
Aga mengangguk, "Hari ini adalah hari terakhir saya menganggap anda sebagai majikan saya, Nona. Jika kita bertemu kembali setelah hari ini, saya akan menganggap anda sebagai seorang wanita..." Ujar Aga, "Wanita yang saya cintai." Aga menatap Sora, sorot mata yang selalu dingin itu berubah lembut.
Sora terdiam mendengar kelanjutan kalimat Aga. Hening dan badan Sora sulit untuk digerakkan. Ini berbeda, sangat berbeda dengan pernyataan cinta Aga saat di Jogjakarta kala itu.
"Wooooaaaah!!" Sora mencoba mengendalikan diri, "Bulu kudukku merinding, Ga!" Sora mengusap kedua lengannya.
Aga menatap Sora dengan mata tajamnya itu, "Jika Almeer berjuang untuk mendapatkan restu tuan besar, maka saya akan berjuang untuk mendapatkan cinta anda, Nona."
Sora kembali mematung, pandangannya tercekat dimata Aga dan sulit untuk memalingkannya.
Pelan ia menggerakkan jemarinya untuk kembali menguasai dirinya. "Kau tidak cocok jadi pelawak, Ga. Bercandaanmu gak lucu banget." Sora berdiri dari duduknya.
"Saya serius, Nona."
Kalimat Aga menghentikan langkah Sora yang hendak pergi. Sora kembali menatap Aga, kali ini ia kesal. "Kamu tau siapa yang ku cintai, Ga."
Aga mengangguk, "Saya tetap akan berusaha, Nona."
Sora memalingkan wajah, meninggalkan Aga dan masuk ke dalam rumah. Ketika akan masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Senja dan Langit yang baru keluar kamar.
"Pa!!" Sora menghampiri papa dan mamanya.
"Ya, sayang?" sahut Langit.
"Papa serius pecat Aga dari perusahaan?" tanya Sora.
"Iya." Jawab Langit, "Apa dia sudah bicara denganmu?" tanya Langit.
"Iya, sampai niatnya ikut bersaing dengan Almeer!" Jawab Sora kesal.
"Hahahaha, benarkah?" Langit tampak bahagia.
"Maaas." Senja melirik suaminya yang sudah kelewat batas.
Sora mengerutkan keningnya, "Ih, papa kenapa jahat banget sih sama aku? sampai-sampai komunikasi dengan Almeer dilarang."
"Justru papa sayang sama kamu, makanya papa berbuat seperti ini. Kalau kamu sering2 bertemu dengan dia, itu pasti akan sangat mengganggunya."
"Benar, Sora. Sebaiknya kamu tak terlalu sering menghubungi Almeer." Kali ini Senja setuju dengan suaminya.
Sora hanya terdiam. Ia membenarkan saran mamanya, tapi mereka akan terpisah jarak dan waktu, pasti itu akan menjadi hal yang menyusahkan.
"Padahal kami sudah terpisah jarak, papa masih harus membatasi komunikasi kami." keluh Sora.
"Memang kamu tahu dimana kantor Almeer?" tanya Langit.
"Jogja...," Jawab Sora sambil berlalu pergi.
Langit dan Senja saling menatap kemudian bersamaan mengangakat kedua bahu mereka.
***
Matahari ibu kota sudah kulai condong ke arah barat, tumpukan kendaraan mulai terjadi di beberapa titik. Aga salah satu penduduk yang baru saja terbebas dari kemacetan. Jika tak ada sesuatu yang penting, ia sangat malas keluar di jam pulang kantor seperti ini.
Mobil yang dikendarainya mulai masuk ke sebuah pondok pesantren yang pernah sekali ia menjejakkan kaki disana. Pondok Pesantren Darul Mukmin, tempat ia membuat janji beberapa waktu lalu bersama Almeer.
Ketika ia turun dari mobil, ia mendapati Almeer baru saja menuruni tangga masjid pesantren.
"Almeer!" Panggil Aga seraya mendekati pria bersarung dan berbaju koko putih itu.
"Ku kira gak jadi datang...," Sahut Almeer. "Mari masuk ke dalam." Ajak Almeer.
"Kita bicara disini saja, aku tak bisa terlalu lama disini." Kata Aga.
Almeer mengangguk, ia mengajak Aga untuk duduk di teras masjid.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Almeer.
"Aku sudah mengundurkan diri dari Actmedia,"
Almeer sedikit terperangah mendengar pertanyaan Aga.
"Pak Langit bukan majikanku lagi sekarang, Sora... juga bukan lagi majikanku."
Almeer menatap Aga ketika pria itu memang Sora tanpa sebutan nona seperti biasanya.
"Karena itu, aku memutuskan untuk mendekatinya." Aga memandang Almeer, ia ingin menunjukkan jika ia sangat serius dengan ucapannya.
Almeer diam tak menanggapi.
"Aku mencintai orang yang sama denganmu, dan aku ingin kita bersaing secara sehat."
Almeer mengangguk, "Ya, kita bisa lakukan itu. Kau tahu aku tidak akan menyerah walau ku tahu kau memiliki apa yang tidak ku miliki."
"Kau juga memiliki apa yang tidak ku miliki. Menurutku itu adil."
Almeer kembali mengangguk.
"Baiklah, aku sudah mengatakan keinginanku. Apa kau keberatan?" tanya Aga.
"Tidak, kau bisa melakukannya. Selama Sora masih milik papanya." Jawab Almeer.
Aga berdiri dan disusul oleh Almeer. "Sepertinya nanti, walau tak sengaja kita akan sering bertemu...,"
Almeer mengernyitkan keningnya.
"Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...,"
Almeer menatapi kepergian Aga dengan masih diliputi rasa penasaran dibenaknya. Ia sudah menduga jika Aga memiliki perasaan pada Sora, tapi ia tak menyangka jika perjuangannya akan bertambah berat lagi.
***
Ruang makan keluarga Langit malam ini terlihat ramai sebab ketiga anaknya masih berkumpul di rumah. Sedangkan Aga sudah berangkat mengurusi perusahaannya sendiri setelah bertemu dengan Almeer sore tadi.
Diantara yang lainnya, hanya Sora yang terlihat tak berselera makan. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya dan tak melahapnya sedikitpun.
"Kamu mau ke Malang, Sora?" tanya Langit yang sedari tadi memperhatikan tingkah putrinya.
Sora menggelengkan kepalanya.
"Kamu bisa bantu-bantu tante Mia disana, kan?" bujuk Senja juga.
Sora menggeleng lagi.
"Trus kamu maunya kemana? mau kerja di kantor pusat?" Langit memberi penawaran lagi.
"Di kantor Jogja, boleh?" Sora menatap papanya penuh harap.
"Enggak!" Tolak Langit, "Sudah, Lusa kamu ke Malang aja." Tegas Langit.
Sora menatap mamanya meminta pembelaan,
Senja mengusap punggung Sora yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Turuti saja kemauan papa, sayang. Kamu bisa menghabiskan waktu disana lebih baik dibandingkan disini maupun di Jogja."
"Maa...," Sora keheranan sebab Mamanya sekarang ikut memihak papanya.
Sky dan Mina pun ikut terheran sampai menghentikan makan malam mereka. Tapi mereka memilih untuk tak ikut campur dalam urusan itu.
"Kalau kamu tidak mau ke Malang, habiskan saja waktumu disini." Kata Langit, "Kemarin minta mau ke Malang, giliran di turutin malah gak mau." Keluh Langit.
"Kamu putuskan, Sayang. Mau ke Malang atau di sini saja?" tanya Senja.
Sora ganti menatap adiknya, "Dek, gak apa kalau kakak ngurus usaha mama di Malang?" tanya Sora.
Mina mengangguk, "Gak apa lah, Kak. Lagian Mina kan masih nunggu wisuda dulu di kampus."
Sora memanyunkan bibirnya, "Aku iri sama kamu sekarang, Dek." Keluhnya.
"Gak usah pake iri-iri, kamu udah dapat banyak." Sindir Sky.
"Sky...," Senja mengingatkan putranya.
"Udah, Ah. Sora kembali ke kamar dulu." Sora berdiri meninggalkan meja makan.
"Iya, sayang..." Sahut Senja.
Sora pun kembali ke kamarnya, sampai di kamar ia langsung mencari ponselnya dan duduk di jendela kamarnya. Ia mendengkus kesal sebab pemandangan diluar jendela itu berbeda dari yang ia harapkan.
Ia membuka aplikasi whatsapp-nya. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat ada pesan baru dari Almeer. Baru ia akan membuka pesan dari Almeer, pria itu sudah melakukan panggilan telepon.
"Assalamu'alaikum, Al." Sahut Sora setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Wa'alaikumsalam, Sora."
"Aku baru mau membuka pesanmu, Al."
"Maaf ya, Ra. Aku meneleponmu."
"Ih, gak apa, Al. Aku seneng banget kamh telepon." Ucap Sora khas dengan keterus terangannya.
Tak ada suara lagi dari Almeer.
"Al..., Kok diem. Kenapa?" tanya Sora.
"Tadi Sore aku bertemu dengan Aga, Ra."
Sora terbelalak, "Dimana?"
"Di pesantren, Ra. Dia meminta bertemu denganku."
Sora kembali terbelalak, "Dia minta ketemu kamu?"
"Iya..., Dia mengatakan jika dia juga akan berjuang untuk mendapatkan cintamu."
Sora mengambil bantal sofanya dan meremas-remasnya melampiaskan kekesalannya pada Aga. Kenapa tuh orang harus bilang-bilang, sih? batin Sora
"Aku senang Aga mau bersaing secara sehat denganku. Aku jadi semakin merasa tertantang, Ra. Dan kamu harus tahu, aku tak akan menyerah dengan mudah." Ujar Almeer.
Sora tersenyum mendengar Almeer yang masih percaya diri dengan apa yang dimilikinya. "Al...,"
"Ya, Ra?"
"Aku juga akan berusaha bersamamu untuk menjadi kita."
"Hahahaha, iya Ra, iya."
Mendengar Almeer tertawa membuat Sora menjadi tersipu malu. "Aku tidak akan pernah mempedulikan Aga, Al. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku. Hatiku full berisikan Sagara Almeer." Sora menggebu-gebu meyakinkan Sora.
"Trus. kamu? ditaroh mana?"
"Nanti, sabar... Usai aku menyebut namamu dalam ijab qabul kamu akan tahu dimana tempatku sesungguhnya di hatimu."
"Iiiiiihhhh, Almeer...," Sora memeluk bantal sofa erat-erat karena gemas dengan ucapan Almeer.
"Udah ya, Ra."
"Loh, kok udahan, Al. Belum ada lima menit ini." Keluh Sora.
"Aku besok harus pergi ke Jogja, Ra. Aku harus menyelesaikan semua urusanku dan fokus di kantor baru ku. Seperti kata papamu, mungkin juga kita akan terbatas dalam berkomunikasi. Aku harap kamu bisa bersabar, ya?"
"Iya, Al. Aku harap semuanya berjalan dengan lancar."
"Terimakasih do'anya, Sora. Aku tutup teleponnya, ya."
"Iya, Al."
"Assalamu'alaikum, Sora..., Sehat selalu."
"Wa'alaikumsalam, Almeer."
Akhirnya Sora memutus sambungan teleponnya bersama Almeer. Hatinya kembali di selimuti keresahan sebab kedepannya ia akan sulit menjalin komunikasi bersama Almeer.
"Semangat, Sora! Semangat! Kamu juga harus berjuang!" Sora mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata penuh keyakinan untuk menjalani hari-harinya.
***
Hari dimana Sora pergi ke kota Malang pun tiba. Tentu saja Mita dan Aura masih setia menemani Sora. Namun, kali ini ada yang berbeda, Sora naik pesawat menggunakan economy class. Perdebatan panjang terjadi antara Langit dan Sora sejak kemarin Sore. Dan akhirnya Langit menyerah dengan keputusan Sora.
"Oom Bimo dimana?" tanya Sora pada sambungan telepon yang terhubung dengan adik mamanya yang tinggal di Malang.
"Oom di Semarang nih, Sora. Ada apa?" Bimo balik bertanya.
"Loh, Sora di Malang, nih. Siapa yang jemput Sora, Oom?" Sora kebingungan ketika menoleh ke kanan dan kiri setelah keluar dari pintu kedatangan Bandara Abdurrahman Saleh kota Malang.
"Mamamu gak kasih kabar kalau kamu datang, sebentar Oom hubungi tantemu dulu biar jemput kesana, ya."
"Oom Oom, gak perlu Oom! Sora udah tahu siapa yang jemput kesini."
Pandangan Sora tertuju pada pria berkaos putih dan celana jeans hitam yang berdiri tak jauh didepannya. Mata dingin pria itu tertutup sebuah kacamata hitam yang menggantung di pangkal hidungnya.
"Siapa, Ra?" tanya Bimo.
"Aga, Oom. Sora gak tahu kenapa dia bisa ada di sini." Jawab Sora, "Sudah, Oom. Sora langsung pulang ke rumah, ya. Assalamu'alaikum..." Sora memutus sambungan teleponnya dengan Bimo.
Aga berjalan mendekati Sora yang masih diam memandangnya tak ramah sama sekali.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Sora.
"Menjemputmu."
"Diiih," Sora merasa canggung mendengar Aga yang berbicara non formal padanya.
Aga meraih koper yang ada di tangan Sora, "Aku akan mengantarmu ke rumah Oom Bimo."
"Sekarang aku merasa aneh mendengar mu bicara seperti ini padaku." Kata Sora.
"Kamu harus membiasakannya mulai sekarang." Kata Aga, "Ayo..., " Aga memandu jalan menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Ia meletakkan koper milik Sora di bagasi, Aura dan Mita pun mengikuti.
"Yuk, masuk." Ujar Aga setelah membuka pintu mobil depannya untuk Sora.
Sora masuk begitu saja, Aura dan Mita duduk di kursi belakang. Aga bergegas masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraannya.
Sora terus memalingkan wajah dan menatap keluar jendela pintu mobil.
"Ga! Stop!!" Teriaknya, membuat Aga segera menepikan kendaraannya.
"Kenapa?" tanya Aga khawatir.
Sora keluar dari mobil dan berlari ke tempat antrian taxi bandara. Ia menelisik tiap-tiap wajah orang yang ada di sekitar pintu kedatangan dan tempat parkir taxi bandara. Ia berlari kesana-kemari untuk memastikan seseorang yang ia lihat
"Sora!"
Mendengar namanya dipanggil, ia segera menoleh ke belakang. Raut kecewa tergambar jelas di wajahnya. Itu bukan orang yang dia harapkan, melainkan Aga yang sedang berdiri disana.
"Siapa yang kamu cari?" tanya aga.
Sora menggelengkan kepalanya, "Ayo buruan balik." Ajak Sora.
Aga mengangguk. Meskipun Sora sudah melangkah kembali ke mobil, tapi pandangannya masih terus mencari-cari sesuatu.
"Kamu mau aku mencari apa yang kamu cari?" tanya Aga.
"Enggak! Sok banget kamu nebak-nebak apa yang ada dalam pikiranku." Sora masuk ke dalam mobil dan menutup pintu kuat-kuat.
Aga menghela nafas panjang kemudian masuk dan kembali melajukan kendaraannya meninggalkan bandara.
"Kamu kenapa bisa disini, Ga?" tanya Sora, pandangannya tetap menatap keluar jendela.
"Kantorku ada di Malang dan Surabaya."
"Pasti papa sengaja suruh aku ke Malang biar deket sama kamu! Waktu aku minta mau ke Malang gak di bolehin, tiba-tiba aja berubah pikiran maksa aku ke Malang." Gerutu Sora.
"Pak Langit pasti punya alasan lain juga, Sora."
Sora menatap Aga, "Jangan menyebut namaku, telingaku menolaknya!"
"Sudah ku bilang kamu harus membiasakan diri, Sora." Aga menegaskan dan tak segan memandang wajah Sora. Ia tersenyum tipis kemudian kembali menatap jalanan.
Sora buru-buru membuang muka, entah kenapa sejak pernyataan cinta Aga yang kedua kali padanya beberapa hari lalu membuatnya merasa kesal pada Aga. Bagi Sora, Aga hanya menambah rumit keadaan saja. Wanita bergamis hitam dan berkerudung merah itu memilih diam dan terus menatap keluar jendela.
Jalanan kota Malang yang lenggang itu mengantar Sora lebih cepat ke tempat tujuannya. Pintu gerbang perumahan rumah keluarga Senja berada sudah didepan mata, namun Sora justru terpaku sejenak pada pintu gerbang pondok pesantren Al Mukmin yang berdiri megah sebelum memasuki kawasan perumahan. Sora tersenyum tipis mengingat tempat yang selalu ia datangi ketika di Malang. Dan kali ini ia kembali kesini, tapi pria yang dicarinya sedang ada di kota lain.
