ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
77


__ADS_3

Sementara itu, pagi-pagi sekali Sky sudah pergi ke rumah Almeer. Berita tentang Almeer sudah menyebar di artikel online dan bahkan mulai terangkat di beberapa akun gosip mengingat Hiko yang sempat menggeluti bidang entertainment.


"Assalamu'alaikum, Al! Woey! Al!"


Sky mengucap salam sambil menggedor pintu rumah Almeer.


"Al! Bangun woey!"


"Apa sih, Sky?"


Sky terkejut ketika melihat Almeer muncul dari halaman samping.


"Kasihan tetanggaku keganggu sama suaramu," protes Almeer.


"Jangan pergi kemanapun hari ini! Jangan buka sosial media apapun dan jangan nyalain televisi!" sergah Sky.


"Kenapa?"


"Turutin aja apa yang ku bilang! Aku akan ke Paris Sore nanti,"


Almeer masih terlihat kebingungan, "Kamu sudah menemukan keberadaan Moza, Sky?"


"Aku akan berusaha!"


Almeer tersenyum tipis, "Terimakasih sudah selalu berada di pihakku, Sky."


"Bayaranku, mahal. Siapkan saja hadiah istimewa untukku." Sky ingin bergegas pergi, tapi sebuah mobil terhenti di depan rumah Almeer.


Terlihat Hiko dan Ruby baru saja turun, mereka berlari kecil dengan wajah panik dan resah menghampiri Almeer.


"Ada apa Ma, Pa?" Almeer terlihat lebih panik, ia khawatir jika kedua orangtuanya menyadari apa yang terjadi padanya.


"Apa yang terjadi dengan kamu, Nak?" tanya Ruby, ia mencakup pipi putranya.


"Kemarin ada kesalahpahaman sedikit, Ma ...," jawab Almeer.


"Apa yang diberitakan di media online itu benar, Al?" tanya Hiko tanpa basa basi.


Almeer mengernyit, "ada apa, Pa?"


"Siapa wanita yang sudah kamu sentuh sebelum Sora?"


"Mas!" Teriak Ruby tak terima dengan pertanyaan suaminya.


"Pa ...," Almeer terlihat gugup, ia bingung ingin menjelaskan dari mana sementara sorot mata papanya sudah menunjukkan kekecewaan yang mendalam.


"Papa menunggu jawabanmu,"


Almeer pindah menatap mamanya, wanita itu pun sedang menunggu jawaban.


"Aku sama sekali tidak mengingat apapun, Pa. Aku hanya menolong Moza malam itu dan aku terbangun tanpa—"


PLAK!


"Mas!" Ruby lekas melindungi Almeer setelah Hiko melayangkan tamparan keras di pipi putranya, "dia belum menyelesaikan kalimatnya! Jangan menghakiminya tanpa kamu tahu kebenarannya!" teriak Ruby.


"Kamu ku besarkan dengan baik agar tidak menjadi seperti papa ..., tapi kenapa kamu harus melakukan kesalahan yang sama seperti papa, Al?"


"Pa! Demi All—"


"Jangan sembarangan menyebut nama-Nya untuk sesuatu yang kamu sendiri masih meragukannya!" Hiko memperingatkan putranya.


"Apa kamu sedang meragukan putramu, Mas? Kamu lupa siapa putramu?" tanya Ruby.


"Aku ingin mempercayainya ... tapi kenyataannya apa?"


"Maaf, Oom ...," Sky ikut angkat bicara, "maaf jika saya ikut campur. Tapi Almeer sudah melakukan tes DNA pada anak Moza, dan hasilnya negative," lanjut Sky.


"Lalu, bagaimana bisa media memberitakan hal yang tidak benar tentang putraku?" Ruby melampiaskan kekesalannya pada Sky. "Bisa-bisanya mereka melakukan hal mengerikan itu pada putraku?"


"Maaa ... Mama sabar, Ma." Almeer merangkul mamanya yang mulai terisak.


Ruby menatap putranya penuh rasa kasihan, "sejak kecil tak sedikit orang yang memperlakukanmu berbeda, Nak. Dan disaat seperti ini, kamu harus menerima beban besar lagi ...,"


"Mereka mengatakan hasil tes itu positif, Sky .... Tidak mungkin media berani memberitakan hal tanpa bukti, aku bisa menuntut mereka jika memang mereka menyerbarkan berita bohong!" tanya Hiko menyelidik.


Sky menatap Almeer sejenak, ia ragu ingin mengatakannya.


"Katakanlah ...," pinta Hiko.


"Papa saya membawa hasil tes DNA yang menunjukkan jika Almeer adalah ayah biologis dari Cloe, putri Moza." Sky melirihkan suaranya di akhir kalimat.


Hiko dan Ruby terbelalak, Ruby bahkan terhuyung dan Almerr sigap menahan tubuh mamanya.


"Al ...," ucap Ruby lirih tak bertenaga.


Melihat mamanya yang begitu terluka, hati Almeer ikut sakit. Ia menghapus air mata mamanya, "maafkan Almeer, Ma."


Ruby memegangi dadanya, napasnya tiba-tiba terasa berat dan tatapannya kosong.


"Ruby ... Ruby!" Hiko panik dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Maas ...," ucap Ruby tertahan dan kemudian tak sadarkan diri.


"Maa!!!"


"Ruby!!!"


Hiko lekas menggendong Ruby membawanya masuk ke dalam rumah.


"Al panggil dokter dulu, Pa!" Kata Almeer.


"Aku antar, Al." Sky menawarkan diri.


Almeer menggeleng, "aku bawa motor saja, Sky. Lebih baik kamu pulang saja,"


Almeer pergi masuk ke dalam rumah dan mengambil kunci motor kemudian keluar lagi dan pergi meninggalkan Sky yang masih ada disana.


Sky tak lantas pergi, ia menghampiri Hiko yang sedang mengurus istrinya di ruang tamu bersama Siti.


"Ruby ... bangun, Ruby ...," Hiko mengusapkan minyak kayu putih disekitar tangan hidung Ruby.

__ADS_1


"Saya bikinin Ning Ruby teh hangat dulu nggih, Mas." Siti pergi ke arah dapur.


"Iya, Bu Siti. Terimakasih ...," jawab Hiko, dan ia baru menyadari keberadaan Sky. "Kamu belum pulang?" tanya Hiko.


Sky menggeleng, "saya harap Oom dan Tante tidak salah paham pada Almeer."


Hiko hanya mengernyit, "kamu seyakin itu pada Almeer?" tanya Hiko.


Sky mengangguk, "saya memang belum pernah melakukannya, Oom. Tapi, apa masuk akal jika seorang pria tidak mengingat sama sekali usai melakukan hal tersebut?"


"Bisa, jika dia memang memberitahumu tidak melakukannya," jawab Hiko.


Sky terbelalak mendengar jawaban Hiko, "maksud anda, Almeer berbohong?"


"Itu kemungkinan terburuknya," jawab Hiko, "aku mempercayainya ... tapi segala sesuatu bisa terjadi diluar prediksi kita. Dia harus bertanggungjawab jika memang hasil dari tes DNA itu asli."


"Kami sedang melakukan tes DNA ulang, Oom. Saya pun akan ke Paris untuk menemui Moza. Saya harap dia bisa menjelaskan semua keadaan ini,"


Hiko tersenyum tipis, "terimakasih kamu sudah selalu membantunya, Sky."


Sky mengangguk, "saya pamit pulang dulu, Oom. Maaf saya tidak bisa menunggu sampai Tante Ruby siuman." Sky melihat Ruby yang masih tak sadarkan diri.


"Tidak apa-apa, Sky. Kami akan segera menemui orangtuamu, sampaikan salamku pada papamu,"


"Baik, Oom ... Assalamu'alaikum." Sky mencium tangan Hiko.


"Wa'alaikumsalam ...,"


Sky pun beranjak pergi meninggalkan rumah Almeer, sedangkan Hiko mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan telepon.


"Ta ... Gue minta tolong, cari tau darimana wartawan media online itu dapat informasi. Berapapun gue kasih asal infonya falid!"


***


Disisi lain, seorang dokter sedang memeriksa keadaan wanita muda yang telah jatuh tak sadarkan diri karena mendengar kabar mengenai suaminya. Langit, Senja, Mina dan Lala terlihat resah menunggu hasil diagnosa dokter mengenai kondisi tubuh dan kandungannya.


"Untuk fisik ibunya sangat lemah, tekanan darahnya juga rendah. Jika nanti ketika ibunya sudah bangun, coba di bujuk untuk makan makanan yang sehat ya ...," tutur dokter wanita yang hampir seumuran dengan Senja.


"Bagaimana dengan kandungannya, Dokter?" tanya Senja.


"Untuk saat ini saya hanya bisa memeriksa dari luar saja. Jika memang nanti ada keluhan, anda bisa segera pergi ke dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan lebih detail. Jika sesuai diagnosa saya, sepertinya tidak terjadi apa-apa pada kandungannya."


"Saya khawatir karena dia terjatuh tadi dan juga semalam dia sepertinya tidak tidur, Dokter." Senja meremas tangannya satu sama lain karena khawatir.


Dokter itu sibuk menulis sesuatu di buku resepnya kemudian memberikannya pada Senja, "putri ibu akan tidur sedikit lebih lama, tidak perlu khawatir dan di bangunkan."


"Baik, Dokter."


Dokter itu membereskan peralatannya dan kemudian bergegas keluar kamar diantar oleh Lala.


Senja dan Mina duduk tepi ranjang, wanita paruh baya itu menggenggam lembut tangan putrinya. Sedangkan Langit duduk di sofa dengan memihat pangkal hidungnya.


"Kenapa bisa hal ini sampai diketahui media, Mas?" tanya Senja.


"Ada seseorang yang memanfaatkan keadaan ini untuk mengusik keluarga kita, Sayang," jawab Langit.


"Clara?" tebak Senja.


"Aku juga mencurigainya, kita tunggu kabar dari Tommy lebih dulu, Sayang."


Langit melepaskan jari-jarinya dari pangkal hidungnya, ia tak menjawab apapun dan menatap putrinya yang masih belum sadarkan diri.


"Kak Almeer bukan orang seperti itu, Ma. Dia selalu menjaga sholatnya, selalu menjaga wudhunya ..., bagaimana mungkin orang seperti itu melakukan hal yang paling di larang Tuhannya?"


"Semua manusia bisa khilaf, Mina ...,"


"Enggak, Pa! Mina yakin kak Almeer bukan orang seperti itu. Bisa saja kak Moza hamil dengan orang lain, bukan dengan kak Almeer." Mina masih bersikeras dengan keyakinannya.


"Sayang ...." Senja mengusap punggung putrinya.


"Maaf, Ma. Mina memang tidak terima kak Almeer di fitnah seperti ini, Mina tahu siapa kak Almeer, Mina bertahun-tahun selalu memperhatikannya—"


"Kamu tidak bersamanya selama dua puluh empat jam, Mina," pangkas Langit.


"Sudah Mas, jangan dilanjutkan." Senja memangkas perdebatan Suami dan putrinya, ia menatap Mina yang ada disampingnya, "kamu kembali ke kamar dulu ya, Sayang," pinta Senja pada putrinya.


Mina mengangguk berat dan pergi begitu saja meninggalkan kamar Sora.


Senja menghela napas panjang, "aku berharap ini benar-benar fitnah, Mas." Senja kembali menatap Sora, "dia sangat mencintai suaminya ... aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika orang yang selalu ia anggap suci dan selalu ia banggakan bisa berbuat seperti itu."


"Aku akan membunuhnya jika me—"


"Jaga ucapanmu, Mas!" sergah Senja, "kamu tidak bisa berbuat semaumu!"


"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti keluarga kita," ucap Langit dingin dan sangat tegas, ia tak mempedulikan larangan istrinya.


Langit pergi keluar kamar, ia menuruni anak tangga dan menghampiri Tommy.


"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Langit.


"Saya akan membawanya segera pada anda setelah hasilnya keluar, Tuan."


"Bawa Sky bersamamu," ujar Langit, "aku tidak mau berdebat banyak hal dengan anak itu. Pastikan dia melihat hasilnya!"


"Tuan muda akan pergi ke Paris sore nanti, Tuan."


"Pastikan kalian mengambilnya sebelum dia berangkat," ujar Langit kemudian pergi.


***


Suara adzan dari pesantren Al Mukmin mulai terdengar hingga ke sudut-sudut perumahan disekitarnya. Kelopak mata Sora menunjukkan pergerakan ketika cahaya matahari yang sudah mulai condong ke arah barat menyusup masuk ke kamar Sora.


Perlahan matanya terbuka. Ia memicing ketika melihat ke arah jendela kamarnya. Silau cahaya matahari membuat matanya ingin terpejam kembali, namun ia memaksa untuk tak terlelap lagi. Sora pun bangun dari tidurnya dan berdiri untuk pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.


"Kak Sora udah bangun?" tanya Mina yang melihat kakaknya baru keluar kamar.


Sora mengangguk dengan wajahnya masih pucat. "Dek, kakak bisa pinjem hape kamu?"


Mina menggeleng, "enggak, Kak. Maaf ...." Ia tahu tujuan kakaknya apa.


Bibir Sora yang terkatup rapat itu mulai bergetar dan menyebik, tak membutuhkan waktu lama untuk air matanya meleleh. Melihat hal itu Mina segera menghampiri dan memeluk kakaknya.

__ADS_1


"Kakak harus sabar, harus kuat dan harus percaya ke suami, Kak Sora." Mina mencoba meneguhkan kakaknya.


Sora hanya terisak dan memeluk erat adiknya.


"Kakak harus percaya kak Almeer tidak pernah melakukan hal buruk itu ...," ujar Mina.


Sora mengangguk, "aku ingin melakukannya, Dek ... aku ingin mempercayainya sepenuhnya ..."


"Kak Sky sedang mengambil hasil tes DNA kak Almeer yang terbaru, Kak. Jadi—"


"Assalamu'alaikum ...,"


Belum Mina menuntaskan kalimatnya, mereka mendengar suara Sky yang baru memasuki rumah.


Sora dan Mina lekas turun ke bawah. Papa dan mamanya sudah lebih dulu menghampiri Sky.


Langit mengambil sebuah amplop berisi hasil tes DNA dari tangan Sky. Belum sempat membaca, Sora sudah merebut kertas penting tersebut.


Sora diam sejenak dan membacanya, kemudian menutup kertas itu. "Aku akan menemui suamiku," ujar Sora.


"Aku akan mengantarmu, Ra." Sky bersiap untuk pergi.


"Pergi saja ke bandara kalau kamu tidak mau ketinggalan pesawat," ujar Langit kemudian menatap istrinya, "temani putrimu ke rumah suaminya, Sayang ...."


"Aku akan pergi sendiri, Pa!" tolak Sora.


"Masuklah ke kamarmu jika kamu ingin pergi sendiri,"


"Mama akan mengantarmu," desak Senja.


Sora mengangguk, ia tak menyiapkan apapun dan lekas pergi keluar rumah.


"Aku pergi dulu ya, Mas." Senja mencium tangan suaminya.


"Hati-hati, Sayang."


Senja menatap putranya, "kamu pergi bersama Aga?" tanya Senja.


"Aku pergi dengan Haris, Ma. Aga sedang di Jogja," jawab Sky ia meraih tangan mamanya dan menciumnya.


"Hati-hati ya, Sayang. Semoga usahamu membuahkan hasil,"


"Aamiin ...,"


Senja menatap Mina sejenak kemudian pergi menyusul Sora.


"Tommy! Siapkan mobilku, kita harus pergi ke suatu tempat." ujar Langit.


"Baik, Tuan."


Langit bergegas pergi menuju mobilnya. Ia melihat mobil yang membawa putri dan istrinya sudah berjalan pergi.


Tommy membukakan pintu untuk Langit, "Silahkan, Tuan."


"Ikuti mobil mereka," ujar Langit seraya masuk ke dalam mobil.


"Baik, Tuan." Tommy lekas masuk ke dalam mobil dan mobil pun mulai melaju.


***


Mobil Langit terus mengikuti mobil istri dan putrinya. Namun, setelah melewati sebuah perempatan besar, Langit meminta sopir memperlmbat laju mobilnya.


"Masuk perumahan didepan itu," kata Langit.


Sopir menuruti petunjuk Langit untuk masuk ke sebuah perumahan. Ban mobil mulai bergesekan dengan jalanan berpaving perumahan. Mobil perlahan melewati barisan barisan rumah rumah yang tidak terlalu besar.


"Berhenti!" ucap Langit ketika ia tiba dirumah yang ditujunya.


Sopir lekas menghentikan mobilnya didepan sebuah taxi. Langit pun lekas turun dari mobilnya dan memasuki rumah dengan pintu pagar yang sudah terbuka itu.


Seorang wanita dengam tongkat di tangannya terlihat kaget mendapati Langit menjadi tamunya.


"Kau mau melarikan diri setelah membuat keributan dengan keluargaku?" tanya Langit pada wanita yang sempat menjadi adik angkatnya itu.


Clara tersenyum kecil, "bukankah seharusnya kamu menanyakan kabarku lebih dulu setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu, Kak?"


Langit hanya tersenyum masam.


"Bagiamana kabarmu, Kak?" tanya Clara.


"Bukankah kau selalu mendapat kabarku darinya?" Langit melirik pria yang sedang berdiri di belakangnya. "Pantas saja pergerakanmu cukup halus, ternyata kau menggoda anjing peliharaanku!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Gais, cek Instastory Igehku ya ... setelah novel ini tamat, aku dihadapkan dua pilihan. Jadi aku butuh bantuan kalian untuk vote salah satu pilihan di instastoryku. Biar aku bisa segera bikin outline novel setelah ALINEA CINTA ini.


Yang belom polow igehku, cuz polow Linaiko17. Biar rame igehku, jualan semen onlenku biar lancar jaya.


Betewe yang protes ama cover napa ganti, udah terima aja. Daripada aku pake foto orang, ntar di suruh bayar gimana? mana aku miskin, cari pesugihan gagal. Eeh, barunya dapat uang dari hasil ngetik disuruh bayar royalti ke orang, lebih gedhe pula dari pendapatan ngetik.


Terima aja terima!


(Ngasah samurai biar makin tajem sambil memicingkan mata, melihat siapa yang mau protes.)


Betewe lagi,


Makasih ya udah dukung Mas Almeer si Pemuda bersarung Blasteran Bumi Surga periode kemarin masih nangkring di rangking tiga. Pelok Onlen semua.


(Naroh samurai, peluk pembaca satu-satu.)

__ADS_1


Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2