ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
54


__ADS_3

"Kamu gak apa-apa kan, Ra?" tanya Almeer pada istrinya yang masih memeluknya erat-erat itu.


Sora hanya mengangguk tak memberikan jawaban, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Almeer yang masih belum terbungkus baju. Punggung atas dan bahu Sora tak tertutup selimut terlihat mengkilat, sebab banyak bulir keringat yang bercucuran saat mereka sedang melaksanakan tugas dan kewajiban suami istri untuk pertama kalinya.


Almeer berulang kali menyeka keringat di kening Sora, menyibakkan anak-anak rambut Sora yang sudah lepek karena keringat.


"Aku ambil tisu dibawah dulu ya, Ra. Kamu keringetan banget." Almeer mencoba bangun dari posisi tidurnya yang miring, tapi Sora menahannya.


Sora mendongakkan kepalanya, "disini aja ...," pinta Sora memelas.


"Iya iya, aku disini." Almeer menganggukkan kepalanya dan menutupi bahu Sora yang masih terbuka dengan selimut.


"Mandi dulu, gimana?" tanya Almeer.


Sora menggeleng, "aku mau gerakin kakiku susah, Al. Sakit tauuu," keluh Sora.


"Iya udah, nanti dulu aja."


"Kamu sih di suruh pelan-pelan gak bisa." Sora memukul dada Almeer dengan kesal.


"Aku kurang pelan gimana coba? Udah pelan, udah hati-hati, Sora." Almeer menjadi serba salah.


"Huaaaaa ...," Sora menangis kesal merasakan perih, sakit dan panas jadi satu di bagian intimnya.


Almeer semakin memeluk erat istrinya, "maaf ya, maaf .... Nanti lama-lama enggak kok," bujuk Almeer.


Sora mendorong tubuh Almeer dan menarik selimutnya lebih panjang untuk menutupi bagian dadanya. Ia berusaha menahan rasa sakit di pangkal pahanya ketika ia mencoba duduk. Almeer terus tersenyum menatapi istrinya yang sedang meringis menahan sakit.


"Al!" Sora memukul Almeer yang dalam posisi tidur miring dengan tangan kiri menopang kepala terus menatapnya dan mengembangkan senyum-senyum jahil.


"Apa, Sora?" tanya Almeer, tangannya menyibakkan rambut yang menempel di bahu Sora.


"Jangan lihatin gitu, ih! Malu!"


"Malu kenapa?"


"Udah, lupakan yang tadi, lupakan!"


"Mana bisa, Ra. Itu jadi moment berharga buat aku. Karena aku bisa melihat sisi lain dirimu yang orang lain gak akan pernah tau."


"Almeeer!" Sora melempar bantal ke wajah suaminya. Mukanya merah padam menahan malu.


"Hahaha, muka kamu udah kaya kepiting rebus tuh." ejek Almeer.


"Al!" Sora mencubit lengan suaminya keras-keras.


"Aaaah, ampun Ra ampuuun," raung Almeer kesakitan.


Sora melepaskan cubitannya dengan kesal, "makanya jangan ngejek mulu!" seru Sora.


"Iya iya iya," jawab Almeer pasrah, namun ekspresi wajahnya masih tetap menggoda Sora.


"Cubit lagi, nih!" ancam Sora.


"Enggak, Sora. Enggak...,"


"Pinjem handuknya dong, Al. Aku mau mandi dulu," pinta Sora.


Almeer mengenakan celananya kemudian mengambilkan handuk untuk Sora.


"Ini, Ra." Almeer memberikan handuk pada istrinya.


"Makasih, Al."


Sora mengambil handuk itu dan membelitnya asal ditubuhnya, yang terpenting Al tidak sampai melihatnya telanjang bulat. Pelan-pelan ia menuruni tempat tidur kemudian merapikan ikatan handuknya dan menggelung rambutnya agar tidak risih.


Tiba-tiba saja Almeer memeluk Sora dari belakang, membuat tangan Sora yang masih belum selesai mengikat rambut jadi mematung.


"Al," celetuk Sora, ia segera menyelesaikan mengikat rambutnya dan menatap pantulan dirinya dan Almeer pada cermin yang ada di depan mereka.


Almeer mengeratkan pelukan tangannya di perut Sora dan menyandarkan dagunya di bahu Sora.


