ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
33


__ADS_3

"Caramu menguji Almeer sudah keterlaluan, Mas!" Protes Senja ketika ia dan suaminya sudah berada di dalam kamar.


"Siapa bilang aku menguji dia? kurang kerjaan sekali aku."


Senja tercengang mendengar jawaban suaminya, ia menarik tangan Langit dan menatapnya. "Kamu benar-benar ingin menjodohkan Sora dengan Aga?"


Langit menganggukkan kepalanya, "Tentu, Sayang. Setidaknya melihat Sora bersama Aga aku tenang."


"Sora tidak mencintai Aga, Mas."


Langit merengkuh kedua bahu istrinya, "Mereka akan saling mencintai jika sudah dalam ikatan pernikahan."


Senja menggeleng, ia menepis kedua tangan suaminya dari bahunya. "Kali ini aku tidak sependapat denganmu, Mas. Aku lebih setuju Sora menikah dengan Almeer. Karena Almeer adalah orang yang di cintai Sora."


"Sora akan tetap menikah dengan Aga," Langit tak mempedulikan pendapat Senja. Ia memilih untuk duduk di sofa dan menyalakan televisi yang menempel di dinding kamarnya.


"Kamu masih mempermasalahkan latar belakang Almeer?" tanya Senja.


"Tentu."


"Mas, Almeer tidak berdosa atas kesalahan kedua orangtuanya."


"Aku tidak mengatakan dia berdosa, Sayang."


Senja duduk disamping Langit, "Lalu? apa yang membuatmu ragu dengannya? keuangan? bukankah kita bisa membantunya?"


"Tentu itu salah satunya juga. Dan yang paling utama adalah scandal orangtuanya itu sangat membekas, bagaimana jika Sora setiap hari harus mendengarkan gunjingan orang karena menikahi pria itu? membayangkannya saja aku tak sanggup." Bahu Langit bergidik.


"Apa kamu tidak membayangkan bagaimana perasaan Sora jika harus menikah dengan pria yang tidak ia cintai?"


Langit menatap istrinya tajam, sorot matanya sudah menunjukkan kemarahan.


"Silahkan saja bertahan dengan sikap keras kepalamu itu, Mas." Senja memilih pergi keluar kamar, berdebat dengan suaminya hanya akan membuang waktunya saja.


Sementara itu diruang tamu, Sora masih terisak dan berulang kali meminta maaf pada Almeer atas perilaku papanya yang sudah sangat keterlaluan.


"Aku tidak apa-apa, Sora. Percayalah...," Pria itu menatap Sora penuh keyakinan. "Berhentilah menangis, kamu terlalu banyak membuang air matamu beberapa hari ini."


"Papaku sudah sangat menyakitimu, Al." Ucap Sora diantara isak tangisnya.


"Nih!" Sky datang memberikan kotak tisu pada Sora. "Aku mau antar Almerr pulang dulu."


"Kamu mau pulang ke Jogja lagi, Al?" tanya Sora.


"Enggak, aku mau ke pesantren saudaraku saja. Urusanku belum selesai disini." Jawab Almeer, ia mengambil dan memakai tasnya.


"Aku ikut dengan kalian," Sora menghapus air matanya dan berdiri.


"Udah dirumah aja." Cegah Sky.


"Aku ikut, Sky!" Tegas Sora.


"Terserah kau lah." Sky pasrah dan pergi keluar lebih dulu.


"Almeer...," Suara Senja menarik perhatian Almeer dan sora. Ia berjalan menghampiri pria yang sudah bersiap meninggalkan rumahnya itu.


"Iya, Bu?" Sahut Almeer.


"Tolong maafkan sikap papanya Sora, ya. Saya merasa dia sangat keterlaluan padamu." Senja merasa tak enak hati.


Almeer mengangguk dan tersenyum ramah, tak menunjukkan ada kemarahan dimatanya. "Saya mungkin bisa sedikit mengerti apa yang dikhawatirkan pak Langit. Orangtua mana yang bisa dengan mudah menyerahkan putrinya yang sudah dirawat dengan sangat baik selama puluhan tahun pada laki-laki yang hidupnya masih tidak jelas seperti saya, Bu."


Senja tersenyum, ia bersyukur kali ini Sora jatuh cinta pada pria yang tepat. Ia bisa merasakan ketulusan dari pria didepannya itu.


