
Suara ketukan dari heels di lantai menggema di sepanjang koridor lantai tiga siang itu. Suasana sepi lantai tiga saat jam istirahat membuat suara yang terdengar sedang terburu-buru itu begitu jelas hingga ke sudut ruangan Sora yang berada di paling ujung koridor.
Sora sudah menantikan siapa orang yang berlarian itu dan dugaannya betul, Laura yang sedang berlarian menghampiri mejanya.
"Ra!" Laura mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal, "Bukan bukan, Bu Sora...," Ralat Laura.
"Apa-an sih, La. Bak buk bak buk, geli tahu dengernya. Panggil aku Nona muda."
"Ih, udah ketuaan di panggil Nona!" Sahut Laura.
"Hahahahaha..., Jahat kamu." Keluh Sora.
"Kamu tuh yang lebih jahat, bisa-bisanya bohongin aku!" Keluh Sora.
"Gimana lagi, sama papaku gak boleh. Kalau ketahuan aku anak papaku, pasti perlakuan kalian beda. Dan aku gak bisa kerja secara profesional dong."
"Iya, sih. Pantes aja dari awal aku aneh banget lihat cara kerja kamu..., ternyata Nona muda pemilik Actmedia toh." Goda Laura.
"Iyaaa..., Hahaha."
"Yuk, makan siang. Menu siang ini kesukaan kamu." Ajak Laura.
Sora menggeleng.
"Kenapa? tumbenan?" tanya Laura.
"Nungguin yang di dalam ini...," Kata Sora.
"Hah! Gak cuma penampilan kamu aja yang berubah, Ra. seleramu juga ikut berubah."
"Idih! jangan mikir macem-macem, La. Yakale aku nungguin bos keling."
"Trus?"
"Nungguin calon imamku." bisik Sora, membuat Laura kebingungan.
Ceklek!
Suara pintu ruangan Prany terbuka, dari sana keluar beberapa orang manajer dan ketua tim dari masing-masing divisi Actmedia. Mereka langsung menuju ke arah lift untuk segera makan siang.
Dan pria yang sudah ditunggu-tunggu sora muncul bersama dengan bosnya.
"Loh, kalian tidak makan siang?" tanya Prany.
"Ini mau makan siang, Pak." Jawab Laura.
Almeer menatap Sora seakan bertanya kenapa belum makan sianga, namun sora menunjuk ponselnya, memberi isyarat agar Almeer membuka pesannya.
Almeer Membuk ponselnya, ada pesan whatsapp dari Sora.
/Kita makan siang sama-sama ya, Al./
"Ya udah, kalau gitu kami makan siang dulu ya." Kata Prany, "Sora, setelah makan siang saya lanjut ke kantor pak Almeer."
"Saya gak diajak?" tanya Sora.
"Gak usah, kamu disini aja."
"Tapi saya mau ikut aja."
"Gak apa, kamu disini aja. Kan banyak kerjaan kamu yang belum kelar. Manajer lain aja gak bawa sekretarisnya, masa' saya bawa sendiri."
Sora memanyunkan bibirnya, ia melihat layar ponselnya menyala dan ada pesan masuk dari Almeer.
/Pak Prany dan manajer lainnya mengajakku makan siang sama-sama, maaf aku gak bisa makan siang denganmu. Cepet makan siang, ya./
Sora menatap Almeer yang sedang menatapnya dengan raut wajah menyesal. Sora memberikan senyum simpulnya dan mengangguk.
"Maaf ya, gak bisa ajak kamu, Sora." Ujar Prany, dia mengira senyum dan anggukan Sora barusan respon dari ucapannya.
Sora hanya melirik sinis dan mengangguk.
"Kami berangkat dulu, ya." pamit Prany melangkah pergi.
"Aku pergi dulu ya, Ra." Kata Almeer.
Sora hanya mengangguk.
Almeer dan Yota mengikuti langkah Prany meninggalkan Sora dan Laura.
"Beneran pak Almeer calon imam kamu, Ra?" tanya Laura.
"Pengennya sih, La. Hehehehe."
"Ada tapinya gak nih?" tanya Laura.
"Ada..., standart calon istri dia tuh Siti Khadijah, La. Aku mana ada seujung kukunya beliau."
"Yaelah, Ra. Semua cowok muslim juga pasti ngarep punya istri seperti beliau. Tapi di zaman seperti ini mana ada?"
"Iya dia juga bilang gitu, sih. Tapi tetep aja aku minder, yang ngajak ta'aruf dia ukhti-ukhti dan remaja masjid, Ilmu agamanya udah tinggi. Nah, aku? Dari orok sampai umur seperempat abad gini maennya di Mall."
"Walau saingannya lebih lebih dari kamu kalau dia sukanya ama kamu gimana? Gak ada yang tau kan? Udaaaah, coba aja deh, kali aja jodoh."
"Kalau di tolak gimana?"
"Ya udah, cari yang lain aja."
"Tapi aku sukanya ama diaaa..." Rengek Sora.
"Ampun, Ra. Udah yuk, makan aja. Ngeladeni. kamu bisa mati kelaparan aku." Laura menarik tangan Sora untuk meninggalkan meja kerjanya.
***
Kesibukan Sora di kantor sore ini berakhir sudah, bersama Aga ia kembali pulang ke rumahnya. Sampai di depan rumah, Aga ikut turun.
"Kenapa ikut turun?" tanya Sora.
"Ada yang ingin tuan muda bahas dengan saya, Nona." Jawab Aga.
"Eh, Ga. Beberapa menit lalu kamu ngomong gak formal banget, sekarang ngomong formal. Gak canggung lagi. Bisa gitu gimana caranya sih?" tanya Sora.
__ADS_1
"Saya hanya bertindak profesional saja, Nona. Anda tidak perlu mencobanya, itu akan merepotkan untuk anda. Cukup jadi diri sendiri saja."
"Maksudmu aku ****' gitu?"
"Saya tidak terbiasa menggunakan kalimat seperti itu, Nona."
"Iya, bahasamu halus tapi maknanya bikin kanker hati!" Ujar Sora sambil. menutup pintu mobilnya.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah, tak lupa ia mengintip halaman rumah Almeer. Mencoba mencari tahu apa pria itu sudah pulang atau belum. Tapi ternyata motornya masih belum ada, itu berarti Almeer masih belum pulang. Ia pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam," Terdengar jawaban salam dari beberapa orang di dalam.
Sora dan Aga menuju ke ruang tengah rumah. Keluarga Sora berkumpul semua sore itu. Sora langsung mencium tangan kedua orangtuanya secara bergantian dan Aga duduk disamping Sky.
"Tumbenan kumpul semua gini?" Sora duduk disamping mamanya.
"Kan besok kita udah balik ke Jakarta, Sayang." Jawab Senja.
"Cepet banget? Kenapa gak nunggu semingguan gitu, Ma?" Rengek Sora.
"Kasihan Papa, Sayang. Kerjaannya banyak yang ketunda." Senja memberi alasan.
"Kamu udah pamit ke teman-temanmu? gak bikin acara perpisahan?" tanya Langit.
"Pamit? buat apa, Pa?" Sora balik bertanya.
"Kan hari ini kamu terakhir bekerja, besok kita kan balik ke Jakarta. Cuma Mina aja yang disini." Jawab Langit.
"Jadi yang dimaksud Mama dengan 'kita' itu termasuk aku?" tebak Sora.
"Iya, sayang."
"Enggak, aku gak mau pulang ke Jakarta. Aku disini aja." Tolak Sora.
"Sayang..., kamu lebih aman tinggal bersama kami, Papa sama Mama lebih mudah ngawasin kamu, ngawasin orang-orang disekitar kamu." Jelas Senja.
"Iya, Sora. Keputusan Papa untuk membuat kamu lebih mandiri ternyata salah, dan Papa gak mau ada hal yang lebih buruk lagi menimpa kamu disini." Tambah Langit.
Sora menggeleng, "Sora mau tetap disini, Pa. Kan ada Aga juga disini. Mita sama Aura juga selalu ngikut kemana aku pergi."
Langit menggeleng, menolak alasan Sora.
"Ga! Bantuin, dong!" Pinta Sora pada Aga, tapi pria itu hanya menggeleng pelan.
"Percuma juga Aga disini, dia gak bisa jaga kamu 24 jam."
"Tapi kan Mita sama Aura bisa jaga aku 24 jam, Pa!"
Wajah langit berubah tegas, ia menatap putrinya tajam. "Kalau kamu mau disini, kamu nikah sama Aga. Papa akan benar-benar merasa aman jika kamu bersama dia."
"Papa yang bener aja dong kasih pilihan."
"Papa serius, Sora! Kalau kamu memang gak mau, besok pagi kita pulang ke Jakarta!" Ucap langit setengah berteriak.
Sora tak berani lagi menentang papanya walau sebenarnya ingin, ia menatap mamanya memohon bantuan tapi Senja hanya menggelengkan kepalanya. Senja hanya ingin putrinya menuruti kemauan suaminya.
"Satu minggu, Pa!" Sora mencoba menego waktu dengan papanya, "Sora minta waktu satu minggu aja bust selesaiin urusan Sora disini."
"Paaah...,"
"Maaas, kasih waktu anakmu untuk menyelasaikan urusannya." Senja ikut membujuk.
"Sayang..., kamu tahu sendiri kan gimana bahayanya disini?" Tolak Langit.
"Sky akan tinggal disini juga jaga dia selama seminggu, Pa. Setelah urusan dia kelar, Sky pastikan bawa dia pulang." Sky ikut membujuk papanya.
Sora menatap Sky penuh haru, "Ai lap yu." Ucapnya tanpa suara pada Sky.
"Cuih!" Jawab Sky dengan berpura-pura membuang ludah.
"Boleh ya, Pa...," Rengek Sora menggelayutkan tangannya dilengan Langit.
Langit menatap Senja, dan istrinya itu mengangguk.
"Oke, Papa kasih waktu seminggu. Selesai atau belum urusanmu itu, kamu harus pulang." Tegas Langit.
Sora mengangguk cepat dan memeluk erat papanya, "Makasih ya Paaaa..., Papa ter-elope pokoknya." Kata Sora kemudian ganti memeluk mamanya.
"Urusan kak Sora di kantor ribet banget ya, kak?" tanya Mina.
Sora terkekeh, "Ada urusan lainnya juga, Dek." Jawab Sora, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Oooh...," Mina yang sudah tanggap langsung menganggukkan kepala.
"Papa mau kamu cepet selesaikan urusanmu, jangan menunda-nunda." Kata Langit.
"Iyaa, Papa ku sayaaaang."
***
Adzan Isya' sudah berkumandang beberapa waktu lalu, ditemani oleh Wanda salah seorang pengawal keluarga Langit, Mina pergi berjalan kaki ke rumah salah seorang teman pengajiannya yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumahnya.
Ditengah perjalanan, Mina tak sengaja bertemu dengan Almeer yang baru keluar dari pintu gerbang masjid. Irama jantungnya mulai berdetak lebih cepat, kedua tangannya saling mencengkram kuat satu sama lain. Ia ingin menghindar, namun keadaan sudah tak memungkinkan. Pandangan mereka sudah saling bertemu.
"Assalamu'alaikum, Mina. Mbak...," Sapa Almeer pada Mina dan Wanda.
"Wa'alaikumsalam...,"
"Mau kemana malam-malam gini?" tanya Almeer.
"Ada perlu di rumah Rasti, Kak." Jawab Mina, ia berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Ooh, anaknya pak Toha?"
"Iya, Kak."
Almeer mengangguk, "Hati-hati, ya."
"Iya, Kak." Sahut Mina, raut wajahnya menampakkan sebuah kekecewaan. Percakapan itu terlalu singkat untuknya, ia masih ingin berbincang dengan Almeer, terutama mengenai ajakan ta'aruf-nya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, Assalamu'alaikum."Almeer melangkahkan kakinya meninggalkan Mina.
"Wa'alaikumsalam, Kak Almeer." Jawab Mina, ia masih memandangi langkah Almeer yang mulai menjauh.
"Mina!"
Jantung Mina hampir saja terlepas dari pelukan paru-parunya ketika tiba-tiba saja Almeer berbalik dan memanggil namanya, ia buru buru mengalihkan pandangannya. Belum kembali normal, jantungnya sudah dipaksa bekerja lebih cepat lagi saat Almeer kembali mendekatinya.
"Ya, Kak?" tanya Mina.
"Apa boleh meminta waktumu sebentar?" tanya Almeer.
Mina terdiam, bukan ia tidak mau tapi mulutnya susah untuk di menerima respon dari otaknya.
"Kamu buru-buru, ya? Maaf, ka—"
"Enggak, Kak! Kita bisa bicara." Pangkas Sora, ia tak mau membuang kesempatan.
Almeer mengajak Mina duduk di bangku panjang yang ada di halaman masjid. Mereka masing-masing duduk di ujung bangku. Sedangkan Wanda menunggu tak jauh dari tempat majikannya duduk.
"Maafkan aku tidak langsung membalas pesanmu, aku merasa tidak sopan jika membalasnya lewat pesan." Ujar Almeer.
Mina hanya mengangguk.
"Aku sangat berterimakasih atas keberanianmu mengirimkan ajakan untuk ta'aruf denganku. Terimakasih juga sudah mengagumiku selama itu. Aku tahu dua hal itu sangat berat untukmu dan aku juga tidak bisa membuatmu menungguku lebih lama lagi..."
Mina memberanikan diri menatap Almeer.
"Aku akan menjawab permintaanmu sekarang." Almeer menatap Mina.
Mina mengangguk dan tertunduk.
"Aku, bukan orang yang pantas untuk menjadi imammu, Mina."
Deg!
Mina tak berani mengangkat kepalanya. Otaknya masih mencoba mengeja satu per satu kalimat Almeer yang diterima oleh membran timpani miliknya.
"Maafkan aku, Mina." Lanjut Almeer.
Satu kalimat yang cukup memperjelas bahwa ia telah ditolak oleh pria yang sudah dicintainya bertahun-tahun itu. Ia mengangkat kepalanya, walau air sudah menggenangi pelupuk matanya, ia tetap memaksakan diri menatap Almeer.
"Aku tidak sesempurna Khadijah, Kak. Tapi sejak pertemuan kita kala itu, aku mencoba sebaik mungkin bisa menjadi wanita seperti Khadijah." Ujar Mina, tetesan air matanya pun keluar membasahi pipinya.
"Maafkan aku, Mina. Ini bukan karena kamu yang tidak baik, ini karena kekuranganku. Sungguh aku merasa tidak pantas jika kelak menjadi imammu."
Mina menghapus air matanya, "Aku menerimamu apa adanya, Kak. Aku tidak menuntut apapun darimu. Cukuplah kamu mencintai Allah, agamamu, kedua orangtuamu dan aku...,"
"Maafkan aku, Mina."
Mina menunduk mendengar jawaban Almeer, ia memejamkan mata menikmati sayatan kata-kata almer yang mengikis hatinya.
"Apa ada orang lain yang kamu inginkan, Kak?" tanya Mina.
Almeer tak memberikan jawaban, membuat Mina mengangkat kepalanya menunggu jawaban dari Almeer. Tapi, pria itu tak kunjung memberikan jawaban.
"Kamu pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari aku, Mina. Aku akan mendo'akanmu..."
Mina mengatupkan mulutnya rapat-rapat menahan tangisnya kemudian berdiri. "Jangan paksa aku untuk menghentikan perasaanmu padamu, Kak." Kata Mina.
Almeer ikut berdiri, "Kamu akan tersiksa dengan perasaanmu sendiri, Mina."
Mina mengangguk, "Aku berharap kamu bisa mengubah keputusanmu suatu saat nanti, Kak." Ujar Mina
"Mina, tapi—"
"Aku pamit dulu, Kak. Rasti pasti sudah menungguku terlalu lama."
Almeer diam dan mengangguk pasrah. "Iya."
"Assalamu'alaikum, kak Almeer."
"Wa'alaikumsalam, Mina."
Mina pergi meninggalkan Almeer dengan tangisnya, Wanda segera mengikuti kemana Mina pergi. Sedangkan Almeer masih berdiri terpaku menatap kepergian Mina.
Tujuan Mina bukan lagi ke rumah Rasti, ia tak mungkin datang ke rumah temannya dengan derai air mata seperti itu. Hal itu hanya akan mengundang rasa penasaran orang lain atas apa yang terjadi padanya. Dan ia akan merasa sangat kesulitan untuk menjelaskannya.
Mina berhenti lama dibagian belakang masjid yang tak terlalu banyak orang melewatinya. Ia memuaskan diri menangis disana dengan ditemani Wanda. Pengawal yang sudah menemani Mina sejak awal masuk kuliah itu hanya bisa memeluk gadis itu dan mencoba memberi kenyamanan semampunya.
Setelah cukup puas menangis, Mina mencoba menenangkan diri sebentar barulah ia kembali pulang ke rumahnya.
"Mbak, nanti kalau ada yang tanya kenapa aku nangis. Bilang aja umminya Rasti cerita sesuatu yang menyedihkan jadi terbawa perasaan, ya." Pinta Mina pada Wanda.
"Baik, Nona."
Maafin Mina yang harus bohong, ya Allah. Batin Mina.
Langkah mina tiba-tiba terhenti ketika melihat Sora dan Almeer depan pagar rumahnya. Kakaknya terlihat sedang tertawa riang seperti biasanya sambil mengangkat kotak kue ditangannya.
Namun yang membuatnya sangat terluka ketika melihat cara Almeer memandang kakaknya. Tatapan itu sangat berbeda, sangat!
-Bersambung-
.
.
.
.
.
BACA INFO DULU LAF LAF KUH...
Aku up nya cuma satu lagi.
masih sibuk tugas negara nih, banyak amoeba membelah diri jadi banyak yang bikin KK baru. Tapi udah ku panjangin, lebih panjang dari jarak ibu jari dan anak jari. Semoga puaaas ya.. Kalau gak puas, besok di tamatin aja. Sora nikah ama Pranyoto, Almeer sama Aiko, Mina ama Genta.
[Infonya gak usah di komenin, anggap ini hanya buih-buih air laut]
__ADS_1
**Jangan lupa tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan VOTE novel ini ya.
Terimakasih dukungannya**.