ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
57


__ADS_3

Sora mencengkram erat gamisnya ketika Moza melakukan kontak mata dengan Almeer sebelum menjawab pertanyaannya.


"Iya, dia putriku," jawab Moza.


Sora terbelalak mengetahui Moza sudah mempunyai putri, terlebih lagi nama panjang putrinya sama dengan nama suaminya.


"Kita mau makan malam, kalian mau ikut gabung?" tanya Almeer.


"Mau, Oom!" teriak Cloe.


"Enggak-enggak, Sayang." Moza menolak keinginan putrinya, "kita harus segera pulang," lanjutnya.


"Tapi Cloe masih mau ketemu Oom Almeer, Cloe lama gak ketemu Oom Almeer, Ma!" rengek Cloe.


"Iya, Za. Kalian bisa ikut dengan kami." Almeer manatap istrinya, "gak apa kan, Ra?"


Pertanyaan Almeer mengambil alih ingatan Sora pada selembar kertas di buku Khadijah yang sempat dibacanya.


"Ya, Al?" tanya Sora.


"Moza dan Cloe bisa ikut gabung makan malam bersama kita, kan?" Almeer mengulang pertanyaannya.


Sora menatap Moza dan Cloe sejenak.


"Kami pulang saja, Al. Cloe bisa bertemu denganmu lain waktu," ujar Moza, tepat ketika Sora baru membuka mulut.


"Kami pulang dulu, Al." Moza bergegas pergi meninggalkan Almeer dan Sora.


Sorot mata Sora terus mengikuti langkah Moza hingga wanita itu menghilang dibalik kerumuman pengunjung Mall.


"Kamu tidak suka dengan Moza, Ra?" tanya Almeer.


Sora mengalihkan padangannya pada suaminya, "entahlah, Al. Aku tidak tahu aku sedang membencinya atau aku ...," Sora menghentikan ucapannya.


"Kenapa?" tanya Almeer.


Sora menggelengkan kepalanya, "makan aja yuk, Al. Aku laper banget ...." Ia mengusap perutnya.


Almeer mengangguk dan mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju ke foodcourt. Sampai disana, mereka segera memilih makanan dan minuman kemudian mencari tempat duduk kosong.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Ra." Almeer menarik tangan Sora dan menggenggam tangan itu.


Sora hanya diam dan menunduk.


"Kamu mau aku jelaskan, atau kamu yang bertanya padaku?" tanya Almeer.


Sora mengangkat kepalanya dan menatap Almeer, "biarkan aku yang bertanya, Al." Kata Sora.


Almeer mengangguk.


"Kamu tidak mempunyai hubungan darah dengan Cloe, kan?" tanya Sora.


Almeer menggeleng, "tidak sama sekali, Sora. Kamu satu satunya wanita pertama yang ku sentuh. Jika kamu ragu, aku berani bersumpah."


"Aku percaya padamu, Al."


"Aku siap menjawab pertanyaanmu lagi, Sora."


"Kenapa harus ada namamu di nama Cloe?"


Almeer menggeleng, "aku tidak bisa menjawab itu, aku belum pernah menanyakannya pada Moza," jawab Almeer.


"Moza mencintaimu?" cecar Sora.


Almeer mengangguk, ia merasakan tangan Sora mengepal erat ketika mendapatkan jawabannya. "Dulu, Ra ...," tandasnya.


"Cloe terlihat dekat denganmu, Al?"


"Cloe tinggal di Jogja, aku sering bertemu dengannya."


"Termasuk, Moza?"


Almeer menggeleng, "Moza tinggal di Malang, Ra."


Sora diam sejenak. Meskipun Almeer sudah menjawab semua pertanyaannya, entah kenapa benaknya belum merasa lega.


"Moza seorang single panrent?" tanya Sora lagi.


Almeer mengangguk, "iya, Ra. Tapi aku tidak bisa menceritakan alasannya,"


"Kenapa?"


"Aku tidak memiliki hak untuk menceritakannya pada orang lain, Ra."


"Aku istrimu,"


Almeer tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya dan menepuk punggung tangan Sora untuk menerima keputusannya.


"Permisi ...,"


Seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka, membuat Sora diam dan menghargai keputusan Almeer.


Pelayan segera pergi setelah semua makanan dari nampan yang dibawanya berpindah ke meja pelanggan. Sora dan Almeer pun mulai menyantap hidangan mereka.


"Besok aku ajak lihat rumah kita, Ra," ujar Almeer.

__ADS_1


"Sudah beres? Dimana tempatnya? Jauh dari pesantren, gak?" cecar Sora, ia sangat antusias.


"Belum beres, Sora. Mungkin habis dari Jakarta bisa kita tempati," jawab Almeer.


"Iiih, aku gak sabar deh jalani waktu tiap hari sama kamu, ngurusin rumah kita, masakin kamu ...," Sora sudah membayangkan hal-hal manis dalam berumah tangga.


"Iya, Sora. Nanti kita akan sering habiskan waktu berdua,"


"Oya, Al. Andaikan aku bantu-bantu di toko mama boleh, gak?" tanya Sora.


