
"Aku jelasin di dalam ya, Bie," kata Sora.
Almeer mengabaikan istrinya dan terus menatap Aga tak ramah.
"Dia hubungin aku, jadi aku datang menjemputnya."
Jawaban Aga membuat Almeer sedikit terkejut dan menatap istrinya.
Sora berdecak kesal menatap Aga, "Ga! pulang deh pulang! Benerin mobilku besok,"
"Nggak, Sayang. Biar aku yang urusi keperluanmu," ucap Almeer sangat tegas.
"Iya, Bie ... iya," sahut Sora. "Kita masuk aja, Bie," ajak Sora, ia menarik tangan suaminya tapi pria itu masih enggan kembali masuk.
"Terimakasih sudah membantu istriku," ucap Almeer dengan wajah yang tak ramah.
Aga tak memberikan jawaban, ia melirik Sora yang sedari tadi memberi isyarat untuk segera pergi dan ia pun segera masuk ke dalam mobil.
Almeer merangkul bahu istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam. Mereka tak pergi ke kamar, melainkan langsung menuju ke meja makan.
"Rotinya udah dingin, Sayang," ucap Almeer ketika membuka tempat roti kukus pesanan Sora.
"Maaf ya, Bie. Aku pulangnya telat," ujar Sora.
Almeer mengangguk, ia dan Sora segera duduk di kursi meja makan.
"Aku khawatir banget, telepon kamu tiba-tiba terputus dan aku hubungin gak bisa. Sampai aku telepon Sky, minta nomor tante Mia trus aku dikasih nomor Priska, katanya kamu udah pulang dari tadi. Aku panik banget loh, Sayang,"
"Iya, bateraiku habis, Bie. Aku tadi nyasar gak tau di mana. Sampai di perkebunan, gelap dan cuma ada satu rumah di sana. Mau pinjam charger tapi orangnya cuma punya charger hape jadul gitu. Trus, aku disuruh telepon orang yang ku kenal aja ...,"
"Jadi kamu lebih milih telepon Aga dibanding aku?" tanya Almeer.
Sora meraih tangan Almeer dan menggenggamnya, "aku terpaksa, Bie. Maaf ya, Bie ...." Sora diam sejenak ragu ingin menjelaskan, "karena aku gak hapal nomor hape kamu makanya aku telepon Aga. Cuma nomor dia yang aku inget,"
Almeer diam, menatap istrinya datar.
"Bie ...." Sora menggoyang punggung tangan Almeer.
Almeer menghela napas panjang, "aku tidak bisa marah padamu. Kamu memang lebih lama kenal dengannya dibanding denganku, wajar jika kamu lebih mengingat nomor teleponnya dibanding nomor teleponku."
"Bie, maafin aku ya ..., insyaAllah ke depannya aku bakal inget-inget nomor kamu,"
Almeer tersenyum dan mengangguk, "makan bolu kukusnya dulu gih."
"Makasih ya, Bie," ujar Sora.
"Mau ku bikinin teh?" tanya Almeer.
Sora menggeleng cepat, "gak usah, Bie. Gak usah! aku minum air putih aja." Ia mulai menggigit bolu kukus yang dibelikan suaminya.
"Masih enak?" tanya Almeer.
Sora mengangguk, "iya ..., yang bikin pasti bapaknya ini."
"Gimana tadi meeting sama client kamu yang dari kediri itu? rumit ya sampai kelarnya malem?" tanya Almeer.
"Enggak, kok. Dari orangnya kejebak macet, trus kami mulai rapat habis ashar,"
"Lama banget, Sayang?"
"Iya, makanya sampai baterai hape aku habis," keluh Sora, "mana ketemu tante Clara disana, Bie!"
"Oya? Ngapain dia?"
Sora mengangkat kedua bahunya dan menyebikkan bibirnya, "aku gak mau tahu urusan dia," jawab Sora malas. "Oiya, ada Cloe dan Moza juga," imbuhnya.
"Ooh ...,"
"Sebel juga sama Cloe, dia gak tau apa-apa malah ngatain aku," gerutu sora, ia melahap habis roti bolu ditangannya.
"Ngatain gimana?" tanya Almeer.
"Tante Clara tuh narik tanganku, aku kan jijik banget dia sentuh, ku tepislah sampai dia jatoh!"
"Astaghfirullah, Sayang .... Kok sampai gitu sih? Tante Clara kan udah tua, sakit juga, lemah. Meskipun ka—"
"Aku gak suka kamu bela dia ya, Bie!" Sergah Sora. Ia menatap suaminya kesal dan pergi meninggalkan meja makan.
"Sayang ...," panggil Almeer, namun Sora tak mempedulikannya dan terus melangkah menuju ke lantai dua.
Almeer membereskan sisa bolu kukus yang baru dimanakan satu potong oleh istrinya itu, kemudian ia pergi menyusul istrinya ke kamar.
"Sayang ..., Kianga yang cantik." Almeer mendekati istrinya yang sedang duduk didepan meja rias melepas kerudungnya.
Sora hanya diam kesal, bibirnya cemberut, tangannya sibuk mengusapkan tisu yang sudah dibasahi micerall watter untuk membersihkan kotoran yang menempel di wajahnya.
Almeer menyandarkan punggungnya di dinding, tepat disamping meja rias Sora. Kedua tangannya bersedekap didada, bibirnya mengulas senyum manis mengiringi tatapan lembut pada istrinya.
"Aku ngambek nih, Bie ...," ujar Sora yang mulai salah tingkah dipandangi terus menerus oleh suaminya.
"Trus kalau ngambek mau diapain nih?" tanya Almeer.
Sora menghentikan aktivitasnya, "tuh kan makin sebel aku sama kamu, Bie."
Almeer tertawa kecil dan mengacak rambut istrinya, "aku tuh bukan belain tante Clara, Sayang. Justru aku tuh khawatirin kamu."
Sora hanya melirik curiga pada Almeer, menuduh suaminya pasti hanya beralasan.
__ADS_1
"Kalau kamu berbuat seperti itu didepan umum, semua orang akan nge-judge kamu loh," lanjut Almeer.
"Biarin, mereka kan gak tau yang ku lalui. Suka suka merekalah, ketemu juga cuma sekali," sahut Sora, ia menuntaskan membersihkan wajahnya dan merapikan rambutnya.
"Sayang ...."
Sora menatap suaminya.
"Apa kamu belum bisa mengikhlaskan semuanya? Semuanya sudah terjadi di masalalu, Sayang."
Sora hanya diam dan menatap Almeer dengan tatapan kesal.
"Gak ada baiknya nyimpang dendam, Sayang," bujuk Almeer.
"Aku gak dendam sama dia, Bie! Aku cuma gak bisa lupain kejahatan dia di masalalu. Aku gak ada niatan balas dia, kok," sangkal Sora.
"Sayang—"
Sora berdiri dari duduknya, "Enggak, Bie!" tolak Sora, "jangan paksa aku untuk lakuin hal yang gak ku sukai," lanjutnya.
Almeer menatap pasrah istrinya. Ia hanya mengusap kedua lengan istrinya dan menganggukkan kepalanya.
"Jangan pernah bela dia didepanku, Bie ...," pinta Sora.
"Iya, Sayang...,"
"Aku mau mandi dulu ya, Bie," pamit Sora.
"Iya, Sayang" sahut Almeer. Ia memandangi istrinya yang pergi keluar kamar untuk mandi.
***
Pagi ini ada yang berbeda dengan Sora. Usai sholat subuh ia selalu membantu Siti untuk menyiapkan sarapan, tapi kali ini tak seperti biasanya, dia kembali ke tempat tidur dan meringkuk di balik selimut.
"Kamu gak enak badan, Sayang?" tanya Almeer, ia memeriksa kening Sora, "gak panas?" gumamnya.
"Gak tau, Bie. Dari tadi aku kerasa capek banget. Lemes, mual gitu. Perutku gak nyaman banget," keluh Sora.
"Aku bikinin teh panas, ya?"
