
"Aku tidak tertarik dengan kalian, tujuanku utamaku sudah berhasil ... Tuan Langit," ujar Clara, ia tersenyum bahagia sambil berdiri, "aku tidak peduli seberapa hancur diriku, yang jelas aku bahagia tujuanku selama ini terwujud."
Langit mengenyit.
Trrt trrt trrrt ...
Ponsel langit kembali bergetar,
"Ada apa?"
Mata langit melebar ketika mendengar jawaban dari orang yang sedang meneleponnya. Ia lekas menatap Clara yang sedari tadi mengulas senyum penuh kemenangan.
Langit mengambil pistol di bagian pinggang polisi yang sedang membekuk Tommy kemudian menghampiri Clara, mencekik wanita licik itu dan mendorongnya kasar membentur dinding rumah.
"Pak! Tolong jangan sembarangan menggunakan senjata api!"
Semua polisi menjadi panik dan siaga, beberapa tetangga yang berdatangan ikut terkejut dengan tindakan Langit ketika pria itu menodongkan ujung pistol di kepala Clara.
"Apa yang kau lakukan pada putriku?" suara Langit sangat pelan namun terdengar sangat mengerikan. Matanya menunjukkan kemurkaan.
"Pak, tolong tenangkan—"
"DIAM!!" teriakan Langit menggelegar.
Clara menyunggingkan senyum, "kamu pikir aku merelakan diriku hancur hanya untuk menjebakmu dalam kasus recehan seperti ini?" Clara mendengus kesal, "ini hanya caraku untuk mengalihkan perhatianmu, Tuan Langit yang terhormat! Kamu sudah membuatku sulit berjalan, kamu sudah merusak rahimku, kamu sudah membuatku menderita bertahun-tahun. Tapi kini penderitaanku akan berakhir, aku rela mendekam seumur hidup di penjara setelah tahu jika kamu akan kehilangan putri kesayanganmu."
Langit yang geram lekas mengokang pistol ditangannya dan menempelkan kembali ujung pistol di kepala Clara. "Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup setelah apa yang kau lakukan pada putriku?!" Sentak Langit.
"Pak Langit!"
Hiko yang melihat jari Langit mulai bergerak, dengan segera menarik tangan pria yang sedang dirundung amarah itu dan mengarahkan pistolnya keatas.
DUARR!!
Suara tembakan diiringi teriakan warga yang berada di depan rumah Clara.
Hiko merebut paksa pistol dari tangan Langit kemudian menarik pria itu untuk menjauh dari Clara, "Tolong cepat bawa mereka ke kantor polisi, Pak!" pinta Hiko pada polisi.
"Lepaskan aku! Aku harus membunuh wanita itu!" Teriak Langit, ia memberontak agar badannya terlepas dari lilitan tangan Hiko.
"Biar polisi yang menyelesaikan masalah ini, Pak! Anda harus tetap waras menghadapinya!" teriak Hiko.
"Bagaimana aku tidak gila ketika mendengar kabar jika mobil yang dikendarai Sora ditabrak, Pak Hiko?!"
"Astaghfirullahaladzim!" Hiko yang terkejut hingga melepaskan tangannnya dari tubuh Langit.
***
Suara roda dari tiga brankar yang berjalan beriringan membawa pasien korban kecelakaan menggema di koridor IGD salah satu rumah sakit swasta di kota Malang.
Dengan tangisan penuh kekhawatiran, seorang wanita paruh baya terus berlari mengejar putrinya yang sedang tak sadarkan diri diatas brankar rumah sakit. "Dokter! Tolong selamatkan putri saya dan calon cucu saya!" teriaknya setelah melihat dokter menghampiri putrinya di ruang IGD.
"Ibu ... mari ikut saya, saya rawat luka anda dulu." Salah seorang perawat menghampiri Senja.
Ada darah yang mengalir dibagian kanan kening Senja, "saya tidak apa-apa, saya mau menemani putri saya!" elak Senja.
