ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
67


__ADS_3

Sebuah rumah makan yang berada di sekitar persawahan menjadi tujuan keluarga Langit. Gazebo-gazebo yang terbuat dari kayu jati berjajar rapi menghadap persawahan yang gelap. Lampu-lampu kecil di kaki gunung putri tidur menjadi daya tarik rumah makan tersebut.


"Udahlah, gak usah pakai motor lagi. Kamu itu pemilik perusahaan, gak pantas kemana-mana naik motor. Besok biar Tommy kirim mobil baru buat kamu," ujar Langit disela-sela makan malam mereka.


"Terimakasih, Pa. Tapi saya lebih senang memakai motor saya sendiri," tolak Almeer.


"Al Al, kamu itu gimana? Masa' istri kamu naik mobil, kamu malah naik motor. Apa kata orang, Al?" desak Langit.


"Gak apa, Pa. Yang penting Sora selalu terlindungi dan aman menggunakan mobilnya," jawab Almeer.


"Kamu gak punya niatan buat beli mobil sendiri?" tanya Langit.


"Belum, Pa. Saya belum kepikiran untuk beli mobil. Masih banyak yang harus saya dahulukan daripada membeli kebutuhan pribadi. Apalagi dirumah sudah ada mobil untuk mengantar Sora kemana-mana,"


"Tapi kan itu mobil putriku, bu—"


"Mas!" Senja memangkas kalimat suaminya, "jangan membuat makan malam ini tidak nyaman," pinta Senja.


Langit menatap Almeer yang sedang tertunduk menikmati makanannya. Wajah menantunya itu memang terlihat menahan amarah.


"Bagaimana kabar papa dan mamamu, Al?" tanya Senja, ia mencoba memberikan suasana kehangatan.


"Alhamdullillah baik, Ma. Mama Ruby sering ke rumah, kalau gak gitu Sora yang pergi ke pesantren," jawab Almeer.


"Ameera bagaimana? Sudah hamil?" tanya Senja lagi.


Almeer tersenyum dan menggeleng, "Masih belum, Ma."


"Soalnya Haqy sering kasih materi di luar kota, Ma. Jadi mereka gal terlalu sering ketemu ya, Bie?" sora ikut menjelaskan.


Almeer mengangguk, "Iya,"


"Oh ya, Al. Ada temenku mau bikin proyek di tempatmu kenapa kau tolak?" tanya Sky.


"Banyak yang ku tolak, Sky," jawab Almeer.


"Kenapa? Rejeki kok di tolak?" tanya Langit.


"Keterbatasan alat dan tenaga, Pa," jawab Almeer.


"Padahal temenku berani bayar mahal buat bikin iklan ditempatmu. Dia lihat iklan punya rival-nya lumayan dan ternyata kau yang bikin,"


"Belum rejeki kami, Sky," ujar Almeer.


Sky hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mungkin sudah terlanjur nyaman, percakapan mereka tetap berlanjut meskipun hidangan diatas meja makan sudah habis.


"Maaf mengganggu kenyamanan anda semua, tapi rumah makan kami akan segera ditutup setengah jam lagi," ujar seorang pelayan.


"Oooh, iya iya."


"Mohon maaf dan terimakasih atas pengertiannya," ucap pelayan itu kemudian pergi.


Almeer berdiri dari duduknya, "aku ke kasir dulu ya, Sayang. Tunggu di mobil aja," ujar Almeer.


"Gak usah, Al! Biar Tommy yang bayar." Langit menjentikkan jarinya, memberi isyarat pada asisten pribadinya yang tengah duduk beberapa langkah di gazebo seberang untuk pergi ke meja kasir.


"Biar saya saja yang bayar, Pa," cegah Almeer.


"Gak usah, simpan saja uangmu. Kamu masih punya banyak kebutuhan," tolak Langit.


"Iya, Bie. Biar Papa aja yang bayar," bujuk Sora.


Meskipun ia tak nyaman, Almeer menganggukkan kepala. Ia harus menghargai mertuanya, toh itu tidak akan berlangsung setiap hari. Begitu pikirnya untuk menenangkan pikirannya.


"Kami langsung pulang ke rumah Oom Bimo ya, Sayang," ujar Senja ketika mereka sudah sampai di tempat parkir kendaraan.


"Besok kalian libur kerja saja, kita belum pernah kan jalan-jalan sekeluarga?" pinta Langit.


"Maaf, Pa. Tapi saya gak bisa ikut, saya tidak bisa meninggalkan kantor meskipun hanya sehari," ujar Almeer, "biar Sora saja yang ikut, Pa."


"Yaaah, Bie ..., kamu belum pernah loh ikut keluar bersama-sama keluargaku," gerutu Sora. "Masa' aku terus yang sering ikut berkumpul dengan keluargamu, tapi kamu enggak. Jarang-jarang kan keluargaku bisa ke Malang."


"Sayang, ini terlalu mendadak. Susah kalau tiba-tiba saja besok aku tidak ke kantor."

__ADS_1


"Ya sudah, Al. Gak apa," ucap Senja menengahi perdebatan kecil Sora dan Almeer, "kita bisa keluar lain waktu, kan Papa sama Mama disini juga agak lama,"


"Iya, kita bisa atur jadwal lagi sesuai jadwalmu, Al," imbuh Langit.


"Iya, Pa, Ma. Terimakasih atas pengertiannya," jawab Almeer.


"Besok gak apa kan aku ajak Sora jalan-jalan, aku lama tidak mendengar suara berisiknya," permintaan Langit mendapat gelak tawa keluarganya.


"Papa, ih! Gitu banget sama anak sendiri," protes Sora.


"Memang iya, Ra. Di rumah kan yang paling berisik cuma kamu," sahut Langit menggoda putrinya. "Besok kita jalan-jalan ya, Sayang?"


Sora menatap suaminya terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban pada Papanya.


"Iya, kamu boleh pergi, Sayang," jawab Almeer.


Sora tersenyum senang, "makasih ya, Bie."


"Besok papa jemput, Ya? Sekarang kalian pulang, cepet istirahat," tutur Langit.


"Oke, Pa!"


Almeer dan Sora bergantian mecium tangan Langit dan Senja. Tak lupa juga Sora mencium pipi dan memeluk sejenak Mina.


"Cepet istirahat ya, Kak. Biar besok semangat jalan-jalannya," pesan Mina.


"Bereees!" Sora mengacungkan dua ibu jarinya.


"Heh! Biji sawi! sini, salim dulu!" Sky menyodorkan punggung tangannya didepan Almeer dan Sora.


"Salim gigikmu, Sky!" olok Sora sambil menampik punggung tangan saudara kembarnya.


"Makanya cepet cari jodoh," Almeer meraih tangan Sky dan mengajaknya bersalaman, "biar punggung tanganmu cepet ada manfaatnya!" cetus Almeer.


"Heh, cium!"


"Emang aku istrimu pake mau cium tanganmu," sahut Almeer, ia lekas merangkul istrinya. "Kami pamit dulu, Pa, Ma."


"Iya, hati-hati ...," sahut Langit dan Senja.


"Wa'alaikumsalam,"


***


Sesuai perjanjian semalam, pagi ini Sora dijemput Papanya dan keluarganya untuk bersenang-senang. Almeer sengaja menunggu istrinya untuk berangkat lebih dulu. Setelah Sora dan keluarganya pergi, barulah ia berangkat ke kantor menggunakan ojek online.


Langit mengajak keluarganya keliling kota Malang, lebih tepatnya keliling Mall dan boutique dan store brand ternama. Walau masih dalam hitungan bulan, rasanya sudah lama sekali Langit tidak memanjakan putrinya. Karena itu ia membebaskan putrinya untuk membeli apapun yang ia mau.


Dan karena itu, selama dua hari ini ketika Almeer pulang, ia selalu mendapati paper bag milik brand-brand ternama di kamarnya.


"Eh, Bie. Udah pulang?" tanya Sora yang mendapati suaminya sudah di kamar, ia segera mencium tangan Almeer kemudian lanjut mengosokkan handuk pada rambutnya yang masih basah.


"Iya, Sayang. Kebetulan pekerjaan hari ini bisa cepat selesai,"


"Besok bisa ikut jalan-jalan ke Batu, Bie? Papa pengen jalan-jalan ke museum satwa tuh,"


Almeer mendekati istrinya, "belum bisa, Sayang. InsyaAllah weekend aku bisa ikut kalian jalan-jalan," jawab Almeer.


"Yaaah, masih dua hari lagi itu, Bie?" keluh Sora.


"Sabar dikit lagi ya, Sayang. Aku harus selesaikan kewajibanku dulu, ya?"


Sora hanya menghela napas panjang, "iya deh," jawabnya kemudian pergi ke depan meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Almeer sendiri pergi mengambil baju gantinya di almari pakaiannya.


"Kenapa beli banyak sekali sih, Sayang? Mubadzir kan kalau gak kepake," tanya Almeer ketika melihat belanjaan istrinya.


"Mumpung papa yang belikan, Bie. Papa bilang apa yang ku mau suruh ambil, ya aku ambil aja,"


"Kalau belanja sama aku kenapa gak ambil sesuka kamu? kenapa cuma ambil satu atau dua barang?" tanya Almeer, ia menatap istrinya lewat pantulan cermin meja rias.


"Kan kalau papa uangnya banyak, Bie. Biarin ajalah, beli sepabriknya juga gak bakal habis uangnya papa."


Almeer diam dan menatap Sora, ia tak menyukai alasan yang diberikan istrinya itu. Menyadari suaminya yang hanya diam menatapnya dicermin, Sora segera mematikan hairdryer ditangannya kemudian membalikkan badannya menatap Almeer.

__ADS_1


"Kenapa. Bie? Kok ngelihatin aku seperti itu?" tanya Sora.


"Kamu sadar gak kalau sikap kamu seperti itu bisa bikin papa mengira aku tidak bisa memenuhi kemauan kamu?" tanya Almeer.


Sora menggeleng, "Aduh, Bie. Gak mungkinlah papa mikir seperti itu. Lagian kamu selalu memenuhi kemauanku, gak ada yang gak kamu penuhin. Tenang aja, Bie ...," papar Sora dengan senyum polosnya.


Almeer menghela napas, "aku baru sadar kalau selama ini aku memang belum bisa memenuhi kemauan kamu, Sayang. Kamu tidak meminta semua yang kamu mau padaku,"


Sora meletakkan hairdryer di atas meja rias kemudian menghampiri suaminya yang terlihat marah.


"Bie, maaf kalau sikapku membuat kamu marah," ucap Sora, "jujur aku memang gak bisa meminta semua yang ku mau padamu, karena aku tahu kamu punya banyak hal yang harus kamu dahulukan dibanding keinginanku yang tidak terlalu penting."


Almeer mendengus kesal, "aku suami kamu loh .... Memang sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi kebutuhanmu, bahkan untuk hal yang menurutku tidak penting tetapi menurutmu itu berarti, aku tetap akan memenuhinya."


"Bie ...,"


"Aku tahu kamu lebih kaya dariku. Aku tahu, tabunganku tak sebanding dengan tabunganmu. Aku juga tahu niat baikmu untuk menurunkan standar hidupmu demi rumah tangga kita. Aku sangat menghargai itu, Sayang." Almeer menghela napas sejenak, "tapi ..., dengan kamu meminta sesuatu yang kamu inginkan pada orang lain membuat harga diriku sebagai suamimu terluka."


"Bie, aku sama sekali gak ada niatan seperti itu." Sora menarik tangan suaminya, ia mulai merasa bersalah dan takut sudah membuat suaminya marah.


"Iya, aku tahu kamu tidak akan mempunyai niatan melukaiku." Almeer menatap tajam dua bola mata istrinya, "tapi aku juga harus mengingatkan sikapmu yang menurutku salah,"


"Maafkan aku, Bie."


Almeer mengangguk, "tolong jangan lakukan hal seperti itu lagi, Sayang."


Sora mengangguk dan memeluk suaminya, "Iya, Bie. Maaf aku sudah membuatmu marah,"


"Aku juga minta maaf jika kalimatku dalam mengingatkan kesalahanmu melukai perasaanmu," ucap Almeer seraya mengecup puncak kepala istrinya. "Kamu juga berhak mengingatkanku jika kamu merasa aku melakukan hal yang tidak kamu sukai,"


Sora mengangguk dan mempererat pelukan pada suaminya. "Iya, Bie ...,"


Almeer melepaskan pelukannya, ia kemudian duduk menumpu tubuhnya diatas lututnya. Wajahnya tepat berada dihadapan perut Sora. Ia mengusap perut Sora yang sudah keras itu dengan lembut, menciumnya dan menempelkan telinganya di perut istrinya.


"Maafin Abie ya, Adek. Adek dengar Abie marah-marah ke Bubunnya, Adek," ucap Almeer, tangannya memeluk lembut pinggang Sora.


Sora membelai lembut rambut suaminya. "Itu karena Bubun Salah, makanya Abie marah," ujar Sora.


Almeer mendongakkan kepalanya kemudian berdiri kembali, ia tersenyum menatap istrinya. "Mau bolu kukus srikaya?" tanya Almeer.


Sora mengangguk, "Mau!" Jawabnya tanpa berpikir panjang.


"Habis sholat maghrib kita jalan-jalan sambil beli bolu kukus ya, Sayang."


"Siap! Makasih ya, Bie." Sora memeluk manja suaminya.


Almeer mangangguk, "aku mandi dulu, ya."


Sora melepaskan pelukannya, "iya, Bie."


"Lanjut keringin rambutnya, gih!"


Sora mengangguk, ia kembali ke kursi meja rias dan Almeer pergi ke kamar mandi.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Gak usah tanya aku udah berhasil apa belum dapat pesugihan. Aku gagal gais! Yang diminta tumbal nyawa ayam, aku cuma bawa bubuk kaldu ayam merk macako. hmm... Gak jadi buka pabrik micin.


NTAR UP SELANJUTNYA TUNGGUIN JAM TIGA SORE. INI BONUS.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2