ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
87


__ADS_3

"Bie ... makan malamnya sudah siap, nih ...," teriak Sora yang memanggil suaminya dari meja makan.


Tak ada jawaban dari Almeer yang sedang berada di dalam kamar.


"Ketiduran mungkin, Mbak?" tebak Siti.


"Saya lihat ke kamar dulu ya, Bu Siti."


Sora beranjak pergi ke kamarnya. Dan benar Saja, Almeer sedang tertidur dengan masih mengenakan sarung usai dari masjid tadi.


Sora duduk jongkok menatap suaminya yang sedang tertidur pulas. Karena ikut mengantar kedua orangtuanya dan adiknya ke Bandara, Almeer harus datang lebih siang ke kantornya tadi pagi. Mungkin sebab itulah Almeer menjadi bekerja lebih keras dan membuatnya sangat kecapekan malam ini.


Tangan Sora menyentuh lembut pipi suaminya, tapi sentuhan itu malah membuat Almeer membuka matanya.


"Astaghfirullah ... aku ketiduran ya, Sayang." Almeer bangun dan duduk ditepi tempat tidur kemudian mengusap wajahnya untuk menghilangkan kantuk.


Sora berdiri dan duduk disamping suaminya, "maaf ya, Bie. Jadi kebangun," ujar Sora.


"Gak apa. Sayang ...." Almeer berdiri dan menarik lembut tangan kiri istrinya, "kita makan, yuk? Kamu pasti sudah lapar, kan?"


Sora mengangguk dan mereka berdua pergi menuju ke meja makan.


"Aku ambil sendiri saja, Sayang. Tangan kamu kan lagi sakit," ujar Almeer ketika melihat Sora ingin mengambilkan nasi untuknya.


"Bisa kok, Bie. Pelan-pelan ...." Sora tersenyum pada suaminya, "aku ingin melakukan hal-hal sederhana seperti ini, Bie. Agar kamu benar-benar bisa merasakan akan kehadiranku disini sebagai istrimu. Aku ingin menjadi istri yang berbakti padamu, Bie."


"MasyaAllah ... semoga Allah membantu niat baik Kianga Soraku." Almeer mengusap tangan istrinya.


"Aamiin ...,"


Almeer dengan sabar memperhatikan istrinya yang berdiri disamping meja makan sedang menyiapkan makan malam untuknya. Senyumnya tak berhenti mengembang menatap Sora.


"Terimakasih ya, Sayang," ucap Almeer.


"Kan belum selesai, Bie."


Almeer menggelengkan kepalanya, "bukan untuk ini saja. Tapi untuk segalanya yang sudah kamu lakukan untukku, Sayang. Bahkan yang masih dalam niat,"


"Iiih ..." Sora mencubit lengan suaminya. "Mulai nih mau nggombalin,"


"Lama gak gombalin kamu, Sayang. Masa' aku harus gombalin bu Siti?"


"Makan gih, Bie ...." Sora memberikan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk pada suaminya, "kamu kalo udah nggombali bisa bikin mukaku seperti kepiting rebus nih."


Almeer menarik pinggang istrinya dan membuat tubuhwanita bergamis biru muda itu menempel didadanya.


"Bie!" pekik Sora yang terkejut.


Almeer melingkarkan tangannya di pinggang Sora dan menyandarkan kepalanya dibagian perut.


Sora sudah akan melayangkan protes karena malu jika Susi tiba-tiba datang. Tapi, setelah melihat tingkah manja suaminya, ia mengurungkan niat itu. Ia membelai rambut Almeer dengan lembut dan ikut menikmati pelukan itu.


"Kenapa, Bie?" tanya Sora.


"Masa nifas masih lama ya, Sayang?"


"Ih!" Sora memukul pelan bahu suaminya, membuat Almeer menatapnya dengan senyum jahil. "Kirain mau manja-manjaan, eeh ... ternyata malah mikirin yang lain,"


"Ya itukan juga manja-manjaan, Sayang. Kita lama looh—"


"Udah-udah." Sora melepas tangan Almeer dari pinggangnya, wajahnya merona merah tersipu malu. "Makan, Bie ...." Ia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


"Kamu duduk, deh." Almeer berdiri dan menarik lembut istrinya untuk duduk di kursi, "biar aku yang ambilin,"


"Bie ...,"


"Ssst!" Almeer menempelkan satu jari telunjuknya di bibir Sora. "Tadi kamu sudah lakukan untukku, sekarang gantu aku yang bantu kamu." Ia mulai mengambilkan nasi untuk istrinya.


"Kamu gak harus lakuin ini, Bie ...,"


"Bukankah orang pertama yang harus merawatmu ketika sakit adalah aku, Sayang?"


"Ya, tapi—"


"Segini cukup?" tanya Almeer mengalihkan pembicaraan.


"Kurangin, Bie. Kebanyakan itu," jawab Sora jujur, dan benar saja ia mengabaikan rasa segannya karena terpacing pertanyaan Almeer untuk tak melanjutkan pembicaraannya.


Almeer tersenyum tipis mendapati kepolosan istrinya, "mau pake apa?" tanya Almeer.


"Telur aja, sama sayur dikit."


Kini Almeer terkekeh, "nurut gini kan enak, Sayang. Gak usah segan-segan sama suami sendiri,"


Sora kembali tersadar, "aduh ... gampang banget sih nih otak pindah jalurnya." Ia mengumpat pada diri sendiri.


"Gak apa!" Almeer mengusap kepala Sora, "aku lebih suka kamu yang bicara apa adanya, Sayang."


"Kamu gak suka aku belajar lebih baik?" Sora memayunkan bibirnya.


"Suka juga ...," jawab Almeer sambil kembali ke kursinya dengan membawa piring milik Sora. "Aku suka semua tentang kamu, Sayang. Tapi, aku lebih menyukai Kianga Sora."


"Aku Kianga Sora, Bie ... kamu hilang ingatan?"


Almeer tertawa renyah, "kamu boleh belajar menjadi yang lebih baik, Sayang. Tapi jangan lupakan siapa Kianga Sora sebenarnya ..., oke?"


Sora diam sejenak dan berpikir, mencermati kata-kata suaminya.


"Makan dulu, Sayang. Biar semangat mikirnya." Almeer menyodorkan sesendok nasi dan lauknya tepat di depan mulut Sora, "Aaa ...,"


"Bie! Gak harus disuapin juga, kan? Aku masih bisa sendiri," protes Sora.


Almeer menggelengkan kepalanya, "dari kemarin aku sudah ingin melakukanya, tapi karena ada di rumah Tante Lala jadi aku menahannya."


Senyum Sora mengembang, diantara malu dan gemas mendengar kalimat suaminya. "Kamu bikin gemes deh, Bie ...,"


"Aaa ...,"


"Assalamu'alaikum!"


Mulut Sora yang baru saja terbuka ingin melahap sesendok nasi didepannya terkatup kembali ketika dua orang pria tak diundang tiba-tiba masuk dari pintu taman samping rumahnya.


"Tanganmu udah gak bisa berfungsi lagi sampai minta disuapin?"


Sora menatap kesal kembarannya yang baru saja duduk di sampingnya. "Ngapain sih, kesini? Ganggu aja!" protes Sora.


Almeer meletakkan kembali sendok yang ada ditangannya pada piring milik Sora. Ia berdiri dan menatap Aga, "duduklah ...," ujarnya kemudian pergi ke dapur.


"Kalian jadi pasangan homo lagi?" tanya Sora.


"Mulutmu, Ra!" protes Sky.


"Habis nganter tasnya Kanaya," jawab Aga.


"Udah ketemu jambretnya?" tanya Almeer, ia kembali membawa dua piring dan meletakkan masing-masing didepan Sky dan Aga.


"Tau aja aku kesini mo minta makan," tanpa basa basi Sky langsung mengambil nasi dan lauk pauknya.


"Kamu udah miskin, Sky?" tanya Sora. "Sampai gak bisa beli makan,"


"Ada yang gratis, ngapain harus beli?" sahut Sky.


Sora begidik melihat saudaranya itu, ia memilih mengabaikannya dan mengambil piringnya dari depan suaminya. "Aku makan sendiri saja, Bie," ujar Sora.


Almeer mengangguk pasrah.


"Kamu gak makan, Ga?" tanya Sora.


"Dia gak napsu makan, gak napsu jalanin hidup juga kali ...," Sky memberikan jawaban atas pertanyaan Sora.


"Kenapa?"


"Dia merasa terhina dengan satu pertanyaan ayahnya Kanaya," jawab Sky.


Sora dan Almeer semakin penasaran.


"Kenapa, sih? Ada yang nyangkut masalalu Aga?" tanya Sora.


Sky menatap Aga dan berusaha menahan tawanya.


"Diam, Sky ...," ancam Aga.


"Kamu yang diam, Ga! Aku udah penasaran, nih! Protes Sora, "buruan cerita, Sky!"


"Tadi itu ...."


***

__ADS_1


Satu jam sebelum Sky dan Aga pergi ke rumah Almeer. Mereka pergi terlebih dahulu ke rumah Kanaya untuk mengantar tas yang sempat diambil paksa oleh dua orang pria tak dikenal. Sebenarnya anak buah Aga sudah mendapatkan tas Kanaya malam itu juga. Namun karena banyak keperluan yang harus diselesaikan, Aga menunda mengembalikannya malam ini.


Kedatangan Aga dan Sky disambut hangat oleh Ustadz Mahmudi dan Ustadzah Mutia.


"Jadi ... Mas ini yang sudah bantu putri saya, Kanaya?" tanya Ustadz Mahmudi setelah mendengar cerita singkat Aga.


"Kebetulan saja, Pak ...," jawab Aga.


"Terimakasih sudah membantu putri kami. Sampai mampu meluangkan waktu mencari barang-barang putri kami," ujar Ustadz Mahmudi. "Pasti membutuhkan bantuan polisi dan tentunya biayanya tidak murah."


"Tidak, Pak. Ada karyawan saya yang membantu mendapatkannya kembali," jawab Aga.


"Mas Aga ini, petugas keamanan?"


Pertanyaan Ustadzah Mutia membuat Sky hampir melepaskan tawanya.


"Bukan, Bu. Saya hanya bekerja di perusahaan properti," jawab Aga.


"Ooh, saya kira petugas keamanan. Kok bisa nyari pencuri sampai dapat."


Aga hanya tersenyum.


Percakapan mereka terhenti sejenak ketika Kanaya datang membawa beberapa cangkir teh hangat untuk tamu dan kedua orangtuanya.


"Mas Sky ini saudara kembarnya Mbak Sora, Ummi," jelas Kanaya.


"Pantesan ... saya kok merasa tidak asing dengan wajah kamu, Mas." Ustadzah Mutia lebih detail memperhatikan Sky.


"Iya, Bu. Saya saudara kembarnya Sora. Mohon maaf jika selama Sora menjadi murid ustadzah dan Kanaya, dia sangat merepotkan,"


"Tidak, Sora orangnya semangat sekali menuntut ilmu. Iya kan, Nay?" Ustadzah Mutia meminta pendapat putrinya.


"Iya, Mas. Semangat mbak Sora dalam belajar sangat bagus, loh." imbuh Kanaya.


"Alhamdullillah, jika seperti itu," sahut Sky.


"Mas Aga sudah berumah tangga?" tanya Ustadz Mahmudi.


"Abi ...," Kanaya sedikit terkejut dengan pertanyaan Abinya.


Aga menggeleng, "belum, Pak."


"Abi, tolong jangan dilanjutkan," pinta Kanaya.


Ustadz Mahmudi menatap putrinya, "Abi kan cuma sekedar bertanya, Nay ...," ia kemudian kembali menatap Aga, "gak apa kan kalau saya tanya-tanya?"


"Iya, Pak."


Ustadz Mahmudi tersenyum, menatap Aga dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Bisa. mimpin tahlil?


"Hah?" Untuk pertama kalinya Aga menunjukkan ekspresinya yang sedang bingung. "Tahlil, Pak?"


Ustadz Mahmudi mengangguk, "iya ...,"


Aga menggeleng, "saya belum pernah melakukannya, Pak."


"Ooh, belum pernah." Ustadz Mahmudi mengangguk dan tersenyum, "tapi bisa belajar, kan?"


"Bisa ...,"


"Nanti, lain waktu kita bincang-bincang lagi ya, Mas Aga."


"Baik, Pak."


***


"Hahahaha ... setelah sekian lama aku sama dia," Sky menujuk Aga dengan sendok ditangannya, "baru tahu aku kalau ada yang gak bisa dia lakukan,"


Aga hanya diam tanpa ekspresi memperhatikan Sky yang terus menertawakannya.


"Kenapa Abinya Kanaya tanya Aga bisa mimpin tahlil sih, Bie?" tanya Sora pada Almeer.


"Sepertinya Ustadz Mahmudi suka dengan Aga," jawab Almeer.


"Hah!" Sky dan Sora kompak terkejut.


Almeer menatap Aga, "dia terlihat pintar, mapan, rupawan dan punya banyak uang."


"Trus, apa hubungannya sama tahlil?" tanya Sora.


"Lebih ke standart minimal calon mantu aja sih ...," jawab Almeer.


"Bisa tuh, Ga. Syaratnya cuma bisa mimpin tahlil aja, gak disuruh hapalin kitab-kitab," bujuk Sora.


"Memang siapa yang mau jadi menantu mereka?" tanya Aga.


"Rejeki, Ga! Jadi mantu ustadz!" bujuk Sora lagi.


Aga diam dan tak menanggapi, ia hanya meneguk air putih yang ada didepannya.


"Duh, beneran aku ngakak lihat ekspresinya waktu ditanyain ustadz Mahmudi tadi."


"Diam Sky!" protes Aga, "kamu lupa tujuanmu kemari?" lanjutnya.


Sky menelan sisa makanan di mulutnya kemudian menatap Almeer dan Sora bergantian.


"Apa?" tanya Almeer.


"Moza dan Cloe ingin datang kemari besok," jawab Sky.


Almeer mengalihkan pandangannya pada Sora yang ada didepannya, "bagaimana menurutmu, Sayang?" tanyanya.


Sora mengangguk, "gak apa kok, Bie."


"Serius?" tanya Almeer.


"Iya, serius. Aku kan udah tahu yang sebenarnya," jawab Sora.


"Oke, aku kabari Moza dulu." Sky mengambil ponselnya tak melakukan panggilan.


"Padahal aku belum kasih jawaban," gumam Almeer.


"Udah gak sabar kali pengen bicara ama Moza," sahut Sora.


Almeer terkekeh kecil, "kasihan ... cuma ada dihati tapi gak bisa dimiliki," bisik Almeer.


"Apa kau bilang?" Sky tersulut.


Almeer dan Sora hanya terkekeh, mengabaikan Sky yang emosinya mulai terpancing.


"Dasar adik ipar laknat!" umpatnya,


"Kamu tuh yang sebenarnya cocok jadi adiknya, Al!"


Sky langsung menempelkan telapak tangannya di muka Sora agar wanita itu tak melanjutkan kalimatnya karena panggilannya pada Moza sudah terhubung.


"Hallo, Za ...."


***


Sesuai dengan yang dikatakan Sky semalam, Moza dan Cloe datang menemui Almeer dan Sora malam ini. Sora menyambut kedatangan mereka cukup ramah. Cloe yang baru saja melihat Almeer sudah langsung memeluk Almeer.


"Terimakasih ya, Bu Siti," ujar Sora ketika Siti selesai mengantarkan minuman untuk tamunya.


"Sama-sama, Mbak Sora." Siti beranjak meninggalkan ruang tamu.


Suasana ruang tamu hening sejenak, Almeer dan Sora menunggu Moza menyampaikan tujuannya. Cloe yang ada dipangkuan Almeer juga hanya diam memeluk Almeer.


"Maaf kalau putriku membuatmu tidak nyaman, Sora," ucap Moza pada Sora.


Sora menggeleng, "aku pernah merasa ada diposisinya, Moza. Sedikitnya aku tahu bagaimana perasaannya ketika melihat Almeer." Sora mengusap rambut Cloe.


"Aku sudah mencoba menjelaskan padanya, tapi dia masih belum bisa menerimanya. Tante Clara sudah mendoktrinnya entah sejak kapan,"


"Tidak apa, Za. Pelan-pelan saja, semakian umurnya bertambah ia akan memahaminya," jawab Almeer.


Moza mengangguk, ia diam tertunduk sejenak kemudian menatap Almeer. "Kamu mungkin sudah mendengar kejadian yang sebenarnya tentang malam itu, Al."


Almeer mengangguk, "iya, Za."


"Aku sebenarnya sangat malu bertemu denganmu, Al. Tapi, aku tetap harus mendapatkan maaf darimu. Maafkan aku. Al. Bukannya aku membalas kebaikanmu, malah aku mempunyai niat buruk padamu."


"Tapi kamu sudah mengurungkan niat buruk itu, Za ...," kata Almeer.


"Tetap saja perbuatanku ini membuat kalian berada dalam situasi yang rumit. Maafkan aku yang sudah jahat pada kalian."


"Kamu tidak jahat, Moza. Tante Clara yang jahat." Sora mengusap punggung tangan Moza, "dia sudah memanfaatkanmu menjadi alat untuk balas dendamnya pada keluargaku," lanjutnya.

__ADS_1


"InsyaAllah kami sudah ikhlas dengan semua ini, Za. Banyak hal yang sudah kami dapatkan dari semua ini," ujar Almeer. "Kami memaafkanmu, Za."


"Maafkan aku juga ya, Za. Aku sempat membencimu dan putrimu," kata Sora.


"Iya, Sora."


"Bagaimana dengan Bima, Za?" tanya Almeer. "Kamu mau membuat laporan pada polisi untuk hal yang sudah dia lakukan padamu?"


Moza mengangguk, "Iya ... aku meminta bantuan Sky dan Aga untuk mengurusnya."


"Dia harus mendapatkan balasan yang setimpal," ujar Sora.


Moza mengangguk, ia menatap Cloe yang masih erat memeluk Almeer. "Cloe, kita pulang, ya?" ajak Moza.


"Cloe masih kangen sama Oom Almeer, Ma."


"Kita besok kan harus kembali ke Paris, Sayang. Tadi janjinya gimana?" bujuk Moza.


"Kamu bisa meninggalkannya disini, Za. Besok pagi kami bisa mengantarnya pulang," usul Sora.


"Terimakasih tawarannya, Sora. Tapi aku harus membawanya pulang," jawab Moza. "Ayo, Sayang. Kita pulang," ajak Moza pada Cloe.


Dengan berat Cloe melepaskan pelukannya dan turun dari pangkuan Almeer kemudian menghampiri mamanya.


"Sekali lagi aku minta maaf atas semua kejadian ini, Al, Sora."


"Iya, Moza," sahut Almeer dan Sora kompak.


"Do'akan Cloe agar bisa menjadi orang yang kuat sepertimu, Al," pinta Moza.


"Iya, Moza. Kamu yang bisa memberinya pengertian dan penyemangat, jadilah pendengar yang baik untuknya, Za. Dia akan butuh banyak waktu bersamamu kelak," tutur Almeer.


"Terimakasih, Al."


Almeer mengangguk dan ia menatap Cloe, "Cloe ... harus jadi anak baik dan selalu dengar kata Mama, ya? Banyak orang yang sayang sama Cloe."


"Oom Almeer juga sayang sama aku?" tanya Cloe.


"Iya, Cloe." Almeer mengacak rambut Cloe.


Cloe tersenyum senang.


"Cloe harus cerita apapun pada Mama, ya ... Apalagi kalau Cloe lagi sedih, harus bilang dan cerita sama Mama, ya? Gak boleh diam sendiri ...," tutur Almeer.


"Iya, Om!"


"Makasih ya, Al," ucap Moza. Ia mengajak Cloe berdiri, "kami pamit pulang dulu ya."


Almeer dan Sora mengangguk.


"Salim dulu sama Oom dan Tante," pinta Moza pada Cloe.


Cloe bergantian bersalaman dengan Almeer dan Sora, kemudian berganti Moza yang bersalaman dengan Sora sambil berpelukan.


"Hati-hati ya, Za."


"Terimakasih, Sora," jawab Moza sambil melepaskan pelukannya, "kami pulang, Al, Sora. Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam, Moza."


Moza dan Cloe pun pergi meninggalkan rumah Almeer dan Sora.


"Padahal aku berharap Cloe bisa menginap disini," ujar Sora. Pandangannya masih terpaku pada gadis kecil yang sedang berjalan dengan mamanya menuju keluar rumahnya.


Almeer menatap istrinya dan merangkul istrinya. "InsyaAllah jika kita sudah mampu, Allah akan menitipkan satu nyawa lagi di perut kamu, Sayang."


Sora mengangguk, "aku ingin memintanya langsung di depan ka'bah, Bie."


"Iya, Sayang ...,"


***


Alarm dari ponsel Sora membuat pemiliknya terbangun, tangannya cepat mengambil ponsel diatas nakas dan mengusap layar untuk menghentikan bunyi alarm itu. Matanya memicing, mengintip layar ponselnya kemudian ia tersenyum melihat foto dirinya dan suaminya yang mengenakan pakaian ikhram dengan ka'bah sebagai latar fotonya. Ya, foto itu ia ambil beberapa bulan lalu ketika mereka sedang melaksanakan umroh bersama.


Sora meletakkan kembali ponselnya diatas nakas, ia bangun dan mengikat rambutnya. Baru ia mau membangunkan suaminya, ternyata pria itu sudah terjaga dan menatap dirinya dengan senyum lebar dibibirnya.


"Happy Anniversary, Sayang," ucap Almeer, ia menarik tangan istrinya hingga istrinya jatuh dalam pelukannya.


"Iiih ... padahal aku mau ucapin lebih dulu, Bie." Sora memukul bahu dada Almeer.


"Ya sudah ... kita ulangi ya," Almeer memejamkan matanya.


Sora tertawa kecil, ia menepuk pelan bahu suaminya. "Bie ... bangun, kita sholat malam."


Almeer tersenyum dan membuka matanya.


Cup!


Sora memberikan kecupan dibibir suaminya, "happy anniversary, Bie ...,"


Keduanya tertawa melihat tingkah dari pasangan mereka.


"Semoga Allah selalu memberikan berkah dan ridhonya pada keluarga kita ya, Sayang,"


Sora mengangguk, "Aamiin ...,"


Almeer memberikan kecupan di bibir Sora. Tapi, kecupan kecil itu berubah menjadi ******* dan semakin dalam. Tangan Almeer mulai pindah ke baju tidur Sora dan hendak membuka kancing baju itu. Tapi, dengan segera Sora menahan tangan suaminya.


Almeer melepaskan ciumannya dan menatap istrinya, "kenapa, Sayang?"


"Semalam kan sudah, Bie ...,"


"Kan gak apa kalau lagi,"


"Ih," Sora mencubit kecil dada Almeer kemudian duduk. "Gak boleh keseringan dulu, Bie."


Almeer mengernyit dan ikut duduk menghadap istrinya, "Kan kemarin lusa sudaj absen dua kali, Sayang. Gak bisa diganti pagi ini, ya? Buat hadiah anniversary kita." Almeer mencoba menego istrinya.


Sora menggeleng, "aku kasih hadiah yang lain saja ya, Bie."


"Apa?"


Sora turun dari tempat tidurnya dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerja suaminya. "Disitu aja, Bie! Jangan ngintip dan pejamkan mata."


Almeer melakukan apa yang diminta istrinya, "Apa sih, Sayang?" tanyanya yang sudah semakin penasaran.


Sora menyalakan lampu kamarnya dan kembali keatas tempat tidur. Ia duduk tepat didepan suaminya, "boleh buka mata, Bie."


Almeer mulai membuka matanya.


"Tarraa!" Sora menunjukkan sebuah hasil tespeck dan selembar foto USG. "Aku hamil, Bie!"


"MasyaAllah!" Almeer mengambil dua benda dari tangan istrinya, "ini serius, Sayang?"


"Iya, Bie ... Serius," jawab Sora gemas.


"Tapi kan ini masih berapa bulan, Sayang. Kata dokter kan—"


"Kita dikasih hadiah lebih cepat, Bie ... kata dokter juga rahimku bersih dan janinnya sehat,"


"Ini gak mimpi kan, Sayang?"


"Enggak, Sagara Almeer ... ini bukan mimpi. Allah kasih kepercayaan kita lagi, Bie."


"MasyaAllah ...." Almeer turun dari tempat tidur dan bersujud di lantai.


Melihat itu Sora meneteskan air mata haru.


"Alhamdullillah ya Allah, terimakasih atas rejeki yang Engkau berikan." Almeer berdiri dan kembali ke tempat tidur kemudian memeluk istrinya.


"Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah memberikan kado istimewa di hari jadi pernikahan kita," ujar Almeer.


"Iya, Bie. Ini hadiah kita dari Allah"


Almeer mengangguk dan mencium kening istrinya. Rasa syukur tak terhingga ia ucapkan dalam benaknya. Allah mengabulkan keinginan mereka lebih cepat dari yang mereka pikirkan.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2