
"Al ..., maaf," ucap sora penuh penyesalan.
Almeer mengangguk, senyumnya masih tetap mengembang. "Lanjutin makannya, nanti keburu gak enak."
Meskipun Almeer tersenyum, ia tahu jiika suaminya tak nyaman dengan sikapnya barusan.
"Orangtuamu berangkat jam berapa, Al?" tanya Langit.
"Habis ashar, Pa," jawab Almeer.
Langit melihat arloji yang melingkar di tangannya, "masih ada waktu ...," gumamnya.
"Iya, Pa," jawab Almeer.
"Kamu beneran besok mau ikut Almeer ke Malang, Ra?" Kini Langit mulai bertanya pada Sora.
"Iyalah, Pa!" sahut Sora.
"Yakin?"
"Biarin lah, Lang! Pengantin baru harus LDR-an, kasihan kan? kayak gak pernah mudah aja!" gerutu Marko.
"Iya, Mas. Biarin aja kenapa sih?" Senja mencoba membujuk suaminya.
Langit menatap dingin putri dan menantunya yang sedang melahap makanannya. Ada sesuatu yang mengusiknya, namun tak bisa ia keluarkan.
"Sora pergi sama suaminya, gak usah kawatir." Marko menyenggol tangan Langit.
"Terserah kalian sudah," ucap Langit pasrah.
"Ya emang terserah kita, Pa," sahut Sora.
"Ra ...," Almeer mengingatkan Sora, tak seharusnya istrinya berkata seperti itu.
Sora hanya tersenyum dengan menunjukkan gigi depannya. "Iya iya," bisiknya sambil mengangguk.
***
Sesuai dengan rencana keluarga Almeer, usai sholat ashar Almeer akan pergi mengantarkan keluarganya ke bandara. Perbincangan singkat terjadi antara keluarga Almeer dan keluarga Sora sebelum keberangkatan mereka. Hanya salah membahas sedikit urusan resepsi yang akan Langit gelar di Jakarta dan tentunya turut mengundang keluarga besar Hiko dan Ruby. Kesepakatan pun terpenuhi, Hiko siap menerima undangan jika Langit sudah menentukan tanggal resepsi pernikahan putra putri mereka.
Selesai dengan perbincangan singkat itu, Almeer segera mengantar keluarganya ke bandara. Selama perajalan, percakapan di dalam mobil di dominasi oleh Ruby, Sora dan Ameera. Mereka saling memberi informasi keadaan dan kondisi rumah mereka di Malang pada Sora. Mereka segan jika nanti Sora tidak bisa melakukan aktivitasnya seperti kebiasannya di rumah.
"Sora bisa cepat menyesuaikan diri kok, Ma. Tenang aja," ujar Sora penuh keyakinan.
Mendengar jawaban Sora memang membuat hati lega, namun Ruby dan Hiko masih segan karena kelak pun Sora akan hidup dalam kesederhanaan bersama Almeer.
Percakapan mereka terhenti ketika mobil sudah terhenti di pelataran parkir Yogyakarta International Airport. Almeer dan Sora mengantar keluarganya sampai di depan pintu terminal keberangkatan domestik. Pelukan dan salam hadir untuk melepas kepergian keluarga Almeer.
"Mau istirahat dulu disini?" tanya Almeer.
Sora menggeleng, "diluar aja, Al."
"Ya udah, aku tau tempat bagus. Kita mampir kesana 3rd, ya?"
"Iya, Al. Aku kurang nyaman disini,"
Almeer mengangguk, ia menggandeng istrinya untuk kembali ke dalam mobil kemudian pergi kembali pulang.
Dalam perjalanan pulang tak banyak percakapan diantara keduanya, hingga membuat Sora tertidur. Almeer hanya tersenyum dan mengusap kepala Sora. Ia pun memutuskan untuk langsung pulang dan tak melanjutkan niat awal mereka untuk mampir berisirahat di suatu tempat.
Tiba di rumah Sora, Almeer tak mau membangunkan istrinya. Ia memilih menggendong istrinya untuk memindahkannya ke kamar.
"Loh, kenapa dia?" tanya Sky yang sedang menuruni anak tangga.
"Tidur," jawab Almeer, ia melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamar Sora.
Almeer membaringkan tubuh Sora di tempat tidur. Ia tersenyum kecil melihat wajah polos istrinya yang sedang tertidur pulas. Sebuah kecupan mendarat di kening Sora, membuat tubuh wanita itu menggeliat kecil namun tak sampai membuka matanya.
Almeer pergi keluar kamar dan mencari keberadaan Sky di dalam rumah. Saudara kembar istrinya itu sedang ada di meja makan, menikmati segelas air putih dan mengamati layar ponselnya.
"Sky!"
