ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
62


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Sora dan Almeer tinggal di rumah baru. Pasangan baru ini memang tidak mempunyai niatan untuk honey moon. Sora pun tahu, banyak tuntutan pekerjaan Almeer yang harus di selesaikan. Jadi, ia tak pernah menuntut suaminya untuk pergi honey moon layaknya pengantin baru lainnya. Ia sudah sangat bersyukur suaminya tetap meluangkan banyak waktu untuknya. Terlebih lagi, Sora juga menuntut suaminya untuk segera menyelesaikan proyek dari Bara. Ia tak mau terlibat terlalu lama dengan Bara dan keluarganya. Terutama wanita bernama Clara itu.


Almeer lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Ia selali pulang ke rumah lebih lambat dari jam pulang kantor biasanya. Tapi ia tak pernah pulang lebih dari pukul delapan malam. Ia tak mau jika tiba di rumah terlalu larut mendapati istrinya sudah terlelap. Itu akan membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa mendengarkan cerita tentang apa yang dilakukan pendamping hidupnya itu seharian.


"Sepertinya aku cocok banget jadi marketing. Kata tante Mia bulan ini aja pendapatan toko meningkat dua puluh persen dari bulan lalu, Bie." Sora menceritakan keberhasilannya di sepanjang makan malam mereka.


"Alhamdullillah, Sayang. Kamu tuh emang punya kelebihan tersendiri. Kalau punya keinginan, semangatnya pantang padam sebelum dapet yang kamu inginkan." Almeer menanggapi Sora usai menyelesaikan mengunyah nasi di mulutnya.


"Aku tuh nyesel tau buang-buang masa mudaku sama cowok-cowok gak jelas itu! Andai dari dulu aku rajin dan fokus belajar pasti otakku bisa ngalahin si pohon pisang itu!" gerutu Sora.


"Pohon pisang siapa, Sayang?" tanya Almeer.


Sora menyelesaikan suapan terakhirnya, "si Sky lah, dia kan cuma punya jantung gak punya hati. Kata Oom Hengky, orang macam itu kan seperti pohon pisang," lanjutnya dengan mulut masih penuh dengan nasi.


"Sky itu baik, Ra. Cuma caranya nunjukin kebaikannya beda," ujar Almeer.


Sora berpikir sejenak, ia lebih banyak mengingat keburukan dibandingkan kebaikan saudara kembarnya itu.


"Dalam ingatanku selama kenal dengannya, dia memang orang yang jutek. Dia sama sepertimu, jujur. Kalau dia gak suka ya akan bilang gak suka. Dia lakuin apa yang mau dia lakuin, gak peduli pandangan orang lain. Sama seperti dia yang mau menerima kehadiranku ketika orang lain menghakimiku atas masalalu orangtuaku."


Sora melipat kedua tangannya diatas meja makan dan menatap suaminya lekat-lekat, "kalian sedekat itu?" tanya Sora.


Almeer menumpuk piringnya dan piring Sora yang sudah kosong, kemudian meneguk sisa air putih di gelasnya. "Enggak, kami hanya sering terlibat dalam banyak situasi aja, Sayang."


Tiba-tiba saja ia merasa kesal pada diri sendiri karena sudah bertanya hal itu. Ingatannya kembali lagi memancing rasa penasarannya tentang apa yang terjadi diantara suami, saudaranya dan wanita bernama Moza.


Almeer mengambil dua piring diatas meja dan membawanya ke tempat cuci piring.


Sora menatap jam di dinding ruang tengah, sudah hampir pukul sepuluh malam. Suasana rumah dan di luar sana sudah hening, Siti pun pasti sudah terlelap di kamarnya. Ia berdiri membawa gelas air minumnya ke tempat cuci piring, menghampiri suaminya yang sedang mencuci piring bekas makan malam mereka.


"Situasi seperti apa?" tanya Sora.


"Banyak, dari urusan pribadi sampai ke akademik, hahaha." Almeer tertawa kecil masa-masa kuliahnya bersama Sky.


"Urusan pribadi seperti apa?" tanya Sora, ia mulai menyelidik. "Moza?" lanjutnya.


Almeer mengangguk, "iya, kami bertiga pernah terlibat sesuatu yang rumit di akhir masa kuliah." Almeer mengambil gelas ditangan Sora dan mencucinya.


"Rumit? seperti apa?" cecar Sora lagi.


Almeer menyelesaikan mencuci gelasnya dan meletakkan pada tempat gelas kemudian menatap istrinya.


"Aku ingin menceritakannya padamu, tapi cerita itu sesuatu yang buruk bagi Moza. Itu sebuah aib baginya," jelas Almeer.


"Aku ingin mendengarnya, Bie!" tegas Sora, kali ini ia benar-benar ingin mendengar penjelasan suaminya.


Almeer terlihat ragu.


"Aku ingin tahu apapun yang terlibat denganmu," desak Sora.


Almeer merangkul istrinya menuju ke ruang tengah dan duduk diatas sofa.


"Ceritakan padaku, Bie," pinta Sora.


Almeer mengangguk. "Selama aku kuliah, aku tidak mempunyai banyak teman, Sayang ...,"


"Karena scandal Papa Hiko?" tebak Sora.


Almeer mengangguk, "aku sadar diri juga, karena itu aku tak terlalu banyak bergaul dengan orang-orang disekitarku. Tak semua orang bisa menerima keberadaanku. Tapi berbeda dengan Sky dan Moza ...." Almeer tertawa kecil mengingat masalalunya.


"Kenapa?"


"Sky selalu merasa kesal karena apapun yang dia lakukan, dia selalu mendapat posisi setingkat dibawahku. Awal-awal aku mengenalnya memang sempat kesal dengan cara bicaranya. Tapi, lambat laun aku baru menyadari jika itu hanya alasan dia saja untuk bisa mengajakku bicara dan berteman denganku. Aku tahu, mungkin juga dia kasihan padaku karena kemanapun aku pergi, banyak orang yang membicarakan statusku."


"Bagaimana dengan Moza?" tanya Sora.


"Aku tidak tahu pastinya kapan, tapi kami bertiga sering berada di kelompok yang sama. Moza seorang wanita mandiri dan juga pintar. Ia kuliah sambil bekerja, masalah keluarga membuatnya harus hidup mandiri dengan adiknya. Sky sering membantunya dan aku tau saudaramu pernah menyatakan perasaannya pada Moza dan Moza langsung menolaknya."


"Karena Moza mencintaimu?" tanya Sora.


Almeer menatap Sora kemudian menggelengkan kepalanya, "Belum, waktu itu Moza belum memiliki perasaan padaku. Dan Sky masih tetap berjuang mendapatkan Moza."


"Trus? Apa yang membuat kalian terlibat di situasi yang rumit?" tanya Sora sudah tidak sabar.


Almeer diam, menatap istrinya dengan sorot matanya yang tajam. "Kamu akan mempercayai semua yang aku katakan, Sayang?" tanya Almeer.


Sora mengangguk. Meskipun ia akan kecewa ataupun terluka, ia akan berusaha menyiapkan hatinya.


"Aku merasa sikap Moza padaku berubah sejak aku membantunya menyelesaikan tantangan makan mie pedas level ... entahlah, level berapa itu. Yang ku ingat itu sangat pedas hingga aku harus dilarikan ke rumah sakit."


"Aah ... Meera pernah menceritakan itu padaku, tapi belum sempat selesai," ucap Sora. "Trus trus,"


"Mungkin awalnya dia merasa bersalah padaku, jadi dia memiliki perhatian lebih padaku. Dan lambat laun, dia menyatakan perasaannya padaku."


"Kamu mencintainya?"


Almeer tersenyum dan mencakup kedua pipi istrinya, "sudah ku katakan sejak bertemu denganmu, hanya kamu wanita yang ku inginkan, Sayang ...."


Sora tersenyum dan mengangguk, "maaf, aku banyak memotong ceritamu, Bie."


Almeer mengusap kepala Sora yang masih berkerudung, "Aku menolaknya. Dia dan Sky sebenarnya tahu jika aku hanya memikirkan seorang gadis kecil cantik yang selalu ku lukis atau ku gambar ketika aku tidak ada kegiatan. Gadis kecil, cinta pertama ku yang tak pernah ku ketahui nama dan asal usulnya. Dan aku baru tahu jika ternyata dia saudara kembar temanku sendiri." Almeer tertawa kecil

__ADS_1


"Seharusnya Sky tahu itu aku, dong? atau gambarmu terlalu jelek jadi Sky tidak mengenalinya?"


"Eitz, sembarangan .... Mau ku buktikan nih kemampuan menggambarku?" tantang Almeer.


"Aku percaya aku percaya," ucap Sora, "tapi kenapa si pohon pisang itu diem aja, sih? Bikin gemes! Andai aja dia kasih tahu kalau yang kamu gambar itu saudaranya, pasti kita akan lebih cepat bertemunya, Bie."


"Mungkin dia ragu padaku," ujar Almeer.


"Ragu kenapa?"


"Aku lanjutkan cerita kerumitan kami, Sayang."


Sora mengangguk.


Almeer menarik tangan Sora dan menggenggamnya, "pastikan kamu tidak akan meragukanku, Sayang," pinta Almeer.


Sora mengernyitkan keningnya, berpikir sejenak namun dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Pagi itu aku tidak tahu kenapa bisa berada di kamar Moza, di atas tempat tidurnya ...,"


Deg!


Jantung Sora seperti terhantam sesuatu, wajahnya pucat pasi seakan desiran darah merangkak meninggalkan bagian wajahnya. Sora menarik tangannya dari genggaman suaminya.


"Sayang, kamu harus mendengarkanku. Ini tidak seperti yang kamu kira," ucap Almeer, ia meraih tangan Sora dan kembali menggenggamnya.


Sora masih terdiam dengan pikirannya. Meskipun ia tak ingin menangis, tapi setetes air matanya jatuh tanpa ijin membasahi pipi.


"Jangan berpikir macam-macam dulu, Sayang. Ku mohon, dengarkan ceritaku lebih dulu ...," pinta Almeer, mata teduhnya memohon dengan sangat.


Bibir bawah Sora bergetar, rasa takut terlukis diwajah cantik itu, "kenapa kamu tidak menceritakan padaku sedari awal, Bie?" tanya Sora.


"Bagiku ini hanya kesalahpahaman, Sayang. Dan ini menyangkut aib Moza," jawabnya.


"Seharusnya kamu mengatakan ini sejak awal,"


"Aku akan mengatakannya sekarang, beri aku kesempatan agar tidak membuatmu salah paham,"


Sora mengangguk, ia menghapus air matanya dan sejenak memejamkan matanya. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan kekuatan untuk menerima kenyataan apa yang akan ia terima.


"Aku akan mendengarkanmu, Bie ..." Sora membuka matanya perlahan.


"Malam sebelumnya, kami menghabiskan waktu merayakan keberhasilan pembuatan film dokumenter bersama teman-teman seangkatan kami. Sky tidak ikut malam itu, entah dia kemana. Sebelum pulang, aku mendapati Moza tengah bertengkar dengan seorang pria yang tidak ku kenali. Aku mencoba membantunya dan aku terlibat perkelahian dengan pria itu. Beruntungnya beberapa teman kami datang dan membantuku, pria itu memilih kabur." Almeer menghentikan ceritanya sejenak.


"Ayo, Bie ... lanjutkan," desak Sora.


"Karena khawatir dengan Moza, aku mengantarkannya pulang. Aku beristirahat sebentar di rumah Moza, badanku sakit semua setelah berkelahi. Setelah itu aku tidak mengingat apapun."