Mobil mulai melambat ketika memasuki jalanan berpaving blok utama perumahan tersebut. Aga menghentikan mobil tepat didepan rumah keluarga Senja yang sejak dulu tak pernah berubah.
Mita dan Aura segera turun untuk mengambil koper mereka dan milik Sora di bagasi mobil. Sora pun juga segera turun, namun....
BRUK!
"Aauuuh!!"
Sora tak sengaja menginjak gamisnya hingga membuat kakinya terselip dan jatuh. Mita dan Aura menghampiri, tetapi masih kalah cepat dengan Aga. Ia dengan sigap menyentuh lengan Sora dan hendak membantunya berdiri.
"Lepas!" Pinta Sora yang pantatnya masih sedikit terangkat ketika Aga menarik lengannya.
"Oke!"
BUG!
Sora kembali terjatuh.
"Iiih! Jahat banget sih!" Protes Sora, Ia berusaha berdiri sendiri.
Aga tersenyum melihat Sora yang kesal. "Bukannya kamu yang nyuruh lepas."
"Huh!!" Sora menggertakkan kakinya ke tanah karena kesal. "Jangan berani-beraninya menyentuhku!" Ancam Sora, kemudian ia membuka pintu pagar kediaman Oomnya itu.
"Assalamu'alaikum, Tante...," Salam Sora ketika masuk ke dalam halaman rumah yang kini terlihat lebih asri karena banyak tanamannya.
"Wa'alaikumsalam..., Ya Allah, ponakan tante sekarang makin cantik aja." Wanita berambut pendek dan masih terlihat muda itu bernama Lala, istri Bimo. Ia langsung menghampiri Sora dan memeluk keponakannya itu.
"Tante sehat?" Tanya Sora ketika pelukannya dengan tantenya terlepas.
"Sehat, Sora. Maaf ya, tante gak bisa jemput kamu ke bandara."
"Gak apa, Tante."
Lala menatap Aga, Mita dan Aura bergntian. Sudah tak asing dengan ketiganya yang memang jika Sky maupun Sora ke Malang pasti Merek ikut.
"Ayo, masuk ke dalam." ajak Lala
Semuanya masuk ke dalam rumah, ada anak laki-laki kecil berusia lima tahun sedang bermain di ruang tamu. Bimo dan Lala mempunyai dua orang anak pertama seorang gadis berusia sepuluh tahun dan anak kedua laki-laki berusia lima tahun.
Perbincangan singkat itu berakhir ketika Adzan dzuhur berkumandang. Aga memilih untuk segera pamit pulang, Sora mengacuhkannya begitu saja. Ia memilih pergi ke kamarnya saja ketimbang mengantar Aga ke depan.
Setelah berganti pakaian, Sora kembali keluar kamar menghampiri Lala yang masih berbincang dengan Mita dan Aura.
"Mau kemana, Ra?" tanya Lala.
Sora mengangkat tas mukenah yang ada ditangannya, "Ke masjid, Tante."
Lala tersenyum lebar, "Hati-hati, ya."
Sora mengangguk, "Kalian di rumah aja." Sora mencegah Mita dan Aura berdiri dari tempatnya.
"Tapi, Nona!"
"Udah udah, ke masjid deket sini aja. Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...,"
Sora pun bergegas keluar rumah dan melangkah menuju ke masjid besar pondok pesantren yang berada di depan pintu gerbang perumahannya. Ada beberapa ibu-ibu perumahannya yang juga sedang menuju kesana.
Suasana masjid cukup ramai, banyak warga sekitar dan para santri yang sudah bersiap untuk melaksanakan sholat. Sora langsung menuju ke tempat wudhu wanita dan setelah usai ia masuk ke dalam shaf wanita. Kebetulan ia mendapat tempat didekat jendela.
Kesibukan tangan Sora yang sedang memakai atasan mukenahnya tiba-tiba saja terhenti ketika ia melihat seorang pria berbaju koko biru muda, dengan sarung hitam sedang berlari kecil menunuju ke teras masjid. Senyumnya mengembang lebar ketika para santri menyapanya, bahkan sesekali ia menepuk bahu beberapa santri untuk membalas sapaan mereka.
"Almeer...,"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
__ADS_1
Terimakasih sangat laf laf kuh.