
Matahari belum terlalu naik ke peraduannya, namun rasa gerah dirasakan ketika sepasang suami istri paruh baya yang terbiasa tinggal di kota dingin baru melangkah keluar dari pintu terminal kedatangan domestik Bandara Soekarno Hatta.
Hiko dan Ruby sengaja tak memberitahu Almeer ataupun kerabat di Jakarta, sebab itu mereka langsung menuju ke tempat taxi bandara terparkir.
"Pak, ke alamat ini ya." Hiko menunjukkan layar ponselnya pada Sopir taxi.
Setelah jelas dengan alamat yang akan di tuju, sang sopir mengangguk, "Baik, Pak. Silahkan."
Hiko dan Ruby pun segera masuk dan taxi segera berangkat menuju tempat tujuan pertama Hiko dan Ruby, rumah keluarga Sora.
Rasa cemas dan gelisah menyelimuti benak Ruby selama perjalanan. Istighfar berulangkali ia lafalkan dari bibirnya namun tangannya masih tetap berkeringat dingin.
Menempuh perjalanan dari tol, hampir satu jam mereka akhirnya sampai di kediaman Langit. Mereka harus lebih bersabar lagi ketika harus melakukan tanya jawab dahulu dengan seorang satpam. Setelah satpam mengkonfirmasi ke dalam rumah dan mendapat persetujuan untuk menerima tamu, barulah taxi melajukan kembali kendaraannya menuju ke depan pintu utama rumah.
Disana terlihat Senja dan Erni yang baru saja keluar dari pintu utama rumahnya untuk menyambut kedatangan sang tamu.
"Assalamu'alaikum, Bu Ruby." Senja menghampiri Ruby yang baru usai turun dari taxi.
"Wa'alaikumsalam, Bu Senja."
Dua wanita itu bersalaman dan sejenak berpelukan. Tak lupa Senja juga menyapa Hiko.
"Maaf kami datang kemari tanpa memberi tahu anda terlebih dahulu, Bu Senja." Ujar Hiko.
"Tidak apa-apa, Pak. Mari, silahkan masuk." Ajak Senja, ia menuntun jalan menuju ke ruang tamu rumahnya.
Tepat ketika mereka sudah di ruang tamu, Langit keluar dari ruang kerjanya.
"Assalamu'alaikum, Pak Hiko, Bu Ruby." Sapa Langit, ia menghampiri Hiko dan bersalaman.
"Wa'alaikumsalam, Pak Langit." Hiko menyambut tangan Langit, "Apa kabar, Pak?"
"Alhamdullillah, baik pak. Mari silahkan duduk...,"
Langit mengajak Hiko untuk duduk, begitu juga dengan Senja yang juga mengajak Ruby untuk duduk.
"Saya mengerti maksud tujuan kedatangan anda kemari pasti karena perlakuan saya terhadap putra anda kemarin." Langit tak mau berbasa-basi.
"Ya, Pak. Disini saya ingin meluruskan sesuatu."
Langit mengangguk dengan wajah datarnya.
"Bukankah terlalu kejam jika anda menolak khitbah Almeer pada Sora hanya karena masalalu saya? putra saya tidak bersalah atas hal ini, Pak." Ujar Hiko.
"Saya tidak menyalahkan putra anda, Pak Hiko. Tapi siapapun pasti akan tahu scandal masalalu anda kala itu. Dan tak sedikit yang tahu jika Almeer adalah putra anda. Semua orang akan menggunjingkan putri saya, bahkan pasti akan banyak hujatan yang ia terima. Saya hanya ingin melindungi putri saya, Pak Hiko."
"Mereka saling mencintai, Pak Langit. Bukankah itu lebih penting?"
Langit menggelengkan kepalanya, "Rumah tangga tak sekedar cinta, Pak Hiko." Langit tersenyum remeh, "Masih banyak alasan lainnya yang membuat saya ragu menyerahkan putri saya pada putra anda."
"Finansial?" tebak Hiko, sorot matanya berubah dingin.
Dengan memejamkan mata sekejap, Langit menganggukkan kepalanya sesantai mungkin. "Itu juga salah satunya, Pak. Bukan maksud saya untuk merendahkan putra anda, saya hanya takut jika dia akan merasa terbebani dengan gaya hidup putri saya."
"Papa!!" Setengah berteriak, Sora menuruni anak tangga dan berlari kecil ke sofa ruang tamu.
"Tolong jangan seperti ini, Pa." Pinta Sora, ia tak mau kedua orangtua Almeer tersakiti.
"Kembali ke kamarmu, Sora." Pinta Langit.
"Mas...," Senja mencoba melunakkan hati suaminya.