"Kenapa, Al?" tanya Sora.


Almeer tersenyum, "Makasih ya, Sora. Dan maaf, aku menyakitimu malam ini,"


Sora tersenyum lebar kemudian mengangguk. "Iya, Al," jawabnya.


Almeer melepaskan pelukannya, Sora pun segera mengambil gamis dan pakaian dalamnnya. Dan Almeer segera menggendong Sora dan membawanya ke kamar mandi.


"Al! Aku kan bisa jalan sendiri," Ucap Sora.


"Aku gak tega lihat kamu jalan sama nahan sakit," jawab Almeer, ia menurunkan Sora di kamar mandi.


"Nanti kalo udah selesai bilang aja, ya?" lanjut Almeer.


Sora mengangguk.


"Atau ... mau ku mandiin?" goda Almeer.


"Mau ku cubit nih?" Sora mengangkat tangannya.


"Hehehe ...," Almeer meringis dan meninggalkan kamar Mandi.


Sora pun segera melakukan mandi wajib untuk kembali mensucikan diri.


Bukan wanita memang jika berada di kamar mandi sebentar. Sora sudah ada di kamar mandi hampir setengah jam. Sampai-sampai Almeer sudah selesai mengganti sprei dan membersihkan kamar.


Sora yang sudah selesai mandi berusaha untuk kembali ke kamar sendiri meskipun ia berjalan dengan langkah kecil. Pintu kamar Almeer hanya berjarak satu mushola saja di kamar mandi, namun terasa sangat jauh bagi Sora.


Ceklek.


Ketika masuk ke kamar, Sora melihat kamar sudah rapi dan sprei yang terdapat bercak darahnya tadi sudah diganti.


"Kenapa gak bilang kalau sudah selesai, Ra?" tanya Almeer ketika melihat istrinya sudah kembali memakai baju, handuk membalut kepala Sora agar rambutnya yang basah tidak menetes di baju.


"Kamu yang ganti ini semua, Al?" tanya Sora, mengabaikan pertanyaan Almeer.


"Iya," jawab Almeer, ia menghampiri istrinya dan mengajaknya duduk diatas tempat tidur.


Telapak tangan Sora mengusap sprei baru yang dingin dan lembut itu, sangat rapi di tiap-tiap sudutnya.


"Aku mau mandi dulu ya, Ra. Mungkin sedikit agak lama, sekalian mau nyuci ini." Almeer mengangkat tumpukan sprei dan selimut yang kotor, "kalau kamu udah ngantuk, tidur aja ya."


Sora diam, ia masih tercengang dengan apa yang dilakukan dan akan dilakukan suaminya itu. "Kenapa gak minat tolong bi Susi, Al?" tanya Sora.


"Kan ada bercak darah kamu, Sora .... Gak mungkin kan aku nyuruh orang lain nyuci—"


Sora seger berdiri, mengabaikan sakit di pangkal pahanya. "Biar aku aja yang nyuci, Al!" sergah Sora, ia merasa segan pada Almeer.

__ADS_1


"Udah, kamu duduk aja, biar aku yang nyuci."


"Al—"


"Sora ..., biarkan aku yang nyuci, ya," pinta Almeer, ia lebih menekan kalimatnya agar Sora tak menyangganya lagi.


Memang tidak nyaman melihat Almeer harus mencuci, tapi Sora tak mau juga membuat suaminya marah. Dengan terpaksa, Sora menganggukkan kepalanya.


Almeer pun segera keluar dari kamar setelah mendapat jawaban dari Sora. Sedangkan Sora sendiri memilih untuk melihat-lihat isi kamar Almeer.


Sebuah Rak buku menjadi tujuan utama Sora, menelisik satu per satu koleksi buku-buku Almeer yang rata-rata tentang Agama dan Kesenian.


Sebuah buku berjudul 'Khadijah' menarik perhatian Sora. Ia mengambil dan tersenyum membaca judul buku itu. Karena Almeer, ia kini mengidamkan menjadi sosok seperti beliau dan berharap mendapatkan cinta yang setulus Rasulallah.


Ia membuka lembar demi lembar, sebuah stabilo warna pink tergores di beberapa kalimat yang sangat indah. Membuat Sora membaca kalimat demi kalimat yang sangat menonjol di tiap-tiap lembarnya.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat ada lembar tambahan di dalam buku itu, senyumnya menghilang dan ia menutup buku itu, mengembalikannya ke tempatnya semula.


trrrt trrrt trrt,


Ia mendengar suara getaran dari ponsel Almeer diatas nakas, dengan hati-hati ia menghampirinya dan melihat nama Sky muncul di layar ponsel itu. Ia mengambil ponsel itu dan pergi keluar kamar.


"Al ..., ada telepon dari Sky, nih!" teriak Sora.


"Angkat aja, Ra," jawab Almeer dari dalam kamar mandi.


Setelah mendapat ijin dari Almeer, Sora mengusap tombol hijau di layat ponsel itu.


"Assalamu'alaikum, kenapa Sky?"


"Wa'alaikumsalam, ngapain aja kamu disana?! Udah malem nih!" teriak Sky dari balik telepon.


"Ngapain tanya-tanya, sih?"


"Papa sama mama yang nanyain, bukan aku!"


"Almeer ngajak tidur disini malem ini," jawab Sora.


Hening sejenak, Sky tak langsung memberikan tanggapan.


"Denger gak, Sky?" tanya Sora.


"Iya iya, denger. Kalian mau enak-enak, kan?" selidik Sky. .


"Kenapa? iri? mau juga? kasiaaaannya si bujang."


Hening, tak ada jawaban. Sora menatap layar ponsel dan melihat jika Sky memutus sambungan telepon mereka.


"Dasar bujang!" gumam Sora.


Ia kembali meletakkan ponsel Almeer di atas nakas kemudian merebahkan badannya diatas tempat tidur. Senyumnya tiba-tiba saja mengembang, sesaat kemudian ia menggigit bibir bawahnya dan menutupi wajahnya dengan guling. Kejadian beberapa waktu lalu masih membuat Sora malu.


Namun sesaat kemudian senyumnya menghilang dan wajahnya berubah muram ketika pandangannya teralih ke rak buku Almeer.


***


Jarum Jam sudah menunjukkaan pukul satu dini hari, lampu kamar Almeer sudah padam sejak beberapa jam yang lalu. Pedar lampu dan rembulan dari luar menyusup masuk lewat jendela kamar Almeer membuat kamar itu tak terlalu gelap.


Sora terbangun dari tidurnya, perutnya yang lapar membuat tidurnya gelisah. Ia ingin memakan sesuatu, tapi ia tak mungkin membangunkan Almeer. Bisa saja ia ke dapur dan mencari makanan sendiri, tapi ia segan karena ini bukan rumahnya.


Sora memejamkan matanya kembali dan mencoba untuk tidur, toh satu jam lagi Almeer pasti bangun untuk sholat malam. Namun, belum ada lima menit ia sudah membuka mata kembali. Ia tak bisa kembali terlelap.


"Maaf ya kalau saya gak sopan cari-cari makanan disini," gumam Sora, meminta izin pemilik rumah yang sebenarnya tidak ada.


Sora mengendap-endap di dapur, mencari-cari dimana letak saklar lampu dapur namun tak juga ia temukan.


"Sora!"


"Hah?!" Sora terkejut ketika mendengar seseorang memanggil namanya, "Al, bikin kaget aja," keluh Sora.


Almeer merogoh sesuatu di balik kulkas, sesaat kemudian lampu dapur menyala. "Laper?" tanya Almeer.


Sorang mengangguk, "maaf ya aku gak sopan lihat-lihat isi dapur di rumahmu," ujar Sora.


Almeer menghampiri Sora, "mau makan apa?" tanya Almeer.


"Mie instan aja, Al."


Almeer membuka salah satu kitchen set dan mengambil tiga bungkus mie instan.


"Banyak amat, Al?" tanya Sora.


"Kalau dua kurang, kalau empat kebanyakan, jadi tiga aja nanti kita bagi dua. Biar kenyang," jawabnya dengan mengulas senyum.


"Oooh ..., gitu ...." Sora menganggukkan kepalanya mengerti.


Almeer mengambil panci kecil, mempersiapkan peralatan untuk memasak mie instan.


"Mau pake sayur, gak?" tanya Almeer setelah menyalakan kompor.


Sora mengangguk, "iya, boleh."


Almeer mengambil seikat sawi hijau di kulkas, mencucinya dan memotongnya kecil-kecil.


"Aku bantu apa, Al?" tanya Sora.


"Kamu duduk aja, cuma gini aja."


"Aku ambil mangkok aja ya?" tanya Sora.


Almeer tersenyum dan mengangguk, "Iya ..., disitu, Ra." Almeer menunjuk salah satu tempat mangkok.


Sora mengambil dua mangkok, dan sebuah gunting untuk membuka bungkus mie instan.


"Apa ada hal yang gak bisa kamu lakuin, Al? sepertinya kamu serba bisa deh?" tanya Sora, tangannya sibuk menuang satu per satu bumbu mie instan ke dalam mangkok.


"Apa ya?" Almeer menatap kosong ke depan sambil memikirkan sesuatu, kemudian menatap Sora, "ada, Ra."


"Apa?"


"Aku gak bisa meninggalkan kamu," jawab Almeer, senyuman jahilnya kembali merekah.


"Ku tabur bubuk cabe nih kamu! Ditanyain serius malah ngegombalin," tukas Sora gemas pada suaminya.


Almeer hanya tersenyum, ia memasukkan satu per satu mie dan sayuran ke dalam air yang sudah mendidih. Ia memperhatikan istrinya yang sudah menuang bumbu-bumbu kedalam mangkok, ia ingin mencegah sesuatu namun ia urungkan.


"Mau pakai telur, Ra?" tanya Almeer.


Sora menggeleng, "itu aja udah cukup, Al."

__ADS_1


Setelah mie matang, Almeer menuangkannya dan mencampurkannya ke dalam bumbu yang telah disiapkan Sora, mengaduk-aduknya hingga rata dan membaginya ke dalam dua bagian.


"Yuk!" Almeer membawa dua mangkok itu ke meja makan, Sora mengikutinya dengan hati-hati.


Keduanya duduk berhadapan di meja makan dan segera menikmati mie instan yang telah mereka buat.


"Al ...," panggil Sora.


"Ya?" sahut Almeer.


"Apa kamu dulu dekat dengan Sky?" tanya Sora.


Almeer menggeleng, "Aku dan dia hanya sering terlibat di banyak situasi saja."


Sora mengangguk, "Ooh ...."


"Kenapa?" tanya Almeer penasaran.


"Gak apa kok." Sora menggelengkan kepalanya dan melanjutkan melahap mie instan didepannya.


"Habis ini langsung sholat malam ya, Ra. Nanggung kalau mau tidur lagi."


Sora tersenyum dan mengangguk, meskipun ada sesuatu yang mengganjal di benaknya namun ia tak mau ambil pusing dan melanjutkan mengisi perutnya yang kosong.


***


Untuk kedua kalinya Sora dan Almeer datang ke Yogyakarta International Airport, kali ini bukan untuk mengantar keluarga tapi mereka yang akan pergi berdua ke Malang. Langit dan Senja ikut mengantar anak dan menantu mereka. Sky dan Mina hanya mengantar sampai di depan rumah saja.


"Kamu harus jaga sikap ya, Sayang. Jangan berbuat aneh-aneh, jangan terlalu banyak bicara," tutur Senja pada putrinya sebelum masuk ke dalam pintu keberangkatan.


"Iya, Ma. Iya ...," jawab Sora untuk yang ke ..., entahlah. Sejak tadi pagi kedua orangtuanya dan Sky hanya mengingatkan hal yang sama berulang kali.


"Al, tolong benar-benar jaga istrimu ya. Ingatkan dia kalau salah ...," pinta Senja pada Almeer.


"InsyaAllah, Ma." Almeer menganggukkan kepalanya.


"Jangan macem-macem dulu nanti malam, lihat tuh anakku masih susah jalan!" ujar Langit, dia masih tak terima jika menantunya sudah mengambil keperawanan putrinya.


"Pah!" Sora memukul lengan papanya, "kenapa yang dibahas itu aja sih daritadi?" Sora malu dengan ucapan Langit.


"Ya suamimu itu gak sabaran banget! Udah tau mau perjalanan jauh, malah di bobol" Langit melirik sinis menantunya.


"Biarin aja kenapa sih, Mas. Namanya juga pengantin baru." Senja membela menantunya.


"Bela aja terus ...," cibir Langit.


Senja hanya menghela napas kesal, ia kembali menatap putrinya, "Almeer sekarang sudah jadi suami kamu, Sayang. sebaiknya kamu tidak memanggilnya dengan sebutan nama saja," tutur Senja.


sora mengerjapkan matanya dan menatap Almeer, "Aku harus panggil kamu apa, Al?" tanya Sora.


"Kakanda, hahahahaha." canda Almeer dengan tertawa.


"Jangan aneh-aneh!" Langit melayangkan tinjunya pelan ke lengan atas Almeer.


"Aduh!" pekik Almeer dengan memegang perutnya.


"Hei! yang ku pukul lenganmu, bukan perutmu!" protes Langit.


"Bercanda, Pah." Almeer menyeringai pada Langit.


"Udah ah, kami masuk dulu aja." Sora menarik tuas di kopernya.


"Iya, sayang. Inget pesen Mama, ya."


Sora mengangguk, ia dan Almeer segera mencium tangan Langit dan Senja bergantian.


"Assalamu'alaikum ...," ucap Almeer dan Sora.


"Wa'alaikumsalam ....," Sahut Langit dan Senja.


Almeer dan Sora pun segera menuju ke pintu terminal keberangkatan dan segera melakulan check-in kemudian bergegas menunggu pesawat mereka di ruang tunggu. Sepanjang jalan hingga duduk di kursi ruang tunggu, Sora sibuk membicarakan nama panggilan sayang untuknya dan Almeer. Tapi kali ini Almeer terlihat aneh, dia tidak terlalu banyak memberi tanggapan dan terlihat gelisah.


"Ra, aku ke kamar mandi sebentar, ya." Kata Almeer, belum mendapat jawaban dari Sora, pria itu langsung bergegas pergi


"Dia kenapa sih? dari subuh tadi gelisah terus?" gumam Sora.


Sora menunggu Almeer beberapa menit namun tak juga kembali, akhirnya ia pergi menyusul Almeer di toilet, menunggu pria itu didepan toilet. Hampir lima menit berdiri di depan toilet, Sora tak mendapatkan Almeer keluar.


Sora mencoba menghubungi Almeer, "kamu dimana, Al?" tanya Sora ketika sambungan teleponnya terhubung.


"Aku di ruang tunggu yang tadi, nyari kamu gak ada. Kamu dimana?"


"Iya, aku kesana, Al. Tunggu sebentar," Sora memutus sambungan teleponnya dan berjalan dengan hati-hati kembali ke ruang tunggu.


Sampai di ruang tunggu, Sora melihat Almeer sudah duduk ditempat mereka semula. Baru saja Sora melangkahkan kakinya, ia langsung menghentikan langkah kakinya ketika melihat seorang wanita yang baru ia kenal kemarin memberikan sebuah minuman pada suaminya.


"Kenapa kamu bisa makan yang aneh-aneh sih, Al? udah tahu perut kamu sensitif banget sama yang pedas-pedas ...,"


Samar-samar Sora mendengar ucapan wanita itu pada Almeer ketika langkahnya mulai mendekati tempat duduk suaminya.


"Moza?" sapa Sora pada wanita yang sedang berdiri didepan suaminya.


"Hai, Sora!" sahut Moza.


Sora melihat suaminya yang sedang duduk dan terlihat pucat, "kamu kenapa, Al?" tanya Sora, ia segera duduk dan mengusap keringat dingin di kening Almeer.


"Gak apa, Ra. Perutku tadi sedikit sakit, tapi sekarang udah enakan, kok." Almeer mencoba menenangkan Sora.


"Kenapa kamu gak bilang, sih? pasti udah nahan sakit dari tadi, kan?" Sora semakin gelisah dan merasa bersalah.


"Lambung Almeer sangat sensitif sama yang pedas-pedas, Ra. Pasti dia habis makan yang pedas-pedas," ujar Moza, "ya kan, Al?" tanya Moza pada Almeer.


Sora mendengus kesal mendengar pernyataan Moza, ia menatap sinis wanita yang sedang berdiri didepannya itu kemudian menatap Almeer.


"Sepertinya dia tahu banyak tentangmu, Al?" tanya Sora, sinis dan kesal.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2