ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
70


__ADS_3

"Tapi ..., jika kamu mengkhianati kepercayaan yang sudah ku berikan padamu, aku tidak akan tinggal diam." Mata Langit memicing tajam pada Almeer, "kamu tau apa yang ku maksud."


Almeer terdiam mendengar persyaratan mertuanya.


"Kamu mengajukan permintaan padaku dan aku memberikanmu persyaratan, ku rasa itu adil," ujar Langit.


"InsyaAllah, Allah akan menjaga pernikahan kami, Pa," jawab Almeer.


Langit kembali menyandarkan bahunya di punggung sofa, "Minumlah," ujarnya.


Almeer segera meneguk teh buatan mama mertuanya.


"Kamu tahu seberapa sayangku pada putriku, kan?"


Almeer mengangguk, ia menelan teh yang masih menggenangi mulutnya. "Saya tahu itu, Pa." jawab Almeer.


"Karena itu, kamu harus benar-benar menjaganya dan jangan sampai kamu menghancurkan kepercayaanku," ancam Langit.


"Insya Allah, Pa."


"Dan untuk masalah, Aga ...."


Almeer menatap mertuanya ketika pria paruh baya bermata tajam itu menyebutkan nama pria yang juga mencintai istrinya.


"Aku tidak pernah menyuruhnya untuk ikut campur dalam urusan kalian. Aku baru mempunyai niatan. Tapi, aku belum memintanya. Kamu tahu sendiri dia sudah tidak bekerja padaku."


Almeer hampir tersedak ketika mengetahui kebenarannya, "maaf, Pa. Saya pikir—"


"Mungkin dia melakukan atas kemauannya sendiri," pangkas Langit, "Bukan aku membelanya. Aku yakin dia tak mempunyai niat buruk untuk rumah tangga kalian, dia hanya ingin memastikan Sora selalu dalam keadaan yang baik saja. Itu menurutku,"


"Maafkan saya karena berpikir Papa yang sudah menyuruh Aga untuk mengawasi kami," ujar Almeer menyesal.


"Hahahaha, jadi karena cemburumu itu bagian dari alasanmu berani menentangku?"


Almeer mengangguk segan, "maafkan saya, Pa."


Langit mengangguk, ia mengulas senyum tipis memperhatikan Almeer. "Jika tidak ada perselisihan seperti ini, aku tidak akan pernah tau siapa dirimu."


"Iya, Pa. Insya Allah ke depannya saya akan lebih bijak lagi untuk menghadapi masalah yang datang."


"Meskipun aku masih sering membandingkanmu dengan Aga, tapi kamu juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Aga,"


Almeer memilih diam tak menanggapi ucapan Langit.


"Aku akan mengurus Aga, fokuslah pada pekerjaan dan istrimu. Ingat! Dia sedang hamil muda, dia butuh banyak perhatian. Jangan sampai kamu melewatkan masa-masa seperti ini atau kamu akan menyesalinya."


"Iya, Pa. Saya akan mengatur ulang pekerjaan saya. Dan untuk kekurangan dana dari pengembalian PC itu ...." Almeer diam sejenak, enggan ingin meneruskan kalimatnya. Ia menatap Langit yang sudah terlihat tak sabar mendengar kelanjutan kalimatnya.


"Emmb, apa boleh saya mencicilnya, Pa?"


"Hahahaha ...." Langit tertawa keras mendengar kalimat Almeer. "Aku sudah menduga kamu akan melakukannya ...,' ujarnya dengan masih tertawa keras.


Almeer kembali tertunduk malu, tapi memang begitu keadaannya. Ia tak mempunyai banyak tabungan untuk melunasi biaya pengembalian PC itu.


"Apa kamu baru menghitungnya?"


Almeer mengangguk pelan.


"Abaikan saja, toh itu juga bukan kesalahanmu. Pria memang harus memiliki keberanian untuk mempertahankan harga dirinya. Aku paham itu ..., jadi abaikan saja."


"Tidak, Pa. Biarkan saya mencicilnya, saya sudah mengatakannya di awal dan saya harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah saya katakan."


