
Pagi pertama untuk Sora di kediaman mertuanya. Mentari belum menampakkan sinarnya, langit kota Malang masih gelap dengan segelintir bintang yang masih bertahan disana.
Sora sedang memperhatikan jam di dinding. Beberapa menit yang lalu ia sudah merendam baju kotor miliknya dan milik suaminya. Menurut video turtorial mencuci baju yang ia tonton semalam, baju kotor harus di rendam sekitar sepuluh menit. Kini ia sedang menghitung mundur untuk menggenapkan waktu.
"... enam, lima, empat—"
"Assalamu'alaikum ...," Salam Almeer menghentikan hitungan mundur Sora.
"Wa'alaikumsalam." Sora melihat suaminya yang baru pulang dari sholat subuh di masjid
"Lagi ngapain?" tanya Almeer?"
"Ngitung jam, aku lagi rendam baju-baju kita," jawab Sora, "Aku ke kamar mandi dulu ya, nanti kalau lebih dari sepuluh menit bisa-bisa warnanya luntur." Ia berlari menuju ke kamar mandi.
Almeer terkekeh melihat kepolosan istrinya. Ia masuk ke dalam kamar dan melepaskan sarung dan baju kokonya. Meninggalkan celana pendek selutut dan sebuah kaos di badannya kemudian menyusul istrinya di kamar mandi.
"Bisa?" tanya Almeer pada istrinya yang duduk pada kursi kecil dengan bak berisi cucian didepannya.
"Kucek kucek kucek kucek." Sora mempraktekkan apa yang dia lihat di video.
Almeer tersenyum dan ikut jongkok di sisi lain baik, ia mengambil salah satu pakaian dalam rendaman itu. "Kuceknya agak lebar aja, biar cepet selesai, kalau kecil-kecil seperti itu lama nanti," saran Almeer.
"Ooh, iya iya." Sora mengangguk melihat cara Almeer mencuci baju, ia mengikuti gerakan suaminya.
"Bisa?" tanya Almeer.
Sora mengangguk, "sepertinya mudah," jawab Sora.
"Sikat juga seperlunya, kecuali yang ada noda membandelnya," tutur Almeer sambil memberikan contoh.
"Oke ..., sini sikatnya, kamu lihat aja, ya?" pinta Sora.
Almeer memperhatikan istrinya yang sedang berusaha keras melakukan pekerjaan yang sama sekali belum pernah dilakukannya, wanita itu terlihat sangat berusaha keras untuk bisa melakukan pekerjaaannya dengan baik.
"Aduh!!"
Almeer segera menarik tangan Sora, "kenapa?" Ia memperhatikan jemari Sora, salah satu jemari istrinya ada yang lecet.
"Kena resleting, hihihi." Sora tertawa malu karena tidak hati-hati.
"Udah, aku aja yang lanjutin nyucinya." Almeer mengambil sikat baju dari tangan Sora namun ditahan oleh Sora.
"Gak apa, Al. Cuma lecet dikit aja ...,"
"Tapi kan perih kalau kena sabun, Sora."
"Masih bisa ditahan, daripada nahan kecewa pada diri sendiri yang gak bisa apa-apa," cetus Sora dengan senyum manisnya.
Almeer membalas senyuman istrinya dan mengusap kepala istrinya, "terimakasih ya sudah bekerja keras," ucap Almeer.
"Sama sama, Al." Sora kembali menyikat pakaian kotor didepannya, "kamu mau dibikinin teh? atau kopi?" tanya Sora.
"Enggak, gak perlu repot-repot. Aku lebih suka minum air putih, Sora."
"Oya? serius?"
"Iya, serius ...,"
Sora menganggukkan kepalanya, ia senang mengetahui satu hal baru lagi dari suaminya. Almeer masih tetap membantu Sora, memeras baju adalah bagiannya karena ia tahu tangan Sora tak terlalu kuat untuk melakukannya.
"Biar aku yang jemur, Sora." Almeer membawa cuciannya ke halaman belakang.
"Makasih, Al."
