ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
50


__ADS_3

Sampai di rumah, Langit langsung mengutus pengawal dan para asisten rumah tangganya untuk pergi ke rumah Almeer, sekedar untuk membantu-bantu disana. Kemudian ia dan Senja pergi ke rumah marko untuk mengabari rencana akad nikah antara Almeer dan Sora. Sedangkan Sora lekas pergi mendatangi Mina yang sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama Sky dan Aga.


"Dek," panggil Sora, ia duduk disamping Sora.


"Ya, Kak?" sahut Mina.


"Kakak mau bicara berdua denganmu boleh?" tanya Sora.


"Bertiga aja napa sih? aku kan juga saudara kalian." gerutu Sky.


"Berempat juga bisa kan? aku juga saudara kalian, meskipun saudara angkat." kata Aga juga.


Sora melirik malas pada dua pria yang duduk di sofa yang terpisah darinya. Ia berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya udah, kita bicara berempat." lanjutnya.


"Dek,"


"Iya Kak Sora.... Ngomong aja, ada apa sih?" tanya Mina.


Sora menipiskan bibirnya, mencoba menata keberaniannya. "Emmbbb...," ia masih kebingungan ingin memulai kalimatnya darimana.


"Kakak mau bicarain pernikahan Kakak dan kak Almeer?" tebak Mina.


Sora mengangguk sambil tersenyum canggung, "Kami berniat melaksanakan pernikahan usai sholat maghrib nanti, Dek."


Mina terdiam. Ada sekilas kesedihan dimata wanita yang lembut itu. Namun ia segera mengulas senyum dan meraih tangan kakaknya.


"Maafin Mina ya, Kak. Perasaan Mina untuk kak Almeer belum hilang, tapi bukan berarti Mina tidak mengizinkan kalian bersatu. InsyaAllah Mina ikhlas, Kak. Biarkan Mina yang mengurus perasaan Mina."


Sora lekas memeluk adiknya, "Maafkan kakak ya, Dek."


"Do'akan Mina dapat calon suami yang mencintai Mina ya, Kak."


"Aamiin...," sahut Sora, ia melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak minta maaf padaku, Ra?" tanya Aga.


"Buat apa?" Sora balik bertanya, wajah jutek khas miliknya terpampang jelas.


"Gak peka banget jadi orang!" gumam Sky.


"Aku gak mau minta maaf ke kamu, Ga. Justru aku mau bilang terimakasih ke kamu. Terimakasih untuk semua yang kamu berikan dan lakukan untukku." ujar Sora, ia benar-benar mengatakannya dengan tulus.


Aga mengangguk, "pastikan kamu bahagia dengannya. jika tidak aku akan merebutmu, Ra."


Sora melempar bantal sofa pada Aga, "gak usah ngomong aneh-aneh!" cetus Sora, kembali dengan wajah ketusnya.


"Katanya kamu mau traktir kami makan sebelum pernikahanmu?" Sky menagih janjinya.


"Inget aja, sih?" keluh Sora.


"Janji ya janji! yuk, kita segerakan!" Sky berdiri, bersiap untuk keluar.


"Ya udah," Sora menyerah.


"Ayo, Dek." Sky menarik tangan Mina.


"Kita ciptakan sibling goals sebelum Sora kehilangan keperawanan." jawab Sky.


"Jaga tuh mulut...," protes Sora, ia melihat Aga yang bergeming. "Kamu mau duduk disitu aja? gak ikut?" tanya Sora.


Tak banyak bicara, Aga langsung berdiri dan menyusul langkah tiga bersaudara itu.


***


Warna jingga sudah melapisi langit kota Jogjakarta, suara Qiro'ah menyambut adzan maghrib sudah mulai terdengar dari Masjid besar yang akan menjadi tempat dilaksanakan ikhar suci pernikahan Sora dan Almeer.


Sora yang kali ini mengenakan sebuah gamis simple dan kerudung berwarna putih yang dibeli dadakan oleh papanya itu sedang menatap pantulan dirinya dicermin meja rias. Meskipun ia akan melaksanakan akad nikah, namun tak ada riasan apapun disana, hanya sedikit buliran air bekas air wudhu yang ada di beberapa titik diwajahnya.

__ADS_1


"Sora...,"


Suara Langit mengejutkan Sora, ia menoleh ke arah suara itu. Ada papanya yang sedang menghampirinya. Pria itu sedang tersenyum lembut memandangnya.


"Ya, Pa?" Sora berdiri dan menghampiri papanya.


Langit langsung memeluk putrinya dan mencium ujung kepala putrinya. Tak ada kalimat yang terucap, hanya sebuah pelukan yang semakin erat. Tak ada isakan tangis, namun matanya cukup basah dan setetes air mata mendesak keluar membasahi satu pipinya.


Merasakan bahu Papanya yang bergetar membuat Sora lekas membalas pelukan itu. "Pah...," suaranya tiba-tiba saja tercekat, tak bisa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya terasa kering dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Kenapa kamu harus tumbuh secepat ini, Sayang?" suara Langit terdenngar bergetar. "Kenapa hari ini datang begitu cepat?"


Langit melepaskan pelukannya, ia mencakup kedua pipi putrinya. Air mata bukanlah teman yang baik untuk para pria, namun disaat seperti ini, pria yang selalu terlihat tegar itu tak kuasa menahan air matanya.


"Papa merasa kita terlalu sedikit menghabiskan waktu bersama denganmu, dan sekarang Papa harus merelakanmu menghabiskan sisa umurmu bersama pria asing yang bahkan belum terlalu lama ku kenal."


Sora hanya terisak dan terus menatap papapanya.


"Apa kamu benar-benar akan bahagia dengannya, Sayang?"


"InsyaAllah, Pa. InsyaAllah, kami akan bahagia." jawab Sora.


Langit mengangguk, "kamu harus berjanji jika kamu akan bahagia bersamanya, Sayang. Tak ada yang lebih berharga selain melihatmu bahagia bersama laki-laki yang kamu cintai."


Langit mengusap pipi Sora yang basah, Sora pun ikut membalas dengan mengusap pipi Papanya.


"Pah..., Almeer memang mencintaiku, tapi Almeer tidak akan pernah bisa menggantikan peran Papa. Cinta Almeer pun tidak bisa dibandingkan dengan cinta Papa padaku. Aku akan selalu merindukan Papa, selalu...," Sora kembali memeluk papanya.


"Terimakasih karena sudah merawatku dengan sangat baik, membimbing dan memanjakanku, Pa. Terimakasih sudah bersabar dengan segala tingkahku. Terimakasih untuk segalanya yang Papa berikan padaku. Terimakasih, Pa."


Langit hanya mengangguk, bibirnya terkatup rapat dan air matanya masih meleleh terus menerus.


"Aku sadar, ucapan terimakasih tak akan pernah cukup untuk membalas segala sesuatu yang telah papa korbankan dan berikan kepadaku." Sora menarik diri dari pelukan Papanya, dan mendongakkan kepalanya menatap pria itu. "Aku sangat mencintai Papa."


Langit kembali menganggukkan kepalanya berulang kali dan kemudian mencium kening putrinya.


Tanpa mereka sadari di pintu kamar Sora sudah ada Senja, Mina dan Sky yang juga menangis melihat percakapan antara Papa dan putrinya itu. Mereka ikut bergabung memeluk Langit dan Sora.


"Iya, Sayang...," Jawab Langit, "aku ke kamar dulu sebentar, ya." ujar Langit kemudian pergi keluar kamar.


Senja membantu putrinya untuk merapikan diri lagi, ia sengaja menahan diri untuk tidak memberinya nasihat karena tak ingin putrinya terlalu banyak berurai air mata di hari bahagianya.


***


Sholat maghrib sudah terlaksana beberapa menit yang lalu. Jama'ah masjid lebih padat dari biasanya sebab Hiko mengundang para warga disekitar untuk menjadi saksi pernikan putranya. Sebuah meja kecil dengan sebuah perlengkapan sholat dan Al-Qur'an berada di atas meja. Sebuah kotak kecil berisikan cincin pernikahan juga tergeletak di dekat mahar pernikahan.


Sementara dibagian jama'ah wanita, Sora yang sedang gugup telah diapit oleh Senja dan Ruby. Ia tertunduk, jantungnya berdegub tak karuan meskipun ia berulang kali menarik napas untuk menenangkan diri.


Tes tes! dug dug!


Seseorang memastikan kedua pengeras suara bekerja dengan baik kemudian ia serahkan masing-masing pada Langit dan Almeer.


"Bisa kita mulai?" tanya Ustadz Qory, pemuka agama di lingkungan rumah Almeer.


"Bisa, Ustadz."


"Pakai bahasa Indonesia atau bahasa Arab, Pak? Mas Almeer?" tanya Ustadz Qory.


"Bahasa Indonesia saja Ustadz, agar semua saksi jelas atas kalimat ijab qobulnya." Jawab Almeer.


"Benar, Pak Ustadz." Langit sependapat.


"Baiklah, kita mulai prosesi akad nikahnya. Bismillahirrahmanirrahim, sebelum mulai mengucapkan ijab qobulnya, marilah kita beristighfar lebih dahulu sebanyak dua kali dan dilanjutkan dengan syahadat."


أستغفر الله العظيم. الذي لآ اله الا هو الحي القيوم وأتوب اليك.


أشهد ان لااله الا الله وأشهد ان محمدا رسول الله.

__ADS_1


"Silahkan saling berjabat tangan Pak Langit, Mas Al."


Langit menjabat tangan Almeer, "Bismillahirrahmanirrahim" ia menarik napas sejenak,


"Saudara Sagara Almeer bin Antanara Pricilia, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Kianga Sora binti Langit Haidar Subagio dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan sebuah Al Qur'an dibayar tuuuunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Kianga Sora binti Langit Haidar Subagio dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Kalimat qobul diucapkan Almeer dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?" tanya Ustadz Qory. "Sah?"


"Saaaaaaaaah!"


"Alhamdullillahirabbilalaamiin....,"


Almeer langsung mencium tangan Langit usai Ustadz Qory memanjatkan do'a. Dan mendapat pelukan dari pria yang kini sudah Sah menjadi Papa mertuanya tersebut.


Disisi lain, Ruby dan Senja mengantarkan Sora untuk menghampiri pria yang sudah halal menjadi suaminya itu. Keduanya saling menatap malu dengan bibir yang tak henti-hentinya melengkungkan senyum kebahagiaan.


"Mbak Kianga Sora, kini Mas Sagara Almeer sudah sah menjadi suamimu. Mulai sekarang, lakukan kewajibanmu pada suamimu, begitu juga sebaliknya Mas Almeer."


"Baik, Pak Ustadz." Sahut Sora dan Almeer kompak.


"Silahkan dilanjutkan dengan memasangkan cincin pernikahan di jari manis pasangan kalia."


Ruby mengambil dan membukakan kotak berisi cincin perak yang sangat simple kemudian mendekatkannya pada Almeer dan Sora.


"Terimakasih, Ma." Ucap Almeer ketika mengambil satu cincin dari tempatnya, kemudian ia menatap Sora. Senyum dan sorot mata yang lembut itu tertuju pada Sora. Ia menarik lembut tangan Sora yang terasa sangat dingin itu.


Sentuhan itu berbeda dari apapun yang telah menyentuh tangan sora sebelumnya, tubuhnya tiba-tiba mematung meskipun ia masih bisa merasakan aliran darahnya mengalir normal. Pandangannya hanya tertuju pada sebuah cincin yang perlahan terselip di jari manisnya.


Sora mengangkat wajahnya ketika cincin itu telah sampai di pangkal jari manisnya. Ia tersenyum menatap Almeer. Kemudian mengambil satu cincin yang tersisa ditempatnya untuk disematkan di jari manis Almeer.


"Alhamdullillah, Mbak Sora bisa cium tangannya mas Almeer." kata Ustadz Qory


"Cium?" tanya Sora.


"Iya, Mbak. Silahkan, dan di tutup dengan ciuman di kening Mbak Sora ya Mas Almeer." jelas Ustadz Qory dengan nada menggoda.


Sora meraih tangan Almeer dan mencium punggung tangan Almeer, Ya Allah... tolong jangan biarkan aku terkena serangan jantung, hal kecil ini membuat jantungku bekerja ekstra keras.


Sora segera menarik diri setelah mencium punggung tangan Almeer. Ia mendongakkan kepala dan tersenyum kaku pada pria didepannya itu.


Almeer mebalas senyuman itu dengan lembut, ia mendekatkan diri dan mencakup kedua pipi Sora kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Sora.


"Terimakasih sudah mau menjadi istriku, Sora." Ucapnya setelah usai mengecup kening Sora.


"Alhamdullillah....,"


-TAMAT-


Tapi gak jadi, Hahaha.


Aku tau apa yang ada dipikiran kalean, akuuuh tauuu


-BERSAMBUNG-


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2