"Sayang ...." Almeer menenangkan istrinya, "Sabar ..., aku akan malanjutkan ceritanya."


Sora mengangguk.


"Aku bangun tidak memakai baju, Sayang."


"Astaghfirullahaladzim!" Pekik Sora seraya menarik tangan tangannya dari genggaman suaminya.


Kali ini airmatanya mengalir lebih deras dari sebelumnya. Hatinya belum cukup kuat menerima kenyataan ini.


"Sayang ...." Almeer menarik tangan Sora, namun wanita yang sedang terluka itu segera menepisnya. "Sayang ..., ku mohon dengarkan aku dulu. Aku bahkan belum menceritakan intinya,"


"Aku terlalu takut mendengarnya, Bie ...," jawab Sora.


"Jika kamu hanya mendengarnya sampai disini, kedepannya kamu tidak akan pernah mempercayaiku, Sayang."


Sora hanya diam dalam isak tangisnya.


"Karena inilah aku ragu untuk menceritakan padamu ..., walaupun ini sebuah kesalahpahaman yang sudah diluruskan, tapi tetap saja akan membuatmu terluka."


"Iya, Bie. Hatiku sangat sakit."


"Sayang, demi Allah dan demi rosulku, aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu,"


Sora mengangguk, "aku percaya padamu, Bie. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika hatiku terluka."


"Karena itu, biarkan aku menyelesaikan ceritaku ...," pinta Almeer.


Sora mengangguk cepat.


"Saat itu aku takut, Sayang. Aku tidak mendapati Moza pagi itu, pikiranku kalut, aku takut jika tanpa sadar aku menyentuhnya. Dan ketika aku keluar kamar, aku mendapati saudaramu disana. Ia mendengar kabar mengenai Moza malam itu kemudian mencaritahu keadaan Moza, tapi ia malah mendapatiku keluar dari kamar Moza."


"Kalian bertengkar?"


Almeer menggeleng, "Tidak ..., aku menjelaskan apa yang terjadi," jawab Almeer.


"Kamu tidak bertanya pada Moza apa yang terjadi malam itu?"


"Kami tidak pernah bertemu dengannya sejak malam itu, Sayang. Dia pergi entah kemana, bahkan adiknya sendiri tidak mengetahui keberadaannya."


"Lalu. bagaimana—"


"Suatu pagi, Sky tiba-tiba saja menghajarku di kelas tanpa ku ketahui kenapa. Dan setelah beberapa hari berlalu, Sky memberitahuku jika Moza sedang hamil."

__ADS_1


"Cloe benar-benar bukan anakmu kan, Bie?" Sora menarik tangan Almeer. menggenggamnya penuh harap.


"Awalnya aku mengira seperti itu. Aku tahu Moza sudah kembali ke rumahnya, tapi ia tak mau bertemu denganku. Jika memang anak dalam kandungannya adalah anakku, aku akan bertanggung jawab dan menikahinya ...." Almeer menghentikan ceritanya ketika melihat istrinya begitu terpukul.


"Maafkan aku karena sudah mempunyai keinginan untuk menikahi wanita lain, Sayang," ucapnya.


Sora mengangguk, "aku tak sengaja membaca suratmu untuk Moza, Bie. Dalam buku Khadijah."


"Astaghfirullah ... maafkan aku, Sayang. Aku lupa kalau masih menyimpan surat itu ...," Almeer terlihat panik dan merasa bersalah.


"Kenapa surat itu masih bersamamu? Apa kamu tidak pernah mengirimnya? Atau Moza mengembalikan suratmu, Bie?" tanya Sora.


"Aku belum sempat mengirimnya, Sayang."


"Kenapa?"


"Moza mendatangiku, dia menjelaskan jika tidak terjadi apapun diantara kami malam itu. Dia menyuruh orang melepas bajuku karena kotor dan basah ketika aku jatuh pingsan. Dan malam itu ia pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan diri atas musibah yang menimpanya."


"Aku lega mendengarnya, Bie," ucap Sora, ia menipiskan bibirnya. "Sky mengetahui alasan itu?"


"Tentu, Moza juga menjelaskan pada Sky semuanya. Ia yak mau ada kesalahpahaman antara aku dan saudaramu," jawab Almeer. "Awalnya Sky yang akan menikahi Moza, tapi entah kenapa ia mengurungkan niatnya. Dan setelah pertemuan kita dengan pak Bara membuatku mengerti alasan Sky mengurungkan niatnya."


"Lalu, bagaimana dengan Moza? Apa dia menikah dengan pria yang berkelahi denganmu?" tanya Sora.


"Aku tidak mengetahuinya, Bui. Kami tidak bertemu sejak saat itu. Ia benar-benar menghilang dari kehidupan kami. Aku sempat bertemunya sekali setelah beberapa tahun sejak krlulusan kami, ketika ia mengantarkan Cloe sekolah. Play group Cloe berada di samping kantorku. Karena itulah aku sering bertemu dengan Cloe. Setelah lama tidak bertemu, pertemuan kami pertama kali di wisuda Mina."


"Bagaimana dengan nama depanmu yang dipakai Cloe, Bie?"


"Itu hanya sebuah nama, semua orang berhak memakainya."


Ekspresi Sora masih menunjukkan kecemasan.


"Aku bisa mengajakmu menemui Moza besok pagi , dia pasti mau menjelaskan semuanya padamu, Sayang."


"Dia terlihat masih menginginkanmu, Bie."


"Aku tidak mempunyai urusan dengan perasaannya. Bagiku, satu-satunya yang menjadi urusanku adalah rumah tangga kita."


Sora mencoba tersenyum meskipun masih berat.


Almeer merengkuh lembur kedua bahu Sora dan menatap tegas istrinya, "tanyakan semua yang masih membuatmu ragu, Sayang."


"Kamu dekat dengan Cloe? Apa kamu menyayanginya?" tanya sora.


"Ya, Sayang. Cloe mengingatkan diriku pada seorang anak yang bernama Sagara Almeer,"


"Lalu, apa kamu pernah memiliki perasaan cinta pada Moza?"


"Tidak, hanya sebatas simpati dan empati," jawab Almeer tegas.


Almeer menarik tubuh Sora ke dalam pelukannya, "entah saat ini kamu masih meragukanku atau tidak, tapi aku ingin tetap meyakinkan kamu. Bahwa Sagara Almeer hanya mencintai istrinya, dia adalah Kianga Sora."


Sora memeluk tubuh Almeer erat-erat dan mengangguk cepat, "aku percaya padamu, Bie. Aku percaya itu,"


"Terimakasih, Sayang. Dan maafkan aku sejak awal tidak menceritakan hal ini padamu. Aku tak mau kamu terluka seperti ini dan aku juga harus menjaga aib Moza."


"Aku sudah berpikir banyak hal setelah membaca suratmu untuk Moza, juga tentang Moza lebih mengenal kamu dibandingkan aku. Terlebih lagi setelah mendengar nama panjang Cloe sama denganmu,"


"Harusnya kamu menanyakan semuanya padaku, Sayang."


"Aku terlalu takut jika kenyataan akan mengecewakanku, Bie."


Almeer mengecup ujung kepala Sora, "kita jadikan ini pelajaran ya, Sayang. Kita harus belajar untuk lebih saling terbuka lagi."


"Iya, Bie."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Gaiz, kalau menurut kalian cerita ini menarik bantu aku promoin ALINEA CINTA dengan share di akun sosmed maupun WA Group kalian.


Caranya gampang:


Klik Sampul Novel Alinea Cinta > Klik tanda titik tiga di pojok kiri bawah > pilih media sosial yang ingin kamu jadikan tempat promo novel ini.


Makasih ya...


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf ku

__ADS_1


__ADS_2