"Anda tentu tahu siapa keluarga saya dan keluarga istri saya, bukan hal yang sulit untuk anda menyelidiki kami. Tidak pernahkah terbesit dibenak anda mengapa putra saya hidup sesederhana itu?"
Langit terdiam, baginya itu bukan sebuah pertanyaan yang harus dijawab.
"Dia tahu siapa dirinya, Pak. Dia berbeda dengan adiknya yang ber-nasab-kan saya. Dia hanya ingin berdiri diatas kakinya sendiri sebab dia tak memiliki hak waris atas saya," Jelas Hiko, "Meskipun saya pasti tetap memberikannya." Lanjut Hiko.
"Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...,"
Semua perhatian tertuju pada pria yang sedang berdiri didepan pintu masuk ruang tamu rumah Langit.
"Almeer!!" Pekik Ruby mendapati putranya berdiri disana dengan wajah khawatir.
Almeer masuk kedalam rumah, ia menghampiri papa dan mamanya lalu mencium tangan mereka. Tak lupa ia juga mencium tangan Langit dan memberi salam pada Senja.
"Kamu kenapa bisa kesini, Nak?" tanya Ruby.
"Meera bilang kalau Papa dan Mama pergi menemui pak Langit, Ma." Jawab Almeer. "Kenapa Papa dan Mama harus kemari tanpa memberitahu Al?"
"Kami harus meluruskan semuanya, Al." Ujar Hiko
"Tidak perlu diluruskan, Pak Hiko." Sahut Langit, perhatian Hiko dan Ruby kembali tertuju padanya. "Keputusan saya tidak akan berubah, saya tetap akan menikahkan putri saya dengan pria yang sudah lama saya kenal."
"Papaaaa..., Sora gak cinta sama Aga." Keluh Sora, matanya mulai berkaca memupuk air mata yang hanya sekali kedipan pasti akan jatuh membasahi pipinya.
Senja menghampiri putrinya dan memeluknya.
"Tidak bisakah anda memberi putra saya kesempatan, Pak Langit?" pinta Ruby penuh harapan.
__ADS_1
"Maa...," Almeer tak mau membuat mamanya merendahkan harga dirinya hanya untuk kepentingannya.
Ruby tersenyum pada putranya untuk tak ikut masuk dalam percakapan orangtuanya. Kemudian ia ganti memandang Langit.
"Putra saya memang tidak kaya, Pak. Tetapi, sekalipun dalam hidupnya, ia tak pernah menyakiti hati kami berdua. Dia anak yang bertanggungjawab...," Suara Ruby serak di akhir kata menahan air mata.
Hiko menggenggam tangan istrinya agar tak melanjutkan kalimatnya. Almeer langsung duduk disamping mamanya dan merangkul bahu mamanya. "Maafkan Al, Ma." Bisiknya lirih.
Ruby tersenyum pada Almeer dan mengangguk, setetes airmatanya jatuh membasahi pipi.
Almeer dengan sigap mengusap air mata itu dengan lembut. Hatinya ikut terluka ketika melihat kedua orangtuanya harus memohon-mohon pada orang lain untuk kepentingannya.
"Jika anda ragu akan tanggungjawabnya, tolong berikan dia kesempatan. Saya tidak akan menjelaskan pada anda siapa putra kami, karena pasti yang keluar dari mulut kami adalah kebaikannya saja. Anda bisa meluangkan sedikit waktu, berbincang dengannya. Anda bisa menilai sendiri bagaimana sifat putra saya sebenarnya." Ujar Hiko.
"Paa..., tolong beri Almeer kesempatan. Papa harus mengenalnya juga." Bujuk Sora.
Langit diam tak menjawab, ia masih memandang dingin Almeer yang sedang merangkul bahu Ruby.
"Pak Langit, bukan saya merasa lebih dari anda, bukan juga saya ingin menggurui anda. Tapi pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup kita, Pak. Jika didalamnya tidak didasari cinta, bukan pahala yang akan didapat, melainkan dosa karena rasa saling menyiksa dan tersiksa. Dan bukankah kebahagiaan putri anda akan menjadi kebahagiaan anda juga, Pak?" Lanjut Hiko lagi.
Kali ini Langit tak bisa menyanggah kalimat Hiko. Meskipun bisa saja mulutnya mengelak, tapi hatinya tetap membenarkan hal itu. Ia memandang putri dan istrinya yang sedang menatapnya penuh harap.
Langit menegakkan duduknya, menghela nafas panjang usai melakukan perdebatan kecil dibenaknya. Ia menatap Almeer, tatapannya tak sedingin tadi.
