ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
SERIUS TAMAT


__ADS_3

Gaharu Taraka, ia sudah tumbuh beberapa puluh centimeter dari saat pertama kali dia dilahirkan. Berat badannya pun sudah mencapai sepuluh kilo, cukup gemuk untuk bayi berusia lima puluh dua minggu.


Setelah beberapa dekade hanya merayap, bayi cubby itu kini sedang asyik melatih keahlian yang baru saja dimilikinya, yaitu merangkak. Dengan hebohnya ia merangkak kesana kemari mengitari ruang tengah rumahnya, mengejar balon-balon kecil yang sengaja dilemparkan Abienya sangat jauh darinya.


"Bie ..., kasihan Raka kalau merangkaknya kejauhan gitu," protes bekas wanita manja yang kini sudah menjelma menjadi ibu yang bijak. Ia menggendong putranya dan mengajaknya duduk diatas karpet ruang tengah. "Abie jahil ya, Sayang? Biar Bubun cubit nih, Abie!" ia mencubit paha pria disampingnya dengan kesal.


"Ampun. Bun. Ampuuun ...," ujarnya menyerah.


"Jahil banget sama anaknya!"


"Biar cepet jalannya, Bun."


"Raka, makan buahnya dulu, Sayang," ajak Sora.


"Baca do'a dulu, Sayang. Allahumma Bariklana fiima razaktana wakinna adzabannar," tuntun Almeer,


"Aamiin," sahut Sora samil mengusapkan kedua telapak tangan kecil itu ke wajah Raka. Ia pun menusuk potongan mangga yang berukuran kecil dan menyuapkannya pada putranya.


"Mam mam mam," celotehan keluar dari mulut Raka sambil mengunyah makanan pemberian Bubunnya.


"Iya, Mamam mangga ya, Sayang ...," goda Sora, ia sangat antusias mengajak putranya berbicara.


Rak ikut menusuk-nusuk potongan mangganya dan menyuapkannya pada Abienya.


"Makasih, Sayang ...," ucap Almeer ketika sebuah potongan mangga kecil masuk ke mulutnya.


"Bubun mau juga dong, Raka. Aaa ...." Sora membuka mulutnya.


Raka kembali menusukkan garpunya pada potongan mangga, tapi ia memberikannya pada Abienya, bukan Bubunnya.


"Ya Allah, Raka. Mulut Bubun sampe kering gini, malah Abie yang kamu suapin," keluh Sora, ia melirik Almeer yang menertawainya. "jahat!" ujarnya pada Almeer.


"Uuuh, Bubunnya ngambek, nih?" Almeer mendekati Sora dan merangkul istrinya itu, "Abie suapin ya, Bun?"


"Nggak mau, Bubun ngambek aja ...,"


"Abie cium nih kalau ngambek ...." Almeer mencium pipi Sora.


"Ih, Bie ...." Sora mencubit pinggang Almeer, ia mengambil garpu dari tangan Raka kemudian kembali menyuapkan mangga pada mulut putranya yang sudah kosong.


"Dua puluh empat jam sama Bubun, tapi apa-apa yang diduluin Abienya," gumam Sora. "Bubun serasa gak ada temen, nih."


Almeer menarik tangan istrinya hingga jatuh ke pelukannya, "mau bikin lagi yang cewek, Sayang?" bisik Almeer.


"Anak baru besok genap setahun, masih belum bisa jalan loh ini. Kamu udah mau bikin lagi, Bie?"


"Buat nemenin kamu, kali aja Allah kasih cewek ...," rayu Almeer.


"Jangan macem-macem, deh. Tiup balonnya aja, Bie." Sora menunjuk tumpukan balon yang belom ditiup suaminya.


Almeer terkekeh melihat istrinya. Ia mengambil alat peniup balon kemudian melanjutkan aktivitasnya mengisi balon warna warni itu dengan udara. Sebab besok pagi, mereka akan mengadakan tasyakuran ulang tahun pertama putra mereka.


***


Mereka bangun terlambat, sebab semalam Sora dan Almeer tidur larut untuk menghias backdrop acara tasyakuran. Mereka lekas mengerjakan sholat malam. Raka masih tertidur pulas ditengah tempat tidur, berbenteng guling di sisi kanan dan kirinya.


Tepat adzan subuh berkumandang, Raka membuka matanya. Tanpa tangis ia lekas duduk dan merangkak ke tepi tempat tidur memperhatikan Abie dan Bubunnya. Begitulah kiranya rutinitas Gaharu Taraka, sejak kecil bibit-bibit kealimannya sudah nampak.


"Abie berangkat ke masjid dulu ya ...." Almeer menyambut tangan Raka yang sudah siap untuk salim. Tuh, kan. Masih belum bisa bicara tapi akhlaknya udah bagus.


"Jaga Bubun ya, Sayang. Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam, Bie," sahut Sora.


Almeer mencium kening putranya terlebih dahulu kemudian keluar kamar.


Sora mengambilkan beberapa mainan untuk Raka agar ia tak bosan ketika menunggu Bubunnya Sholat. "Bubun Sholat dulu ya, Sayang," pamit Sora pada putrnya.


Bayi bermata indah itu menatap Sora dan mengerjapkan matanya, "Ba Ba Ba," ucapnya kemudian memainkan mainan-mainannya.


Sora lekas melaksanakan Sholat Subuhnya.


Usai mengerjakan Sholat, Sora mengajak Raka turun ke bawah. Ia dan Siti harus menyiapkan sarapan. Untuk acara ulang tahun Raka, semua hidangan prasmanan maupun yang dibawa pulang tamu undangan sudah ia serahkan pada catering langganan. Hanya bingkisan snack dan souvenir saja yang Sora siapkan sendiri untuk mengisi waktu luangnya.


Matahari mulai muncul ke permukaan, Almeer membawa putranya ke kamar mandi atas untuk mandi. Sudah sejak Raka tinggal dirumah ini, Sora maupun Almeer yang selalu bergantian memandikan Raka. Jika Almeer yang memandikan, itu artinya Sora yang bertugas menggantikan baju. Begitu pula sebaliknya.


"Assalamu'alaikum ...,"

__ADS_1


"Wa'aalaikumsalam ...," Sahut Sora dan Almeer dari dalam kamar Raka, kamar yang hanya digunakan untuk bermain, tidur siang ataupun berganti baju usai mandi.


"Suaranya mama Ruby, Bie." ujar Sora.


"Iya,"


Almeer pergi keluar kamar dan melihat papa mamanya, adiknya, Genta dan istrinya sudah hadir di ruang tengah. Tak lama kemudian keluarga Sora juga datang. Mereka pun berbincang-bincang di ruang tengah.


Senja, Ruby dan Erni membantu Siti untuk menyiapkan hidangan prasmanan ketika catering pesanan Sora sudah datang. Sedangkan Sora dan Ameera hanya menjadi penonton karena ada bayi ditangan mereka.


***


Tepat pukul sembilan pagi, semua tamu undangan yang terdiri dari anak-anak perumahan dilingkungan mereka dan anak-anak dari panti asuhan beserta pendampingnya sudah hadir. Genta yang menjadi MC Acar tersebut pun memulai pembukaan acaranya.


Seperti halnya acara ulang tahun lainnya, potong kue, nyanyi, seru seruan dengan dorprice dan ditutup dengan makan kue tart bersama.


Di penghujung acara, Sora dan Almeer memberikan bingkisan untuk tamu undangan yang sudah hadir. Tinggallah keluarga besar mereka di rumah Almeer.


"Alhamdulillah ...," ucap Genta sambil merebahkan diri diatas lantai ruang tengah.


"Mam Mam Mam ...," Raka memasukkan mainannya ke dalam mulut Genta.


"Ini gak bisa dimakan, Raka ...," ujar Genta.


"Mam mam mam." Raka mendorong lebih keras mainannya ke dalam mulut Genta.


"Astaghfirullah, Al! Anakmu nih, loh!" Genta bangun dan duduk, "gak kakeknya, gak bapaknya gak anaknya terus aja menindasku," protes Genta.


Semua tertawa ketika Raka masih bersikeras memasukkan mainannya ke dalam mulut Genta.


"Mungkin memang sudah jadi takdir Oom kali," sahut Almeer.


"Enak aja!"


"Nikmatin aja, Ta." ujar Hiko.


Genta menyerah dan membuka mulutnya pasrah menerima suapan benda berbahan plastik itu ke mulutnya. Setelah puas mainannya masuk ke dalam mulut Genta, Raka merangkak ke pangkuan Almeer dan bertepuk tangan. Tentu saja hal itu membuat tawa orang-orang pecah.


Genta meletakkan mainan Raka dan mengelapnya dengan tisu, "lihat Raka jadi inget masa-masa kecilku," ujarnya.


"Kenapa, Oom?" tanya Almeer.


"Erni! Kamu ikhlas kan kalau suamimu ku hajar?" tanya Hiko yg geram dengan jawaban Genta.


"Hahahaha ...,"


"Mumpung lagi kumpul bersama gini, gimana kalau kita foto bersama?" usul Langit, "photografer anda masih ada tuh disana," Langit menunjuk dua pria yang sedang berbincang di dekat kolam ikan.


"Iya, Mas. Aku setuju, mumpung lagi kumpul semua disini," tambah Senja.


"Iya, iya ...," sahut yang lain setuju.


Hiko berdiri dari duduknya dan memanggil karyawannya. Ia sedikit memberikan perintah kemudian mengamati cahaya disekitar rumah putranya.


"Kita ambil foto di halaman depan saja, ya?" saran Hiko.


"Bereees,"


"Siapin didepan ya, Sam? Atur dulu semuanya," perintah Hiko.


"Baik, Pak."


Ketika Hiko berbalik, semua orang sudah sibuk merapikan diri.


"Untung juga kan kita pakai baju seragam gini," ujar Senja. Ia merapikan rambut suaminya.


Sora sibuk merapikan baju dan membersihkan pipi putranya yang basah baru menghampiri suaminya.


"Udah ganteng kok, Sayang," ujar Almeer.


"Aku cuma mau minta tolong kamu gendongin Raka, aku mau benerin kerudung aku nih, Bie." Sora memberikan Raka pada suaminya kemudian pergi ke kamar.


"Kirain Bubun mau bantuin Abie," keluh Almeer.


Sedangkan Hiko pergi ke halaman depan, ia mengatur kamera dan mencoba mengambil gambar dibeberapa sudut untuk mencari tempat yang cocok.


"Disini aja, Sam," ujar Hiko.

__ADS_1


"Siap, Bos!"


Hiko kembali ke dalam, dengan beberapa tepukan tangan ia meminta perhatian. "Ayo ayo, buruan kedepan! Mumpung matahari masih bersahabat," ujar Hiko.


"Ya kalo udah gak mau sahabatan, pindah aja ke Ramayahna, Ko," sahut Genta, dengan menggandeng istrinya ia menuju keluar rumah.


Satu per satu orang keluar ke halaman depan. Hiko mengatur posisi formal terlebih dahulu untuk semua orang. Wanita di depan sedangkan pria dibagian belakang.


Sam sebagai juru kamera mengambil beberapa gambar di poisisi yang sama beberapa kali. Kemudian gaya foto berganti beberapa kali.


Siapa saja yang melihat keluarga itu bisa melihat bagaimana bahagianya keluarga itu.


Dan, setelah membentuk kisah cinta dari banyaknya rangkaian perasaan yang telah dilukiskan Sora dan Almeer, disinilah Alinea Cinta mereka berakhir. Kebahagiaan, keharmonisan dan penyatuan dua keluarga dengan latar berlakang yang berbeda ini sudah mencapai dibagian akhir paragraf.


Lewat kesalahpahaman dan pertengkaran, tidak membuat mereka semakin terpecah. Justru dari situ, mereka semakin mengerti satu sama lain dan semakin memperat hubungan cinta dengan pasangan maupun dalam kekeluargaan.


"Kesulitan akan tunduk pada siapapun yang tak berhenti berjuang."


-SERIUS, KISAH INI SUDAH TAMAT-


 


 


INFO!


TOLONG BACALAH YA YA.


 


  Assalamu'alaikum gais gais!


 


Terimakasih ku ucapkan untuk kalian semua pembaca yang sudah rela ku banting\-banting hati, jantung, ginjal dan paru\-paru kalian. Maaf jika masih banyak kekurangan dalam novel ini. Sebab novel ini bukan ditulis seorang penulis profesional, tapi hanya ditulis oleh penghalu profesional tingkat ErTe


Sekali lagi ku ucapkan terimakasih banyak banyak banyak, sudah mengantarkanku sampai di titik ini. Karena dukungan kalian padaku, selama Alinea Cinta on going bisa nangkring terus di tiga besar. Pokoknya kalian terdebes!



Tanpa kalian, aku hanya selembar uang serebuan lecek yang sering terabaikan. Kini aku sudah berasa jadi uang lima rebuan, sedikit dianggap berada karena sering dibutuhin buat beli es teh penghilang dahaga.



Dan ini bahas kisahnya Mas Aga. Aku tuh sebenarnya gak ada niat buat bikin Aga dapat jodoh. Ya emang kisahnya Aga disini, jagain jodoh orang doang. Tapi kok aku gak tega \\(baca: takut disantet onlen\\) jadi aku kasihlah Kanaya buat jodoh dia. Kalau ada yang mau dibikin lanjutan kisahnya Mas Aga, aku gak janji. Karena aku masih mau fokus ama novel keempat, SANSKARA SKY.



Kalo bahas Sanskara Sky kapan muncul? Jawabannya bulan Oktober, tapi aku gak bisa kasih tau tepatnya tanggal berapa. Nanti ku umumin di Igeh ku kalo aku mau up episode perdana kisahnya si Pohon Pisang.



Untuk ektra part SANG PEMILIK KEHORMATAN juga ku bikin bulan oktober. Tungguin aja ya.



\*\*Follow Igehku @Linaiko17 biar tahu info terbaru\*\*.



Dan kalau kalau aku khilaf, aku bonusin part untuk Mas Aga disini. tapi jangan ditungguin. Tau tau nanti dapat notif lah.



Terimakasih sekali lagi sudah mau baca cerita receh ini. Tidak ada niat sedikitpun untukku yang miskin ilmu ini menggurui pembaca. Kalau ada hal baik yang bisa dipetik alhamdullillah, kalau ada yang buruk jangan dipetik, mungkin belum mateng. Tunggu aja dulu, kali aja di karbit bisa cepet mateng.



Sampai jumpa di novel ke empat ya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jasa kalian tetap akan ku kenang sampai malaikat Israfil meniup sangkakala. Ilafyu gais.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2