
"Aku Sebenarnya sangat membencimu karena Sora terlihat lebih mencintaimu dibandingkan aku."
Almeer melebarkan matanya mendengar kata diawal kalimat Langit. "Pak...,"
Langit menatap Almeer dan mengembangkan senyumnya, "kapan kamu akan menikahi putriku?" tanya Langit
"Saat ini juga, Pak!"
"Jangan ngawur kamu, nikah banyak yang harus dipersiapkan. Ngurus suratnya butuh waktu...,"
"Yang terpenting sah dihadapan Allah terlebih dahulu, Pak. Untuk peresmian secara hukum bisa menyusul." jelas Almeer.
Langit memicing, menatap curiga dan sesaat kemudian tertawa. "Ya ya ya, Ku turuti kemauanmu sekarang."
"Alhamdullillah, ya Allah...," Almerr meraih tangan Langit dan menciumnya. "Terimakasih atas restu yang anda berikan pada saya, Pak."
Langit menepuk bahu Almeer dengan senyum penuh keikhlasan.
"Papa!!"
"Mas!!"
Langit dan Almeer menoleh ke arah sumber suara, dari luar halaman masjid terlihat tiga orang wanita dan dua orang pria berlari menghampiri mereka dengan kepanikan.
"Al, kamu gak apa-apa, kan?" Sora menelisk wajah Almeer, takut jika papanya berbuat kasar pada pria itu.
"Memangnya kamu mikir papa ngapain dia?" tanya Langit.
Sora menatap ketus papanya, "Papa sudah terlalu banyak menyakiti Almeer! Sora mohon, Pa! Jangan menyakitinya lagi. Sora rela melepaskan Almeer, tapi—"
"Serius kamu rela?" tanya Langit.
Sora terdiam, ia menatap Almeer dan mereasa keheranan ketika melihat pria itu sedang menahan senyum dibibirnya.
Langit berdiri dan menatap putrinya, "sayang sekali. padahal papa berniat menikahkan kalian hari ini juga."
"Hah!?" Kompak Sora dan Sky terkejut.
"Mas?" Senja menarik tangan suaminya, membuat pria itu menatapnya. "Kamu sudah merestui hubungan mereka?" tanya Senja.
Langit mengangguk dan menatap putrinya, "Ya..., Papa menerima lamaran Almeer."
Mata dan mulut Sora sama-sama melebar. Ia segera menutup mulutnya dengan ujung kedua jarinya yang lentik, kemudian menatap Almeer mempertanyakan perkataan Papanya.
"Iya, Ra. Papapmu sudah memberikan restunya untuk kita." jawab Almeer.
Sora menggigit bibirnya yang bergetar sebab tangisan harunya mulai pecah.
"Pa...," suaranya tercekat memanggil Papanya.
Langit tersenyum dan merentangkan tangannya, membuat wanita cantik berhijab pastel itu menghampurkan diri ke dalam pelukannya.
"Rasa khawatir Papa padamu teralalu bersar, Sayang. Tapi kali ini Papa yakin, kamu bisa menjalaninya." ujar Langit.
Sora menganggukkan kepalanya, ia tak bisa menjawab apa-apa karena isakan tangis kebahagiaannya.
Langit menatap Almeer, "aku harus menemui kedua orangtuamu." kata Langit.
Sora melepaskan pelukannya pada Langit dan mendongakkan kepalanya, "Papa mau ngapain" tanya Sora.
"Minta maaf dan... membicarakan pernikahan kalian."
Sora kembali dibuat terkejut, ia menatap Almeer dan Papanya secara bergantian.
"Aku ingin menikahimu sesegera mungkin, Ra." kata Almeer.
"Tuh..., maunya calon suamimu." kata Langit.
"Gila! Kau pikir nikah gak butuh persiapan?" protes Sky, menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan papanya sebelumnya.
"Iya, Al. Kenapa harus buru-buru?" tanya Senja.
"Niat baik harus disegerakan, Bu." jawab Almeer.
"Ya gak gitu juga kali." protes Sky, "mana ada orang pagi lamaran sore langsung nikah?"
"Papa ku melamar mamaku habis ashar, habis magribh mereka menikah. Yang penting sah dulu di hadapan Allah, surat-surat kan bisa menyusul."
Jawaban Almeer membuat Sky diam tak bisa membantah.
"Kamu benar akan menikahiku, Al?" tanya Sora.
"Apa kamu berubah pikiran untuk menikah denganku?" tanya Almeer.
"Itu hal yang tidak mungkin terjadi." jawab Sora.
__ADS_1
"Punya harga diri dikit bisa gak sih?" Sky mendorong pelan tubuh Sora.
"Biarin aja sih." protes Sora, ia menghapus air matanya dan kembali tersenyum lebar menatap Almeer.
"Ga...," Panggil Langit pada Aga.
"Ya, Pak Langit." Sahut Aga.
"Maafkan aku, aku mengecewakanmu." ujar Langit.
Aga mengangguk dengan wajah datarnya. Sora ikut menatap Aga, sekilas Aga juga menatap Sora dan tersenyum kecil.
Sky menepuk bahu Aga, menegarkan pria yang sedari tadi berdiri disampingnya itu. "Tenang, Ga. Kau beruntung terhindar dari malapetaka." ujarnya.
Dug!
"Auuh!! Sakit, Ra!" Pekiknya kesakitan, ia mengusap kakinya yang medapat tendangan dari Sora. Wanita itu hanya menjulurkan lidah melihat saudara kembarnya kesakitan.
"Sky, Mina, Aga. Kalian pulang dulu, ya. Papa dan Mama akan kerumah Almeer dulu bersama Sora." ujar Langit.
Tiga orang itu mengangguk. Mereka pun mulai meninggalkan halaman rumah masjid dan berpisah di depan halaman rumah Almeer.
Langit, Senja dan Ruby menuju ke rumah Almeer. Terlihat Hiko dan Ruby baru keluar dari mobil yang masih terparkir didepan rumah.
"Assalamu'alaikum, Pak Hiko, Bu Ruby." Sapa Langit.
"Wa'alaikumsalam...," Sahut Hiko dan Ruby. Hiko lekas menyalami Langit, Ruby menyalami Senja dan Sora.
"Kok bisa ada disini dan barengan sama Al?" tanya Hiko yang keheranan.
"Ada yang perlu kami bicarakan dengan anda dan istri anda, Pak Hiko." jawab Langit.
"Baik, Pak. Silahkan masuk." Ajak Hiko.
***
Sofa di ruang tamu rumah Almeer yang biasanya senggang, kini penuh dengan keluarga Langit dan orangtuanya. Enam cangkir teh hangat sudah siap diatas meja untuk menemani percakapan mereka.
"Kehadiran saya kemari yang pertama karena saya ingin meminta maaf pada keluarga anda, sikap saya sudah sangat menyakiti keluarga anda, Pak Hiko, Bu Ruby." Langit membuka pembicaraan serius mereka,
"Saya tidak akan memberikan alasan apapun untuk mencari pembelaan atas kesalahan saya. Karena saya sadar, apapun dan sebenar apapun alasan saya. Saya tetap menyakiti dan menjatuhkan nama baik keluarga anda. Saya benar-benar minta maaf atas hal itu, Pak Hiko, Bu Ruby."
"InsyaAllah kami sudah ikhlas dan memaafkan anda, Pak Langit." Jawab Hiko.
"Sama-sama, Pak Langit."
"Dan, tadi saya sudah bicara empat mata dengan putra anda mengenai lamarannya yang sempat saya tolak." Langit menatap Almeer sejenak kemudian kembali menatap Hiko, "kali ini saya sudah memberikan restu pada putra anda untuk mempersunting putri saya."
Senyum mengembang dibibir Hiko dan Ruby, "Alhamdullillah ya Allah...," ucap mereka penuh rasa syukur.
"Selamat ya sayang...," Ruby lekas memeluk Almeer yang sedang duduk disampingnya.
"Makasih, Ma."
"Sora, masih bersedia menikah dengan Almeer?" tanya Hiko.
"Iya, Oom. Saya bersedia." jawab Sora, meskipun suaranya bergetar gugup namun binar matanya terlihat penuh keyakinan.
"Jika bisa, sebaiknya pernikahan putra putri kita disegerakan, Pak." ucap Hiko, "Kalau bisa habis magrib nanti. Gimana, Al? setuju?" tanya Hiko pada putranya.
"Setuju, Pa!" Sahut Almeer.
"Mas..., sabar...," Ruby memperingatkan suaminya yang terlihat lebih antusias dibanding putranya.
"Harus disegerakan, Ruby. Kita dulu nikah dua kali juga cuma selang berapa jam dari lamaran." sahut Hiko.
"Jadi itu benar, Pak Hiko? saya kira Almeer mengada-ada." tanya Langit.
"Benar doong, Pak Langit. Laki-laki sejati harus dengan cepat menghalalkan wanita yang dicintainya, Pak."
"Sudah, Mas. Sudah..., Jangan berlebihan memuji diri sendiri." Ruby merasa tak enak dengan tamunya, "Mari, silahkan diminum. Keburu dingin nanti." Ruby mempersilahkan tamunya untuk menikmati minuman dan snack yang sudah dihidangkan.
"Saya setuju saja kalau mereka menikah usai sholat maghrib," kata Langit usai meneguk teh miliknya.
"Aku juga setuju, Mas." sahut senja, ia ganti menatap putrinya. "Kamu gimana, sayang?" tanya Senja.
Entah sejak kapan wanita yang biasanya banyak bicara nampak gugup, telapak tangannya sudah berubah dingin dan terus mencengkram bawahan kain gamis dibagian pahanya. Mulutnya terkatup rapat, ia menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan. "Iya, Ma. Aku nurut aja."
Senja tertawa kecil melihat putrinya yang gugup, ia mencengkram putrinya yang dingin dan menepuknya pelan.
"Minum dulu, Sora. Biar gak gugup...," Kata Ruby yang juga mengerti apa yang dirasakan Sora.
"Iya, Tante. Terimakasih." Jawab Sora, ia mengambil cangkir teh didepannya kemudian meneguknya.
"Kamu mau mahar apa, Sora? biar Al mencarikan untukmu sekarang." tanya Hiko setelah Sora meletakkan kembali cangkir tehnya ditempatnya semula.
__ADS_1
Sora menatap Almeer yang juga menatapnya dan terus menebarkan senyumnya hingga membuatnya tersipu malu. Sora mengalihkan perhatiannya pada kedua orangtuanya.
"Sora mau apa, Pa, Ma?" tanya Sora.
"Ya terserah kamu, sayang." jawab Senja.
Sora terlihat berpikir keras untuk menentukan mahar pernikahannya.
"Seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an aja, Al. Karena, aku mau kamu terus membimbing dalam beragama, aku ingin lebih dekat lagi dengan Tuhan kita."
Almeer mengangguk, "Aku akan memenuhi permintaanmu, Sora."
"Ada lagi, Al." cetus Sora.
"Katakan, Ra."
"Aku ingin cincin pernikahan yang sederhana, yang terbuat dari emas putih." Sora menatap tangan Almeer yang terpangku di atas pahanya. "Aku mau ada cincin yang melingkar dijari manismu, biar orang-orang tahu jika kamu sudah menikah."
"Hahahahaha...," alasan Sora membuat semua orang diruang tamu itu tertawa.
"Iya, aku akan mencarikannya untukmu."
"Cukup itu saja, Sora?" Hiko memastikan ulang.
Sora mengangguk, "Iya, Oom Hiko."
"Oke. Kalau seperti itu, Al harus cepat mencarikan mahar untuk Sora dan saya harus menghubungi pemuka agama dan warga-warga disekitar untuk menggelar akad nikah nanti." Kata Hiko.
"Jadi nanti kita semua sholat maghrib di masjid dan langsung lanjut akad nikah Almeer dan Sora, ya?" tanya Langit.
"Betul, Pak. InsyaAllah nanti yang jadi saksi para jama'ah masjid."
"Wooaaaaah..." mulut Sora menganga membayangkan ramainya orang yang akan jadi saksi pernikahannya.
"Anda perlu bantuan untuk menyiapkan semuanya, Pak Hiko?" tanya Langit.
"Boleh, Pak Langit. Kita bisa menyiapkan cafe depan untuk acara makan-makan, Pak."
"Baiklah, biar anak buah saya yang membantu anda. Tangan saya terlalu lemah untuk mengerjakan sesuatu yang berat. Maklum lah, Pak. Pekerjaan saya cuma tanda tangan saja selama ini."
"Maaaasssss....," Senja mencubit pinggang Langit, ia tersenyum malu karena kesombongan suaminya.
"Oooh, ternyata anda tidak terlalu kuat ya, Pak." sahut Hiko.
"Maasss," Kini giliran Ruby yang menepuk paha suaminya.
"Jangan ragukan kekuatan saya, Pak Hiko. Anak saya tiga loh...,"
"Sudah sudah, jangan dilanjutkan percakapan ini. Sebaiknya kita segera pulang dan menyiapkan diri untuk acara nanti malam, Mas." Senja memangkas bibit pertikaian antara suaminya dan Hiko.
"Iya iya," sahut Langit sambil berdiri dari duduknya, "Saya pamit dulu ya, Pak. Kalau butuh apa-apa, jangan segan-segan untuk minta bantuan, Pak Hiko."
"Ah, bagaimana saya mau minta bantuan kalau tangan anda saja hanya kuat untuk mengangkat pena."
"Tapi—"
"Pah, ayo pulang, Pah!" Sora menarik tangan papanya, Bisa gagal nikah kalau dua sesepuh ini adu kesombongan, batin Sora.
"Kami pulang dulu, Bu Ruby, Pak Hiko." Pamit Senja, "Maafkan suami saya ya, Bu." Bisik Senja ketika bersalaman dengan Ruby.
"Sama-sama, Bu Senja."
"Assalamu'alaikum," Pamit Langit usai bersalaman dengan Hiko dan Almeer.
"Wa'alaikumsalam...,"
Sora melambaikan tangan pada Almeer terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah itu.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA TINGGALIN KOMEN JUGA DI EPISODE INI YAH....
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku
__ADS_1