
Malam sudah semakin larut, suara musik sudah terhenti beberapa jam yang lalu. Keadaan di halaman rumah Almeer hanya tinggal orang-orang yang sedang membereskan barang-barang milik yang telah digunakan untuk acara resepsi pernikahan Ameera dan Haqy tadi.
Penghuni rumah Almeer sebagian sudah terlelap, hanya kedua orangtua Almeer saja yang masih terjaga. Ruby sedang mengobati luka putranya akibat perkelahian bersama Aga tadi.
"Alhamdullillah jika kesalahpahaman kalian sudah selesai, Al. Lain kali, dengan wanita siapapun itu kamu harus tetap menjaga jarak. Ada hati yang harus kamu jaga sekarang." Kata Hiko yang duduk di kursi meja kerja putranya.
Almeer yang sedang duduk diatas tempat tidur hanya mengangguk saja, ia lebih merasakan ngilu ketika jemari mamanya mengoleskan sebuah cream pada rahangnya yang memar.
"Wanita itu memang selalu pakai hati, susah jujur, memaksa kaum pria untuk peka. Giliran kita udah peka, coba nebak isi hatinya, mereka malah mengelak dan berpura-pura baik-baik saja. Setelah kita menganggap seperti itu benar, mereka malah marah ke kita." Hiko menggelengkan kepalanya, dari dulu ia memang menganggap wanita makhluk yang rumit.
"Kamu sedang membicarakanku, Mas?" tanya Ruby, ia melirik sinis pada suaminya, membuat Almeer terkekeh kecil.
"Enggak, Ruby. Aku membicarakan wanita lain...," Elak Hiko.
"Wanita lain yang mana, Mas? apa aku bukan lagi satu-satunya wanitamu?" tanya Ruby dengan wajah tegasnya.
"Nah looo, wanita yang mana, Pa?" Goda Almeer.
"Dulu, By. Dulu seeeeekali, waktu masih muda dulu...," Jawab Hiko mencari-cari alasan.
"Bohong itu, Ma. Jangan-jangan papa selingkuh ama mbak Ijum yang jualan sayur di pinggir masjid itu, Ma." Tambah Almeer.
"Ngawur aja kamu! Mana mau papa sama yang udah tua-tua gitu."
"Oooh, jadi kalau masih muda kamu mau, Mas?" Ruby menghampiri suaminya dan mencubit pinggang Hiko.
"Aduuuduuuh, ampun Ruby..." Pinta Hiko kesakitan, "Mau yang muda-muda juga buat apa kalau di hatiku cuma penuh sama nama-nama kamu, By."
"Ish! Udah tua juga mulutnya masih jago ngegombal!" Ruby mencubit pelan bibir suaminya.
Hiko mendongakkan kepalanya dan tersenyum gemas menatap istrinya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Ruby kemudian menariknya agar lebih mendekat padanya. "Kan gombalin istri sendiri, Ruby." ujarnya.
"Ehem! ada remaja yang baru beranjak dewasa nih disini..., tolong batasi keromantisan anda tuan dan nyonya." Almeer memandang usil kedua orangtuanya.
"Papamu ini memang gak tau tempat!" Ruby menepuk bahu Hiko dan melepaskan paksa tangan Hiko dari pinggangnya.
"Biar kamu juga belajar gimana nanti memperlakukan istrimu, Al." Sahut Hiko.
Almeer menyebikkan bibirnya dan mengangguk pasrah.
"Udah, Mama ke kamar dulu ya. Kamu cepat istirahat, jangan tidur malam-malam." Ruby mengusap lembut bahu putranya kemudian pergi meninggalkan kamar Almeer.
"Sudah berapa persen persyaratan pak Langit yang sudah kamu penuhi, Al?" tanya Hiko, pembicaraan mereka berubah serius seketika.
"Baru enam puluh persen, Pa. Itu pun karena Sora diam-diam membantu mempromosikan kantor Al kemana-mana. Al merasa itu bukan murni kemampuan Al, Pa." Jawab Almeer, wajahnya berubah resah.
"Waktumu kurang dari tiga minggu, Al. Kalau kamu bersikeras tidak mau menerima bantuan orang lain, Papa ragu kamu bisa menyelesaikan semuanya."
Almeer terdiam, ia menatap kosong ke lantai kamarnya. Dia sadar jika berat akan menyelesaikan semuanya sendiri, tapi ia juga enggan menerima bantuan dari siapapun. Ia sedang mengharapkan keajaiban dari Tuhannya atas usaha yang telah ia lakukan.
"Apa rencanamu jika kamu gagal, Al?" tanya Hiko.
Almeer tersenyum masam dan mengangkat kedua bahunya, "Aku harus berhasil, Pa. Dengan tanganku sendiri."
Hiko bisa melihat jika putranya itu sedang ragu dan resah, tapi ia juga tahu pria itu tak akan menyerah begitu saja pada keadaan.
***
Mentari pagi mulai meninggi, suara burung-burung mulai terdengar nyaring di halaman rumah Almeer. Tenda-tenda yang sudah menutupi halaman rumahnya seharian kemarin sudah terlepas, meninggalkan rangka-rangka besi yang masih berdiri tegak disana.
Almeer baru saja menyelasaikan sarapan paginya bersama keluarga, saudara-saudaranya dan keluarga baru adiknya. Bukannya pengantin baru yang menjadi trending topic pagi ini, melainkan wajahnya yang lebam usai baku hantam semalam.
"Ma, Al ke rumah Sora sebentar, ya. Mau pamit sekalian."
"Ciyeeeeeee....,"
Ucapan Almeer bersambut godaan usil dari suadara-saudaranya.
"Habis ini kamu mantu lagi, Ko!" Goda Iqbal pada Hiko.
"Dia nikahin aku dulu, Gus. Baru nikahin Al..." Sambar Genta.
__ADS_1
"Gak, lah! Nunggu Oom Genta nikah bisa keberu dibawa lari orang lain calon istriku." Sahut Almeer.
"Ooh, iya. Aku sampai lupa kalau kamu belum nikah, Ta." Ujar Iqbal disambut tawa keluarga lainnya.
"Jangan lama-lama, Al. Nanti ketinggalan pesawat loh." Ruby mengingatkan.
"Iya, Ma. Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...,"
Almeer pun menuju ke rumah Sora, beberapa sopir keluarga itu sedang mencuci mobil-mobil mereka. Almeer tak lupa menyapa sebelum masuk ke dalam rumah Sora.
"Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam, mas Almeer." Uci yang sedang membersihkan teras rumah menyambut salam Almeer.
"Saya mau ketemu Sora, Bi. Bisa?" tanya Almeer.
"Iya, Mas. Monggo masuk, Mas." Ajak Uci, Almeer mengikuti langkah Uci masuk ke dalam rumah.
"Non, ada mas Almeer..." Uci mengajak Almeer ke ruang tengah, dimana Sora dan saudaranya sedang berkumpul.
"Hai, Al!" Sapa Sora semangat, ia melambaikan tangan kirinya untuk mengajak Almeer duduk di sofa.
"Rajin banget sepagi ini udah ngapel." Ujar Sky.
Almeer duduk di dekat Sora, namun sofa mereka terpisah. "Aku harus kembali ke Malang jam sembilan nanti." Jawab Almeer.
"Jangan jutek gitu napa sih? Habis ini kan Almeer jadi saudaramu juga, Sky." Protes Sora.
"Ah, iya. Kalau kalian jadi nikah, kau panggil aku kakak, ya?" Sky tersenyum licik, "Ka-kak!" Sky mengeja panggilan Almeer padanya kelak.
"Ish ish ish... Kalau kamu jadi nikah sama Meera, kamu yang—"
"Hush!!" Sky langsung menutup mulut Sora agar tak melanjutkan ucapannya.
Almeer mendorong tangan Sky agar terlepas dari mulut Sora, "Jangan kasar, saudaramu sedang terluka."
"Jangan ngomong macam-macam lagi!" Ancam Sky, Ia kembali ke tempat duduknya semula.
Sora menjulurkan lidahnya, mengejek Sky. "Al, sebenarnya Sky itu suka Ameera." Ucapnya cepat, memberitahu rahasia besar Sky.
"Sial!" Sky menatap kesal saudara kembarnya itu. "Kalau aja gak sakit, habis kau!"
"Untung aja Meera menikah dengan Haqy." Ujar Almeer.
"Jodohin ama Kanaya aja, Al. Dia baik kok, walau mulutnya pedas. Aku jamin dia perjaka ting ting, nyentuh cewek aja gak pernah" tanya Sora.
"Kau sedang berusaha menjualku lagi?" Protes Sky.
"Kanaya cantik, tau! Gak kalah sama Ameera." Bujuk Sora.
"Belajar dulu tuh Jurumiyah, Aqidatul Awwam, Amsilatu Tasrifiyah, Safinatun Najah, Ta'limu Muta'alim sama Fatul Qarib. Ntar ku kenalin ke Abi-nya." Kata Almeer.
"Apa itu, Al?" tanya Sora.
"Kitab-kitab yang biasa dipelajari santri, Kak" Mina bantu menjawab.
"Aahh, anak santri ya...," Gumam Sora.
"Belajar, Sky. Aku mendukungmu... Kakak Almeer juga akan mengajarimu." Goda Sora.
"Mulutmu, Ra! Kasih Aga sana, daripada cintanya gak kesampaian."
"Dia kan belum nikah, Sky. Belum tentu cintaku gak kesampaian."
Jawaban Aga mematik amarah Almeer. Kedua pria itu saling menatap tajam dan saling menunjukkan ketidakramahannya satu sama lain.
"Udah ya udah..., jangan mulai macam-macam."
Sora mencoba memangkas bibit pertikaian antara Almeer dan Aga, ia menarik lengan baju Almeer untuk mengalihkan perhatiannya dari Aga. Sora menatap pria itu untuk tidak terpancing ucapan Aga dan Almeer menurutinya.
__ADS_1
"Aku ingin bicara berdua denganmu sebelum aku kembali ke Malang, Ra." Pinta Almeer.
"Oke, kita jalan-jalan kemana?" tanya Sora semangat.
Almeer tertawa, "Gak kemana-mana, di sini aja."
"Ooh, gitu..." Cetusnya kecewa.
"Ayo Dek, pergi..." Ajak Sky, "Kita lagi di usir secara halus." Sky dan Mina berdiri meninggalkan ruang keluarga.
Perhatian Almeer dan Sora sama-sama tertuju pada Aga yang tak lekas beranjak dari duduknya.
"Ga, kamu mau jadi orang ketiga disini?" sindir Sora.
"Kalau itu bisa mendapatkanmu kenapa tidak?"
Jawaban Aga kembali membuat Almeer geram hingga pria itu hampir meninggalkan tempat duduknya untuk menghampiri Aga, tetapi Sora lebih sigap mencegahnya.
"Ga, pergi deh..." Pinta Sora.
Aga menatap remeh Almeer, menyuguhkan smirk kecil di bibirnya kemudian berdiri meninggalkan Aga dan Sora.
"Dia lama-lama sangat mengusik dan mengesalkan." Gumam Almeer.
"Kamu baru sehari, aku belasan tahun menahan kekesalan padanya." Balas Sora. "Udah, jangan bahas Aga. Kamu mau ngomingi apa, Al?" tanya Sora.
"Aku ingin kamu fokus pada kesembuhanmu dan aku ingin kamu tidak terlibat lagi dalam pekerjaanku, Ra." Pinta Almeer, wajahnya terlihat serius.
"Aku suka membantumu, Al. Bukankah jika kita mengerjakannya berdua akan lebih ringan?"
Almeer menggeleng, "Biarkan aku menyelesaikan sendiri, Ra. Kamu sudah terlibat terlalu jauh, sampai seperti ini. Aku takut papamu akan salah paham."
"Al...."
"Sebentar saja, bersabarlah sebentar saja."
"Berapa banyak kekurangannya Al?" tanya Sora.
"Kurang lebih empat puluh persen."
"Waktumu tinggal berapa hari Al? hanya dua minggu lagi...."
Almeer menggeleng, "Enam belas hari, Ra." Ralat Almeer, ia menatap lekat-lekat wanita didepannya itu. "Percayakan semuanya padaku, aku pasti bisa menghalalkanmu."
"Bagaimana jika tidak bisa?" tanya Sora, sorot matanya penuh kekhawatiran.
Almeer menipiskan bibirnya dan menghela napas berat. "Itu artinya Allah belum menjodohkan kita."
"Al....," Sora menentang ucapan Almeer barusan.
"Bismillah, Ra. Aku berusaha sebaik mungkin untuk menghalalkanmu. Sisanya, aku berpasrah pada Allah."
Sora diam, ia tak bisa beradu argument lagi dengan Almeer. Entah kenapa. terlalu berat membayangkan jika saja Almeer tak dapat memenuhi syarat yang diberikan papanya.
Pria itu menatapnya lembut, memberi keyakinan untuk menyerahkan semuanya pada sang pemilik takdir.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku
__ADS_1