
"Lambung Almeer sangat sensitif sama yang pedas-pedas, Ra. Pasti dia habis makan yang pedas-pedas," ujar Moza, "ya kan, Al?" tanya Moza pada Almeer.
Sora mendengus kesal mendengar pernyataan Moza, ia menatap sinis wanita yang sedang berdiri didepannya itu kemudian menatap Almeer.
"Sepertinya dia tahu banyak tentangmu, Al?" tanya Sora, sinis dan kesal.
"Kami udah bersama hampir empat tahun, aku kenal banget siapa dia. Dia gak bisa minum soda, gak bisa sama makanan ped—"
"Moza!" Al memotong kalimat Moza, ia menatap wanita itu dengan tegas, "Sora istriku," ucap Almeer.
Moza tercekat mendengar ucapan Almeer, "kamu udah nikah, Al?" Moza memastikan, ia melirik Sora yang terlihat kesal padanya.
"Kemarin lusa aku menikah, Za," jawab Almeer.
Moza tertawa kesal.
Almeer mengangguk, "aku tahu tujuan kita sama, tapi bisakah kamu meninggalkanku dan istriku, Za?"
"Bukankah itu terlalu kejam buatku, Al?" tanya Moza, ia masih tak menyangka Almeer akan mengusirnya begitu saja.
"Terimakasih sudah membantuku tadi," ujar Almeer.
Moza mendengus kesal kemudian meninggalkan Almeer dan Sora.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Al?" tanya Sora.
Almeer menggeleng, "Aku sudah beli minum obat lagi tadi, insyaAllah akan segera membaik, Ra."
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu gak bisa makan pedes? tau gitu kan tadi bumbu mienya gak aku campur, Al." Sora terlihat resah.
"Gak apa, tadi juga aku lupa bilang. Waktu aku mau bilang, ternyata bumbunya udah kamu tuang." Almeer mengusap kepala Sora.
"Kesel tau lihat ada cewek lain yang lebih kenal kamu. Padahal aku istrimu!" keluh Sora.
"Maaf ya, Sora."
Sora mengangguk, tapi wajahnya masih terlihat kesal. "Dia tinggal di Malang?" tanya Sora.
Almeer mengangguk, "dia jadi asisten dosen di salah satu universitas di Malang, Ra."
"Kalian sering bertemu di Malang kemarin?" tanya Sora.
"Enggak, kami baru pertama kali ketemu di wisuda Mina kemarin," sergah Almeer, ia takut Sora berpikir macam-macam.
Sora terdiam, menatap Almeer. Sorot mata Almeer memang tidak menunjukkan sebuah kebohongan dan Sora mempercayainya. Tapi tetap saja ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, tetapi ia tak bisa mengeluarkannya.
Almeer menarik tangan Sora dan menggenggamnya, "kamu tidak percaya padaku, Ra?" tanya Almeer.
Sora menggeleng, "aku percaya padamu, Al."
"Kamu sedang memikirkan sesuatu, Sora."
"Iya, mungkin lain kali akan ku tanyakan padamu. hihihi." Sora menunjukkan gigi-giginya.
Almeer tersenyum melihat Sora sudah meninggalkan kekesalannya.
"Biarkan aku mengenalmu, Al," pinta Sora, ia mengambil tisu dari dalam tasnya dan menyeka keringat di kening Almeer.
Almeer mengangguk, "iya, Ra. Kamu bisa mengenalku ..., luar dan dalam."
"Ih!" Sora memukul lengan Almeer, "gak usah mulai deh, banyak orang nih ...," gerutu Sora.
"Kamu ini gimana sih, Ra. Aku udah ngebolehin kamu mengenal aku, kok malah kamu yang sebel sebel gini."
"Udah, jangan di bahas. Ku cubit kamu nanti," ancam Sora, jemarinya sudah siap mencubit Almeer jika suaminya tak berhenti menggodanya.
"Aku kan sakit, Sora. Apa kamu tega menyakitiku?" Almeer mengiba pada istrinya.
"Ih, ku cubit beneran, nih!" ancam Sora lagi.
"Ampun-ampun, enggak deh. Aku diem aja." Almeer mengangkat kedua tangannya.
"Awas jahil lagi!"
Almeer tersenyum gemas melihat ekspresi Sora yang kesal karena digodanya. Ia meneguk air mineral yang diberikan Moza padanya tadi.