"Gak usah, Bie. Biar aku nanti bikin sendiri,"
"Udah udah, kamu istirahat aja, ya. Nanti biar aku sendiri aja yang urus mobil kamu, kamu di rumah aja."
"Nanti kalau aku enakan, aku ikut, Bie."
"Udah, kamu istirahat aja dulu, Sayang. Aku tinggal ke bawah bentar, ya."
Sora menganggukkan kepalanya, "Iya, Bie," jawabnya.
Almeer pergi ke bawah dan menuju dapur. Siti sudah ada disana menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.
"Gak apa, Mas Al. Saya itu suka gak enak kalau dibantuin Mbak Sora. Takut tangan mulusnya kena pisau,"
"Bu Siti ini bisa aja,"
Siti melirik Almeer yang sedang memasukkan gula dan satu kantong teh celup ke dalam gelas, "tumben Mas Al bikin teh pagi-pagi?" tanya Siti.
"Buat Sora, Bu. Dia bilang gak perutnya gak nyaman, mungkin masuk angin. Semalam dia di Batu, udaranya kan dingin."
"Atau mungkin mbak Sora hamil, Mas?"
Almeer terdiam sejenak kemudian menatap Siti. "Tanda-tanda orang hamil gimana, Bu Siti?" tanya Almeer.
"Beda-beda tiap orang, Mas. Ada yang pusing, ada yang badan sakit semua, ada yang—"
"Hoek!"
Percakapan Almeer dan Siti terhenti sejenak, mereka saling menatap ketika mendengar suara Sora yang sedang muntah di kamar mandi lantai dua.
"Nah, ada yang seperti itu, Mas," lanjut Siti.
"Bu Siti, tolong bantu lanjutin bikin teh ya. Saya keatas dulu."
Almeer segera berlari panik ke lantai dua. Ia melihat Sora yang sedang membungkuk di wastafel kamar mandi. Ia segera menghampiri dan mengusap punggung istrinya agar merasa lebih baik.
"Perutku gak nyaman banget, Bie ...," keluh Sora. "mual banget, tapi gak ada yang di muntahin."
Almeer nerengkuh bahu istrinya dan menatap Sora lekat-lekat, "Bulan ini kamu belum mens kan, Sayang?"
"Iyakah?" Sora balik bertanya.
"Iya, Sayang ... kamu terakhir mens bulan lalu. Bulan ini kamu belum mens."
"Ooh ...,"
"Bukan ooh, Sayang," Almeer menatap gemas istrinya, "kamu hamil ...."
"Kamu udah ngarep banget ya, Bie?"
"Astagfirullah ...," gumam Almeer, ia menarik napas dalam-dalam untuk menghadapi istrinya yang kurang peka. "Sayang, tanda-tanda yang kamu alami ini sama seperti orang hamil."
Ekspresi Sora berubah kaget, matanya melebar tapi sesaat kemudian mengernyit, menatap curiga suaminya.
"Bu Siti bilang tanda-tanda orang hamil tuh—"
"Hoek!"
__ADS_1
Sora mengabaikan kalimat suaminya dan kembali membungkuk di depan wastafel. Almeer kembali mengusap punggung istrinya.
"Sayang, aku belikan tespack, ya?"
Sora menegakkan tubuhnya dan menatap Almeer, "kalau ternyata cuma masuk angin gimana?" tanya Sora.
"Coba aja dulu, Sayang. Lagian kamu telat mens udah lama banget looh," ujar Almeer.
Sora mengangguk, "iya deh, Bie."
"Ayo ke kamar dulu, Sayang."
Sora menggeleng, "kamu pergi aja deh, Bie. Aku masih mual, aku disini dulu aja."
"Ya udah, habis ini bu Siti bawain teh panas buat kamu, Sayang."
Sora mengangguk.
"Aku pergi dulu ya, Sayang!" ujar Almeer penuh semangat, ia berlari kecil menuruni anak tangga.
Sora hanya menatap gemas tingkah suaminya.
Tak lama dari kepergian Almeer, Siti datang membawakan teh untuk Sora.
"Ke kamar saja, Bu Siti," ajak Sora.
Sora dan Siti masuk ke dalam kamar. Siti menemani Sora sambil berbagi pengalaman tentang awal masa kehamilan. Sedangkan Sora sendiri masih keheranan, dia tak pernah menyangka akan hamil. Antara senang dan bingung. Senang karena sebentar lagi akan ada suara kecil yang memanggilnya Bubui. Tapi, ia juga bingung tentang kehamilannya. Ia lebih meragukan diri sendiri, apa bisa dia merawat bayi kelak?
"Assalamu'alaikum!"
Almeer datang dengan napas yang tersenggal-senggal, ia menghampiri istrinya dan memberikan sekktak terpack. "Ayo, Sayang. Buruan di cek!"
"Astaghfirullah, Bie. Belum aku balas salam kamu loh," Sahut Sora, "Wa'alaikumsalam ...," lanjutnya menjawab salam suaminya.
"Ayo, Sayang ...," Almeer mengajak istrinya pergi ke kamar mandi.
Siti yang melihat itu hanya tersenyum kemudian ikut keluar dan kembali ke bawah.
"Bie ..., ini ada petunjuknya lebih baik digunakan waktu bangun tidur," ujar Sora.
"Gak apa. Kata mbak Apotekernya itu tespack yang paling siip. Nanti kalau udah ketahuan hasilnya bisa langsung dibawa ke dokter kandungan,"
"Gitu, ya?"
"Iya ..., buruan buruan masuk, gih." Almeer mendorong pelan tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Almeer menunggu Sora didepan pintu kamar mandi dengan harap-harap cemas. "Udah, Sayang?" tanya Almeer.
"Belom, Bie. Baru juga lepas celana dalam," jawab Sora dari dalam.
"Ah, iya. Maaf maaf."
Almeer kembali menunggu cemas. Ia melangkah ke arah kamar kemudian kembali lagi ke pintu kamar mandi. Dan berulang kali ia lakukan seperti itu hanya untuk sekedar membunuh waktu yang menurutnya berlalu lebih lambat.
ceklek!
"Gimana?" tanya Almeer Ketik Sora keluar dari kamar mandi.
Sora mengatupkan bibirnya, kemudian menunjukkan hasil tespacknya pada Almeer.
"Aku hamil, Bie!" pekik Sora.
Almeer terperangah, ia melihat dua garis merah pada tespek. "Alhamdullillah, Sayang."
Sora meloncat kegirangan kemudian memeluk suaminya.
"Sayang, hati-hati ...," tutur Almeer.
Sora melepaskan pelukannya, dia menatap dan mengusap perutnya. "Didalam sini ada calon bayi kita, Bie."
Almeer tersenyum dan mengangguk berulang kali. Matanya berkaca-kaca menatap Sora kemudian mencium kening istrinya. "Alhamdulillah, Sayang. Terimakasih ya, Allah."
Almeer jongkok dan menyentuh perut Sora, ia menata perut itu cukup lama kemudian mendaratkan ciumannya disana. "Sehat-sehat didalam perut Bubun ya, Sayang." ucap Almeer kemudian.
Sora terharu mendengar ucapan suaminya. Ia mengusap rambut Almeer dengan lembut. Pria itu mendongak dan tersenyum kemudian memeluk pinggangnya.
Setelah merasa puas menempelkan pipinya di perut Sora, Almeer segera berdiri.
"Sayang, kita sholat sunnah dua rakaat dulu, yuk. Kita ucapin terimakasih ke Allah sudah memberi kepercayaan kita untuk menjaga ciptaannya," ajak Almeer.
"Iya, Bie."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
SEMOGA YANG SEDANG BERIKHTIAR MENDAPAT MOMONGAN BISA DISEGERAKAN OLEH ALLAH, AAMIIN.
DAN SEMOGA YANG SUDAH DIBERI MOMONGAN BISA LEBIH AMANAH LAGI MENJAGA TITIPAN DARI-NYA, AAMIIN.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku