
"Mbak!! Mbak!!"
Dug Dug Dug!!
Beberapa orang menggedor-gedor jendela mobil Sora. Wanit itu sedang tersandar di jok mobil dengan darah yang mengalir dari kening sebelah kanannya membasahi kerudungnya yang Berwana abu-abu.
"Uuugh...," Eluhnya ketika membuka mata dan mendengar suara berisik dari luar.
Matanya mengernyit menahan sakit di kepala dan bahu kanannya. Ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu, mobilnya tertabrak dari belakang karena kesalahannya. Ia memegang kepalanya yang sepertinya terbentur jendela. Namun ia segera mengabaikan rasa sakitnya dan membuka pintu mobil untuk keluar untuk mencari tahu kondisi pengendara yang menabrak mobilnya.
"Mbak, sebentar lagi ambulans datang. Mbak bersabar ya?" Kata seorang pria.
"Keadaan orang yang menabrak saya gimana, Pak?" tanya Sora
"Saya mbak, saya..." Seorang pemuda yang mengenakan seragam SMA mendekati Sora, "Maaf ya, Mbak. Saya masih baru belajar nyetir."
"Kamu gak apa?" tanya Sora menghampiri pemuda tersebut.
"Gak apa, Mbak... Tapi, Mbak...." Pemuda itu menunjuk kening wajah Sora.
Sora memegang keningnya yang terasa sakit, namun yang ia rasakan basah di jemarinya. Pelan iya memberanikan diri melihat jemarinya, ia tahu jika yang sedang ia pegang adalah darah, jadi ia memberanikan diri sebelum melihatnya.
Deg!
Tubuh Sora mendadak lemas ketika melihat darah ditangannya.
"Mbak... Pakai ini, Mbak." Seseorang memberikan sebuah sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.
"Maafkan saya ya, Mbak. Saya yang salah, saya akan bertanggung jawab jika polisi nanti datang."
"Polisi!?" Sora berusaha memupuk kekuatan, ia melihat kondisi mobilnya.
Pintu mobil bagian kirinya ringsek akibat tertabrak tadi, namun sepertinya tak akan mengganggu laju kendaraannya. Sora pergi mengambil tasnya di dalam mobil, ia mengambil sejumlah uang di dompetnya dan kartu namanya kemudian memberikannya pada pemuda itu.
"Kamu tidak salah, aku yang salah. Kalau kamu kenapa-kenapa, hubungi aku di nomer ini. Aku sedang buru-buru, maafkan aku tidak bisa menemanimu ke rumah sakit." Ujar Sora ia segera masuk ke dalam mobil kembali.
"Mbak, tapi mbak sedang terluka..."
Orang-orang disekitar mencoba menahan Sora. Namun wanita itu tak menggubris dan segera membawa mobilnya meninggalkan TKP.
Sakit di kepalanya ia abaikan, ia juga berusaha lebih hati-hati dalam berkendara. Ia melakukan panggilan telepon pada Aga.
"Assalamu'alaikum, Ga." Ucapnya ketika sambungan telepon terhubung. "Kirimi aku alamat kantormu di Surabaya, pinjami aku mobil." Pinta Sora.
"Wa'alaikumsalam..., Kamu sedang dimana?" tanya Aga.
"Aku akan jelaskan semuanya nanti, Jangan beritahu apapun ke papaku tentang apa yang ku lakukan atau aku akan benar-benar menghilang dari kehidupanmu." Ancam Sora.
"Iya, jelaskan padaku sekarang kamu dimana?"
"Aku sedang ada urusan di Surabaya, aku mengalami kecelakaan kecil ba—"
"DIMANA KAMU SEKARANG!!" Teriak Aga.
"Kirimi saja alamat kantormu, Ga!"
"BAGAIMANA KEADAANMU!?"
"Kirimi aku alamat kantormu!" Sora memutus sambungan teleponnya dan meletakkannya dibalik kemudi mobil.
Walaupun sakit dikepala dan bahunya, Sora terus berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai ke Surabaya dan menyelesaikan urusannya.
Trrt trrrt
Satu pesan baru masuk, sebuah alamat dan share location kantor Aga di Surabaya. Sora langsung membuka GPS dan meminta bantuan nona pemandu jalan untuk memandu perjalanannya menuju ke kantor Almeer.
Sekitar satu jam lebih menyusuri jalan tol, akhirnya Sora menjejakkan kaki di jalan protokol kota Surabaya. Banyak mata yang memperhatikan kendaraannya yang ringsek, namun itu tak membuatnya risih. Di pikirannya hanya ingin segera sampai dikantor Aga dan membersihkan lukanya kemudian pergi ke tempat tujuannya.
