ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
76


__ADS_3

Selembar kertas berisikan hasil tes DNA tergeletak diatas meja ruang tamu. Pria dengan wajah babak belur itu terus memandangi kertas yang ada didepannya. Ia sedang berusaha untuk menempatkan diri dalam situasi barunya, dimana istrinya kini sedang pergi meninggalkannya karena suatu perbuatan yang sama sekali tidak ingat.


Ia menyingkap rambutnya kearah belakang, matanya terpejam, pikirannya kembali dimana ia berada di rumah Moza. Sedalam apapun ia berpikir, tetap saja ia tak mengingatnya. Ia juga yakin jika tak melakukan apapun.


Moza yang menjadi satu-satunya orang yang ingin ia tanyai tidak ada disini, nomor telepon Moza yang ia simpan juga sudah tidak aktif.


"Mas Almeer, ini obatnya ...,"


Suara Siti mengalihkan perhatian Almeer Ia memandangi beberapa obat oles di atas meja kemudian berdiri, "Saya keluar dulu ya, Bu Siti. Saya harus memastikan sesuatu,"


"Baik, Mas."


Almeer pergi memakai helm yang masih ada di spion motornya, menyalakan mesin motornya dan bergegas meninggalkan rumahnya.


Tujuannya adalah rumah Bara, ia ingin mencari tahu tentang apapun yang ada dalam benaknya.


"Assalamu'alaikum ...." Almeer memberi salam dari depan pintu pagar.


Tak ada seorang pun yang memberikan jawaban.


"Assalamu'alaikum, Pak Bara ...." Almeer meninggikan suaranya dan masih belum mendapatkan respon dari dalam.


"Pak Bara sudah berangkat ke Paris, Mas."


Almeer menoleh ke samping, seorang pria paruh baya berdiri di pagar rumah sebelah. "Sudah berangkat, Pak?" tanya Almeer.


"Iya, sebelum maghrib tadi, Mas."


"Bukannya baru besok ya, Pak?"


"Waduh, saya tidak tahu kalau itu, Mas."


Ceklek!


Terlihat pintu rumah Bara terbuka dan Clara muncul disana. "Almeer ...."


"Bu Clara?!" pekik Almeer.


"Loh, Bu Clara gak ikut ke Paris?" tanya pria yang sebelumnya berbincang dengan Almeer.


"Belum, Pak Fauzi. Saya menyusul besok, masih ada yang harus diselesaikan disini." Clara berjalan pelan dengan tongkatnya menuju pintu pagar. "Masuk, Almeer."


"Mari, Pak ...," sapa Almeer pada tetangga Clara kemudian masuk ke dalam halaman rumah yang tidak terlalu luas itu.


Almeer menunggu Clara untuk berjalan terlebih dahulu dan mereka terhenti di kursi kayu yang ada di teras rumah.


"Silahkan duduk, Al."


Almeer dan Clara pun duduk di kursi yang berbeda.


"Suamiku dan Cloe sudah berangkat ke paris tadi, mungkin pesawat mereka sudah terbang saat ini."


"Bukankah masih besok anda sekeluarga berangkat?" tanya Almeer.


"Yang berangkat besok hanya aku, karena ada urusan yang harus ku selesaikan disini ...."


"Apa saya bisa minta bantuan anda, Bu Clara?" tanya Almeer.


Clara mengernyit, "Ya ... apa yang bisa ku bantu?"


"Bisakah saya meminjam sikat gigi, atau mungkin ada sehelai rambut milik Cloe yang tersisa di sisirnya? Saya harus membuktikan sesuatu ...."


"Bahwa Cloe benar-benar putrimu atau bukan?" Clara melanjutkan kalimat Almeer.


Mata Almeer melebar terkejut, "Bu Clara tahu sesuatu?"


"Hasil tes DNA yang asli ada di Moza, Dia tidak ingin membuat kamu terpuruk, karena itu dia memalsukan hasil tesnya padamu dan Sky."


Almeer mematung mendengar jawaban Clara, bahkan untuk beristighfar saja ia tak bisa.


"Moza berusaha sebisa mungkin menghindarimu, Al. Dia sangat mencintaimu, dia lebih mementingkan kebahagiaanmu. Dia tahu siapa kamu, dan jika kamu mengetahui tentang Cloe ... ia tahu kamu akan sangat terpukul. Tapi saat ini situasinya berbeda ... Cloe sangat membutuhkan papanya," jelas Clara.


"Tapi itu tidak masuk akal, Bu ... jika saya memang melakukannya, tentu saya akan mengingatnya. Tapi ini saya sama sekali tidak mengingatnya."


Clara berdiri dan masuk ke dalam rumah, Almeer menunggu dengan penuh kecemasan. Ia masih tidak bisa menerima penjelasan Clara.


Sesaat kemudian Clara kembali dengan membawa plastik kecil berisi dua helai rambut.


"Ini rambut Cloe yang ada di kuncir rambutnya. Kamu bisa melakukan tes sendiri," ujar Clara.


Almeer mengangguk dan menerimanya, "bisakah saya meminta nomor telepon Moza yang baru, Bu?"


"Maaf, Al. Tapi hanya ini yang bisa ku berikan padamu. Moza melarangku memberikan informasi tentangnya pada siapapun."


Almeer menghela napas kemudian mengangguk pasrah, "terimakasih, Bu. Saya pamit pulang lebih dulu."


"Iya, Almeer ... hati-hati,"

__ADS_1


Almeer membawa plastik berisi rambut Cloe dan bergegas pergi. Tujuannya bukan ke rumah sakit kali ini, tapi ia pergi menyusul istrinya.


Seperti dugaannya, rumah keluarga Sora berbeda dari sebelumnya. Langit sudah memprediksi kedatangannya hingga menempatkan beberapa pengawal disana.


"Tuan Besar melarang anda menemui Nona Sora," cegah salah seorang pria yang berdiri di depan pintu pagar.


"Assalamu'alaikum, Sora!" Teriak Almeer, "Sayang ... kamu dengar aku kan? Tolong keluarlah, kamu harus mendengarkanku!"


"Mas ... sebaiknya anda pulang saja," perintah pengawal yang lain.


"Sora! Ku mohon! Ada yang harus ku bicarakan padamu!" Teriak Almeer mengabaikan ucapan pengawal didepannya itu.


"Aku akan buktikan semuanya! Ku mohon ke—"


Kalimat Almeer terhenti ketika Langit tiba-tiba membuka pintu ruang tamu rumah.


"Kamu mau membuat orang satu blok ini kemari dan mendengar aibmu?!" Bentak Langit.


"Pa! Tolong ijinkan saya mengajak Sora pulang!" pinta Almeer, ia mendesak masuk namun dua pengawal Langit menahannya.


"Pergilah! Jangan buat keributan disini! Aku akan membawa putriku pulang!"


"Tolong jangan lakukan itu, Pa." Pinta Almeer, "Sora! Ku mohon keluarlah!" Teriak Almeer.


Teriakan Almeer terhenti ketika sebuah mobil berhenti didepan rumah, Sky keluar dari mobil itu dan menghampirinya.


"Al ... aku akan mencari bukti untukmu. Kamu bisa pulang," ujar Sky.


"Aku tidak akan pulang tanpa istriku, Sky!" Ia kembali menatap Langit, ia menunjukkan plastik yang ia bawa dari rumah Clara tadi. "Ini adalah rambut Cloe, Pa. Saya akan memastikan sendiri jika saya tidak pernah menyentuh wanita lain."


"Kamu dapat itu darimana?" tanya Sky.


"Aku dari rumah Cloe sebelum kemari," jawab Almeer.


"Sebaiknya kita segera ke lab, Al!" ajak Sky.


"NGGAK!" Bentak Langit, ia berjalan menghampiri Sky dan Almeer kemudian merebut palstik yang ada di tangan Almeer. "Aku tidak percaya dengan kalian!" pekiknya.


"Pa—"


"Tommy!" Teriak Langit, mencegah putranya untuk melayangkan protes.


Tommy menghampiri Langit, "pergi bawa ini ke rumah sakit atau laboratorium terbaik di sini. Aku menunggu hasilnya paling lambat besok,"


"Tes DNA biasanya keluar dalam dua belas hari kerja, Tuan."


"Baik, Tuan."


Langit mencabut paksa beberapa helai rambut Almeer dan memberikannya pada Tommy. "Cepat bawa itu pergi!"


Tommy mengangguk kemudian pergi.


"Dan kalian, pergi dari sini!" Usir Langit.


"Mas! Jangan sembarangan kamu mengusir anakku!" cetus Senja, ia menghampiri suaminya.


"Kamu tidak perlu ikut campur, temani saja Sora." usir Langit pada istrinya.


Senja mengelus dada ketika melihat wajah menantunya terdapat banyak lebam dan juga sudut bibir putranya yang terdapat memar kecil.


"Masuk, Sayang!" pinta Langit, ia masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Sky akan tidur di rumah Aga, Ma ...," ucap Sky, ia tak mau membuat mamanya khawatir.


Senja mengangguk setelah mengusap wajah putranya, "kenapa kamu lakuin ini, Sky? kamu membuat papamu marah ...,"


"Almeer mencintai Sora sejak kecil, Ma. Aku tahu dia tidak mungkin melakukan hal bodoh itu. Aku yakin ini hanya fitnah," jelas Sky.


Senja menatap menantunya, "Mama sendiri bingung harus mempercayai siapa ... hasil tes DNA itu sudah terbukti keasliannya."


"Bagaimana keadaan Sora, Ma? Bisakah saya bertemu dengannya?" tanya Almeer, ia sangat memohon pada ibu mertuanya.


Senja menggeleng, "Sora masih terpukul, Al. Tolong berilah waktu untuknya menenangkan diri,"


"Jika kami berjauhan disaat seperti ini hanya akan membuat jarak kami semakin jauh, Ma. Kami harusnya bersama menyelesaikan semua ini," ujar Almeer.


"Berilah dia sedikit waktu, dia tidak akan berlama-lama jauh darimu."


Almeer menganggukan kepala meskipun berat.


"Obati lukamu, Al. Jika kamu yakin ini semua tidak benar, Mama mohon berikanlah kami bukti. Kamu tahu seberapa besar Sora mencintaimu, kan?"


Pertanyaan Senja seperti tombak tajam yang terhunus tepat di jantungnya. Membayangkan betapa kecewa dan terlukanya Sora padanya saat ini membuatnya susah untuk bernapas.


"Mama masuk dulu, ya?" Senja menatap putranya, "untuk mendapatkan maaf dari papamu, kamu harus buktikan bahwa informasi dari papamu salah, Sky."


Sky menggangguk, "kita akan lihat hasil DNA itu, Ma."

__ADS_1


Sky dan Almeer bergantian mencium tangan Senja sebelum wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah.


"Saya titip istri saya ya, Ma ...." pinta Almeer pada Senja.


Senja mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sky pada Almeer.


"Bantu aku mencari informasi tentang Moza di paris. Aku tidak bisa menghubunginya, bu Clara tidak mau memberikan nomor telepon Moza."


Sky mengernyit, "kamu tidak berpikir itu aneh?" tanya Sky.


"Moza sedang berusaha menghindariku," jawab Almeer.


"Benarkah? Atau kamu yang sedang dihindarkan darinya?"


Almeer mengernyit, "aku tidak berani berpikir buruk pada bu Clara, Sky ... meskipun ada secuil kejanggalan dihatiku."


"Benar kata Aga, kamu terlalu naif ... kamu tidak akan bisa melindungi Sora jika terus seperti ini."


"Aku percaya, Allah akan menunjukkan kebenarannya. Jadi, tolong bantu aku Sky. Kamu punya banyak cara untuk mencari keberadaan Moza."


Sky menghela napas kesal, "urusi saja lukamu," cetusnya kemudian pergi masuk ke dalam mobil.


Almeer masih berdiam diri sebentar menatapi rumah di depannya itu, berharap ia bisa melihat bayangan istrinya disana.


***


Semalaman suntuk Sora tetap terjaga. Ia duduk diatas tempat tidur dengan mukenah masih terbalut ditubuhnya. Matanya tak bisa terpejam, hatinya belum bisa berdamai dengan keadaan. Pilu masih berkecamuk dibenaknya.


"Mbak ... coba lihat, Mbak!"


Suara Lala dari luar kamar menyadarkan Sora dari lamunannya. Ia baru menyadari jika matahari mulai menunjukkan sinarnya.


"Astaghfirullah!" Pekik Senja.


Sora terusik dengan suara mamanya yang sedang terkejut, ia pun membuka mukenahnya dan meletakkan asal diatas tempat tidur kemudian pergi membuka pintu.


Terlihat Senja dan Lala yang sedang berada di anak tangga terkejut melihat pintu kamar Sora yang terbuka.


Sora melihat tantenya yang sedang menyembunyikan ponsel dibalik tubuhnya. "Apa yang terjadi, Ma?" tanya Sora.


"Bukan apa-apa, Sayang," jawab Senja, "kamu udah laper? Mau sarapan?" tanya Senja mengalihkan perhatian putrinya.


Sora tak menjawab, ia menghampiri tantenya dan berusaha merebut ponsel dari tangan tantenya.


"Aku mau lihat, Tante!" pinta Sora.


Lala masih mempertahankan ponselnya. "Gak ada apa-apa, Sora."


"Sayang, jangan seperti ini ...," cegah Senja.


Sora tidak mengindahkan larangan mamanya. Ia berhasil merebut paksa ponsel tantenya dan lekas mengusap layar ponsel yang tak terkunci pola itu.


'Terlahir dari hubungan diluar nikah tak membuat menantu Actmedia belajar dari kesalahan kedua orangtuanya.'


Tangan Sora bergetar hebat ketika ia membaca sebuah artikel online. Jarinya ingin mengusap layar ponsel melihat artikel lainnya, namun ia tak kuasa melakukannya. Bibir bawahnya yang ikut bergetar menahan tangis lekas ia gigit. Air matanya meleleh tak bisa ia tahan.


"Ma ...," ucapnya parau.


Senja hendak memeluk putrinya, tapi Sora lebih dahulu terjatuh tak sadarkan diri.


"Sora!!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Sungkem dulu (salim satu-satu sama pembaca)


Loar beasah komennya! Ngelebihin waktu Al dan Sora ijab qobul.


Sepertinya novel ke empat nanti mulai prolog-tamat ku bikin tragis aja, gak ada part bahagia biar komennya banyak..


(Kabooooor, takut dibakar warga.)


Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.

__ADS_1


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2