
"MasyaAllah, Al!"
Sora terperangah melihat sebuah rumah dengan desain unik dan banyak jendela besar disana. Bangunan berlantai dua itu tak terlalu besar tapi memiliki sebuah taman hijau didepan dan samping rumah. Sebuah kolam ikan berukuran sedang terlihat disamping rumah. Ada dua pohon trengguli yang tak terlalu besar tertanam di halaman depan. Kayu penyangga pohon memperlihatkan jika pohon itu belum terlalu lama tertanam disana.
Suara bising dari berbagai alat yang digunakan oleh para pekerja bangunan terdengar dari dalam rumah. Beberapa orang terlihat di halaman depan mengecat dinding luar rumah.
"Papa yang bilang kalau kamu suka sekali jendela yang lebar, makanya aku renovasi rumah ini," jelas Almeer.
"Papa? kapan papa bilang?" tanya Sora.
"Pagi hari, sebelum kita pergi ke wisuda Mina, kami membicarakanmu," jawab Almeer. "Aku belum bisa membelikan rumah yang lebih besar lagi. InsyaAllah jika kelak ada rezeki, kita perbesar lagi rumah ini, Sora."
"Ini sudah cukup, Al. Lebih dari cukup!" ujar Sora, ia masih terpesona dengan bangunan yang ada didepannya itu. "Sebenarnya kamu tak perlu repot-repot merubah rumahmu—"
"Bukan, Ra. Ini rumah kamu," pangkas Almeer.
"Rumah kita, Al ...," ralat Sora.
Almeer menggeleng, "bukan Sora, rumah ini memang ku beli untuk istriku. Dan kamu adalah istriku, Kianga Sora."
Sora terharu mendengar jawaban Almeer, ia lekas memeluk suaminya erat-erat, "makasih ya, Al."
"Ini sudah bagian dari kewajibanku, kan? Tidak perlu berterimakasih, Sora."
Sora semakin erat memeluk Almeer, "gemes, deh."
"Jangan disini dong kalau gemes, di rumah aja nanti malam," goda Almeer.
Sora melepaskan pelukannya, "Ah, kamu nih! Mikirnya kesana mulu ...,"
"Hahahaha." Almeer tertawa kecil sambil mencubit kedua pipi istrinya.
trrrt trrrt trrrt
Kemesraan Sora dan Almeer terputus ketika ponsel Sora bergetar. Ia merogoh ke dalam tas dan mengambil ponselnya.
"Mama ...," kata Sora pada Almeer.
Almeer mengangguk dan mempersilahkan Sora untuk menerima telepon itu lebih dulu. Sedangkan ia beranjak masuk ke dalam halaman rumah, membiarkan istrinya agar lebih leluasa berbicara dengan mamanya.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Sora ketika telepon sudah terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Lagi dimana?" tanya Senja.
"Di ajak lihat rumah yang bakal Sora tempati sama Almeer, Ma," jawab Sora, "ada apa, Ma?"
"Resepsi kamu kan hari sabtu besok, Sayang. Jadi hari jum'at kamu sudah harus ke Jakarta, ya?"
"Tapi acaranya gak besar-besaran kan, Ma? Sora gak mau kalau Almeer merasa gak nyaman disana,"
"Iya ..., undangannya gak sampai dua ratus orang kok, Sayang. Mama tadi juga sudah kabari mama mertua kamu untuk ikut datang di resepsi, Alhamdullillah mereka bisa."
"Oke, Ma. Nanti Sora kasih tahu Almeer ya, Ma."
"Iya, Sayang. Tiketnya sudah ada, nanti Mama kirim ke kamu ya, Sayang."
"Oke, Ma. Makasih ya, Ma."
"Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya disana, Mama tutup teleponnya. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, Mama." Sora memutuskan sambungan teleponnya dan menghampiri suaminya.
"Sudah, Ra?" tanya Almeer.
Sora mengangguk, "mama bilang sabtu besok resepsi kita, Al. Mama udah pesan tiket untuk kita semua. Jum'at kita berangkat ke Jakarta, ya?"
"Jum'at?" tanya Almeer.
"Kenapa, Al?" Sora balik bertanya.
