ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
85


__ADS_3

Keluarga Sora yang sedang ada di ruang tengah dan di meja makan tersenyum senang ketika melihat Sora dan Almeer menuruni anak tangga.


"Udah baikan?" tanya Sky dari meja makan, mulutnya sibuk mengunyah sebuah makanan.


Sora mengernyit melihat kotak bolu kukusnya sudah terbuka, "Sky! Siapa yang nyuruh makan itu!" teriak Sora. Ia ingin berjalan lebih cepat, jika bisa ia ingin berlari dan segera merebut kue kesukaannya itu dari tangan Sky. Tapi sayangnya, tubuhnya masih terlalu lemah untuk merebut itu.


"Masih ada dua potong, nih ... gak usah bawel," Sky menyodorkan kotak kue didepannya pada Sora.


"Sky!" Sentak Sora tak terima.


"Sayang ... aku beliin lagi aja, ya?" bujuk Almeer.


"Iya, beliin lagi sana ... aku nitip satu porsi lagi, ya?" pinta Sky.


"Gak tau diri! Pergi sendiri sana!" ujarnya kesal.


"Hei, Biji sawi! Harusnya kamu itu bilang makasih ke aku! Kalo bukan karena aku, Almeer gak bakal kesini ...," ujar Sky, ia melahap potongan terakhir kue ditangannya.


Sora menatap Almeer, "dia benar-benar membujukmu, Bie?" tanya Sora.


Almeer mengangguk, "beberapa hari yang lalu dia ke rumah, Sayang ... kami sedikit berbincang."


"Al ...,"


Almeer menoleh ketika mendengar Langit memanggilnya, pria paruh baya itu berjalan mendekatinya. "Ya, Pa?" tanya Almeer.


"Maafkan aku ...," ujar Langit.


"Pa—"


"Sebagai orangtua, aku gagal mendidik putriku dan usia tidak menjadikanku bijak dalam menyikapi keadaan." Langit menatap menantunya penuh penyesalan, "maafkan pria tua yang bodoh ini, Nak."


"Pa! Jangan berkata seperti itu ... tidak semuanya kesalahan, Papa." Almeer terlihat segan melihat Langit yang merendah untuk mendapatkan maaf darinya. Ia meraih tangan Langit dan menciumnya, "Almeer juga minta maaf atas semua kesalahpahaman ini, Pa."


Langit mengulas senyum tipis dan memeluk menantunya, "terimakasih sudah mengesampingkan ego dan harga dirimu untuk mendatangi Sora," ujarnya seraya melepas pelukannya.


Air mata haru dari Sora, Senja, Mina dan Lala menghiasi moment itu.


"Tidak ada yang lebih penting dari keutuhan rumah tangga, Pa," ujar Almeer, "Saya memang kecewa pada Sora ...." ia menatap dan menghapus air mata Sora, "tapi, rasa cinta saya mampu mengalahlan kekecewaan itu," lanjutnya.


"Maafkan aku, Bie ...," ucap Sora.


Almeer tersenyum dan mengangguk, "iya, Sayang ...," ucapnya lirih.


"Papa benar-benar minta maaf dan sangat berterimakasih atas semua yang kamu lakukan, Al. Bimbinglah istrimu, didiklah dia tentang apapun yang belum pernah dia pelajari. Aku tahu, kamu adalah sebaik-baiknya jodoh yang telah dikirim Allah untuk putriku,"


"InsyaAllah, Pa." Almeer merangkul bahu istrinya dan langsung mendapat keluh kesakitan Sora. "Maaf, Sayang ... ku kira sudah sembuh," ujar Almeer khawatir.


"Belum ...," jawab Sora meringis kesakitan.


"Tadi aku peluk kamu erat-erat, loh?"


"Lebih sakit hatiku yang bawa beban penyesalanku padamu, Bie,"


"Hahahahaha," Almeer dan lainnya tertawa keras mendengar jawaban jujur Sora.


"Emang bener, kok! Ih, malah diketawain!" protes Sora.


"Udah, pergi beli ini lagi aja. Udah mau habis, nih." Sky menunjukkan kotak kue yang sudah kosong.


"Sky! Kenapa dihabisin, sih?!" Sentak Sora.


"Enak ...," jawab Sky tanpa merasa berdosa.


"Ya sudah ... aku beliin aja. Sayang," usul Almeer.


"Titip aja, Aga. Dia kan mau kemari nganter berkas yang dibutuhin pak Zain besok, Sky ...," kata Langit.


"Nah! Betul, Pa!" Sky mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada Aga.


Seperti biasa, hanya butuh satu nada sambung Aga lekas menerima panggilan Sky.


"Ga! Udah berangkat belum?" tanya Sky.


"Baru keluar gerbang, kenapa?" tanya Aga.


"Titip roti bolu kukus, dong ... Sora ngidam," Sky melirik Sora dan mendapatkan sebuah lirikan sinis saudara kembaranya.


"Ooh, roti bolu kukus srikaya yang deket kantor Almeer?"


"Waah, stalker handal emang kamu," puji Sky. "Titip tiga porsi, ya ...,"


"Ya ...,"


Panggilan telepon pun di akhiri. Sky melanjutkan menikmati roti terakhir ditangannya.


"Bisa banget manfaatin orang," sindir Sora, ia pergi duduk disamping Mina yang sedang duduk di kursi meja makan.


Sky cuek dan tetap mengunyah rotinya.


"Besok kamu yang antar berkas-berkas pak Zain ke rumahnya ya, Sky," ujar Langit.


"Bukan Aga?" tanya Sky.


"Pak Zain sedang di Singapore, nanti kamu bisa bertemu putrinya," Jela Langit, ia kembali ke sofa ruang tengah.


"Ciye, mau di jodohin ...," goda Mina.


"Enak aja, kamu pikir kakakmu ini gak laku sampai mau di jodohin segala?" protes Sky.


Mina tertawa kecil melihat kakaknya yang kesal.


***


Jalanan di kota Malang sudah terlalu padat malam ini, mobil yang dikendarai Aga terhenti sempurna di tempat parkir kedai roti bolu kukus favorite Sora. Terlihat hanya beberapa orang yang sedang antri disana.

__ADS_1


"Mas, rotinya tiga porsi ya ... pake selai srikaya. Minta tolong yang bikin bapaknya itu ya. Pesanan orang hamil," ujar Aga.


"Oooh, mbak yang cantik itu ya, Mas?"


Aga tersenyum kecil, "saya tunggu disana ya, Mas." Aga menunjuk mobilnya.


"Siap, Mas!"


Aga pergi menuju ke mobilnya. Ia hendak duduk diatas kap mobil, tetapi perhatiaannya teralih ketika teriakan seseorang minta tolong. Aga melihat beberapa meter dari tempat parkirnya, seorang wanlta berhijab sedang berusaha mempertahankan tasnya dari tarikan seorang pria diatas motor.


"Copet, Mas! Woey! Berhenti woey!" teriak juru parkir.


Aga dan seorang juru parkir itu berlari menghampiri wanita itu. Namun saat sudah dekat, dua pria berpakaian serba hitam itu berhasil merebut tas milik wanita itu. Mereka pun segera menancap gas dan pergi.


"Mbak! Ada yang luka?" tanya juru parkir.


Wanita berkerudung lebar itu hanya menangis sesenggukan. Beberapa orang dari kedai roti bolu kukus memperhatikan dari kejauhan.


"Ri! Cari motor yang dikendarai dua pria berjaket hitam di sekitaran Veteran dan Sigura-gura. Plat nomernya ...." Aga menyebutkan plat nomer dan menunjukkan ciri-ciri fisik motor yg dikendarai copet tadi pada anak buahnya, "kejadiannya masih barusan, pastiin dapetin mereka!"


Juru parkir yang ada disamping Aga bukan lagi memperhatikan gadis cantik yang sedang menangis itu, melainkan terus menatap Aga dan memperhatikan tiap kalimatnya.


"Mas polisi?" tanya pria gemuk berompi hijau itu.


Aga menggeleng dan mendekati wanita yang sedang menangis sesenggukan itu, "anak buahku akan mendapatkan tasmu, Kanaya."


Wanita itu mendongakkan wajahnya ketika Aga menyebut namanya. Ia mengusap air matanya dan memperhatikan pria didepannya itu. Ia berusaha mengingatnya, namun ia tak menemui jawabannya.


"Aku Aga, temannya Sora dan Almeer." Aga memperkenalkan diri.


"Ooh ... iya, Mas." Kanaya mengusap air matanya dan memperhatikan wajah Aga. Ya, memang tidak asing baginya. "Terimakasih," ucapnya.


"Jika mau, aku bisa mengantarmu pulang. Kebetulan aku akan pergi ke rumah Sora,"


Kanaya diam dan berpikir, bahunya masih naik turun karena sesenggukan.


Aga menyodorkan ponselnya, "kamu bisa menghubungi keluargamu atau kenalanmu,"


"Abi dan Ummi saya sedang ke Ngawi, Mas," ujar Kanaya, "di rumah sedang tidak ada orang,"


"Ya sudah, ikutlah denganku," ajak Aga, ia mulai melangkah tapi terhenti ketika Kanaya tak beranjak mengikutinya. "Kamu mau ku pesankan taxi online?" tanya Aga.


Kanaya menggeleng, kemudian melangkah dibelakang Aga menuju ke depan kedai roti bolu kukus. Beberapa orang disana masih memperhatikan Kanaya yang masih terisak.


Aga membuka pintu depan mobil bagian kiri, "masuklah, tunggu di dalam saja."


"Saya tunggu di depan saja, Mas," tolak Kanaya.


"Kamu akan mencuri perhatian orang lain, mereka sedang membicarakanmu," Aga melirik orang-orang yang ada di kedai.


Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang disekitarnya, ia pun menuruti saran dari Aga dan pergi masuk ke dalam mobil. Sedangkan Aga kembali duduk diatas kap mobil.


"Mas, udah selesai ...." ujar pria muda pemilik kedai tanpa meninggalkan tempatnya.


Aga berdiri dan menghampiri pria itu, memberikan selembar uang lima puluh ribuan, "ambil aja kembaliannya, Mas," ujar Aga.


Aga kembali ke mobilnya, ia bisa melihat dari luar jika wanita yang ada di dalam mobilnya masih menangis sesenggukan.


"Jangan kawatir, anak buahku pasti bisa mengembalikan tasmu," ujar Aga ketika ia sudah duduk di balik kemudi mobilnya.


"Saya ikhlas kehilangan tas dan barang-barang saya, Mas. InsyaAllah saya ikhlas," jawab Kanaya diantara isak tangisnya.


Aga mengangguk, ia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir.


Pria itu membiarkan gadis disampingnya menangis sesuka hatinya. Sudah jelas terlihat jika ia menangisi sesuatu yang lain, namun Aga tak mempunyai niat untuk menguliknya.


Tak memakan waktu sampai dua puluh menit, Mobil Aga terhenti di depan gerbang perumahan yang ada di seberang pesantren Al Mukmin.


"Terimakasih sudah memberi saya tumpangan, Mas," ucap Kanaya.


"Ya,"


"Assalamu'alaikum ...," pamit Kanaya kemudian keluar mobil.


"Wa'alaikumsalam," jawab Aga.


Pintu mobil tertutup, ia tak lantas pergi dan masih memperhatikan gadis itu jalan tertunduk. Ia melihat beberapa orang mendatangi Kanaya dan mencari tahu alasan Kanaya menangis. Tapi wanita itu hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya.


Tiba-tiba saja beberapa pria paruh baya melangkah menghampiri mobil Aga, menggebrak mobil Aga untuk memaksanya keluar.


"Bukan saya yang membuatnya menangis," ujar Aga ketika keluar dari mobil, ia sudah tahu maksud bapak-bapak bersarung yang menghampirinya dengan wajah marah.


"Jangan alasan kamu! Buat sedih keluarga ustadz Mahmudi siap-siap berhubungan dengan warga sini!" teriak salah satu pria.


"Anda bisa tanyakan padanya," jawab Aga.


"Kami tahu sifat mbak Nay seperti apa! Kamu pasti—"


"Pak Pak! Jangan asal nuduh!" Kanaya berlari kecil menghampiri kerumunan kecil itu. "Mas ini justru sudah membantu saya, tolong jangan bersikap seperti ini," pinta Kanaya.


"Oooooh, kami pikir dia yang sudah bikin Mbak Nay seperti ini."


"Bukan, Pak. Bukan ...." Kanaya menatap Aga sejenak, ia merasa tak enak.


"Ya sudah kalau gitu. Maaf ya, Mas." Beberapa orang itu pun pergi.


"Maaf ya, Mas ...," ujar Kanaya.


Aga mengangguk, "kamu bisa pulang, hati-hati." Aga masuk ke dalam mobil.


Kali ini ia tak menunggu Kanaya pergi lebih dulu, ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Sora.


Sampai di rumah Sora, ia lekas turun. Dengan membawa beberapa map ditangan kiri dan menjinjing kantong plastik bolu kukus di tangan kanannya.


"Lama amat sih, Ga!" protes Sky dari meja makan ketika melihat Aga sudah memasuki rumah.

__ADS_1


Aga mencium tangan Langit dan Senja yang sedang duduk di sofa ruang tengah, "ini berkas milik pak Zain, Tuan."


"Makasih ya, Ga," ucap Langit.


Aga mengangguk dan menuju ke meja makan, meletakkan bolu kukus itu diatas meja makan kemudian duduk disamping Sky. Almeer, Sora dan Mina juga masih duduk disana.


"Gimana keadaanmu?" tanya Aga pada Sora.


Sora mengangguk, "udah baikan," jawab Sora.


Aga melirik Almeer sejenak, "jangan buat dia salah paham lagi,"


"Aku tau apa yang harus ku lakukan, kamu tidak perlu menghawatirkan kami lagi," jawab Almeer.


"Dari mana aja sih, Ga? Udah gak begitu panas nih!" protes Sky.


"Tinggal makan aja banyak protes kamu, Sky!" Sora terlihat kesusahan membuka kotak bolu kukusnya, tapi Almeer segera membantunya. "Makasih ya, Bie ...," ucapnya.


"Iya, Sayang."


Sky menyebikkan bibirnya melihat perlakuan Almeer dan Sora.


"Tadi aku bantuin Kanaya, dia habis kecopetan," ujar Aga.


"Kecopetan?" Sora, Almeer dan Mina terkejut.


"Cewek yang pernah deket sama Almeer itu?" tanya Sky.


Aga mengangguk, "aku sudah suruh Ari cari pelakunya."


"Trus gimana keadaan Kanaya?" tanya Sora.


"Dia gak ada yang terluka, dia juga bilang ikhlas tapi nangis terus," jawab Aga.


"Mungkin ada masalah lain kali, Kak," cetus Mina.


Almeer mengangguk, "khitbah-nya dibatalkan oleh pihak pria,"


"Hah!!"


"Ya, mungkin karena itu Kanaya sedih," ujar Almeer.


"Kak Sky! Pepet, gih!" usul Mina.


"Gak mau dia, Dek. Dia maunya yang pinter gambar ama yang pinter bikin kue. Seperti ...."


"Diem!" Sky mengancam Sora agar tidak melanjutkan kalimatnya.


"Oooh, kak Meera?" Mina yang polos mencoba menebaknya dan disambut tawa Almeer dan Sora.


Dan malam itu Sky menjadi bahan bullying keluarganya.


***


Sora dan Almeer baru memasuki kamar setelah cukup larut. Berbincang dengan keluarga membuat waktu cepat berlalu.


"Bie ...," Sora memeluk suaminya.


"Ya, Sayang? Kenapa?"


"Bie ...,"


"Iya, Sayang?" Almeer mengusap lembut kepala istrinya yang masih tertutup kerudung.


Sora mendongakkan wajahnya menatap suaminya, "Sagara Almeer," panggilnya pelan.


Almeer tersenyum lebar setiap kali mendengar istrinya menyebut nama lengkapnya, "Ada apa, Kianga Sora?" tanyanya gemas.


Sora menggelayutkan satu tangannya leher Almeer dan menariknya agar sedikit tertunduk kemudian ia memberikan kecupan lembut dibibir suaminya itu. "Aku mencintaimu," bisiknya.


Almeer tertawa kecil dan tersipu malu mendengar pernyataan istrinya. Ia membalas kecupan Sora, "aku juga mencintaimu, Sayang ... sangat mencintaimu."


"Terimakasih ya, Bie. Dan maafkan, aku."


"Kita lihat ke depan ya, Sayang. Kita tidak bisa melupaka masalalu, tapi kita buat itu sebagai pembelajaran,"


"Aku tidak bisa meninggalkan rasa bersalahku padamu, Bie. Entah kenapa meskipun kamu memaafkanku, tapi aku masih sangat berdosa padamu," ujar Sora. "Terlebih lagi juga karena calon anak kita, Bie."


"Sst ... itu sudah rencana Allah, Sayang. Kita harus ikhlas. ya. ..," ucap Almeer, "Biar waktu yang menyembuhkan segalanya, Sayang." Almeer memberi kecupan di kening Sora.


Sora mengangguk dan tersenyum. Ia kembali memeluk suaminya erat-erat.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Gais gaiskuh terlaflaf! Ya Allah, aku ucapin banyak banyak terimakasih karena kalian relain poin kalian buat ngevote si Biji Sawi dan Pemuda Bersarung sampe nyentuh ranking satu. Aku terharu sekali atas antusias kalian dalam mendukung novelku ini. Terimakasih banyak ya. Ailafyu full!


Maaf juga ya untuk yang DM Igeh aku belum bisa balas satu-satu, numpuk gais. Dan yang pollow efbi ku, mon maap aku jarang onlen efbi. Baru bikin dan bingung juga mau diisi apa.


Untuk episode kemarin aku sebenarnya cuma up satu, Gais (bisa dilihat di igehku). Tapi entah kenapa NT ngasihnya dua. Aku pun terkejoed loh ... mana gak bisa di apus.


Aku gak ngasah samurai gak ngasah arit hari ini. Aku diam, aku manis. aku cantik, aku lugu, aku imut. (Masang wajah seimut kelinci).


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.

__ADS_1


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2