
Bentangan langit biru kota Jogjakarta sore itu sangat indah, awan-awan putih hampir tak terlihat menggantung dibawahnya. Matahari sudah tak terlalu terik, angin kecil berulang kali menyapa dedaunan dan tak jarang membuatnya menari-nari sehingga menimbulkan suara gesekan lembut, membuat damai hati Sora yang sedang rapuh 'katanya'.
Wanita berambut panjang itu masih setia berada diatas Sofa, menyandarkan lengan dan kepalanya di sandaran sofa. Pandangannya tetap lurus menatapi rumah tetangganya itu. Hanya sesekali ia merubah posisi untuk menghilangkan rasa kaku dan kesemutan di tangan dan lehernya.
"Kak Sora...,"
Tok tok tok!
Suara Mina terdengar dari luar kamar Sora.
"Masuk, Dek. Gak di kunci."
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Mina melangkah mendekati Sora dan duduk di samping kakaknya. Ia melihat kakaknya tak sedikitpun mengalihkan padangan padanya.
"Kak...,"
"Hmm?"
"Kakak masih sedih?" tanya Mina.
"Udah enggak."
"Kok masih cemberut gitu?"
"Ya gak apa, cuma lagi pengen cemberut aja." Jawab Sora lagi.
"Aku sebenarnya juga sedang patah hati, Kak. Pria yang aku ajak untuk ta'aruf menolakku." Ujar Mina.
"Kamu di tolak, Dek?" Sora menegakkan badannya menatap Mina.
Mina mengangguk. "Dia bilang, dia gak pantas buat jadi imamku."
"Cowok brengsek mana yang berani nolak adekku!? Bilang, Dek. biar ku suruh Aga hajar dia!"
"Jangan, kasihan. Aku gak mau dia terluka, Kak."
"Tapi dia udah nolak kamu, Dek. Dia gak tau apa kalau kamu udah nunggu dia dua belas tahun lamanya?"
"Aku masih mau nunggu dia lagi, Kak. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hatinya." Senyum lembut dan binar mata penuh harapan terbingkai di wajah lembut Mina.
Sora menggenggam kedua tangan Mina, "Kamu yakin masih mau nunggu dia, Dek?" tanya Sora.
Mina mengangguk, "Iya, Kak. Aku sadar masih banyak kekurangan. Allah pasti mau aku menjadi lebih baik lagi agar aku pantas bersanding dengannya."
Sora mengangguk, "Iya, Dek. Kalau kamu emang yakin dengan dia, perjuangin aja! Pepet terus aja, tikung juga di sepertiga malam."
"Aku minta maaf ya, Kak. Beberapa hari ini aku uring-uringa dan bikin susah kak Sora dan mak Sky."
Sora mencubit pelan kedua pipi Mina, "Enggak laaaah...,"
Mina tersenyum lembut, ia kemudian menatap rumah Almeer. Cinta pertamanya dan seseorang yang ia harapkan menjadi imamnya kelak.
"Saat bertemu dengannya, aku sudah kagum padanya. Dia anak yang manis dan pandai, dia selalu tersenyum dan tak segan memulai bicara orang lain." Ujar Meera tiba-tiba.
Sora kembali menyandarkan kepalanya di punggung sofa dan menatap Mina, siap mendengarkan cerita adiknya itu.
"Aku bertemu dengannya ketika ikut papa dan mama ke acara bakti sosial. Dia datang bersama orangtuanya, hanya kami anak-anak yang ada disana. Aku hanya duduk ditemani mbak pengawal. Dia datang menghampiriku dan mengajak bermain..."
"Kamu jatuh cinta karena ada anak yang berani datengin kamu ngajak main?" tanya Sora.
Mina menggeleng, "Bukan, Kak. Aku kagum padanya ketika dia melantunkan surah Ar-Rahman..., suaranya sangat menyejukkan hati, Kak. Dan aku juga merasa malu karena di usia sepuluh tahun aku belum pandai membaca Qur'an. Di waktu yang singkat itu, dia sempat mengajariku. Lembut, dia sangat lembut dan sabar."
Tiba-tiba saja setetes air mata Mina jatuh dipipi, mengingat kenangan masa kecilnya dengan Almeer. Sora mengusap bekas air mata Mina dan mengusap kepala mina dengan lembut.
"Jadi itu kenapa kamu memilih untuk masuk pesantren dan mendalami ilmu agama?" tanya Sora.
Mina mengangguk, "Aku tahu sangat egois, tapi aku sangat menginginkannya, Kak. Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya. Dia tahu selama ini aku memendam rasa padanya, dia tahu bagaimana aku menyimpan rasa ini dan menjaga diri ini untuknya."
Sora memeluk adiknya dan mengusap punggungnya, "Kita gak tau isi hati dan perasaan orang lain, Dek. Kalau memang kamu masih ingin berjuang dan menunggunya, in shaa Allah kakak dukung. Kakak yakin dia pria yang baik untukmu." Ujar Sora.
Mina mengangguk, ia melepaskan pelukan kakaknya dan menatapnya sangat serius. "Kak Sora benar-benar akan dukung aku?"
"Iyaaa, lah. Sebagai keluarga kan kita harus saling dukung, Dek." Ujar Sora.
"Makasih ya, Kak."
"Sekarang kakak udah boleh lihat foto cowok incaran kamu itu?" tanya sora penuh harapan.
Mina menggeleng.
"Iiiih, kok gitu sih? namanya deh, namanya...,"
Mina diam terlihat berfikir.
"Ayooolaaah, Dek."
"Sora!!"
Sky membuka pintu dan berteriak memanggil nama saudara kembarnya itu.
"Apa sih, Sky! Bikin kaget aja!" Sentak Sora, ia mengusap dadanya karena kaget.
"Udah jam tiga lebih, nih." Sky menghampiri adik-adiknya.
"Emang kenapa kalau jam tiga? novel online favorite kamu itu update?" tanya Sora.
"Emang aku kurang kerjaan apa baca novel segala." Gumam Sky, "Ayo anter aku." Pinta Sky.
"Gak mau, aku gak mau kemana-mana! Kamu kan tahu aku lagi patah hati, Sky." Ujar Sora.
"Aku traktir makanan enak. Kamu dari pagi gak makan apa-apa kan? makanan cuma buat maenan doang,"
"Gak, males makan!" Tolak Sora.
"Ayoolaaah, Ra." Sky menarik tangan Sora, "Kau harus tetap hidup walau gak berguna."
"Mulutmu!!" Sora menendang kaki Sky. "Pergi ama Mina aja!"
"Gak, ah. Mina mau balik ke kamar aja, gak ikut-ikut." Mina terkekeh kecil, kemudian berdiri dan berlari keluar kamar Sora.
"Ayooo, Ra. Ntar keburu gak kebagian aku." Sky merangkul Sora dan memaksa adiknya itu mengikutinya.
"Iiih, mau apa sih, Sky?" Sora melepaskan tangan Sky dari bahunya.
"Ke cafe depan, beli cake kesukaanmu...,"
__ADS_1
"Weih!" Sora memegang kening, Sky. "Ada angin apa kamu mau beliin aku kue? ternyata kamu sepeduli itu padaku Sky?" Sora kenggelayut manja di lengan Sky.
Sky mendorong kepala Sora agar menjauh dari tangannya, "Terserah kau lah mau anggap apa." Gumam Sky, "Ayo, buruan."
Sky menarik tangan Sora menuju ke cafe bernuansa putih yang ada didepan rumahnya.
"Selamat datang...," Ucap seorang pegawai cafe ketika bunyi lonceng dari pintu yang terbuka berbunyi.
Sky dan Sora masuk ke dalam cafe, harum manis dari cake yang baru matang bercampur dengan harum kopi yang sedang diseduh menjadikan para pengunjung betah duduk disana.
"Eh, Mbak Sora, Mas Sky." Sapa Ameera yang baru keluar dari dapur membawa japanese cheese cake yang masih mengepulkan uap.
"Hai, Meera. Baru matang, ya?" Sora mengintip cake kesukaannya yang baru diletakkan Ameera di atas meja dan siap di potong-potong.
"Mas Sky pas banget datangnya, cake-nya baru matang, nih." Ujar Ameera.
"Loh, Sky bilang mau kesini, Meera?" tanya Sora.
"Enggak sih, Mbak. Cuma kemarin mas Sky bilang kalau suka JC ini, Mbak. Ku bilangin kalau mau yang anget bisa datang kesini jam-jam segini." Jawab Ameera sambil memotong cake berukuran besar itu menjadi bagian-bagian berukuran sedang.
"Oooh..., Sky suka JC tooooh?" Sora menatap Sky dengan mimik wajah menggoda.
"Sst!!" Sky menempelkan telapak tangannya tepat di wajah Sora dan mendorongnya menjauh.
Sora sudah ingin protes, namun Sky mengedipkan matanya cepat agar Sora tak banyak bicara.
"Mas Sky mau makan disini apa dibawa pulang?" tanya Ameera.
"Disini aja, Meera." Jawab Sky.
"Oke, Meera potongin dulu ya. Nanti Meera anter ke meja mas Sky sama mbak Sora."
"Makasih ya, Meera." Ucap Sky.
"Sama-sama, Mas." Sahut Ameera.
"Pesen kopi dulu, Sky. Aku tunggu didepan." Ujar Sora.
Sora keluar lebih dulu, ia memilih salah satu meja yang teduh dibawah pohon trengguli. Ia duduk dan menopang dagu menatap kursi didepannya yang sedang kosong.
"Disini, dua puluh tiga jam yang lalu aku ditolak." Gumam Sora sendiri, ia mengusap meja dimana Almeer kemarin meletakkan kedua tangannya.
"Kenapa pilih meja di luar sih, Ra? kan enakan di dalam." Protes Sky, ia duduk didepan Sora.
"Enakan disini, seger." Jawab Sora.
"Disini kan jadi gak bisa lihat..." Sky tak melanjutkan kalimatnya.
"Ciyeee, yang jatuh cinta...," Goda Sora.
"Diem!"
"Gagu banget kamu didepan, Meera. Iuuuuh, pengen nendang mukamu aku tuh." Sora terbahak.
Sky pura-pura tak mendengar Sora.
"Geli aku lihat kamu jatuh cinta. Bukan kamu banget, Sky!"
"Dieeeem, bawel!" protes Sky.
Sora terkekeh geli, ia diam ketika melihat Ameera datang membawa nampan berisi kopi dan cake.
"Sama-sama, Mbak." Meera meletakkan Cake yang sudah dipotong kecil-kecil, dua piring kecil dan garpu kecil diatas meja.
"Kalau gak sibuk duduk sini dulu, Meera." Ajak Sora.
"Gak apa nih, Mbak?" tanya Ameera, "Nanti Meera ganggu."
"Enggak, lah..., sini sini." Sora menggeres duduknya.
Ameera duduk sebangku dengan Sora.
"Ayo, Sky. Dimakan, jangan diem aja." Goda Sora yang melihat saudara kembaranya sedang mematung.
"Iya, Mas. Mumpung masih anget." Tambah Ameera
Sky mengangguk dan mengambil sepotong cake dan diletakkan diatas piring.
"Ngomong dooong, Sky...," Goda Sora lagi.
Sky menatap Sora, memberi isyarat untuk tidak banyak bicara.
"Mas Sky dulu tinggal disini juga waktu kuliah?" tanya Ameera pada Sky.
Sky mengangguk, "Iya, Meera." Ia menarik nafas sejenak, mengatur irama jantungnya. "Tapi aku tak pernah melihatmu disini."
"Iya, aku tinggal dan kuliah di Malang, Mas." Jawab Ameera.
"Malang?" Sky mengulang. "Almarhum nenek kami semua juga tinggal disana."
"Aku bertemu Almeer untuk pertama kalinya juga di Malang, Meera."
"Waaah, kita sekampun halaman, ya?" Ujar Ameera.
"Di Malang tinggal dimana, Meera?" tanya Sky.
"Di pesantren Al Mukmin, Mas."
"Oooh, pesantren deket perumahan nenek ya, Ra." Ujar Sky pada Sora.
"Iya..., kalau ke Malang aku sengaja ke pesantren itu cuma berharap ketemu Almeer. Tapi malah ketemunya di Jakarta...,"
"Allah ngasih ketemunya disana, Mbak. Alhamdullillah masih bisa ketemu lagi."
tiiit tiiiit tiiit ttiiiiit..
Suara dari sebuah mobil box besar yang sedang berjalan mundur memasuki halaman rumah Almeer.
"Eh, udah dateng." Cetus Ameera.
"Beli apa Meera?" Sora penasaran.
"Ganti tempat tidur yang lebih besar, Mbak. Soalnya nanti habis nikah, Meera sama mas Haqy tinggal disini."
"Mas Haqy siapa Meera?" tanya Sora.
"Calon suami Meera, Mbak. In shaa Allah bulan depan kami menikah disini, Mbak sama Mas Sky jangan lupa datang looh."
__ADS_1
Hening seketika.
Perlahan Sora menatap Sky yang tertunduk dan kembali mematung. Ia sebisa mungkin menahan tawanya.
"In shaa Allah kami datang, Meera. Ya kan, Sky?"
Sky berusaha menganggukkan kepalanya walau sangat berbeda dengan kata hatinya.
"Mbak, Mas. Aku ke rumah dulu, ya. Lihat barang-barangnya, takut ada yang salah." Kata Ameera.
"Iya, Meera. Iyaa...," Sahut Sora.
Ameera pun beranjak pergi.
"Hahahahahaha..., Ya Allah nasib kamu Sky. Miriiis, periiiih."
"Diem!" Sky melempar asal garpu yang ia pegang keatas meja.
"Gimana Sky rasanya sakit hati? nembak aja belom udah ditolak. Hahahaha." Tawa Sora tak bisa berhenti, "Aduuuh..., kebelet pipis lagi."
Sora berdiri dan mencari dimana letak toiletnya, dan ia menemukan bangunan kecil berada didekat rumah Almeer, bertuliskan toilet.
"Aku pipis dulu, jangan diabisin." Ujar Sora kemudian pergi ke toilet.
Sampai di toilet ia tak bisa langsung masuk karena masih ada orang didalamnya. Agak lama ia menunggu dan hampir tak bisa menahannya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah saja.
"Mbak, kenapa?" tanya Ameera ketika melihat Sora didekat rumahnya.
"Kebelet pipis, Meera." Jawab Sora.
"Disini aja, Mbak."
Sora mengikuti langkah Ameera dan masuk ke dalam rumahnya. Berjalan lurus hingga ia berada dibagian belakang rumah.
"Silahkan, Mbak. Nanti baliknya tinggal lurus aja, Meera mau bantu bapak-bapak didepan dulu ya, Mbak." Kata Ameera.
"Iya, Meera. Makasih." Ucap Sora sambil masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Sora keluar, ia pelan melewati dapur meja makan ruang tv dan langkahnya terhenti ketika melihat foto Almeer waktu kecil diatas meja kerja.
"Imuut bangeeet...," Ujar Sora, ia mengambil bingkau foto berukuran sedang yang berisi sebuah foto anak laki-laki berbaju koko putih dan sarung kotak-kotak hitam sedang berdiri memegang Al Qur'an.