Sora mengikuti suaminya ke halaman belakang, bulan masih terlihat samar diantara jingga yang mulai menyebar dari langit timur.
"Al, aku mau ke rumah mama dulu boleh? kali aja ada yang bisa ku bantu disana." tanya Sora.
Almeer mengangguk, "iya, Ra."
Sora bergegas pergi ke rumah utama lewat halaman belakang, terlihat di dapur sudah ada Ruby, Azizah dan Ameera. Ada juga dua orang wanita muda yang tidak Sora kenal ikut membantu disana.
"Assalamu'alaikum ...," sapa Sora ketika memasuki dapur.
"Wa'alaikumsalam ...," sahut semua orang yang ada di dapur.
"Maaf ya, Ma. Sora baru kesini, tadi habis subuhan langsung nyuci baju." Sora mendekati Ruby yang sedang meracik bumbu-bumbu di meja dapur.
"Nyuci baju?" Ruby sedikit terkejut, ia melihat telapak tangan Sora yang kemerahan. "Pakai tangan?" tanya Ruby.
"Iya, Ma."
"Kan ada mesin cuci disini, kenapa harus pakai tangan. Nak?" tanya Ruby, ia meraih tangan menantunya melihat ada beberapa lecet di jari tangannya.
"Meera ...," panggil Ruby pada putrinya.
"Ya, Ma?" sahut Ameera, ia menghampiri mamanya. "Loh, tangan mbak Sora kenapa? merah gitu?" tanya Ameera ketika melihat tangan Sora yang dipegang mamanya.
"Mbak iparmu ini nyuci baju pakai tangan, lihat nih sampai lecet semua." Ruby menunjukkan beberapa luka lecet di tangan Sora.
"Besok-besok pakai mesin cuci saja, Sora. Kamu pasti belum terbiasa cuci pakai tangan," sahut Azizah yang ikut mendekati Sora.
Sora menjadi salah tingkah dan tak enak hati karena keluarga Almeer mengkhawatirkannya hanya karena tangannya kemerahan kena deterjen dan terdapat luka lecet di jemarinya.
"Meera kasih obat yuk, Mbak," ajak Ameera.
"Gak usah, Meera. Cuma gini aja, apanya yang mau di obatin. Gak apa, kok." Jawab Sora.
"Beneran, Mbak?" tanya Ameera.
"Iya, Meera. Terimakasih ...," jawab Sora.
"Ya udah, Meera masak lagi ya, Mbak." Ameera kembali ke dekat kompor setelah mendapat anggukan dari kakak iparnya itu.
"Duduk dulu, Nak." Ruby menarik Sora untuk duduk disampingnya.
"Terimakasih karena sudah mau menyesuaikan diri dengan lingkungan Almeer. Tapi, Mama mau kamu juga harus ingat untuk membuat dirimu nyaman terlebih dahulu. Jangan sampai semua ini akan menjadi beban untukmu, Nak."
"InsyaAllah tidak akan jadi beban untuk Sora, Ma."
Ruby tersenyum, mencakup pipi kanan Sora, "kamu akan mengalami banyak perubahan, semoga kamu bisa menerima keadaan ini ya, Nak."
Sora mengangguk dan tersenyum, "iya, Ma."
"Almeer orang yang sabar, dia tahu bagaimana memperlakukan orang yang disayanginya, Nak. InsyaAllah dia akan menjagamu dan bertanggungjawab penuh atas dirimu. Pesan Mama hanya satu, kalian harus bersabar untuk saling mengenal," ujar Ruby.
"Iya, Ma ..., Terimakasih juga karena Mama dan keluarga besar Mama mau menerima Sora yang masih banyak kekurangan ini."
"Sama-sama, Nak." Ruby tersenyum lembut dengan mengusap punggung tangan menantunya.
"Apa yang bisa Sora bantu, Ma?" tanya Sora.
"Lap piring aja ya?" Ruby mencarikan pekerjaan yang sekiranya bisa dilakukan oleh menantunya.
"Siap, Ma!" Seru Sora.
Sora membantu menyiapkan piring-piring untuk sarapan pagi bersama keluarga barunya. Di dapur yang tidak terlalu besar itu Sora banyak mendengar cerita-cerita tantang Almeer. Lewat keluarga Almeer, ia mulai sedikit-demi sedikit mengerti siapa suaminya.
"... apalagi waktu KKN dulu, bela-belain bantuin temennya makan mie pake cabe segenggam, sampai mas Al dibawa ke rumah sakit. Parah banget mas Al baiknya, sampai relain sakit ya, Ma?" Ameera menceritakan kisah kakaknya yang sangat sensitive dengan makan pedas.
"Oya? sampai segitunya?" Sora terbelalak.
Ameera mengangguk, "iya, Mbak. Sampai ku kira mas Al itu—"
"Sora!"
__ADS_1
Kalimat Ameera terpotong ketika Al datang dengan membawa ponsel Sora yang terus bergetar.
"Kenapa, Al?" tanya Sora, ia berdiri menghampiri suaminya.
"Hape kamu bunyi terus dari tadi ...." Almeer memberikan ponsel ditangannya pada Sora.
"Aga?" gumamnya setelah melihat layar ponselnya, ia menggeser tombol hijau di layar ponsel. "Assalamu'alaikum, Ga. Sorry semalam aku lupa balas pesanmu .... Ooh, iya. Aku kesana...."
Sora menyudahi panggilan teleponnya dan menatap Almeer yang sedang berpura-pura tidak mencuri dengar percakapan istrinya di telepon.
"Al ...," panggil Sora.
"Ya?"
"Temani aku ke depan sebentar, ya?"
"Ada apa?"
"Aku harus menemui Aga,"
Almeer diam sejenak, kemudian mengangguk.
"Ma, Sora tinggal kedepan sebentar, ya." Pamit Sora
"Iya, Nak."
Sora dan Almeer pun segera menuju ke halaman depan, namun tak terlihat keberadaan Aga disana. Mereka memutuskan untuk keluar gerbang dan menemukan Aga disana sedang duduk diatas kap mesin mobil.
Seperti biasa, pria itu masih konsisten dengan wajah datarnya. Pandangannya tertuju pada Sora, sejenak kemudian beralih pada pria yang berjalan disamping Sora.
"Kapan kamu ke Malang?" tanya Sora ketika ia sudah berdiri didepan Aga.
"Kemarin," jawab Aga singkat, ia memberikan kunci mobil pada Sora, "ini mobilmu," imbuhnya.
"Papa yang kasih?" tanya Sora.
Aga mengangguk, "kamu pasti membutuhkannya untuk pergi kemana-mana."
"Enggak, ah. Aku mau kemana-mana sama suamiku. Jadi, aku gak butuh itu." Sora mengembalikan kunci mobil itu pada Aga.
Aga tak menerima kunci itu, ia pindah menatap Almeer, meminta pria itu memberi tanggapan.
"Ambil aja, Ra. Kamu juga pasti butuh untuk kemana-mana," bujuk Almeer.
Sora menatap suaminya. Meskipun ia membutuhkan kendaraan, ia lebih menginginkan pergi berboncengan berdua dengan suaminya kemana-kemana.
"Siapa tahu nanti kamu butuh, Ra," bujuk Almeer lagi.
Sora mengangguk. Ia menurunkan tangannya, mengurungkan untuk mengembalikan kunci mobil pada Aga.
"Aku pamit dulu, Ra," ujar Aga.
Sora mengangguk, "thanks, Ga," ucapnya dengan mengangkat kunci mobil di tangannya.
Aga mengangguk, tanpa berpamitan pada Almeer ia pergi menuju ke mobil yang terparkir di belakang mobil Sora.
"Ituloh mantunya ning Ruby,"
"Cantik, ya ...,"
"Anak orang kaya, tapi kok mau ya sama—"
"Hush!"
Suara ibu-ibu komplek yang sedang berbelanja di tukang sayur seberang jalan itu sama-samar terdengar oleh Ruby dan Almeer. Sora sudah menatap sinis salah satu wanita paruh baya yang bicaranya akan menyinggung masa lalu keluarga suaminya.
"Ra ...," Almeer meraih kunci mobil dari tangan Sora, "masuk yuk, aku parkirin mobilnya." Almeer mengalihkan perhatian Sora.
Sora mengangguk, mereka pun masuk ke dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam halaman parkir pesantren.
***
Usai sholat ashar, Sora meminta izin pada Almeer jika ia akan pergi ke salah satu Mall bersama Ameera untuk mencari baju, namun Almeer tak memberinya izin. Suaminya itu menjanjikan akan mengantar Sora pergi mencari baju malam nanti.
Yes, kencan!
Dengan sabar Sora menantikan kedatangan Almeer. Jarum jam perlahan berputar hingga menunjuk ke angka lima sore, sebentar lagi Almeer akan tiba.
Sora membuatkan teh hangat dan sepiring pisang goreng dari mama mertuanya untuk menyambut kedatangan suaminya. Tidak ada makanan, karena mereka akan makan di rumah utama ataupun makan malam diluar.
Berjalan beriringan dan bergandengan tangan. Aah, membayangkan kencan berdua dengan Almeer saja sudah membuat pipi wanita berkerudung hitam itu bersemu merah.
Sora segera berdiri dan membuka pintu rumah ketika mendengar suara motor matic berhenti di sekitar rumahnya. Ia tersenyum lebar ketika melihat Almeer telah memarkirkan kendaraannya di tempat parkir motor.
Pria itu sadar jika istrinya sedang menantikannya, ia tersenyum dan memberi isyarat pada istrinya jika dia akan menemui mamanya terlebih dahulu sebelum menghampirinya.
"Oke!" Sora membentuk huruf o dari ibu jari dan jari telunjuknya.
Sora menutup kembali pintu rumahnya dan menunggu kedatangan Almeer di ruang tamu kecil rumahnya. Tak sampai lima belas menit Sora menunggu, pintu rumahnya terbuka.
"Assalamu'alaikum, Sora."
Sora berdiri dan menghampiri Almeer untuk mencium tangan suaminya, "Wa'alaikumsalam, Al."
"Gak marah kan karena gak ku bolehin pergi ke Mall sama Ameera?" tanya Almeer.
Sora menggelengkan kepala, "Enggak, kan gantinya pergi sama kamu." Ia melepaskan tas yang menggantung di punggung suaminya.
Almeer teresenyum dengan mengusap kepala Sora.
"Aku udah siapin teh, buruan minum gih, masih hangat." Sora menunjuk gelas teh diatas meja ruang tamu.
"Kamu yang bikin sendiri?" tanya Almeer.
Sora menganggukkan kepalanya berulang kali, "cuma bikin teh sih aku bisa, Al." Ia menyombongkan diri.
Almeer menyebikkan bibirnya, meledek istrinya sambil duduk dan mengambil secangkir teh yang masih sedikit mengepulkan uap panas.
"Kamu beli sendiri ya tehnya? Bukan yang biasa mama bikin, nih," kata Almeer ketika mencium aroma teh bikinan Sora, kemudian perlahan ia meneguknya.
"Gak suka, ya?" tanya Sora.
"Ih, enak banget loh, Ra!" ucap Almeer.
"Serius?!"
"Bohong ...,"
Jawaban Almeer membuat senyum sumringah Sora menghilang dan berganti dengan kekecewaan.
"Hahahaha, bercanda, Sora." Almeer tertawa keras, kemudian meneguk kembali sisa teh didalam cangkir hingga habis.
"Kamu gitu, ih!" gumam Sora.
"Cuma agak kemanisan aja, apalagi minumnya sambil lihatin kamu." Almeer berdiri dan mencakacup kedua pipi istrinya.
Sora ikut mencakup pipi suaminya dan menekannya gemas, "gombalin aja terus."
Almeer tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang malu-malu, kemudian ia mengecup kening istrinya, "aku mandi dulu ya?"
"Iya, Al. Aku siapin baju ganti kamu buat ke masjid." sahut Sora.
"Makasih ya, Sora."
"Sama-sama, Al."
__ADS_1
***
Jalan protokol di kota Malang sedikit padat malam ini, udara dingin tak membuat para warga berdiam diri di dalan rumah. Bergitu juga dengan sepasang pengantin baru yang sedang asyik menikmati setiap detik kebersamaannya.
Duduk di atas motor dengan tangan kanannya yang melingkar diperut Almeer adalah hal yang di idam-idamkan Sora selama ini. Dan akhirnya, kini ia bisa melakukannya.
"Dingin, ya?" tanya Almeer ketika motor yang ia kendarai berhenti di basement salah satu mall terbesar di kota Malang.
Wanita bergamis abu-abu dan berkerudung hitam itu mengangguk, meskipun ia sudah memakai jaket tetap saja masih dingin. Ia turun dari atas motor dan melepas helm dan jaketnya.
Almeer ikut melepas helm dan meletakkan helmnya dan milik Sora diatas kaca spion motornya. Kemudian melepas jaketnya dan mengambil jaket Sora untuk dimasukkan dibawah jok motornya.
"Yuk!" ajak Almeer, tangannya yang dingin meraih tangan Sora kemudian berjalan berdua masuk ke dalam mall.
"Kita kencan ya, Al?" Sora mempertegas kegiatan yang sedang mereka lakukan.
"Iya, kencan pertama kita yang halal." Senyum Almeer merekah menatap istrinya.
"Dulu kalau jalan berdua gak bisa gandengan tangan, pasti ada jarak nih disini." Sora menunjuk diantara lengannya dan lengan Almeer.
"Iya dong! Kalau sampai belum halal aku nyentuh kamu, lalu keterusan gimana?"
Sora hanya meringis dan menunjukkan gigi-giginya. "Tapi kamu sentuh aku dua kali loh sebelum kita halal."
"Iya ..., maaf ya, Sora. Walaupun itu dalam keadaan terdesak, seharunya aku tidak melakukannya," jawab Almeer.
"Sini, deh." Sora menarik bahu Almeer agar pria itu sedikit membungkukkan badannya karena ia ingin membisikkan sesuatu di telinga suaminya. "Tapi aku seneng banget bisa kamu peluk dan kamu sentuh waktu itu," lanjutnya.
"Hahahaha," Almeer tertawa kecil mendengar bisikan istrinya, ia mendekatkan dirinya pada Sora, "kalau sekarang, jangankan minta peluk, minta yang lebih pun bakal ku kasih. Tanpa syarat!"
"Kalo itu maunya kamu sih, Al," cibir Sora.
"Hahahaha, istriku peka banget kalau perkara itu." Tangan Almeer pindah merangkul bahu Sora.
"Aku tuh sekarang udah peka ke segala hal, tauuuk."
Almeer mengangguk kencang, "iya, Sora. Iya ...,"
Almeer tak berhenti menggoda Sora disepanjang langkah mereka. Meskipun gemas dan kesal, Sora sangat menikmati kejahilan suaminya.
Sora dan Almeer masuk ke dalam salah satu store pakaian muslimah. Kebiasaan Sora masih belum hilang, ia selalu kalap ketika berbelanja. Ia mengambil banyak baju gamis maupun kerudung yang entah sebenarnya itu ia butuhkan ataupun yang hanya sekedar suka.
Penjaga toko membantu membawakan baju-baju pilihan Sora ketika tangan Almeer dan tangan Sora terlihat lelah untuk membawanya. Sedangkan Almeer hanya mengikuti Sora sambil memberikan penilaian ketika istrinya itu meminta pendapat.
"Udah, Mbak ...," ucap Sora sambil meletakkan barang yang dibawanya diatas meja kasir.
Satu persatu barcode tag yang menggantung pada baju di input lewat mesin scanner kasir, dan seorang asisten kasir melipat dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong belanja kusus berlabel nama store tersebut.
Sora mengeluarkan dompet setelah petugas kasir mengucapkan angka yang harus dibayarnya. Namun Almeer Sudah lebih dulu memberikan sebuah debit card pada petugas kasir.
"Al! Aku bisa bayar sendiri ...," protes Sora, ia memberikan kartu miliknya pada petugas, "pakai yang ini saja, Mbak," ujar Sora.
Almeer mengambil kartu Sora, "udah, Mbak. Proses aja pakai yang itu."
Petugas kasir memproses pembayaran lewat debit card milik Almeer.
Sedangkan Sora merasa segan dengan suaminya, jika tahu akan begini ia tak mungkin mengambil barang sebanyak itu. Almeer hanya tersenyum dan mencubit pipi Sora agar wanita itu tak berpikir macam-macam. Ia mengembalikan debit card ke dalam dompet Sora.
"Terimakasih sudah mampir ke toko kami ...," ucap petugas kasir ketika memberikan kembali debit card dan bukti transaksi pada Almeer, sedangkan asisten kasir memberikan lima kantong belanja pada pada Sora.
"Terimakasih ...," ucap Almeer dan Sora kemudian meninggalkan store tersebut.
"Makan malam dulu yuk, Ra?" ajak Almeer.
"Al, aku gak enak banget nih sama kamu." Sora tak menanggapi ajakan Almeer, "aku kan beli untuk keperluanku, aku maunya bayar pakai uangku sendiri ...,"
"Bajunya buat siapa?" tanya Almeer.
"Buat aku, lah."
"Nah, kamu siapaku?"
"Istri kamu, tapi—"
"Ya kalau gitu, itu bagian dari kewajiban aku dong untuk membelikanmu pakaian yang layak dan kamu suka."
"Tapi kan, Al ...,"
"Gak ada tapi, Sora sayang ...." Almeer mencubit pipi Sora pelan.
"Al—"
"Sora, aku tahu kamu punya uang sendiri, bahkan mungkin uangmu lebih banyak dariku. Tapi kamu harus ingat satu hal, aku tidak mau kamu menggunakan uangmu, bahkan satu rupiah pun untuk kebutuhan rumah tangga kita."
"Tapi kan aku bisa bantu kamu juga, Al?"
Almeer menggeleng, "selama aku masih mampu, gunakan uangku, Ra. Oke?"
Sora mengangguk meskipun berat, dari sini ia menyadari betapa Almeer menjaga harga dirinya sebagai seorang suami. Karena itu ia tak mau melukai harga dirinya dan memilih patuh.
"Oom Almeer!"
Almeer dan Sora terkejut ketika melihat seorang anak kecil yang masih berusia empat tahunan tiba tiba datang memeluk kaki Almeer.
"Cloe kangen sama Oom Almeer, loh," ucap anak perempuan dengan pipi cubby dan keningnya yang tertutup poni rata.
Almeer mengangkat tubuh gadis kecil itu dan menopangnya disatu lengannya. "Hai, Cloe! Assalamu'alaikum ...," sapa Almeer.
"Wa'alaikumsalam, Oom," Cloe mengalungkan tangannya di leher Almeer, "Cloe seneng bisa ketemu Oom disini,"
"Oom juga senang," jawab Almeer, ia menatap istrinya yang kebingungan. "Cloe, kenalin dong. Ini istrinya Oom Almeer, namanya tante Sora."
"Hai, aku Kianga Sora." Sora mengulurkan tangan pada Cloe, "kamu siapa?"tanya Sora.
"Cloe Sagara, tante."
sora mengenyit, "nama kamu sama seperti suami tante?" Ia menatap Almeer.
"Iya, tante ..."
"Cloe!!" teriak seorang wanita, wajahnya terlihat khawatir ketika menghampiri Almeer dan Sora.
"Moza?" pekik Sora.
"Ya Allah, Sayang. Kenapa kamu pergi gak bilang-bilang ke Mama?" Moza mengambil Cloe dari tangan Almeer.
"Dia putrimu?" tanya Sora pada Moza.
Moza menatap Almeer sejenak, kemudian menatap Sora dan mengangguk.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Baca CLOE HATI-HATI, PAKE C-L-O-E.
Jangan kecepetan, ntar nyebut merek aer mineral lagi. Mana gak di endorse disini.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku