ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
73


__ADS_3

"Sepertinya kamu melupakan banyak hal yang harus kamu tunjukkan padaku, Tom?" kata Langit, suaranya dingin dan mengintimidasi.


"Maafkan kecerobohan saya, Tuan ...," ucap Tommy.


"Cari tahu semua tentang dia!"


"Baik, Tuan."


"Sebaiknya kita langsung pulang saja, Mas," bujuk Senja ketika melihat Almeer sudah menaiki motornya.


Langit hanya diam bersandar mengamati mobil milik wanita yang paling tidak ingin ditemui itu pergi meninggalkan halaman parkir pertokoan Almeer.


***


Sementara itu Almeer ikut bergegas pulang, ia sama sekali tidak mengetahui jika beberapa pasang mata yang mengawasinya mulai dari kantor sampai mereka tiba di rumahnya.


Langkahnya untuk masuk ke dalam rumah terhenti ketika ada mobil mertuanya yang berhenti didepan pagar rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Ma, Pa!" Sapa Almeer ketika kedua mertuanya baru turun dari mobil dan lekas mencium tangan mereka bergantian.


"Wa'alaikumsalam,"


"Baru sampai, Al?" tanya Senja basi basi.


"Iya, Ma. Tadi ada tamu, trus mau pulang ada anaknya Moza datang ke kantor saya."


"Moza?" Senja terbelalak, ia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


Mereka sedang bertanya-tanya hubungan antara Moza dan Clara.


"Emmm ..., Moza sudah menikah? Kenapa gak undang-undang?" Senja mencoba memberikan pertanyaan lain.


"Saya juga tidak tahu kapan dia menikah, Ma."


"Pantas waktu wisuda Mina kemarin si Sky gak antusias ketemu incerannya. Ternyata yang ditaksir udah punya anak," ujar Langit.


"Ya udah, ayo masuk dulu .... Udah mau maghrib juga," ajak Senja.


Mereka bertiga pun masuk.


Sampai di dalam rumah ternyata sudah ada Hiko, Ruby dan Genta. Entah kenapa perjaka tua itu tiba-tiba ada di kota Malang juga.


Hiko, Genta dan Sky sedang berbincang diatas karpet ruang tengah. Sedangkan Ruby, Sora, Mina dan Siti sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti.


"Assalamu'alaikum ...," Sapa Almeer, Langit dan Senja.


"Wa'alaikumsalam ...," Sahut yang lainnya.


Langit dan Hiko saling bersalaman, dan Senja pergi menghampiri Ruby.


"Maaf ya, Bu Ruby. Saya yang undang malah saya yang datangnya telat," ujar Senja ketika usai bersalaman dengan Ruby.


"Gak apa Bu Senja, namanya juga ada keperluan."


"Udah dari tadi, Ma?" sapa Almeer yang juga baru datang untuk mencium tangan ibunya.


"Barusan, kok. Nungguin Oom kamu mandi itu jadi lama banget," jawab Ruby.


Sora lekas mencium tangan Almeer usai suaminya mencium tangan Ruby.


"Debay-nya rewel gak, Sayang?" tanya Almeer sambil mengusap perut istrinya.


"Enggak kok, Bie. Dedek Bayi hari ini dimanjain sama Tante Mina. Mau makan apa aja diturutin," jawab Sora sambil menatap Mina yang ada disampingnya.


"Makasih ya, Mina ...," ucap Almeer.


"Sama-sama, Kak," jawab Mina.


"Ma ..., Al tinggal ke atas mau mandi dulu ya ...," pamit Almeer pada Ruby dan Senja.


"Iya," Jawab Ruby dan Senja kompak.


Almeer pergi ke kamarnya. Setelah mencuci tangan, Sora segera menyusul Almeer.


"Maaf ya, Sayang. Ada acara gini aku pulangnya telat," ucap Almeer ketika istrinya baru masuk kamar.


"Mama juga bikin acaranya dadakan tadi pagi, Bie." Sora pergi membuka lemari baju dan menyiapkan pakaian Almeer.


"Tadi Cloe dan tante Clara ke kantor, Sayang,"


Sora menghentikan aktivitasnya dan menatap suaminya. "Ngapain?" tanya Sora.


"Lusa mereka ke Paris, dan Cloe memintaku untuk menemaninya pergi ke taman hiburan besok,"


"Kamu mau?"


"Jika kamu mengijinkanku dan kita pergi bersama,"


Sora diam dan masih menatap suaminya.


"Aku tidak akan pergi jika kamu tidak mengijinkanku." Almeer mendekati Sora dan memeluknya.


"Bagaimana denganmu? Apa kamu ingin menemaninya?" tanya Sora.


"Aku lebih mementingkan kamu dibandingkan orang lain, Sayang."

__ADS_1


Sora melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepalanya, "Maaf ya, Bie ..., aku tidak mau kamu pergi dengan Cloe,"


Almeer mengangguk dan sangat menghormati keputusan istrinya, "iya, Sayang. Aku akan memberitahunya jika aku tidak bisa pergi bersamanya."


"Kamu bisa memberikannya hadiah saja, Bie ...," Saran Sora.


Almeer mengangguk, "iya, Sayang ...,"


"Ya udah ..., buruan mandi, Bie. Keburu adzan nanti,"


Almeer mengangguk, ia mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi.


Sora menatap punggung suaminya yang berjalan keluar kamar. Pria itu memang sangat baik pada siapapun dan ia takut orang lain salah mengartikan kebaikan suaminya.


***


Makan malam dadakan yang diadakan Senja dimulai setelah mereka semua sholat isya'. Meja makan rumah Almeer dan Sora yang hanya berisi empat kursi membuat keluarga itu melaksanakan makan malam dengan menggelar karpet di ruang tengah. Duduk melingkar, mengitari menu makanan disana, saling bertukar cerita dan canda tawa.


"Ini loh, Pak Langit. Genta ini kan punya niatan mau meminang mbak Erni, tapi mbak Erni sendiri ragu karena takut pak Langit tidak mengijinkannya meninggalkan kediaman pak Langit. Mengingat mbak Erni disana adalah kepala asisten rumah tangga," ujar Hiko ditengah-tengah makan malam mereka.


"Loh, jadi toh yang mau ngelamar Erni? Saya kira udah kandas,"


"Jangan doooong, Pak Langit. Sudah berapa kali kisah cinta saya kandas. Semoga yang ini tidak, Pak ...," keluh Genta.


"Iya, Pak. Kasihan senopati saya ini. Saya takut jika kerisnya akan tumpul dan tak berfungsi dengan semestinya jika tidak pernah dipakai berperang," tambah Hiko.


"Mas, bicaranya ... ada gadis dan perjaka itu loh." Ruby melirik Sky dan Mina.


"Mereka udah besar," jawab Hiko enteng.


"Sebenarnya saya berat melepas Erni, mengingat dia dari remaja sudah bekerja dengan saya. Tapi gak mungkin juga kalau dia terus di rumah saya dan terus melajang," tutur Langit, "kalau Pak Genta sudah siap, saya akan siapkan pernikahan anda."


"Loh loh, saya ijab kabul saja sudah senang, Pak. Yang penting halal, gak usah dibikinin pesta," jawab Genta malu-malu.


"Saya gak bilang siapin pesta, Pak Genta," ralat Langit.


"Ooh, iya ... maaf, Pak. Terlalu senang," Genta tersipu malu dan mengusap kepalanya dan disambut tawa yang lainnya.


"Malu-maluin aja kamu itu, Ta!" ujar Hiko.


"Ya kali aja, Ko," bisik Genta.


"Nanti kalau kita sudah di Jakarta, saya tunggu kedatangan anda. Anda pasti sudah tahu jika Erni hidup sebatangkara, jadi kamilah keluarga baginya." Lanjut Langit.


"Siap-siap, Pak."


"Sabar saja ya, Pak Genta. Minggu depan kami sudah kembali ke Jakarta. Kelar acara syukuran Sora dan Babynya."


Genta hanya mengangguk senang sambil mengunyah nasi di mulutnya.


Hiko melihat putranya, "kamu maunya kapan, Al? Mumpung kami semua masih di Malang," tanya Hiko.


"Jum'at depan saja gimana, Pa, Ma?" tanya Almeer, ia bergantian menatap kedua orangtua dan mertuanya bergantian.


"Oke, Gak masalah. Masih ada waktu ...," sahut Langit.


"Iya, Papa setuju ...," sahut Hiko.


"Mau acaranya di sini apa di pesantren, Al?" tanya Ruby.


"Disini saja, Ma ..., kebetulan di dekat sini ada panti asuhan, Al juga berencana undang mereka."


"Kita perlu cari souvenir juga, Bie?" tanya Sora pada Almeer.


"Sebaiknya kita kasih sembako dan uang tunai aja, Sayang. Karena itu lebih dibutuhkan orang lain," usul Senja.


"Iya, Mama juga setuju dengan Mama kamu, Sora," ujar Ruby.


Sora mengangguk setuju, "iya, Ma."


"Kamu undang siapa saja, Al? Rekan-rekan bisnismu kamu undang?" tanya Langit, matanya tajam menyelidik menantunya untuk mencari sesuatu yang ia harapkan.


"Kalau rekan bisnis tidak, Pa. Mungkin cuma teman-teman kantor, ibu-ibu pengajian di komplek sini sama anak-anak dari panti asuhan didepan itu," jawab Almeer


"Oooh ...." Langit mengangkat satu alisnya, ia menatap istrinya yang sudah memahami apa yang ada dalam pikirannya, "ya sudah, semoga diberi kelancaran sampai hari H," ujar Langit.


"Aamiin,"


Makan malam pun berlanjut masih dengan perbincangan seputar acara yang akan digelar untuk syukuran kehamilan Sora.


***


Suara cuitan burung-burung gereja sudah terdengar saling bersahutan di taman rumah Sora. Dua pohon trenguli yang rindang di depan halaman rumah Sora menjadi tempat favorit burung-burung melepas lelah usai terbang kesana kemari. Gemericik air dari kolam ikan pun ikut memberikan ketenangan didalam rumah.


Sora sedang duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan suaminya yang sedang merapikan diri di depan cermin dan siap untuk berangkat ke kantornya.


Almeer tersenyum melihat pantulan istrinya yang sedang memperhatikannya, "kenapa, Sayang?" tanya Almeer.


Sora mengembangkan senyum di bibirnya. Ia berdiri dan mendekati Almeer, meraih sisir dari tangan suaminya dan membantunya menyisir rambut.


"Kenapa kamu bisa sesempurna ini sih, Bie?" tanya Sora.


"Astaghfirullah ..., kesempurnaan cuma milik Allah, Sayang."


"Aku tahu itu, Bie .... Tapi sebagai laki-laki, kamu itu perfect!" Sora meletakkan sisir Almeer diatas meja rias kemudian menggelayutkan tangannya di tengkuk suaminya.

__ADS_1


"Kamu ganteng, sholeh, pintar, rajin, bertanggung jawab ...," Sora berhenti sejenak mencari sifat baik suaminya yang belum ia sebutkan.


"Udah udah udah, jangan disebutin semua. Nanti aku bisa kege-eran, loh." Almeer mencubit hidung istrinya.


"Aku beruntung banget ya, Bie ... bisa dapat laki-laki sholeh seperti kamu."


"Aku yang bersyukur karena kamu sudah mau menjadi istriku,"


"Aku yang bersyukur, Bie. Diantara banyak wanita sholeha yang menginginkanmu, kamu menjatuhkan pilihanmu pada wanita yang banyak kekurangan sepertiku."


"Kenapa bilang seperti itu, Sayang? Kamu adalah pilihan Allah, itu artinya kamu wanita terbaik untukku."


"Apa aku sudah menjadi Khadijahmu, Bie?" tanya Sora.


Almeer menggeleng, "Bagiku kamu adalah Kianga Sora, wanita terbaik yang akan terus berada disampingku, selalu dan selamanya. Kamu adalah sebaik-baiknya wanita yang ada di dunia ini, Sayang."


Sora kembali mengulas senyum, ia senang mendengar jawaban suaminya tapi jawaban itu menghilangkan gundah dihatinya. "Kamu selalu baik, Bie. Kepada siapapun,"


Almeer menyadari perubahan sorot mata istrinya yang berbeda dari sebelumnya, "apa yang membuatmu resah, Sayang?" tanya Almeer.


"Kebaikanmu ..., aku gak tahu ini salah atau benar, tapi aku tidak suka kamu terlalu baik pada semua orang,"


Almeer menghela napas panjang, ia melepaskan tangan Sora dari tengkuknya dan mendudukkan istrinya di kursi meja rias. Ia pun duduk jongkok didepan Sora, menggenggam erat kedua tangan istrinya.


"Kamu masih mengkhawatirkan Cloe?"


Sora mengangguk, "bahkan anak sekecil itu menginginkanmu, Bie ...,"


"Sabar ya, Sayang. InsyaAllah ini hari terakhir aku bertemu Cloe, aku akan memberikan kado untuknya sebelum besok ia berangkat ke Paris."


Sora kembali mengangguk, "aku egois dan belum bisa memahamimu, Bie. Maafkan aku belum bisa mengimbangi kamu,"


Almeer menggeleng, "perjalanan kita untuk saling mengenal dan memahami masih sangat panjang, Sayang. InsyaAllah, kita akan bisa saling mengisi dan mengimbangi kelebihan maupun kekurangan kita masing-masing."


"Maafkan aku jika terlalu lambat untuk menjadi istri yang baik,"


"Selambat apapun kamu ... aku akan akan tetap menunggu, Sayang?"


"Bie, kata-katamu sepertinya gak asing deh?" Sora mengernyit, mencoba mengingat sesuatu.


"Titik Nol Kilometer Jogjakarta," jawab Almeer disusul dengan tawa renyahnya.


"Ah, Iya!" Sora tersipu malu dan memukul pelan bahu suaminya, "Ya Allah, Hari itu aku seneeeeeeng banget tahu, Bie."


"Sama ...,"


"Kencan pertama kita,"


"Hahahaha ..., iya. Padahal waktu itu aku sudah menahan diri untuk menjaga jarak denganmu, tapi aku tetap kalah dengan godaan setan." Almeer tersenyum malu sambil mengusap rambutnya.


"Iiih, gemes deh kalau malu-malu gini." Sora menepuk beberapa kali pipi suaminya, "pengen aku karungin nih,"


"Hahahaha, memangnya aku gula?"


"Hahahahaha, kamu sih lebih manis dari gula, Bie! Senyum dikit aja bisa bikin diabetes."


"Bisa aja kalo gombalin suaminya." Almeer berdiri, "aku berangkat dulu ya, Sayang."


Sora ikut berdiri, "Iya, Bie. Aku antar ke depan yuk,"


Almeer menggeleng, "gak usah, Sayang. Aku turun sendiri aja,"


Sora meraih tangan Almeer dan menciumnya, "Hati-hati ya, Bie."


Almeet mencium kening Sora, kemudian berlutut mencium perut istrinya. "Abie berangkat kerja dulu ya, Dek. Adek sama Bubun di rumah hati-hati. ya?" ucapnya kemudian kembali berdiri.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang. Assalamu'alaikum ...," pamit Almeer sambil memakai tas ranselnya.


"Wa'alaikumsalam ...,"


Almeer pun keluar kamar dan Sora merapikan kamarnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO DULU!


Maap, episode kali ini nuanggung kurang ada isinya. Yang setengahnya aku setting buat up besok. Karena besok aku ada kegiatan jadi gak bisa ngetik.


Maapin othor yaa ...


(sambil mengatupkan bibir dan mengerjapkan kelopak mata agar terlihat imut seperti kelinci).


Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2