Sora menghentikan mobilnya di sebuah bangunan berlantai tiga. Seorang satpam dan sepasang pria dan wanita berpakaian rapi menghampiri mobil Sora. Sora pun segera turun dengan membawa barang-barangnya.
"Ya Allah, Mbak..." Pekik tiga orang itu kompak ketika melihat keadaan Sora.
"Ini benar kantornya Mikail Tyaga, kan?" Sora memastikan.
"Iya, Mbak. Saya Tina, manajer disini. Ini Hasan, sekretarisnya Pak Aga. Beliau sudah mengabari jika anda akan kemari." Wanita bernama Tina yang terlihat lebih tua dari Sora itu memperkenalkan diri.
"Saya, Sora. Maaf kehadiran saya kesini malah merepotkan kalian." Sora memperkenalkan diri dengan menahan sakit.
"Mari silahkan masuk ke dalam, kami sudah mendatangkan seorang dokter. Dan pak Aga sedang dalam perjalanan kemari, Mbak."
Satpam membantu membawakan barang-barang Sora, kemudian mereka masuk ke dalam gedung kantor Aga. Sora dibawa ke dalam ruangan yang sudah bisa ia tebak itu ruangan Aga. Ada seorang dokter wanita dan seorang perawat menunggu kedatangannya disana.
"Kamu pasti bersusah payah menahan sakitnya, ya?" tanya dokter ketika melihat wajah pucat dan keringat dingin di dahi Sora. Sebuah saputangan terselip diantara kening dan kerudungnya untuk menutup luka dikeningnm Sora.
"Dokter, bisa lakukan lerawatan secepat mungkin? seseorang sudah menunggu saya." pinta Sora.
"Saya lihat luka mu dulu, ya...."
Hasan meninggalkan ruangan ketika dokter akan membuka kerudung Sora, sementara Tina tetap disana menemani jikalau Sora membutuhkan bantuan.
Dokter membuka saputangan yang sudah basah menyerap darah dari kening Sora. "Saya harus menjahitnya..., Sebaiknya Kita pergi ke klinik atau rumah sakit, Mbak."
Sora menggeleng, "Tolong bersihkan dan tutup luka saya ini dokter, setelah urusan saya selesai, saya akan segera ke rumah sakit." Pinta Sora.
"Tp kamu bisa kehilangan banyak darah, darahnya akan terus mengalir." Sanggah dokter.
"Saya mohon...," Pinta Sora.
"Sebaiknya kamu tidak terlalu lama menunda ke rumah sakit."
Sora mengangguk dan ia mulai mendapatkan perawatan pertama dari dokter. Ia berulang kali menengok jam di dinding, setengah jam lagi waktu pertemuan dengan salah satu bos perusahaan besar di mulai.
Sekitar sepuluh menit perawatan Sora selesai, ia mendapatkan baju ganti dari Tina. Segera ia pergi ke kamar mandi untuk berganti baju dan membersihkan sisa sisa darah yang mengering di wajahnya. Setelah semuanya rapi, Sora bergegas menghampiri Tina.
"Mobil mana yang bisa ku pakai, Kak?" tanya Sora.
"Pak Aga memerintahkan Hasan untuk mengantar kemana anda akan pergi, Mbak." Ujar Tina.
"Okelah, gak apa." Sora tak mau membuang waktu untuk berdebat.
Ia bersama Hasan pun berangkat menuju ke tempat tujuan. Beruntungnya lokasi tujuan Sora tak terlalu jauh dari kantor Aga hingga dia bisa tepat waktu sampai di sebuah gedung kantor yang sangat besar.
Hasan menunggu Sora di ruang tunggu sedangkan Sora diantar oleh seorang wanita ke sebuah ruang meeting.
"Selamat pagi, Pak Jayat. Saya Sora dari StudiOne, Malang." Sora memperkenalkan diri.
"Selamat pagi, silahkan duduk. Kami sudah menunggu." Ujar peria bernama Jayat.
__ADS_1
Sora sedikit gugup ketika mendapati yang hadir dalam presentasinya kali ini bukan hanya seorang saja, melainkan banyak orang. Sakit, Ngilu, cemas dan gugup semuanya campur menjadi satu.
Bismillahirrahmanirrahiim...,
Sora memulai presentasinya, ia akan berusaha semaksimal mungkin. Jika di Malang ia masih mendapatkan bantuan dari Mita dan Aura, namun kali ini ia berusaha sendiri.
***
Dengan menahan sakit di sekujur badannya, akhirnya Sora keluar juga dari ruang meeting setelah ia berada di dalam dua jam lebih. Senyum mengembang di bibirnya yang pucat, Tak sia-sia ia melewati semua ini dan akhirnya ia mendapatkan tambahan dana besar untuk target Almeer.
"Sora!!"
Sora menatap ke depan, pria yang biasanya berwajah dingin itu berlari ke arahnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ga..., aku berhasil, Ga." Ucap Sora lemah, sudut matanya berair karena rasa haru pada dirinya sendiri.
Aga mengangguk, mengiyakan keberhasilan wanita yang sudah terlihat tak berdaya itu. Meskipun ia sangat kasihan dan khawatir dengan Sora, ia mencoba memberikan senyum untuk mengapresiasi Sora.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya, Ra." Ajak Aga.
Sora tersenyum dan mengangguk dan Aga mengambil buku-buku dan tas di tangan Sora.
"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Aga.
Sora mengangguk, ia mulai melangkah.
Aga mengiringi langkah Sora, ia ingin sekali merangkul dan memapah langkah Sora karena wanita disampingnya itu sudah terlihat benar-benar tak berdaya.
"Sora!"
Aga melepaskan buku-buku dan tas yang ia pegang dan segera menarik tubuh Sora ke dalam pelukannya sebab wanita itu tiba-tiba saja hilang kendali. Hasan dan beberapa orang disekitar mereka menghampiri dan mencoba membantu.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Ra!" Teriak Aga, ia mengangkat tubuh Sora dan membawanya ke mobil.
Hasan memunguti buku-buku dan tas Sora kemudian mengikuti langkah Aga dan meletakkan barang-barang Sora di mobil Aga.
"Kamu kembali ke kantor aja, San." Pita Aga.
"Baik, Pak." Ujar Hasan.
Aga membawa Sora pergi ke rumah sakit terdekat, wanita itu sudah tak sadarkan diri ketika sampai di UGD. Ia meminta bantuan perawat untuk membawa Sora ke ruang pemeriksaan.
Aga menjelaskan kejadian yang ia tahu pada dokter, "Tolong selamatkan dia, dokter." Pinta Aga.
Dokter mengangguk, "Anda bisa tunggu di depan, Pak." Jawab dokter.
Aga menurut dan pergi ke ruang tunggu UGD. Ia mengusap wajah dan berulang kali mengacak rambutnya. Resah, khawatir, marah, semua menumpuk jadi satu dibenaknya. Baru pertama kali ini ia melihat Sora terluka separah ini. Beruntung ia mendapati keadaan Sora yang sedang tak berlumuran darah, tapi melihat pintu mobil, bekas kerudung dan baju Sora yang berlumuran darah itu hampir membuat Aga gila.
***
Sementara itu di kantor Almeer yang mendadak beberapa hari ini sangat sibuk. Semua karyawan seperti kewalahan mendapat banyak proyek baru. Sekretaris Almeer juga sedang di sibukkan mencatat nama nama perusahaan yang harus di follow up oleh Almeer.
"Pak, siang ini sudah ada tiga perusahaan yang masuk lagi." Kata Siska saat menyerahkan catatannya pada Almeer.
"Alhamdullillah, Sis. Aku juga mendapatkan telepon ke nomor pribadiku, ada seseorang dari Ibu kota yang berniat investasi di sini." Sahut Almeer, namun wajahnya tak terlihat senang justru malah sedang kebingungan.
"Pak Almeer, kenapa?" tanya Siska.
"Aku heran darimana orang-orang itu datang, Sis." Jawab Almeer.
"Alhamdullillah anda punya tim marketing yang baik, Pak. Anda juga berusaha sangat keras. Mungkin juga iklan di website kita dibaca banyak orang."
"Sepertinya pak Almeer harus menambah karyawan, Pak. Banyak proyek baru sudah menunggu kita." Ujar Siska.
"Iya, Sis. Kamu urus untuk perekrutan karyawan baru, ya."
"Baik, Pak. Saya kembali ke depan, Pak." Pamit Siska.
"Iya...,"
Almeer manatap lembaran rekening koran milik kantornya. Sudah sebulan lebih seminggu dan saldo terakhir nya sudah lewat dari setengah yang ditagetkan. Jika keadaan stabil seperti ini terus, ia pasti bisa memenuhi target yang diberikan Langit.
Ia kembali terbesit pada sosok wanita yang sedang ia perjuangkan. Matanya kini berpindah menatap ponselnya, tak ada tanda-tanda balasan dari Sora. Padahal sejak tadi pagi status chat-nya sudah terbaca.
"Kamu sedang apa, Ra?" Gumamnya sambil memandangi room chat-nya dengan Sora. Sejak pagi rasa cemasnya tak hilang meskipun ia sudah menyibukkan diri.
Almeer mencoba mencoba kembali menghubungi Sora. Nada sambung terhubung hingga beberapa kali namun tak ada tanda-tanda terjawab. Ia mencoba melakukan panggilan kembali..
Tuuuut...
Tuuut...
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi."
Almeer terkejut ketika mendapati panggilannya di riject oleh Sora. Jika seperti ini, sudah bisa dipastikan Sora sedang marah padanya. Wanita itu pasti benar-benar salah paham pada Kanaya.
***
Aga sedang memegang ponsel Sora, ia menatap ponsel itu sangat kesal. Ingin sekali membanting ponsel itu ketika nama Almeer muncul di layar ponsel Sora. Dan menekan tombol merah di layar ponsel menjadi pelampiasan rasa kesalnya itu.
Karena Almeer, wanita yang sangat di jaganya agar tak sampai terluka itu kini sedang terbaring lemah tak sadarkan diri didepannya. Beruntung tak ada hal serius yang terjadi pada Sora, jika saja Sora sampai terluka parah, Aga rela mendekam seumur hidup dibalik jeruji besi setelah menghabisi nyawa pria itu.
"Uughhh...,"
Aga mendekatkan diri ke dekat Sora ketika ia mendengar suara wanita itu melenguh.
"Ra...,"
Sora membuka matanya perlahan kemudian menutupnya lagi, membukanya lagi sedikit demi sedikit. Ia mengernyit ketika merasakan sakit dikepalanya.
"Kepalaku udah dijahit, Ga?" tanya Sora.
"Udah... Kamu udah baik-baik aja sekarang...," Jawab Aga, ia lega ketika Sora terlihat baik-baik saja.
"Ga, bantu aku untuk duduk."
"Sebaiknya kamu tiduran saja, Ra."
"Ga....," Sora manatap Aga, memaksa pria itu untuk menuruti kemauannya.
Aga pun terpaksa membantu Sora untuk duduk diatas tempat tidur.
"Punggungku gak nyaman, berapa lama sih aku tidur?" tanya Sora.
"Belum genap dua jam."
"Oooh, seharusnya aku tidur lebih lama lagi biar gak kerasa sakit nih keningku." keluh Sora.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus senekat ini? pergi sendirian ke Surabaya. Kamu kan—"
"Sstt!!" Sora menempelkan satu jari telunjuknya di bibirnya untuk memangkas omelan Aga yang hanya akan membuat kepalanya semakin pusing.
"Kamu udah pastikan papaku gak akan mengetahui hal ini, kan?" tanya Sora.
"Untuk kali ini beliau tidak akan tahu, tapi aku tidak tahu kedepannya...," Jawab Aga.
"Ya pastiin dong biar gak tahu! Kalau papa sampai tahu Almeer—"
"Jangan menyebut namanya didepanku lagi!" Suara Aga sangat datar, namun terdengar seperti ancaman mematikan yang membuat bulu kuduk Sora berdiri. "Aku sedang menahan diri untuk tidak menghajarnya."
"Aku akan sangat membencimu jika kamu berani menyentuhnya, Ga!" Sora balik mengancam Aga.
Aga diam, menatap Sora yang sorot matanya terlihat tegas mengenai ancamannya. "Kenapa kamu selalu sebodoh ini jika berurusan dengan pria?"
"Apa aku terlihat bodoh?" Tanya Sora, matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf, aku—"
Sora menggeleng, sebutir air mata mulai menetesi pipinya. "Aku memang bodoh, Ga. Aku tak punya kelebihan apapun. Aku hanya orang yang terlahir tanpa kemampuan apapun. aku hanya beruntung mempunyai seorang papa yang kaya. Jika tidak, aku hanya seorang figuran yang selalu terabaikan."
Sora menutup wajahnya dan menangis. Menangisi dirinya yang tak mempunyai kelebihan apa-apa dibanding Kanaya. Menangisi betapa bodohnya dia didepan Kanaya ketika Almeer lebih memilih meminta bantuan wanita lain mengenai perbisnisan sedangkan dia sendiri adalah lulusan dari sekolah bisnis terbaik dunia.