"Permisi...," Dua orang pria sedang membawa sebuah kasur berukuran besar lewat dibelakang Sora.
"Eh, iya. Maaf," Sora buru-buru menepi.
Brug!!
Sora tak sengaja menjatuhkan tumpukan kertas diatas meja kerja Almeer. "Aduuuuh, Sora... Bisa-bisanya sih bikin berantakan dirumah orang." Gumamnya.
Ia berjongkok dan mengumpulkan kembali kertas-kertas itu. Namun aktivitas tangannya terhenti ketika melihat sebuah kertas berisi foto adiknya.
Sora menarik satu bendel kertas yang hanya berisi beberapa lembar itu untuk mencari tahu kenapa ada foto adiknya di rumah Almeer.
Deg!
Darah ditubuh Sora seakan naik ke ubun-ubun, jantungnya berdebar lebih cepat, sendi-sendi tubuhnya terasa kaku hingga ia sulit bergerak mendapati tulisan di kertas itu.
Tanpa diminta, airmata Sora menetes dengan sendirinya. Ia segera menutup mulutnya ketika suara kesedihan keluar dari mulutnya. Bahunya naik turun, siapapun bisa melihat jika wanita itu sedang menangis walau tanpa suara.
Seseorang ikut duduk, berjongkok didepannya. meraih kertas yang ada ditangan Sora kemudian menumpuknya bersama kertas-kertas lainnya.
Sora mendongakkan kepalanya, ia melihat Almeer sudah ada dihadapannya.
"Sekarang aku tahu alasanmu tak bisa menerimaku."
Almeer terdiam, wajahnya terlihat gusar dan penuh rasa bersalah.
Melihat hal itu hati Sora terasa semakin perih, Ia menutup wajahnya dan membenamkannya diatas lututnya. Kini tangisannya pun pecah, ia tak bisa menahannya lagi.
"Sora—"
"Tolong jangan berkata apapun dulu padaku, Al." pangkas Sora diantara isal tangisnya. Ia mengangkat kembali kepalanya, memohon agar Almeer tak mengatakan apapun.
Sora berdiri dan melangkahkan kakinya keluar rumah. Almeer mencoba mengikuti Sora.
"Sora! Tunggu, Ra!" Almeer setengah berteriak, ia tak mau mengganggu kenyamanan pengunjung cafe.
Sky yang melihat Sora tengah menangis ikut mengejar Sora yang berlari kearah rumahnya.
"Pak Khusno!!" Teriak sora ketika baru membuka pagar, "Kunci mobil mana?"
"Iya, Non." Sahut Khusno dari dalam.
"Ra! Kenapa sih?" tanya Sky.
Sora tak mengacuhkan Sky, ia masuk ke dalam rumah dan mengambil kunci dari Khusno kemudian masuk pergi ke luar lagi.
"Nona mau kemana?" tanya Mita.
"Jangan ada yang ngikuti aku! Termasuk kamu, Sky!" Ancam Sora.
"Ra! Jangan gila, deh!" Sky mencoba menghalau Sora.
"Sora...," Almeer yang baru tiba mengikuti Sora ke mobil. "Kita bicara dulu, ya." Bujuknya.
Sora berhenti didepan pintu mobil dan menatap Almeer. "Biarin aku sendiri dulu, Al." Pinta Sora.
"Kamu gak tau jalan disini, Ra. Kalau nyasar gimana?" Kata Sky.
Sora menatap Mita dan Aura yang sudah terlihat masuk ke mobil lainnya untuk mengikuti Sora.
"Jangan berani bantah omonganku!!" Teriak Sora, "Jangan ikuti aku, aku butuh waktu sendiri... Tolong..." Tangisnya kembali pecah memohon agar semua orang mengerti perasaannya.
Ia mendorong tubuh Almeer melampiaskan kekesalannya sekaligus agar menjauh darinya, kemudian ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan semua orang yang sedang mencemaskannya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih.