ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
71


__ADS_3

Musik di alun-alun dan dari beberapa cafe disekitarnya berhenti ketika terdengar tabuhan bedug dari Masjid Agung An-Nur. Sesaat kemudian suara adzan maghrib berkumandang mengajak kaum muslimin untuk beramai-ramai melaksanakan kewajibannya.


Almeer yang sudah selesai melaksanakan sholat sedang duduk di teras masjid menunggu kedatangan istrinya. Ia mengacak rambutnya yang masih basah karena air wudhu, bibirnya menipis sedang tersipu malu ketika teringat perbuatannya di dalam gerbong bianglala tadi.


"Dor!"


"Astaghfirullah!" Pekik Almeer ketika Sora mengagetinya dari belakang. "Sayang ...," keluhnya gemas ketika melihat istrinya tertawa senang karena berhasil mengagetkannya.


"Maaf maaf," ucap Sora sambil duduk di samping Almeer, "abis gemes sih dari jauh kelihatan senyum-senyum sendiri. Mikirin apa sih?" tanya Sora.


"Emang aku senyum, ya?" tanya Almeer.


"Iya! Sambil acak-acak rambut!" tegas Sora, tangannya sibuk merapikan rambut Almeer yang berantakan. "jangan diacak-acak dong ..., kalau gantengnya hilang gimana?"


"Yang penting cintanya ke kamu gak hilang," bisik Almeer dan senyum jahilnya.


"Jangan sampai dong kalau itu ...,"


Almeer tersenyum dan merangkul gemas bahu istrinya. "Yuk! Mau kemana lagi?" tanya Almeer.


"Mau makan ketan, mau makan roti bakar, mau makan jagung bakar," jawab Sora.


"Dihabisin gak tuh nanti?" tanya Almeer memastikan.


"Bie ..., kapan aku pernah makan gak aku habiskan. Pasti habis semua. Kan sekarang yang makan berdua." Sora mengusap perutnya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali menatap manja suaminya


"Jangan seperti itu disini, Sayang," ucap Almeer tak nyaman.


"Kenapa?"


Almeer mendekatkan mulutnya ditelinga Sora, "kalau disini aku gak bisa ngapa-ngapain kamu," bisiknya.


"Iiiih," Sora mencubit paha Almeer, "kirain kenapa!" gerutunya kesal.


"Sakit, Sayang ...," keluh Almeer seraya mengusap bekas cubitan istrinya.


"Udah, ah!" Sora berdiri dan menuruni anak tangga.


Almeer tertawa kecil dan mengikuti istrinya. Mereka pun berjalan menuju ke arah alun-alun. Sebuah kedai yang menyajikan menu makanan ringan menjadi tujuan Sora.


"Ini loh yang aku lihat di instagram itu, Bie ...," ucap Sora ketika tiba di depan kedai.


Kedai itu memang selalu ramai dengan muda-mudi penikmat kuliner unik. Sora celingukan mencari tempat meja pelanggan yang masih kosong.


"Berapa orang mbak?" seorang pria muda yang bertugas sebagai pelayan menghampiri Sora dan Almeer.


"Dua, Mas!" Sora mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Sebelah sana, silahkan." Pria itu menuntun langkah Almeer dan Sora menuju ke meja pelanggan yang masih kosong.


Almeer dan Sora lekas duduk berhadapan, sedangkan pelayan itu memberikan dua lembar daftar menu makanan pada Almeer dan Sora.


"Mas, saya mau mango sticky rice, jagung bakar rasa coklatnya satu, roti bakar pake selai srikaya trus dikasih selai nanas sedikit, minumnya teh panas aja," ujar Sora.


"Baik, Mbak."


"Kamu apa, Bie?" tanya Sora.


"Ketan susu biasa aja sama teh panas ya, Mas," kata Almeer pada pelayan.


"Oke, Siap!" jawab pelayan itu setelah mencatat pesanan Almeer. Ia mengambil daftar menu makanannya kembali.


"Mas, tunggu sebentar ...,"


Pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi. "Ya, Mbak?"


"Emm ...," Sora berpikir sejenak dan melirik Almeer kemudian ganti menatap pelayan yang berdiri disampingnya itu, "saya kan lagi hamil muda, nih ...trus, saya pengen banget yang bikin pesanan itu suami saya ..., boleh gak?"