"Saya akan mencoba membujuk papanya Sora, Nak."


"Tidak, Bu. Terimakasih niat baiknya, tapi biarkan saya yang melakukannya. Saya tidak mau membuat ketidaknyamanan antara anda dan pak Langit, Bu."


"Tuh, kan. Seharusnya papa tuh disini, dengerin apa yang Almeer—"


"Ra...," Almeer memangkas kemarahan Sora, ia menggelengkan kepalanya agar Sora tak melanjutkan kalimatnya.


Mengerti jika tindakannya salah, ia mengatupkan rapat bibirnya dan mengalihkan pandangannya dari Almeer karena malu.


"Saya sekalian pamit pulang, Bu." Kata Almeer.


"Iya, Nak. Saya menunggu kedatanganmu lagi di rumah ini." Ujar Senja.


"Insyaa Allah, Bu."


"Sora ikut Sky nganter Almeer, Ma." Sora mencium tangan Senja.


"Hati-hati, Sayang."


"Assalamu'alaikum...," Pamit Sora dan Almeer.


"Wa'alaikumsalam...,"


Sora dan Almeer keluar rumah. Disana sudah ada Sky dan Aga yang sedang bersandar di mobil menunggu kedatangan mereka. Pandangan Sora tertuju pada Aga, sorot mata sinis dan kesal tertuju pada pria yang sangat ahli menguasai diri itu.


"Aku tidak akan lagi percaya ucapanmu." Ujar Sora marah.


"Saya tidak pernah tahu tuan besar akan mengatakan hal itu, Nona." Aga membela diri.


"Cih! Seorang Mikhail Tyaga menjawab tidak tahu? itu konyol sekali!"


"Dia memang tidak tahu, Ra." Sky membela Aga.


"Dia punya mata dan telinga dimana-mana. Coba tanya aja berapa jumlah koloni semut yang ada di rumah ini, dia pasti bisa menjawabnya." Sentak Sora yang semakin kesal karena Sky membela Aga.


"Saya tidak punya terlalu banyak waktu untuk mencari tahu tentang mereka, Nona." Sahut Aga.


"Huh!!" Sora menggertakkan satu kakinya untuk meluapkan kekesalannya. Ia menarik kaos Aga agar menjauh dari pintu mobil belakangnya. "Minggir...," usirnya.


"Ayo Ga, buruan masuk."


Permintaan Sky membuat Sora mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, matanya menatap curiga pada saudaranya. "Ngapain dia ikut masuk?" tanya Sora, telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Aga.


"Dia yang nyetir lah, aku capek." Jawab Sky.


"Mending aku yang nyetir, dia gak boleh ikut!" Sentak Sora. "Sana sana...." Sora mengibaskan tangannya.


"Tuan Aga," Erni, kepala asisten rumah tangga keluarga Langit menghampiri Aga, "Tuan Besar memanggil anda." lanjutnya.


Aga menatap Sora dan Sky bergantian, ia tahu apa yang akan dibicaran Langit padanya.


Sora hanya melirik Aga sinis. Ia pergi ke pintu kemudi mobil, namun Almeer mengikutinya dan menahan pintu mobil.


"Biar aku yang nyetir, Ra." Kata Almeer.


"Gak apa, Al. Aku aja...,"


Almeer menggeleng, "Kamu bisa duduk dibelakang." Almeer membuka pintu belakang untuk Sora.

__ADS_1


"Udah, Ra. Buruan, panas nih." Ucap Sky dengan wajar gerahnya kemudian masuk ke dalam mobil.


Sora kembali menatap Almeer, ia segan membiarkan Almeer yang datang sebagai tamu malah harus menjadi sopir.


"Bu Erni, minta tolong panggilin Amar dong." Sora meminta bantuan untuk memanggil salah seorang sopirnya.


"Maaf, Bu. Tidak usah dipanggilkan." Cegah Almeer, kemudian ia memandang Sora. "Udah masuk aja, Ra."


Sora pun berpasrah dan masuk ke dalam mobil, Almeer juga langsung masuk kemudian melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah Sora yang luas itu.


Setelah melihat mobil yang membawa Sora sudah melewati pintu gerbang, Aga masuk ke dalam rumah dan menemui Langit di ruang kerjanya.


Tok tok tok


"Masuk, Ga."