"Hari jum'at aku sudah ada janji makan malam penting dengan client," jawab Almeer, "apa bisa kalau aku berangkat sabtu pagi, Sora?"
"Coba aku telepon mama dulu ya, Al." Sora kembali ke tepi jalan untuk menghindari suara berisik.
Dari kejauhan Almeer melihat istrinya sedang memberi penjelasan pada mamanya dan tak lama Sora kembali menghampirinya.
"Gimana kata mama?" tanya Almeer.
"Acara di gelar usai sholat isya', Al. Jadi Mama batalin tiket kita, diganti jadi Sabtu pagi."
"Loh, kok kita? Kamu berangkat jum'at saja Sora ...," usul Almeer
Sora menggeleng, "gak, ah! Aku mau barengan terus sama kamu." Ia menggelayut manja di lengan Almeer.
"Kalau capek gimana? resepsi kan harus berdiri lama, Sora."
Sora menggeleng, "lebih mudah nahan capek daripada nahan rindu," godanya.
"Astaghfirullah ..., gak ada sehari kita jauhan, Sora."
"Gak ada sehari sih, tapi kita terpisah jarak terlampau jauh, Al." Sora yang masih mendongakkan kepalanya, memelas menatap Almeer dan menipiskan bibirnya, "aku gak mau ...." imbuhnya dengan menggeleng manja.
Almeer tertawa melihat tingkah istrinya, "iya iya, kita berangkat sabtu pagi."
Sora melebarkan senyumnya, "Yes!"
__ADS_1
***
Beberapa hari yang sibuk sudah dilewati Almeer. Tanggungjawab atas pekerjaannya membuat Almeer pulang selalu larut malam, bahkan terkadang Almeer datang ketika Sora sudah terlelap.
Sora merasa kasihan melihat Almeer bekerja cukup keras beberapa hari terakhir. Jika bukan karena syarat aneh dari papanya tidak mungkin Almeer akan kewalahan menyelesaikan tuntutan pekerjaannya.
Sesuai dengan jadwal Almeer, malam ini ia memenuhi undangan makan malam bersama client pentingnya di salah satu restoran bintang lima di kota Malang. Dan kali ini ia mengajak Sora bersamanya.
"Sudah reservasi, Pak?" tanya seorang pramusaji ketika Almeer dan Sora baru melewati pintu utama resotoran.
"Iya, saya ada janji dengan pak Bara," jawab Almeer.
Pria yang mengenakan seragam pramusaji itu memeriksa catatan kecilnya, "Saya antar ke meja pak Bara, beliau sudah tiba beberapa waktu lalu," jelasnya.
"Baik," sahut Almeer.
Almeer dan Sora mengikuti langkah pramusaji itu hingga mereka memasuki area kolam renang. Pria itu merasakan tangan Sora mencengkram erat lengannya. Ia menatap istrinya, wanita itu sedang terlihat untuk melangkah dengan hati-hati dan mengajak Almeer sedikit menjauh dari kolam renang.
"Tamu anda sudah tiba, Pak," ucap Pramusaji pada pria paruh baya yang sedang duduk.
"Assalamu'alaikum, Pak Bara ...." Almeer mengulurkan tangan pa pada Bara.
Bara berdiri dan menyambut tangan Almeer, "Wa'alaikumsalam, Mas Almeer."
"Saya datang dengan istri saya, Pak." Almeer memperkenalkan Sora.
"Loh, Mas Almeer sudah menikah?" Bara terkejut.
"Alhamdullillah, kami baru seminggu yang lalu menikah, Pak."
"Waah ..., anak saya telat, nih ...," gumam Bara.
Almeer tersenyum. Ia melihat Sora, memberi isyarat untuk memperkenalkan diri pada Bara.
"Assalamu'alaikum, Pak. Saya Sora, istrinya Mas Almeer."
Almeer sedikit terkejut mendengar Sora menyebut namanya dengan imbuhan 'mas'.
"Ooh, iya. Dik Sora, saya Bara." Pria paruh baya itu memperkenalkan diri, "mari silahkan duduk," ajak Bara.
Almeer dan Sora duduk di kursi yang telah disediakan. Pramusaji menuangkan air putih pada gelas kosong didepan Sora dan Almeer.
"Sebentar lagi makanan akan segera datang, Pak. Mohon ditunggu ...," ujar pramusaji itu pada Bara kemudian pergi.
"Maaf, saya harus ajak istri saya, Pak Bara. Saya tidak tega meninggalkannya sendirian di rumah." ucap Almeer.
"Tidak apa-apa, Mas Almeer. Saya juga mengajak istri saya, masih ke toilet dia." Bara melirik ke arah toilet.
"Alhamdullillah jika begitu, Pak."
"Eh, tamunya sudah datang?" Seorang wanita paruh baya melangkah pelan dengan sebuah tongkat elbow ditangan kanannya.
Deg!
Wajah Sora berubah pucat, irama jantungnya terpacu lebih cepat dan tangannya bergetar hebat. Ia membalikkan badan dan menundukkan badannya. Kedua tangannya yang tiba-tiba terasa dingin saling bertautan untuk meredakan tremor-nya.
"Assalamu'alaikum Mas Almeer ...," sapa wanita itu pada Almeer.
Almeer berdiri dari duduknya, "Wa'alaikumsalam, Bu Clara. Apa kabar?" sapa Almeer.
"Alhamdullillah, baik ...." Wanita itu melihat Sora yang tertunduk, dan menatap Almeer.
"Ooh, ini istri saya, Bu," jelas Almeer, ia menyentuh bahu Sora. "Ra, ini Bu Clara. Istrinya pak Bara."
Sora menarik napas dalam-dalam dan mendongakkan kepalanya menatap wanita berambut pendek sebahu itu.
"Sora ...," Almeer mendesak Sora untuk segera memperkenalkan diri.
"Kamu ...," Wanita bernama Clara itu menatap Sora lekat-lekat, "Kianga Sora?" lanjutnya.
"Al," Sora menarik lengan kemeja tangan Almeer, "maafkan aku, kamu bisa lanjutkan makan malam ini sendiri. Aku akan pulang lebih dulu,"
Sora tak menunggu jawaban dari Almeer, ia mengambil tasnya dan bergegas pergi. Namun tangan Sora ditarik tiba-tiba oleh Clara.
"Lepas!" teriak Sora dengan menampik tangan Clara hingga menarik perhatian pengunjung restoran.
"Sora, ada apa?" tanya Almeer keheranan.
"Sora!" Clara berusaha menahan langkah Sora, "maafkan, Tante." ucapnya.
"Jangan sentuh aku!" ucapnya tertahan, sorot matanya menunjukkan kemarahan.
"Tante ingin minta maaf padamu, pada—"
Sora melepaskan paksa tangan Clara dari tangannya, kemudian pergi meninggalkan meja makan tersebut.
"Pak Bara, Bu Clara. Saya tidak tahu dengan apa yang terjadi. Saya minta maaf karena membuat makan malam ini berantakan." Almeer terlihat panik dan kebingungan.
"Sebaiknya kamu cepat kejar istri kamu," ujar Bara.
"Baik, Pak. Saya permisi, Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...,"
Almeer berlari mengejar Sora. Ia melihst istrinya itu baru melewati pintu keluar.
__ADS_1
"Sora!" Almeer meraih tangan Sora, wanita itu berhenti dan tertunduk.
Almeer berdiri di depan Sora dan mendongakkan wajah istrinya itu. Ia bisa melihat jika wanita yang sangat dicintainya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa, Ra?" tanya Almeer lembut, ia menarik Sora ke dalam pelukannya.
Sora memeluk Almeer erat, ia belum punya cukup kekuatan untuk menceritakan apa yang dia rasakan. Hatinya masih dipenuhi amarah.
"Kita pulang saja, ya?" tanya Almeer.
Sora melepaskan pelukannya kemudian mengangguk.
***
Malam sudah semakin larut. Tetapi, lampu di kamar Almeer dan Sora belum juga padam. Almeer masih membelai rambut istrinya, mengusapnya dan menciumi keningya. Ia siap mendengarkan apapun yang akan diceritakan istrinya.
"Dimana kamu kenal mereka, Al?" tanya Sora.
"Perusahaan pak Bara masuk salah satu perusahaan yang kamu carikan untukku, Ra. Dan ternyata beliau adalah Ayahnya Moza."
"Moza?" Sora terkejut hingga bangun dari tidurnya, "jadi dia berniat menikahkanmu dengan Moza?" tanya Sora.
"Itu hanya candaan, Ra ...." Almeer ikut duduk berhadapan dengan Sora.
"Woaaah! Dunia ini sempit sekali, Al!" ucap Sora menyesal.
Almeer meraih tangan istrinya, "kamu tidak nyaman dengan hubunganku dan pak Bara?" tanya Almeer.
Sora menggeleng, "lebih tepatnya dengan istri dan anaknya."
"Aku tahu alasanmu tidak menyukai Moza. Tapi, aku belum tahu alasan kamu tidak menyukai bu Clara."
"Dia orang jahat!" cetus Sora.
Almeer mengernyit, "kenapa kamu bisa berpendapat seperti itu, Ra?"
"Dia orang yang hampir membuat kami kehilangan Papa dan Mina, dia orang yang berusaha membunuhku karena tahu rencana jahatnya! dia membuatku hampir tenggelam di kolam renang, Al ...," jelas Sora, ia berusaha menahan kemarahannya namun air mata justru yang keluar disana.
Almeer kembali memeluk istrinya untuk memberi ketenangan, "setelah urusan pekerjaanku dengan pak Bara selesai, aku akan berusaha untuk menjauhi mereka, Ra."
Sora mengangguk, "kamu harus lakukan itu, Al."
"Iya, Sora ...," jawab Almeer seraya mengusap punggung istrinya.
Sora menenangkan diri sejenak didalam pelukan Almeer. Setelah merasa lega, ia melepaskan pelukannya.
"Bukankah tadi dia mau meminta maaf padamu, Ra?" tanya Almeer.
"Tidak semudah itu, Al," tegas Sora, "bahkan traumaku dengan kolam renang masih ada sampai sekarang. Meskipun aku berulang kali memberanikan diri, aku tetap tidak bisa mengatasi rasa takutku."
Almeer mengangguk dan mencoba mengerti perasaan Sora.
"Jika saja aku tahu itu perusahaan suaminya, aku tidak akan memberikannya padamu, Al," keluh Sora.
"Semua ini sudah rencana Allah, Ra. Coba ambil baiknya saja. Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa Allah menakdirkanmu untuk bertemu dengannya?"
Sora mengangka kedua bahunya, "entahlah ...,"
"Mungkin saja Allah ingin kamu melepaskan dendam yang kamu simpan selama ini, Ra?"
"Ck!" Sora berdecak kesal, "aku akan tidur aja, Al!" Ia merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
Almeer hanya tersenyum melihat istrinya. Ia tak bisa memaksakan sesuatu yang menurutnya salah, karena ia tidak pernah merasakan apa yang istrinya pernah rasakan.
***
Almeer dan Sora baru menginjakkan kaki di bandara Abdurahman Saleh dengan tergesa-gesa dan panik. Melakukan aktivitas dadakan antara suami istri pagi tadi, membuat mereka harus berkejar-kejaran dengan waktu. Keduanya berjalan cepat menuju ke tempat check in.
"Aaarggh!!"
Sora tersandung langkahnya sendiri, namun seseorang menarik tangannya hingga membuat wanita cantik bergamis hitam itu jatuh pada pelukan pria yang menolongnya.
Aroma oceanic khas milik seseorang yang sangat Sora kenal mengusik hidung Sora. Baru ia ingin mendongakkan kepala, tiba-tiba saja ia merasakan seseorang menarik tangannya.
"Al ...." Sora menatap suaminya yang menatap sinis ke arah lain, ia mengikuti arah sorot mata Almeer hingga ia menemukan pria yang sudah ia duga, "Aga!"
"Langkahmu terlalu cepat untuk dia ikuti, kau harus lebih hati-hati," ucap Aga, datar dan dingin.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Info!
Gais, pollow igeh ku ya @Linaiko17
Biar banyak pollowersnya, kali aja ada produk aer mineral mau endorse aku. Lumayan buat beli macako ama mecin buat camilan kesehariankuh.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku