ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
47


__ADS_3

Usai dari kantor Almeer, Langit langsung menjemput putrinya. Mereka akan kembali ke Jakarta pagi ini. Diantar Aga, Langit, Sora dan Tommy pergi ke Bandara. Tak ada pembicaraan apapun selama perjalanan. Sora sibuk dengan kagelisahannya, sedangkan Langit lebih memilih untuk membicarakan pekerjaannya dengan Tomy.


Sampai di terminal detangan VIP Bandara Soekarno Hatta, mereka sudah disambut Senja. Wanita paruh baya itu lekas memeluk putrinya.


"Bisa-bisanya kamu menyembunyikan kecelakaanmu dari mama, Sayang." ucap Senja, ia memeluk erat-erat anaknya itu kemudian melepasnya perlahan. Kedua tangannya mencakup pipi putrinya, menelisik wajah putrinya hingga terhenti di bekas jahitan yang ada dikening Sora.


Senja menyingkap sedikit ujung kerudung Sora untuk memperjelas luka itu, "Masih sakit?" tanya nya.


"Alhamdullillah, udah enggak kok, Ma." jawab Sora.


"Udah yuk pulang, jangan buang buang waktu disini." ajak Langit, ia mendahului menuju ke dalam mobil bersama Tomy dan beberapa pengawalnya.


Senja tak lekas membuntuti suaminya, ia masih menatap putrinya yang terlihat gelisah. Ia tahu jika Sora sedang merajuk pada papanya.


"Kita bicara di rumah ya, Sayang." bujuk Senja, ia marangkul bahu putrinya dan mengajaknya masuk ke mobil.


Sama seperti keadaan di dalam pesawat tadi, di dalam mobil pun suasana begitu senyap. Tak ada pembicaraan apapun, semuanya diam dalam pikiran mereka masing-masing.


trrt trrt


Getaran ponsel dari dalam tas Sora membuat tangannya merogoh ke dalam tas untuk mengambil ponsel. Bibirnya melengkung indah ketika menatap layar ponselnya. Ia mendapat satu pesan whatsapp baru dari Almeer.


/Assalamu'alaikum, Sora. Aku ingin kamu menjaga kesehatanmu, insyaAllah awal bulan nanti kita akan bertemu di hadapan kedua orangtuamu./


Senyum Sora semakin lebar, jemarinya menyentuh satu per satu huruf yang ada di ponselnya untuk membalas pesan Almeer.


/Wa'alaikumsalam, Al. Alhamdullillah, aku akan menunggu kedatanganmu, Al./


"Senyum-senyum kenapa sih?" goda Senja, "Lihat hape kok bawaanya senyum melulu."


Sora tersenyum gemas hingga matanya menyipit, "Al bilang pasti akan ke Jakarta, Ma." ucap Sora sekaligus menyindir papanya.


"Huh!!" Langit mendengus berat, "Kita lihat saja dia akan ke Jakarta atau tidak. Dia punya banyak kekurangan." kata Langit mematahkan semangat putrinya.


"Mas..., jangan gitu ah." protes Senja.


"Aku gak mau putri kita terlalu berharap jika akhirnya saja kita sudah tahu pasti bagaimana." balas Langit, ia menumpuk satu kakinya diatas kaki yang lain dan bersedekap, menyandarkan diri ke saandaran kursinya.


"Almeer pasti bisa penuhi kemauan Papa yang gak masuk akal itu!" sahut Sora yang duduk disamping sopir.


Langit hanya tersenyum masam mendengar jawaban putrinya. Tak ada lagi percakapan di dalam mobil hingga mereka tiba di rumah.


Senja ikut pergi ke kamar Sora, putrinya berhutang banyak cerita padanya. Sofa yang ada di kamar Sora menjadi tempat favorit ibu dan anak itu untuk saling bertukar pendapat.


Sora menceritakan semua yang ia kerjakan di Malang hingga sampai terjadinya kecelakaan itu.


"...., tapi Almeer benar-benar tidak mau menerima bantuan Sora sekarang, Ma." keluh Sora.


"Kamu harus benar-benar menghargai kemauannya itu, Sayang. Pria yang mempunyai harga diri yang tinggi, Ia lebih bangga ketika mendapatkan sesuatu sekecil apapun jika itu dari hasil kerja kerasnya sendiri."


"Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk mempedulikan harga diri, Ma. Bukankah seharusnya sekarang kami kerjasama, saling bahu membahu menyelesaikan persyaratan dari papa, Ma."


