
Bandara Abdurrachmansaleh kota Malang siang ini tak terlalu padat, Almeer baru saja melangkahkan kakinya keluar dari terminal kedatangan domestik. Dengan menggunakan taxi, Almeer pergi menuju ke kantornya. Kali ini ia akan berusaha berkali-kali lipat lebih keras lagi. Mengingat perjuangan Sora seperti itu, ia tak mau jika nanti akan mengecewakan wanita yang dicintainya.
"Assalamu'alaikum...," ucap Almeer ketika membuka pintu kantornya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Nanda, seorang customer service kantor Almeer.
"Nda, masih ada perusahaan yang telepon kita buat bikin proyek baru?" tanya Almeer.
"Ada, Pak. Pagi ini ada satu yang masuk." jawab Nanda.
"Tolong pisahin perusahaan yang kita dapat dari telepon dan perusahaan yang kita dapat lewat marketing kita sendiri. Nanti kamu kasih ke Siska, ya."
"Baik, Pak."
"Terimakasih, Nda."
Almeer bergegas masuk ke dalam, menyapa tim produksinya yang kini sudah bertambah banyak. Kemudian lanjut menuju ke ruangannya.
"Assalamu'alaikum, Sis. Ada kabar terbaru apa hari ini?" Almeer berhenti sejenak di meja kerja Siska sebelum ia masuk ke ruangannya.
"Ada rejeki besar, Pak." Siska memberikan sebuah catatan pada Almeer. "Ada perwakilan dari pabrik cat di Surabaya datang kemari untuk membuat iklan animasi produk cat mereka, Pak."
Bukannya senang mendengar kabar dari Siska, Almeer malah merenung teringat keadaan Sora. Pasti ini perusahaan yang sudah didatangi Sora ketika ia mengalami kecelakaan itu.
"Kenapa, Pak? Ada rejeki nomplok gini kok malah murung?" tanya Siska.
Almeer tersenyum masam, ada pengorbanan besar dibalik kontrak ini." ujar Almeer.
Siska mengernyitkan keningnya karena bingung.
"Sis, nanti Nanda akan kasih kamu daftar perusahaan yang bekerjasama dengan kita. Sudah ku suruh pisahkan mana yang didapat dari tim marketing kita sendiri dan yang didapat dari hasill telepon. Tolong nanti untuk hasil keuangannya kamu pisahkan, ya."
Meskipun penasaran, Siska hanya menganggukkan kepalanya saja memenuhi keinginan Almeer.
"Kalau udah selesai tolong kasih ke aku ya, Sis." pinta Almeer kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Senyum manis dan wajah ramah serta sorot mata yang syahdu kini tak tergambar di wajah Almeer, pria berusia dua puluh enam tahun itu terus menunjukkan ekspresi yang sangat serius setelah membaca kontrak kerjasama dari perusahaan yang didapatkan Sora.
Almeer menyalakan komputer yang ada di atas meja kerjanya kemudian duduk di kursi menyandarkan kepalanya disana. Matanya perlahan terpejam, ia juga menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali untuk mengumpulkan energi-energi positif.
Setelah merasa lega dan tenang, barulah ia membuka matanya perlahan dan mulai fokus pada layar komputernya yang sudah menyala.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah ridhoi segala apa yang sedang ku kerjakan."
***
Sudah satu minggu telah berlalu sejak kedatangan Almeer kembali di kota Malang. Dan hari-hari itu sangat-sangat membuat Almeer sibuk. Banyak target yang harus dicapai oleh Almeer untuk menambah pendapatan kantornya.
Sedangkan untuk Sora, hari ini adalah hari yang paling ia tunggu-tunggu setelah ia beristirahat total di Jogja. Bersama dengan Aga ia menjejakkan kakinya di kota Malang. Senyumnya terus mengembang ketika mobil yang ia tumpangi membawanya kembali pada tempat dimana orang yang dicintainya sedang berjuang untuk menghalalkannya.
Dikeningnya sudah tak ada plester putih yang menempel, hanya tinggal sebuah garis kecil bekas jahitan yang tak terlalu mencolok. Bahu kanannnya sudah sembuh, meski belum bisa terlalu bebas digunakan.
"Tante ada tamu, ya?" tanya Sora ketika melihat ada sebuah mobil yang terpakir di depan rumah Lala.
Mita menghentikan mobil yang ia kendarai tepat dibelakang mobil tamu itu.
Sora dan Aga lekas turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah.
"Papa!"
Sora dibuat kaget dengan kedatangan Langit di rumah Lala. Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya dan menghampiri putrinya. Sorot matanya sudah menunjukkan jika ia sedang menyimpan kemarahan.
PLAK!!
sebuah tamparan keras dari tangan Langit mendarat di pipi Aga.
"Pa!!" pekik Sora.
Aga hanya tertunduk, ia sudah tahu apa alasan Langit melakukan hal itu padanya.
Kedua tangan langit mencengkram kerah baju Aga, menatap pria itu begitu kejam. "Bisa-bisanya kamu menyembunyikan hal besar seperti ini dariku!" suara Langit memang pelan, namun sangat menunjukkan betapa besar kemarahannya.
"Pa! Ini bukan salah Aga, Sora yang menyuruhnya—"
"Mita! Aura!" panggil Langit cukup keras, mengabaikan putrinya yang ingin memberi penjelasan padanya.
"Ya, Tuan."
"Masukkan koper Sora ke dalam bagasi mobil, dia akan kembali ke Jakarta." perintah Langit.
"Pah, Pah!" Sora panik mendengar perintah papanya, ia menarik tangan papanya untuk memohon. "Papa gak bisa ajak aku pulang sekarang, masih ada yang harus Sora lakukan disini, Pa."
Langit diam, tak mempedulikan rengekan putrinya. Ia hanya menatap keluar rumah dengan mengeratkan gigi-ginya, berusaha untuk mengendalikan kemarahan yang menyeruak dihatinya.
"Paaah..., Sora mohon...," Dengan uraian air mata Sora merengek, mencoba mengubah keputusan papanya.
Sora melihat ke sekitar, hanya ada tantenya yang sedang menatapnya iba. Tidak ada mamanya disini yang akan membelanya, ia harus berusaha mengubah keputusan papanya.
"Pamit ke tantemu, papa akan menunggumu di mobil." ucap Langit tegas.
"Sora tidak bisa pergi, Pa. Sora harus disini, Sora harus membantu Almeer."
"Cukup Sora!! Jangan mencoba menguji kesabaran papa disini!" Sentak Langit.
Sora menunduk ketakutan ketika melihat kemarahan papanya, ia harus memaklumi kemarahan itu. Tapi, ia juga tak bisa menyerah begitu saja untuk ikut papanya ke Jakarta. Terlebih lagi tanpa berpamitan pada Almeer.
__ADS_1
"Tidak hari ini, Pa! Sora janji akan segera pulang, tapi tidak sekarang."
Langit menatap putrinya, mencakup kedua pipinya. Sorot matanya tak menunjukkan kemarahan, justru menunjukkan sebuah kesedihan ketika melihat bekas jahitan yang ada di kening Sora.
"Kamu tahu alasan papa berbuat seperti ini, Nak. Kita pulang sekarang." pinta Langit dengan lembut.
Sora menggeleng, ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Beri waktu Sora sehari saja, Pa. Biarkan Sora menemui Almeer."
Langit memejamkan matanya, menarik napas panjang dengan memejamkan kepalanya. "Besok kita pulang ke Jakarta." kata Langit kemudian.
Meskipun berat, Sora menganggukkan kepalanya. "Ya, Pa." jawabnya pasrah.
Langit melangkah meninggalkan Sora bersama Tomy, tangan kanan Langit semenjak Hengky memutuskan tinggal di Singapore mengurus bisnis keluarganya.
"Pah!" Sora berlari menghampiri papanya, ia menarik tangan papanya. "Ini semua keinginanku, Almeer tidak terlibat dalam hal ini. Dia tidak tahu apa-apa."
Langit melepaskan pelan tangan putrinya, "Masuklah..., papa akan meninganap di hotel." ujar Langit.
"Tolong jangan mengusik Almeer, Pa." pinta Sora.
Langit mengulas senyum, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil.
Tomy mengeluarkan koper Sora dari dalam mobil dan memberikannya pada Mita dan Aura yang masih berdiri didepan pintu pagar.
"Saya permisi, Nona." ucap Tomy pada Sora kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Rasa cemas mulai menghinggapi benak Sora ketika mobil yang membawa papanya beranjak pergi. Ia benar-benar tak ingin jika papanya akan menyalahkan Almeer atas kejadian ini, apalagi jika sampai mereka harus mengusik pekerjaan Almeer.
Ia kembali melangkahkan kakinya kembali ke teras rumah, menghampiri Aga yang sedari tadi menatapnya datar. Ia merasa bersalah pada pria itu. Karena sudah menuruti kemauannya, Aga harus menerima tamparan keras dari papanya.
"Maafin aku, Ga." ucapnya menyesal.
"Jangan membantah papamu lagi, untuk saat ini menurutlah padanya."
"Aku takut papa akan berbuat macam-macam pada Almeer."
"Karena itu, turuti kemauannya, jangan membuat papamu semakin marah."
Sora hanya tertunduk pasrah.
***
Adzan magrib sudah berkumandang, kali ini Sora sengaja untuk sholat magrib di masjid pesantren Al Mukmin, ia harus menemui Almeer setelah siang tadi mereka saling membuat janji untuk bertemu.
Namun hingga sholat isya' telah terlaksana, Sora belum juga mendapati pria yang sedang ditunggu-tunggunya itu datang. Ia memutuskan untuk tetap menunggunya sambil membaca Qur'an dengan beberapa jama'ah disana.
Semakin malam, satu per satu jama'ah meninggalkan masjid. Hanya tertinggal beberapa santri putra yang masih melanjutkan membaca Qur'an. Sora tak. lantas pulang, ia tetap menunggu Almeer di teras masjid.
Dan sekali lagi, ia menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit disana tanpa kehadiran Almeer. Ia memutuskan untuk pulang dan mengabari Almeer lewat telepon.
"Al...,"
"Ra! Maaf, aku lupa sudah membuat janji denganmu." ucapnya panik.
Sora mengangguk, "Pasti sibuk banget ya?" tebak Sora. "Udah sholat?" tanyanya.
"Udah tadi di kantor. Maaf banget ya aku lupain janji kita."
"Ngobrol di taman bentar, ya." Ajak Sora.
Mereka menuju ke taman perumahan yang masih terlihat ramai orangtua yang menemani anak-anaknya bermain dengan mainan-maianan yang ada disana.
Sora dan Almeer duduk di sebuah bangku panjang,tentunya dengan tetap menjaga jarak.
"Pasti kamu sibuk banget, ya..." ujar Sora.
Almeer tersenyum, "Apa yang mau kamu bicarakan, Ra?" tanya Almeer.
"Bagaimana keadaan di kantormu?"
"Alhamdullillah ramai, Ra."
"Apa masih banyak sisa kekurangannya, Al?"
Almeer diam sejenak, mencoba memahami kekhawatiran Sora. "Ra..., kamu tidak perlu memikirkan itu, ya." pinta Almeer.
"Papaku di Malang, Al." ujar Sora.
Almeer melebarkan matanya, "Benarkah?"
Sora mengangguk, "Papa sudah tahu apa yang terjadi padaku, Al. Aku takut papaku akan menyalahkanmu atas semua ini." Sora meremas tangannya, matanya menunjukkan kegelisahan.
"Sora..., kenapa kamu harus mencurigai papamu sendiri?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Al. Kamu gak tahu seperti apa papaku. Bagaiamana jika—"
Almeer menggeleng, mencoba menenangkan kepanikan Sora. "Aku memang yang bersalah, Ra. Jika papamu marah padaku, itu wajar. aku pun akan meminta maaf padanya dan akan bertanggung jawab."
"Al—"
"Ra, jangan mengkhawatirkan dan jangan membelaku terlalu berlebihan didepan papamu. Beliau yang mengurusmu dari kecil hingga dewasa dan memberimu kasih sayang yang melimpah. Jika kamu terus membela pria yang baru kamu kenal beberapa bulan ini didepannya, Itu akan menyakitinya, Ra. Aku tidak mau kamu memberiku perhatian lebih besar dari perhatianmu pada papamu. Pengorbananku tak ada apa-apanya dibandingkan beliau."
Sora kembali diam, ucapan yang keluar dari mulut Almeer justru membuat kegelisahannya semakin memuncak.
"Kalau aku tidak membelamu, siapa yang akan membelamu, Al? bagaimana jika papa memintamu untuk membatalkan khitbah-mu padaku?" tanya Sora.
__ADS_1
"Bukankah beliau yang bilang jika aku gagal menyelesaikan persyaratannya, baru beliau akan menolak khitbah-ku. Jadi untuk sekarang aku harus menyelesaikan persyaratan yang beliau berikan dahulu. Untuk selanjutnya biarkan Allah yang menentukannya."
"Kenapa kamu bisa sepercaya diri ini, Al? padahal aku sangat khawatir." ujar Sora.
"Ra..., bisakah kamu mendengarkanku?"
"Aku sudah mendengarkanmu sejak tadi." sahut Sora, membuat Almeer tertawa geli dan menganggukkan kepalanya, ia sadar sudah salah bicara.
"Dengarkan aku, aku sudah mengatakan ini untuk kesekian kalinya."
Sora mengangguk, "Ya."
"Serahkan semuanya pada Allah, Ra. Yakinkan semuanya pada Allah. Kita hanya berusaha, Allah yang menentukan."
Sora menundukkan kepalanya, "Mudah kamu mengatakannya, Al. Tapi susah hatiku untuk melakukannya." keluhnya.
"Pelan-pelan, Ra."
Sora mendongakkan kepalanya dan menatap Almeer. Kegelisahannya belum hilang. Ia tahu, rasa cintanya pada pria itu terlalu besar, ia tahu jika itu salah tapi hatinya tak bisa membohongi diri sendiri. Betapa takutnya ia kehilangan pria itu.
***
Pagi itu Almeer datang lebih pagi ke kantor, pekerjaanya sudah menanti. Ia juga berpesan pada Siska jika ia tak ingin menerima tamu hari ini. Namun tak lama dari ia mulai mengerjakan pekerjaannya, pintu ruangannya terketuk.
Tok tok tok!
"Masuk...," ucap Almeer ketika mendengar pintu ruangannya diketuk.
Siska membuka pintu ruangannya dan menghamapiri meja kerja Almeer, "Pak, ada orang yang mau bertemu anda." kata Siska.
"Bukankah hari ini aku tidak ada janji dengan siapapun, Sis?" tanya Almeer.
"Iya, Pak. Saya sudah mencoba memberitahu tapi beliau bersikeras untuk bertemu dengan anda, Pak."
"Beliau? siapa namanya, Sis?" tanya Almeer.
"Pak Langit."
Deg!
Almeer segera mengambil kalender duduk yang ada diatas mejanya, "Sekarang masih tanggal dua puluh dua kan, Sis?" Almeer memastikan.
"Betul, Pak."
Almeer berdiri, ia merapikan pakaiannya dan menarik napas dalam-dalam sebelum ia pergi meninggalkan ruangannya untuk menemui Langit.
Ia pergi bersama Siska menuju ke ruangan paling depan, dimana semua tamu akan menunggu disana. Almeer melihat pria paruh baya bersama seorang pria yang usianya terlihat lebih tua darinya.
"Assalamu'alaikum, Pak Langit." sapa Almeer, ia membungkukkan badan untuk mencium tangan pria paruh baya itu.
"Wa'alaikumsalam....," jawab Langit. "Apa kedatanganku mengganggumu?"
"Tidak, Pak." jawab Almeer. "Apa yang membuat anda datang ke kantor saya yang kecil ini, Pak?"
"Untuk memastikan sesuatu, bukankah ini sudah mendekati batas waktumu? aku ingin tahu seberapa banyak yang sudah kamu dapatkan."
"Bukankah saya masih memiliki waktu delapan hari lagi?" Almeer memperjelas lagi.
"Ya...," Langit mengangguk, "Sudah berapa banyak yang kamu dapatkan untuk memenuhi persyaratanku?"
"Tolong tunggu sebentar, Pak."
Almeer berdiri dari duduknya dan pergi mengambil sesuatu di ruangannya. Tak lama kemudian ia kembali dan menyerahkan selembar kertas pada Langit.
"Itu rekening koran saya per hari kemarin, Pak." jelas Almeer, ia kembali duduk di depan Langit.
Pria paruh banyak itu tersenyum dan menaikkan satu sisi alisnya, membuat guratan disekitar pelipis. Ia menatap Almeer yang setengah tertunduk, tak berani menatapnya.
"Kamu cukup tangguh juga." senyumnya masih mengembang memuji kehebatan pria muda didepannya itu.
Almeer hanya diam tertunduk.
Langit berdiri dan mengembalikan kertas ditangannya pada Almeer, "Sora akan kembali ke Jakarta bersamaku." ujar Langit.
Almeer berdiri dari duduknya, "Saya minta maaf atas musibah yang telah Sora alami, Pak."
"Huh!" Langit mendengus kesal, "Penuhi saja kekurangan itu, jika memang berhasil, datanglah ke Jakarta. Jika tidak, sebaiknya gunakan uang itu untuk mempersunting wanita lain."
"InsyaAllah saya akan tetap ke Jakarta, Pak."
Langit mengabaikan kalimat Almeer dan pergi meninggalkan kantor Almeer.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
__ADS_1
Terimakasih sangat laf laf ku