"Jadi gimana? Kamu mau panggil aku Kakanda Sagara Almeer?" Pria itu tak henti menggoda istrinya.
"Apa-an, emangnya ini jaman majapahit?" gerutu Sora.
"Trus?"
Sora menatap Almeer lekat-lekat, "kamu punya panggilan apa buatku?" tanya Almeer.
"Kianga Sora," jawab Almeer.
"Itu memang namaku, Al," Kata Sora.
"Hahahaha, aku suka dengan namamu itu, Ra. Sora Sora Sora Sora." Almeer memanggil nama Sora dengan mencubit kedua pipi Sora dengan gemas.
"Haruskah aku memanggilmu, Mas Almeer?" tanya Sora, "lidahku masih kelu,"
"Lalu aku panggil kamu, Dik Sora?" goda Almeer.
"Hahaha, aku geli mendengarnya." Sora memukul paha Almeer beberapa kali.
"Udah, ah. Panggil seperti biasa saja, aku lebih nyaman kamu memanggil namaku, itu lebih terdengar mesra."
"Apa keluargamu tidak akan marah?" tanya Sora.
"Enggaklah, Ra."
"Baiklah, kita sepakat tidak mengganti panggilan satu sama lain, ya?" tanya Sora.
Almeer mengangguk, "Iya—"
"Perhatian, para penumpang Puyuh Airlines dengan nomor penerbangan PY-808 tujuan Malang silahkan menuju ke dalam pesawat melalui pintu A10, terimakasih."
Kalimat Almeer terpotong dengan pemberitahuan dari pihak bandara jika pesawat yang akan membawanya ke kota Malang telah tiba.
"Pesawat kita, Al?" tanya Sora, ia melihat boarding pass yang baru ia keluarkan dari dalam tas. "Iya, Al. Betul, ayo!"
Almeer mengangguk, mereka berdua menuju ke pintu yang telah disebutkan. Tentu saja mereka berbarengan dengan Moza, wanita itu hanya melirik sebentar ke arah Sora dan Almeer kemudian mengabaikan mereka. Tapi tidak dengan Sora, ia terus mengawasi Moza meskipun Almeer berulang kali mengalihkan perhatiannya.
***
Matahari belum sampai di tengah-tengah peraduannya ketika Sora dan Almeer keluar dari pintu kedatangan bandara Abdurrahman Saleh kota Malang. Terlihat Haqy dan Ameera sudah ada disana untuk menjemput Sora. Mereka pun segera pulang menuju ke pesantren.
Tiba di pesantren Al-Mukmin, Sora dan Almeer disambut keluarga besar Almeer, para pengurus pondok pesantren dan beberapa santri putra maupun putri. Bimo dan Lala juga terlihat disana melambaikan tangan pada Sora, Sora terlihat lega karena ada om dan tantenya yang ikut bergabung menyambut kedatangannya.
Sebuah tenda besar dengan berbagai menu prasmanan juga kursi-kursi terjajar rapi dibawah tenda menjadi tanda akan digelarnya syukuran atas pernikahan kedua cucu dari pemilik pesantren Al Mukmim itu.
Iringan musik marawis serta shalawat nabi menemani langkah dua pengantin baru itu, senyum sumringah melebar di bibir orang-orang yang menyambut mereka.
__ADS_1
"Al, aku malu ...," bisik Sora, ia mencengkram lengan Almeer kuat-kuat.
"Sama, tapi kita harus hargai usaha mereka untuk menyambut kita," jawab Almeer lirih.
Sora mengangguk.
"Pertama kali sapa dulu Kyai Nur, yang paling sepuh duduk di tengah itu. Itu adiknya Kyai Abdullah, Abinya mama Ruby," jelas Almeer lirih.
"Pamannya mama Ruby, ya?" tanya Sora.
Almeer mengangguk, "nanti kalau salaman sama semua orang, yang cewek-cewek aja boleh bersentuhan atau cium tangan, ya. Kalau yang cowok gak perlu sampai bersentuhan, kecuali sama Papa. Kalau ku jelasin sekarang bakal ribet."
"Oke oke, Al." Sora mengangguk mengerti.
Sora menuruti semua pejelasan Almeer sebelumnya. Menyapa setiap orang disana sesuai dengan perintah Almeer. Do'a-do'a dari keluarga besar dan pengurus pesantren menyertai mereka.