Senja menarik tangan putrinya dan menepuknya pelan, senyum dan tatapan lembut khas milik wanita itu terus terpancar didepan putrinya.


"Sayang..., kita gak pernah tahu apa isi hati orang. Mungkin saja Almeer benar-benar ingin menunjukkan kemampuannya didepan papamu."


"Sora takut semua ini akan sia-sia, Ma." Kegelisahan kembali menyelimuti benak Sora yang bahkan belum sepenuhnya meninggalkannya.


Senja menggeleng, "Tidak ada hal yang sia-sia, Sayang. Sekecil apapun hal yang kita lakukan, pasti ada manfaatnya. Begitupun hal besar yang sudah kamu lakukan ini." Senja menunjuk kerudung yang dikenakan Sora.


Sora terdiam. Benar memang, berkat rasa cintanya pada Almeer dan rasa ingin memantaskan diri untuk bersanding dengan pria itu, kini ia merasa lebih dekat dengan Tuhannya.


"Ma..., bagaimana jika Sora tidak berjodoh dengan Almeer? membayanhkannya saja sudah membuat Sora takut."


"Itu berarti ada pria di luar sana yang menurut Allah lebih kamu butuhkan. Bukan berati kamu tidak pantas untuk Almeer atau Almeer tidak pantas untuk kamu. Tapi ada yang lebih baik untuk kalian berdua. Jika memang itu terjadi, kamu harus berteman dekat dengan keikhlasan."


Sora mencengkram erat tangan mamanya, ia benar-benar takut kehilangan harapannya.


"Kamu punya Allah, pasrahkan semuanya pada Allah, Sayang. Jika memang nanti kamu mendapatkan apa yang kamu do'akan, kamu tidak akan lupa bersujud dan bersyukur atas kenikmatannya. Dan jika memang kamu belum mendapatkannya, kamu tidak akan terlalu terpuruk dalam kekecewaan."


Wanita cantik berbibir ranum itu menatap kosong lantai kamarnya. Nasehat mamanya tak jauh beda dengan Almeer, tapi kali ini ia lebih bisa memahaminya. Ikhlas dan tawakal kunci dari semua ini.


Tiba-tiba saja ingatannya kembali dimana untuk yang kedua kalinya ia bertemu dengan Almeer usai pertengkarannya dengan Nirmala di basement salah satu mall. Kala itu Almeer juga menyalahkan dirinya yang sedang menangis lantaran terlalu berharap pada manusia.


Astaghfirullah, batinnya. Benar, seharusnya ia belajar dengan masalalunya yang terlalu mencintai dan berharap pada dunia dan isinya. Kini ia mengulanginya lagi, ia terlalu mencintai dan sangat bernapsu ingin memiliki Almeer.


"Ma, aku takut Allah akan marah padaku. Jika dipikir-pikir, aku hijrah bukan karena Allah, tapi karena aku sedang mencintai salah satu makhluknya." ujar Sora, sorot matanya menggambarkan keresahan.


"Semua orang punya cerita dan alasan sendiri untuk hijrahnya, Sayang. Selama kamu berada di jalannya, insyaAllah kamu akan menemukan jati diri dan semakin memahami kepada siapa hijrahmu tertuju."


Sora tersenyum lega dan memeluk mamanya.


"Maafkan mama yang bicara seperti ini, padahal mama belum lebih baik daripada kamu, Sayang." Ujar Senja


Sora menggelengkan kepalanya, "Bukankah selama nasihat itu positif, kita harus menerimanya tanpa harus melihat latar belakangnya, ma?"


"MasyaAllah, anak Mama sekarang jadi lebih bijak." Senja menatap Sora yang di pelukannya. "Benar kan yang tadi Mama bilang, kalau gak ada satu hal yang sia-sia di dunia ini."


Sora mengangguk setuju. Kini ia lebih bisa sedikit mengurangi kekhawatiran yang terus menerus menekannya dan hampir membutakan dirinya pada perancang kehidupannya.


***


Semenjak bertukar pendapat dan mendapat banyak nasihat dari mamanya, Sora mencoba lebih tenang melewati hari-harinya dalam menghadapi perasaan cemasnya. Kini ia semakin dekat dan lebih melibatkan Allah dalam setiap tindakannya.


Hanya butuh waktu 54 jam lagi untuk menuju ke tanggal satu November, hari dimana penentuan untuk kelanjutan kisah cinta Sora dan Almeer. Akankah berakhir dalam ikatan pernikahan ataukah hanya menjadi sebuah masa lalu yang tak mempunyai masa depan?


Tangan Sora terus menerus menggenggam ponsel ditangannya dengan mondar mandir disekitar taman belakang rumahnya. Ia sedang ingin menghubungi Almeer untuk menanyakan kabar dan keadaannya. Akan tetapi, sebuah keraguan terus muncul ketika ia akan menekan tombol call di layar ponselnya.


"Mau telepon aja ribet, Ra!" Cetus suara pria yang menurutnya sangat menyebalkan, siapa lagi jika bukan saudara kembarnya, Sky.


"Sky Sky Sky!" Sora menarik lengan pria itu untuk duduk bersamanya di bangku taman.

__ADS_1


"Apa sih?" Sky menampik tangan Sora karena risih.


"Perusahaan yang kamu kirim but bantu Almeer kasih proyek gedhe gak ke Almeer?" tanya Sora.


Sky melirik keatas, memikirkan jawaban untuk Sora. "Kalau menurut perkiraanku sih udah nutup itu persyaratan dari papa. Lebih malah."


"Beneran Sky?" Sora berbinar-binar.


"Setahuku sih proyek kerjasama sama perusahaan yang ku suruh itu nilainya besar-besar. Gak main-main mereka."


"Alhamdullillah, ya Allah...," Sora menggenggam erat ponselnya. Jawaban dari Sky membuatnya semakin lega.


"Ra...," sorot mafa Sky terlihat sangat serius.


"Apa-an? Serius amat sih liatinnya?" tanya Sora, ia merasa aneh dengan tatapan Sky yang diluar kebiasaan.


"Kamu beneran serius mau nikah sama dia?"


"Iya, aku serius. Kamu gak perlu mengkhawatirkanku, Sky." Sora menepuk bahu pria yang masih mengenakan setelan jas hitamnya.


Sky memutar kedua bola matanya dan menyebikkan bibirnya, "Aku tidak mengkhawatirkanmu, justru aku lebih mengkhawatirkan Almeer karena nikah sama cewek aneh, lemot, gak peka...., aduh, banyak banget kekuranganmu yang gak bisa ku jabarkan."


Dug!


"Auh!!" Pekik Sky ketika tulang keringnya mendapat tendangan dari Sora. "Sakit tau!"


"Biarin!" sahut Sora cuek.


Keduanya diam menatap lampu-lampu taman, mendengarkan suara jangkrik hingga tawa-tawa candaan dari paviliun belakang tempat para asisten rumah tangga mereka berisitirahat.


"Sky...,"


"Hmm?"


"Aku akan ikut dengan Almeer setelah aku menikah dengannya. Aku harap kamu gak akan merindukanku."


"Itu hanya buang-buang waktu. Toh minggu depan usai wisuda, Mina akan kembali ke rumah ini. Kedamaian akan datang, bencana akan pergi." goda Sky


Sora tak membalasnya, ia terdiam menatap kosong ke depan. Sky manarik satu sudut bibirnya ketika melihat saudaranya tak merespon candaannya.


"Kamu akan mengalami perubahan besar dalam hidupmu ketika menikah dengannya, Ra."


Sora mengangguk, "Ya, Sky."


"Lingkungan tempat tinggalnya berbeda dengan kita, keluarga besarnya bukan orang sembarangan, kamu harus bisa menjaga tingkah laku dan cara bicaramu. Kamu harus bisa menjaga nama baik suamimu. Lebih berhati-hatilah sebelum bertindak, gunakan otakmu sebelum mulutmu berucap atau tangan dan kakimu bergerak."


"Sky....," Sora menipiskan bibirnya, pelupuk matanya sudah tergenang air mata. Ini kali pertama Sky bicara cukup serius dengannya, dan itu membuatnya sangat terharu.


"Almeer pria yang bertanggungjawab, aku yakin dia akan menjagamu dan tak akan membuatmu kecewa." imbuh Sky.


"Kenapa kamu berkata seperti ini sih, Sky? berasa kita mau pisah jauh aja! Dulu waktu aku kuliah di luar kamu biasa aja." Air mata Sora mulai menetes, ia memukul punggung pria disampingnya itu.


"Bukan jarak yang akan memisahkan keluarga, tapi aku dan papa sudah tak memiliki hak atas dirimu setelah kamu menjadi istrinya. Kamu akan menjadi milik orang lain dan hidup bersama orang lain yang asing bagi kami. Aku takut melepaskan saudara kembarku, tapi aku juga ingin melihatmu bahagia." Untuk pertama kalinya Sky tersenyum lembut pada Sora.


Mata Sky ikut memupuk air mata, namun ia segera menarik nafa panjang dan membuka matanya lebar-lebar agar angin menahan air matanya agar tak terjatuh. Ia menepuk beberapa kali punggung Sora untuk menyudahi pelukan wanita itu.


"Udah, Ra. Udah..., aku gak mau orang lain mengira kita saudara yang sangat dekat. Menjauhlah dariku, sebenarnya aku malu harus mengakuimu sebagai saudara." Sky mendorong tubuh Sora menjauh darinya.


"Benaaarkaaaah?" Sora manatap jahil, lalu melingkarkan tangannya di lengan Sky dan menyandarkan kepalanya di bahu Sky. "Nanti, sebelum aku nikah, kamu dan Mina akan ku traktir makan-makan."


"Menjauhlah...." Sky mendorong kepala Sora menjauh dari bahunya. "Aku mau masuk!"


Sky berdiri meninggalkan taman dan Sora mengikutinya, menggelayutkan tangannya di lengan Sky dengan manja meskipun pria itu mendorongnya beberapa kali.


***


Hari yang sudah ditunggu-tunggu Sora akhirnya tiba juga. Cemas, gelisah, khawatir sudah membungkus dirinya. Sejak pagi kakinya tak mau di ajak diam dan hanya terus mondar mandir melicinkan lantai kamarnya.


Ceklek!


Ia menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka, papanya terlihat memasuki kamarnya dan duduk diatas tempat tidurnya.


"Apa kamu sudah mendapat kabar darinya?" tanya Langit.


"Dia akan datang, Pa. Dia pasti datang." jawab Sora.


Langit menatap jam di dinding kamar Sora, "Sudah lewat jam tiga," ujarnya.


"Dia akan datang hari ini, Pa."


"Sepertinya tidak...," jawab Langit meremehkan keyakinan Sora.


Sora membalikkan badannya, menatap keluar jendela kamarnya. Ia mengingat ulang pesan whatsapp dari Almeer yang mengatakan Apapun kendalannya, dia pasti datang. Dan Sora berpegang teguh dengan itu.


Tok tok tok.


Ketukan pintu menarik perhatian Sora dan Langit, Erni terlihat berdiri dibibir pintu.


"Tamu anda sudah tiba, Nona."


Mata Sora melebar mendengar pemberitahuan Erni, "Almeer?" Sora memastikan ulang.


"Iya, Nona. Dia datang bersama Tuan Muda." jawab Erni.


Senyum mengembang di bibir Sora, ia menghampiri papanya. "Ayo, Pa. Kita turun." ajak Sora, wanita itu menarik papanya dan menuju ke ruang tamu rumahnya.


Benar saja, Almeer sudah duduk sana bersama dengan Senja dan Sky.


"Al...," sapa Sora ketika tiba di ruang tamu.


Almeer berdiri dari duduknya, tersenyum pada Sora dan menghampiri Langit untuk mencium pria yang akan memberikan jawaban dari usahanya selama ini.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pak Langit." sapa Almeer.


"Wa'alaikumsalam...," sahut Langit, "Silahkan duduk." Langit mengambil duduk disamoing istrinya, tepat di depan Almeer. Sedangkan Sora duduk disamping Sky.


"Aku kira kamu tidak akan datang." kata Langit dengan keangkuhannya.


"Apapun yang terjadi, saya akan tetap datang, Pak." jawab Almeer.


Langit menatapi Almeer dari ujung kepala dan terhenti di kedua tangan Almeer yang terlihat bergetar. Ia menyeringai kecil melihat hal itu.


"Berapa lama aku harus menunggumu menunjukkan hasilnya padaku?" tanya Langit.


Almeer tersentak seketika. Ia segera mengambil satu map holder dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Langit.


"Silahkan, Pak." Kata Almeer.


Langit mulai membuka map holder itu, mata tajamnya menelisik satu demi satu huruf dan angka yang ada di halaman pertama.


Degub jantung Sora bekerja lebih cepat dari sebelumnya, ia menelan beberapa kali salivanya untuk menghilangkan rasa tak nyaman di kerongkongannya.


Senyum tipis mengembang di bibir Langit, ia menatap pria yang terlihat sudah bisa menguasai diri didepannya itu. "Dalam waktu beberapa hari saja kamu bisa mendapat tambahan yang cukup luar biasa." puji Langit.


"Itu artinya, Almeer bisa memenuhi target dari Papa?" tanya Sora setengah berteriak kegirangan.


Langit mengangguk.


"Alhamdullillah..., Mama...," Sora menghampiri mamanya dan memeluknya.


"Selamat ya, sayang." ujar Senja.


"Itu artinya Papa akan merestui kami?" tanya Sora.


Langit masih diam menatap Almeer, "Dan sekarang apa yang sedang kamu ragukan?" tanyanya pada Almeer ketika melihat sorot mata Almeer tak seyakin tadi.


"Anda harus membaca beberapa halaman ke belakang, Pak." Kata Almeer.


Kening Langit mengernyit, ia membuka kembali map holder yang sudah tertutup itu dan membaca dengan teliti halaman-halaman selanjutnya.


"Disitu sudah saya pisahkan pendapatan yang saya dapat dengan tangan saya sendiri dan pendapatan yang saya peroleh dari bantuan Sora, Pak."


Penjelasan Almeer membuat Sora, Senja dan juga Sky terperangah.


"Al!!" Sora melayangkan protesnya pada Almeer.


"Saya tidak mau ada yang merasa dicurangi dan dibohongi disini, Pak. Hasil dari kemampuan saya masih sangat jauh darj target yang anda tentukan."


Langit diam dan hanya memandangi map holder ditangannya itu.


"Bagaimanapun juga Almeer tetap yang mengerjakan semuanya, Pa. Aku hanya membantu mempromosikan saja." Sora mencoba meyakinkan Papanya.


"Sabar, sayang. Sabar...," Senja berusaha menenangkan putrinya.


"Kamu tahu kan resiko apa yang akan kamu dapatkan dengan mengatakan semua ini padaku?" tanya Langit.


"Papa!!" teriak Sora.


Almeer menatap Sora dan menggelengkan kepalanya agar wanita yang tengah panik itu bisa mengontrol emosinya. Setelah melihat Sora mengerti maksudnya, ia kembali menatap pria paruh baya yang sedang menatapnya datar.


"Saya merasa harus mengatakannya, karena putri anda terlalu berharga untuk didapatkan dengan ketidakjujuran. " Jawab Almeer.


Langit menutup map holder ditangannya dan meletakkannya di meja. "Jika kamu sudah tahu seberapa kemampuanmu, untuk apa kamu harus membuang-buang waktu datang kemari. Sedangkan kamu sudah mengerti jawabannya."


"Karena saya harus menghargai perjuangan wanita yang telah membantu saya, Pak. Wanita yang sangat saya cintai."


Air mata Sora mulai berjatuhan, ia takut hal yang paling tidak ia harapkan akan terjadi.


"Mas..., mereka sudah berjuang bersama. Kamu jangan terlalu keras." bujuk Senja.


Langit hanya diam dan tak henti menatapi Almeer.


"Paa...," Sora duduk dilantai, tepat didepan papanya. Manarik satu tangannya dan menatap iba pria yang sudah membesarkannya dengan sangat baik itu.


"Entah bagaimana Allah mempertemukan kami dan membuat rasa diantara kami, Pak. Seperti yang anda tahu, saya hanya laki laki biasa yang bahkan mempunyai lebih banyak kekurangan dibandingkan kelebihan. Saya tidak merasa cinta saya pada putri anda melebihi cinta anda padanya. Saya mencoba memberanikan diri sekali lagi meminta izin untuk menggantikan anda menjadi imam putri anda, menjadi pelengkap agama putri anda, mencoba memberikan cinta yang seindah dan setulus cinta anda padanya." Almeer mearik napas panjang dan memberanikan diri menatap Langit.


"Pak Langit, saya mohon permudah saya untuk menjadikan putri anda sebagai istri saya." pinta Almeer, ia menanggalkan harga dirinya demi mendapat restu ayah dari wanita yang sangat ia cintai.


"Pa..., tolong lihat proses yang sudah Almeer jalani, Pa." Sora ikut memohon dan bersimpuh di lutut Langit.


"Mas..., aku mohon hargai perjuangan mereka. Jangan memperumit niat baik mereka." Senja ikut memohon pada suaminya.


Langit hanya diam dan belum mengalihkan pandangannya dari Almeer. Tak ada yg bisa menebak apa yang sedang dipikirkan pria angkuh yang keras kepala itu.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Maap ya hari ini up telat,


Kalo aku up nya telat, scroll komentar aja, kali aja ada temen-temen pembaca yang ikut grub ngasih info aku telat up atau bahkan gak up.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2