ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
38


__ADS_3

"Aku memang ingin mendapatkanmu. Tapi, bukan berarti aku harus menjatuhkannya untuk mendapatkanmu." Ujar Aga.


Sora tercengang dengan jawaban Aga, "Serius, Ga?"


"Terserah kamu mau mikir apa. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkanmu, Ra. Aku tak memaksamu, tapi jangan menutup mata ataupun memungkiri perasaanku padamu."


Sora terdiam kembali, "Ga...,"


"Hmm?" Aga menatap Sora.


"Kamu tahu aku hanya mencintai Almeer. Untuk apa kamu bersusah payah mencuri perhatianku?"


"Selama dia belum menikahimu, aku bebas mendekatimu." Jawab Aga dengan senyum kecil.


Sora menggelengkan kepalanya, ia menatap tumpukan kendaraan didepannya. "Kali ini berbeda, Ga. Entah kenapa aku begitu mencintai pria itu. Dia sangat-sangat berbeda dengan mantan-mantanku dulu. Bahkan jika Allah tidak menakdirkan kami bersama, aku ragu bisa dengan mudah membuka hati untuk orang lain. Termasuk kamu...,"


"Aku tidak terlalu mengerti cinta, Ra. Selama hidupku hanya dipenuhi belajar, pekerjaan, pengabdian, dan sedikit ketertarikan padamu yang semakin ku pendam rasa itu tetap tumbuh. Aku hanya memiliki rasa ingin melindungimu ketika banyak pria diluar sana yang menyakitimu, tapi semakin aku ingin melindungimu aku mempunyai keinginan untuk mendapatkanmu. Mungkin aku terlalu percaya diri mengatakan aku pria baik yang tidak akan menyakitimu, tapi aku juga tidak bisa mengelak jika Almeer sosok pria baik yang bisa melindungimu."


Sora kembali menatap Aga, wajahnya gusar memikirkan perassan Aga padanya. "Kenapa kamu gak berhenti aja sih, Ga?"


"Aku belum menemukan wanita seaneh dirimu, Ra...." Aga menatap Sora jahil.


Wanita itu melirik sinis kemudian memalingkan wajahnya, "Percuma kamu berjuang kalau ujung-ujungnya kamu harus merelakan aku, Ga." Cetusnya.


Aga mengangguk dan menatap kedepan, menginjak sedikit pedal gasnya untuk membuat mobil merambat pelan maju ke depan.


"Mungkin memang menyakitkan, tapi aku akan merelakanmu. Karena menurutku, merelakan salah satu bentuk cinta yang paling dalam." Ucap Aga.


Sora terkejut, lagi-lagi ia menatap Aga, kali ini hingga mulutnya menganga mendengar ucapan Aga barusan. "Kata-katamu, Ga! Sok bijak banget, padahal kamu gak tahu kan sesakit apa rasanya kehilangan dan merelakan. Berat tahu, aku khawatir kamu gak kuat ngadepin perihnya kenyataan."


"Ya kalau khawatir aku terluka, terima aku aja." Kata Aga.


Sora menyesal sudah mengeluarkan kata-katanya barusan, ekspresinya datar menatap Aga. Sedang pria itu hanya menyeringai dan memabalas tatapan Sora dengan menaikkan alisnya, menggoda wanita yang sedang kesal disampingnya itu.


"Capek ngomong sama kamu, Ga." Sora kembali merebahkan punggungnya di sandaran jok mobil dan menunggungi Aga. "Sepertinya kamu bakal lama dapat jodoh, cowok ngeselin kaya' kamu itu siapa yang bakalan mau."


"Ya pasti entar ada, kali aja kamu jodohku, siapa yang tahu." Aga masih tak menyerah.


"Diem, Ga. Jangan ngomong aneh-aneh...,"


Aga hanya tersenyum dan diam, kembali menatap tumpukan kendaraan didepan. Suasana mobil kembali hening, hanya suara rintikan air hujan diatap mobil serta suara bising kendaraan terdengar samar mengisi keheningan mobil.


"Ga...,"


"Ya?"


"Apa papaku akan melakukan hal-hal yang akan merugikan kantor Almeer?" tanya Sora tanpa memalingkan pandangannya, ia masih nyaman dengan posisinya yang menatap ke pintu mobil.


