
Lantunan Sholawat Ya Asyiqol Musthofa mengiringi langkah sepasang pengantin baru ketika memasuki ball room salah satu hotel bintang lima yang dijadikan tempat resepsi pernikahan Sagara Almeer dan Kianga Sora.
Gaun mewah berwana silver khas putri kerajaan terbalut indah di tubuh Sora, mahkota kecil bertengger diatas kerudung Sora yang dibuat sedemikian indah untuk memaksimalkan penampilannya. Bibirnya terus mengembangkan senyum, tangannya melingkar di lengan pria yang memakai setelan berwarna senada dengan Sora. Wajah tampan pria itu juga tak henti mengulas senyum.
MC dari acara itu memandu setiap langkah yang harus dilakukan oleh Sora dan Almeer hingga tiba diatas pelaminan. Sambutan-sambutan kecil dilakukan Hiko dan Langit setelah tamu undangan hadir.
Setelah acara pembukaan dan foto keluarga bersama, dilanjutkan dengan pemberian ucapan serta do'a para undangan untuk pengantin.
Sesuai dengan ucapan Senja, hanya tamu-tamu khusus yang datang. Tak lupa Senja ikut mengundang teman-teman Sora yang ada di Jakarta.
Acara berlangsung tak terlalu lama, pukul sepuluh malam tamu undangan sudah tak ada di ball room. Menyisakan keluarga besar dan para staff hotel.
"Al, aku mau pipis dulu ya ..., udah nahan dari tadi," bisik Sora.
"Mau ku antar?" tanya Almeer.
"Gak, lah. Ke toilet aja minta antar." Sora meninggalkan Almeer menuju ke toilet yang berada di luar ball room.
"Nona mau kemana?" tanya Aura ketika melihat Sora celingukan.
"Ke toilet." Sora kebingungan mencari arah toilet.
"Mau saya antar, Nona?" tanya Aura.
"Gak, lah. Inget! sekarang aku wanita mandiri. Jadi jangan bantu-bantu aku lagi, oke?" jelas sora.
"Ke arah sana, Nona." Aura menunjuk ke sisi kiri Sora.
"Oke, thanks ya, Aura."
Sora meninggalkan Aura, mengikuti papan petunjuk yang akan mengarahkannya ke toilet.
"Ganteng banget, sumpah!"
"Nemu dimana sih Sora cowok seperti itu? bikin iri .... Beruntung banget sih Sora ...,"
Sora tersenyum bangga ketika mendengar suara seseorang dari dalam toilet sedang membicarakan ia dan suaminya. Ia tahu betul pasti teman-temannya itu sedang iri padanya.
"Ih, beruntung apaan? justru Sora itu kasian tau."
Tangan Sora mengambang diatas pegangan pintu ketika mendengar sebuah suara yang berbeda dari orang sebelumnya.
"Suami Sora itu anak haram loh!"
"Seriusan?"
"Hati-hati loh kalau ngomong! Itu keluarga ulama, loh."
"Mamaku yang bilang tadi, aku udah searching juga. Papanya suami Sora tuh dulu artis, coba deh kalian lihat ...."
Hening sesaat, tak terdengar percakapan dari dalam.
"Ih, iya! Beneran, kasihan ya Sora."
"Mana kata mama aku, anak haram tuh bawa sial! Duh, gak kebayang deh nasib Sora kedepannya gimana?"
"Amit-amit deh ya kita dapat suami seperti itu."
BRAK!
Sora membuka kasar pintu toilet hingga menabrak dinding. Dengan geram Sora menghampiri tiga wanita muda yang sedang membicarakan suaminya itu. Suasana berubah mencekam seketika dengan kehadiran Sora disana.
"Raya!!" Teriak Sora memanggil nama salah satu dari tiga wanita itu.
PLAK!
Sora menampar cukup keras wanita bernama Raya, yang sudah menceritakan hal buruk tentang suaminya hingga membuat yang lain merasa tercengang.
"Sora! Apa—"
"Kamu bilang apa tentang suamiku, Hah!!" teriak Sora, ia menarik kasar rambut temannya itu
"Ra! Sakit, Ra! Lepasin!" teriak Raya, ia tak terima dengan perlakuan Sora. Tangannya pun meraih kerudung Sora dan menariknya.
"Kamu harus minta maaf ke suamiku!" Teriak Sora, tangannya semakin erat menarik rambut Raya.
"Enggak! Aku bicara apa adanya!" elak Raya, "Lepasin tanganmu dari rambutku!" Raya menendang kaki Sora.
"Argh!!" pekik Sora kesakitan, ia membalas perbuatan Raya.
Keduanya berubah saling memukul, mencakar dan menendang hingga bergulung di lantai toilet. Kedua teman Sora sampai tak sanggup memisahkan pertengkaran Sora dan Raya.
