ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
83


__ADS_3

Siang ini Sora sudah mendapat ijin dari dokter untuk keluar dari rumah sakit. Di dalam ruang rawat inap Sora hanya ada Senja, Ruby dan Mina. Tidak ada Langit dan Hiko sebab mereka sedang memberi kesaksian atas kejahatan Clara di kantor polisi.


Sora sedang duduk di sofa bersama Mina, memperhatikan Mamanya yang sedang membereskan barang-barangnya bersama Mama mertuanya.


"Sora ... sudah putuskan untuk pulang kemana?" tanya Ruby.


Sora mengangguk, "Sora ikut Mama pulang ke rumah tante Lala saja, Ma."


"Sora ...," Senja mencoba protes dengan keputusan putrinya.


"Sora ikut Mama pulang, ya?" pinta Sora dengan memelas, matanya berkaca-kaca ketika teringat kembali kesalahannya.


Senja dan Ruby saling berpandangan.


"Kak Almeer pasti menunggu kamu, Kak," bujuk Mina.


"Enggak, Dek. Enggak ...." Sora menggelengkan kepalanya, "tolong jangan paksa aku,"


Mina mengangguk pasrah.


"Mina, ikut Mama dulu ya ke bagian administrasi," ajak Senja.


Mina kebingungan tapi ia menuruti Mamanya, "iya, Ma." Ia berdiri dan menghampiri Mamanya.


"Sayang, Mama ke depan dulu, ya?" pamit Senja pada Sora.


Sora mengangguk, Senja dan Mina pun bergegas keluar. Senja sengaja keluar ruangan untuk membiarkan Ruby membujuk putrinya.


Setelah keadaan ruangan hening, Ruby duduk disamping Sora. Ia meraih tangan kiri Sora yang tidak terluka dan menatap Sora dengan lembut.


"Kamu menunggu Almeer menjemputmu, Nak?" tanya Ruby.


Sora menggeleng, "Sora bahkan tidak berani mempunyai keinginan seperti itu, Ma."


"Sora ... Almeer pun sedang menunggu kedatanganmu, Nak. Kamu harus pulang menemuinya,"


Sora mengatupkan bibirnya untuk menahan tangisnya dan menatap Ruby, "Sora tidak bisa, Ma ...," ucapnya lirih, suaranya tertahan. Air matanya kembali meleleh, tak sanggup membayangkan bagaimana Almeer akan memandangnya.


"Jadikan ujian ini penguat ikatan pernikahan kalian, Nak. Mama tahu kamu sudah menyadari kesalahan kamu dan kamu sangat menyesalinya. Tapi, jika Almeer tidak mau mendatangimu, maka datangi dia lebih dulu."


"Sora sangat malu mendatanginya, Ma. Sora sudah sangat berdosa padanya. Sora tidak sanggup menghadapinya ...,"


"Lalu sampai kapan kalian akan berjauhan seperti ini, Nak? Tidak baik suami istri berada berjauhan seperti ini,"


Sora hanya menggelengkan kepalanya, "tolong biarkan Sora seperti ini, Ma. Sora mohon ...," pintanya.


Ruby mencakup satu sisi pipi menantunya, "Almeer pria yang tegas dengan ucapannya, Nak. Dia akan melakukan dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia ucapkan. Mama takut jika kamu tidak mendatanginya, dia juga tidak akan mendatangimu ...,"


Tangis Sora semakin pecah mendengar kalimat Ruby.


"Mama harap kamu bisa segera menemui suami kamu, Nak." Ruby memeluk Sora, tak terlalu erat karena takut menekan bahunya yang sakit.


Sedangkan Sora tak memberikan tanggapan, ia hanya terus menangis.


***


Sementara itu di kantor polisi, Langit dan Hiko baru saja selesai memberikan kesaksian pada polisi.


"Saya masih harus menunggu seseorang datang, Pak Hiko," ujar Langit.


"Aga?" tanya Hiko.


"Bukan, Pak." Langit menatap ke ujung koridor, ia tersenyum melihat putranya datang membawa orang-orang yang sangat diharapkannya.


Ya, Benar! Sky datang membawa Bara dan Moza.


Bara lekas menyalami Langit dan Hiko secara bergantian. "Saya sudah mendengar semua dari putra anda, Pak Langit. Saya—"


"Di mana saya bisa bertemu wanita itu?" tanya Moza pada Langit, wajahnya merah padam menahan amarah.


Langit menatap pengacaranya, meminta agar ia menunjukkan tempat dimana Clara dan Tommy berada.


"Silahkan ikut saya," ujar pengacara Langit. Ia sejenak bebicara dengan salah seorang petugas kepolisian dan mereka berjalan beriringan menuju ruangan Clara dan Tommy.


"Tahan emosimu, Za. Atau mereka akan—"


Moza mengabaikan peringatan Sky dan lekas membuka pintu ruangan yang telah ditunjukkan petugas.


BUG!


"Argh!!"


Moza melayangkan tasnya ke wajah Clara dengan kasar hingga wanita itu memekik kesakitan. Moza lekas mendekati Clara dan menarik rambut wanita yang sudah beberapa tahun ini menjadi ibu sambungnya.


"Bisa bisanya kamu memanfaatkan keluargaku!" Teriak Moza geram.


"Moza!"


Bara dan petugas yang berada disana lekas menarik Moza dari Clara.


"Lepaskan aku! Aku akan membunuh wanita j*lang itu!" Berontak Moza.


"Tutup mulutmu! Kau pikir dengan siapa kau bicara?!" Sentak Tommy.


Semua tercengang ketika mendengar Tommy memberi pembelaan. Bara yang tak terima putrinya mendapat bentakan dari selingkuhan istrinya itu ikut geram, ia menghampiri pria itu, Namun. tiba-tiba ...


BUG!


Sky memberikan pukulan keras di wajah Tommy hinggs pria itu tersungkur, "setelah apa yang kalian lakukan, kalian masih berani berbicara?" tanya Sky, pelan namun terdengar menikam.


"Sky! Jangan kotori tanganmu dengan menyentuh manusia sampah itu!" Langit memperingatkan putranya.


Sky menatap Tommy kesal, ia menginjak perut pria yang masih tersungkur itu dengan keras sebelum ia mengambil langkah mundur.


"Aku tidak menyangka kamu sejahat ini, Clara," ujar Bara.


"Dasar wanita murahan!" tambah Moza dengan emosi yang meledak-ledak. "Kamu sudah mencuci otak putriku! Manusia macam apa kamu! Menggunakan anak kecil yang tak tahu apa-apa untuk jadi alat balas dendammu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Teriak Moza.


"Aku tidak membutuhkan maaf darimu ...," jawab Clara, membuat semua orang terperangah. "Salahkan saja pria itu, dia yang sudah membuatku menjadi manusia keji." Clara melirik Langit yang berdiri tak jauh dari Moza.


"Jangan mencari alasan untuk membenarkan perbuatanmu, Clara!" tegur Bara. "seharusnya kamu menyadari kesahanmu."


"Aku tidak peduli." Clara tersenyum menang, "yang terpenting rencaku berjalan mulus meskipun aku tidak bisa membunuh putrimu ...," Clara menatap Langit dan menutup ucapannya dengan tawa kemenangan.

__ADS_1


Sky lekas menghampiri Clara dan mencekik wanita itu. Dengan cepat petugas menarik tubuh Sky menjauh dari Clara.


"Jika anda tidak bisa mengendalikan emosi, kunjungan ini akan kami akhiri sampai disini!" ancam petugas.


"Jangan berbuat macam-macam, Sky! Aku belum menyelesaikan urusanku dengannya!" sentak Moza.


Moza menghampiri Clara, "apa benar pria ini mempunyai hubungan darah dengan Bima?" tanya Moza.


Clara hanya diam, malas menanggapi pertanyaan Moza.


"Kamu benar-benar memanfaatkanku untuk menyakiti Sky?" tanya Moza lagi.


Masih tak ada jawaban dari Clara.


"Kamu tahu seberapa parah hidupuku berubah karenamu!" Teriak Moza, ia tak bisa menahan lagi untuk tidak mencekik Clara. Moza mendorong wanita itu hingga jatuh ke lantai. menindihnya dan mencekiknya.


"Kamu tahu bagaimana kehidupan Cloe dimata umum nanti setelah semua orang tahu membaca berita-berita yang kamu buat?! Kamu menghancurkan masa depan putriku! Kamh tidak pantas hidup di dunia ini!" Teriak Moza.


Petugas tak membiarkannya begitu saja, tapi dua orang petugas dan Tommy kewalahan menarik tangan Moza dari leher Clara. Mereka tak bisa mengalahkan amarah Moza.


Sementara Bara menarik Tommy dan memukulnya beberapa kali. Tommy yang tidak terima tentunya segera membalas pukulan Bara. Keadaan di dalam ruangan itu semakin tidak kondusif, beberapa petugas datang ikut melerai pertengkaran itu.


Akhirnya pertemuan itu pun dengan terpaksa diakhiri. Clara dan Tommy dibawa kembali ke dalam sel tahanan, sedangkan Moza dan Bara dipaksa keluar dengan tidak baik.


Di halaman parkir kendaraan Moza terisak dalam pelukan Papanya. Ia masih belum bisa menerima perlakuan Clara pada hidupnya dan keluarganya.


"Maaf, Pak Bara ...," Langit mencoba bertanya pada Bara.


Bara menatap Langit, "Ya, Pak?"


"Kenapa anda tidak melaporkan kasus putri anda?" tanya Langit.


"Untuk apa, Pak? Agar semua orang tahu ketidaksempurnaan putri saya?" Bara balik bertanya.


"Tapi—"


Hiko menepuk bahu Langit agar besannya itu tidak terlalu memaksakan kehendaknya.


"Sebaiknya kita pulang, Pak," ajak Hiko, "Sora pasti sudah keluar dari rumah sakit."


"Apa yang terjadi pada Sora, Pa?" tanya Sky pada papanya, tak ada seorangpun yang memberitahu keadaan saudara kembarnya.


"Clara mencoba mencelakai Sora, Sky. Sora kehilangan calon anaknya,"


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Sky dan Moza.


"Ditambah lagi Sora dan Almeer sekarang sedang tidak bertegur sapa, Sora termakan hasutan Clara," lanjut Langit.


"Bisa kamu bantu melunakkan hati Almeer, Sky?" pinta Hiko. "Mungkin dia mau mengarkan kata-katamu,"


Sky mengangguk, "saya akan menemuinya, Oom." Ia ganti menatap Moza, "apa kamu juga mau menjelaskan pada Sora, Za? tentang kejadian malam itu?"


Moza tak lekas menjawab, ia berpikir beberapa saat.


"Kami tidak akan memaksamu jika kamu keberatan," ujar Langit.


"Saya hanya malu saja mengatakannya pada Sora, Oom," jelas Moza.


Moza menghapus sisa air mata di pipinya kemudian menatap Sky dan Langit bergantian, "tolong antar saya bertemu Sora,"


"Alhamdullillah ...,"


***


Sesampainya di rumah, Sora tak lekas beristirahat. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk dibuat tiduran. Ia memilih duduk di sofa kamarnya, dengan Mina yang masih setia menemaninya.


Ruby sudah kembali ke rumah setelah berbincang sebentar dengan Sora. Sedangkan Senja pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Beberapa hari berada di rumah sakit dengan kondisi badannya yang sebenarnya tidak terlalu sehat sangat membuatnya kehilangan banyak tenaga.


Sora duduk meringkuk dan menandarkan sisi bahunya yang tidak terluka pada sandaran sofa. Ia memperhatikan Mina yang sedang fokus mengupaskan apel untuknya.


"Dek ...,"


Mina menoleh sejenak pada kakaknya, "ya, Kak?"


Sora tak segera menjawab dan masih menatap adiknya.


"Kenapa, Kak?" tanya Mina.


"Kakak rasa cinta kamu ke Almeer lebih besar dari cinta kakak padanya," ujar Sora.


