
Almeer meninggalkan ruangan penuh kekecewaan pada istrinya. Ia sangat mengharapkan istrinya bisa mempercayainya. Tapi yang ia dapatkan malah kalimat yang sangat menyakitkan.
"Al ...," panggil Langit ketika melihat menantunya keluar dari ruangan putrinya, "maafkan Sora, dia sedang sangat terpukul dengan musibah ini," pintanya.
Almeer menatap kedua orangtuanya yang terlihat gelisah, mereka yang berada di luar pasti mendengar dengan jelas makian istrinya yang menyangkutkan masalalu papanya.
"Kamu juga harus memahami keadaan Sora, Nak," bujuk Hiko.
"Al akan pulang lebih dulu, jika Sora sudah bisa merelakan anak kami, tolong bawa anak kami pulang ya, Pa. Al akan menguburkannya besok pagi."
Semuanya diam, tak ada yang menanggapi kalimat Almeer. Bisa dilihat dengan jelas jika pria itu sedang marah dengan caranya sendiri.
"Ini semua rencana Clara, Al," ujar Langit.
"Bu Clara?" tanya Almeer.
"Maafkan aku, karena kelakuan di masa laluku membuat keadaan kalian seperti ini."
Almeer mengernyit masih tak mengerti.
"Clara ingin balas dendam padaku dengan memanfaatkan istrimu, Al."
"Astaghfirullahaladzim, bu Clara yang membuat Sora kecelakaan seperti ini, Pa?"
Langit mengangguk.
"Termasuk dengan tes DNA, itu?"
"Aku belum bisa memastikannya untuk itu,"
"Bagaimana bisa ada orang sekejam itu? Bu Clara yang saya kenal hanya wanita tua yang lembut dan penyayang, Pa." Almeer mengusap wajahnya frustasi.
"Dunia kami memang kejam, Al. Maafkan aku melibatkan kalian dalam urusan ini," ujar Langit.
Ya, Almeer membenarkan perkataan Langit. Dunia keluarga istrinya memang kejam, ia tidak terlalu memahami mereka. Selama ini ia berada di dalam lingkup yang tenang dan damai. Pertikaian kecil pasti ada, namun semuanya tidak akan berlarut-larut apalagi meninggalkan dendam. Dan saat ini ia berada dalam situasi yang baru dan dia dipaksa untuk segera beradaptasi.
"Maukah kamu memaafkanku dan putriku, Al?" tanya Langit. Ia sangat merasa bersalah pada menantunya itu, terlebih lagi ketika putrinya menyinggung masalalu dari besannya.
"InsyaAllah saya akan memaafkan jika dia meminta maaf pada saya, Pa ...," jawab Almeer.
Langit menghela napas pasrah, ia tak bisa memaksa menantunya.
"Saya pamit pulang dulu, Pa." Almeer meraih tangan Langit dan menciumnya. Kemudian ganti mencium tangan kedua orangtuanya. "Maafkan istri Almeer ya, Pa ... Ma ...," ucap Almeer.
Hiko dan Ruby mengangguk.
"Tenangkan dirimu, Nak."
Almeer mengangguk, "Assalamu'alaikum ...," ia menatap Langit dan Mina sejenak kemudian pergi.
***
Tujuan Almeer kali ini bukan pulang ke rumah, melainkan ia pergi ke rumah Clara. Ia berharap wanita itu masih berada dirumah dan belum berangkat ke Paris.
Tidak seperti biasanya, perumaha tempat Clara tinggal sedikit lebih ramai. terutama di blok rumah Clara. Banyak tetangga yang berkerumun didepan rumah dan sibuk membicarakan sesuatu.
Almeer berhenti didepan sebuah rumah dengan garis polisi terbentang di sepanjang pagar rumah.
"Bu Clara ditangkap polisi, Mas!" ujar seorang ibu-ibu dari seberang jalan.
Almeer terkejut, "karena apa, Bu?" tanya Almeer.
"Entahlah, Mas. Sepertinya sudah berbuat kejahatan. Ngeri deh!"
Almeer tersenyum simpul, "terimakasih, Bu."
"Iya, Mas. Cari aja di kantor polisi kalau mau,"
Almeer mengangguk, ia menyalakan mesin motornya dan bergegas pergi.
Ia menuju ke Polres kota Malang kali ini. Entah kenapa ia ingin mendengar alasan Clara melakukan hal ini pada keluarganya.
Almeer lekas memarkirkan motornya kemudian pergi ke bagian resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruang penyidikan. Petugas memberi arahan rute untuk menuju ke ruang penyidikan dan Almeer melangkah mengikuti arahan dari petugas.
"Al!" panggil seseorang ketika Almeer hendak masuk ke sebuah ruangan yang menjadi tujuannnya.
"Oom Genta!"
Pria kurus berkacamata itu berlari menghampiri Almeer, "kenapa kamu malah ada disini? Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Genta.
__ADS_1
"Aku harus bertemu Bu Clara, Oom. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya,"
"Dia belum bisa menerima tamu, Al. Kasus yang dia lakukan cukup berat," ujar Genta.
"Oom sendiri ngapain disini?" tanya Almeer.
"Aku mewakili papamu, dia membuat laporan pencemaran nama baik ...." Genta mengajak Almeer keluar dari gedung Polres dan mengajaknya duduk di bangku yang ada di sepanjang teras gedung.
"Aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu dan Sora, Al," ujar Genta ketika mereka berdua telah duduk.
Almeer mengangguk, ia terus menatap kosong ke lantai.
"Aku tahu kamu tidak mungkin melakukan hal seperti itu, semua orang yang mengenalmu pasti mempercayaimu, Al."
Almeer menatap Genta, "istriku tidak, Oom." Matanya berair namun tak sampai menetes. "Dia satu-satunya orang yang paling ku harapkan bisa mempercayaiku. Tapi dia sama seperti orang-orang diluaran sana yang mencaciku."
"Kamu harus lebih sabar menghadapi istrimu, kebenarannya akan segera terungkap. Semoga hasil tes DNA itu juga termasuk dalam kejahatan yang dilakukan Clara dan asisten mertuamu itu,"
Almeer kembali tertunduk, "inginku seperti itu, Oom. Tapi kali ini aku merasa Sora sangat keterlaluan ....,"
"Kenapa?"
"Dia mengungkit masalalu papa dan menyamakanku dengan papa, Oom."
Genta terdiam.
"Aku masih bisa bersabar jika Sora belum mempercayaiku. Tapi, setelah dia membawa masalalu papa dan mengaitkannya denganku, hatiku sangat sakit, Oom. Terlebih lagi, kalimat itu terucap dari orang yang paling aku cintai,"
"Kamu tidak sampai—"
Almeer menggeleng, ia tahu maksud pertanyaan Almeer. "Aku tidak akan pernah bermain-main dengan pernikahanku, Oom. Sesakit-sakitnya hatiku, aku tidak akan mengucapkan kalimat yang tidak disenangi Allah."
"Syukurlah kamu sekuat itu, Al."
"Saat ini aku ingin membuktikan padanya kalau aku bukan seperti yang dia katakan," ujar Almeer.
"Dengan cara apa?"
"Sambil menunggu informasi dari Sky, Aku akan ke Jogja, Oom. Aku ingin mencari keberadaan seseorang,"
"Siapa?"
***
Dua hari sudah Sora berada di rumah sakit tanpa mendapat dampingan dan kunjungan dari suaminya. Ia sangat berharap Almeer tetap akan datang menemuinya seperti biasa meskipun mereka usai bertengkar. Hanya kedua orangtua dan mertuanya yang selalu mendampinginya.
Sore ini ia masih menatap kosong pintu ruangannya, berharap suaminya tiba-tiba membuka pintu itu dan memberikan senyuman manis yang selalu diberikan padanya. Tapi, entah sampai kapan harapannya terwujud.
Ia hanya diam, mengabaikan semua percakapan Senja dan Ruby yang mencoba menguatkannya. Air matanya selalu menetes meskipun tanpa isakan.
Sakit di relung hatinya bukan lagi karena kehilangan anaknya, kini bertambah tumpukan penyesalan darinya yang sudah menghina suaminya. Ia memang kecewa pada suaminya, tapi tak seharusnya juga ia mengucapkan hal yang sangat menyakitkan itu.
"Istirahat, Nak ... kamu kurang istirahat," bujuk Ruby, ia menghapus air yang mengalir di sudut mata menantunya.
"Ma ... apa suamiku benar-benar tidak peduli dan tidak akan menemuiku lagi?" tanya Sora.
"Kamu bisa mendatanginya lebih dulu, Sora."
Sora terdiam, bahkan mama mertuanya juga mengatakan hal seperti itu. Kini ia benar-benar yakin jika suaminya sangat terluka.
"Kamu harus minta maaf pada suamimu, Sayang," imbuh Senja.
Sora memejamkan matanya, membiarkan sisa air matanya kembali menyelinap keluar di antara pelupuk matanya. Bukan ia tak mau minta maaf tapi ia sadar diri sudah sangat melukai perasaan suaminya.
Senja dan Ruby saling memandang kemudian menghela napas.
"Besok kamu sudah mendapat ijin dokter untuk pulang, Sora. Kamu akan pulang kemana?" tanya Langit.
Sora diam tak menjawab pertanyaan Langit.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Sora membuka mata dan berusaha bangun dari tidurnya untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek!
Binar di wajah Sora menghilang ketika melihat tamu yang datang adalah Aga, bukan orang yang ia harapkan.
"Gimana, Ga?" Langit berdiri dari duduknya. "Kamu sudah menyelidiki semuanya?"
__ADS_1
Aga menghampiri Langit dan menyerahkan beberapa lembar foto pada Langit.
"Siapa ini? Wajahnya terlihat tidak asing?" tanya Langit.
"Bima, adik kandung Tommy, Tuan," jawab Aga.
"Gila! Sebanyak apa Tommy membohongiku! Rapi sekali dia menyembunyikan kebusukannya!"
"Kenapa orang seperti itu bisa menjadi orang yang menjadi tangan kanan anda, Pak Langit?" tanya Hiko yang penasaran.
"Aga satu-satunya tangan kanan saya setelah Hengky memutuskan tinggal di Singapore, Pak. Tommy sendiri adalah asisten Hengky. Jadi, setelah Aga saya putuskan agar fokus pada perusahaannya sendiri, saya memakai Tommy karena saya pikir dia lebih mengenal saya sejak dulu." Langit mencoba menjelaskan diantara kemarahannya.
Langit kembali menatap Aga, "kamu sudah pastikan pria yang menabrak Sora kemarin adalah anak Tommy dan Clara?"
Aga mengangguk, "ya, Tuan. Tommy dan Clara sudah menjalin hubungan sebelum Clara pergi ke London. Dan mereka memalsukan data kependudukan anak mereka untuk melancarkan niat jahat Clara pada Sora."
"Apa maksudmu?" tanya Sora.
"Anak SMA yang menabrakmu saat perjalanan ke Surabaya dulu adalah anak Tommy dan Clara. Mereka sengaja memalsukan identitas putra mereka agar polisi tidak bisa menahannya karena dia masih dibawah umur, Sora," jelas Aga. "Dia lima tahun lebih muda darimu," lanjut Aga.
"Clara benar-benar gila, Mas! Hanya untuk membalas dendam dia mengorbankan putranya!" pekik Senja.
"Sabar, Bu Senja. Beruntung dia sudah tertangkap," Ruby mencoba menenangkan besannya.
"Iya, Bu Ruby. Saya tidak tahu lagi jika dia masih bebas berkeliaran dan semakin menyakiti keluarga saya, Bu ...," ujar Senja.
"Anak buah saya sudah membereskan sampai ke akar-akarnya, Nyonya. Saya pastikan tidak ada bagian dari dia yang akan mengancam keluarga anda." Aga meyakinkan Senja, kemudian ia beralih menatap foto yang ada ditangan Langit.
"Kenapa, Ga?" tanya Senja yang melihat keraguan di wajah Aga.
"Saya tidak bisa mengurus adik Tommy, Nyonya."
"Kenapa?" tanya Senja dan Langit kompak.
"Dia bisa menjadi ancaman lagi, Ga!" sergah Senja.
"Dia tidak terlibat dengan Clara dan Tommy, Nyonya."
"Tapi—"
"Tapi dia pernah terlibat kasus penganiayaan dan pelecehan seksual pada seorang wanita,"
"Astaghfirullahaladzim!"
"Hanya wanita itu yang bisa memasukkannya dalam penjara," ujar Aga.
"Kenapa tidak kamu hubungi wanita itu?! Atau dia takut membuat laporan pada kepolisian?" tanya Langit.
Aga melirik Sora sejenak.
"Kenapa kamu malah menatapku?" tanya Sora.
"Wanita itu Moza, Ra ...," jawab Aga.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO GAIS INFO!
Maaf kalau Bab ini sedikit. Aku lagi gak enak body nih, kurang asupan micin. Jadi aku ngetik seadanya. Dan sekalian pamit, besok gak up karena mau istirahat duluh.
Pendekar juga bisa tumbang, gais ... apalagi aku si manusia rebahan. Hahahaha ...
Jangan protes!
(Nguat-nguatin ngasah samurai sambil mimicing tajam mengamati calon-calon pembaca yang mau protes.)
Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
Terimakasih laflafkuh!
__ADS_1