak Langit. Sah saja sudah membuat saya senang," jawab Genta cengengesan.
"Tapi kan temen-temen kita di entertainment juga pengen hadir, ngasih ucapan selamat ke lo atas bangkitnya kembali pusaka lo setelah puluhan tahun semedi, Ta." Hiko ikut menyahut.
"Mas!" sergah Ruby malu mendengar celetukan suaminya mendapat sahutan tawa orang-orang di meja makan.
"Benar loh, Ruby ... hampir setengah abad loh pusakanya nganggur. Kami sebagai teman kan harus merayakannya," ujar Hiko, "tapi ... tahu tuh masih dipake apa enggak,"
"Ngawur! Masih manteb nih!" kata Genta pentuh percaya diri.
"Kalau gitu saya pesankan gedung dan catering saja ya, Pak Genta?" tanya Langit.
"Ooh, gak usah pak Langit. Biar saya yang urus itu," cegah Hiko.
"Gak apa, Pak Hiko. Kalau saya yang menyiapkan, semalam saja sudah jadi, kok. Tinggal jentikkan jari, semua siap."
"Tidak perlu repot-repot, Pak Langit. Meskipun tanpa jentikan jari tangan, hanya permintaan tolong yang keluar dari mulut saya, para karyawan saya akan membantu saya menyiapkan apa yang saya butuhkan,"
"Tapi kan karyawan Pak Hiko tidak sebanyak anak buah saya,"
"Tak perlu banyak-bayak yang penting semua karyawan saya setia, Pak. Kalau terlalu banyak, susah mengontrol juga, Pak."
Langit meletakkan sendok ditangannya, "Anak buah saya yang tidak setia hanya satu, Pak Hiko." Langit mulai geram.
Hiko sedikit menyebikkan bibirnya dan melirik remeh ke Langit, "satu itu tetap dalam hitungan juga, Pak."
"Mas, udah ...." Ruby mencubit suaminya agar tak meneruskan perdebatan itu.
"Biar saya yang atur gedung resepsi Erni dan Pak Genta, mau sewa gedung dimanapun saya uruskan." Langit masih tak mau kalah adu kesombongan dengan besannya.
"Maas ... Pak Genta kan gak mau, jadi gak usah dipaksa. Nanti malah orangnya gak nyaman." Senja juga membujuk suaminya agar tak mengacaukan makan malam keluarga mereka.
Dengan kesal Langit melanjutkan makan malamnya meskipun ia semakin jengkel ketika melihat Hiko tersenyum menang.
Senja menyenggol kaki suaminya kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali agar suaminya diam.
"Katanya kamu sekarang sering mual ya, Al?" tanya Senja pada Almeer untuk mengalihkan perhatian.
"Iya, Ma ... kalau pagi agak susah makan," jawab Almeer.
"Kamu hamil juga?" tanya Sky.
"Hei, Pohon Pisang!" celetuk Sora pada Sky, "pria yang ngaku-ngaku berotak jenius ... sejak kapan seorang pria punya rahim dan bisa hamil?" tanya Sora.
"Lah itu, mual mual katanya?"
"Banyak yang seperti itu, Sky ... istrinya hamil, tapi suaminya yang mual ataupun ngidam." Senja mencoba menjelaskan pada putranya.
"Gak masuk akal, Ma ...,"
"Lah ini kenyataannya, Pulgoso!" sentak Sora gemas.
"Kamu panggil aku apa, Ra?"
"Pulgoso ...," jawab Sora kemudian menjulurkan lidah mengejek Sky.
"Kamu pikir nama siapa itu!"
"Cocok untukmu,"
Senja hanya menghela napas pasrah. Niat mengalihkan perhatian suami dan besannya, malah terjadi keributan baru antar kedua anak kembarnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
__ADS_1
Terimakasih laflafkuh!