ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
29


__ADS_3

Teriakan dari Sora menarik perhatian penghuni rumah Aga. Marko, Zia dan Nada keluar untuk mencari tahu apa yang membuat Sora berteriak.


"Ada apa ini, Ga?" tanya Marko.


Aga diam tak menjawab.


"Maaf, Pak. Pagi-pagi saya membuat keributan di rumah anda." Ujar Almeer.


"Loh, kamu... Tetangga depan rumah Sora, kan?" tanya Marko, "Ada apa pagi-pagi kesini?"


"Sky minta bantuan saya mengantar pakaian Sora dan kebetulan juga ada yang harus saya bicarakan dengan Sora." Jawab Almeer.


Marko menatap Aga yang masih terlihat emosi dengan Almeer, "Udah, Ga. Mereka butuh bicara...," Marko menepuk bahu anak angkatnya itu.


"Kamu mau bicara dengan tetanggamu ini apa enggak, Ra?" tanya Marko pada Sora.


Sora menatap Almeer kemudian mengangguk.


"Boleh saya mengajaknya ke suatu tempat, Pak? Saya tidak keberatan jika pengawalnya ikut menemani." Pinta Almeer.


"Aku yang akan ikut...," Kata Aga.


"Enggak, aku gak mau kalian tengkar lagi!" Tolak Sora.


"Nona...,"


"Enggak, Ga!" Tegas Sora, "Mita dan Aura yang akan ikut denganku."


Marko kembali menepuk bahu Aga agar tak terlalu memaksa, dan pria itu memilih masuk ke dalam rumahnya.


"Jaga keponakanku, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Pinta Marko pada Almeer.


"Baik, Pak."


"Oom, Tante. Sora pergi dulu ya...," Sora bergantian mencium tangan Marko dan Zia.


"Saya pamit dulu, Pak, Bu." Pamit Almeer, "Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..., hati-hati."


"Saya keluarin mobil dulu, Non." Kata Aura ketika mereka sudah didepan pintu gerbang.


"Gak usah, Mbak. Sebaiknya kita satu mobil saja." Pinta Almeer.


"Tapi...," Aura ragu menatap Sora.


"Iya, Kita semua satu mobil aja." Sora pergi keluar dan masuk ke dalam mobil yang Almeer kendarai. Almeer, Aura dan Mita pun mengikutinya.


Setelah semuanya masuk, Almeer menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Marko.


"Kita mau kemana, Al?" tanya Sora yang duduk disampingnya.


"Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu." Jawab Almeer tanpa mengalihkan pandangannya.


"Oooh, oke." Sahut Sora.


Almeer menatap Sora sejenak, "Gak tanya siapa orangnya?"


"Ntar juga tahu, kan?" Jawab Sora.


Almeer tersenyum kecil dan tak lagi berkata-kata, Ia kembali fokus mengendarai mobil.


Sora terus menatap keluar jendela. Mulai dari pemandangan gedung-gedung hingga berganti perkebunan sudah ia nikmati selama perjalanan. Walau ia sangat penasaran Almeer akan membawanya kemana, ia mencoba untuk bersabar.


Hampir setengah jam di dalam mobil tidak ada percakapan dan akhirnya mobil itu terhenti di pelataran parkir sebuah pemakaman yang letaknya di perbukitan.


"Ngapain kesini, Al?" tanya Sora, ia sedikit takut.


"Yuk, turun..." Ajak Almeer.


Semua turun dari mobil. Meskipun ragu, tapi Sora tetap mengikuti langkah Almeer. Meniti jalan setapak yang lumayan panjang dan berakhir pada sebuah makam bertuliskan Antanara Pricilia di batu nisan.


Almeer duduk di beton panjang yang ada di samping-samping makam yang memang disediakan untuk tempat duduk peziarah. Sora mengambil duduk di satu sisi lainnya. Sedangkan Mita dan Aura mengawasi mereka di kejauhan.


"Siapa, Al?" tanya Sora.


"Mau kirim do'a dulu?" Almeer balik bertanya.


Sora menatap kembali batu nisan itu kemudian mengangguk pada Almeer. Keduanya pun menengadahkan tangan dan berdo'a dalam hati.


"Aamiin...," Mereka mengusapkan kedua telapak tangan pada masing-masing wajah sebagai penutup do'a mereka.


Sora menatap Almeer yang ada didepannya sedang menatapi batu nisan itu dengan sebuah senyum kecil di bibirnya.


"Ini Mamaku, Ra."


"Hah!!?" Sora terkejut dengan pernyataan Almeer. "Trus, tante Ruby?"


"Mama Ruby adalah Mama sambungku...,"


Sora mengangguk, wajahnya masih penuh tanda tanya berharap Almeer bercerita lebih banyak untuk menjawab rasa penasarannya.


"Assalamu'alaikum, Ma... Kali ini aku kesini bukan dengan Papa, Mama Ruby, Om Genta ataupun Ameera. Aku datang bersama orang yang sudah sejak lama ingin aku kenalkan ke Mama. Wanita cantik yang sedang duduk di depanku ini bernama Kianga Sora. Aku sudah bertemu lagi dengannya, Ma."


Sora terperangah menatap Almeer yang sedang menceritakan dirinya pada almarhum mamanya. Kalimat sudah lama ingin memperkenalkan dirinya pada mamanya dan sudah bertemu denganya membuat Sora terus berfikir keras. Apa mungkin Al juga masih mengingatnya sejak pertemuan mereka di masa kecil itu?


"Kami banyak menghabiskan waktu bersama beberapa bulan ini, Ma. Aku terlalu senang dengan kehadirannya sampai lupa jika harusnya aku menjaganya dengan tidak terlalu dekat dengannya." Almeer menatap Sora, "Karena keegoisan rasa yang aku miliki, dia mempunyai perasaan yang terlalu istimewa untukku. Rasa indah yang malah ku balas dengan kepedihan."


"Al....," Sora tercekat melihat raut wajah Almeer yang


menggambarkan jika dirinya sangat terluka dalam mengucapkan kalimat-kalimatnya.


"Maafkan aku, Sora." Ucapnya penuh penyesalan. "Ini salahku, aku yang membuatmu seperti ini. Dan aku terlalu pengecut untuk mempertanggung jawabkan semuanya."


Setetes air mata Sora jatuh membasahi pipinya. Kini ia tahu, Al mempunyai perasaan padanya tetapi ia tak bisa menyatukan kedua rasa mereka.


***


Terpaan lembut angin dari lembah perbukitan membuat Sora memicingkan matanya. Udara pagi dan mentari yang masih sangat bersahabat membuat Sora dan Almeer memilih untuk menikmati pemandangan kota Jogja dari atas bukit yang berada tak jauh dari pemakaman.


"Kamu punya perasaan ke Mina, Al?"


Sora membuka pembicaraan setelah keduanya lama diam dalam pikiran mereka masing-masing.


Almeer menatap Sora, "Enggak, Sora." jawabnya yakin.


"Kamu punya perasaan padaku?" tanya Sora lagi.


"Sejak pertemuan pertama kita, kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di pikiranku selain Mama dan Ameera."


Sora mengatupkan bibirnya. Harusnya ia senang mendengar jawaban Almeer, tapi kenapa perasaannya begitu sakit dan perih. Air matanya kembali berair, bersyukur angin perbuktikan membuatnya cepat mengering dan tak sampai menetes.


"Apa karena hubunganku dengan Mina yang membuat kita tidak bisa bersama?" tanya Sora.

__ADS_1


Almeer mengangguk, "Itu salah satunya...,"


"Apa alasan lainnya? apa benar karena aku terlalu jauh dari standart calon istrimu, Sayyidah Khadijah? benar, Al?"


Almeer menggeleng, "Aku membuat Sayyidah Khadijah sebagai kriteria calon istri sebenarnya agar tak ada wanita yang mendekatiku, Sora. Bagaiamana mungkin aku yang manusia biasa seperti ini mendambakan istri seperti beliau." Almeer tersenyum meremehkan diri sendiri.


"Kenapa? bagiku kamu sangat sempurna dan pantas di dambakan sebagai calon suami. Kamu taat bergama, sayang keluarga, kamu baik, rajin juga dalam bekerja."


Almeer kembali menggeleng, "Aku hanya Sagara Almeer, Ra. Seorang anak yang lahir bukan dalam ikatan pernikahan."


Sora terkejut dengan jawaban Almeer, tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan.


"Sekuat apapun aku berusaha memperbaiki diri, dimata orang aku hanya seorang anak haram. Sulit untukku berdamai dengan diri sendiri, bagaimana bisa aku membebankan hal itu juga pada istriku kelak? itu sangat sulit, Sora."


Kali ini Sora tak bisa menahan air matanya, alasan Almeer menolaknya kali ini sungguh diluar dugaaannya.


"Kamu bisa membaginya denganku...,"


Almeer menggelengkan kepalanya lagi, "Menyandang predikat anak haram membuatku mendapatkan perlakuan yang jauh dari kata adil di masyarakat. Itu sangat menyakitkan, Ra. Aku sudah mengalaminya dan aku tidak akan mungkin membuatmu merasakan hal itu."


"Tapi ini semua bukan salahmu, Al. Kenapa mereka harus menyakitimu?"


"Tidak semua orang mengerti keadaan kita, Ra."


Sora tak bisa berkata apapun, ia terus mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Maafkan aku, Sora. Jika saja aku bukan Sagara Almeer, sejak awal pertemuan kita dulu, aku sudah mendatangi orangtuamu."


"Kamu terlalu kejam pada dirimu sendiri, Al."


Almeer menggelengkan kepalanya. "Ini caraku mencintaimu, Sora. Maafkan aku karena sudah membuatmu terjebak dalam perasaan yang tak berujung ini. Harusnya aku tahu diri sejak—"


"Enggak, Al. Jangan salahkan waktu, keadaan ataupun dirimu sendiri. Kamu sudah berusaha menghindariku sejak awal, akulah yang tak tahu diri terus mengejarmu."


"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, Sora. Aku berharap kamu bisa menyudahi perasaanmu padaku. Karena kita tidak bisa bersama."


"Al...," Keluh Sora lirih diantara tangisnya.


"Aku akan mengantarmu pulang...," Almeer mengalihkan pembicaraan, ia tak mau membuat Sora menamgis lebih lama lagi.


"Aku masih ingin bersamamu." Pinta Sora.


Almeer menggeleng, "Kita sudah terlalu lama di luar, aku tidak mau membuat keluargamu mengkhawatirkanmu." Ia berdiri dari duduknya.


Sora terpaksa ikut berdiri dan mereka pun kembali ke pelataran tempat mobil mereka terparkir. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Almeer segera melajukan kendaraannya.


Berbeda dengan ketika berangkat, kali ini Sora tak menatap keluar jendela tetapi berganti menatap Almeer. Ia tak segan duduk meringkuk dan terang-terangan memperhatikan Almeer yang sedang mengemudikan mobil.


Ini kedua kalinya Sora melihat sisi lain dari Almeer. Pria yang menurutnya sangat lembut dan pengertian itu, kini terlihat dingin dan tegas. Bibir yang biasanya selalu tersenyum itu juga terkatup rapat. Matanya menatap tajam ke depan.


Semalam Sora berfikir jika dalam kisah ini, dialah yang paling menderita. Ia mencintai pria yang sama dengan adiknya. Dan parahnya, ia terlajur berkata pada Mina jika ia akan mendungkung mendapatk pria itu. Tapi ia salah besar, disini Almeer lah yang paling terluka. Ingin sekali memeluk Almeer dan menepuk punggungnya untuk sekedar melepaskan beban perasaannya.


Pluk pluk pluk!!


Sora memukul kepalanya untuk menyadarkan diri sendiri.


"Kenapa, Ra?"


"Kenapa, Nona?"


Almeer, Mita dan Aura kompak bertanya.


"Kamu pusing, Ra? mau berhenti dulu?" tanya Almeer.


Almeer kembali menatap Sora sejanak untuk memastikan jika wanita disampingnya itu tidak kenapa-kenapa.


"Aku gak apa, Al..." Sora memastikan keadaannya.


"Duduk yang bener lah, biar gak pusing, Ra." Pinta Almeer.


Sora menggeleng, "Mau gini aja. Udah kamu fokus nyetir aja."


Almeer menghela nafas dan kembali fokus ke jalanan. Setelah lama melewati banyak sawah dan perkebunan, mereka akhirnya memasuki kota.


"Aku antar kamu pulang ke rumah Aga apa ke rumahmu?" tanya Almeer.


"Ke Aga aja, Al." Jawab Sora.


Jawaban Sora membuat raut wajah Almeer sekilas terlihat tak ikhlas, namun pria itu cepat membuangnya dan menganggukkan kepalanya.


"Aku belum siap untuk bertemu Mina, Al." Ujar Sora yang menyadari perubahan raut wajah Almeer tadi.


Almeer hanya menganggukkan kepalanya dan membawa kendaraannya kembali menuju rumah Aga.


Tiba di rumah Aga, ia mengantar Sora sampai didepan pintu rumah sekaligus untuk bertemu Marko dan Zia.


"Terimakasih sudah mengijinkan Sora keluar bersama saya Pak, Bu." Ucap Almeer, "Saya permisi pamit pulang dulu, Assalamu'alaikum...,"


"Iya, Wa'alaikumsalam...," Sahut Marko dan Zia.


"Aku antar Almeer ke depan dulu ya Oom, Tante."


Sora ikut melangkah dibelakang Almeer hingga langkah mereka terhenti didepan pintu mobil.


"Masuk, gih. Istirahat, jangan buang waktumu untuk mikirin apa yang ku katakan padamu tadi." Ujar Almeer.


"Aku tidak janji bisa melakukan hal itu, Al."


Almeer diam sejenak, "Maafkan aku ya, Ra."


Sora mengangguk.


"Aku pergi dulu...,"


Sora mengangguk lagi.


"Assalamu'alaikum, Sora." Almeer membuka pintu mobil dan ketika ia akan masuk, Sora menahannya pintu mobilnya. Pria itu menatap wanita yang masih memandangnya penuh keresahan.


"Kenapa?" tanya Almeer lembut.


"Aku sungguh ingin bersamamu, Al." Ucap Sora, ia segera mengatupkan bibirnya untuk menahan tangisnya.


Almeer terdiam menatap Sora, Ia tak tahu lagi harus berkata apa untuk meyakinkan Sora menghentikan perasaan dan kemauannya.


"Pulanglah, Al..." Kata Sora. "Hati-hati di jalan..."


Almeer mengangguk, "Assalamu'alaikum, Sora."


"Wa'alaikumsalam... Almeer."


Almeer pun masuk ke dalam mobil dan mengendarainya meninggalkan rumah Aga.


***

__ADS_1


Mobil Sky yang dikendarai Almeer sudah berhenti sempurna di depan tempat tinggal Sky. Almeer lekas turun dan mengembalikan kunci mobil pada pemiliknya. Tak sampai kedua kalinya ia menekan bel, seseorang membuka pintu pagar.


Wanita muda berhijab lebar dengan senyum yang teduh menyambut kedatangan Almeer.


"Assalamu'alaikum, Kak Almeer." Sapanya.


"Wa'alaikumsalam, Mina." Jawab Almeer, ia memberikan kunci mobil yang dipegangnya pada Mina. "Aku ingin mengembalikan ini pada kakakmu." lanjutnya.


Mina menerima kunci mobil dari tangan Almeer, "Kak Sky masih di kamar mandi, apa kak Almeer mau menunggunya?"


Almeer berpikir sejenak, seharusnya memang ia berterimakasih langsung pada Sky. Walau Sky orang bermulut pedas dan menyebalkan, tapi Sky selalu peduli padanya ketika orang lain tak mempedulikannya.


"Masuk aja, Kak. Pasti gak akan lama...,"


Almeer pun melangkah masuk dan Mina mempersilahkannya duduk di ruang tamu.


"Apa kak Almeer baru dari tempat kak Sora?"


Pertanyaan Mina yang tiba-tiba membuat Almeer terkejut.


"Iya, aku baru menemui kakakmu." Jawab Almeer kemudian.


"Apa kak Sora baik-baik saja?" tanya Mina.


"Alhamdullillah, dia baik-baik saja."


"Apa terjadi sesuatu diantara kalian berdua sampai kak Sora tidak pulang semalam, Kak?"


Almeer mengangguk, "Kami sudah menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi kemarin. In shaa Allah dia akan segera pulang."


Mina terdiam ketika mendengar kata kami yang keluar dari mulut Almeer. Apa kalian sedekat itu? batinnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu, Kak?" tanya Mina.


Almeer mengangguk.


"Apa kamu memiliki perasaan pada kak Sora?" tanya Mina.


Almeer diam dan hanya menatap Mina.


"Aku tahu kalau kak Almeer juga menolak kak Sora. Tapi aku sangat iri padanya. Meskipun kak Almeer menolaknya, tapi dia masih mendapat perhatian lebih darimu, Kak."


Almeer menundukkan kepalanya dan masih tak mau menanggapi ucapan Mina.


"Kak Sora akan pulang ke Jakarta, Kak. Apa kak Almeer tahu?"


Almeer mengangguk, "Ya, dia sudah mengatakan padaku sebelumnya."


"Apa kak Almeer tahu jika papa akan menjodohkan kak Sora dengan kak Aga?"


Almeer mengangkat kepalanya, ia terkejut dengan pertanyaan Mina.


"Mina!!" Seru Sky yang baru datang.


Mina diam melihat Sky yang menghampirinya.


"Jangan mengatakan apapun yang belum pasti, Dek." Ujar Sky.


"Aku hanya mengatakan apa yang ku dengar, Kak. Bukannya kak Sky juga mengetahui hal itu?"


"Aku kemari untuk mengembalikan kunci mobilmu, Sky." Almeer berdiri dari duduknya, ia sengaja memotong awal perdebatan antara Sky dan Mina.


Sky mengangguk.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menemui saudaramu." Kata Almeer.


"Aku berharap dia sudah lebih baik sekarang." Sahut Sky.


"Aku pulang dulu, Sky, Mina. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam...,"


Almeer pun melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Al!!" Sky berlari mengejar Almeer yang sudah keluar pagar rumahnya.


Almeer menghentikan langkahnya dan menunggu Sky menghampirinya. "Hm?"


"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Mina."


Almeer tersenyum tipis, "Ya..." Ujarnya kemudian kembali melangkah menuju ke rumahnya.


Pintu gerbang rumahnya belum terbuka. Pegawai di cafe Ameera terlihat sudah merapikan meja dan kursi bersiap menyambut kedatangan tamu.


Almeer berjalan lurus dan tertunduk, ia bahkan mengabaikan sapaan Genta dari arah cafe. Mulutnya berbohong jika ia bisa mengabaikan apa yang dikatakan Mina barusan, padahal hatinya tegas tak menerima pernyataan itu.


"Assalamu'alaikum...," Ucapnya lirih ketika masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke ruang tengah, duduk dan menyandarkan kepalanya di punggung Sofa.


Ia memandangi foto keluarganya yang tergantung di dinding tepat di hadapannya. Senyumnya mengembang, namun sorot matanya menunjukkan sebuah luka. Setetes air mata jatuh dari sudut mata membasahi salah satu pelipisnya.


"Al...,"


Ruby yang baru keluar dari dapur berlari kecil menghapiri putranya, ia bisa melihat jika putranya sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi?" tanya Ruby setelah duduk disamping Almeer.


Almeer menegakkan duduknya dan menatap Ruby, ia tersenyum selebar mungkin untuk menghilangkan kekhawatiran mamanya. "Gak ada apa-apa, Ma."


"Al..." Ruby memaksa putranya untuk menceritakan keadaannya. "Apa Sora tidak mau menemuimu?" Ruby mencoba menebak.


"Tidak, Ma. Kami bertemu dan Almeer sudah menjelaskan semuanya padanya. Al juga mengajaknya menemui mama Nara, Ma."


Ruby tak menyangka jika Almeer mengajak Sora pergi ke tempat pemakaman Nara. "Apa kamu menceritakan—"


Almeer mengangguk, "Jika saja aku bukan Sagara Almeer, aku pasti akan mengkhitbahnya di hari pertemuan kedua kami, Ma."


Ruby tercekat tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Almeer, terlebih melihat putranya yang sudah memupuk air mata. Ia mencakup kedua pipi putranya, "Maafkan papa dan mamamu, sayang..."


"Aku tidak pernah menyalahkan papa dan mama Nara, Ma. Aku tidak menyesal karena terlahir dari sebuah kesalahan. Aku hanya kesal pada diriku sendiri karena tak punya cukup keberanian untuk memperjuangkan perasaanku, Ma. Aku terlalu pengecut..."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2