
"Hanya wanita itu yang bisa memasukkannya dalam penjara," ujar Aga.
"Kenapa tidak kamu hubungi wanita itu?! Atau dia takut membuat laporan pada kepolisian?" tanya Langit.
Aga melirik Sora sejenak.
"Kenapa kamu malah menatapku?" tanya Sora.
"Wanita itu Moza, Ra ...," jawab Aga.
Keadaan ruangan hening seketika, semua mata tertuju pada Sora. Wanita yang masih lemah itu semakin terlihat pucat dan mematung.
"Maksudmu, anak kecil itu sungguh bukan anak putraku?" tanya Ruby.
Aga menatap Ruby dan mengangguk, "ya, Bu ...,"
"Alhamdullillah ya Allah ...." Ruby sujud syukur setelah mendengar jawaban Aga kemudian memeluk suaminya, "putra kita benar-benar tidak bersalah, Mas!" Tangis kebahagiaannya pecah.
"Iya, Ruby ... Almeer tidak bersalah." Hiko memeluk erat istrinya.
Sora yang sedari tadi tercengang, kini turun dari tempat tidurnya. Dengan menarik tiang infusnya dia menghampiri Aga.
"Kamu sudah menemukan buktinya?" tanya Sora.
"Kami belum menemukan bukti pastinya, tapi—"
"Kami?" tanya Sora, ia memicing mencari kebenaran.
"Suamimu yang memberitahuku tentang Bima, dia curiga dengan pria bernama Bima itu. Dan ... ini semua hasil penyelidikan kami. Tapi kami belum bisa memastikan apakah Bima benar-benar ayah biologis dari Cloe,"
Sora memejamkan matanya, ia menarik napas dalam-dalam karena ia merasa sangat kesulitan bernapas. Dadanya sesak dan sakit. Ia merengkuh dadanya hingga membungkuk, seakan,-akan tertindih beratnya sebuah penyesalan.
"Sora ...." Senja dan Langit lekas mendekati Sora.
Sora mendongakkan kepalanya menatap Aga, air matanya sudah mulai memupuk di balik pelupuk matanya.
"Kenapa kamu terlambat mengatakannya, Ga?" tanya Sora lirih dan memprihatinkan.
"Maafkan aku, aku baru menyadari kejanggalannya setelah menenangkan diri," jelas Aga.
Sora menggelengkan kepalanya, air matanya mulai membasahi pipinya namun tak ada isakan yang keluar dari mulutnya.
"Aku sudah menuduh suamiku, Ga! Aku sudah menyakitinya ...," ucapnya parau.
"Sora ...," Ruby mencoba menenangkan Sora dengan memeluknya.
"Sora sudah jahat pada Almeer, Ma ...." Tangis Sora pun pecah, ia tak kuasa menahan diri hingga terjatuh duduk dilantai. "Sora sudah durhaka pada suami Sora, Ma!"
Ruby memeluk erat menantunya, "Almeer akan memaafkanmu, Sora."
Sora hanya menangis dan meraung sekuat tenaga untuk melepaskan penyesalannya. Namun, sekuat apapun ia berteriak dan menangis, sesak di dadanya tak kunjung hilang.
"Sora, tenangkan dirimu, Nak ...."
"Harusnya Sora mempercayainya, Ma!" Sora memukul dadanya berulangkali namun Ruby menahannya.
"Sora ... Almeer akan memaafkanmu," Hiko ikut membujuk Sora, ia mulai takut karena menantunya menangis semakin kencang.
"Almeer bukan orang pendendam Sora, dia akan memaafkanmu ...," imbuh Ruby lagi.
Sora menggeleng dan masih meraung, "Sora gak pantas mendapatkan maaf dari Almeer ... Sora gak ... pan—"
__ADS_1
"Sora!!"
Semuanya terkejut ketika Sora tiba-tiba saja tak sadarkan diri. Langit berusaha menggendong Sora untuk kembali ke tempat tidurnya. Senja menekan tombol darurat untuk memanggil perawat dan dokter.
