ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
42


__ADS_3

Sora harus merelakan untuk membuat Almeer salah paham padanya dibandingkan pria itu harus mengetahui keadaannya sekarang. Ia benci dengan diri sendiri yang harus berada disituasi seperti ini. Jika saja ia bisa memili, ia tak akan mau berada di situasi seperti ini.


"Perbannya jangan dilepas dulu ya, ini tahan air kok. Jadi kalau mandi atau keramas tetap bisa, tapi gak boleh terlalu lama terendam air ya. Seminggu lagi kontrol sekaligus lepas perban ya, Mbak." Seorang dokter dan dua orang perawat sedang memberikan instruksi sebelum Sora meninggalkan rumah sakit.


"Seminggu gak boleh dilepas dokter?" tanya Sora.


"Sebaiknya jangan, kalau mau diganti gak apa di lepas tapi harus segera ditutup ya."


Sora mengangguk paksa.


"Ini obat yang harus dihabiskan, harus teratur minumnya. Mbak Sora harus jaga kondisi badan dulu, jangan terlalu lelah dan melakukan aktivitas berat. Jika tiba-tiba pusing tak tertahan, segera pergi ke klinik atau rumah sakit terdekat ya." Dokter menatap Aga dan Sora bergantian.


"Baik, dokter." Sahut Sora dan Aga.


"Oke, semoga lekas sembuh, Mbak Sora."


"Terimakasih, dokter."


Dokter dan perawat meninggalkan ruangan Sora. Aga dan asistennya yang sengaja didatangkan untuk membantu Sora membersihkan diri siang tadi sedang membereskan barang-barang Sora.


Sora sudah menanggalkan baju rumah sakit dan sudah memakai pakaiannya. Lengan atas hingga bahunya terbalut elastic bandage untuk melindungi cidera di engsel bahunya. Keningnya sudah jelas di hiasi sebuah plester putih yang mencolok. Raut wajahnya masih terlihat pucat, sesekali ia meringis menahan sakit ketika harus bergerak.


"Udah semua, kan?" tanya Aga.


Sora mengangguk. "Bi Marni, bantu saya jalan, ya?" Pinta Sora


"Baik, Nona." Jawab wanita yang usianya mungkin sudah lebih dari lima puluh tahun.


Mereka pun berjalan keluar ruangan dan segera menuju ke tempat parkir dan segera meninggalkan rumah sakit.


Jalan protokol kota Surabaya tak terlalu padat Sore itu, sehingga mobil Aga lebih cepat mengantar mereka sampai di tempat tinggal Aga.


Mobil mulai menapaki jalan aspal salah satu perumahan elite di kota Surabaya, satu dari beberapa perumahan milik Aga yang masuk dalam daftar bisnis propertinya. Dan mobil terhenti di sebuah carport sebuah bangunan rumah yang memiliki arsitektur cukup unik dibanding yang lain.


"Rumahmu bagus, Ga." Kata Sora.


Bi Marni membantu Sora turun dari mobil, sedangkan Aga membawakan tas milik Sora dan melangkah beriringan disamping Sora.


"Kamu bisa memilikinya jika menikah denganku." Ujar Aga.


"Idiiih," Sora menatap malas pria disampingnya itu, "Aku bisa beli rumah ini tanpa harus jadi istrimu."


"Aku tidak akan menjualnya...,"


"Aku bisa menyuruh arsitek membuatnya persis seperti ini."


"Design-nya sudah ku patenkan, aku akan menuntutmu jika meniru bangunan ini." Aga tersenyum menang dalam perdebatan kecil itu.


Sora tak mau melanjutkan perdebatan itu, ia memilih diam dan mengikuti langkah Aga masuk ke dalam rumah. Tiap-tiap ruang di rumah itu cukup membuat Sora terkesima. Banyak jendela-jendela besar yang mengarah ke sebuah taman kecil di samping bangunan.


"Nyaman banget, Ga." Ujar sora.


"Ya, aku membuatnya memang sesuai dengan apa yang kamu sukai." Jawab Aga.


Sora diam tak menanggapi.

__ADS_1


"Aku antar ke kamarmu...," Ajak Aga.


Aga memimpin jalan untuk pergi ke lantai dua rumahnya. Bagunan di lantai dua hanya ada satu kamar dan satu ruang santai. Sora kembali dibuat kagum dengan kamar yang akan dibuatnya menginap beberapa hari ini. Jendela kamar yang lebar serta menghadap ke jalan utama perumahan, khas design kamar yang ia suka.


"Terimakasih ya, Bi." Ucap Sora ketika Marni mengantarnya sampai ke dalam kamar.


"Sama-sama, Non." Ucap Marni kemudian pergi meninggalkan Sora dan Aga.


"Ini kamar kamu, Ga?" tanya Sora, ia melangkah pelan menuju ke jendela.


"Bukan..., kamar ku ada di bawah. Sengaja memang aku membuat kamar ini sesuai seleramu juga." Jawab Aga.


Sora menghela nafas panjang dan menoleh pada Aga yang ada sudah berdiri disampingnya. "Kenapa kamu sampai melakukan hal seperti ini, Ga?"


Aga mengangkat kedua bahunya, "Entahlah..., aku hanya senang dengan apa yang membuatmu senang."


"Kamu tahu betul bagaimana perasaanku, Ga. Aku memang mudah untuk jatuh cinta, tapi aku juga wanita yang sangat setia dalam menjalin hubungan. Aku tidak mudah membagi rasaku."


Aga mengangguk, "Ya..., aku tahu."


"Tiap hari sarapan semen ya, Ga? tu hati bisa kokoh banget." Sora menatap tepat di tengah dada bidang Aga.


Aga tersenyum kecil, "Udah istirahat aja. Gak usah keluar kamar, Bi Marni yang akan kemari antar makanan dan keperluanmu."


Sora mengangguk, "Makasih ya, Ga."


Aga hanya mengangguk dan beranjak keluar kamar. Langkahnya tiba-tiba terhenti di bibir pintu, "Ra!"


"Hm?" Sora menoleh ke belakang.


Sora mengangguk, "Makasih, Ga."


Aga menutup pintu kamar Sora dan melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar Sora.


***


Dua hari sudah Sora berusaha menjaga stamina dan menjaga kondisi tubuhnya agar semakin membaik. Siang ini ia akan melakukan penerbangan menuju kota Jogkakarta untuk menghadiri pernikahan Ameera. Selain itu, ini adalah hari yang di tunggu-tunggu untuknya bisa bertemu dengan Almeer.


"Kalau pusing bilang, Ra." Ujar Aga.


Sora hanya mengangguk pelan dan menatap keluar jendela pesawat, menikmati kumpulan awan-awan lembut yang membuatnya ingin berguling-guling diatasnya.


Ia memang masih sering merasakan pusing jika terlalu lama duduk, bahunya juga masih sakit dan belum bisa terlalu banyak bergerak, membuatnya harus sering diam dan tak banyak tingkah.


Setelah lebih dari satu jam pesawat berada diatas awan, kini pesawat mendarat sempurna di Yogyakarta International Airport. Sora sudah mendapat kabar jika Mina sudah tiba di bandara, karena itu mereka langsung menuju ke pintu keluar setelah mengambil koper mereka di tempat pengambilan barang.


"Astaghfirullah, Kak Sora!" Mina berlari menghampiri Sora yang baru keluar dari pintu kedatangan domestik. Ia melihat sebuah plester putih menempel di kening kakaknya.


"Hati-hati pegang kakakmu, Mina." Tangan Aga melindungi sisi kanan lengan Sora agar tak tersentuh Mina.


"Kak Sora kenapa?" Mina khawatir, menelisik tubuh kakaknya dari puncak kepala hingga ujung kaki. Ia ragu ingin menyentuh Sora, takut jika akan menyentuh bagian yang sakit.


"Nanti kakak ceritakan ya, Dek. Kita pulang dulu." Kata Sora, ia megusap lengan Mina dengan tangan kirinya.


"Iya, Kak. Ayo..." Mina melingkarkan tangannya di lengan kiri Kakaknya dan pergi menuju ke mobil.

__ADS_1


Mina dan Sora duduk di bangku belakang, sedangkan Aga duduk didepan bersama sopir.


"Sky udah datang?" tanya Sora.


"Udah, Kak. Kak Sky datang kemarin malam." Jawab Mina.


"Acara nikahannya Meera dimana, Dek?"


"Di rumah, Kak. Tadi pagi Akad nikahnya di Masjid, trus resepsinya di rumah sendiri kak. Tamunya banyaaak banget."


"Anaknya kyai juga yang cowok?" selidik Sora.


"Bukan, Kak. Setahuku suaminya kak Meera itu bukan anak kyai."


"Oooh, kirain anak kyai juga." Gumam Sora, "Trus trus, Sky datang tadi ke akad nikahnya Meera?"


"Enggak, Kak. Kak Sky aneh dari semalem, diem terus di kamar kak Sora. Gak tau kenapa...," Mina yang memang tak mengetahui perasaan kakak laki-lakinya itu terlihat khawatir dan keheranan.


Sora menahan tawanya, "Dek, Sky itu sebenarnya suka sama Meera. Hahahahaha." Tawa Sora meledak membuat kaget Sopir dan Aga.


"Beneran, Kak?" Mina terperangah.


"Iya, Dek. Kasihan banget tuh orang...," Sora mengusap air mata di sudut matanya Karen sudah tertawa cukup keras.


"Ya Allah, kasihan sekali Kak Sky." Gumam Mina.


Sora menyudahi tawanya, ia baru teringat jika adiknya itu juga baru mengalami patah hati yang hebat. Sora kembali diam dan menatap keluar jendela, bayangan wajah Almeer semakin memenuhi kepalanya.


"Kenapa, Ra?" tanya Aga ketika mendapati sora tiba-tiba terdiam, Ia sampai menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Sora, "Kepalamu pusing lagi? atau bahumu?"


"Enggak, Ga.... Aku baik-baik saja." Jawab Sora. "Udah, hadap depan sana."


Aga memastikan keadaan Sora sejenak kemudian kembali menghadap ke depan.


"Kakak kenapa sih bisa kaya gini?" tanya Mina penasaran.


Sora menatap Mina, "Nanti aja cerita bareng Sky. Kakak malas kalau harus ngulang dua kali cerita...,"


"Iya deh, iya...,"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf k

__ADS_1


__ADS_2