"Boleh. Aku tahu kamu akan bosan jika aku tinggal kerja."


"Makasih ya, Al ...," pekik Sora sumringah.


"Tapi, kalau kita sudah punya anak, kamu berhenti kerja ya? di rumah saja urus anak kita," saran Almeer.


"Siap, Kakanda!" Sora memberi hormat pada Almeer.


"Hahaha, berasa jadi raja nih aku,"


Sora tersenyum, "kan emang kamu raja di hatiku, Al."


"Wah, aku digombalin istriku, nih."


"Emang kamu aja yang bisa gombalin aku?"


Almeer tertawa melihat Sora dan kemudian melanjutkan makan malam mereka dengan canda dan tawa.


***


Pagi ini Sora melakukan aktivitasnya seperti sebelumnya. Mencuci baju, membantu mama mertuanya di dapur dan kembali ke rumah membantu Almeer untuk bersiap pergi ke kantor.


"Kamu jadi ke toko mama, Ra?" tanya Almeer ketika melihat istrinya sedang memakai kerudung di depan cermin.


"Iya, tadi aku juga udah bilang ke mama Ruby kalau mau bantu-bantu di toko." Sora menghampiri Almeer yang sedang memakai baju, ia membantu suaminya mengancingkan kemeja.


"Mau berangkat sendiri apa bareng sama aku?" tanya Almeer..


"Bareng kamu, aja. Aku suka kamu boncengin," jawab Sora, "Lebih romantis." imbuhnya dengan senyum menggoda.


"Banyak debu kalau pakai motor, Ra."


Sora mengalungkan kedua tangannya di leher Almeer, ia sedikit berjinjit kemudian mengecup bibir Almeer. "Yang penting aku bisa memperbanyak waktu buat nempel-nempel sama kamu," imbuhnya.


Almeer tersenyum melihat istrinya yang sudah lebih berani menciumnya, ia menahan tubuh Sora yang sempat akan mundur kemudian menariknya kembali kedalam pelukannya.


"Udah berani nih, sekarang?" tanya Almeer.


Sora tersenyum malu, "iya, udah berani. Hihihi."


"Hah?" Sora bingung dengan jawaban Almeer.


Belum sempat bertanya, Almeer sudah mendaratkan bibirnya diatas bibir Sora, ******* bibir Sora yang sudah terbalut lipstik dengan lembut. Sora tak tinggal diam dan membalas ciuman Almeer. Ciuman itu tak berlangsung lama, keduanya harus bisa menahan diri untuk tidak terbawa napsu.


Almeer melepaskan ciumannya dan menatap Sora, padangan mereka bertemu, diam sejenak dan kemudian kompak menartawakan diri sendiri yang berusaha menahan diri.


"Hahaha, lihat deh bibir kamu kena lipstikku." Sora mengusap bibir Almeer dengan ibu jarinya dan menunjukkannya pada suaminya.


Almeer tartawa, ia juga mengusap tepian bibir istrinya. "Maaf ya, jadi belepotan lipstiknya."


Sora mengangguk.


"Apa harus kita melakukannya dulu, Ra?" rayu Almeer.


"Hah?! Bisa telat kamu nanti, Al." Sora menggeleng cepat.


Almeer mendengus kesal, "rasanya aku ingin libur saja dan menghabiskan banyak waktu denganmu," keluh Almeer.


"Aku juga ...,"


"Tapi sayannya kewajibanku sedang menggunung,"


Sora mengangguk, ia melepaskan tangan kiri Almeer yang sedang menahan pinggangnya, "ayo, nanti kamu keburu telat, loh."


Almeer mengangguk dan merapikan kembali pakaiannya, Sementara Sora mengoleskan kembali lipstik di bibirnya.


"Oh iya, Ra. Mungkin beberapa hari ke depan aku harus pulang malam terus. Sebelum kita ke Jakarta aku harus menyelesaikan satu proyek besar," ujar Almeer.


"Apa itu artinya, besok aku harus pergi ke toko sendiri?" tanya Sora, ia kembali menatap suaminya.


"Enggak, aku bisa jemput kamu dan antar kamu pulang dulu, terus aku bisa balik lagi ke kantor," jelas Almeer.


"Jangan, Al. Jangan! Aku bisa bawa mobil sendiri saja, aku gak mau kamu kerepotan karena aku,"


"Apa tidak masalah seperti itu?" tanya Almeer.


Sora mengangguk, "iya, gak masalah, kok."


"Ya udah, nanti aku jemput lebih awal, ya ...."


"Iya, Al."


Almeer dan Sora pun bersiap pergi. Mereka pergi ke rumah utama untuk berpamitan sebelum mereka pergi.


***

__ADS_1


Hari ini Sora kembali ke toko mamanya, tentu saja mendapatkan sambutan hangat dan godaan jahil dari Mia serta beberapa karyawan lain karena datang kembali sebagai pengantin baru.


Ia juga memesankan nasi kotak untuk makan siang karyawan di toko dan juga di kantor Almeer sebagai tasyakuran pernikahannya dan Almeer.


"Kenapa gak bilang-bilang kalau kamu pesan nasi kotak untuk karyawanku di kantor, Ra?" tanya Almeer yang baru datang menjemput Sora.


"Oooh, ini yang namanya Mas Almeer?" Mia tiba-tiba muncul di belakang Sora, "selamat ya atas pernikahan kalian, semoga sakinah, mawadah, warahmah ya ...."


"Aamiin, terimakasih do'anya, Bu," balas Almeer.


"Ini namanya Tante Mia, Al. Yang ngurusin toko mama ini." Sora memperkenalkan Mia.


"Saya Almeer, Tante Mia." Almeer memperkenalkan diri.


"Aku kira dulu Sora bakal nikah sama Aga, loh. Gak taunya, Aga cuma jagain jodoh orang. Hahahaha." Mia tertawa kecil.


"Kan udah Sora bilang kalau Sora gak punya perasaan sama Aga, Tan." Sora memukul pelan lengan Mia.


Mia tertawa kecil, "Iya ..., semoga kalian bahagia selalu dan cepat saling mengenal satu sama lain. Mengingat kalian baru mengenal sebentar, kan?"


"Iya, Tante ...," sahut Almeer dan Sora kompak.


"Sora pamit pulang dulu ya, Tan ...," pamit Sora.


"Iya, hati-hati, ya ...,"


Sora memakai Helm yang diberikan Almeer kemudian bergegas naik ke atas motor.


"Assalamu'alaikum, Tante ...,"


"Wa'alaikumsalam ...,"


Almeer pun melajukan motornya meninggalkan halaman ruko. Selama diperjalanan Sora menceritakan semua kegiatan yang ia lakukan di toko tadi, bahkan menceritakan tanggapan karyawan-karyawan disana yang mengira Aga yang akan menjadi pendampingnya. Sedangkan Almeer diam sebagai pendengar dan menanggapi apa yang perlu ditanggapi.


"..., kata temen-temen tuh nasib Aga kasian banget, cuma jagain jodoh orang. Ku pikir-pikir, iya sih. Dia yang jagain aku, eh ujung-ujungnya aku nikah sama kamu. Al. Kasian banget kan dia?" Sora menutup kalimatnya dengan tawa renyah.


Almeer hanya tersenyum masam. Sora yang berada di balakangnya Meras aneh ketika tak mendengar tanggapan dari suaminya.


"Maaf ya, aku cerewet banget," ucap Sora ketika menyadari dirinya terlalu banyak bicara.


"Enggak, Ra. Aku suka kamu banyak cerita gini."


"Tapi respon kamu seperti gak nyaman gitu?"


"Mungkin aku cuma merasa bersalah saja, Ra."


Sora mendekatkan kepalanya ke bahu Almeer, "merasa bersalah kenapa?" tanya Sora.


"Sudah mengecewakan orang-orang disekitar kamu yang mendukung hubungan kamu dan Aga," jawab Almeer.


"Al! kamu cemburu sama Aga?!" Sora terbelalak mendengar jawaban Almeer. Antara senang dan takut mendengar suaminya cemburu.


"Suami mana yang gak cemburu dengar istrinya antusias banget nyeritain pria lain, Ra?" tanya Almeer.


"Aku kan gak nyeritain Aga, Al. Cuma nyeritain respon teman-teman aja." Sora mencoba meluruskan.


Almeer hanya menganggukkan kepalanya, tak mau mendebat penjelasan istrinya.


"Al ...." Sora mempererat tangan kanannya yang melingkar di perut Almeer, dan tangan kirinya menyentuh bahu suaminya, "Maafin aku, ya?"


Almeer mengangguk, iya memperlambat laju motornya dan menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang sedang direnovasi.


Sora turun dari motor, menatap Almeer dan menunggu jawaban dari pertanyaannya. Seperti biasa, senyum lembut melebar menghiasi wajah Almeer.


"Aku memang merasa iri pada Aga, Ra. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu, lebih mengerti siapa kamu. Aku iri dengan itu."


"Al ...." Sora tercekat, dia semakin merasa bersalah. "Maafkan aku," lanjutnya.


"Sebenarnya aku sangat marah pada diriku sendiri ketika tahu dia lebih baik dariku dalam melindungimu, Ra." Almeer mendengus kesal dan mengulas senyum masam.


"Aku janji tidak akan menyebut namanya lagi saat bersamamu, Al," usul Sora.


"Enggak, Sora. Aku tidak memintamu berbuat seperti itu." Almeer menarik tangan Sora dan menggenggamnya lembut.


"Bagaimana aku bisa membuatmu agar merasa lebih baik?"


"Biar Allah yang mengaturnya," jawab Almeer dengan senyuman lembutnya, "yang terpenting sekarang kamu sudah menjadi milikku, Sora. Aku akan berusaha membahagiakanmu dan menjagamu lebih dari siapapun."


Sora tersenyum, "terimakasih ya, Al."


Almeer mengangguk, "aku harap kamu bisa bersabar menemaniku, Ra. Aku sudah berjanji pada Allah dan pada kedua orangtuamu jika aku akan memberikanmu kebahagiaan." Ia berdiri dan membalikkan tubuh Sora, "di dalam rumah itu kita akan memupuk kebahagiaan kita, Sora."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2