ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
48


__ADS_3

Keadaan ruang tamu rumah Langit yang luas itu begitu mencekam. Semuanya sedang menunggu jawaban dari pria paruh baya yang sedari tadi hanya menatapi pria muda didepannya itu. Mengabaikan bujukan istri maupun tangisan putrinya yang sedang bersimbuh di lututnya.


"Sky...,"


"Ya, Pa?" sahut Sky atas panggilan papanya.


"Antar temanmu pulang."


"Pah!!" Teriak Sora, matanya melebar dengan air mata yang terus bercucuran. Ia melapaskan tangannya dari tangan papanya. "Kenapa papa harus sekejam ini pada kami?"


"Pak Lang—"


Langit mangangkat satu telapak tangannya untuk memangkas ucapan Almeer, ia berdiri dari duduknya dan menatap Almeer. "Kamu gagal memenuhi syarat dariku." ucapnya singkat kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu.


"Papa!!" Sora berlari menyusul Langit, ia menarik tangan langit dan berlutut didepannya. "Kami saling mencintai, Pa. Kenapa Papa menutup mata dan pura-pura tidak mengetahuinya?" linangan air mata masih membasahi pipi Sora.


"Ku mohon, Pa. Restui kami, Almeer pria baik dan bertanggung jawab, dia patuh pada Allah dan kedua orangtuanya. Dia akan menjadi iman yang baik untuk Sora, Pa."


"Kembalilah ke kamarmu, Sora." perintah Langit dengan nada rendah. Ia ingin melangkah. namun putrinya masih menarik tangannya.


"Apa orang sepertiku tak pantas mendapatkan pria seperti Almeer, Pa? apa salah jika aku berharap menjadi Khadijah untuk Almeer? apa salah jika aku berharap mendapatkan ketulusan cinta layaknya Rasulallah yang mencintai Siti Khadijah, Pa?"


Sora menatap papanya dengan mata yang penuh dengan cairan bening yang terus memupuk dan jatuh hingga membuat krudung di pangkal lehernya basah. Ia mencoba mengemis rasa belas kasihan dari papanya.


"Pa..., aku mencintai Almeer. Aku mencintainya...," ucapnya lemah diantara isak tangisnya.


Langit melepas dengan lembut cengkraman tangan putrinya dari tangnnya. Ia berjongkok dan menatap putrinya penuh dengan kasih sayang. "Papa melakukan ini sebab papa sangat menyayangimu, Sayang"


Ia mengusap air mata di pipi putrinya kemudian berdiri dan beranjak pergi.


"Paaaah!!" Sora berusaha menarik tangan papanya lagi namun pria itu menampiknya hingga membuat Sora terjatuh di lantai.


"Papaaa!!"


Teriakan Sora tak mampu menghentikan langkah kaki Langit hingga pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Senja menghampiri putrinya dan memeluknya. Tangisnya ikut pecah, ia tahu sesakit apa perasaan putrinya saat ini.


Almeer sendiri tak tega melihat wanita yang dicintainya itu menangis tersedu-sedu meratapi tragisnya kisah cinta mereka. Matanya merah dan berair mendapati kenyataan yang berbeda dengan harapannya.


Sky menepuk bahu Almeer, "kau sudah berusaha sebaik mungkin." ia mencoba memberi semangat orang yang mejadi rival-nya sejak masuk di bangku kuliah. "Maafkan papaku," lanjutnya dengan wajah penuh penyesalan.


Almeer hanya mengulas senyum dan mengangguk pada Sky, kemudian melangkah mendeketi Sora yang terisak dipelukan mamanya.


"Sora...." panggilnya, setelah ia duduk jongkok didepan Sora dan Senja.


Ibu dan anak itu menatap Almeer.


"Kenapa kamu harus menunjukkan semuanya ke papa, Al? kenapa!? kenapa!!!" Teriak Sora diantara tangisnya.


"Sora Sora Sora..., tenang, Sayang." Senja kembali mendekap putrinya.


"Maafkan aku, Sora." ucap Almeer.


"Kamu tidak benar-benar mencintaiku, Al." ucap Sora lirih.


"Aku mencintaimu, Sora."


Sora menggelengkan kepalanya, "kamu menghancurkan semuanya, Al. Kamu selalu memperumit keadaan. Kamu memaksaku harus menyerah! Kamu jahat, Al! Kamu jahat!!" Teriak Sora.


Tangisnya semakin pecah, air matanya terus berderai. Tangannya meremas kerdudung di bagian dadannya, sesekali memukul-mukul pelan untuk menghilangkan sakit di benaknya.


Almeer tak bisa lagi berkata-kata. Ia sedih dan merasa bersalah pada Sora. Bukan karena ia menyesali kejujurannya, tapi karena ia merasa kurang berusaha untuk memenuhi syarat dari Langit.


Mata pria itu kembali berkaca-kaca, nemun ia segera menyeka satu sudut matanya agar air mata itu tak menetes.


"Maafkan aku, Sora." ucapnya lemah.


Sora menggelengkan kepalanya, ia menarik diri dari pelukan Senja dan menatap Almeer. Dari balik mata sembab itu bisa terlihat jelas kekecewaannya.


"Aku tidak bisa memaafkanmu, Al." suaranya serak dan lirih, "Aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang sudah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya padamu!" Teriak Sora, ia berdiri dan berlari meninggalkan Almeer.


"Sora!!" Senja ingin menyusul putrinya, namun ia juga tak bisa meninggalkan Almeer sendiri.


"Dia hanya sedang kecewa, Nak. Dia tidak serius dengan kata-katanya." ucap Senja.


Almeer mengangguk, ia mencoba tersenyum. "Iya, Bu. Saya mengerti."


Senja berdiri dan Almeer ikut berdiri. "Pulanglah dulu, Nak. Kalian harus sama-sama menenangkan diri lebih dulu. Aku akan coba bicara dengan suamiku."


Kali ini Almeer mengangguk, "saya permisi, Bu. Maafkan saya yang sudah membuat kekacauan di rumah anda."


Senja mengangguk, ia menoleh pada putranya yang sedari tadi diam memperhatikan. "Sky, tolong antar Almeer pulang, ya." Pinta Senja.


"Baik, Ma."


"Tolong sampaikan pamit saya untuk pak Langit dan Sora, Bu." Pinta Almeer.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya."


"Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam, Nak Almeer."


Almeer kembali ke sofa ruang tamu untuk mengambil tasnya. Dan bersama Sky ia pergi, masuk ke dalam mobil.


***


Mencintai seseorang, berharap hidup bersamanya, menghabiskan waktu yang lama dengannya, kini hanyalah sebuah angan-angan bagi Sora. Rasa sakitnya masih terukir jelas, bergulir perih bersama waktu. Kekecewaannya tetap saja berdesir bersama angin.


Mungkin ini adalah patah hati terhebatnya. Meskipun ia sudah memperkirakan hal-hal yang tak sesuai dengan keinginannya dan sudah mencoba menyerahkan semuanya pada Allah, tetap saja ia merasakan sakit yang tak terkira.


Empat hari sudah Sora tak selangkahpun meninggalkan kamarnya. Semua aktifitas ia lakukan di dalam kamarnya. Itu bukan bentuk protes atau ancaman untuk papanya agar mengubah kembali keputusannya, bukan. Ia hanya tak siap bertemu papanya dan ia takut lebih membenci pria yang seharusnya sangat ia sayangi itu. Ia hanya ingin menenangkan diri, dari cintanya, dari kekecewaannya dan untuk masa depannya. Ia, dia harus berdamai dengan masalalunya agar bisa melanjutkan langkahnya lebih bijak lagi.


Tok tok tok.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, wanita yang sedang meringkuk diatas sofa dan menikmati pemandangan diluar jendela, tetap bergeming dan tak penasaran dengan siapa yang memasuki kamarnya.


Sebuah langkah kaki berjalan mendekatinya, wanita paruh baya duduk di depannya.


"Sudah siap-siap?" tanya Senja.


Sora menggelengkan kepalanya, "Sora gak bisa ikut, Ma."


Senja mengusap pipi putrinya, tak ada keceriaan yang dulu selalu terpancar di wajah cantik itu. "Adikmu akan kecewa jika kamu tidak datang di wisudanya, Sayang."


"Hati Sora masih terlalu rapuh untuk menginjakkan kaki di Jogja, Ma." tolak Sora, mengingat kota itu saja hatinya kembali tertikam.


"Kamu belum menghubungi Almeer?" tanya Senja.


Sora menatap Mamanya, "untuk apa Sora menghubunginya, Ma? bukankah kisah kami sudah berakhir?"

__ADS_1


"Kalian bisa mengakhirinya baik-baik, Sayang."


Sora menggeleng cepat, menopang dagunya di sandaran sofa. "Biarkan kami seperti ini, Ma. Dengan begini Sora lebih cepat untuk melupakannya."


Senja membelai rambut panjang putrinya yang sedang tergerai, menyelipkan rambut bagian depan kebalik telinga agar ia bisa melihat dengan jelas wajah putrinya.


"Mama pesankan tiket pesawat untuk besok pagi, ya. Mama harap kamu bisa berubah pikiran, Mina akan sedih jika keluarganya tidak berkumpul di hari bahagianya."


"Aku tidak janji, Ma."


Senja tersenyum lembut, "Istirahat saja, ya. Gak perlu turun ke bawah nganter kami."


Sora mengangguk, "hati-hati ya, Ma." Ia meraih tangan Senja dan menciumnya.


Senja mencium kening putrinya terlebih dulu sebelum meninggalkan kamar Sora. Ia melihat suaminya sedang bersandar di bibir pintu, mendengarkan percakapannya dengan putrinya. Namun ia mengabaikan dan berlalu begitu saja.


Langit pergi menyusul istrinya yang kembali ke dalam kamar mereka.


"Sampai kapan kamu diemin aku seperti ini, Sayang?" tanya Langit.


Senja tak memberikan jawaban, tangannya sibuk menutup koper dan memasukkan barang-barang kecil yang penting ke dalam tasnya.


"Sayang...," Langit menarik lembut tangan istrinya, namun segera di tepis.


"Keras kepalamu kali ini menyakiti putrimu sendiri, Mas!"


"Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya, Sayang. Memang menyakitkan, tapi dia bisa merasakannya kelak."


Senja mendengus kesal, "jika dia menyesal atas pilihannya sendiri, ia akan mendapat sebuah pembelajaran. Jika dia menyesal dikemudian hari karena pilihan yang kamu berikan, jangan terkejut jika putrimu akan menyalahkanmu atas deritanya."


Langit hanya bergeming, matanya sendu menatap istrinya yang sudah beberapa hari tak mengacuhkannya.


"Bajumu sudah ku siapkan di ruang ganti, aku akan ke bawah lebih dulu." ucap Senja, ia meraih tasnya dan meninggalkan Langit di kamar sendirian.


***


Kepergian keluarganya ke Jogja membuat rumah besar itu terlihat sepi. Malam seperti biasanya mereka berkumpul di ruang keluarga, untutk di tonton televisi. Iya, ditonton. Karena televisi berlayar lebar itu hanya dinyalakan saja, sedangkan para manusianya asyik mengobrol sendiri.


"Ada yang Nona butuhkan?" tanya Erni ketika melihat gadis bergamis orange polos dengan jilbab instan berwarna senada itu menatapi ruang keluarga.


"Enggak, Bi Erni. Aku cuma mau jalan-jalan aja." jawab Sora.


Ia melanjutkan langkahnya pergi ke arah dapur. mengambil sebuah air minum dalam kemasan dan membawanya pergi ke taman.


Bangku bermaterial besi berwarna putih menjadi tempat favoritnya sejak dulu. Ia menikmati dinginnya malam ditemani air mineral dan sayup suara musik dari paviliun belakang.


Belum lama ia duduk disana, seseorang datang dan duduk disampingnya. Aroma oceanic dari salah satu brand parfum terkenal membuat Sora bisa menebak siapa yang tengah duduk disampingnya itu.


"Ada urusan apa tiba-tiba kamu kemari?" tanya Sora.


"Papamu yang menyuruhku datang," jawab pria berwajah tegas itu.


Sora sudah bisa menebak, ia tak memberikan tanggapan lagi. Hanya diam menikmati syahdunya malam.


"Aku akan menemanimu ke Jogjakarta besok." Kata Aga.


"Aku tidak akan pergi, aku sudah memberi kabar pada Mina." jawab Sora.


"Tapi kamu akan tetap pergi besok,"


"Sok, tau!"


"Karena kamu Kianga Sora, kamu tidak akan mengecewkan orang lain." jawab Aga.


"Kenapa harus berusaha melupakan, Ra? Tuhan tidak mungkin menciptakan masalalu dan kenangan tanpa sebab. Bukan berarti kisahmu telah usai dan kamu bisa menghapus kenanganmu dengannya. Tidak ada yang bisa melakukan itu di dunia ini, sekalipun orang yang hilang ingatan. Aku yakin otak kecilnya masih menyimpan kenangan itu."


"Terlalu perih, hanya memiliki kenangannya tapi tak memiliki raganya." gerutu Sora.


"Kamu bisa memeluknya lewat do'a."


"Aku sudah tidak mengharapkan apapun darinya."


Aga menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Apa kamu sudah menyerah?" tanya Aga.


Sora tak menjawab, itu sebuah pertanyaan sulit untuknya sekarang. Mungkin sel-sel dalam hatinya sedang sibuk melakukan voting pendapat mana yang lebih besar hingga menjadikan pertanyaan singkat itu cukup sulit di jawab.


"Jika memang kamu sudah menyerah, aku akan berjuang sedikit lagi untuk mendapatkan hatimu."


Dengan cepat Sora menatap Aga. "Urungkan niatmu," ujarnya.


Aga menggeleng, "aku akan mendapatkanmu, Ra."


"Kamu mungkin mendapat restu dari papaku, tapi tidak dengan hatiku."


Aga tersenyum, "aku tidak akan berdebat denganmu saat ini. Pergilah tidur, besok pagi kita ke Jogja. Lusa kamu harus menghadiri wisuda Mina."


Aga berdiri dan meninggalkan sora yang terlihat kesal padanya.


***


Meskipun ia sudah keukeh dengan pendiriannya untuk tidak pergi ke Jogja. Tetap saja, dorongan hati Sora membuat wanita itu tengah duduk di salah satu bangku business class milik salah satu maskapai penerbangan terbaik di Indonesia.


Satu setengah jam berada di dalam pesawat, pesawat mendarat sempurna di landasan pacu Yogyakarta International Airport. Keluar dari pintu kedatangan domestik, Sora bisa melihat Sky dan beberapa pengawal disana.


"Nunggu dibujuk Aga dulu baru mau datang?" goda Sky ketika Sora mulai mendekatinya.


"Diem!" Sentak Sora, ia mengabaikan Sky dan terus masuk ke dalam mobil.


Sky dan Aga mengikuti langkah Sora. Ketika semua sudah masuk, mobil bergegas mengantar penumpangnya ke tempat tujuan.


Tepat adzan dzuhur berkumandang, mobil yang membawa sora tiba dirumah. Sora yang sedari tadi memejamkan matanya, kini ia meyakinkan dan menguatkan diri untuk menghadapi tempat yang memiliki kenangan indah dengan pria bernama Sagara Almeer.


"Ayo, Ra!" Ajak Sky yang tak sabar menunggu Sora turun dari mobil.


"Iya, ih!" Sora mengambil tasnya dan keluar dari mobil.


Blug!


Tas yang ada di tangan Sora terjatuh seketika saat melihat pria bersarung dan berbaju koko putih baru keluar dari pintu gerbang rumah diseberang jalan.


Tatapan keduanya bertemu, Sora ingin menghindarinya sebab matanya mulai berair dan dadanya terasa sesak. Namun, disatu sisi ia sangat merindukan pria itu. Setetes air matanya jatuh membasahi pipi, ia sekuat hati membalikkan badannya ketika pria itu akan menyapanya. Sora lekas mengambil tasnya dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Loh kenapa, Sayang?" tanya Senja yang kebingungan ketika melihat putrinya yang baru datang menangis.


"Sora ke kamar dulu, Ma." jawab Sora, ia berlari pergi ke lantai dua.


Langit yang ikut melihat keadaan putrinya hanya diabaikan begitu saja, ia mencoba mencari jawaban dari Sky dan Aga.


"Ketemu Almeer didepan." Jawab Sky.


"Dia disini?" tanya Langit.

__ADS_1


"Tuh buktinya...," Sky menunjuk pria yang baru saja melangkah menuju ke masjid.


Langit ikut menatap dari balik jendela. "Sayang, aku keluar dulu."


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Senja, "jangan berbuat yang enggak-enggak, Mas." ancam Senja.


Langit tak mempedulikan ucapan istrinya, dia hanya bergegas meninggalkan ruang tamu. Tentu saja Sky dan Aga segera mengikutinya.


"Jangan mengikutiku!" Sentak Langit, membuat Sky dan Aga menghentikan langkahnya.


"Pah—"


"Papa tidak mau melibatkan siapapun!" Langit memberi ancaman terakhir.


Meskipun khawatir dengan apa yang akan dilakukan Langit, Sky dan Aga tak berani melanjutkan langkahnya.


***


Sementara itu,


Di masjid, Almeer sudah duduk tenang sambil berdo'a, menunggu iqomah dikumandangkan. Bayangan wajah Sora terus hadir ketika ia memejamkan matanya. Bulu matanya tiba-tiba saja basah ketika bayangan kekecewaan masih tergambar jelas diwajah Sora.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Asyhadu allaa illaaha illallaah...


Iqamah telah dikumandangkan, Almeer membuka mata dan mengusap air dipelupuk mata yang tak sempat menetes. Ia berdiri dan bersiap melaksanakan sholat berjama'ah.


Empat raka'at sholat dzuhur telah terlaksanakan, dzikir dan do'a tak lupa ia panjatkan. Satu per satu jama'ah mulai meninggalkan masjid. Almeer tak lupa bersalaman dengan jama'ah yang ada disisi kanan dan kirinya sebelum ia berdiri untuk meninggalkan masjid.


Deg!


Langkah tangannya terhenti ketika akan menyalami seorang pria paruh baya yang ada di sisi kirinya.


"Pak Langit?" pekiknya pelan.


Pria paruh baya itu tersenyum datar padanya dan Almeer melanjutkan langkah tangannya untuk mencium tangan Langit.


"Assalamu'alaikum, Pak Langit." sapanya.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana bisa kamu ada disini?" tanya Langit.


"Pulang dari Jakarta, Papa dan Mama minta saya mampir kesini, Pak. Karena mereka akan kembali ke Malang juga." jawab Almeer.


Langit mengangguk, ia diam memikirkan sesuatu.


"Saya bisa permisi du—"


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." pangkas Langit.


Almeer mengernyit, penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Langit.


"Baik, Pak." jawab Almeer.


Mereka berdiri dan pergi menuju ke halaman masjid yang rindang itu, duduk pada sebuah bangku yang ada dibawah pohon.


Langit tak lekas membuka pembicaraan, matanya masih menatap lurus kedepan seperti sedang berangan. Sedangkan Almeer hanya tertunduk menunggu kalimat apa yang akan diucapkan orang yang sudah menghadirkan wanita yang sangat dicintainya itu ke dunia ini.


"Sora putri pertamaku, dia dan Sky berbeda dengan Mina yang sejak lahir sudah ku dekap dalam pelukanku. Karena suatu hal aku baru bisa memeluknya ketika usianya sudah menginjak enam tahun."


Almeer diam menyimak kata demi kata yang keluar dari mulut Langit.


"Karena rasa bersalahku karena tidak ada disampingnya selama enam tahun, aku menebusnya dengan selalu memanjakannya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana dia?"


"Ya, Pak."


"Dia yang paling bisa membuat rumah terdengar sangat berisik. Tingkahnya yang semaunya sendiri, perintah sana perintah sini, bicaranya yang kadang tak terkendali, itu semua tak bisa lepas darinya." senyum mengembang dibibir Langit mengingat tingkah laku putrinya.


"Sky selalu mengatakan dia bodoh karena terlalu baik dan terlalu percaya pada orang lain. Ujung-ujungnya pasti dia hanya dimanfaatkan. Terutama dengan pria-pria yang sedang merintis usaha."


Langit terkekeh kecil mengingat jumlah pria yang ia habisi karena sudah membuat anaknya menangis. Ia menatap Almeer, tak ada keangkuhan disana.


"Aku minta maaf karena sudah mengungkit masalalumu dan kedua orangtuamu," ucap Langit.


"Kami sudah melupakannya, Pak."


Langit menatap lurus ke depan lagi, "seharusnya aku tidak melakukannya. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara untuk menolakmu."


"Apa saya benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menjadikan Sora sebagai istri saya, Pak?" tanya Almeer.


"Sora punya banyak sekali kekurangan, dia berbeda dengan Mina yang bisa membawa diri. Dia tak terlalu pandai dalam banyak hal." Langit kembali menatap Almeer, "Dan lihatlah dirimu, kamu pintar dalam segala hal. Agama mu sangat baik. Tapi aku takut jika putriku hanya akan menjadi beban untuk mu, bahkan keluarga besarmu."


"Astaghfirullahaladzim, Pak Langit. Bagaimana bisa anda berpikir seperti itu. Sora—"


"Aku tahu," Langit memangkas kalimat Almeer, "Kamu bisa menerima putriku dengan segala kekurangan maupun segala kelebihannya. Tapi bagaimana keluarga besarmu? kalian tinggal dilingkungan pesantren, dan putriku sangat minim ilmu agama. Aku takut jika dia akan membuat kesalahan dan membuat nama baik keluargamu tercemar."


"Pak Langit, jika itu yang anda khawatirkan, mulai saat ini anda tidak perlu merisaukannya. Keluarga kami tidak mungkin membedakan bahkan membicarakan keburukan orang lain, insya Allah kami akan bersama-sama membimbing Sora. Dan juga, sebenarnya jika saya sudah menikah kelak, saya akan mengajak istri saya untuk tinggal di rumah yang sudah saya beli di Malang, Pak."


"Kamu sudah mempunyai rumah?" selidik Langit.


"Masih atas nama orang lain, Pak. Saya belum sempat mengurusnya."


"Pantas saja aku tak menemukannya." ujar Langit.


Almeer tersenyum kecil.


"Apa bisa anda mempertimbangkan niat baik kami untuk berkeluarga, Pak?" Almeer mencoba bertanya sekali lagi.


Langit menatap tajam pria disampingnya itu, "Huh!" Ia mendengus kesal dan menyeringai kecil, "Aku Sebenarnya sangat membencimu karena Sora terlihat lebih mencintaimu dibandingkan aku."


Almeer melebarkan matanya mendengar kata diawal kalimat Langit. "Pak...,"


Langit menatap Almeer dan mengembangkan senyumnya, "kapan kamu akan menikahi putriku?" tanya Langit


"Saat ini juga, Pak!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Sengaja satu episode ini di panjangin, soalnya besok aku LIBUR, OFF, GAK UP. Okeh.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih sangat laf laf kuh.


__ADS_2