ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
72


__ADS_3

"Cloe, tidak baik berkata seperti itu di depan Tante Sora." Bara ikut mengingatkan cucunya.


"Tapi kan memang benar! Harusnya Oom Almeer—"


Clara lekas menutup mulut Cloe, "Risna, ajak Cloe ke mobil dulu, ya!" pinta Clara pada Risna.


"Baik, Bu ...." Risna menggendong Cloe kemudian pergi meninggalkan majikannya.


"Maafkan cucu saya, Mbak Sora. Memang dari dulu dia dekat dengan suami kamu," jelas Bara.


"Iya, Sora ... jangan berpikir macam-macam,"


"Apa yang Tante maksud macam-macam itu?" sergah Sora.


"Assalamu'alaikum Pak Bara, Bu Clara." Almeer yang baru datang segera mengulurkan tangan pada Bara.


"Ehh, Mas Almeer ...." Bara menyambut tangan Almeer, "Wa'alaikumsalam,"


"Lagi kencan berdua nih, Pak?" tanya Almeer.


"Iya, nemenin Cloe. Habis ini kami mau ikut Moza ke Paris. Jadi dia mau puas-puasin jalan-jalan di Malang," jawab Bara.


"Pak Bara sekeluarga pindah ke Paris?" ulang Almeer.


"Iya, mungkin tiga tahunan aja disana. Karena Moza mau lanjutin progam pascasarjana disana."


"Ooh, gitu ... alhamdullillah ya, Pak."


"Ya sudah, kami pamit dulu. Cloe sudah nunggu di mobil, kasian kalau kelamaan," ujar Bara


"Baik, Pak Bara. Baik!" sahut Almeer.


"Tante pamit pulang dulu ya, Sora." Clara ingin menyentuh tangan Sora namun dengan cepat Sora menghindar.


Sora memalingkan wajahnya, bahkan mengabaikan Bara juga. Almeer hanya merangkul bahu istrinya dan mengusapnya.


"Kami pulang dulu ya, Assalamu'alaikum ...," pamit Bara.


"Wa'alaikumsalam,"


Almeer kembali menatap Sora, "ayo naik bianglala, Sayang. Biar gak bad mood lagi."


"Aku mau pulang, Bie!" pinta Sora.


"Loh, kenapa?" Almeer terlihat bingung.


"Sebelum bertemu denganku, kamu punya rencana apa pada Moza dan Cloe?" tanya Sora, matanya mulai berkaca-kaca.


Almeer terlihat bingung ketika melihat air mata istrinya mulai menggenang di balik pelupuk matanya.


Sora tak mau menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar sana, dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke mobil.


"Sayang!" teriak Almeer, ia segera mengikuti langkah Sora. Ia berjalan mengiringi langkah Sora yang cepat hingga tiba di mobil.


Sora lekas masuk ke dalam mobil ketika Almeer membuka kunci otomatis pintu mobil.


"Sayang, coba deh jelasin pelan-pelan ... kamu kenapa?" tanya Almeer ketika sudah masuk ke dalam mobil.


Sora menatap Almeer, air mata yang sudah ia tahan tadi akhirnya meleleh juga. "Siapa ayah Cloe sebenarnya, Bie?"


"Astaghfirullah, Sayang .... kenapa tanya itu padaku?" tanya Almeer, ia mengusap air mata di pipi istrinya.


"Dia bilang aku sudah merebut papanya, Bie ...." Sora semakin terisak, "aku merebut siapa? apa aku merebut kamu darinya, Bie? apa kamu benar papanya, Bie?"


"Apa aku terlihat serendah itu dimatamu?" tanya Almeer.


Sora hanya terisak tak memberikan jawaban.


"Jika kamu ragu padaku, aku akan melakukan tes DNA lagi sekarang!" tegas Almeer, wajahnya mengeras dan menatap tajam istrinya.


"Enggak! Kamu gak perlu melakukannya, Bie!"


"Kamu meragukanku,"


Sora menggeleng cepat, ia meraih tangan Almeer, "aku percaya padamu, Bie!"


"Aku tetap akan melakukannya, Sayang."


Sora kembali menggeleng, "aku percaya padamu, Bie. Aku percaya ... aku percaya ...," Sora meraih tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat.


"Kamu bisa tanya Sky, kami sudah pernah melakukan tes DNA di Jogja. Aku dan Cloe tidak berhubungan darah."


Sora melepaskan pelukannya dan menatap suaminya, "kamu sudah melakukan itu?" tanya Sora.


"Ya,"


Sora tertunduk, ada sebuah kelegaan dibenaknya. Ia menarik napas panjang, perlahan ia mulai bisa merasakan oksigen masuk memenuhi paru-parunya.


"Cloe memang mengharapkanku bisa menjadi papanya, Sayang. Tapi, ku mohon mengertilah ... itu hanya harapan seorang anak yang hanya dibesarkan oleh satu orangtua saja."


Sora mengangguk dan memeluk Almeer kembali, "aku takut, Bie ... aku takut kehilangan kamu,"


Almeer mengusap punggung istrirnya, "aku lebih takut kehilangan kepercayaanmu, Sayang."


Sora melepaskan pelukannya dan memberikan kecupan kecil dibibir Almeer, "maafkan aku, Bie. Aku sempat meragukanmu,"


"Iya, Sayang." Almeer mengusap kembali pipi istrinya, "Kita pulang, ya?"


"Iya, Bie."


***


Pagi ini Sky dan Mina menghabiskan waktu bersama di rumah Sora. Seharusnya hari ini mereka sekeluarga akan pergi menghabiskan waktu bersama Almeer. Tapi karena urusan mendadak, Langit harus bertemu dengan rekan bisnisnya yang baru datang dari Kanada.


"Gak enak banget jadi pengangguran gini!" Sky meletakkan tabletnya diatas meja ruang tengah kemudian berdiri mengamati foto pernikahan saudaranya yang menempel di dinding ruang tengah.


"Makanya nyari kesibukan sana ..., nyari cewek, kek!" sahut Sora dari meja makan, ia sedang menikmati buah apel yang baru dikupaskan Mina untuknya.


"Kalau iri bilang, Kak," goda Mina pada Sky yang masih mengamati foto pernikahan Almeer dan Sora. "Ntar dicariin jodoh sama papa kalau nyari sendiri susah,"


"Hahahaha, nikah aja sama burung merak yang ada rumah, Sky. Gak usah sibuk nyari cewek, gak ada yang mau!" tambah Sora.


Sky menghampiri meja makan, wajahnya serius seolah memikirkan sesuatu. Sora dan Mina hanya saling menatap kemudian sama-sama mengangkat pelan bahu mereka seraya menyebikkan bibir.


Sky mengambil sepotong apel milik Sora dan ikut duduk di kursi meja makan. "Kalau kamu kemana-mana suka ngerasa ada yang ngikutin gak, Ra?" tanya Sky.


"Hah? Ngi—"


"Udah-udah, gak usah dijawab,"Sky dengan cepat memotong kalimat Sora, "salah aku tanya ke orang gak peka sepertimu,"


"Sial!" Sora melempar kulit apel pada Sky. "Kenapa, sih? Ada yang ngikutin aku?" tanya Sora.

__ADS_1


"Almeer bilang kalau ada orang yang diam-diam ngikutin kamu,"


"Kok aku gak tahu ya?" keluh Sora.


Sky hanya memutar bola matanya dan menatap malas saudaranya.


"Orang jahat, Kak?" tanya Mina.


"Almeer bilang itu orang suruhan Aga, karena Aga selalu ada disaat Sora butuh pertolongan," jawab Sky.


"Bukannya kak Aga memang selalu ada jika Kak Sky atau Kak Sora butuh bantuan?" ulas Mina.


"Telepon dia aja kenapa sih? Gak usah dibikin ribet! Jangan sampai karena hal konyol itu aku tengkar lagi sama suamiku!" gerutu Sora.


Sky mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi Aga.


Tuuut ...


Tuuut ...


"Ya, Sky?"


"Kamu dimana, Ga?" tanya Sky basa basi.


"Di Jogja, kenapa? Ada yang harus ku bantu?"


"Enggak, aku cuma mau tanya sesuatu aja ..."


"Orang yang kusuruh ngawasin Sora?'


Meskipun tanpa di loudspeaker, tapi suara Aga bisa terdengar jelas oleh Sora dan Mina.


"Jadi benar kamu yang kirim orang buat ngawasin Sora?"


"Tante Clara ada disekitarnya. Kamu tahu itu dan kamu tidak akan bisa bilang pada Papamu, kan?"


Sora mengernyit menatap Sky, "Kenapa?" tanya Sora tanpa.


Sky hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab Sora.


"Almeer tidak menyukainya," kata Sky pada Aga.


"Apa dia bisa dua puluh empat jam mengawasi Sora?"


Sora segera merebut ponsel Sky, "Suruh orang-orangmu pergi dari sekitarku, Ga!" Sentak Sora.


Tak ada jawaban dari Aga.


"Pengawal papa aja ku suruh pergi, kenapa malah kamu kirim orang-orang baru! Jangan usik rumah tanggaku! Kamu—"


Tut tut tut ...


Panggilan teleponnya terputus, Sora meletakkan dengan kasar ponsel itu diatas meja mekan hingga membuat Sky dan Mina terkejut.


"Ini nih yang aku gak mau kalau bicara hal penting lewat telepon," ujar Sky.


"Bilangin dia deh, Sky! Suruh bawa pulang tuh anak buahnya!" Bentak Sora.


"Ya gak usah bentak-bentak aku juga kali! Aga yang salah, aku yang kena marah!" Balas Sky.


"Kan dia nurut sama kamu! Bikin sebel aja! Bisa-bisa aku sering tengkar sama Al kalau dia tetep seperti ini!"


"Sabar, Mbak .... Kasihan Dedeknya loh kalau Bubunnya marah-marah," kata Mina, Ia memberikan gelas berisi air putih pada kakaknya.


"Hm?" jawab Sky, tangannya sibuk memijat pelipisnya karena pusing memikirkan permasalahan adiknya.


"Papa beneran gak tahu kalau tante Clara di Malang?" tanya Sora.


"Jangan sampai tahu,"


"Kenapa?"


"Nurut aja kenapa sih?"


"Urusannya bisa panjang kalau Papa tahu tante Clara disini."


"Kenapa sih, Sky? Bikin penasaran!" Sora menarik lengan baju saudaranya.


"Ra! Ku kasih tahu satu hal ke kamu." Sky menatap Sora dengan ekspresi yang serius, "Diam dan tidak mengerti apa-apa itu terkadang lebih baik dibandingkan kamu mengetahui banyak hal," lanjutnya.


"Huh!" sora mendorong lengan Sky dengan kasar, "bikin penasaran aja sih kamu!"


"Makan dulu, Kak. Biar gak pusing," ujar Mina seraya memberikan potongan apel ke kakaknya.


Sky mengambilnya dan mengunyah dengan malas. "Kenapa dari dulu aku suka ribet ngurusin kisah cinta orang? Ya Allah, kapan aku akan mengurus kisah cintaku sendiri?" gumamnya.


"Emang dulu ngurusin kisahnya siapa, Kak?" tanya Mina.


"Kakaknya Irene, Dek. Moza!" jawab Sora setengah berbisik ketika menyebut nama Moza.


"Jangan bahas itu!" ancam Sky ketika Mina ingin mengajukan pertanyaan lagi.


Gadis manis dan lembut itu mayun seketika.


"Sky! Ada yang mau ku tanyakan padamu," ujar Sora.


"Hm?" jawab Sky dengan lirikan malas.


"Apa kamu tahu Al melakukan tes DNA dengan—"


Sky dengan segera membungkam mulut Sora, ia melirik Mina yang terlihat terkejut dengan pertanyaan kakaknya.


"Kak Almeer kenapa, Kak?" tanya Mina penasaran.


"Gak apa, Dek," jawab Sky.


Sora melepaskan tangan Sky dari mulutnya, "Kamu mau bunuh ibu hamil, Sky?" protes Sora.


"Iya! Sudah! Jangan bahas itu sembarangan!" Sky menjawab pertanyaan Sora sebelumnya.


Meskipun kesal, Sora merasa lega mendapatkan jawaban singkat dari saudaranya.


Trrt trrrt trrrt.


Ponsel milik Mina bergetar diatas meja makan, foto dan nama mamanya muncul di layar.


"Assalamu'alaikum, Ma ..." Sapa Mina. "Hallo, Ma?" Mina melihat layar ponselnya karena tidak mendapat jawaban.


"Susah sinyal, Dek. Coba ke samping sana atau ke ruang tamu." Sora memberi saran.


"Iya, Kak." Mina berdiri menuruti saran kakaknya untuk pergi teras samping.

__ADS_1


"Bisa bisanya kamu tanya hal itu didepan orang lain, Ra!" Sentak Sky dengan bisikan pada Sora.


"Mina kan saudara kita? Apa salahnya?" jawab Sora acuh.


"Kamu mau bongkar aib suami kamu didepan orang? Aku aja yang bukan temen deketnya masih bisa jaga. Kamu orang yang paling deket malah mau buka!" sergah Sky masih dengan berbisik.


"Aib apanya? Almeer kan gak salah. Kenapa harus ditutup-tutupin sih?"


"Bodohmu totalitas banget ya, Ra!" ujar Sky dengan menahan kesal. "Gak semua orang itu satu pemikiran dengan kita, Ra. Walaupun terbukti Almeer tidak mempunyai hubungan darah dengan Cloe, tetap saja orang lain bisa berpikir buruk dengan dugaan-dugaan mereka sendiri."


"Rese' banget tuh manusia seperti itu!" umpat Sora.


"Kamu termasuk golongannya!"


Sora hanya mencibir. Tapi, sesaat kemudian dia menatap saudaranya serius. "Almeer benar-benar tidak melakukannya kan, Sky?" tanya Sora.


"Aku masih menyimpan hasil tes DNA itu, ambil sana ke Jakarta kalau mau lihat."


Sora menghela napas lega, "Aku takut sekali, Sky. Semalam aku bertemu Cloe, dia bilang aku merebut papanya."


"Dia memang mengharapkan Almeer jadi papanya, mau gimana lagi."


"Enteng banget sih kamu kalau ngomong!" Sentak Sora.


"Trus mau gimana? Omongan anak kecil aja ditanggepin!"


"Ya justru karena yang ngomong anak kecil, Sky .... Anak kecil kan jujur!"


"Trus kamu ragu ke suamimu?"


Sora menghela napas dan menopang dagu, menatap kosong buah apel yang bel selesai dipotong adiknya.


"Kak! Nanti Papa dan Mama mau ngajak makan malam disini," ujar Mina, ia kembali duduk ditempatnya semula. "Papa sama Mamanya kak Almeer juga diajak. Mau kumpul-kumpul bahas acara empat bulanan Dedek Bayi nanti."


"Waduh, harus masak besar nih. Mama dadakan banget sih? Mana Bu Siti belom belanja," Sora kebingungan.


"Mama pesenin di luar kok, Kak. Ntar ada yang nganter kesini," ujar Mina.


"Alhamdullillah kalau gitu, Dek."


"Aku kabarin suamiku dulu deh, biar bisa pulang lebih awal." Sora beranjak pergi meninggalkan meja makan untuk pergi ke kamarnya.


***


Langit dan Senja baru menyelesaikan pertemuannya dengan salah seorang rekan bisnis mereka dari Canada. Sambil menunggu Langit yang masih berbincang dengan rekannya di depan loby hotel, Senja menghubungi Sora untuk menanyakan kesiapannya.


"Almeer sudah pulang, Sayang?" tanya Senja lewat sambungan telepon yang terhubung dengan putrinya.


"Belom, Ma. Itu tadi Sora telepon masih ada tamu, tapi katanya gak bakal telat pulang kok, Ma."


"Cetering-nya sudah datang?"


"Itu barusan datang, Ma. Sora tutup teleponnya dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum ...."


"Iya iya, Sayang. Wa'alaikumsalam ...," Senja menutup sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Kenapa, Sayang?" tanya Langit yang baru saja menghampiri istrinya.


Senja celingukan melihat rekan kerja suaminya sudah pergi, "pak Federic sudah pergi?" tanya Senja.


"Udah, dia lihat kamu sedang telepon jadi tidak berpamitan."


"Ooh,"


"Anak-anak udah kumpul di rumah Almeer?" tanya Langit.


"Almeer belum pulang, masih ada tamu kata Sora, Mas."


"Ini kan lewat depan kantornya, samperin aja nanti. Biar cepet pulang dia," ujar Langit. Ia merangkul bahu istrinya dan mengajaknya masuk ke mobil mereka yang sudah siap sejak tadi.


Jarak dari hotel menuju ke kantor Almeer memang dekat. Hanya karena sedang padat kendaraan membuat mereka sedikit lebih lama untuk sampai.


"Kamu masih ingat Rukonya, Tom?" tanya Langit pada Tommy yang sedang duduk disamping sopir.


"Iya, Pak. Saya masih ingat ...."


Langit kembali diam dan menatap keluar jendela. Ia merasakan mobil berjalan cukup lambat diantara tumpukan kendaraan.


"Ruko yang warna warni itu, Mas." Tommy memberi petunjuk sopir dimana tujuan mereka.


"Loh, itu Almeer, Mas. Udah selesai sepertinya." Kata Senja ketika mendapati menantunya sudah berada di tempat parkir dengan sebuah tas ransel di punggungnya. Pria itu terlihat mengantar seseorang ke sebuah mobil.


"Syukurlah kalau gitu. Jadi gak perlu ku paksa pulang."


"Memangnya menantumu itu anak kecil, Mas," sahut Senja.


"Tunggu!!"


Sopir Langit lekas menginjak pedal rem mobil. Langit pun menegakkan duduknya. Keningnya mengernyit melihat seorang wanita dan anak kecil yang sedang berbincang dengan Almeer didepan sana.


"Kenapa, Mas?" Senja yang penasaran ikut melihat apa yang membuat suaminya terkejut. "Astaqfirullahaladzim!" pekik Senja.


"Sedang apa wanita itu disini?"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


TERIMA PESANAN SEMEN MERK HOLCEM, GRASAK AMA TUJUH RODA. MURAH MERIAH, DAPATKAN SEGERA SEBELUM KEHABISAN! STOK TERBATAS.


Aku gak jadi buka pabrik micin, jual bahan material aja disini. Sepertinya lebih laku karena para pembaca lebih butuh semen biar hatinya kokoh tak tertandingi.


Betewe gais, aku bikin nih novel semedi di dalam perut ubur-ubur selama 30 hari 30 malam loh. Cuma buat matengin alur dari eps 1-88. Jadi kalau kalian minta aku rubah alur ceritaku, hmm ... tidak semudah itu Esmeralda.


Selamat menikmati alur ceritaku aja ya ... yang gak kuat bisa skip, nunggu tamat. Yang masih kuat, sebelom baca minum semen dulu biar hati kalean kokoh. Tenang, Novel ini gak se ekstrem SPK kok. Aku gak tega kalau lihat mas Almeer sedih. Pengen ku kantongin ku bawa pulang.


Buat yang udah nebak-nebak, tebaaak teruuus ... kali aja ada yang bener. Tapi ada sih di episode berapa gitu, tebakannya pembaca ada yg nyerempet kek outlineku (gak usah dicari, mending lanjut baca).


Hahahaha


(ketawa jahat sambil memicingkan mata dan memaju mundurkan dagu).

__ADS_1


Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2