
Assalamu'alaikum, Moza. Semoga kamu tetap sehat dan selalu dalam lindungan Allah.
Seharusnya kamu tidak perlu menghindariku karena kita harus bertemu dan meluruskan semuanya. Dan melalui surat ini aku ingin menyampaikan padamu, aku bersedia menikahimu jika Sky merelakanmu untukku.
Aku berharap kamu akan segera menghubungiku setelah membaca surat ini.
Wassalamu'alaikum, Moza.
Sagara Almeer.
***
Sora memejamkan matanya, tiap kata dari tulisan Almeer dalam secarik kertas yang terselip di buku Khadijah itu masih teringat jelas di pikiran Sora. Bulir air mata terus menetes, menyelip diatara pelupuk matanya.
Berpura-pura tidak mengetahui adalah salah satu cara untuk menguatkan hatinya. Ia tak mau menganggap suaminya pembohong yang sudah mengatakan jika dia adalah satu-satunya wanita yang di harapkan. Ia hanya ingin menerima dan meyakini apa yang dikatakan suaminya.
Ia tahu, mengorek sesuatu hanya akan membuatnya terluka. Meskipun rasa penasaran selalu mengoyak hatinya, ia tetap mencoba menahannya dan menyadarkan diri sendiri.
Itu hanya masalalu, yang terpenting adalah saat ini kamu adalah istri sah dan satu-satunya wanita yang dicintai Almeer.
Ya, Sora selalu meyakinkan dirinya sendiri dan membuang pikiran-pikiran buruk tentang masalalu suaminya.
Tapi, keadaan saat ini mendesak Sora untuk mencaritahu kebenarannya lewat Sky. Harusnya Sky tahu tentang semua hal yang ingin ia tanyakan.
"Aku tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, Ra. Kamu bisa tanyakan sendiri pada Almeer," ujar Sky.
Sora membuka matanya dan menggeleng cepat, "Nggak, Sky! Enggak!" ujarnya, tiba-tiba saja rasa penasarannya sirna. "Aku terlalu takut menerima kenyataannya, Sky."
"Lalu kamu akan terus berandai-andai?" sergah Sky, "membohongi diri sendiri bukan sebuah solusi, Ra!" imbuhnya.
"Aku terlalu mencintainya, aku tidak mau hal-hal seperti itu menggoyahkan cintaku padanya."
"Kamu berani mendatangiku, itu artinya kamu siap menerima kenyataannya! Tapi sayangnya aku tak memiliki semua jawaban dari pertanyaanmu."
Sora mengangguk, "iya ..., cukup aku tahu sampai disini. Jangan menjelaskan apapun," pintanya.
"Kamu tidak pandai menyembunyikan perasaanmu, Ra. Lebih baik—"
Sora bergegas meninggalkan Sky, ia tak mau mendengarkan ucapan Sky. Langkahnya terhenti ketika ia membuka pintu kamar Sky. Ada Aga yang berdiri tepat didepan pintu. Pria itu hanya diam, wajahnya sendu menatap mata dan pipi Sora yang berair.
"Jangan cari tahu apapun tentang suamiku! Jangan ikut campur urusanku!" ancam Sora, ia tahu betul siapa pria di depannya itu.
"Bukankah seharusnya kamu bahagia?" tanya Aga.
"Aku bahagia, aku mencintai suamiku dan dia mencintaiku," jawab Sora dengan mengusap air matanya.
"Aku tidak akan melupakan janjiku padamu, Ra."
Sora beranjak meninggalkan Aga, mengabaikan perkataan pria itu. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat suaminya sedang berdiri di ujung koridor. Tak ada ekspresi apapun diwajahnya.
Sora segera berlari menghampiri Almeer dan memeluk pria itu erat-erat. Tentu saja membuat Almeer keheranan. Ia menatap Aga, tetapi pria itu malah pergi ke bagian koridor yang lain.
"Kenapa, Ra?" tanya Almeer, ia semakin bingung ketika Sora sesenggukan dalam pelukannya.
"Ra ...." Almeer mendorong pelan tubuh Sora dan mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.
Almeer dan Sora duduk di tepi tempat tidur, Almeer terus menatap istrinya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu menangis, Ra?" tanya Almeer, "apa Aga membuatmu menangis?"