Acara dilanjutkan dengan makan-makan sambil menunggu adzan dhuhur berkumandang. Sora dan Almeer berkumpul dengan keluarga inti. Iqbal dan Azizah ikut ada disana bersama Kanaya dan kedua orangtuanya. Ruby sedari tadi menjelaskan silsilah keluarga mereka,
"Jadi kedua orangtua Mama Ruby sudah tiada, jadi Kyai Nur yang menjadi pengasuh ponpes ini?" tanya Sora yang sudah mendapat kesimpulan.
Ruby mengangguk, "Iya, Nak."
Sora mengangguk mengerti.
"Semoga betah tinggal disini ya, Nak Sora," ucap lirih Kyai Nur dengan suaranya yang sudah serak.
"Iya, Pak Kyai. InsyaAllah saya betah," sahut Sora, berusaha menjawab dengan selembut mungkin.
"Mohon maaf ya Pak kyai, ustadz, gus dan ning." Bimo membuka percakapan serius, "kalau saja nanti dalam keseharian keponakan saya belum bisa menjaga lisan maupun tingkah lakunya. Mohon di maafkan ...," pinta Bimo.
Kyai Nur melambaikan pelan, "jangan di khawatirkan, dia anak baik. Sudah kelihatan ...," jawab Kyai Nur.
"Terimakasih Kyai, terimakasih." Bimo menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Gak usah mengkhawatirkan tingkah laku orang, biar saja dia jadi diri sendiri. Semua orang punya sisi baik buruknya. Kalau memang dasarnya sudah baik, mau tingkahnya seperti apa juga tetap akan memberi kebaikan untuk sekitarnya," tutur Kyai Nur.
Sora menatap Almeer dan tersenyum lebar, "yang dimaksud kakekmu itu, aku," bisiknya.
"Ssstt ...," Almeer berdesis kemudian mengerjapkan matanya memberi isyarat agar istrinya tidak berbicara.
"Oke oke!" jawab Sora tanpa suara dan segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Al, sementara tinggal di rumah tamu ya? tahu sendiri kan kamar di rumah gak cukup," kata Ruby.
"Iya, Ma." Almeer mengangguk.
"Biar nyaman kan kalau pengantin baru bisa tinggal dirumah sendiri," goda Iqbal.
"Oom tau aja," sahut Almeer.
"Al!" Sora yang malu segera mencubit pinggang suaminya, tentu saja membuat gelak tawa keluarga mereka.
Percakapan dan ramah tamah mereka berlanjut dan terhenti saat melaksanakan sholat dzuhur. Usai sholat dzuhur para jama'ah ikut dipersilahkan untuk menikmati hidangan dan tasyakuran pernikahan dua cucu pondok pesantren tersebut.
***
Usai sholat ashar, ketika semua orang masih disibukkan dengan membereskan halaman depan yang usai dijadikan tempat ramah tamah tasyakuran pernikahan kakak beradik itu, Ameera mengajak Sora untuk berkeliling rumah utama dan rumah tamu.
"Enak banget Meera disini, ada kolam ikan ditengah rumah. Tenang banget rasanya," ucap Sora ketika berkeliling di rumah Ruby.
"Iya, Mbak. Nyaman banget rumah Abi," jawab Ameera, "tapi Sayangnya kamarnya cuma dikit, jadi kita ngungsi di rumah tamu, Mbak," lanjutnya.
"Kalau sarapan dan makan malam wajib kumpul disini ya, Mbak. Udah jadi aturan disini kalau sarapan sama makan malam harus sama-sama. Kalau siang sih bebas." Ameera memberikan penjelasan ketika mereka sampai di dapur.
"Iyap, Mbak!"
Ameera melanjutkan langkahnya menuju ke belakang rumah, "Dan disini buat nyuci baju, jemurnya disini. Tapi kalau kita kan tinggal di rumah sana ...," Ameera menujuk ke beberapa rumah tak terlalu besar yang terlihat dari halaman belakang rumah utama, "... jadi gak nyuci sama jemur bajunya disana aja, Mbak."
"Oke oke,"
"Lanjut yuk, Mbak," ajak Ameera, ia membimbing langkah Sora lewat halaman belakang menuju ke rumah yang akan ditempati Sora.
"Ini rumah yang buat Mbak Sora dan Mas Al tinggal sementara, sebelum rumah mas Al yang asli di beresin," jelas Ameera setelah sampai di rumah tamu.
"Nyenengin ya rumahnya," ujar Sora ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Sempit ya, Mbak? Ukurannya sama seperti kamar Mbak Sora di Jogja."
"Tapi nyenengin banget, Meera. Punya rumah segini tuh enak. Gak capek bersih-bersihnya, mau ke ruangan satu ke ruangan lainnya gak jauh," jawab Sora.
Ameera mengajak Sora ke kamar pertama, "Koper Mbak Sora sama mas Al udah disini,"
"Makasih, Meera."
Ameera melanjutkan langkahnya ke dapur, "peralatan masak dan peralatan makannya cuma dikit, Mbak. Nanti kalau butuh apa-apa ambil aja di ndalem,"
"Dalem, mana?" Sora celingukan, pandangannya menyusuri dapur kecil itu.
"Ndalem sebutan rumah utama, Mbak. Hehe, maaf Meera lupa pake istilah disini."
"Oooh, oke oke." Sora menganggukkan kepalanya.
"Nyuci baju kalau disini langsung di kamar mandi ya, Mbak."
Sora masih celingukan mencari sesuatu, tapi ia tak juga menemukan sesuatu yang dicarinya disana.
"Gak ada mesin cuci disini, Mbak. Adanya di ndalem, hihihihi." Ameera seakan mengerti apa yang sedang dicari kakak iparnya itu, "Kalau mbak gak bisa nyuci pakai—"
"Gak apa, Meera! Aku bisa kok nyuci pakai tangan," sergah Sora penuh keyakinan.
"Serius, Mbak?" tanya Ameera.
Sora mengangguk tegas, "iya, Meera. Aku bisa, jangan khawatirkan itu."
***
"... setelah menunggu sepuluh menit, kotoran di dalam baju akan mulai terangkat. Saat itulah kita masuk ke langkah selanjutnya, kita ambil satu baju dan mulai—"
"Nonton apa sih?"
"Astagfirullah, Al!" Sora terkejut sampai menjatuhkan ponselnya diatas pangkuannya.
Almeer terkekeh melihat Sora yang sedang bersantai diatas tempat tidur malah terkejut dengan kehadiran dia.
"Serius banget sampai gak jawab salam aku," keluh Almeer. Ia melepas sarung yang belum ia tanggalkan sejak sholat isya' tadi kemudian menghampiri istrinya.
"Maaf, Al. Aku gak dengar," jawab Sora, tangannya langsung menekan tombol pause di layar ponselnya.
"Lihat apa sih?" Almeer mengintip layar ponsel istrinya, mamun Sora segera menyembunyikannya di balik punggungnya.
Almeer menatap curiga istrinya, "lihat turtorial apa itu? kamu gak lagi lihat yang aneh-aneh kan?" goda Almeer dengan menatap jahil istrinya.
"Jangan mikir macem-macem, deh."
__ADS_1
"Ya kali aja kamu butuh turtorial, trus nyari-nyari—"
"Iiiih, enggak, Al." Sora menunjukkan ponselnya, "tuh lihat,"
"Hahaha," Almeer tertawa keras ketika melihat layar ponsel Sora, "cara benar mencuci baju menggunakan tangan," Almeer membaca judul video di layar ponsel Sora.
Almeer duduk di depan Sora dan mengacak beberapa kali rambut Sora yang sudah tergerai, membuat Sora manyun dan berusaha merapikan rambutnya dengan jari-jarinya.
"Kamu mau nyuci baju?" tanya Almeer, "di dalem kan ada mesin cuci, kamu bisa pakai itu."
Sora menggeleng, "aku mau belajar nyuci pakai tangan aja, Al. Biarin aku belajar ya ...," pinta Sora.
Almeer tersenyum dan mengangguk, "gak usah pake lihat video di sini, aku bisa langsung ajarin kamu."
"Boleh boleh, biar romantis ya, Al." Sora tersenyum gemas.
Almeer mengangguk, "mau praktek yang lain juga bisa, mau di coba sekarang juga aku siap," goda Almeer.
"Emang kamu udah ahli? Pakai mau ngajarin ..., mencurigakan!" Sora melirik sinis.
"Aku kan udah khatam kitab Qurrotul Uyun, Ra. Khatam teorinya, prakteknya langsung ke kamu. Hahahaha ...," Almeer tertawa sambil mencubit kedua pipi istrinya.
"Qurrotul Uyun itu apa, Al?"
"Kitab favoritnya para Santri, hahahaha." Jawaban Almeer ditutup dengan gelak tawa.
"Apa sih? Aku gak paham nih."
Almeer mencakup kedua pipi Sora, "Masih sakit?" tanya Almeer serius.
Sora menggeleng, "udah enggak,"
Almeer tersenyum dan memberi kecupan singkat di bibir Sora, "kita sholat dulu, yuk!" ajak Almeer.
"Lagi?" Sora terbelalak.
"Gak mau?"
Sora menggeleng cepat, "bukan-bukan! Cuma ...,"
"Cuma, apa?"
"Aku masih malu sama kamu, Al."
Almeer tersenyum jahil, "nanti kalau sudah dijalanin gak bakal malu, kok."
Almeer mengambil ponsel dari tangan Sora dan meletakkannya di atas bantal kemudian mengajak Sora ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Usai wudhu mereka segera melaksanakan sholat sunah dua rakaat dan menutupnya dengan do'a.
trrt trrrt
Ponsel Sora yang ada diatas bantal bergetar.
Setelah menyelesaikan melipat mukenah, ia mengambil ponselnya dan duduk diatas tempat tidur membaca pesan yang masuk.
Almeer melihat istrinya sedikit terkejut ketika membaca pesan masuk di ponselnya, "kenapa, Ra? kok kaget gitu?" tanya Almeer, tangannya mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup.
"Oooh, Aga besok—"
Kalimat Sora terputus ketika Almeer mengambil ponsel dari tangan Sora kemudian meletakkannya diatas meja.
Almeer mendorong pelan tubuh Sora hingga terbaring diatas tempat tidur kemudian menindihnya. Satu sikunya menyangga badannya dan satu tangannya lagi ia buat membelai rambut Sora.
"Al, itu ...." Sora melirik ponselnya diatas meja.
"Aku tidak mau dia mengganggu waktu kita," sahut Almeer, matanya tajam menatap Sora.
Sora tercekat, ia belum mempersiapkan diri tetapi suaminya sudah mulai menyerangnya.
"Sekarang, waktu antara kamu dan aku. Jangan pikirkan orang lain," bisik Almeer.
Sora mengangguk.
Almeer tersenyum, ia mulai mengecup bibir Sora. Kecupan itu berubah menjadi ******* dan gigitan kecil.
Sora memindahkan tangannya di leher Almeer dan mulai membalas ciuman Almeer, keduanya saling menikmati ciuman itu. Bermain lidah dan saling ******* bibir.
"Emhh, Al ...." Sora mendesah ketika bibir Almeer mulai menyusuri lehernya,
Tangan Almeer menyusup masuk dibalik baju piyama Sora, meraba perut rata milik Sora tanpa melepaskan ciumannya di leher Sora.
"Al ...," pekik Sora tertahan ketika Almeer memberikan kissmark di lehernya berbarengan dengan jemari Almeer yang mulai bermain di bagian dadanya.
Almeer tersenyum , gairahnya semakin memuncak mendengar desahan istrinya yang memanggil lembut namanya diantara kenikmatan yang ia berikan.
Almeer kembali menciumi bibir Sora, wanita itu terpejam dan hanya menikmati sentuhan suaminya. Almeer keluar dari balik baju Sora dan mulai melepas kancing baju Sora.
"Al ...," panggil Sora ketika Almeer melepaskan ciuman dibibirnya.
"Hmm?"
"Pelan-pelan, ya ..." pinta Sora.
Almeer tersenyum menatap istrinya, "iya, Sora ....,"
Adegan berlanjut ke tingkat profesional, episode ini cukup sampai disini.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Info dulu!
Bagi yang tanya kenapa belom di acc masuk grub. Ku jelaskan lagi.
**BACA ATURAN MASUK GRUB DI EPS. TERAKHIR NOVEL SENJA DAN SPK.
JANGAN LUPA SELALU TINGGALIN JEJAK DI KOLOM KOMENTAR YA BIAR AKU TAHU KAMU PEMBACA NOVEL KU APA BUKAN**.
KARENA GRUB KU BUAT KHUSUS UNTUK PEMBACA NOVELKU, BUKAN UNTUK YG (MAAF) CARI POIN AJA.
DISANA LEBIH BANYAK HALUNYA KETIMBANG NEBAR POIN. OKE, DARIPADA NANTI KALIAN MASUK KECEWA LOH.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku
__ADS_1