Sora mengusap air matanya meskipun air mata itu tetap mengalir. "Aku juga ingin terlihat lebih di mata Almeer, Ga. Aku ingin punya kelebihan yang bisa ku banggakan di depan Kanaya dan Almeer. Satu saja, aku ingin punya kelebihan yang tak dimiliki Kanaya. Aku iri padanya Ga.... Dia terlalu sempurna dimataku."
Tangis Sora semakin kencang, kini ia bisa mengeluarkan sesak dihatinya yang telah ia tumpuk beberapa waktu ini.
"Kamu punya kelebihan sendiri, Ra. Berhenti membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Kamu hanya akan merasa kekurangan." Aga mencoba memberi dukungan untuk Sora. "Kamu sudah berusaha cukup baik sampai saat ini, aku tidak yakin wanita itu bisa melakukan seperti apa yang kamu lakukan sekarang." Imbuh Aga.
Aga menepuk pelan punggung Sora, memberi sedikit kekuatan agar wanita itu mendapatkan kembali rasa percaya dirinya.
***
Adzan isya' sudah berkumandang beberapa waktu yang lalu, Para jama'ah masjid pesantren Al Mukmin sudah turun dari masjid usai melaksanakan Sholat isya'.
"Tumben, Mas Al? Mau kemana?" tanya seorang jama'ah ketika melihat Almeer berjalan keluar gerbang pesantren.
"Ada perlu, Pak." Jawab Almeer. "Mari, Pak. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...,"
Pria yang masih mengenakan sarung itu berlari kecil menuju ke perumahan tempat tinggal Sora. Berbekal jawaban dari Kanaya, Almeer mengetahui rumah dimana wanita yang dicintainya itu tinggal.
Ia tak tahu jika selama ini ia tinggal tak tak terlalu jauh dari Sora, tapi ia berusaha untuk menjaga diri dan tentunya menjaga jarak dengan Sora agar Langit tak salah paham padanya.
"Assalamu'alaikum...," Almeer mengucap salam ketika tiba didepan tempat tinggal Sora. Pintu ruang tamu rumah itu sedang terbuka.
"Wa'alaikumsalam...," Lala melihat siapa tamu yang datang, "Cari siapa, ya?" tanyanya sambil menghampiri pintu pagar.
"Saya Almeer, tante. Sora ada tante?" tanya Almeer.
"Sora belum pulang. Kata Aura dan Mita lagi sama Aga di Surabaya."
"Bersama Aga?"
"Iya..., coba kamu hubungin aja, ya." Kata Lala.
"Baik, Tante. Terimakasih, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...,"
Almeer bergegas kembali ke rumahnya, perasaannya sangat tidak nyaman mendengar Sora bersama Aga hingga larut malam begini.
Sampai dirumah ia segera masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya dan menghubungi Sora.
"Angkat Sora....," Gumamnya resah.
Tuuuttt....
Tuuut...
"Hallo!"
Almeer terkejut ketika mendapati suara pria yang menerima panggilan teleponnya, ia yakin pemilik suara itu adalah Aga.
"Dimana Sora? aku ingin bicara dengannya." Pinta Almeer.
"Dia sedang istirahat. Kau tak bisa mengganggunya sekarang."
"Apa yang sedang dia lakukan disana? apa dia baik-baik saja?"
"Dia hanya sedang menenangkan diri dari pria yang membuat hatinya terluka."
Almeer terdiam, memejamkan matanya meratapi penyesalannya.
"Aku harus menjelaskan sesuatu padanya..."
"Tidak sekarang, dia sedang tidur. Kau bisa menjelaskannya lain waktu. Itupun jika Sora mau mendengarkanmu."
Hening, tak ada suara. Panggilan teleponnya diputus tanpa ijin oleh Aga.
Ia masih menatapi layar ponselnya, melihat foto Sora yang tersenyum manis dan penuh binar kebahagiaan di sorot matanya.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka, Ra." Sesalnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
JANGAN LUPAAAA!
- BAYAR AKU PAKE LIKE, JANGAN LUPA PENCET LIKENYA SAMPE MERAH.
- HIBUR AKU DENGAN TULIS KOMENTAR KALIAN MENGENAI EPISODE INI.
- KASIH BINTANG LIMA BIAR ISTIMEWA
-YANG PUNYA POIN LEBIH, BISA VOTE NOVEL INI YA.
__ADS_1
MAKASIH BANYAAAAAAK.