"Pak Langit seorang yang jujur dalam berbisnis, aku ragu jika beliau akan melakukan hal kotor semacam itu." Jawab Aga.


"Tapi papa tidak menyukai Almeer."


"Beliau hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik."


Sora hanya diam tak menanggapi. Suasana mobil kembali hening.


Pelan-pelan mobil merambat maju. Dengan di atur beberapa petugas LLAJ, semua kendaraan antri bergantian menggunakan sisi jalan yang yang tak terkena imbas batang pohon yang tumbang.


Hari sudah mulai gelap ketika Aga dan Sora sampai di rumah Lala. Aga tak tega melihat Sora yang sedang terlelap di sampingnya. Ia bisa saja turun dan menggendongnya, tapi melihat perubaha Sora sekarang membuat Aga mengurungkan niatnya.


"Sora...," Aga memanggil nama Sora untuk membangunkan wanita itu, namun tak ada tanggapan.


"Ra... Sora...," Kini Aga terpaksa menyentuh kepala Sora yang tertutup kerudung itu, itu mengusapnya lembut beberapa kali.


"Hmmm?" Sora membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat sekelilingnya untuk mencari tahu dimana dia sekarang.


Aga menarik tangannya dari kepala Sora. "Udah sampai rumah."


Sora menarik diri kemudian turun dari mobil, Hujan sudah berhenti membuat udara semakin dingin. Beruntung ia mengenakan jaket Almeer. Harum parfum milik Almeer membuatnya semakin betah memakainya.


Aga keluar dari mobil, "Besok pagi aku akan suruh orang kirim mobilmu kemari. Seminggu kedepan aku ada di Surabaya. Pastikan Mita dan Aura selalu pergi bersamamu, dan jangan berbuat aneh-aneh." Jelasnya.


"Yes!! Thanks ya, Ga." Sora kegirangan.


"Ingat semua yang ku katakan, Ra."


"Iya. bawel! Udah sana balik, hush hush!" Usir Sora.


Aga mengangguk, "Aku pulang, Ra."


"Assalamu'alaikum....," Sora mengingatkan Aga untuk mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Sora." Aga tersenyum tipis.


"Wa'alaikumsalam...., Bai!" Sora pergi masuk kedalam rumah begitu saja, tak menunggu Aga sampai meninggalkan rumahnya.


Di dalam rumah seperti biasa hanya hanya ada tante dan kedua keponakannya yang sedang asyik menonton TV, Bimo..., masih belum pulang karena bukan weekend. sedangkan Mita dan Aura pergi keluar rumah entah kemana.


Sora memilih untuk segera makan sebab perutnya sudah cukup lama menahan lapar. Usai makan ia meminta izin pada tantenya untuk langsung beristirahat di kamar, badannya terasa letih dan tentunya sangat mengantuk.


Sampai di kamar ia melepas jaket Almeer yang masih ia kenakan itu, ia menatap jaket itu cukup lama dengan senyum lebar mengingat pertemuannya siang tadi dengan Almeer. Allah selalu mempertemukanku denganmu melalui cara yang unik, Al. Batinnya.


Tiba-tiba saja ia teringat pesan Aga tadi, Jika sebaiknya ia tak terlalu sering bertemu Almeer lebih dulu. Ya, betul memang. Jika ia ada didekat Almeer, ia hanya akan mengganggu pekerjaan pria itu saja.


"Ya, aku akan menahannya dan hanya melihatnya dari kejauhan saja." Ujar Sora penuh keyakinan.


***


Sesuai perkataan Aga semalam, pagi ini ada seseorang yang mengantarkan sebuah mobil sedan milik Sora. Wanita itu nampak kegirangan menerima kunci mobil nya, karena mulai sekaranh ia bebas kemana-mana.


Kali ini Sora berangkat bekerja ditemani oleh Mita dan Aura, bukan karena ia menuruti perintah Aga, melainkan ia menginginkan Mita dan Aura melakukan sesuatu Untuknya.


Dibantu arahan dari suara google maps, Sora menuju ke kantor Almeer terlebih dahulu.


"Kita dimana, Nona?" tanya Aura ketika mobil telah berhenti diseberang jalan kantor Almeer.


"Aku minta tolong kalian awasin Almeer ya, nanti laporin ke aku dia ngapain aja, dia kesulitan apa enggak..., Inget, jangan sampai ketahuan." Jelas Sora.


"Kita jadi penguntit, Nona?" Mita memperjelas tugas mereka.


"Kalian kan sudah biasa melakukannya...," Kata Sora, "Nih, mobil kalian bawa. Pastikan dia baik-baik aja, ya."


"Nona ke toko dengan apa?" tanya Mita.


"Naik ojol..., semangat ya! Assalamu'alaikum...," Sora bergegas turun dari mobil.


Aura dan Mita hanya pasrah mendapat tugas dari Sora. Entahlah, kenapa wanita itu harus bersikap sejauh itu? tapi jika hanya berdiam diri memang bukanlah seorang Kianga Sora.


Sesuai perintah Sora, dari pagi hingga Almeer pulang ke pesantren, Aura dan Mita selalu membuntuti Almeer dan mencari tahu apa yang sedang dia lakukan.


Sehari, dua hari, tiga hari dan.... hampir satu bulan mereka melakukan pekerjaan itu.


Memang benar, Almeer sangat sibuk sekali. Ia pergi kesana kemari untuk mendapat investasi di kantornya, mengunjungi beberapa tempat bahkan diluar kota. Ada beberapa kemajuan yang cukup signifikan, kantor Almeer sekarang lebih banyak mendapat kunjungan orang yang membutuhkan jasa mereka.


Sora sangat senang melihat hal itu, walaupun ia juga sangat kasihan melihat Almeer harus pulang selalu larut malam. Terkadang Sora mendapati Almeer baru pulang kerja ketika ia pulang pengajian. Tak arang juga pria itu bekerja lembur dikantornya dan tak pulang ke pesantren.


Sore itu, ketika Sora sudah menyelesaikan pekerjaannya di toko mamanya, ia pergi ke salah satu toko buku terbesar di kota Malang. Ia ingin memberikan hadiah pada Almeer dan sekalian mengembalikan jaket untuk Almeer.

__ADS_1


Selain itu ia juga ingin memberitahu Almeer tentang kemajuannya dalam membaca Al-Qur'an.Ya walau memang belum sefasih rekan pengajiannya yang lain tapi ia sudah sangat bangga pada diri sendiri atas kemajuannya.


Hmm..., itu hanya sebuah alasan saja untuknya agar bisa menemui Almeer dan berbincang dengannya walau hanya sebentar.


***


Pengajian remaja muslimah yang di pimpin oleh Kanaya malam itu berlangsung tenang, materi yang disuguhkan oleh Kanaya malam itu mengenai cinta dalam islam, tentu sangat sangat-sangat menyenangkan untuk disimak para muslimah yang masih dalam proses pencarian cinta.


Tetapi, tidak dengan satu muslimah yang sedang menikmati wujud cintanya yang tengah hadir hingga mengusik ketenangan hati dan pikirannya untuk mencermati materi Kanaya.


Sora sedang sibuk menikmati seorang pria yang ada di lantai satu masjid dari sela-sela pagar pagar pembatas lantai dua. Pria itu baru saja datang dan melaksanakan sholat isya' sendirian disana. Senyumnya mengembang lebar menikmati tiap gerakan sholat pria itu. Meskipun hanya melihat punggungnya, tapi ia bisa mengetahui betapa berkharismanya pria itu.


"Ehm..., Mbak Sora....,"


Satu deheman dan panggilan Kanaya tak mampu menarik perhatian Sora.


"Mbak Sora....," Panggil Kanaya lagi, masih tetap tak mendapatkan respon. Kanaya menggeleng lembut.


Akhirnya, muslimah disamping Sora menepuk bahu Sora.


"Ya?" sahut Sora.


Muslimah itu menunjuk Kanaya dengan ibu jarinya, "Di panggil Mbak Kanaya dari tadi loh, Mbak."


Sora tersipu malu, "Maaf...," ucapnya pelan kemudian tertunduk.


Kanaya tersenyum memaklumi, ia menganggukkan kepala kemudian melanjutkan materinya.


Konsentrasi Sora tak seratus persen pada materi Kanaya, matanya masih berulang kali mengintip ke bawah mengawasi pria itu yang kini sedang menundukkan kepala membaca Al-Qur'an bersama beberapa orang santri.


Ah, seharusnya aku ada disampingnya, mendengarkan betapa merdu suaranya. Batin Sora.


"...., kita tutup dengan hamdalah dulu...,"


"Alhamdullillahiraabilalamiin...,"


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Kanya menutup pengajian malam itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Semua berdiri dan saling bersalaman, satu per satu parah muslimah turun meninggalkan lantai dua masjid. Kecuali Sora yang masih pura-pura merapikan barang-barangnya, padahal ia masih ingin disana menunggu Almeer selesai membaca Qur'an.


"Mbak..., saya duluan ya." Pamit Kanaya.


Sora mengangguk cepat, "Iya, Nay."


"Minta tolong nanti lampunya dimatikan ya, Mbak." Pinta Kanaya, "tinggal pencet ini semua kok, Mbak." Kanaya menunjukka beberapa tombol lampu yang tertempel di dinding samping pintu keluar.


"Oke, Nay. Hati-hati ya...,"


"Iya, Mbak. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam...," Sahut Sora.


Sepeninggalnya Kanaya, Sora mendekatkan diri di pagar pembatas lantai dua. Ia ingin lebih menikmati lantunan suara Almeer.


Lima menit, sepuluh menit..., Sora masih menikmatinya.


"Shadaqallahuladzim...,"


Sora tersenyum ketika ia melihat Almeer dan para santri menutul Al Qur'an mereka. Para santri bersalaman dengan Almeer sebelum pria itu meninggalkan mereka.


Sora seger berdiri, membawa tas dan paperbag yang berisi buku dan jaket Almeer. Tak lupa ia mematikan lampu lantai dua kemudian menuruni anak tangga untuk menghampiri Almeer sebelum pria itu masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum Kanaya..., udah lama nunggu?"


"Wa'alaikumsalam, Mas Al." Kanaya berdiri dari duduknya, "Gak lama kok, Mas."


"Maaf ya, baru bisa nemuin kamu sekarang."


"Gak apa, Mas. Yang penting bisa ketemu sudah Alhamdullillah...," Kanaya memberikan sebuah buku pada Almeer, "Oleh-oleh dari Abi, Mas."


"MasyaAllah, Ta'rif-nya Ibnu Khaldun? Terimakasih ya, Nay." Almeer menerima dengan berbinar-binar.


"Persis dengan dugaannya, Abi. Pasti Mas suka banget." Ujar Kanaya.


Almeer mengangguk, "Tentu saja, Nay. Aku jadi segan jika tidak segera menemui Abi-mu. Aku akan mencari waktu untuk segera menemui beliau, Nay."


"Iya, Mas. Pasti Abi senang mendapat kunjungan Mas Almeer." Sahut Kanaya. "Nay pamit pulang dulu ya, Mas. Ummi titip nasi gorengnya bang Umay itu." Kanaya menunjuk gerobak nasi goreng di depan gerbang pesantren.


"Iya, Nay. Sampaikan salamku pada Abi dan Ummi-mu, ya."


"Iya, Mas. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam...,"


Kanaya pergi keluar pesantren, Almeer melanjutkan langkahnya menuju ke rumahnya, sedangkan wanita bergamis kuning dengan kerudung berwarna senada itu masih berdiri tak bergeming dari tempatnya semula.


Rasa percaya dirinya kembali memudar. Ta'rif, Ibnu Kaldhun... apa itu dan siapa itu? dia tak mengenalnya. Kenapa Almeer bisa sesenang itu?


Sora merasa belum mengenal siapa Almeer. Bahkan ia tak tahu apa yang disukainya, apa hobinya, apa yang tidak disukainya. Selama ini dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri, dengan cintanya tanpa mau mengenal lebih dalam siapa pria yang ia cintai.


Bodoh!


Ia mengutuk diri sendiri.


Melihat Almeer sudah masuk ke dalam rumah dan lampu-lampu masjid telah mati, Sora melanjutkan langkahnya menyusuri teras masjid, menuruni anak tangga dan memakai sendalnya kemudian keluar pesantren.


Setelah melewati gerbang, Sora melihat Kanaya yang sedang duduk didekat gerobak nasi goreng. Ia pun menghampiri Kanaya.


"Bang, nasi gorengnya Lima ya." Kata Sora.


"Siap, Mbak! Silahkan duduk dulu, yang nyaman biar bisa lama disini." Goda Bang Umay, pria paruh baya yang terkenak dengan humornya.


"Buat orang rumah ya, Mbak?" tanya Kanaya


"Iya, Nay." Sora duduk disamping Kanaya.


"Ku kira Mbak Sora udah pulang, tadi."


"Keasyikan baca buku, Nay." Jawabnya bohong, "Aku lihat kamu sempat ngobrol sama cowok tadi...,"


"Oooh, Mas Almeer toh, Mbak. Cucu sambungnya almarhum Kyai Abdullah."


"Yang punya pesantren?" tanya Sora basa basi


"Iya, Mbak. Tapi mas Almeer tinggalnya dulu di Jogja, jarang ke Malang. Tapi sekarang sepertinya bakal tinggal di Malang, karena punya usaha di Malang, juga."


"Kamu tahu banyak tentang dia, Nay? suka ya?" Sora mencoba menanyakan hal yang membuat perasaannya gusar. Ditanyakan takut denger jawabannya. gak ditanyakan malah bikin penasaran.


Kanaya tersipu dengan pertanyaan Sora, ia menatap Sora dengan senyum manisnya. "Wanita mana mbak yang gak naksir sama mas Almeer. Santri putri aja udah dijamin semua pasti suka."


Sora mencoba membalas senyum Kanaya walau sebenarnya ia sangat kecewa mendengar jawabannya.


"Mbak Nay, sudah siap di pinang nasi gorengnya." Bang Umay memotong pembicaraan dua wanita cantik itu.


"Iya, Bang." Kanaya berdiri dan memberikan selembar uang dan mengambil sebungkus nasi goreng dari tangan Bang Umay. "Makasih ya, Bang." ucapnya.

__ADS_1


"Sama-sama, Mbak Nay."


"Mbak Sora, Nay tinggal duluan ya...," Pamit Kanaya.


"Iya, Nay. Hati-hati...,"


"Iya, Mbak. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam, Nay."


Sora menatapi kepergian Kanaya dengan memuji bagaimana sempurnanya wanita itu dari segi dunia dan akhirat


"Kenapa, Mbak? lihatnya gitu amat ke mbak Nay...," Protes Bang Umay sambil mengaduk-aduk nasi di atas penggorengan.


"Emang saya lihatnya gimana, Bang?" Sora balik bertanya.


Bang Umay menatap Sora sejenak sambil mengecilkan api, "Mmmm, sedih sedih gimana gitu...,"


"Kelihatan banget, ya?"


"Ho'oh, Mbak." Jawab Bang Umay sambil memasukkan bumbu-bumbu untuk nasi gorengnya.


Sora terdiam, masih memandangi Kanaya yang sedang berjalan memasuki perumahan yang berseberangan dengan perumahan tempat tinggalnya.


"Bang, kenal Almeer?" tanya Sora.


"Ya kenal lah, Mbak." Jawab Bang Umay, "Kenapa, Mbak? suka ya?"


Sora memandang Bang Umay yang kembali sibuk mengaduk nasi goreng.


"Nyerah aja, Mbak. Saingannya mbak Kanaya, orang sini aja minder. Dari kecil juga mereka udah cocok gitu...,"


Mata Sora langsung berkaca-kaca mendengar kata-kata yang keluar dari mulut penjual nasi goreng.


"Loh... Kok mau nangis, Mbak?"


"Abang tuh, naroh mericanya kebanyakan... pedih nih kena mata." Celetuk Sora, ia mengusap matanya sebelum air matanya menetes.


***


Minggu siang yang cerah, Langit biru terbentang luas dengan awan-awan putih menggemaskan tergantung dibawahnya. Jalanan cukup lenggang di hari minggu, mungkin sebagian warganya sedang menghabiskan waktu liburan mereka di kota Batu yang dingin ataupun pergi menikmati pantai di selatan kota Malang.


Sora mencoba bersantai saja di kamar sebelum ia mendapat story whatsapp Almeer yang sedang memotret sebuah buku dengan latar yang tak asing untuknya.


"Perpustakaan umum!"


Karena itulah, dia sekarang berada di gedung bernuansa hijau itu. Ia masuk dan pergi ke lantai dua, menunjukkan kartu anggota dan mengisi daftar kehadiran kemudian masuk ke ruang perpustakaan.


Langkahnya langsung tertuju pada ruang baca, sebab latar belakang meja dan orang-orang yang sedang membaca terpampang jelas di story whatsapp Almeer.


Benar saja, ia bisa mendapati Almeer sedang membaca di meja paling ujung dekat jendela. Tak terlalu sulit menemukan pria itu, karena hanya ada segelintir orang di dalam ruang baca. Ia pelan mendekatinya dan duduk disampingnya.


"Sagara Almeer." Panggilnya pelan.


Pria itu langsung menengok kesamping ketika mendengar namanya di panggil dengan suara khas milik seseorang yang sangat ia kenal.


"Sora!?" Ia terkejut dengan kedatangan Sora. "Kok bisa disini?" tanya Almeer.


"Pengen ketemu kamu..." Jawab Sora. " Baca Apa?"


Almeer menunjukkan sampul bukunya, ia sedang membaca sebuah buku bisnis.


"Buat ilmu bisnismu, ya?" tanya Sora.


Almeer mengangguk, "Aku harus cepat memenuhi target yang diminta papamu..."


"Masih kurang banyak kah?" tanya Sora.


"Iya, Aku belum mendapatkan setengahnya..." Jawa Almeer dengan wajah yang muram.


Sora menjadi ikut muram mendengar jawaban Almeer. "Kamu sudah berusaha keras untuk hal ini, Al."


"Aku harus berusaha lebih keras lagi, Ra."


"Apa yang bisa ku bantu, Al?" tanya Sora.


"Cukup do'akan aku saja...," Jawab Almeer dengan mengulas senyum.


Tiba-tiba saja rasa khawatir mengambil alih benaknya, terlebih lagi melihat Almeer yang mencoba tersenyum padahal pria itu sedang di buat pusing dengan persyartan papanya.


"Al...,"


"Hmm?"


"Apa yang akan kamu lakukan jika tidak bisa memenuhi persyaratan yang diberikan papaku?" tanya Sora.


"Entahlah, aku tidak pernah memikirkannya. Mungkin karena aku terlalu yakin bisa menyelesaikannya." Almeer tertawa kecil.


Sora tersenyum mendengar jawaban Almeer. namun senyumnya itu hilang kembali ketika ia teringat kejadian semalam antara Almeer dan Kanaya.


"Jika kamu tidak bisa menyelesaikan semuanya, apa kamu akan menikah dengan orang lain, Al?" tanya Sora.


Almeer mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Sora.


"Jangan-jangan! Jangan di jawab! Aku tak siap mendengarnya." Sora menutup kedua telinganya.


Almeer menatap Sora, wanita didepannya itu sedang menutup kedua matanya dan menutup telinganya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu, Sora?"


Sora membuka matanya pelan, "Aga bilang, bentuk cinta yang paling dalam adalah merelakan. Aku takut jika suatu saat aku harus merelakanmu bersanding dengan wanita lain."


Kalimat Sora ditutup dengan air mata yang menetes di pipinya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO, BACA DULU!


UNTUK PEMBACA TERLAFLAFKUH


- BAYAR AKU PAKE LIKE, JANGAN LUPA PENCET LIKENYA SAMPE MERAH.


- HIBUR AKU DENGAN KOMENTAR KALIAN MENGENAI EPISODE INI (aku butuh hiburaaaan... tapi maaf tapi aku balas komentar kalian random, jempolku cuma dua. hehe... jangan infonya, ini gak ada lucu-lucunya.)


- KASIH BINTANG LIMA BIAR ISTIMEWA


-YANG PUNYA POIN LEBIH, BISA VOTE NOVEL INI YA.

__ADS_1


MAKASIH BANYAAAAAAK.


__ADS_2