"Sayang ..., kok—"


Sora lekas menarik tangan Almeer, "bikinin ya, Bie ..., buat anak kamu nih ...," rengek Sora dengan wajah manjanya.


Wajah Almeer terlihat kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emang boleh, Mas?" tanyanya pada pelayan itu.


"Boleh aja sih, Mas. Daripada nanti anaknya ileran?"


"Tuh, kan ..., udah sana, Bie. Aku akan menikmati pertunjukan kecilmu dari sini," Sora menepuk beberapa kali lengan suaminya untuk memberi semangat.


Almeer hanya pasrah dan berdiri menuju ke dapur terbuka kedai tersebut.


Sora melihat suaminya sedang berbicara dengan seseorang yang mungkin mempunyai tanggung jawab untuk kedai itu. Setelah mendapat ijin, Almeer pergi mencuci tangan dan masuk ke dalam area dapur kedai itu.


Semua pelanggan memang bisa dengan mudah melihat proses pembuatan pesanan mereka, karena memang dapur kedai itu terbuka. Ketika Almeer masuk dan menyiapkan menu pesanan istrinya, bukan hanya Sora saja yang memperhatikannya, pengunjung yang lain pun ikut menikmati pemandangan yang tak biasa itu.


"Pegawai baru?"


"Gak, ah! Sepertinya dia pemiliknya,"


"Bisa ganteng gitu, ya?"


"Mau nambah lagi ah, minta mas itu yang bikinin."


Sora hanya menyebikkan bibirnya mendengar bisikan di sekitarnya yang sedang membicarakan suaminya.


Setiap gerakan Almeer menarik perhatian pengunjung kedai. Kini ia berpindah ke bagian depan kedai untuk membakar jagung, karena tempat pembakarannya berada di dekat pintu masuk kedai.


"Mas, mau jagung bakarnya dua ya ...," dua orang gadis remaja menghampiri Almeer.


Almeer kebingungan, ia menatap pegawai kedai yang ada disampingnya untuk meminta bantuan.


"Rasa apa, Mbak?"


"Manis ya. Mas. Di serut,"


"Oke ...,"

__ADS_1


Dua gadis itu tersenyum pada Almeer terlebih dahulu sebelum menuju ke tempat duduk.


Almeer menatap Sora yang masih mengawasinya dengan senyum yang jahil.


"Pegawai baru ya?" tanya seorang ibu-ibu bertubuh gemuk dengan rentetan gelang emas di pergelangan tangan kanan dan kirinya, "Ganteng amat," tangannya ingin mencubit dada Almeer, namun dengan sigap Almeer mundur untuk menghindarinya.


"Iiih, sinilah. Kenalan dulu, aku tante Naomi ...," ujar wanita itu yang masih ingin mendekati Almeer.


"Saya bukan pegawai baru, Bu. Cuma bantuin," ujar Almeer.


"Gak apa! Namamu siapa? Aku yang punya kedai ini. Cakep juga kamu ..., mau jadi suamiku? Gini-gini aku masih perawan."


Almeer kembali mundur selangkah ketika wanita itu mendekatinya.


"Takut sekali kamu padaku? Aku gak gigit, aku wanita baik-baik,"


"Iya, Bu. Iya ...," jawab Almeer.


"Eeh, kau panggil aku 'Bu'? Aku masih gadis,"


"Masnya ini bikinkan pesanan istrinya yang lagi ngidam, Mbak Naomi," jelas pegawai yang ada disamping Almeer.


"Iyakah? Kau bukan pegawai baruku?" Wanita itu mengenyit.


"Bukan, itu istri saya ..., disana." Almeer menunjuk Sora yang berada disudut kedai sedang menahan tawa.


Bukan hanya pemilik kedai yang menatap Sora, tapi pengunjung yang lain ikut melihat Sora.


"Cantik kali istrimu, tidak adil sekali dunia ini ..., aku dapat apa kalau yang ganteng-ganteng udah laku," gerutu wanita bertubuh gemuk itu sambil pergi.


Almeer menarik napas lega, ia menatap istrinya yang meledeknya dengan terus tertawa tanpa suara.


"Orangnya memang gitu, Mas. Gak bisa lihat orang ganteng," bisik pegawai kedai yang juga sedang mengipasi jagung bakar.


Almeer hanya tersenyum kaku. Ia segera menyelesaikan pesanan istrinya. Usai menyelesaikan semuanya ia kembali ke meja Sora dengan membawa nampan berisi menu pesanan yang sudah ia buat.


"Ya Allah, Sayang ..., lain kali ngidamnya jangan yang aneh-aneh, ya ...," keluh Almeer.


"Hahahaha, kan yang mau Dedeknya, Bie. Bukan aku loh ...," Sora mengelak.


Almeer menghela napas panjang, ia pergi mengembalikan nampan ke dapur kedai kemudian kembali duduk didepan Sora.


"Aku sampai takut sama ibu-ibu yang punya kedai ini, Sayang," keluhnya lagi.


"Uuuuwwwh," Sora mengusap pipi Almeer, "kasiannya suamiku sampai mau dinikahin sama perawan tua ...,"


"Udah ya, ngidamnya jangam yang ginian lagi," pinta Almeer.


Sora memicing jahil, "gimana ya, Bie ...,"


"Udah makan gih, makan." Almeer menunjuk hidangan diatas meja mereka.


Sora tersenyum, ia mencondongkan badannya ke tepian meja, "makasih ya, Bie .... Maaf kalau aku mintanya aneh-aneh ...."


Sora mulai melahap mango sticky rice bikinan suaminya, "enak, Bie!" ucap Sora, matanya membulat kagum. "Kamu pinter banget bikinnya, Bie."


"Aku kan cuma nyiapin, Sayang ..., bukan yang masak," jawab Almeer.


"Ooh iya, lupa." Sora memukul pelan keningnya, "padahal kamu keren banget waktu nyiapin ini tadi, Bie. Banyak banget yang muji kamu ..., kalo kita bikin kedai seperti ini trus kamu yang siapin pesanan pelanggan. Dijamin kedai kita lebih rame dari kedai ini, Bie."


"Sayang,"


"Hmm?" Sora menatap suaminya.


"Apa kamu mau menjual suamimu?" tanya Almeer.


"Emmbb ..., kalau menghasilkan uang gak apa sih, Bie ..., Sky aja ku tawar-tawarin ke orang, kali aja laku lima rebu apa sepuluh rebu gitu. Lumayan buat beli es teh,"


"Tega kamu jual makhluk blasteran bumi-surga ini? Gak ada lagi loh di dunia ini, cuma ada satu."


"Ya enggak doooong," Sora menggenggam tangan kiri Almeer yang bertengger nyaman diatas meja. "Gak bakal ku kasih ke orang meskipun ditukar berlian satu truk!"


Almeer terkekeh melihat cara bicara istrinya yang sangat manja itu. "Udah, lanjut makan sayang ..., makan pelan-pelan," ujarnya.


Sora mengangguk dan melanjutkan menyantap menu-menu pesanannya.


Usai menghabiskan hidangan, Sora dan Almeer pergi ke masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat isya' mereka yg tertunda.


"Mau langsung pulang apa naik bianglala lagi, Sayang?" tanya Almeer setelah mereka keluar dari halaman masjid.


"Naik dulu dong, Bie ..., mubadzir kan tiketnya kalau gak kepakai," jawab Sora.


"Tapi jangan banyak gerak loh ya kalau udah diatas," pinta Almeer.


Sora terbelalak dengan permintaan Almeer, "kamu takut, Bie?" tanya sora, wajahnya sudah siap mengejek suaminya.


"Bukan takut ..., gak nyaman aja, Sayang ...," elak Almeer


"Iiiih, ketahuan deh takut ketinggian ...," ejek Sora.


"Enggak, Sayang ...," Almeer terus menggandeng Sora untuk masuk ke dalam alun-alun.


"Ngaku deh, ngaku ...,"


"Dibilangin gak—"


BRUK!


Seorang gadis kecil menabrak Almeer, ia merasakan sesuatu yang basah dan dingin dibagian perutnya.


Saat Almeer menunduk melihat siapa yang menabraknya, ia terkejut karena ia sangat mengenal gadis kecil itu.


"Oom, Almeer?"


"Cloe?" Almeer lekas jongkok didepan Cloe dan merengkuh bahu Cloe, "kamu tidak apa-apa?" tanya Almeer.

__ADS_1


"Cloe baik-baik saja, Oom," jawab Cloe, "Tapi es ku jatuh," keluhnya kemudian.


"Oom ganti ya habis ini,"


"Cloe sama siapa kesini?" tanya Sora.


Cloe menatap Sora sebentar, tak memberikan jawaban kemudian kembali menatap Almeer.


"Cloe sama siapa? Sama Oma?" tanya Almeer.


Gadis kecil dengan rambut ekor kuda itu mengangguk, "sama Opa dan mbak Risna juga."


Sora menyebikkan bibirnya ketika melihat Cloe menjawab pertanyaan Almeer, sedangkan pertanyaannya diabaikan begitu saja.


"Mbak Cloe!" Teriak babysitter Cloe, ia berlari kecil menghampiri Cloe. "Mbak Cloe ..., jangan pergi tanpa bilang-bilang," pintanya dengan wajah yang panik.


"Kan aku bosan, Mbak Risna."


"Pak Bara sama Bu Clara dimana, Mbak?" tanya Almeer pada Risna.


"Sedang makan malam disana, Mas." Risna menunjuk sebuah rumah makan, "Mbak Cloe mau naik odong-odong, tapi malah lari kesini," imbuhnya.


Almeer berdiri dan menatap Sora, "aku mau belikan Cloe es krim dulu gak apa?" tanyanya.


"Iya, Bie. Kasian juga es krimnya jatuh," jawab Sora.


Almeer mengangguk, "kamu tunggu sambil duduk dulu, Sayang."


"Iya, Bie."


"Cloe ... ikut Oom Almeer beli es krim, yuk!" Almeer mengulurkan tangannya.


"Yey! Beli es krim beli es krim!" teriak Cloe kegirangan.


Almeer menggandeng Cloe menuju ke sebuah toko yang menjual es krim yang tak jauh dari tempat mereka berdiri semula.


Tak perlu berlama-lama, mereka pun kembali ke tempat Sora dan Risna menunggu. Cloe sudah memegang ice cone di tangan kanannya.


"Cloe tunggu disini sebentar sama Tante Sora, ya. Oom ke toilet dulu bersihkan ini." Almeer menunjukka kemeja putihnya yang kotor terkena es Cloe tadi


"Oke, Oom. Jangan lama-lama ...,"


Almeer tersenyum pada istrinya terlebih dahulu kemudian beranjak pergi.


"Enak, Cloe?" tanya Sora basa basi.


Cloe tidak menjawabnya.


"Kamu udah sekolah belum?" Sora masih mencoba membujuk Cloe agar mau menjawabnya tapi gadis itu masih tetap diam.


"Mbak Cloe ..., dijawab, dong." Risna ikut membujuk.


"Cloe gak bicara sama orang jahat, Mbak Risna." Cloe memunggungi Sora.


Sora menyebikkan bibirnya, mengejek gadis kecil itu layaknya anak kecil. "Gak mau ngomong ya sudah ..., yang dosa kan kamu sendiri nanti," gerutu Sora.


"Aku gak dosa, yang jahat kan Tante. Jadi yang dosa ya Tante!" jawab Cloe sambil tetap ******* ice conenya.


"Ih, aku jahat apa-an coba? Tante tuh baik hati, tau!"


"Tante Jahat!"


"Jahatan juga Oma kamu!" gumam Sora.


Cloe langsung membalikkan badan dan memukul lengan Sora dengan kesal.


"Mbak Cloe! Gak boleh gitu ...." Risna menarik tangan Cloe.


"Yang jahat itu Tante Sora! Tante Sora udah rebut papaku dari aku!"


Deg!


Sora terkejut dengan kalimat Cloe.


"Apa maksudmu?" Wajah Sora menegang.


"Tante Sora udah rebut Oom Almeer! Tante Sora jahat!"


"Cloe!"


Perhatian Sora dan Cloe tertuju pada wanita yang berjalan pelan digandeng seorang pria paruh baya. Clara dan Bara berjalan menghampiri Sora.


"Omaaa!" Cloe berlari menghampiri Omanya.


Sora yang masih ingin mencerna kata-kata Cloe barusan hanya menatap Clara dan Bara yang semakin mendekatinya.


"Jangan dengarkan Cloe, dia hanya anak kecil yang merindukan sosok ayah di hidupnya," kata Clara.


Sora masih terpaku, dadanya engap terpenuhi berbagai prasangka. Jawaban dari Clara tak memberikan angin segar padanya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2