
"Bisa-bisanya kamu suruh Tommy untuk tutup mulut!" bentak Langit. "Kamu sudah mengecewakan Papa, Sky!"
"Itu hanya kesalahpahaman, Pa!"
"Kesalahpahaman? Kamu bilang itu kesalahpahaman!?" Langit semakin murka. Ia mengambil kertas yang dibawanya tadi dan memberikannya pada putranya, "baca!"
Sky membaca lembaran kertas khusus yang mempunyai kop surat salah satu rumah sakit. Matanya kembali melebar ketika ia membaca beberapa kata di bagian akhir. Ia menatap papanya dan menggeleng cepat.
"Papa dapat ini darimana?" Sky melihat tahun pembuatan surat itu, "Ini palsu, Pa! Aku punya yang asli!" ujar Sky.
Langit melirik Tommy.
"Saya sudah mengkonfirmasi semuanya, Tuan Muda. Hasil tes DNA ini asli,"
Sky mengernyitkan keningnya tidak percaya, "kamu dapat ini darimana?" tanya Sky pada Tommy.
"Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan surat itu di kaca depan mobil Tuan Besar," jawab Tommy, "karena berbeda dengan milik Tuan Muda, saya menyelidikinya sendiri. Maafkan saya, Tuan Muda."
"Kalau saja aku kemarin tidak bertemu Clara, kalian akan terus menertawakan kebodohonku," Cetus Langit.
Sky memejamkan matanya, sesuatu yang berusaha ia simpan baik-baik akhirnya terbongkar juga.
"Maafkan saya, Tuan!"
"Jadi maksudmu, Almeer benar-benar mempunyai anak dari Moza?" tanya Aga, dan segera mendapat anggukan dari Tommy.
"Jangan bertindak macam-macam, Ga!" Sky memperingatkan Aga.
"Aku gak bisa tinggal diam, Sky!"
"Ga! Ini bukan tempatmu untuk ikut campur!"
"Almeer sudah bohongin Sora, Sky! Berhenti membelanya!" Sentak Aga.
"Aku tidak membelanya! Tapi aku tahu dia tidak mungkin melakukan hal itu! Seseorang pasti menjebaknya."
"Simpan dugaanmu, Sky! Kau tahu seakurat apa Tommy menyelidiki sesuatu!" Aga bergegas pergi meninggalkan Sky dan Langit.
"Ga!"
Teriakan Sky tak dapat menghentikan Aga. Ia ingin mengejar Aga namun Langit dengan cepat menahan bahu putranya.
"Papa tidak tahu seberapa dekat kamu dengan Almeer hingga kamu berani membohongi orangtua dan saudaramu ...,"
"Pa! Aku tidak pernah membohongi kalian. Aku hanya berniat menyatukan cinta mereka. Aku tahu Almeer tidak melakukan hal itu—"
"Seyakin apa? Kamu ada disana saat kejadian itu? Kamu melihat semuanya dengan mata kepalamu sendiri?" cecar Langit penuh kemarahan.
"Aku akan buktikan jika hasil tes ini salah!" ujar Sky kemudian pergi meninggalkan papanya.
***
Matahari sudah bersiap menyembunyikan diri. Sinar keemasan melukis indah langit kota Malang. Awan-awan jingga menggantung cantik menjadi tambahan ornamen cakrawala.
Gorden tipis di jendela berayun indah ketika angin dingin dari luar berusaha menyelinap masuk ke dalam kamar Sora. Pemilik kamar itu sedikitpun tak terusik dengan keadaan di sekitarnya. Wanita berhijab maroon itu hanya duduk menatap pantulan dirinya di dalam cermin meja rias.
Wajahnya gusar, bibirnya terkatup rapat, tatapan matanya kosong. Pelupuk matanya basah, matanya merah dan terlihat jelas bekas airmata di pipi.
Ia memejamkan matanya dan menarik napas panjang. Air mata yang ia kira sudah tak bisa keluar lagi, ternyata masih tersisa dan menyelinap keluar diatara pelupuk mata.
"Kamu akan menyesali keputusanmu ini, Sora."
Ingatannya kembali ke beberapa saat yang lalu, dimana ia mendapati kenyataan yang sangat mengerikan dari Clara.
"Ceritakan apa yang Tante ketahui!"
Clara masih terdiam, enggan ingin bercerita.
"Moza tidak ingin orang lain mengetahui ini, Sora ... ia ingin menjaga nama baik suamimu,"
Deg!
Sejak ia memutar mobil dan mencari jawaban dari rasa penasarannya, Sora sudah benar-benar menyiapkan hatinya untuk mendengarkan apapun.
Tapi kenyataannya berbeda, hatinya tak setangguh itu. Sesak, sakit, perih menumpuk menjadi satu. Sendi-sendi ditubuhnya terasa lemah, ia jatuh duduk dilantai. Ia memukul dadanya, berharap bongkahan kepedihan itu pergi.
Air matanya terus mengalir deras mewakili betapa terlukanya perasaannya saat ini. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya.
"Sora ...," Clara membungkuk dan menyentuh bahu Sora, namun dengan cepat Sora menepisnya.