Tak sampai lima menit, seorang dokter dan dua orang perawat datang.
"Tolong sisakan satu orang saja disini untuk menjaga pasien," pinta dokter.
Senja menatap suaminya, ia ingin menemani putrinya. Semuanya mengerti dan segera meninggalkan ruangan Sora.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Al?" tanya Hiko pada Aga. "Kalian sudah janjian?"
Aga menggeleng, "kami tidak terlalu dekat untuk berjanjian, kami hanya tidak sengaja bertemu di jalan, Pak," jawab Aga. "Almeer memberitahu saya mengenai kecurigaannya pada seseorang, dan alhamdullillah kami bisa dengan cepat mengetahui posisinya."
"Sekarang dimana pria itu?" tanya Langit.
"Anak buah saya sudah mengamankannya, Tuan. Kita hanya membutuhkan pengakuan dari Moza agar bisa memenjarakannya. Saya yakin, Moza hanya menjadi alat bagi Clara untuk menyakiti Sky, tapi ia gagal."
"Astaghfirullahaladzim ... Claraaa!" geram Langit tertahan.
"Sabar, Pak Langit. InsyaAllah semuanya akan berakhir, tinggal sedikit lagi ...," ujar Hiko.
"Ini salah saya, Pak! Jika saja saya tidak—"
"Kita tidak bisa mengubah masa lalu, Pak Langit. Tapi Allah memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki masa depan," ujar Hiko. "Bukan hanya anda, saya pun ikut merasa bersalah. Kita sama-sama mempunyai masalalu yang tidak mengenakkan dan masa lalu kita yang sudah membuat anak-anak kita menderita, Pak."
"Kenapa Allah baru menegurku sekarang? Dan kenapa Allah menjadikan anak-anak kita yang menanggung beban atas dosa yang kita perbuat?" Langit mengacak rambutnya frustasi.
"Istighfar, Pak Langit. Jangan su'udzon pada Allah, Pak ...," tegur Ruby,
"Tidak ada manusia yang menanggung dosa dari manusia lain, Pak. Allah mungkin sedang mengingatkan kita semua atas dosa-dosa masalalu kita yang mungkin belum sempat kita memohon ampun padaNya. Mungkin kita sudah terlalu lalai dan sibuk dengan dunia kita hingga melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat, Pak. Karenanya, baru sekarang Allah menegur kita dengan keras agar kita tersadar," sambung Ruby, ia bergantian menatap suaminya dan Langit.
"Tidak perlu ragu untuk membawa dosa-dosa kita, sebanyak apapun kepada Dzat yang telah menciptakan kita. Allah begitu menunggu orang-orang yang kembali pulang kepada-Nya. Lewat lisan-lisan yang penuh penyesalan, lewat hati yang penuh keinsyafan ataupun lewat tangis yang penuh pengharapan. Kita masih bisa melakukannya, Pak Langit." Ruby masih mencoba meyakinkan pria didepannya itu.
"Itu ujian mereka, Pak. Kita sebagai orangtua bisa mendo'akan mereka, menasehati dan membantu mereka semampu kita. Mereka tidak sedang menanggung dosa-dosa orangtuanya, Pak. Allah hanya sedang menguji mereka ...," jelas Ruby.
Hiko tersenyum pada istrinya dan merangkulnya, "terimakasih, Ruby ...,"
"Kita harus saling menguatkan dalam keadaan seperti ini, Mas. Jangan biarkan orang lain tertawa senang karena sudah mengusik keluarga kita," tegas Ruby.
Langit mengangguk, "Benar, Bu Ruby. Tujuan dia memang untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kita,"
"Kita serahkan ke pihak. berwajib saja, Pak. Lebih baik kita fokus memperbaiki keadaan ini," ujar Hiko.
Langit mengangguk, "iya, Pak Hiko." Ia beralih menatap Aga, "kamu sudah dapat informasi dari Sky, Ga?" tanya Langit.
"Terakhir saya mendapat kabar dari Haris, mereka sudah menemukan tempat tinggal Moza. tapi sejak semalam saya tidak bisa menghubungi mereka," jawab Aga.
"Semoga Sky pulang dengan kabar baik," gumam Langit dengan kekhawatirnya.
"Aamiin,"
***
Bulat sempurna bulan malam ini memberikan cahaya terang hingga memudarkan kilauan bintang di langit kota Malang. Pria tampan yang masih memakai baju koko dan sarung itu sedang duduk di teras samping rumahnya menatapi pantulan rembulan di dalam kolam ikan.
Cangkir kopi ditangannya itu sudah tak lagi mengepulkan uap panas, menjadi tanda betapa lamanya dia diam termenung dalam pikirannya. Tak ada binar kebahagiaan di wajahnya meskipun ia sudah menemukan titik terang dari fitnah yang didapatkannya.
"Astaghfirullahaladzim, Papa!" Almeer terkejut ketika ia hendak berdiri untuk masuk ke dalam rumah malah mendapati papanya duduk di kursi kayu yang hanya tersekat meja darinya.
Ia menghampiri papanya dan mencium tangannya, "kapan Papa datang?" tanya Almeer.
__ADS_1
"Papa sudah diam disini hampir lima belas menit, Al." Hiko mencibir.
"Astaghfirullah ... maaf ya, Pa. Aku gak sadar dengan kehadiran Papa." Almeer kembali duduk di kursinya semula.
Hiko mengangguk, "kamu gak ke rumah sakit?" tanya Hiko.
Almeer meneguk kopi yang sedari tadi belum ia cicipi kemudian menggeleng, pandangannya kembali lurus menatap kolam ikan didepannya.
"Istrimu sudah mendengar apa yang sudah kalian temukan dari Aga," ujar Hiko.
Almeer menganggukkan kepalanya, "alhamdullillah, Pa."
"Ia sangat terpukul dan menyesali perbuatannya, Al."
Almeer masih terdiam.
"Sora kembali pingsan setelah menerima kabar dari Aga, Al ...,"
Almeer menatap papanya, ekspresi wajahnya berubah panik. "Bagaiaman keadaannya sekarang, Pa?" tanya Almeer.
"Kamu harus melihatnya sendiri, Al ... maafkan istrimu,"
"Aku akan memaafkannya jika dia meminta maaf padaku dan Papa."
"Bagaimana dia akan meminta maaf jika kamu tidak menemuinya?"
"Dia akan menemuiku jika dia sudah sehat, Pa. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku tidak akan menjemputnya, jika dia sadar akan kesalahannya dia akan kembali sendiri padaku, Pa."
Hiko menghela napas panjang, "kenapa kamu jadi sekeras ini? Sikapmu seperti ini sama seperti kamu ingin meninggalkannya, Al."
Almeer menggeleng, "aku pergi bukan karena aku ingin meninggalkannya, Pa. Tetapi, lebih karena cara dia memperlakukanku dan memandangku." Kekecewaan masih tergambar jelas di wajah Almeer, "andai saja dia mempercayaiku dan tetap berada disampingku, anak kami akan baik-baik saja, Pa."
Hiko menepuk bahu putranya, "Al ... cobalah mengerti kondisi istrimu ...,"
"Almeer mencoba mengerti, Pa. Tapi Aku tidak bisa menarik apa yang sudah ku katakan."
"Bukankah saat-saat seperti ini kalian harus saling menguatkan?"
"Kami juga harus belajar dari keadaan ini untuk menyadari betapa pentingnya kejujuran, kepercayaan dan kebersamaan dalam rumah tangga, Pa."
"Apa menurutmu ini baik untuk kalian?"
Almeer terdiam.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO!
Lanjutnya Minggu sore jam 3, ini benernya jatah besok sore.
Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
__ADS_1
Terimakasih laflafkuh!