"Aku akan memberimu kesempatan...," Ujar Langit
"Alhamdullillah....,"
Ruby menatap putranya dan mengusap pipi putranya, senyum lebar mengembang dibibir mereka.
"Aku ingin mengajukan syarat yang harus kau penuhi." Ujar Langit pada Almeer.
"Ya, Pak? Insyaa Allah akan saya penuhi." Sahut Almeer.
"Aku memberimu waktu dua bulan. Jika dari usahamu itu bisa menghasilkan tiga ratus juta dalam sebulan, aku akan memikirkan ulang untuk menjadikanmu suami putriku."
"Papa!!"
"Mas!! bukankah itu keterlaluan?" Senja mendekati suaminya, "Kamu tidak bisa membuat persyaratan seperti itu."
"Ya, Pak Langit. Menurut saya persyaratan anda terlalu berat. Itu sama saja anda sedang menolak putra saya dengan cara lain." Protes Hiko.
"Usaha Almeer baru berjalan dan belum ada setahun, Pak Langit." Tambah Ruby.
Sora menghampiri papanya, "Pa, tolong jangan mempersulit Almeer." Rengek Sora.
Langit mengabaikan protes yang dilakukan orang-orang disekitarnya itu. Ia tak melepaskan pandangannya dari pria muda yang terlihat sedang tertunduk memikirkan persyaratannya.
Almeer mangangkat kepalanya, menatap Langit sejenak kemudian berganti menatap papa dan mamanya. Ia bisa melihat jika kedua orangtuanya sudah putus asa menerima persyaratan yang diajukan oleh wali sah wanita yang dicintainya tersebut.
Almeer mengangguk pelan, ia sedang memberitahu kedua orangtuanya jika dia akan melakukannya. Hiko dan Ruby hanya berpasrah diri mengikuti kemauan putranya.
Almeer kembali menatap Langit yang sedang menunggu jawaban darinya, "Bismillahirrahmannirrahiim, saya menerima persyaratan dari anda, Pak." Ujar Almeer penuh keyakinan.
"Al!" Sora memekik penuh rasa keberatan.
Almeer hanya tersenyum lembut untuk meyakinkan Sora jika dia bisa melakukannya.
"Baiklah. akhir bulan oktober aku menunggu hasilnya." Kata Langit.
"Baik, Pak."
"Mulai hari ini kamu akan sibuk, ku harap kalian berdua tak terlalu banyak berkomunikasi." Pinta Langit pada Almeer dan Sora.
"Pa, jangan membatasi kami untuk berkomunikasi." Pinta Sora.
"Almeer akan sibuk mengurus usahanya, kamu hanya akan mengganggunya jika terus-terusan menghubunginya. Benarkan, Al?" Langit menatap Almeer. Bukan sedang bertanya, lebih tepatnya mengacam.
Almeer mengangguk berat. Ia tak punya keberanian untuk menyanggah kemauan pria yang sedang memegang kartu As-nya.
Perbincangan dua keluarga itu tak berlangsung lama, Hiko segera berpamitan setelah mendapatkan solusi yang telah disepakati masing-masing pihak.
***
"Apa kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil, Al?" Ruby yang sedang duduk dibangku belakang mobil yang dikendarai Almeer masih terlihat resah dengan keputusan putranya.
"Papa bisa bantu kamu, Al." Tambah Hiko yang duduk disamping kiri Almeer.
"Terimakasih, Ma, Pa." Almeer memandang memandang pantulan wajah mamanya pada kaca spion diatasnya sejenak kemudian ganti melihat papanya.
"Berkat bantuan Papa dan Mama, Pak Langit mau memberi Al kesempatan. Meskipun syaratnya cukup berat." Ucap Almeer sambil terus fokus mengendalikan kemudi mobil.
"Itu karena kesalahan Papa, kamu harus serumit ini untuk mendapatkan wanita yang kamu cintai." Ujar Hiko.
"Sudah takdir dari Allah, Pa. Al cuma bisa berdo'a, berusaha dan berikhtiar. Yang penting Al ngantongin restu dari Papa dan Mama. Insyaa Allah, Allah akan berikan restunya pada Al."
Hiko menepuk bahu kiri putranya, "Papa bangga padamu, Nak. Papa akan membantu mempromosikan usahamu."
Almeer menggeleng, "Terimakasih tawarannya, Pa. Tapi tolong biarkan Al berusaha sendiri. Al juga ingin mengukur kemampuan Al, Pa."
Hiko mengangguk, menghargai keputusan putranya.
__ADS_1
"Yota sudah siap kamu tinggal, Al?" tanya Ruby.
"Insyaa Allah sudah, Ma. Oom Abriz juga pasti akan ngawasin anaknya." Jawab Almeer, "Maafin Al ya, Ma. Al gak bisa nerusin perusahaan Mama dan Oom Abriz."
"Iya, Nak. Mama tahu keinginan kamu."
"Jika butuh apapun, jangan segan untuk minta tolong pada kami, Al." Tambah Hiko.
Almeer mengangguk dan tersenyum pada Hiko, kemudian kembali fokus mengendarai.
***
Sebuah taman dibelakang rumah menjadi tempat Sora menenangkan diri. Ia duduk di kursi bermaterial besi berwarna putih, terlindungi oleh rindangnya pohon ketapang kencana. Pandangannya lurus menatap birunya air kolam renang rumahnya yang berada jauh didepannya. Terpaan angin membuat air kolam terombang-ambing kecil dan suara gesekan pepohonan disekitarnya membuat efek tenang untuk jiwa dan pikiran yang sedang kacau.
Sora masih memikirkan tentang persyaratan yang dibuat oleh papanya untuk Almeer. Itu sangat tidak masuk akal mengingat yang ia dengar kemarin usaha yang tengah dibangun Almeer hanya perusahaan kecil yang memiliki penghasilan tak lebih dari tiga puluh juta per bulan. Bagaimana bisa dalam waktu dua bulan akan meningkat sepuluh kali lipat?
Papanya tidak sedang memberi kesempata untuk Almeer, papanya hanya ingin Almeer menyerah secara perlahan.
"Nona...,"
Lamunan Sora terhenti ketika suara Aga memanggil namanya, ia menatap ke arah suara itu. Pria yang masih memakai kemeja putih lengan panjang itu baru saja duduk disampingnya.
"Hm?" sahut Sora.
"Tuan besar menyuruh saya mengundurkan diri Actmedia, Nona."
"Hah!?" Mata Sora terbelalak, "Kenapa!?"
"Tuan besar tahu jika saya punya dua perusahaan properti." Jawab Aga, ia menunduk mengatupkan bibirnya karena menyesal tak berkata jujur pada Langit.
"Serius, Ga?" Sora menimpuk bahu Aga, membuat pria itu menahan sedikit rasa sakit.
Aga mengangguk, "Tuan Besar menyuruh saya untuk fokus dengan perusahaan saya sendiri."
"Ciyeee, jadi CEO sekarang....," Goda Sora dengan wajah usilnya.
Aga hanya sedikit menyungginggkan senyum.
"Kereen kereeen! Aku salut sama kamu, Ga! Diem-diem kamu jadi pebisnis ulung." Ujar Sora dengan binar kekaguman dimatanya. "Ternyata kemarin papa manggil kamu itu mecat kamu? ku kira buat apa...,"
"Tuan besar juga meminta bantuan saya, Nona." Kata Aga.
"Bantuan apa?" tanya Sora.
"Beliau menginginkan saya menjadi suami anda, Nona."
Senyum di wajah Sora hilang seketika, ia mengalihkan pandangannya dan kembali lurus menatap ke depan.
"Apa jawabanmu?" tanya Sora.
"Saya akan meninggalkan Actmedia hari ini, Nona."
"Secepat itu?" Sora menatap Aga kembali.
Aga mengangguk, "Hari ini adalah hari terakhir saya menganggap anda sebagai majikan saya, Nona. Jika kita bertemu kembali setelah hari ini, saya akan menganggap anda sebagai seorang wanita..." Ujar Aga, "Wanita yang saya cintai." Aga menatap Sora, sorot mata yang selalu dingin itu berubah lembut.
Sora terdiam mendengar kelanjutan kalimat Aga. Hening dan badan Sora sulit untuk digerakkan. Ini berbeda, sangat berbeda dengan pernyataan cinta Aga saat di Jogjakarta kala itu.
"Wooooaaaah!!" Sora mencoba mengendalikan diri, "Bulu kudukku merinding, Ga!" Sora mengusap kedua lengannya.
Aga menatap Sora dengan mata tajamnya itu, "Jika Almeer berjuang untuk mendapatkan restu tuan besar, maka saya akan berjuang untuk mendapatkan cinta anda, Nona."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
BACA DULU INFONYA!
Oe, Baca Oeeeeeee...
Disuruh baca malah lewat doang.
Oee, balikk, baca nih infonya.
Dah, ah. Ngetik aja infonya. Peduli dibaca apa enggak.
Kalau ada yang tanya "Kok aku belum di acc masuk grub sih thor?"
Pastikan!
Pastikan kalian baca novelku dan ninggalin jejak di kolom komentar novelku yaaaah. Itu kunci wajib masuk ke kost-kostanku. Woke!!
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
__ADS_1
Terimakasih sangat laf laf kuh.