"Toloooong!!" salah satu teman Sora keluar toilet untuk meminta bantuan.
Seorang staff hotel yang kebetulan lewat tak jauh dari toilet menghampiri toilet.
"Tolongin teman saya, Mas." pintanya.
"Ya Allah, Mbak!!" Pria itu menghampiri Sora dan Raya, namun ia juga terlihat kewalahan melerai dua wanita yang sedang kesetanan itu.
Tak tinggal diam, teman Sora yang lain meminta bantuan pada siapapun yang ada di sekitar sana. Dan kebetulan ada pengawal Sora.
"Kak! Buruan bantuin Sora!"
"Kenapa dengan Sora?" Almeer yang tiba-tiba muncul mendengar sesuatu terjadi pada istrinya.
"Dia tengkar sama Raya di toilet!"
Almeer, Mita dan Aura berlari menuju ke toilet.
"Astaghfirullah, Sora!" pekik Almeer ketika melihat istrinya menindih seorang wanita.
Gaun Sora yang lebar itu menenggelamkan tubuh wanita yang berada dibawahnya. Almeer menarik kuat-kuat istrinya, sementara staff hotel menahan tanganRaya untuk tidak membalas Sora.
"Cepet minta maaf ke suamiku!!" teriak sora.
"Sora Sora Sora! Istighfar, Sora." Almeer menahan tubuh Sora yang masih terus berusaha meraih Raya.
"Dia harus minta maaf padamu, Al!"
"Sora ..., sudah." Almeer membalikkan tubuh Sora dan memeluknya, meskipun Sora berusaha memberontak tapi perlahan gerakannya berangsur melemah dan diam. Hanya nafasnya yang memburu karena lelah.
***
__ADS_1
Sora sudah duduk diatas tempat tidur kamarnya, Senja dan Mina duduk disampingnya. Baju dan kerudungnya masih sangat acak-acakan. Banyak goresan merah bekas cakaran kuku di wajah dan tangannya.
Suasana kamar Sora terasa menegangkan. Sky dan Almeer duduk berdampingan di sofa. Sedangkan Langit berdiri dan mondar mandir di depan Sora, menatapi putrinya yang sangat berantakan.
"Apa yang kamu ributkan dengan Raya tadi?" tanya Langit.
Sora diam, ia tak mau membuat papanya ikut memikirkan hal itu dan mengungkit masalalu keluarga Almeer.
"Terserah kamu lah, Ra! Apapun masalahnya, tapi apa iya kamu bisa berbuat seperti tadi? Umurmu itu sudah berapa? Kamu bukan anak SMA lagi, udah nikah loh kamu. Kok bisa-bisanya sampai bertengkar seperti itu." Langit menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sora masih terdiam tak mau menjawab.
"Udah, Mas. Sebaiknya kalian keluar dulu ...," pinta Senja, "aku sama Mina mau bantu Sora untuk beres-beres dulu."
Almeer dan Sky berdiri dan bergegas keluar kamar. Sedangkan Langit masih berdiri didepan Sora, tetapi tatapan istrinya membuatnya terpaksa meninggalkan kamar.
Langit mengikuti Almeer dan Sky yang bergabung dengan keluarganya yang lain di ruang keluarga.
"Apa Sora tidak apa-apa, Pak Langit? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?" tanya Hiko, wajahnya terlihat cemas menunggu jawaban besannya.
Langit menggeleng, "dia masih keukeh tidak mau menjawab, Pak Hiko."
"Al ..., apa kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan istrimu?" tanya Ruby pada Almeer.
"Sora belum mau cerita, Ma," jawab Almeer.
"Gak biasanya dia seperti ini," gumam Langit.
"Mungkin itu sesuatu yang penting untuk Sora pertahankan, Lang." Hengky mencoba menenangkan temannya.
"Iya, gue setuju sama lo, Ky!" sahut Marko, "lagian dia kan udah punya kehidupan sendiri, Lang. Biarkan dia selesaiin ini semua sama suaminya," imbuhnya.
Langit menatap Almeer sejenak kemudian duduk.
"Lo harus percaya ke mantu dan anak lo, Lang," ujar Marko.
Langit menghela napas panjang, ia kembali menatap Almeer. "Aku harap kamu bisa membantu kesulitan putriku, Al."
Almeer mengangguk, "insyaAllah, Pa."
Pembicaraan mereka berlanjut, masih membahas tentang keributan Sora dan Raya. Senja yang sudah kembali dari kamar Sora pun tak mendapat jawaban pasti dari putrinya.
Setelah malam sangat larut, keluarga Almeer pamit untuk pulang ke pesantren Darul Hikmah. Setelah mengantar kepergian keluarganya, Almeer kembali ke kamar Sora, menghampiri istrinya yang mungkin masih dalam keadaan kalut.