Pria itu menoleh cepat ketika Almeer memanggilnya, ekspresi wajahnya terlihat tak senang dengan cara Almeer memanggilnya.
"Panggil aku yang bener! Aku ini kakak iparmu," protesnya.
"Aku mau pulang dulu beresin barang-barangku, kalau Sora bangun dan tanya, bilang aja habis isya' kesini lagi," ujar Almeer, mengabaikan kalimat Sky sebelumnya.
"Heh! Panggil aku kakak," paksa Sky pada Almeer, ia pun mengabaikan kalimat Almeer.
"Aku pulang dulu, Sky. Assalamu'alaikum...," pamit Almeer kemudian beranjak pergi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sky, "sama yang lebih tua gak ada sopan-sopannya." gerutu Sky.
***
Hampir menjelang maghrib Sora baru membuka mata, Ia terbelalak ketika melihat sedang ada dikamarnya. ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sudah hampir gelap itu, mencari keberadaan suaminya tapi tak ia temukan disana.
Ia pergi keluar kamar, mencari siapapun disana untuk ditanyai. Kamar Sky dan Mina kosong, ia menuruni anak tangga dan ternyata kedua saudaranya itu ada di ruang keluarga.
"Sky—"
"Ntar habis isya' dia balik lagi, mau beres-beres dia," jawab Sky sebelum Sora mengajukan pertanyaannya.
Sora menghela napas lega dengan mengusap dadanya.
"Takut banget kalau suamimu hilang," cetus Sky.
"Ya gak enak aja, Sky. Aku ketiduran, padahal tadi mau mampir ke suatu tempat," keluh Sora, ia duduk disamping adiknya.
"Makanya, jangan molor mulu!" ejek Sky.
"Emang ngantuk, kok." Sora membela diri.
"Udah bikin cemburu, mau diajak kencan malah ditinggal tidur, kebangetan banget kamu, Ra," gumam Sky.
__ADS_1
"Ah, iya. Aku belum minta maaf lagi ...." Sora memukul kepalanya sendiri.
"Nah kan nah kan ...." Sky menuding Sora, "dia gak peka banget ya, Dek." Sky mencari teman untuk merundung Sora.
Mina mengangguk setuju, "kasihan kak Almeer tau, Kak. Mana orangnya pendiem, pasti cuma disimpen dihati tuh kalau cemburu."
Sora kembali merasa bersalah setelah mendengar tanggapan adiknya, "Aku ke Almeer dulu aja deh."
Allaahu akbar Allaahu akbar
"Mau kemana, Sayang?" tanya Senja yang baru masuk ke dalam rumah bersama suaminya.
"Ke Almeer, Ma," jawab Sora.
"Nanti aja, maghrib-maghrib gini. Al juga udah berangkat ke masjid tadi," sahut Langit.
"Yaaahh," keluh Sora kecewa.
"Kenapa sih?" tanya Senja.
Sora menggelengkan kepalanya dan kembali menuju ke kamarnya. Ia harus segera membersihkan diri dan melaksanakan sholat maghrib.
Usai melaksanakan sholat maghrib, sudah menjadi kebiasaan Sora untuk membaca Al-Qur'an hingga bersambung ke sholat isya'.
tok tok tok
Ceklek!
Pintu kamar Sora terbuka ketika ia baru saja selesai melipat mukenahnya, ia buru-buru mengangkat kepala dan melihat siapa yang datang.
"Kak, makan malam yuk,"
Sedikit kecewa karena Mina bukanlah orang yang diharapkannya.
"Duluan aja, Dek. Kakak nunggu Almeer aja," jawab Sora.
"Iya, Kak." Mina menutup lagi pintu kamar Sora.
Sambil menunggu Almeer, Sora mengambil sisa-sisa bajunya yang ada di almari pakaian untuk dibawanya ke Malang besok. Hanya beberapa pasang, karena memang Sora tidak membawa banyak baju dari Jakarta dan pakaiannya yang ada di almari kamar ini tidak banyak.
Sudah setengah jam Sora menunggu kedatangan Almeer, namun pria itu juga tak datang-datang. Ia melihat ponselnya jugga tidak ada pesan.
"Apa Almeer marah ke aku, ya?" gumamnya sendiri.
Sora memakai jilbab instannya kemudian pergi keluar kamar, "Maaa! Sora ke rumah Almeer!" teriak Sora dari tangga rumahnya pada mamanya yang sedang menikmati makan malam di ruang makan.
"Makan dulu, Sayang ...," sahut Senja.
"Ntar aja, Ma!" teriak Sora.
Ia berlari kecil menuju ke rumah Almeer. Cafe di depan rumah Almeer juga sudah ramai pengunjung.
"Nyari suami kamu, Ra?" tanya Genta yang baru saja mengantar pesanan ke meja pelanggan.
"Iyalah, Oom. Mau cari siapa lagi?"
"Assalamu'alaikum ...." Dengan mengetuk pintu, Sora mengucap salam.
Tak lama pintu ruang tamu terbuka, "Wa'alaikumsalam, Non. Kenapa gak langsung masuk saja?" tanya Susi.
Sora hanya tersenyum, "Almeer udah pulang dari masjid, Bi?" tanya Sora.
"Sudah, Non. Dari tadi," jawab Susi.
"Dari tadi?" tanya Sora terkejut.
"Iya, Non. Ada di kamar dari tadi, belum makan malam juga."
Sora panik, duh! Beneran marah nih dia! batin Sora.
"Saya masuk ya, Bi. Mau lihat dia di kamar," kata Sora.
"Iya, Non. Silahkan,"
Sora masuk ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti Ketika Sora akan menaiki anak tangga rumah Almeer. "Kamar Al yang mana, Bi?" tanya Sora
"Naik tangga, belok kiri, pintu kedua sebalah kiri, Non," jawab Susi.
"Makasih ya, Bi." Sora melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dan mengikuti petunjuk Susi padanya.
Tok tok tok
Sora mengetuk pelan pintu kamar Almeer, "Al, ini Sora," ucapnya.
Tak ada jawaban dari dalam, akhirnya Sora memberanikan diri membuka pintu kamar Almeer.
"Al ...." Sora melihat suaminya sedang tidur diatas tempat tempat tidur.
Dengan hati-hati Sora menghampiri Almeer, sepertinya pria itu ketiduran karena tangannya masih memeang ponsel. Sora mengambil ponsel itu dan meletakkannya diatas nakas. Sejenak perhatiannya teralihkan pada foto masa kecil Almeer dan wanita wanita berhijab yang cantik, Ooh ini mama Nara? batinnya. Sora terkekeh kecil, bergantian memperhatikan wajah Almeer di foto dan Almeer saat ini.
Ia jongkok tepat di samping tempat tidur, menelisik tiap sudut wajah Almeer yang tengah terlelap. Ia mengusap alis Almeer dengan ujung jari telunjuknya, pelan agar tak mengusik mimpi pria itu.
Pandangannya terhenti di bibir Almeer, membuat pipinya bersemu merah mengingat ciuman yang diberikan Almeer padanya. Otaknya mulai berimajinasi dan berpikir nakal.
Pelan ia mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir itu meskipun hanya sebentar saja.
Gak usah macem-macem, Ra! Sora menyadarkan diri sendiri dan segera menarik diri menjauh dari majah Almeer.
Tiba-tiba saja tangan Almeer bergerak dan menahan tengkuk Sora, tentu saja hal itu membuat Sora terkejut. Ia melihat Almeer yang membuka matanya perlahan.
"Al?" pekiknya pelan.
Almeer tersenyum kecil pada Sora. Ia menarik lembut tengkuk Sora hingga wajah istrinya itu kembali mendekat padanya. Pelan ia juga mendekatkan wajahnya dan menyambut kedatangan bibir Sora dengan bibirnya.
Kecupan kecil dilakulan Almeer beberapa kali, menggoda istrinya yang terlihat sangat berharap mendapatkan sesuatu yang lebih.
__ADS_1
"Al ...," Sora menarik diri menghindari ciuman Almeer
"Hm?" tanya Almeer tanpa merasa bersalah.
Sora memanyunkan bibirnya melihat tanggapan suaminya.
"Kenapa?" tanya Almeer, ia bangun dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur.
"Gak apa," sahut Sora sambil berdiri.
Almeer tersenyum kecil, ia ikut berdiri dan menarik tangan Sora kemudian mengajaknya keluar kamar.
"Kemana, Al?" tanya Sora.
"Wudhu dulu, Ra." jawab Almeer, ia menghentikan langkahnya di kran air yng ada di depan kamar mandi.
"Buat apa? aku sudah sholat isya' tadi." Sora ikut berhenti.
"Sholat sunah dua rakaat," jawab Almeer, senyum jahilnya tak berhenti mengembang.
"Oooh, iya ...," Sora melepas kerudungnya dan segera mengambil wudhu.
Setelah keduanya berwudhu, Almeer dan Sora melaksanakan sholat sunah dua rakaat di musholah kecil yang ada di lantai dua rumah Almeer.
"Assalamu'alaikum warahmatullah ...,"
Salam penutup sholat sudah terdengar, Sora mencium tangan suaminya kemudian dilanjutkan dengan dzikir dan do'a.
"Kamu kebiasaan kalau mau tidur sholat dulu ya, Al?" tanya Sora sambil melipat mukenahnya.
"Enggak juga," jawab Almeer. Ia melipat sarung yang dikenakannya dan meletakkannya di tempat semula.
"Ooh, kirain. Kemarin sholat, sekarang sholat, ku pikir kamu punya kebiasaan gitu." Sora meletakkan mukenahnya diatas sarung Almeer.
Almeer menatap Sora, "Biar berkah, lancar dan gak ada gangguan dalam bentuk apapun," bisiknya dan di susul senyum manisnya.
Ia menarik tangan Sora untuk kembali ke kamarnya. Sora yang masih kebingungan hanya diam saja.
"Udah selesai packing-nya, Al?" tanya Sora ketika melihat koper Almeer diatas tempat tidur yang belum tertutup.
"Udah," jawab Almeer, ia menutup kopernya dan memindahkannya di tempat lain.
"Al ...," panggil Sora.
"Ya?" sahut Almeer, ia menatap istrinya yang tiba-tiba saja muram.
"Aku minta maaf karena sikapku pada Aga tadi siang, aku masih tidak bisa menjaga sikapku dan membuat kamu gak nyaman."
Almeer mendekati istrinya dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur. "Iya, aku maafkan, Ra," ucap Almeer.
"Kamu marah?" tanya Sora.
"Enggak marah, Ra. Cuma sedikit cemburu aja,"
"Kamu gak usah khawatir, Al. Cinta ku cuma buat kamu. Aga juga bukan cowok yang bakal punya niat aneh-aneh kok." Sora meyakinkan suaminya agar tidak berpikir macam-macam.
"Enggak, Sora. Aku tidak punya pikiran bersuudzon padamu dan Aga, tapi ...,"
Almeer dengan lembut membuka jilbab Sora dan melepaskan ikatan rambut Sora, membuat rambut panjang Sora tergerai indah. Aroma shampo dari rambut Sora menyeruak indra penciuman Almeer.
"Tapi apa?" tanya Sora, diantara rasa penasaran dan rasa keheranan dengan tindakan Almeer padanya.
Almeer menatap lembut istrinya, "Aku tidak su'udzon padamu dan Aga, Ra. Aku hanya su'udzon pada setan-setan yang ada di sekitar kalian. Aku takut mereka akan mengganggu keimanan kalian."
Sora mengubah posisi duduknya menghadap Almeer dan menatap Almeer sungguh-sungguh, "Tenang, Al. Kekuatan cintaku padamu akan membunuh setan-setan itu! Mereka tidak akan bisa menggoyahkan benteng pertahanan cintaku ke kamu." Ia menepuk dadanya, "Benteng pertahanan cinta ku padamu adalah Allah, Al. Dipastikan tak akan mudah goyah!"
Almeer terkekeh, "Iya iya, Sora. Aku percaya padamu. Aku tahu jelas seberapa kuat keyakinanmu."
Sora tersenyum lega melihat suaminya yang yakin dan percaya dengan cintanya.
Almeer membelai lembut rambut Sora, "Ra ...,"
"Malam ini, kita tidur disini, ya?" pinta Almeer.
Sora mengerjapkan matanya beberapa kali, pikirannya mulai menerka-nerka. Tangannya sudah mencengkram bajunya erat-erat. Ia menelan salivanya karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering.
Almeer menatap teduh dan lembut istrinya yang terlihat gugup. Satu tangannya menyelip diantara rambut untuk meraih tengkuk Sora. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, membuat Sora langsung memejamkan matanya.
Ia memberikan kecupan lembut dikening Sora, kemudian pindah ke kedua pipi Sora dan berakhir di bibir ranum Sora. Saat itulah Sora kembali membuka matanya. Padangan mereka saling bertemu.
Almeer menyelipkan rambut Sora di belakang telinga, kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Sora.
"Aku mau menyempurnakan ibadah kita, Ra." bisik Almeer, ditutup dengan kecupan lembut disana, membuat pemiliknya reflek menarik bahunya dan memejamkan mata karena kaget.
Almeer tersenyum kecil melihat reflek Sora yang menggemaskan, ia menatap Sora yang baru membuka kembali matanya, menunggu jawaban dari istrinya tersebut.
Sora menipiskan bibirnya dan mengangguk cepat. Senyum mengembang di bibir Almeer.
Almeer kembali mendekatkan wajahnya dan segera mengecup bibir Sora. Almeer sangat sabar dan tak terburu-buru, ia ingin membuat istrinya nyaman dengan ciumannya lebih dahulu.
Tangan Sora mulai pindah dan mencengkram kaos bagian dada Almeer dan kedua tangan Almeer pindah mencakup dikedua rahang Sora, mendongakkan sedikit kepala Sora karena ia ingin memperdalam ciumannya.
-Bersambung! Udah bersambung! Bubar bubar bubar!-
Ngarep apaaa lagi kaleaaaaan haaah??????
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku