ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
Mikail Tyaga (B.1)


__ADS_3

Kaget ya dapat notif?


.


.


.


.


.


"Apa susah memimpin tahlil?" tanya Aga.


Deg!


Kanaya terkejut dan menatap Aga.


"Apa aku masih bisa menghadiri pengajian yang diadakan Abimu?" tanya Aga lagi.


Kanaya tak bisa menahan senyum di bibirnya, ia menganggukkan kepalanya. "Nanti Nay sampaikan pada Abi, Mas."


Dan untuk pertama kalinya, pria bernama Mikail Tyaga itu mengulas senyum dibibirnya. Simpul, tak terlalu lebar namun cukup memberi kehangatan di wajah dinginnya.


"Aku sangat awam dengan agamaku, Nay," ujar Aga.


"Kita semua bisa belajar, Mas."


Aga kembali diam, senyum simpulnya sudah hilang dari bibirnya. Wajahnya kembali tegas dengan sorot mata yang tak bisa terbaca khas miliknya.


"Saya harus masuk, Mas ...." Ibu jari Kanaya menunjuk ke rumahnya.


Aga mengangguk, "Aku pamit dulu, Nay," pamitnya kemudian.


"Terimakasih sudah mengantar saya pulang, Mas," ujar gadis berparas lembut itu.

__ADS_1


"Kabari aku jika Abi kamu akan mengadakan pengajian, Nay."


Kanaya mengangguk, "insyaAllah saya kabari, Mas."


"Selamat malam, Nay."


"Wa'alaikumsalam, Mas Aga."


Langkah Aga terhenti, ia menatap wanita di depannya, "Assalamu'alaikum, Nay."


"Wa'alaikumsalam, Mas Aga. Hati-hati di jalan," jawab Kanaya, ia menundukkan pandangannya.


Aga pun kembali ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya meninggalkan rumah Kanaya.


Setelah mengetahui kepergian pria itu, Kanaya masuk ke dalam rumah sederhana yang sudah ia tinggali sejak dirinya terlahir di bumi ini.


Jarak dari pintu pagar ke pintu ruang tamu tak sampai sepuluh langkah, "Assalamu'alaikum," salamnya ketika membuka pintu rumahnya yang tak terkunci.


"Wa'alaikumsalam, Nay ...." Ustadz Mahmudi menutup buku yang dibacanya ketika putrinya menghampiri dan mencium tangannya, "pulang sama siapa tadi? Kok Abi gak denger kamu masukin motor, Nak?"


"Ooh ... pria yang kapan hari datang kemari itu?" tanya Ustadz Mahmudi.


"Iya, Bi ...." Kanaya duduk di kursi yang terpisah dari Abinya.


"Ummi kira kalian gak berjodoh, taunya kalian bertemu lagi ...," Ustadzah Mutia datang membawakan secangkir kopi untuk suaminya. "Diminum, Bi," ucapnya setelah meletakkan kopi itu diatas meja.


"Terimakasih, Ummi." Ustadz Mahmudi tersenyum pada istrinya.


Ustadzah mutia duduk disamping putrinya, "dia pria baik, Nak."


Kananya hampir tersedak ludah sendiri mendengar kalimat umminya, "Ummi ...,"


"Sayangnya, agamanya kurang ya, Bi." Ustadzah Mutia menatap suaminya.


"Bisa belajar kalau mau, Ummi," jawab ustadz Mahmudi setelah menyeruput kopi.

__ADS_1


"Mas Aga tadi juga bilang kalau dia mau hadir di acara pengajian Abi," ujar Kanaya.


"Oya? Dia sudah berubah pikiran?" Ustadz Mahmudi terlihat antusias.


Kanaya mengangguk, "iya, Abi."


"Kenapa tiba-tiba berubah, Nay?" tanya Ustadzah Mutia.


"Mungkin, Allah baru mengirimkan hidayahnya hari ini, Ummi," jawab Ustadz Mahmudi.


"Nay ke kamar dulu ya, Abi, Ummi." Kanaya berdiri.


"Iya, Nak ...,"


Kanaya pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Abi suka sama Aga?" Ustadzah Mutia bertanya dengan sedikit berbisik pada suaminya.


"Suka ... dia sudah beberapa kali menolong putri kita, dia pria yang baik."


"Abi berniat menjodohkan dia dengan putri kita?"


"Tidak, Ummi. Biarkan Nay yang memilihnya ... Abi tak mau membuatnya kecewa lagi setelah rencana khitbah-nya dengan Kahfi gagal."


Ustadzah Mutia menatap pintu kamar putrinya yang sudah tertutup rapat.


Meskipun kedua orangtuanya sedang bicara berbisik-bisik, . Tetapi, Kanaya masih bisa mendengarnya cukup jelas. Ia duduk di kursi meja belajarnya. Wajahnya lesu membuka sebuah kotak kecil berisi cincin.


Ya, cincin yang diberikan oleh Kahfi saat pria itu meng-khitbah Kanaya. Namun, setelah melewati proses tarik ulur yang diberikan Kahfi, khitbah itu tak berakhir dalam sebuah ikatan suci.


"Astaghfirullahaladzim ...,"


Kanaya menutup kotak itu dan meletakkannya kembali di tempat semula. Ia tak mau membuka kembali satu per satu kenangan menyakitkan itu.


-Bersambung entah sampai kapan-

__ADS_1


__ADS_2