"Ra ...."
Almeer menghampiri istrinya yang sedang duduk meringkuk di sofa. Ia duduk disamping Sora dan mengusap pipi istrinya yang terdapat bekas cakaran. Tangannya pindah mengusap lengan Sora yang juga terdapat bekas cengkraman kuku, membuat kulit Sora terkelupas dan sedikit berdarah.
Almeer meraih tubuh istrinya dan memeluknya, mengecup beberapa kali puncak kepala Sora. "Maaf ya, Ra," ucapnya kemudian.
"Kenapa kamu harus minta maaf? Seharusnya Raya yang minta maaf padamu, Al!" ucap Sora geram.
"Aku tahu apa yang membuatmu melakukan ini, Sora. Aku tahu ...," ucap Almeer.
Sora menarik tubuhnya dari pelukan Almeer dan menatap suaminya. Wajah suaminya nampak jelas menunjukkan kesedihan, dan itu membuat hatinya semakin terluka.
"Jangan sedih ...," ucapnya lirih, ia mencakup pipi Almeer.
Almeer menumpuk tangannya diatas tangan Sora, "bagaimana aku tidak sedih melihat istriku harus terluka hanya untuk membelaku?"
"Seharusnya aku bisa menjagamu untuk tidak melakukan ini, Sora."
"Kita bisa saling menjaga, Al."
Almeer mengangguk, ia kembali memeluk istrinya. "Terimakasih, Sora. Terimakasih ...," ucapnya dengan mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya.
Sora menganggukkan kepalanya.
***
Pagi pagi sekali keluarga Almeer datang kembali ke rumah Langit. Mereka harus berpamitan pada keluarga Langit untuk kembali ke Jogja bersama Genta, Ameera dan Haqy.
"Aku juga ikut nganter ke bandara ya, Al," pinta Sora.
"Jangan, Nak. Kamu di rumah saja, biar Almeer saja yang nganter," cegah Ruby.
"Iya, Sora. Kamu pasti capek, apalagi nanti Sore kalian harus kembali ke Malang kan?" tambah Hiko.
"Iya, Ra. Kamu tunggu di rumah sebentar aja, ya?" bujuk Hiko.
"Mentang-mentang pengantin baru, jadi pengen nempel terus," goda Marko.
"Ih, biarin aja. Yang pengantin lama aja juga masih suka bingung kalau salah satunya gak ada." Sora melirik papanya.
"Ya iya, dong! Mana bisa Papa jauh-jauh dari Mama kamu." Langit merangkul istrinya dan mendapat sikutan kecil dari Senja.
"Hahahaha ...." Celetukan Langit mengundang tawa orang-orang di sekitarnya.
"Saya langsung pamit ya, Pak Langit," kata Hiko. ia mengulurkan tangan pada besannya itu.
Langit segera meyambut tangan Hiko dan memberikan pelukan singkat, "terimakasih sudah berkenan datang kemari, Pak Hiko."
"Sama-sama, Pak Langit."
Keluarga Hiko satu per satu berpamitan pada keluarga Langit. Usai semua, mereka beranjak masuk ke dalam mobil.
"Bawa mobil sendiri aja, Al. Biar gak desak-desakan." Langit memberikan saran.
"Cukup kok, Pa. Al bisa duduk di depan, dibelakang kan muat ...," Almeer menghentikan kalimatnya, melihat ke dalam mobil.
"Oom Genta dimana, Pa?" tanya Almeer pada Hiko yang sudah ada di dalam mobil.
"Loh! Papa sampai lupa sama Oom kamu." Hiko keluar dari dalam mobil.
"Tadi sih kesana, Pa." Ameera menunjuk ke bagian samping rumah Langit.
"Ke Bi Erni kali, Pa?" tebak Almeer.
"Nih orang sudah tua malah bikin ribet," Omel Hiko.
Baru Hiko mau melangkah menjemput Genta, pria paruh baya yang kurus dan berkacamata itu terlihat berlarian menghampiri Hiko.
"Kemana aja sih?!" protes Hiko.
__ADS_1
"Ada urusan, dikit." jawab Genta, Ia kemudian menyalami keluarga Langit satu per satu, "saya pamit dulu sekarang, tapi dalam waktu dekat saya akan kemari lagi, Pak Langit."
"Waaah, nemu jodoh nih?" goda Marko.
"Alhamdullillah, masih ada yang mau."
"Alhamdullillah ...," ucap semua orang senang.
"Ayo, Ta! Bisa ketinggalan pesawat kita kalau nurutin kasmaranmu!" Hiko menarik Genta.
"Al, bawa mobil sendiri aja. Biar nanti kamu bisa langsung pulang," kata Sora pada suaminya.
Almeer mengangguk, "iya, Ra."