"Lupakan,"


"Saya tetap akan mencicilnya,"


Langit menatap kesal menantunya, "Aku tidak menyukai sikap keras kepalamu, tapi aku juga menyukai sikap tanggung jawabmu. Kamu pria yang ...." Langit mengernyitkan keningnya mencari sebutan yang pas untuk Almeer, "entahlah ...," jawabnya menyerah.


Almeer tersenyum kecil, "Saya harus pergi ke kantor, Pa."


Langit mengangguk dan berdiri, "Sayang ..., Al mau pamit nih," Teriak Langit memanggil istrinya.


"Ya, Mas ...," Sahut Senja dari arah dapur.


Sambil menunggu Senja datang, Almeer pamit pada Langit. "Sekali lagi saya minta maaf ya, Pa .... Dan tolong beri saya kepercayaan untuk membahagiakan Sora."


"Aku akan mencobanya," jawab Langit khas dengan nada sombongnya.


"Kenapa gitu sih, Mas?" Senja menepuk lengan suaminya.


Langit hanya memutar bola matanya dan menyebikkan bibirnya.


"Saya pamit berangkat ke kantor dulu ya, Ma." Almeer mencium tangan Senja.


"Iya, Al. Hati-hati, ya ...," ujar Senja.


"Iya, Ma. Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam,"


Almeer pun pergi keluar rumah diantar oleh kedua mertuanya hingga teras rumah. Ia lekas memakai helmnya, tersenyum pada kedua mertuanya kemudian melajukan kendaraannya.


Ia berniat mampir untuk menyapa papa dan mamanya di pesantren Al-Mukmin. Namun ia bertemu dengan Sky yang sedang memesan sebuah bubur ayam di depan pintu gerbang pesantren.


"Sky!" Almeer menghentikan motornya tepat disamping gerobak bubur ayam.


"Hmm?" sahut Sky dengan ekspresi datarnya.


"Ngapain?"


"Gak bisa lihat aku lagi ngapain? Basa basi banget," gerutu Sky.


Almeer tersenyum kecil, "mumpung kita bertemu, aku ingin membicarakan sesuatu padamu,"


"Apa?"


"Kamu mau aku mengatakannya disini?" tanya Almeer.


Sky melirik tukang bubur ayam yang masih menyiapkan pesanan orang lain, "Mas! punya saya di taroh mangkok aja." pinta Sky.


"Beres, Mas Ganteng."


"Mas, satu lagi, ya? saya tunggu di teras masjid," tambah Almeer.


"Siap, Mas Al."


"Kesana, Sky." Almeer menuntun motornya masuk pelataran masjid.


Sky ikut di belakang Almeer dan duduk di teras masjid. "Mau ngomongin apa?" tanya Sky.


"Aku mau minta alamat Aga," jawab Almeer.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Aku tidak suka dengan caranya yang ikut campur dalam rumah tanggaku,"


Sky mengernyit, "maksudmu?"


"Karena perbuatannya aku sudah salah paham dengan Papamu, aku mengira papa yang menyuruhnya untuk mengawasi Sora. Ternyata bukan, dia melakukan sendiri ...,"


"Aga mengawasi Sora?" tanya Sky.


"Dia sepertinya menyuruh orang untuk mengawasi Sora, dan aku rasa dia selalu tahu di mana Sora berada,"


Sky terdiam dan berpikir sejenak, "biar aku yang bicara padanya."


"Aku sendiri yang akan menemuinya,"


"Kalian hanya akan bertengkar." ujar Sky. "Lagian dia gak di Malang,"


"Monggo buburnya, Mas."


Percakapan Almeer dan Sky terhenti ketika tukang bubur ayam mengirim pesanan mereka.


"Makasih ya, Mas," ucap Almeer.


"Thanks, Mas." ucap Sky.


"Sama-sama," sahut tukang bubur ayam, ia kembali ke gerobaknya.


Almeer dan Sky menghentikan pembicaraan sejenak untuk melahap bubur ayam mereka.


"Beri tahu aku alamat Aga, Sky. Aku harus bicara dengannya." Almeer masih tidak menyerah dengan permintaannya.


"Sudah ku bilang, aku yang akan bicara dengannya. Dia akan menuruti kata-kataku," jawab Sky yang mulai kesal.


"Aku akan terlihat seperti pengadu jika kamu yang membicarakan masalah ini dengannya,"


Sky menggeleng, "aku harus memastikan sesuatu dulu padanya. Aku tahu dia memang selalu mengkhawatirkan keadaan Sora. Tapi aku ragu jika dia masih melakukannya ..., mengingat kalian saat ini sudah menikah."


"Dia selalu ada disekitar Sora—"


"Lanjutkan makanmu! Biar kakak yang urus masalahmu,"


Almeer diam dan menatap datar pria yang sedang berpura-pura bijak disampingnya itu. "Kalimatmu membuat napsu makanku hilang,"


Sky hanya menyebikkan bibirnya. Keduanya pun kembali diam dan menyantap bubur ayam mereka hingga habis.


***


Sampai di kantor, Almeer meminta bantuan Siska untuk menjadwal ulang jadwal kegiatan hariannya. Ya, mulai hari ini dia akan pulang tepat waktu. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengutamakan istrinya.


Tok tok tok!


Almeer yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya lekas mendongakkan kepala. Pintu ruangannya terbuka dan wanita cantik dengan senyum manis muncul dari balik pintu itu.


"Assalamu'alaikum, Bie ...,"


Almeer berdiri menghampiri istrinya, "Wa'alaikumsalam, Sayang."


Sora meraih tangan kanan Almeer dan mengecupnya.


"Kan sudah ku suruh istirahat di rumah, kenapa masih keluar aja sih, Sayang?" tanya Almeer.


Mata Sora terpejam rapat dan cukup lama Sora hanya menempelkan bibirnya pada bibir Almeer. Sedangkan Almeer sendiri tak tahu apa maksud istrinya melakukan hal itu.


Pria itu pun lebih membungkukkan badannya, tangannya menyentuh pinggang ramping Sora dan mendorongnya pelan agar wanita yang sedang menciumnya itu berdiri normal tanpa berjinjit.


Tak berpikir lama. Almeer ikut menutup matanya dan lekas ******* bibir Sora. Tentu saja kini ganti Sora yang terkejut dan ingin mundur, namun tangan Almeer menahan pinggang dan tengkuknya.


Almeer tak memberi kesempatan untuk Sora melakukan protes. Ia sedikit memaksa Sora yang masih tercengang membuka mulutnya untuk memperdalam ciuman mereka. Dan dalam sekejap, ciuman datar tadi berubah memburu dan menggairahkan.


"Bie!" Sora memaksa melepaskan diri, napasnya tersenggal-senggal seolah usai berlari mengelilingi lapangan.


Almeer tersenyum menang melihat napas istrinya yang memburu. ia mengusap sudut bibir Sora yang basah karena saliva. "Maaf maaf. Lose control, Sayang."


"Ih!" Sora memukul pelan dada suaminya.


Almeer tertawa kecil, ia mengajak Sora untuk duduk di sofa. "Kenapa? Kok tiba-tiba datang langsung cium aku?" tanya Almeer.


Sora kembali memeluk suaminya, "aku selalu bangga sama kamu, Bie," ucapnya pelan.


"Ada apa sih, Sayang?" Almeer semakin penasaran.


Sora melepaskan pelukannya dan menatap suaminya, "terimakasih sudah mau menemui papa, terimakasih sudah mau minta maaf lebih dulu padanya. Terimakasih, Bie ...," ucap Sora.


"Sayang ..., sudah seharusnya aku melakukan itu. Aku juga bersalah pada papa."


"Aku takut kalian saling menyimpan dendam dan tidak akan pernah baikan," keluh Sora.


Almeer mencakup pipi istrinya, "mana berani aku berbuat seperti itu, Sayang," ucapnya gemas dengan mencubit pelan pipi Sora.


"Aku senang sekali waktu dapat kabar dari mama kalau kamu pagi tadi datang menemui papa dan kalian sudah baikan, makanya aku buru-buru datang kesini. Aku bangga banget sama kamu, Bie. Gak sabar nunggu kamu pulang, pengen cepet peluk kamu." Sora kembali memeluk tubuh suaminya.


Almeer hanya tertawa melihat istrinya, "padahal kan lebih enak kalau peluk-peluk di rumah, Sayang."


"Ih, sukanya kamu kalau itu." Sora melepas pelukannya dan memukul dada suaminya.


Almeer tak berhenti mengembangkan senyum menatap istrinya, dalam benaknya ia bersyukur masalahnya tak berlarut terlalu lama.


"Kerja lagi gih, Bie. Aku tunggu disini," ujar Sora.


Almeer mengangguk, "Tunggu sebentar lagi ya, Sayang." Ia berdiri dan kembali ke meja kerjanya.


Almeer mulai menggenggam mouse dan matanya fokus pada layar komputer. Tetapi, tiba-tiba saja ia menghentikan aktivitasnya dan melihat jam di sudut layar komputernya. Sudah lewat pukul empat sore. Ia menatap istrinya yang duduk santai menatap layar ponsel.


"Sayang ...,"


Sora mendongakkan kepala menatap suaminya. "Ya, Bie?" sahut Sora.


"Mau jalan-jalan. gak?" tanya Almeer.


"Mau! Mau banget!" jawab Sora antusias.


"Mau kemana?" tanya Almeer.


"Aku mau naik bianglala di alun-alun kota Batu, Bie. Trus mau makan jagung bakar sama ketan yang legendaris itu loh, Bie ...,"


Almeer mengangguk dengan mengulas senyum ketika melihat istrinya sangat senang menyebutkan keinginannya.


"Oke, kita berangkat sekarang, ya ...."


"Loh, kerjaan kamu gimana, Bie?" tanya Sora.

__ADS_1


Almeer hanya tersenyum kemudian kembali menatap layar komputernya. Ia menyimpan semua pekerjaannya sebelum kemudian mematikan CPUnya.


"Sekarang, Bie?" Sora memastikan ulang ketika melihat suaminya merapikan meja kerjanya dan memasukkan barang-barang penting ke dalam tas ransel suaminya.


"Kalo berangkat terlalu malam nanti kamu mual-mual lagi, Sayang. Iya, kan?"


"Iya, sih ..., Dedek bayinya emang susah kalau diajak keluar malam," keluh Sora. Tangannya mengusap perutnya.


Almeer menjinjing tasnya dan menghampiri istrinya, "Makanya, kita berangkat sekarang aja, ya?"


Sora mengangguk, ia memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan lekas membawanya keluar ruangan Almeer.


"Siska, aku pulang duluan, ya ..., minta tolong nanti yang lembur belikan makan malam dulu sama titip motorku nanti suruh masukin ke dalam kantor, ya ...," pinta Almeer pada Siska. ia memberikan kunci motornya diatas meja sekretarisnya itu.


"Baik, Pak!" sahut Siska.


"Kami pulang dulu ya, Sis," pamit Sora.


"Iya, Bu Sora."


"Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam, "


Almeer dan Sora pun bergegas keluar kantor.


***


Mobil yang dikendarai Almeer sudah berhenti di halaman parkir masjid besar yang ada di seberang alun-alun kota Batu. Parkiran disekitar alun-alun memang tak pernah sepi. Tapi beruntung Almeer bisa menemukan slot kosong di depan masjid hingga istrinya tak akan terlalu jauh berjalan menuju ke alun-alun.


"Bie! Aku tuh udah lama banget mau naik itu ...." Sora menunjuk bianglala besar yang ada di dalam alun-alun.


"Iya, Sayang ...." Almeer merangkul bahu istrinya dan mengajaknya menyebrang jalan menuju ke alun-alun.


Alun-alun kota Batu memang selalu ramai, tapi beruntungnya hari ini tak terlalu ramai sehingga Almeer dan Sora bisa menikmati suasana alun-alun tanpa harus berdesak-desakan.


"Antri dulu, Bie."


"Kamu duduk dulu aja, Sayang. Biar aku yang antri," kata Almeer.


Sora mengangguk dan duduk di tepian taman. Sementara Almeer antri untuk membeli tiket.


"Enam, Mbak," ujar Almeer setelah tiba didepan loket, ia menyerahkan sejumlah uang pada petugas.


"Terimakasih ...." Petugas memberikan tiket dan uang kembalian pada Almeer.


"Sama-sama, Mbak."


Almeer menghampiri istrinya dan menunjukkan tiketnya.


"Banyak banget, Bie!" Sora mengambil tiket dari tangan suaminya.


"Biar puas, Sayang. Sekalian sama nunggu adzan maghrib."


Sora berdiri dan mengangguk senang. "Ayo, Bie!" ia lekas menarik tangan Almeer menuju ke pintu masuk area bianglala.


Tak terlalu lama mengantri untuk masuk ke dalam gerbong bianglala, Sora memberikan empat tiket pada petugas.


"Dua kali putaran ya, Mbak." Kata Sora


"Iya ..., silahkan masuk."


Almeer dan Sora lekas masuk ke dalam. Mereka duduk berhadapan didalam gerbong yang sebenarnya bisa diisi empat orang dewasa itu.


"Kenapa gak kamu kasih semua aja, Sayang?" tanya Almeer.


"Buat nanti malem sebelum pulang, Bie. Pengen lihat kota Batu kalau malam, pasti bagus."


"Ooh,"


"Astaghfirullah, Sayang!" Almeer terkejut ketika Sora pindah duduk disampingnya, "hati-hati, sayang ...," wajahnya panik ketika merasakan gerbong bianglala bergoyang.


"Hahaha, takut ya, Bie?" Sora tertawa senang melihat wajah suaminya yang panik.


"Kaget aja, Sayang. Kaget ...," elak Almeer.


"Iiih, Sagara Almeer takut sama ginian ...," ejek Sora.


"Enggak, cuma kaget aja ..., ngapain juga aku takut sama ginian,"


"Iya iya iya ..., Sagara Almeer cuma taku sama Allah dan kedua orangtuanya," Sora masih menatap jahil suaminya.


Almeer menatap Sora dan menggelengkan kepalanya, "ada lagi,"


"Apa?"


Pria itu mencakup pipi istrinya, "aku juga takut kehilangan kamu,"


Sora mematung mendengar jawaban suaminya. Tapi senyumnya lekas mengembang ketika suaminya tersenyum padanya.


"Bie ...,"


"Aku sangat mencintaimu ..., Kianga Sora." Kalimat Almeer di tutup dengan ciuman lembut di bibir Sora. "I love you," bisiknya lembut.


Sora menatap mata suaminya yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Napasnya terasa menyapu pipinya, sorot mata tajam namun sangat meneduhkan itu membuat bibir Sora terus mengembangkan senyum.


"Aku—"


Almeer tak membiarkan Sora memberikan jawaban, ia kembali mencium istrinya. Sora merasa canggung dan menahan dada Almeer untuk tak melanjutkan ciumannya, mengingat mereka sedang berada di luar rumah. Tapi, entah mengapa Sora merasa ada sesuatu yang berbeda dengan suaminya.


Pria itu terus ******* bibir bawah Sora dengan sangat lembut dan hangat. Bukan ciuman yang penuh hawa napsu, lebih tepatnya seperti ungkapan perasaan jika dia sangat menyayangi istrinya tersebut.


Sora mulai merilekskan badannya dan menerima ciuman dari suaminya. Matanya semakin terpejam dan menikmati tiap sentuhan basah itu. Tak bisa hanya menerima, ia mulai membalas ciuman itu dan perlahan membuka bibirnya untuk memperdalam ciuman mereka.


Tidak ada napas memburu, karena mereka melakukannya dengan lembut. Sangat lembut ....


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2