"Bu, anda bisa kehilangan banyak darah ...,"
"Saya mau disini saja, Mbak!" Senja sedikit meninggikan suaranya, ia bersikeras ingin menemani Sora.
"Bu! Jika anda tidak ingin mendapat perawatan, tolong tunggu di luat." Dokter turun tangan mengingatkan Senja. Ia melirik salah seorang perawat untuk mengurus Senja.
"Silahkan ikut saya, Bu." Seorang wanita marangkul Senja, sedikit menarik paksa namun masih menunjukkan kesopanan.
__ADS_1
"Mbak, tolong bantu putri saya. Selamatkan dia dan janin dalam perutnya," pinta Senja setelah ia berada didepan ruang IGD.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien kami," jawab perawat itu.
Senja mengangguk.
"Sebaiknya saya rawat luka anda, Bu,"
Senja menggeleng, "nanti saja, Mbak. Nanti!"
"Sayang!"
Senja menoleh ke belakang ketika mendengar suara suamimnya memanggil, "Maaas ... anak kita, mas!" Teriak Senja seraya menghampiri suaminya, air matanya kembali pecah.
"Kamu gimana bisa seperti ini, Sayang?" Langit terkejut melihat darah di kening istrinya. Ia menarik tangan Senja membawanya masuk ke dalam ruang IGD, "tolong rawat istri saya, suster!" pinta Langit pada perawat yang tadi menawari Senja bantuan.
"Mas! ini bukan waktu untuk mengkhawatirkanku!" ujar Senja geram.
Pandangan Langit teralihkan pada pria yang sedang terbaring tak sadarkan diri disalah satu brankar IGD. Ia menghampiri perawat yang sedang menangani pria itu.
"Dimana keluarganya?" tanya Langit.
"Kami belum menemukan identitasnya, Pak."
"Kamu kenal dia, Mas? Dia yang menabrak, mobil Sora!" tanya Senja.
Langit menatap istrinya, "rawat lukamu dulu, Sayang."
"Mas! Jawab aku!"
"Biar ini menjadi urusanku, Sayang ...,"
"Mas!"
Langit memejamkan matanya dan menghela napas panjang, "dia anak Clara dan Tommy, dia juga yang menabrak Sora di Surabaya dulu,"
"Seragam itu mungkin yang membuatku terkecoh, Sayang." Ia menatap pria yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu, "Aku masih sedikit mendapatkan informasi dari Aga, yang jelas dia datang ke sini usai melahirkan."
"Astaghfirullahaladzim ..., ini semua tidak akan terjadi jika kamu tidak keterlaluan menghukum Clara, Mas!" tuduh Senja dengan uraian air mata.
Langit diam, dia membenarkan tuduhan istrinya. Ia menatap perawat di samping istrinnya, "tolong rawat dia," ucap Langit kemudian pergi keluar ruang IGD.
"Bagaimana keadaan Sora, Pak Langit?" tanya Hiko.
Langit menggeleng, "saya belum berani melihatnya, Pak Hiko." Ia terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada putrinya, "ini semua kesalahan saya ... ini salah saya, Pak Hiko. Ini salah saya ...,"
"Papa!"
Keduanya menoleh ketika seorang pria muda dengan wajah yang terdapat banyak memar berlari menghampiri mereka. Panik dan khawatir tergambar jelas di wajahnya.
"Bagaimana keadaan Sora, Pa?" tanya Almeer.
"Kita tunggu dokter dulu, Al," jawab Hiko.
"Ya Allah, Sora ..., kenapa semua ini bisa terjadi, Sayang?" Almeer hendak masuk ke ruang IGD namun langkahnya tertahan Langit.
"Biarkan dokter memeriksa istrimu dulu, Al."
"Saya harus lihat keadaannya, Pa!" Almeer menepis tangan Langit.
"Al! Jangan membuat keributan di dalam." Hiko menarik bahu putranya, "Papa tahu kamu khawatir, tapi biarkan dokter memeriksa istrimu ...,"
"Paaa ...,"
__ADS_1
Hiko menarik putranya untuk duduk, "istrimu membutuhkan dukungan do'a saat ini, Al."
"Astaghfirullahaladzim, Sora ..." Almeer mengusap wajahnya beberapa kali untuk menghilangkann kegelisahannya.
Langit, Hiko dan Almeer hanya bisa sabar menunggu hasil pemeriksaan. Hampir satu jam mereka menunggu, masih belum mendapatkan kabar dari dokter yang menangani Sora. Suara alat-alat kedokteran, suara brankar pasien baru, suara teriakan dokter maupun perawat dari dalam ruang IGD tersedangar cukup menakutkan.
Senja sudah duduk disamping suaminya. Kini Mina dan Ruby juga sudah bergabung bersama Hiko dan Langit. Almeer tak bisa diam, sejak tadi ia berdiri dan mondar-mandir di depan pintu ruang IGD. Jantungnya berdegub kencang tiap melihat ada perawat atau dokter yang keluar dari ruang IGD.
"Keluarga pasien atas nama Kianga Sora dan Ardian!"
"Saya suami Kianga Sora, Mbak!" jawab Almeer ketika seorang perawat menyebut nama istrinya. Keluarganya yang lain pun ikut menghampiri.
"Bagaiamana keadaan putri dan sopir saya, Mbak?" tanya Senja.
"Dokter ingin berbicara dengan perwakilan keluarga pasien—"
"Biar saya yang masuk!" jawab Almeer, Langit dan Senja kompak.
Perawat menganggukkan kepala, ia mengajak keluarga dan suami pasien masuk ke ruangan dokter.
"Permisi, Dokter. Ini keluarga pasien Kianga Sora."
Dokter berdiri menyalami keluarga Sora dan mempersilahkan mereka duduk. "Saya dokter Hari," ucapnya memperkenalkan diri.
"Bagaimana keadaan putri dan sopir saya, Dokter?" tanya Langir
Belum dokter menjawab, ada seorang dokter wanita yang masuk dalam ruangan tersebut.
"Alhamdullillah, untuk putri bapak sendiri keadaannya cukup baik. Kami sudah melakukan pemeriksaan mendalam karena terjadi benturan dikepala, tapi Alhamdulillah tidak ada luka serius. Airbag di mobil pasien sepertinya berfungsi dengan baik, Pak. Kami sudah menjahit luka di bagian keplanya, dan lengan kanannya yang mungkin nanti harus kita terapi karena ada trauma serius disana. Sepertinya pernah terluka dan belum terlalu pulih,"
"Alhamdullillah, ya Allah ...,"
"Dan untuk pasien Ardian, lukanya lebih parah ... Ia membutuhkan perawatan khusus karena kaki dan tangan kanannya yang patah."
"Astaghfirullahaladzim ...," Senja yang paling terkejut disini, ia menatap suaminya, "Aku yang suruh dia untuk melindungi mobil Sora dari tabrakan pria tadi, Mas ...,"
Langit lekas memeluk istrinya dan menenangkannya, "dia kuat, Sayang ... Ardian pasti akan lekas membaik,"
"Tapi, ada yang perlu disampaikan dokter Nita selaku dokter spesialis kandungan yang menangani pasien Kianga Sora."
Perhatian semuanya beralih pada dokter wanita berhijab yang sudah mempunyai beberapa kerutan di wajahnya.
Dokter Nita menyuguhkan sebuah hasil USG diatas meja, "saya harus menyampaikan ini,"
Almeer mengambil kertas bergambar keadaan calon buah hatinya itu, ia memandanginya meskipun tak paham dengan gambarnya.
"Janin yang ada dalam kandungan pasien tidak bisa kami selamatkan, Pak ...,"
Deg!
Almeer, Senja dan Langit diam seketika.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
Terimakasih laflafkuh!