Sora menggeleng, ia mengusap bekas air matanya dan menatap suaminya. "Aku hanya sedang bahagia saja karena kini semua orang tahu, jika aku adalah istrimu."
"Bukan, itu bukan alasanmu menangis, Sora." Almeer tahu jelas jika Sora sedang berbohong.
Sora hanya terdiam menatap Almeer. Perlahan tangannya mencakup kedua pipi suaminya kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibir Almeer.
Almeer tak memberikan balasan untuk ciuman itu. Baginya, ciuman itu adalah tanda sebuah kepiluan hati istrinya. Ia segera memeluk Sora setelah ciuman itu terlepas.
"Mungkin kamu masih berat menceritakan apa yang kamu rasakan padaku, Ra. Aku akan tetap menunggu alasan dari tangisanmu ini."
Sora mengangguk.
"Tapi kamu harus ingat, Ra. Kita suami istri, jangan memendam semuanya sendirian. Aku adalah orang pertama yang kamu lihat ketika bangun tidur dan itu akan berlaku selamanya, seumur hidup kita. Karena itu, jangan sembunyikan hal sekecil apapun dariku," ujar Almeer.
"Aku masih butuh waktu, Al ...."
Almeer mengangguk, "aku akan menunggumu," ujarnya.
Sora menarik diri dari pelukan suaminya, ia mengusap air matanya dan tersenyum lebar. "Aku mencintaimu, aku saaangaat mencintaimu, Sagara Almeer," ucap Sora dengan penuh penekanan.
"Aku juga mencintaimu, Kianga Sora. Selalu dan selamanya," jawaban Almeer di tutup dengan sebuah ciuman dibibir Sora.
***
Suasana Bandara Abdurahman Saleh kota Malang lebih ramai dari biasanhya Sore ini. Mungkin karena hari minggu, banyak orang yang bersiap memulai aktivitas harian mereka di kota masing-masing.
Almeer dan Sora baru saja keluar dari area bandara dengan di jemput salah satu pengasuh pondok pesantren Al-Mukmin. Almeer harus menemui Kyai Nur terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah baru mereka.
"Kamu tinggal nempatin saja, semalam orang-orang sudah mengadakan pengajian dan do'a bersama disana. Kakek sudah kirim orang buat bantu-bantu istrimu disana," ujar Kyai Nur dengan suaranya yang serak dan pelan ketika Almeer dan Sora akan berpamitan pulang.
__ADS_1
"Inggih, Kek. Terimakasih ...," ucap Almeer. Ia dan istrinya segera berpamitan.
"Kami akan sering-sering mengunjungi Kakek disini," ujar Sora.
"Iya, Nduk." Kyai Nur tersenyum dan menganggukkan kepela seraya mengerjapkan matanya lembut. "Kalian harus saling menjaga satu sama lain, ya. Rumah tangga banyak cobaannya. Kakek cuma bisa mendo'akan, kalian yang menjalani," tutur Kyai Nur.
"Sendiko dawuh, Kakek," ujar Almeer, ia ta'dzim mendengar pesan-pesan dari Kyai Nur.
"Sudah, cepat berangkat ..., nanti keburu magrib di jalan."
"Inggih, Kakek. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,"
Almeer dan Sora menyalami beberapa saudaranya, pengurus dan pengasuh pesantren yang mengantar kepergian mereka.
"Al, motor kamu?" tanya Sora ketika melihat motor Almeer yang terparkir di tempat parkir motor.
"Besok aja aku ambil," jawab Almeer.
"Sekalian bawa aja, Al. Aku bawa mobil sendiri aja, nanti aku ikutin kamu dari belakang,"
"Apa gak apa?" tanya Almeer.
"Iya, Al. Sekalian aja, daripada besok kamu ribet kesana kemari,"
"Ya udah kalau gitu, aku bawa motor, ya." Almeer memberikan kontak mobilnya pada Sora.
Sora masuk ke dalam mobil, sedangkan Almeer menghampiri motornya. Setelah keduanya sama-sama menyalakan mesin motor, Almeer pergi terlebih dahulu dan mobil Sora mengikuti dibelakang Almeer.
Perjalanan cukup lancar, Almeer selalu memastikan mobil istrinya tetap dalam jangkauan. Motor Almeer terhenti tepat di trafic light, sebuah perempatan besar.
Sambil menunggu lampu trafic light berganti hijau, Sora memeluk kemudi dan menyandarkan dagunya diatas kemudi. Ia menatap suaminya yang ada di depan mobilnya, pandangan mereka bertemu dikaca spion motor Almeer. Keduanya saling mengulas senyum.
Satu persatu motor berhenti di barisan depan mobil Sora. Seorang pengendara wanita dan seorang anak kecil duduk di jok belakang, memeluk erat wanita yang memboncengnya. Anak kecil berkepang dua dibalik sebuah helm bogo berkarakter kartun itu memukul lengan Almeer. Membuat Almeer terkejut dan mengalihkan perhatiannya pada orang yang memukulnya.
"Oom Almeeer!" teriak anak kecil itu, ia melambaikan tangannya dan tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya.
"Hai, Cloe! Assalamu'alaikum," sapa Almeer, ia ganti menatap wanita di depan Cloe, "Hai, Za!" sapanya.
"Wa'alaikumsalam, Oom. Akhirnya ketemu Oom Almeer juga."
Dari dalam mobil, Sora hanya menatapi percakapan antara Almeer dan Cloe. Lagi-lagi hubungan tiga orang di depan itu mengusik benak Sora. Ia terpaksa melambaikan tangan dan mengulas senyum pada Cloe ketika anak kecil itu menatapnya dan melambaikan tangan padanya.
"ttiiin tiiinn!"
Sora terus mengikuti motor Almeer. Tak terlalu jauh dari pintu gerbang perumahan moza, motor Almeer mulai memasuki perumahan tempat tinggal mereka yang baru.
Almeer mengehentikan motornya di depan pagar dan membuka pintu pagar, kemudian segera mamasukkan motornya di carport, disusul dengan mobil Sora yang juga mulai memasuki carport dan terparkir di samping motor Almeer.
"Udah ada pagarnya, Al?" tanya Sora ketika turun dari mobil.
Almeer menutup kembali pintu pagar carport, "Biar, aman," jawabnya disusul tawa kecil.
Sora membuka bagasi mobilnya dan Almeer mengambil koper dari dalam bagasi tersebut. "Yuk, masuk."
Sora mengangguk cepat, ia mengikuti langkah Almeer menapaki batuan alam yang menjadi jalan setapak menuju pintu masuk rumah.
"Assalamu'alaikum," sapa Almeer ketika membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," sahut seseorang dari samping rumah.
"Al ..., dalamnya bagus banget ...." Sora berdecak kagum melihat tempat tinggal barunya.
Dari ruang tamu hingga ke bagian dapur tak ada satu sekat dinding disana. Hanya sebuah partisi badesain unik menjadi pembatas antar ruang tamu dan ruang tengah. Sora melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah.
"MasyaAllah, Al ...." Sora sampai membungkam mulutnya sendiri karena senangnya.
Ruang tengah itu hanya memiliki sebuah sofa panjang dan sebuah karpet berukuran sedang yang digelar dibawahnya untuk menikmati televisi.
Namun yang membuat Sora senang dengan ruang tengah itu ketika melihat jendela lipat berukuran besar, memperlihatkan sebuah taman hijau dan kolam ikan. Sora sudah bisa pastikan rumah itu sangat membuatnya nyaman. Rumah Aga gak ada apa-apanya dibanding ini, gumamnya.
"Maaf, saya baru siram-siram tanaman di samping, Mas, Mbak." Seorang wanita yang berusia empat puluh tahunan datang menghampiri Sora dan Almeer. Ia mengelap tangannya yanh basah dengan bagian bawah bajunya untuk bersalaman dengan Sora.
"Saya Siti, Mbak. Biasanya saya bantu-bantu ning Ruby di Ndalem." Siti mengulurkan tangannya pada Sora.
"Saya Sora ...." Sora menatap Almeer, menayakan harus memanggil wanita didepannya ini dengan sebutan apa.
"Bu...," jawab Almeer tanpa suara.
"Bu Siti ...." Sora melanjutkan kalimatnya tadi.
"Sejak tadi malam saya sudah di suruh kyai Nur untuk tinggal disini, membantu pekerjaan rumah tangga Mbak Sora," jelas Siti.
"Iya, Bu Siti. Terimakasih sudah mau membantu saya," ucap Sora.
"Mau saya bantu bawakan kopernya ke kamar, Mas Al?" tanya Siti.
Almeer menggeleng, "terimakasih tawarannya, Bu Siti. Saya bawa sendiri saja."
__ADS_1
"Untuk makan malam sudah saya siapkan, cuma belum saya tata di meja makan, saya—"
"Gak usah, Bu Siti," pangkas Sora, "biar nanti saya yang siapkan sendiri. Bu Siti bisa lanjutin siram-siram taman," lanjut Sora.
"Iya, Mbak. Saya permisi dulu." Siti pergi kembali ke taman samping.
"Ke kamar yuk, Ra," ajak Almeer.
Sora mengangguk, dan mengikuti langkah Almeer meniti satu per satu anak tangga menuju lantai dua.
Di lantai dua hanya ada dua kamar tidur, ruangan untuk sholat dan kamar mandi. Satu kamar untuk Almeer dan Sora, satu lagi kamar yang kelak akan digunakan untuk kamar anak mereka.
Almeer membuka pintu kamar mereka, "Taraaa ...."
"Wah! Sama seperti kamarku, Al!" pekik Sora yang melihat desain kamar mereka persis seperti kamar Sora di Jogja, masih khas dengan jendela besarnya.
"Lebih kecil tapi," ralat Almeer.
"Aku suka banget ...." Sora menatap Almeer penuh haru kemudian memeluk suaminya erat-erat, "makasih ya, Mas Almeer," ucapnya manja.
"Eeh, sekarang pake Mas? katanya lebih nyaman panggil nama?"
Sora mendongakkan kepalanya, "tapi sepertinya aku kurang sopan jika memanggilmu dengan nama saja, Al. Aku sering melihat beberapa orang terkejut ketika aku memanggilmu dengan sebutan nama saja, terutama orang-orang di pesantren, " jelas Sora.
"Kamu nyaman memanggilku seperti itu?" tanya Almeer.
"Aku harus membiasakannya," jawab Sora dengan senyum lebarnya hingga matanya hampir terpejam.
Almeer mengangguk dan mempererat pelukannha Sora, "haruskah aku memanggilmu Dik Sora?" tanyanya jahil.
"Enggak, ah! geli aku dengernya!" protes Sora.
"Hahaha, iya iya enggak." Almeer mencubit hidung Sora, "kamu mau ku panggil apa?" tanya Almeer.
"Bubun! Itu terdengar menggemaskan. Aku ingin nanti anak-anakku memanggilku seperti itu ...," ujar Sora.
"Kalau sekarang?"
"Terserah deh,"
"Hahahaha ...." Almeer tertawa keras mendengar permintaan istrinya, namun ia segera menganggukkan kepala memenuhi keinginan istrinya, "Sayang aja, ya?"
"Terdengar pasaran, ya?" tanya Sora.
Almeer menggeleng, "menurutku cocok untuk Kianga Sora yang menggemaskan," jawab Almeer.
"Aku mau memanggilmu Bie aja, Al. Panggilan Mas untukmu terdengar kuno. Sepertinya itu ada di jaman mama papa kita," usul Sora.
"Bie? Habibie atau Bee-nya Lebah?" tanya Almeer.
"Habibie, Abie, cocok untukmu."
Almeer menahan senyumnya agar tak terlalu lebar karena tersipu malu, "iya iya. Terserah kamu saja, Sayang."
Sora tersenyum lagi, matanya menatap langit-langit. Ia sedang membayangkan sesuatu, "Aku tidak sabar akan mendengar suara anak kecil yang memanggilku Bubun dan mrmanggilmu Abie."
"Nanti malam kita segerakan, Sayang."
"Hah! Kemarin kan sudah?"
"Tapi hari ini belum. Biar besok pagi semangat cari uangnya, Sayang." Almeer mengerlingkan matanya beberapa kali.
"Oke Oke, Al! eh, Bie."
Dan, adegan profesional malam hari tetap akan di skip! pembaca diharapkan bijak dalam berimajinasi. Hahahaha (ketawa jahat)
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO!
Dibaca syukur, cuma dilewatin aja terserah.
Buat Eps. 62 besok coba siapin hati dikit ya.
Ntar ku kasih sepenggal dialog Almeer dan Sora di feed Igehku
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku
__ADS_1