"Aku tidak punya bukti apapun, kamu tidak perlu mempercayai ucapanku, Sora. Percayai apa yang dalam hatimu saja."
Hanya sepenggal kalimat itu yang terus terngiang-ngiang di pikiran Sora. Ia mencoba mengelak, Clara hanya berbohong padanya, ia tak mempunyai bukti. Clara tetaplah Clara, ia sedang mencoba mengusik rumah tangganya.
Sora membuka matanya ketika mendapati suara motor suaminya memasuki carport rumahnya. Ia menatap kembali bayangan dirinya di cermin dan mengulas senyum untuk menyambut kedatangan suaminya.
Ia tahu, suaminya bukan orang serendah itu. Tak mungkin ia melakukan kesalahan yang sama seperti kedua orangtuanya.
"Apa maksudmu berbuat seperti ini?!"
"Kau pantas mendapatkan ini!"
__ADS_1
Sora berdiri dari duduknya ketika mendengar suara keributan dihalaman rumahnya. Ia lekas keluar kamar dan turun ke bawah.
"Mbak Sora!" Siti menghampiri Sora yang baru turun dari lantai dua dengan panik.
"Ada ribut-ribut apa, Bu Siti?" tanya Sora sambil menuju ke bagian depan rumahnya.
"Mas Almeer, Mbak!"
"Astaghfirullahaladzim!" Pekik Sora ketika melihat suaminya sedang di tindih Aga dan mendapatkan beberapa pukulan yang sangat beringas.
"Aga! Lepasin suamiku!" Teriak Sora, ia ingin melerai tapi Siti menahannya.
"Bahaya, Mbak. Inget ... Mbak Sora sedang hamil ...,"
"Aga! Berhenti!"
Air mata Sora kembali menetes, ia merasa gila melihat suaminya dipukuli seperti itu. Ia ingin melerai namun tangan Siti terlalu kuat menahannya.
Sementara itu Almeer berusaha sekuat tenaga menahan pukulan Aga di wajahnya, disaat yang tepat ia menyingkirkan Aga dari atas tubuhnya dan balik menindih Aga. Almeer membalas memberikan pukulan beberapa kali diwajah Aga.
"Kau bisa katakan baik-baik tanpa harus membuat keributan!" Sentak Almeer, tangannya berusaha mencekik leher pria dibawahnya itu.
"Bie! Sudah, Bie! Jangan teruskan!"
Teriakan Sora mengalihkan perhatian Almeer. Disaat tidak fokus seperti itu, Aga membanting badan Almeer ke samping.
"Kau hanya manusia sok suci!" Satu pukulan lagi mendarat dipipi Almeer, "Bisa-bisanya kau membohongi Sora!"
Bug!
Aga terhuyung ke depan ketika seseorang memukul bagian belakang kepalanya dengan benda tumpul. Darah segar mengalir dipelipisnya dan menetes di baju Almeer.
Aga menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir pening yang tiba-tiba datang. Ia menggeser tubuhnya dan tertunduk diatas rumput.
Almeer berdiri ketika melihat istrinya yang memegang balok kayu bekas penyangga pohon trenguli ditaman rumahnya. Wajah wanita itu terlihat panik dan ketakutan.
"Ga ... Ma-maafkan, aku ...."
Almeer mengambil balok kayu dari tangan istrinya itu kemudian membuangnya asal.
"Aku tidak mau kamu melukai suamiku, Ga." Sora mencoba memberikan alasan meskipun suaranya bergetar ketakutan.
Almeer memeluk istrinya yang sedang ketakutan. "Tenang, Sayang ... kamu harus tenang," ujarnya.
Sora melepaskan pelukan Almeer dan melangkah mendekati Aga. "Kamu harus baik-baik saja, Ga!" pintanya.
Aga berdiri, ia menatap Sora tajam. "Kamu membela orang yang salah, Ra," ucap Aga.
"Dia sudah membohongimu, Ra!" Teriak Aga.
"Jangan berteriak pada istriku!" Almeer mencengkram kerah baju aga.
"Sudah, Bie! Ku mohon, jangan bertengkar lagi!" cegah Sora.
"Kau manusia munafik! Kau sudah meniduri wanita lain sebelum istrimu!" Sentak Aga.
"Jaga bicaramu, Ga!" Bentak Sora.
Almeer tercengang hingga melonggarkan cengkraman tangannya di kerah baju aga. "Apa maksudmu?" tanya Almeer.
Aga menepis kasar tangan Almeer, "gak usah pura-pura bodoh! Lo udah—"
PLAK!
Sebuah tamparan dari Sora mendarat keras di pipi Aga.
"Jangan bicara apapun!" Pinta Sora.
"Kamu harus tau kebenaranya, Ra!"
"Kamu tidak tahu apa-apa, Ga ...," ucap Sora lirih, sorot matanya mengiba agar Aga tak bicara lebih jauh lagi.
"Kamu tahu, Ra?" Aga mengernyit.
"Jangan bicara apapun jika kamu hanya mendengarnya dari orang lain!" Sora menarik tangan Almeer dan mengajak suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
"Tes DNA milik Sky palsu!"
Pernyataan Aga berhasil menghentikan langkah Sora dan Almeer.
"Apa maksudmu?" tanya Almeer.
"Anak Moza ...., dia adalah anakmu!"
"AGA!!" Teriak Sora tak terima.
Almeer terperangah, ia menggelengkan kepalanya, "enggak ... aku gak pernah sekalipun menyentuh wanita lain."
Almeer menatap istrinya, wajahnya panik melihat Sora yang menangis tertunduk. Ia raih kedua tangan istrinya, "Sayang ..., itu tidak benar. Aku sudah pernah melakukan tes DNA dengan Cloe, Sky yang menjadi saksinya ...,"
"Tapi seseorang memalsukan hasil tes itu ...,"
__ADS_1
Suara seseorang menarik perhatian semua orang yang ada disana. Langit datang, mata tajamnya berselimut kekecewaan, rahangnya mengeras ketika ia mengeratkan gigi-giginya yang sedang menahan amarah.
"Aku menyesal putraku menutupi masalah ini dariku ...," ujar Langit, ia mendekati Almeer dan Sora. "Harusnya aku tahu, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya."
"Pa! Tolong percaya pada saya! Saya berani bersumpah demi apapun, Sora adalah wanita pertama yang saya sentuh!" Almeer berkata dengan penuh keyakinan.
"Sayang ..., kamu harus percaya padaku ...," pinta Almeer pada istrinya.
Langit memberikan selembar kertas pada Almeer, "orang-orangku sudah menyelidiki tentangmu. Itu adalah kebenarannya!"
Sora merebut kertas itu dari tangan Almeer, matanya melebar dan tangannya lekas menutup mulut ketika ia membaca hasil dari tes DNA itu.
"Sayang ...,"
Sora menatap Almeer, "Bie ..., sesakit ini kah menerima masalalumu?" tanya Sora lirih penuh dengan kekecewaan.
"Sayang sayang ...," Almeer meraih tangan Sora, namun Sora menepisnya. "Kamu tahu aku, kan? Aku tidak mungkin melakukan hal sehina itu!"
Sora menggeleng, "enggak, Bie. Aku sama sekali tidak mengenalmu, aku sama sekali tidak mengenal siapa suamiku ...,"
"Sayang ..., aku—"
"Maafkan aku, Bie ...,"
"Ikut pulang dengan Papa, Sora." Langit merangkul putrinya.
"Tidak, Pa!" Almeer menarik tangan Sora. "Sora, akan tetap disini! Saya tidak akan membiarkannya pergi selangkah pun dari rumah ini!"
Langit melepas paksa tangan Almeer dari tangan putrinya, "berani sekali kamu membuat aturan itu!"
"Saya suaminya, saya yang paling berhak—"
PLAK!
Langit menampar keras pipi Almeer.
"Pah!" pekik Sora.
"Masih berani kamu mengakui dirimu sebagai suaminya? Belum sadar apa yang sudah kamu perbuat pada putriku!" Bentak Langit.
"Bagaimanapun juga, saya suami Sora, Pa. Biarkan kami menyelesaikan kesalahpahaman ini sendiri," jawab Almeer.
Langit sudah mengambil ancang-ancang ingin melayangkan pukulan pada Almeer tapi Sora lekas menahannya. "Cukup, Pa! Jangan menyakiti Almeer lagi," pinta Sora.
Melihat putrinya yang memohon, Langit mengurungkan niatnya. "Ikut Papa pulang!"
"Enggak! Kamu harus tetap disini, Sayang!" cegah Almeer.
"Bie ..., ijinkan aku menenangkan diri dulu," pinta Sora.
Almeer menggeleng, "enggak! Aku tidak mengijinkanmu pergi selangkahpun dariku!"
Sora menyentuh pipi Almeer, "Maafkan aku, Bie ... aku pergi tanpa ijinmu." Sora melangkah meninggalkan Almeer.
"Sayang!" Almeer ingin mengejar Sora, tapi Langit menahannya. "Pa! Tolong jangan lakukan ini!"
Langit melirik Aga dan Aga pun dengan cepat menarik tubuh Almeer.
"Lepaskan tanganmu, Ga!" Bentak Almeer.
"Sayang!" Teriakan Almeer menghentikan langkah Sora tepat sebelum melewati pintu pagar rumah mereka. "Jangan pergi ...," pinta Almeer seraya melepaskan diri dari Aga.
Langit menarik tangan Sora dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Soraaaaaa!!"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO!
YUK, DI ORDER SIST SEMENNYA. ADA PROMO BELI SATU DAPAT SATU.
Kalian tuh ya kalau di kasih part romantis komennya dikit. Kalo dikasih konplik comment tembus serebu. Aku balas komentar kalian 500 aja jempolku udah ku kasih koyo cap mulut tetangga. Makasih loh ya yang selalu tinggalin komen ditiap episode.
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA BAGI SEMUA YANG MERAYAKAN.
Betewe gais, boleh gak author ngancem kalau like episode ini gak tembus sepuluh rebu like, author gak bakal lanjut up?
(Kabooooooor, takot di santet onlen warga).
Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
__ADS_1
Terimakasih laflafkuh!