"Kak! Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" Mina meletakkan apel dan pisaunya diatas meja. "Apa sikap Mina ada yang salah?"


Sora menggeleng, "Kakak yang salah ... seharusnya Almeer memang mendapatkan istri seperti kamu, Mina."


"Astaghfirullah, Kak Sora!"


"Kamu benar-benar mempercayainya, sedangkan aku yang sangat bangga dengan besarnya cintaku padanya malah tidak mempercayainya. Bahkan aku menyakitinya dengan kata-kata yang tak pantas," eluh Sora, ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Air matanya mulai menetes lagi.


"Jujur saja Mina kecewa ketika Kakak tidak mempercayai Kak Almeer. Tapi ada yang baru Mina sadari, Kak Sora hanya sebentar mengenal Kak Almeer, wajar jika Kakak meragukan Kak Almeer."


"Kamu masih mencintai Almeer, Dek?" tanya Sora.


Mina terkejut, "kenapa Kakak bicara seperti itu?"


"Aku ingin menyerah, Dek ...."


"Kak!" Sentak Mina.


Sora menggigit bibir bawahnya yang bergetar ketika gemuruh dalam hatinya semakin memuncak.


"Kakak gak bisa berpikir seperti ini, kak Almeer akan sedih jika melihat Kakak seperti ini," pinta Mina.


"Kakak sudah tidak punya keberanian mendatangi Almeer, Dek. Kakak malu, Kakak benar-benar merasa tidak pantas mrnjadi istrinya. Karena kebodohan Kakak, kami kehilangan anak kami, Dek."


"Kak ...," Mina menarik tangan Sora, "kak Almeer pasti akan memaafkan kamu, Mina yakin itu."


Sora menggeleng dan kemudian memeluk adiknya, meluapkan kembali tangisnya disana. Mina hanya bisa mengusap punggung Sora. Meskipun ingin, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membujuk kakaknya.


Ceklek!


Pintu kamar Sora terbuka. Sora terkejut melihat siapa yang datang. Ia melepaskan pelukannya pada Mina.


"Assalamu'alaikum, Sora ...."

__ADS_1


Ia melihat saudara kembarnya melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan seorang wanita dibelakangnya.


"Moza?" cetus Sora.


Moza tersenyum kecil, "bagaimana kondisimu?" tanya Moza.


Sora mengangguk, "aku sudah baikan." Ia menarik napas dan menghapus pipinya yang basah karena air mata.


"Aku sudah mendengar sedikit musibah yang menimpamu, aku turut prihatin dengan itu," ujar Moza.


"Terimakasih," jawab Sora.


Sky mengambil kursi dari meja belajar untuk Moza, "duduklah," kata Sky.


Moza mengangguk dan tersenyum simpul pada Sky kemudian ia duduk pada kursi itu.


"Dek ... kita keluar dulu, yuk!" ajak Sky pada Mina.


Mina mengangguk, ia merapikan apel dan piring diatas meja terlebih dahulu.


"Sky, aku mau kamu ikut mendengarkanku juga," pinta Moza.


Sky mengurungkan langkahnya, ia menatap adiknya yang juga tengah menatapnya. "Gak apa ya, Dek?"


Mina mengangguk, "iya, Kak ... Mina keluar dulu, ya?" Ia menatap Sora dan Sky bergantian.


"Makasih ya, Dek ...," ujar Sora.


Sky duduk di sofa, sedangkan Moza menatapi kepergian Mina terlebih dahulu sebelum mulai mengatakan tujuannya.


"Aku ingin meluruskan semuanya, Ra," kata Moza.


"Cloe benar-benar bukan anak suamiku?" tanya Sora tanpa basa basi.


Clara menggeleng.


Belum Moza menjawab, air mata Sora kembali menetes kembali. "Kenapa kamu menambahkan nama suamiku pada nama Cloe?"


"Ra ... biarkan Moza menjelaskan satu per satu," ujar Sky.


Sora mengangguk dengan menahan airmatanya.


"Kamu mau aku ceritakan dari awal?" tanya Moza.


"Jangan lewatkan satupun kejadian," jawab Sora.


Moza mengangguk, "maafkan jika ceritaku akan menyakiti perasaan kalian." Ia menatap Sky dan Sora bergantian.


"Kamu bisa katakan sejujurnya, jangan pedulikan perasaan kami," jawab Sky.


Moza mengangguk dan menatap Sora, "sejak aku bertemu dengan Almeer, aku sudah jatuh hati padanya. Menurutku dia pria yang sangat berbeda. Tapi aku tahu dia mempunyai orang lain dihatinya. Seberapa banyak aku memberinya perhatian, sedikitpun ia tak pernah melirikku. Hingga suatu saat, Bima hadir di hidupku ...,"


"Bima?" Sora mengernyit, teringat penjelasan Aga tentang pemilik nama itu.


"Aku menjalin hubungan dengannya, untuk mengalihkan perihnya cintaku yang selalu terabaikan,"


"Sky mencintaimu, kenapa kamu tidak memilih bersamanya saja?" tanya Sora.


"Ra ..., dengarkan saja Moza terlebih dahulu," pinta Sky.


Sora mengangguk dan menahan diri, "maaf ...," ucapnya.


"Sky terlalu baik untuk ku jadikan pelarian, Ra ...," jawab Moza atas pertanyaan Sora sebelumnya.


Sora mengangguk.


"Bima selalu memperlakukanku dengan baik, bahkan terlalu baik. Ia sangat mencintaiku, tapi semakin lama cintanya sangat menyakitiku. Dia terlalu membatasi duniaku, dia menyakitiku setiap aku membuat kesalahan dan berulang kali dia melecehkanku hingga merebut kesucianku."


Sora menutup bibirnya, ia tak menyangka jika Moza mengalamai hal sepelik itu. Ia melirik Sky, wajahnya terlihat datar namun tangannya mengepal kuat hingga menunjukkan otot-ototnya.


"Ra. Aku tak terlalu dekat dengan papaku, terlebih lagi setelah dia menikahi wanita kejam itu. Aku bingung harus mengadu pada siapa? Terlebih lagi, Bima selalu mengelak ketika ku mintai pertanggungjawaban. Dia selalu memukulku, menghinaku dan menuduhku bermain dengan pria lain." Air mata Moza menetes mengingat kejadian masalalunya itu.


"Malam itu Almeer mengetahui pertengkaranku dengan Bima, ia membantuku tapi aku malah berniat jahat padanya ...,"


Sora menatap Moza dan menajamkan pendengarannya, ia tak mau melewatkan satu kata pun.


"Aku berniat menjebak Almeer dan ingin membuatnya menjadi ayah dari anak dalam kandunganku,"


"Astaghfirullahaladzim, Moza ...," Tangis Sora pecah seketika.


"Maafkan kebodohanku ... aku menyadari itu salah, karena itu aku pergi menghindarinya. Aku malu dan merasa hina ...," ucap Moza dengan isak tangisnya. "Aku tidak tahu jika seseorang akan memanfaatkan kebodohanku dan membuat keadaan memburuk seperti ini,"


"Haaaarrrrgghh!" Sora memukul dadanya keras-keras, tangisnya semakin pecah. Bukan ia marah kepada Moza, tapi ia semakin menyesali dan menyesali perbuatannya pada Almeer.


"Sora ..., tenang, Ra!" Sky mencakup kedua pipi Sora.


"Sky ... aku semakin merasa hina, Sky ...," teriak Sora.


Sky memeluk saudara kembarnya itu, "kamu hanya tidak mengerti keadaan sebearnya, Ra."


"Aku bodoooh, Sky! Aku tak pantas mendapatkan maaf darinya ...."


Semakin Sora mengerti kejadian sebenarnya, ia merasa semakin terjatuh dalam jurang penyesalannya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


GAK USAH DI VOTE YA EPISODE HARI INI. VOTENYA BUAT HARI SENIN AJAH. MINGGU DEPAN MAS ALMEER TERAKHIR DI RANK VOTE.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2