ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
36


__ADS_3

Seorang pria berbaju koko biru muda, dengan sarung hitam sedang berlari kecil menunuju ke teras masjid. Senyumnya mengembang lebar ketika para santri menyapanya, bahkan sesekali ia menepuk bahu beberapa santri untuk membalas sapaan mereka.


"Almeer...,"


Detak jantung Sora berdegub lebih cepat ketika menyebut nama pria itu, Meskipun kini pria itu sudah tak terlihat sebab berada di dalam barisan shaf pria dan terhalang pembatas bertirai putih.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Asyhadu allaa illaaha illallaah


Suara Iqamah mengembalikan konsentrasi Sora. Ia melanjutkan memakai mukenahnya yang tertunda dan bersiap melaksanakan Sholat. Ia menarik nafas dan bersiap menghadap sang pemilik kehidupannya.


Empat raka'at sholat usai ia laksanakan, dzikir dan do'a tak lupa ia panjatkan di akhir sujudnya. Tak terlalu banyak do'a yang ia pinta, sebab ia tahu Allah lebih mengetahui yang baik untuknya.


Satu per satu jama'ah masjid telah keluar, Sora lekas melepas mukenahnya, melipat rapi dan memasukkannya dalam tas. Ia merapikan kerudungnya dan menatap keluar jendela menunggu Almeer keluar dari masjid. Ia sudah tak sabar ingin menyapa pria itu dan memberitahunya jika ia juga sedang ada di Malang.


Lumayan lama Sora harus menunggu, hingga Almeer keluar masjid dengan menggandeng seorang kyai yang sudah memasuki usia senja. Para santri yang berada disekitar masjid segera menepi, berdiri dan menunduk tak berbicara sepatah katapun. Mereka bersikap ta'dzim ketika pak kyai dan Almeer berjalan melewati mereka.


Niat Sora untuk menghampiri Almeer pun urung. Ia sadar, ini bukan tempat yang ia bisa seenaknya saja menemui, berbincang bahkan hanya untuk menyapanya.


Kini, ditempat ini, Sora merasa benar-benar kecil. Baru kali ini ia merasa tak sempurna. Melihat Almeer disini begitu sangat di hormati karena ilmu agamanya, sedangkan dia hanya seorang wanita yang terlalu sibuk mengurusi duniawinya hingga terlambat memperbaiki diri dan ilmu agamanya.


Sora berdiri dan keluar dari dalam masjid. Sambil berjalan keluar halaman pesantren, Ia masih terus memandangi Almeer yang dengan sabar mengiri kyai yang sudah renta itu kembali ke dalam rumahnya.


Setelah mendapati pria itu menghilang dibalik pintu rumah, Sora melanjutkan langkahnya keluar gerbang pesantren dan segera kembali ke tempat tinggal oom dan tantenya.


"Assalamu'alaikum...," Salam Sora ketika sudah masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam...," Sahut penghuni rumah.


"Eeh, kak Kinan udah pulang sekolah." Sora menghampiri anak perempuan yang masih berseragam merah putih sedang duduk di karpet ruang tengah.


"Iya, Kak Sora." Kinan mencium tangan Sora dan balik menonton TV.


"Tante," Sora yang duduk dikarpet memanggil Lala yang duduk diatas sofa.


"Ya, Ra. Kenapa?" tanya Lala.


"Jadwal pengajian di masjid pesantren depan kapan aja? kalau mau ikut pengajian daftarnya ke siapa?"


"Hari Senin, Kamis sama Jum'at. Kamu mau ikut pengajian?"


Sora mengangguk, "Sora masih minim ilmu banget, Tante." Ujar Sora.


"Nanti sambil nganter Kinan ngaji, Tante mintakan izin ke ustadzah yang memimpin pengajiannya ya."


"Siap, Tante. Makasih ya...," Sora memeluk kaki Lala dan menyandarkan kepalanya dipangkuan Lala.


"Makan siang dulu, sana. Tante udah siapin tuh."


"Sora ganti baju dulu aja ya, Tante. Sama mau telepon Mama dulu." Sora berdiri dan pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya.


"Assalamu'alaikum, Ma." Sapa Sora ketika panggilan teleponnya sudah terhubung dengan mamanya.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Tadi sampai rumah Malang kok gak langsung kabarin mama, sih? Mama hubungin Mita tadi."


"Iya, Ma. Tadi Sora sholat dzuhur di masjid depan. Gak bawa hape."


"Di pesantren?" tanya Senja.


"Iya, Ma." Sora diam sejenak, "Ma...,"


"Ya, Sayang? Kenapa?"


"Sora tadi lihat Almeer di pesantren. Apa papa tahu Almeer di Malang?"


"Kamu ngobrol sama Almeer?" Senja balik bertanya.


"Enggak, Ma. Sora cuma lihat dari kejauhan aja."


"Ya udah, sebaiknya kamu jaga jarak dulu sama Almeer ya, Sayang..."


"Ma...,"


"Ya?"


"Apa Sora pantas buat Almeer?" tanya Sora.


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?"


"Baru kali ini Sora melihat Almeer di lingkungan pesantren, Ma. Dan dia berbeda dengan Almeer yang selama ini Sora kenal. Disini Almeer terlihat jauh berbeda sekali dengan Sora."


"Kamu dan Almeer memang berbeda sayang, tapi bukan berarti kalian tidak pantas saling bersanding. Apa gunanya pernikahan jika keduanya sama-sama hebat ataupun sama sama kekurangan? jika Allah memang menjodohkan kalian, pasti kalian kelak akan saling mengisi."


"Apa benar seperti itu, Ma. Sora benar-benar merasa kecil saat ini."


"Belajar memperbaiki diri, sayang. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri."


Sora hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.


"Jangan berkecil hati, Sayang. Ingat, Almeer saat ini sedang berusaha mendapatkan restu papa. Jangan sampai kamu kehilangan semangat karena hal ini. Oke?"


"Iya, Ma. Makasih ya, Ma. Udah semangatin Sora."


"Iya, Sayang. Inget pesan mama ya, jaga jarak dulu dengan Almeer. Biar Almeer konsentrasi dengan urusan Kantornya."


"Iya, Ma. Sora tutup teleponnya ya, Ma. Titip salam juga ke Papa. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam,"


Sora memutuskan panggilan teleponnya dan meletakkan ponselnya diatas nakas.


Walau ia sudah mendapat dorongan semangat dari mamanya, namun ia belum bisa meningkatkan rasa kepercayaan dirinya. Saat ini ia seperti kehilangan dirinya yang selalu percaya diri dengan apa yang ia lakukan dan ia miliki. Apa mungkin ini yang dinamakan kenikmatan dunia yang tidak akan pernah dibawa mati?


***


Udara dingin kota Malang membuat Sora bangun terlambat untuk melaksanakan sholat subuh. Beruntung matahari belum mengintip dari balik peraduannya dan ia segera membersihkan diri kemudian melaksanakan sholat subuh.


Suara bunyi-bunyian dari arah dapur menarik perhatian Sora. Usai merapikan mukenahnya ia pun turun ke dapur. Ada Mita dan Aura di dapur sedang membantu tantenya memasak.


"Eh, tumben udah bangun?" Lala terkejut dengan kehadiran Sora.


"Iya dong, Tante. Masa' anak gadis bangunnya siang-siang." Jawab Sora, ia duduk di kursi meja makan sambil melihat Aura yang sedang memotong-motong sayuran.


"Anak gadis apa? udah dewasa kamu itu, waktunya nikah." Goda Lala, tangannya sibuk mengiris bawang-bawangan.


"Do'ain ya, Te...,"


"Iya, Tante do'ain ponakan tante bisa nikah sama cucunya Kyai Abdullah."


"Kyai Abdullah siapa, tante?" tanya Sora.


"Lah, ya kakekanya orang yang sering kamu cari ke pesantren itu."


"Kalo gitu ya aku aamiin-kan, Tante." Sahut Sora.


"Aura, sini! Aku pengen coba potong-potong sayurnya." pinta Sora.


"Jangan, Nona."

__ADS_1


"Udaaah, sini. Aku juga mau belajar masak." Sora merebut pisau dan sayur dari tangan Aura.


Aura memberikan talenannya di depan Sora, ia bersiap untuk memotong wortel disana. "Tepis seperti ini, Nona." Sora menunjukkan hasil wortel yang sudah ia potong.


"Iya iya, udah ngerti aku." Ucap Sora.


Sepotong, dua potong...


"Maaf, Nona. Itu terlalu tebal," Ujar Aura.


"Iya..., bentar...," Sora lebih berhati-hati lagi.


Sepotong, terlalu tipis. Dua potong, terlalu tebal. Tiga potong,


"Aarrgh!!" Pekik Sora.


"Nona!!" Aura sigap mengambil tisu dan dan menutup jari sora yang teriris pisau.


"Tuh, kaan... Terluka kan tangan kamu, Ra." Lala pergi mengambil kotak obat.


"Aduuuh, darahnya banyaaak tante...," Sora mengernyit ketakutan melihat darahnya yang merembes di tisu yang terbalut di lukanya.


"Ayo cuci dulu lukanya biar bersih." Lala mengajak Sora ke wastafel dan mencuci jari telunjuk kiri Sora dengan air mengalir.


Sora memalingkn wajahnya, bersembunyi di balik punggung Lala karena takut melihat darahnya sendiri.


"Harus di jahit nih, Ra." Ujar Lala.


"Hah!!" Pekik sora terkejut.


"Bercandaaa...," Lala tertawa.


Mita membantu mengeringkan tangan dan jari Sora dengan tisu lalu dibalut dengan plester.


"Hmmmh, Putri kerajaan sekalinya masuk dapur bikin heboh." Ujar Lala. ia mencubit gemas pipi Sora.


"Gimana nih kalau nanti Sora gak bisa masakin suami Sora, Tante." Keluh Sora.


"Nanti kalau udah waktunya juga bakal bisa sendiri." Lala kembali ke dapur. "Kamu mending siap-siap aja buat ke tempat kerja, nanti kalau Aga jemput—"


"Tunggu-tunggu!" Sora memangkas kalimat tantenya, "Kenapa Aga harus menjemputku?"


"Trus kamu mau ke tempat kerja pakai apa?" tanya Lala


"Motornya, tante...," Ia menengok ke arah garasi mobil yang persis didepan dapur.


"Trus tante kalau antar jemput adek adek kamu gimana? udah, nurut aja berangkat sama Aga sampai mobil kamu datang."


Sora hanya berdiam pasrah. Ia kembali ke kmarnya dan bersiap-siap untuk ke tempat usaha mamanya.


***


Jarum jam sudah menunjuk diantara angka tujuh dan delapan, kendaraan di depan rumah Lala sudah hilir mudik mengantar para pengendaranya ke masing-masing tujuan mereka. Mobil Aga sudah terparkir tepat didepan rumah Lala, pria yang kini mengenakan kemeja merah maroon dan celana kain hitam itu turun dari mobilnya dan menghampiri Sora yang sudah menunggunya sejak tadi di teras rumah.


"Lama, ih!" Ucap Sora.


"Hati-hati ya, Ga." Ujar Lala dari pintu rumah.


"Iya, Tante." Jawab Aga.


"Stop!!" Sora menghentikan langkah Mita dan Aura yang bersiap untuk mengikutinya.


"Kenapa, Nona?" tanya Mita dan Aura.


"Kalian dirumah aja, gak usah ikutin aku." Pinta Sora.


"Tapi kami harus mengikuti anda kemana pun, Nona." Tolak Mita.


Mita dan Aura saling memandang, keduanya tak setuju dengan pendapat Sora.


"Gak apa, kalian disini aja selama aku di Malang. Kalau aku di Surabaya, kalian bisa ikuti dia kemanapun." Ujar Aga.


"Udah, dirumah aja ya mbak mbak cantik." Sora kegirangan. "Tante! Sora berangkat ya. Daagh Imo, kakak cantik berangkat ya." Sora melambaikan tangannya pada tante dan keponakannya.


"Kenapa jarimu?" Aga menarik tangan kiri Sora.


Sora mencoba menarik kembali tangannya, namun Aga terlalu erat menahannya. "Lepasin, Ga!"


"Tadi Sora mau belajar masak, tapi ya gitu itu jadinya." Lala coba menjelaskan.


"Jangan lakuin yang kamu gak bisa, jadi dirimu sendiri aja udah cukup." Kata Aga, khas dengan wajah dinginnya.


Sora menarik paksa tangannya, "Aku harus belajar masak buat suamiku nanti!" Kata Sora.


"Tenang, aja. Nanti ku kasih asisten rumah tangga yang profesional buat bantu kamu masak dirumah." Kata Aga sambil membuka pintu mobil untuk Sora.


"Pede banget sih? siapa juga yang mau jadi istrimu." sambil masuk ke dalam mobil, Sora memandang sinis Aga.


Aga menutup pintu mobil setelah memastikan Sora sudah duduk dengan baik. Ia tersenyum pamit pada Lala sebelum masuk ke dalam mobil. Kemudian ia melajukan mobilnya meninggalka rumah Lala.


"Jaga dirimu baik-baik, jangan biarkan ada luka di tubuhmu." Kata Aga.


"Tubuh tubuhku, ngapain kamu yang repot. Urus aja urusanmu sendiri." Sahut Sora, "Habis pintu keluar pelan-pelan, Ga!" Pinta Sora.


Aga tak menjawab, ia memperlambat laju kendaraannya sebab ada polisi tidur tepat di pintu keluar perumahannya. Bukannya menuruti kemauan Sora, Aga justru mempercepat laju kendaraannya ketika melewati pintu gerbang pesantren Al Mukmin.


"Ga!!" Sora memukul keras lengan Aga. "Nyebelin banget, sih! Seneng banget lihat orang kesal."


"Kalau aku lambatin, kamu bakal lihat pesantren itu dan mengenang kisah cintamu. Aku gak mau kesal karena kamu mikirin cowok lain." Jawab Aga.


"Iih, emang otakku isinya cuma Almeer doang! Jangan ngarep deh ada kamu." Sora memalingkan wajahnya keluar jendela.


Aga tersenyum kecil, "Pelan-pelan aku akan berusaha mengambil alih semuanya."


"Diem aja, Ga. Jangan bikin aku tambah badmood."


Aga menurut, ia kembali diam dan fokus mengendarai kendaraannya.


Tak butuh waktu lama untuk Aga dan Sora sampai di tempat usaha Senja. Tak banyak berubah dari terakhir Sora kesana beberapa tahun lalu. Pengunjung masih selalu ramai, walau toko masih belum dibuka, namun antrian sudah terjadi diteras toko.


Sora masuk ke dalam toko bersama Aga lewat pintu karyawan. Beberapa karyawan sudah berdiri menyambut kedatangan Sora. Hal itu justru membuat Sora jadi segan.


"Selamat datang di Oriana Advertising, Sora." Kata Mia menyambut Sora.


Tempat usaha Senja yang semula memakai nama Sky dan Sora, kini berganti memakai nama depan Mina sebab Sky tidak mau namanya muncul dimana-mana. Pria itu memang selalu ribet dengan hal-hal kecil seperti itu.


"Tante Mia, ngapain bikin ginian sih? kan Sora kesini cuma bantu-bantu aja." Kata Sora.


Mia tersenyum, "Tante gak yakin kalau cewek cewek disini ini ngumpul karena nyambut kamu, pasti mereka berdiri disini mau ketemu Sky kalau gak Aga ini." Mia tersenyum menyindir karyawan wanita disana.


"Kami nyambut Mbak Sora, Bu..." Seseorang meralat candaan Mia.


"Haduuuh, kalian jangan suka sama Sky apalagi dia." Sora melirik Aga, "Mereka itu pohon pisang, punya jantung doang hatinya gak ada..., nyesel kalian ntar."


"Aku punya hati Sora, kamu aja yang gak peka."


"Wuuuuuuuuuhhhhh...," Sahut para karyawan mendengar kalimat Aga pada Sora.


"Gila, kamu!!" Sora mengumpat tanpa suara, ia menatap kesal pada Aga. Bukannya merasa bersalah, tapi pria itu malah menyeringai.

__ADS_1


"Yuk, ke atas." Ajak Mia pada Sora. "Ayo, kembali kerja. Lihat orang gantengnya udah, gak bakal dilirik kalian." Kata Mia pada Karyawannya.


Semuanya pun membubarkan diri dan kembali keposisi mereka masing-masing.


"Aku ke kantor dulu, Ra." Pamit Aga.


"Terserah kau lah!" Kata Sora tak peduli dan meninggalkan Aga.


Pria itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah Sora. Ia pun keluar dari toko dan Sora mengikuti Mia untuk naik ke ruangannya.


Di ruangan Mia, Sora mendapat banyak penjelasan tentang Bagaiman pekerjaannya. Hari ini Sora benar-benar menjalani tour di tempat kerja mamanya. Mia sendiri yang menjelaskan tiap detail masing-masing jabatan, tugas bahkan sampai alat-alatnya.


Seperti biasa, kemampuan Sora yang terbatas membuat Mia harus berulangkali menjelaskan apapun yang Sora belum pahami.


"Kalau di bawah ini memang untuk tempat desain dan konsultasi customer. Sebelah kanan ini bagian customer yang masih mau bikin desain, sebelah kiri itu buat customer yang sudah punya file siap cetak." Mia menjelaskan dari anak tangga.


"MasyaAllah!" Pekik Sora.


"Kenapa, Sora?" tanya Mia.


Sora melihat seorang Almeer sedang berdiskusi dengan salah satu pegawai di barisan meja komputer yang memiliki file siap cetak. Sora sedikit bersembunyi dibalik punggung Mia.


"Kenapa sih, Sora?" Mia semakin penasaran.


"Sst, bentar tante."


Sora memperhatikan Almeer yang sudah berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Setelah mendapati Almeer sudah pergi, Sora menghampiri pegawai yang melayani Almeer barusan.


"Kak, cowok tadi itu bikin apa?" tanya Sora.


"Mau cetak brosur, Mbak."


"Lihat dong." Sora menatap layar monitor yang ada didepan pegawai pria itu. Meneliti satu persatu tulisan hingga bertemu alamat kantor Almeer.


Ia mengambil ponselnya dan memotret layar alamat kantor Almeer tersebut. "Thanks ya, Kak." Kata Sora kemudian ia kembali lagi ke tempat Mia.


"Suka ya ama cowok tadi itu?" Goda Mia.


Sora tersenyum malu, "Yuk ah, Tante. Lanjut lagi office tour-nya."


Mia tersenyum, dan ia melanjutkan penjelasannya pada Sora.


***


Sora pulang dari kantor tepat sebelum adzan magrib, Aga tak mampir sebab salah seorang pemilik rumah tak bersedia menerima kunjungan darinya.


"Sora, habis isya' ada pengajian tuh di masjid pesantren, mau ikut kah?" tanya Lala.


"Boleh, tante ikut?" tanya Sora.


"Ini buat muslimah yang masih gadis-gadis ini, Ra. Sebulan cuma dua kali aja. Pembicaranya juga masih muda, lulusan Kairo. kamu pasti suka."


"Tapi malu, Tante. Sora gak ada teman."


"Ih, gak apah. Nanti disana juga ada teman. Tadi tante udah bilangin kok ke Umminya Kanaya kalau kamu mau ikut pengajian di masjid."


"Kanaya siapa, tante?" tanya Sora.


"Yang jadi pembicara di pengajian nanti, Ra."


"Oooh, oke oke, Tante. Demi ilmu, Sora pantang malu."


"Ya udah, mandi gih. Sholat trus makan ya, tante siapin."


"Oke, Tante. Sora ke kamar dulu ya...,"


"Iya...,"


Sora pun pergi ke kamarnya, mandi dan melaksanakan Sholat maghrib kemudian lanjut makan bersama Lala, Mita, Aura, Kinan dan Imo.


Usai makan malam, Sora bersiap untuk pergi sholat Isya' di masjid sekaligus lanjut pengajian.


Seperti biasa, suasana masjid ramai ketika memasuki waktu sholat. Sora melirik ke sebuah rumah yang ada diantara gedung santri putra dan putri. Mencoba mencari tahu apa pria yang ingin sekali ia temui ada disana.


"Assalamu'alaikum..., Mbak Sora yang dari Jakarta, ya?" tanya seorang wanita muda berkerudung merah muda, cantik dan senyumnya manis dengan sebuah gigi gingsulnya.


"Wa'alaikumsalam, kok kenal aku?" tanya Sora to the point.


"Soalnya wajah mbak belum pernah saya lihat disini, jadi pasti mbak orang yang dimaksud ummi saya."


"Kanaya?" tanya Sora.


"Iya, Mbak. Betul, saya Kanaya." Ia mengulurkan tangan pada Sora.


Sora menyambut tangan Kanaya, "Sora." ujarnya.


"Ayo masuk, Mbak." Kanaya mengajak masuk ke dalam masjid.


Mereka berdua duduk berdampingan di dalam masjid, membuka percakapan kecil sebelum iqomah terkumandang.


Kanya lebih muda dua tahun dari Sora, ia baru menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas islam ternama di Cairo. dan baru kembali ke Indonesia setahun terakhir ini. Sekarang ia sedang mengamalkan ilmunya di pesantren putri Al Mukmin dan menjadi pembicara pengajian remaja muslimah.


Percakapan mereka terhenti ketika sholat. Usai sholat pun Kanaya mangajak Sora pergi ke lantai dua masjid dimana pengajian akan di mulai.


Sekitar dua puluh remaja muslimah duduk melingkar disana, semuanya kusyuk mendengarkan materi dari Kanaya. Sora dibuat kagum dengan cara Kanaya bertutur kata, apalagi ketika Kanaya melantunkan salah satu ayat dari Al-Qur'an. MasyaAllah merdunya, batin Sora.


Pengajian selesai sekitar pukul delapan malam. Semua turun kecuali Kanaya yang masih berdiskusi dengan salah seorang muslimah. Sora pun keluar dari masjid, ia masih melirik rumah pemilik pesantren itu berharap bisa sekilas melihat wajah Almeer. Tapi sayangnya, dia masih belum mendapat kesempatan lagi hari ini.


Ia pun bergegas keluar masjid. Ingatannya kembali pada sosok Kanaya yang menyampaikan materinya tanpa menggurui. Apa bisa dia belajar Agama bersama Kanaya? pikirnya.


Sora menghentikan langkahnya tepat sebelum memasuki pintu masuk perumahannya. Ia kembali ke arah pesantren, menemui Kanaya agar bisa menjadi pembimbingnya untuk lebih mengenal agamanya.


Namun. langkahnya tiba-tiba saja terhenti di depan pintu gerbang ketika ia mendapati Kanaya sedang berbincang dengan seorang pria yang sangat ia kenali, Almeer.


Kanaya berbincang dengan terus mengembangkan senyum lebarnya meskipun ia menundukkan pandangannya, dan Almeer juga tersenyum ramah menanggapi Kanaya.


Ada perasaan aneh di benak Sora. Ia merasa tak senang melihat kedekatan mereka, namun ia juga merasa tak pantas jika ingin cemburu. Wanita didepan Almeer itu lebih, lebih dan sangat lebih baik darinya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO PUENTING TING TING!!


MAKASIH YA SIAPAPUN YANG SUDAH MAU MENYUMBANGKAN POIN KALIAN UNTUK ALINEA CINTA. BERKAT KALIAN MAS ALMEER NANGKRING DI TIGA BESAR PERIODE KEMARIN.


TERIMAKASIH BANYAK, HARI INI UP NYA AKU PANJANGIN.


(awas kalo masih ada yang bilang kurang panjang dan gantung, ku pasangin pita paru paru kalean pake usus duabelas jari kalean.)


...

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf kuh.


__ADS_2