"Kuncinya ada di dinding tempat parkir, pilih aja," tambah Langit.
"Iya, Pa." Almeer menatap Genta, "ikut Al aja, Oom."
"Oke!"
"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum ...," ujar Hiko, kemudian masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumsalam,"
Almeer pergi ke tempat parkir mobil, sedangkan mobil yang membawa Hiko dan keluarganya sudah meninggalkan halaman rumah Langit. Semua keluarga Langit pun masuk ke dalam rumah.
***
Sinar matahari masih memberikan kehangatan untuk penduduk ibu kota. Usai sarapan, semua keluarga besar Sora sedang berkumpul di halaman belakang. Namun tidak termasuk Sora, Mina, Sky dan Aga. Mereka memilih untuk berada di kamar masing-masing.
Tiba-tiba saja Sora teringat akan suatu hal. Ia keluar dari kamarnya dan menghampiri kamar Sky. Ia tak lekas mengetuk pintu, ia berdiam cukup lama di depan kamar saudara kembarnya itu. Ada sebuah keraguan di benaknya.
Ceklek!
Pintu kamar Sky terbuka, Aga muncul dari balik pintu itu. Pandangan mereka bertemu dan Sora hanya diam.
"Badanmu pasti sakit semua, harusnya kamu istirahat di kamar," kata Aga.
Sora mengabaikan Aga dan menerobos masuk ke dalam kamar Sky. Aga hanya menghela napas panjang kemudian menutup pintu kamar Sky.
"Ngapaaain kesini?" protes Sky yang tidak suka dengan kehadiran saudara kembarnya.
"Ada yang mau ku tanyakan padamu!"
Wajah serius Sora membuat Sky diam sejenak, mencoba menerka apa yang ada dalam pikiran Sora. Pria itu berhenti merapikan beberapa berkas yang ada diatas meja kerjanya. Ia pindah duduk di sofa yang ada di sudut kamarnya.
"Apa?"
"Kenapa kamu gak ngelanjutin hubunganmu dengan Moza?"
Pertanyaan Sora membuat Sky terkejut, namun dengan cepat ia menutupi ekspresinya itu. "dia nolak aku," jawabnya kemudian.
"Kamu bukan tipe orang yang
akan menyerah hanya karena sekali di tolak cewek, kan?" selidik Sora.
"Gak mau aja, males banget ngejar-ngejar cewek," elak Sky. "Ngapain sih bahas-bahas itu? udah lama juga!"
"Aku harus memastikan sesuatu dulu,"
"Kata-katamu, Ra. Sok banget! Kayak punya otak aja buat mikir." Sky mencoba memecah suasana yang membuatnya tak nyaman itu.
"Ada dua kemungkinan kenapa kamu gak lanjutin ngedapetin Moza." Sora diam sejenak, menatap tajam pria yang sedang duduk didepannya itu, "kamu tau siapa keluarganya dan kamu tahu wanita itu di inginkan temanmu."
Deg!
Kali ini Sky tak menyembunyikan rasa terkejutnya.
Mata Sora berkaca-kaca setelah melihat ekspresi wajah Sky. Banyak kesimpulan dan dugaan dari masalalu suaminya yang memenuhi pikirannya.
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang gak kamu ketahui, Ra," ucap Sky.
"Aku ingat perkataanmu di ruangan Aga, di kantor Jogja. Kamu mengatakan aku tidak tahu siapa Almeer ...,"
Sky mencoba mengingatnya.
"Apa yang tidak ku ketahui tentang suamiku, Sky?" tanya Sora, suaranya bergetar menahan tangisya.
Sky berdiri dari duduknya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia bingung harus bersikap seperti apa.
"Berhenti memikirkan sesuatu yang gak kamu tahu, Ra."
"Aku tahu, Sky. Aku tahu siapa Moza. Aku tahu dia anak tiri tante Clara. Aku juga tahu suamiku pernah berniat menikahi Moza, tapi ia memikirkan perasaanmu!"
"Ra ...,"
Sora meneteskan air matanya. Hatinya sesak, sangat sesak setelah melihat tanggapan Sky.
"Aku baca tulisan singkat Almeer untuk Moza, Sky."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO!
Hari ini aku up dua episode karena besok aku GAK UP. Aku mau perbaiki beberapa typo yang sebelumnya udah ku perbaiki ternyata masih belum berubah juga. Sedih aku aku tuh. Jadi pengen minum es macako sapi pake toping micin.
Dan buat yang tanya kapan bahas kisah cinta Sky, Mina atau Aga.
Jawabanya:
Gak akan dibahas disini. InsyaAllah mas Sky si Putra Mahkota dan Mina punya lembaran sendiri nanti. Kalau untuk mas Aga, masih lanjut disini.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
__ADS_1
Terimakasih sangat laf laf ku