Aga Membuka pintu ruang kerja langit. Terlihat pria paruh baya yang masih memiliki sedikit uban di rambutnya itu sudah duduk di kursi kekuasaannya. Wajahnya tegas dan dingin seperti biasa. Aga berjalan perlahan menghampiri Langit dan berdiri tepat didepan meja kerjanya.


"Ya, Tuan,"


Langit menyandarkan bandannya di sandaran kursi dan menatap Aga. Ia mengamati pria muda yang berdiri didepannya itu dari atas hingga bawah.


"Apa pendapatmu tentang Sora?" tanya Langit.


"Nona Sora terkejut dan tidak setuju dengan pernyataan anda, Tuan." Jawab Aga.


"Aku tidak sedang menanyakan tanggapan Sora, aku menanyakan bagaimana perasaanmu terhadap Sora.


Mata Aga terbelalak mendengar pertanyaan Langit. "Tu-tuan, saya...," Aga tergagap, ekspresi terkejut tergambar jelas di wajah pria berwajah datar, yang bahkan selalu bisa menguasai diri agar siapapun tak akan bisa membaca pikirannya.


"Aku bertanya sebagai orang tua Sora, bukan sebagai majikanmu." Kata Langit.


Aga menundukkan pandangannya.


"Aku tahu kau menyimpan perasaan untuk Sora."


"Maafkan saya, Tuan. Seharusnya saya sadar diri untuk tidak memiliki perasaan ini."


Langit menggeleng, "Jadilah menantuku."


Pupil mata Aga membesar mendengar permintaan Langit, ia perlahan mengangkat kepala dan memandang Langit. "Tuan...,"


"Setidaknya aku sudah tahu siapa kau dan seberapa tulus cintamu padanya."


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerima permintaan anda."


"Kenapa?"


"Sama seperti Almeer, latar belakang keluarga saya tidak baik untuk Nona Sora, Tuan."


Langit berdiri, ia menggelengkan kepalanya dan berjalanan ke jendela ruang kerjanya menatapi birunya kolam renang rumahnya.


"Karena almarhum orangtuamu hanya seorang pemulung?" tanya Langit.


Aga diam membenarkan pernyataan Langit.


"Terlepas dari latar belakang kedua orangtuamu, kau orang yang gigih. Dua perusahaanmu juga berkembang sangat bagus."


"Tuan, bagaimana anda bisa tahu tentang—"


Langit membalikkan badannya dan menghampiri Aga, "Aku yakin kau bisa membahagiakan Sora. Kau bisa mengimbanginya dan sabar menghadapi sifat-sifatnya arogan itu."


"Nona Sora tidak mencintai saya, tuan."


"Hahahaha..., itu karena kau selalu menghindarinya. Bagaimana bisa dia akan mencintaimu?" Langit menepuk bahu Aga dan membuat pria itu menunduk karena segan. "Aku ingin memberimu kesempatan."


"Berhenti bekerja di Actmedia dan urusi perusahaanmu sendiri. Dan..." Langit mencegah niat Aga untuk protes, "Jadilah pria gentle, dekati wanita yang kau cintai dan berhenti menganggapnya majikanmu."


"Tuaaan..."


"Ga!" Langit menatap Aga dengan tatapan yang serius, "Tolong bantu aku...," pintanya.


***


Trrt trrt,


Ponsel yang ada dibawah meja kasir bergetar. Gadis manis berkerudung putih itu langsung melengkungkan bibirnya mendapati ponselnya bergetar. Pesan yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi.


Ia menunggu balasan dari Mina tentang hasil lamaran kakaknya di Jakarta. Ameera meraba letak ponselnya setelah antrian pelanggan didepan meja kasir telah terlayani.


Ia membuka ponselnya untuk membaca pesan yang barusan masuk. Tak lama ia terbelalak. Astaghfirullahaladzim, batinnya. Satu tangannya menutup mulutnya.


"Mbak Meera kenapa, Mbak?" tanya pegawai wanita yang ada disamping Ameera.


"Ratna, jaga kasir bentar, ya. Aku mau pulang dulu." Pinta Ameera, tanpa menunggu jawaban Ameera berlari keluar cafe danenuju rumahya.


"Mamaaa, Mamaaaa!! Paaaaah!!"


Teriak Ameera, ia mencari keberadaan mama dan papanya di tiap ruang lantai satu rumahnya.


"Apaa, Meera?"


Mendengar anaknya berteriak membuat Hiko dan Ruby turun dari lantai dua.


"Maaa, Paaa!! Mas Al...," Ameera menunjukkan ponselnya pada Orangtuanya.


/Kak Meera, Maafkan kami. Lamaran kak Almeer ditolak papa. Papa marah dan menunjukkan beberapa foto masa muda orangtua kak Almeer. Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi papa pergi begitu saja./


"Astaghfirullahal'adzim...," Pekik Ruby karena kaget membaca pesan dari Mina pada Ameera.


"Ya Allah, Mas! Almeer, Maas...," Air mata Ruby meleleh seketika.


Hiko langsung memeluk istrinya, wajahnya gusar dan penuh kekhawatiran.


"Bagaimana bisa pak Langit menyinggung masalalu kamu dan Nara, Mas? Aku gak bisa bayangin bagaimana perasaan Almeer, dia sendirian dan—"


"Ruby..., tenangkan dirimu dulu..." Ucap Hiko.


Ruby menarik diri dari pelukan Hiko dan menatap suaminya geram, "Kamu suruh aku tenang ketika anakku disana sedang direndahkan orang lain, Mas?" Ujar Ruby, Ia memejamkan matanya, "Ya Allah, Naaak. Kenapa kamu harus mengalami hal seperti ini..."


Hiko kembali memeluk istrinya, "Ini salahku....," ucapnya lirih dan penuh penyesalan. Matanya berkaca namun air matanya tak sampai menetes. Sesak dihatinya membayangkan anaknya harus menerima perlakuan tak adil atas kesalahannya. Ia mengeratkan pelukannya pada sang istri, memejamkan matanya dan berusaha menepis kegelisahan.


"Kita harus ke Jakarta, Mas." Ucap Ruby, ia melepaskan pelukan suaminya.


Hiko mengangguk setuju, ia mengusap air mata di pipi istrinya. "Iya, kita kesana."


Hiko memandang putrinya yang juga terisak merapati nasib kakaknya. Ia ganti mengusap air mata dipipi Ameera. "Insyaa Allah mas mu bisa melewati semua ini, Meera."


Ameera mengangguk.


"Bisa kamu mintakan pada Mina alamat rumah mereka di Jakarta. Papa harus menemui orangtua Sora." Pinta Hiko.


"Ya, Pa..."

__ADS_1


"Kamu mau ikut ke Jakarta, Sayang?" tanya Ruby pada putrinya.


"Enggak, Ma. Meera disini saja, Meera do'akan yang terbaik saja untuk mas Al dan mbak Sora." Jawab Ameera.


Ruby mencakup pipi putrinya dan mencium keningnya.


"Meera pesankan tiket yg paling cepat ya, Ma."


Ruby mengangguk, "Iya, Sayang."


***


Sebuah sedan mewah terhenti di halaman parkir pondok pesantren Darul Hikmah. Almeer segera keluar dari mobil, Sora ikut turun dari mobil dan memberikan tas ransel milik Almeer pada pemiliknya.


"Kau tidak mau mampir, Sky?" tanya Almeer pada Sky.


"Kalau kau sudah memanggilku kakak, aku akan mampir ke tempatmu." Sky mengangkat kedua alisnya, menatap Almeer penuh kemenangan.


Almeer langsung menutup pintu mobil, mengabaikan pria menyebalkan yang ada didalam mobil itu.


"Dia gila hormat, abaikan saja dia." Sora bergidik geli dan menyebikkan bibirnya melihat kelakukan saudara kembaranya.


Almeer tersenyum melihat tingkah Sora, melihat itu Sora tertunduk malu.


"Aku senang bisa melihat Kianga Sora yang ku kenal kembali." Ujar Almeer.


Sora mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis, ia menatap Almeer menelisik sesuatu. "Apa kamu baik-baik saja, Al?" tanya Sora.


Almeer mengangguk, "Aku baik-baik saja."


Sorot mata Sora masih diselimuti keraguan, "Bukankah tidak apa-apa jika kamu bilang sedang tidak baik-baik saja, Al? kamu bisa membaginya denganku."


Almeer menggeleng dan tersenyum. "Masuklah..., cuacanya sangat panas, kamu bisa pusing jika terlalu lama di luar."


Sora tak bergeming, ia menunduk, menggesek-gesekkan satu alas flatshoes-nya di atas tanah berdebu itu.


"Apa yang membuatmu resah? kamu bisa katakan padaku, Sora." Kata Almeer.


"Apa kamu akan menyerah, Al?" tanya Sora tanpa mengangkat wajahnya.


"Apa aku terlihat sedang menyerah?"


Sora mengangkat kembali wajahnya dan menatap Almeer, "Aku takut kamu menyerah. Papaku sudah menyakitimu."


"Aku hanya sedang tidak percaya diri, Sora." Jawab Almeer, "Kamu mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari kedua orangtuamu, semua fasilitas mewah ada dalam genggamanmu, kamu bisa mendapatkan apapun hanya dengan sekali ucap dan sekali tunjuk. Aku takut jika kamu hidup denganku, kamu akan kehilangan itu semua."


"Jangan bicara seperti itu, Al. Mungkin susah awalnya, tapi aku akan berusaha. Aku akan berusaha mengimbangimu, hidup seperti yang kamu inginkan."


Almeer menggeleng, "Enggak, Sora. Insyaa Allah jika diperkenankan kamu menjadi istriku, aku dan kamu kelak akan menjadi kita. Aku tak perlu meninggikan standartku, kamu tak perlu menurunkan standartmu. Tapi kita akan saling mengisi."


Sora mengembangkan senyumnya dan mengangguk cepat. "Jadi kamu tidak akan menyerah, Al?" tanya Sora lagi.


Almeer mengangguk, "Tentu, aku akan berusaha sampai Allah menyuruhku untuk berhenti."


"Bagaimana kamu tahu jika Allah menginginkanmu untuk berhenti?"


Almeer mengangkat kedua bahunya, "Entah,"


"Ih...," Sora melirik sinis pria yang sedang tertawa kecil itu.


"Allah punya banyak cara untuk berbicara dengan kita."


"Aku akan berusaha membantumu, Al."


"Kamu hanya perlu menunggu dan mendo'akanku, Sora. Bersikap baiklah pada papamu, jangan menyakitinya dengan membelaku didepannya. Saat ini kamu adalah putrinya, baktimu padanya adalah nomor satu."


"Al...," panggil Sora, pipinya bersemu merah.


"Ya?"


"Sagara Almeer...,"


Almeer tersenyum lembut, "Ya, Kianga Sora?"


"Aku mencintaimu..." Ucap Sora dengan senyum lebar dan pipi merah menahan malu.


"Hahahaha..." Almeer tertawa kecil mendengar pernyataan cinta Sora. "Kenapa bisa kamu seterus terang ini, Ra?"


"Heh, biji sawi!!" Sky keluar dari mobil, "Buruan dong!! Kau mau bikin aku jadi manusia panggang didalam sini!?" Sentak Sky.


"Hih! Berisik! Ganggu aja!" Balas Sora khas dengan kejutekannya.


"Buruan masuk!"


"Iya iya!" Sora memayunkan bibirnya dan mengubahnya menjadi senyuman ketika menatap Almeer. "Aku pulang dulu ya, Al." pamitnya.


Almeer mengangguk, "Terimakasih sudah mengantarku."


"Sama-sama, Al." Sora membuka pintu kemudi.


"Loh, kamu yang nyetir?" tanya Almeer.


"Jika bersama Sky, aku menjadi dayang dan dia putra mahkota yang maha benar." Sora melirik malas ke arah Sky.


Almeer mencoba mengerti, "Hati-hati, Ra."


"Hmm.., Assalamu'alaikum, Al."


"Wa'alaikumsalam, Sora."


Sora pun masuk ke dalam mobil dan melajukan Mobilnya meninggalkan halaman parkir pesantren Darul Hikmah.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO DULU, DIBACA!


Tumben up nya malem?


Hiya! Author lagi punya tugas nganter ibu suri kembali ke kerajaannya yang berjarak ratusan kilometer dari rumah author. Sekarang aku up, tapi besok aku OFF dan GAK up karena mau bobok cantik seharian.


Yang pada bingung kenapa belom ku acc masuk grub.


Sabar, jempolnya author cuma dua biji. Yang masuk kroyokan, jadi atu atu ya dan sabaaaaar.

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf kuh.


__ADS_2